Will You Marry Me, again? [Part Three A of Three B]
.
.
.
.
Seorang namja bertubuh atletis masuk ke dalam sebuah kamar, matanya terfokus pada sosok Hyukjae yang terbaring lemah di atas ranjang empuk miliknya. Matanya menatap Hyukjae iba, tubuhnya terasa lemas begitu saja. Ia tak tega, benar-benar tak tega melihat Hyukjae. Terlebih lagi saat mengingat kejadian beberapa jam lalu. Mengingat saat-saat ia menemukan tubuh Hyukjae yang tergeletak di pinggir jalan di tengah guyuran hujan deras. Di tambah, tangisan serta teriakan Kyungmin yang memanggil-manggil Hyukjae agar terbangun tiba-tiba saja terngiang di gendang telinganya.
"Eunghh..." namja itu tersadar dari lamunannya, dengan cepat ia berjalan mendekati tubuh Hyukjae kemudian duduk di pinggiran ranjang.
"Hyukjae-sshi?" tangan namja itu terulur menyentuh bahu dan lengan Hyukjae. Hyukjae membuka matanya secara perlahan, tangannya bergerak lemah menyentuh kepalanya yang terasa pusing. Sebisa mungkin Hyukjae mencoba menstabilkan indra penglihatannya seraya menggerakkan badannya pelan.
"Dimana aku?" tanya Hyukjae pelan. Ia menatap sekelilingnya, sebuah ruangan yang terasa asing membuat Hyukjae sadar akan keberadaan sesosok namja yang sedari tadi memegang lengannya.
"Bagaimana perasaanmu Hyukjae-sshi?" Hyukjae menatap namja bertubuh atletis itu heran. Seingatnya, ia tak kenal dengan namja di depannya. Ia juga tak pernah bertemu dengannya. Tapi, bagaimana bisa namja di hadapannya tau namanya begitu saja?
"Kau siapa?" tanya balik Hyukjae. Namja itu tersadar, ia telah melupakan sesuatu yang telah di ajarkan oleh kedua orang tuanya jika bertemu dengan orang baru. Buru-buru ia melepaskan tangannya dari lengan Hyukjae.
"Ah, mian. Naega, Choi Siwon imnida. Senang bertemu denganmu, Hyukjae-sshi." Siwon, namja bertubuh atletis itu sedikit membungkukkan badannya.
"Bagaimana kau tau namaku?" tanya Hyukjae penasaran.
"Aku tau, ah ani! Mungkin lebih tepatnya aku menebak dari tangisan dan teriakan namdong—"
"Ah! Kyungmin! Dimana dia? Hikss... Kyungmin-ah?!" buru-buru Siwon menahan tubuh Hyukjae yang hampir saja terjatuh saat namja manis itu memaksakan dirinya untuk turun dari ranjang.
"H-hey! Tenanglah~ adikmu sedang tidur. Sepertinya ia kelelahan." Siwon mencoba menenangkan Hyukjae. Ia mengeluarkan sapu tangan miliknya dan menggunakannya untuk menghapus air mata Hyukjae.
"Aisshh... hikss..." Hyukjae kembali menangis, padahal Siwon baru saja selesai menghapus linangan air matanya. Namja manis itu tiba-tiba saja teringat kejadian menyakitkan yang baru saja dialaminya.
"Gwaenchana?" tanya Siwon khawatir. Hyukjae mengangkat wajahnya, ia menatap Siwon dengan linangan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya.
"B-bagaimana hikss aku bisa berada disini?"
"Ceritanya panjang, aku akan menceritakannya setelah kau makan."
"T-ta—"
"Tenang saja, aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin membantumu, kau butuh bubur dan susu coklat panas untuk menghangatkan dan menstabilkan kondisi tubuhmu."
.
.
"Na'ah, buka mulutmu." Siwon menyodorkan sesuap bubur panas pada Hyukjae. Namun namja manis itu tak kunjung membuka mulutnya.
"Wae?"
"Aku bisa memakannya sendiri." Jawab Hyukjae.
"Aniya, kau tak bisa melakukannya. Aku menemukanmu dalam keadaan tak sadarkan diri di bawah derasnya guyuran hujan. Tanganmu pasti bergetar karena masih lemah dan merasa kedinginan." Hyukjae menatap Siwon, kemudian ia mengangkat kedua tangannya seraya beralih menatap kedua telapak tangannya yang terlihat bergetar dengan sendirinya.
"Menurutlah padaku Hyukjae-sshi, aku tak akan macam-macam padamu. Jja! aaaa~" Siwon kembali menyodorkan sesuap bubur pada Hyukjae. Pada awalnya Hyukjae ragu, namun beberapa detik kemudian Hyukjae memakan bubur yang di buatkan oleh Siwon.
"Mmm..." Siwon terus menyuapi Hyukjae bubur dengan pelan dan sangat hati-hati. Hyukjae terlihat sangat manis, matanya yang sipit, kulitnya yang putih serta bibirnya yang mulai berubah warna seperti buah cherry membuat Siwon terkesima atas sosok Hyukjae.
Mereka berdua terdiam, Hyukjae masih enggan berbicara banyak dengan Siwon. Di benaknya kini hanya ada satu nama, yakni Donghae.
"Sepertinya kau benar-benar lapar." Canda Siwon mencoba mencairkan suasana saat menyodorkan suapan terakhirnya pada Hyukjae.
"Begitukah?"
"Kau menghabiskan buburnya dengan cepat." Siwon menyimpan mangkuk yang telah kosong dan menggantinya dengan segelas susu coklat panas.
"Minumlah..." Hyukjae ikut memegang tangan Siwon yang memegang gelas susunya. Seketika itu pula, Siwon merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ia merasa bahwa telapak tangan Hyukjae benar-benar lembut.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Siwon saat Hyukjae selesai menghabiskan susu coklat panasnya.
"Cukup baik. Gomawo~"
"Ne, cheonman. Sekarang, tidurlah~"
"Kau belum menceritakan bagaimana aku bisa berada disini!" seru Hyukjae mengingatkan. Siwon yang tadinya berniat untuk membereskan bekas makan Hyukjae, mengurungkan niatnya.
"Begini, saat aku pulang kerja, aku menemukan tubuhmu tergeletak tak berdaya di bawah guyuran air hujan, tak jauh dari sebuah rumah besar milik seorang pengusaha kaya raya di Korea dan Jerman." Jelas Siwon. Hyukjae tiba-tiba saja menundukan wajahnya, rasa sesak yang tadi sempat hilang kini kembali ia rasakan.
"Jika boleh tau, kenapa kau bisa berada di sana?" Hyukjae mendongkakkan wajahnya. Matanya menatap Siwon dengan tatapan yang seolah bertanya apakah Siwon yakin ingin tau akan jawabannya?
"Eh? Gwaenchana?" heran Siwon melihat tatapan Hyukjae.
"Kau yakin ingin tau kenapa aku bisa seperti itu?" tanya Hyukjae memastikan.
"Jika kau tak keberatan..."
"A-aku... seorang gay."
"Ne?"
"Aku terjebak dalam kehidupan seorang Lee Donghae, atau mungkin orang-orang akan lebih mengenalnya sebagai Aiden Lee. Anak pengusaha kaya raya di Korea dan Jerman."
"Aiden Lee? Aiden Lee yang baru menikah dengan Park Neul Gi anak pengusaha kaya raya di Jerman itu kan? Ada masalah apa kau dengannya sampai-sampai terjebak seperti itu? Apa kau memiliki hutang padanya?"
"Tidak, aku tak memiliki hutang apapun padanya." Jawab Hyukjae.
"Lalu?"
"Percaya atau tidak, kenyataannya Aiden tak pernah menikah dengan Neulgi. Tapi denganku." Ujar Hyukjae jujur apa adanya. Siwon menatap Hyukjae bingung. Ada rasa sedikit tak percaya dalam hatinya. Pasalnya, Siwon juga datang ke pernikahan Aiden dan Neulgi yang di selenggarakan di Jerman saat sekitar 9 bulan yang lalu.
"T-tapi, y-yeoja—"
"Itu aku! Aiden dan Neugi tak saling mencintai. Neulgi memiliki seorang kekasih, namanya Sungha Jung. Neulgi memintaku untuk menggantikan posisinya saat pernikahannya dengan Aiden berlangsung. Neulgi menawarkan sebuah perjanjian padaku. Dan demi Kyungmin yang pada saat itu masih bisu, aku menyetujui perjanjian itu agar Kyungmin bisa melakukan operasi pita suara." Jelas Hyukjae.
"Saat itu aku tak punya pilihan lain selain menyetujui perjanjian itu. Karena aku ingin membuat Kyungmin normal seperti dulu." Tambah Hyukjae.
"Jadi, saat itu kau menyamar menjadi Neulgi? Begitu?" Siwon menatap Hyukjae penasaran.
"Mungkin perkataanku sulit di percaya mengingat kau adalah seseorang yang hidup di lingkup orang-orang ternama seperti Aiden dan keluarganya. Tapi, seperti yang tadi kubilang... percaya atau tidak, itu terserah padamu. Karena aku hanya mencoba untuk mengungkapkan keadaan yang sebenarnya." Jawab Hyukjae. Siwon terdiam, ia... merasa terkejut. Bukan terkejut karena Hyukjae seorang gay, melainkan mengenai pernikahan Aiden dan Neulgi, yang ternyata hanya sebuah sandiwara.
"Apa kau merasa jijik denganku?" tanya Hyukjae tiba-tiba.
"Kenapa aku haru jijik padamu?" tanya balik Siwon.
"Karena aku seorang gay." Jawab Hyukjae dengan polosnya. Siwon tersenyum mendengarnya, membuat Hyukjae menatap Siwon bingung.
"Kenapa? Apa ada yang lucu dari perkataanku?" Siwon tak langsung menjawab pertanyaan Hyukjae. Ia malah berdiri dari duduknya dan mulai membereskan bekas makan Hyukjae yang sempat tertunda.
"Untuk apa aku merasa jijik jika aku sendiri pun seorang gay?!" Hyukjae menatap Siwon tak percaya. Lain halnya dengan namja bertubuh atletis itu yang hanya mampu terkikik pelan seraya pergi keluar meninggalkan Hyukjae.
.
At morning
.
"Siwon-sshi..." merasa seseorang memanggilnya, Siwon menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian membalikkan badannya ke sumber suara.
"Hyukjae-sshi, Kyungmin-ah?"
"Sepertinya, kami harus pergi."
"Pergi? Pergi kemana?" Siwon berdiri dari duduknya, kemudian berjalan mendekati Hyukjae dan Kyungmin.
"Entahlah, mungkin ke rumah kami yang dulu. Terima kasih untuk semuanya, kau benar-benar orang kaya yang baik." Ujar Hyukjae dengan senyuman ciri khas nya. Hyukjae dan Kyungmin membungkukkan badan mereka. Lain halnya dengan Siwon yang malah terdiam, entah menagapa hatinya merasa sedih jika Hyukjae dan Kyungmin harus pergi dari rumahnya.
"Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya. Annyeong~"
"Tunggu sebentar!" belum sempat Hyukjae melangkahkan kakinya, Siwon tiba-tiba saja menahan pergelangan tangannya. Hyukjae yang bingung hanya mampu menatap Siwon penuh tanya, sama hal nya dengan Kyungmin yang kini menatap Siwon penasaran.
"Apa kalian benar-benar harus pergi? Ah, mmp.. maksudku, apa kalian tak bisa tinggal disini lebih lama lagi?"
"Ne?"
"Tinggal lah disini lebih lama, mungin lebih tepatnya... tinggal lah disini, bersamaku..." pinta Siwon penuh harap. Hyukjae nampak bingung, sebenarnya Hyukjae ingin tinggal disini mengingat saat sebelum hendak berpamitan pada Siwon, Kyungmin merengek padanya untuk tetap tinggal di rumah Siwon karena Kyungmin merasa nyaman dan aman di rumah ini. Namun disisi lain, ia masih punya malu. Ia dan Siwon baru saja kenal, Hyukjae tak bisa seenaknya minta ini itu, berharap begini begitu, dan memakai fasilitas milik Siwon seenaknya.
"Mianhae Siwon-sshi, bukannya aku tak mau. Hanya saja, aku dan Kyungmin sudah merepotkanmu kemarin. Kami tak ingin membuatmu repot lagi."
"Hyung~" rengek Kyungmin.
"Aku tak merasa di repotkan oleh kalian berdua. Sungguh! Aku tulus membantu kalian berdua. Kumohon, tinggal lah bersamaku. Bagaimana Kyungmin-ah? Kau mau kan?!" bujuk Siwon.
"Ne hyung! Kita tinggal disini saja~ jika kembali ke rumah itu lagi, aku tak mau! Disana tak menyenangkan." Rengek Kyungmin dengan mata memohonnya. Hyukjae yang melihat tatapan memohon Kyungmin bagaikan seekor anak kucing pun akhirnya luluh.
"Apa benar tak akan merepotkanmu Siwon-sshi?" tanya Hyukjae ragu.
"Tidak! Tidak akan!" jawab Siwon cepat.
"Kau tak keberatan?" tanya Hyukjae lagi. Ia masih merasa tak enak terhadap Siwon.
"Untuk apa aku memohon-mohon seperti ini jika aku merasa keberatan?"
"Baiklah kalau begitu..."
.
At night
.
"Siwon-sshi, ini aku buatkan kopi hitam untukmu." Hyukjae meletakkan secangkir kopi hitam panas di atas meja seraya ikut duduk di atas sofa bersama Siwon.
"Gomawo~" ujar Siwon sembari menyesap kopi hitam tersebut. Kemudian, ia kembali fokus pada layar laptop di hadapannya.
"Sepertinya kau sangat sibuk." Tebak Hyukjae yang 100% benar adanya. Siwon melirik Hyukjae sekilas, kemudian kembali fokus pada layar laptopnya.
"Yah, begitulah. Akan ada sedikit perombakkan di kebun binatang mu—"
"Kau pemilik kebun binatang?" potong Hyukjae. Hyukjae menatap Siwon yang kini balik menatap matanya. Siwon tersenyum melihat Hyukjae yang terlihat penasaran.
"Ne. Wae? Jangan bilang kau baru tau siapa pemilik kebun binatang di Seoul ini?" tanya Siwon dengan nada yang dibuat-buat terkejut.
"Kupikir pemilik kebun binatang adalah pemerintah."
"Yah, sebenarnya pemerintah juga ikut ambil alih pada kebun binatang. Mereka menyumbang banyak uang dan selalu membantu dalam mengurus masalah eksport-import binatang." Jelas Siwon.
"Ternyata dugaanku salah besar! Jujur saja, selama ini aku dan Kyungmin baru sekali pergi ke kebun binatang. Itu pun..." Hyukjae tiba-tiba saja menghentikan kalimatnya saat teringat akan kebun binatang.
"Itu pun?" tanya Siwon penasaran. Ia menatap wajah Hyukjae yang kini berubah menjadi sedih. Memory beberapa hari yang lalu saat di kebun binatang terlintas di otak Hyukjae begitu saja. Memory saat-saat Donghae berada di sampingnya, menemaninya untuk membuat Kyungmin merasa senang.
"Hyung! Hyung!"
"Wae?"
"Apa disini ada ikan piranha?"
"Jangankan ikan piranha, ikan hiu pun disini ada!"
"Benarkah?"
"Tentu saja! Hewan apapun yang ingin kau lihat, disinilah tempatnya."
"Jeongmalyo?"
"Issh... hyung!"
"Apa benar disini aku bisa bertemu dengan hewan-hewan yang ingin kutemui? Apa benar? Apa benar?"
"Dengar Kyungmin-ah, Donghae hyung tak pernah bohong pada siapapun."
"Hyukkie-ah? Gwaenchana?" panik Siwon yang melihat Hyukjae yang kini hanya diam dengan mata yang mulai memerah. Siwon tau, pasti tak lama lagi Hyukjae akan menangis. Tapi ia tak tau apa penyebab yang membuat Hyukjae menjadi seperti ini.
"Hyuk—"
"Ah, mianhae. Sepertinya aku harus tidur, entah mengapa tiba-tiba aku mengantuk! Lihat! Apa mataku merah?" dusta Hyukjae, berusaha mengalihkan perhatian Siwon. Namun percuma, Siwon bukanlah namja bodoh yang akan percaya begitu saja dengan dustaan Hyukjae.
"Ne, matamu memerah. Tidurlah kalau begitu!" Jawab Siwon pura-pura percaya atas bualan Hyukjae.
"Sebaiknya kau juga tidur Siwon-sshi, kau butuh istirahat. Selamat malam." Hyukjae berdiri dari duduknya.
"Hyukkie-ah!" panggil Siwon tiba-tiba. Mau tak mau Hyukjae menghentikan langkahnya begitu saja.
"Ada apa?"
"Saranghae... jeongmal saranghae, Lee Hyukjae."
Deg!
Hyukjae menegang seketika, keadaan hatinya yang sedang buruk membuatnya bingung harus memberikan respon seperti apa terhadap Siwon. Di lain sisi, Siwon mengerti akan keadaan Hyukjae yang terlihat sangat bingung atas pernyataan cintanya.
"Aku tau jika ini terlalu cepat. Dan aku tak akan menuntut jawaban apapun darimu sebelum kau telah memiliki jawaban tersendiri atas pernyataan cintaku. Untuk saat ini, aku hanya ingin kau tau bahwa aku mencintaimu." Jelas Siwon. Hyukjae masih terdiam, sepertinya ia masih terkejut dan nama Donghae pun masih membayang-bayangi pikirannya.
"Percaya atau tidak, aku benar-benar mencintaimu." Tambah Siwon.
"Selamat malam..." Hyukjae langsung berlari kecil menuju kamarnya dan Kyungmin ketika Siwon mengucapkan selamat malam padanya, meninggalkan namja bertubuh atletis itu dengan beribu pertanyaan dan rasa penasaran dalam benaknya.
.
3 month ago
.
CEKLEK
.
"Aiden..." nyonya Lee masuk ke dalam kamar Donghae dengan langkah yang pelan. Ia menatap tubuh sang anak yang berdiri membelakanginya.
"Mianhae..." Donghae tersentak kaget. Sang eomma memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. Ia hanya diam, tak mampu membalas pelukan sang eomma karena hatinya sedang beku saat ini. Matanya terus-terusan menatap lurus ke depan, menatap bulan yang mulai tertutup awan hitam.
"Aiden, eomma janji akan membebaskan mu dari sini untuk bertemu dengan Hyukjae. Tapi nanti, bu—"
"Bukan sekarang kan?!" potong Aiden cepat. Nyonya Lee menangis, ia merasa gagal menjadi seorang ibu. Ia merasa sebagai ibu yang buruk. Ibu yang tak bisa menepati janjinya untuk membahagiakan sang anak ketika lahir ke bumi. Andai ia bisa, andai ia punya kekuatan, ia sangat ingin membantu Aiden. Tapi...
"Sudahlah eomma. Aku mengerti, mianhae... bisa berada di dekatmu sudah cukup bagiku."
"Hikss... eomma merestui hubunganmu dengan Hyukjae, Aiden..."
"Terima kasih karena sudah merestui hubungan kami eomma, restu darimu sangat berarti untukku." Donghae melepaskan pelukan nyonya Lee, kemudian menatap sayang sang eomma seraya menghapus linangan air mata yang mengalir membasahi pipi sang eomma tercinta.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan muda, nyonya besar! Tuan besar sudah menanti kalian berdua di lantai bawah."
"Ne! Kami akan turun sebentar lagi!" balas Donghae berteriak.
"Sudah ne eomma, uljima~ ayah akan marah jika melihat kau berantakan seperti ini." Ucap Donghae mengingatkan.
.
.
"Hyung! Hyung! Apa malam-malam seperti ini gajah di kebun binatang sudah tidur?" Kyungmin bertanya dengan sangat antusias. Saking antusiasnya, ia sampai tak mau diam. Padahal sedari tadi Hyukjae sudah menyuruhnya untuk duduk dengan tenang di kursi penumpang. Namun Kyungmin tak mengindahkan perkataan Hyukjae, ia malah berdiri dengan berpegangan pada kursi pengemudi yang di duduki oleh Siwon.
"Tergantung! Jika gajahnya terserang insomnia, maka ia belum tidur saat ini." Jawaban konyol dari Siwon sukses membuat Hyukjae teringat akan sosok Donghae.
"Insomomania?!" heran Kyungmin dengan penyebutan yang salah. Siwon dan Hyukjae terkiki pelan mendengarnya.
"Insomnia Kyungmin-ah~ bukan insomomania! Hahaha..." seru Hyukjae membenarkan disertai dengan tawanya. Kyungmin terlihat kesal karena cara penyebutan terhadap kata asing yang baru di dapatnya salah. Terlebih lagi, hyungnya malah mentertawakannya dengan sangat keras.
"Isshh... Hyukkie-hyung!" Kyungmin memukul pundak Hyukjae yang sebenarnya tak sakit sama sekali.
"Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi!" kesal Kyungmin.
"Jangan bicarakan itu lagi? Bukankah tadi Kyungmin ingin tau artinya~?" goda Hyukjae.
"Ani! Kyungmin tak mau membicarakan kata itu lagi!"
"Arra...arra..."
"Kyungmin benar-benar sama denganmu! Selalu mem-pout kan bibir saat kesal, mudah marah, mudah kesal, mu—"
"YA! YA! Fokus saja pada jalanan!" seru Hyukjae sebelum Siwon mulai untuk mencibirnya. Sepertinya, hubungan Siwon dengan Hyukjae dan Kyungmin sudah sangat dekat. Apakah kedepannya akan terus seperti ini? Atau berubah menjadi lebih dari ini?
.
.
"Siwon-ah, apa tak apa Kyungmin tak ikut bersama kita? Apa dia akan baik-baik saja jika kita tinggal di tempat itu?" tanya Hyukjae sambil sesekali melirik ke arah belakang, tepatnya ke arah bangungan besar dalam kebun binatang yang di peruntukkan untuk tempat bermain anak-anak. Beruntung kini Siwon memegang tangan Hyukjae, jadi namja manis itu tak perlu khawatir jikalau ia akan tersandung batu karena tak fokus pada langkah kakinya.
"Tenang saja, kau juga tadi lihat kan? Disana banyak anak-anak. Dia akan baik-baik saja, percayalah~" Hyukjae mengangguk paham, mencoba untuk mempercayai Siwon.
Mereka berdua terus berjalan sambil bergandengan tangan dalam diam. Sebenarnya Hyukjae masih bingung acara seperti apa yang akan mereka hadiri sekarang, yang jelas Siwon hanya bilang bahwa acara ini sangat penting baginya. Dan Siwon ingin Hyukjae ikut untuk menikmati keramaian dan hiburan yang telah tersedia dalam acara.
"Whoa~" Hyukjae terperanga ketika sampai di depan sebuah gedung yang sangat besar nan megah. Gemerlap lampu, hiasan bunga, hiasan pita, karpet merah, dan para penjaga pintu masuk yang terlihat berkelas menarik perhatian Hyukjae.
"Terpesona nya nanti saja! Jika kau terus melamun, akan ku gigit bibirmu seperti kau menggigit telingaku beberapa hari yang lalu!" ancaman Siwon rupanya sukses membuat Hyukjae tersadar dari lamunannya.
Siwon melepaskan tautan tangan diantara mereka, kemudian ia berjalan masuk ke dalam gedung diikuti Hyukjae di belakangnya. Siwon berjalan dengan sangat berkelas dan mempesona. Sampai-sampai beberapa tamu acara yang semula sibuk dengan aktivitas mereka kini terhenti dan memfokuskan arah pandang mereka pada satu titik, Choi Siwon. Lain hanya dengan Hyukjae yang malah terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Bulu kuduknya tiba-tiba saja bergidik ngeri ketika membayangkan kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian saat ia menggigit telinga Siwon sampai berdarah karena terlalu takut menerima suntikkan dari dokter untuk tes kesehatan.
"Tuan, anda bisa mulai membuka acara ini sekarang. Para tamu undangan sudang menanti anda sedari tadi." Siwon mengangguk paham saat seorang pria berpakaian serba hitam mengingatkannya begitu saja.
"Hyukkie-ah, kau tunggu disini ne! Jangan kemana-mana." Siwon mengacak-ngacak rambut Hyukjae sebentar sebelum ia pergi meninggalkan Hyukjae menuju sebuah podium di atas panggung.
Hyukjae menengokkan kepalanya kesana-kemari, mencari sebuah kursi kosong untuk ia duduki. Karena tak mungkin ia menunggu Siwon sambil berdiri, Hyukjae sudah menebak bahwa Siwon akan lama kembali padanya.
"Selamat malam semua!"
"Whoa~ rupanya sudah dimulai!" seru Hyukjae masih sambil mencari kursi kosong seraya melirik ke arah Siwon sesekali.
"Naega, Choi Siwon imnida." Para tamu undangan wanita terlihat tak ingin mengedipkan mata mereka barang sedetik pun. Mereka terlalu terpana atas ketampanan yang dimiliki oleh Choi Siwon.
Di sisi lain, Hyukjae yang tak kunjung menemukan kursi kosong akhirnya menyerah dan memutuskan untuk berdiri di samping meja minuman yang berada di sudut belakang ruangan.
"Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada hadirin semua yang telah meluangkan waktunya untuk datang ke acara ini."
"Tsk, dia sungguh berkelas! Tak salah jika banyak wanita yang mengidamkan sosoknya. Dia tampan, kaya, berwibawa, baik, lembut, dan penyayang." Hyukjae terkagum-kagum atas sosok seorang Choi Siwon. Mata sipitnya terus saja memperhatikan Siwon, sampai-sampai ia tak menyadari jenis minuman apa yang telah di ambilnya.
"Uhukk! Uhhuukk!" Hyukjae langsung terbatuk-batuk begitu minuman berwarna merah yang berada dalam genggaman tangannya masuk melewati lidah dan tenggorokannya.
"Ige mwoya?! Uhuukk..." Hyukjae memperhatikan cairan merah yang berada pada gelas di tangannya.
"Red wine?!" Hyukjae menyimpan kembali minuman tersebut ke atas meja. Pasalnya, ia tak suka dan tak akan kuat meminum minuman seperti itu. Jangankan wine, minuman bersoda saja ia tak akan kuat. Detik berikutnya, Hyukjae menepuk-nepuk dasinya yang terasa basah karena terkena cipratan wine saat ia terbatuk tadi.
"Sepertinya aku harus ke toilet." Hyukjae mem-poutkan bibirnya kesal. Kemudian ia melangkahkan kakinya menjauhi keramaian. Tanpa ia sadari, sepasang mata memangsa sedari tadi memperhatikannya dari jarak yang tak terlalu jauh.
.
.
"Sepertinya acara sudah dimulai." Tuan Lee melirik jam tangannya kemudian memberi aba-aba pada sang istri agar menggandeng lengannya. Nyonya Lee yang mengerti segera menggandeng lengan Tuan Lee. Mereka berjalan dengan sangat romantis memasuki gedung tempat dimana acara dimulai. Sedangkan Donghae hanya mengikuti kedua orang tuanya dari belakang.
Ketika mereka bertiga masuk, suara sorak sorai beserta tepuk tangan dari para tamu undangan terdengar menggema. Sang pemilik kebun binatang baru saja selesai atas sambutannya. Siwon, sang pemilik acara turun dari panggung setelah sebelumnya membungkukkan sedikit badannya sebagai tanda hormat pada semua tamu undangan.
Baru saja ia turun dari tangga, segerombolan wanita cantik yang sama berkelasnya dengan Siwon mengerubungi namja bertubuh atletis itu begitu saja.
"Siwon-sshi, selamat atas kebun binatangmu! Semoga dengan pembukaan cabang toko milikku di kebun binatang ini, bisa menambah keramaian!"
"Aku yakin, pasti kedai burger milikku akan meramaikan kebun binatang!"
"Ne, semoga butik milikku juga bisa meramaikan kebun binatang ini!" seru wanita lainnya.
"Ne, terima kasih juga karena kalian mau membuka cabang dari toko maupun kedai milik kalian. Mohon kerja samanya ya!" ujar Siwon ramah.
"Tentu Siwon-sshi..." balas wanita-wanita itu serempak.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Masih banyak orang-orang yang perlu saya sapa. Annyeong~" Siwon pun pergi meninggalkan segerombolan wanita itu, membuat mereka mendesah kecewa karena tak bisa lama-lama berbincang dengan Siwon.
Siwon melangkahkan kakinya ke area makanan manis. Matanya tak henti melihat kesana-kemari mencari sosok Hyukjae.
"Selamat atas penambahan fasilitas di kebun binatang ini, Choi Siwon!" Siwon menolehkan kepalanya ke samping dan menemukan sosok orang yang juga berpengaruh bagi kebun binatang ini selain pemerintah.
"Ah ne, terima kasih Tuan Lee." Siwon membungkukkan badannya, hanya sebentar.
"Berkat bantuan dana dari anda juga, kebun binatang ini bisa berjaya seperti sekarang dan siap bersaing dengan kebun binatang di daerah Eropa dan Amerika." Tambah Siwon. Tuan Lee mengangguk-nganggukkan kepalanya, merasa bangga mengingat dana yang ia sumbangkan pada kebun binatang ini cukup besar.
"Aiden-ah, kemari nak!" panggil Tuan Lee. Aiden, atau Donghae mendekat pada sang ayah. Ia berdiri tepat di samping Tuan Lee.
"Siwon-sshi, perkenalkan! Ini Aiden, anakku."
"Aiden Lee imnida." Donghae mengulurkan tangannya, mengajak berjabat tangan. Siwon yang memang sudah tau mengenai Donghae dan sebagian lika-liku masalah yang terjadi dalam keluarganya, menjabat tangan Donghae cepat.
"Choi Siwon imnida." Balas Siwon. Mereka berdua melepaskan jabatan tangan mereka dan sibuk pada pemikiran masing-masing.
"Semoga anda menikmati pesta malam ini." Ucap Siwon.
"Tentu! Pesta seperti ini harus dinikmati." Balas Tuan Lee.
"Eomma, sepertinya aku harus pergi ke toilet." Bisik Donghae.
"Pergilah, jangan lama-lama ne!" Donghae mengangguk paham, kemudian ia berlari meninggalkan keramaian pesta. Ia tak terlalu suka keramaian, dan toiletlah yang selalu menjadi pelariannya dari keramaian.
.
.
"Aisshh.. sepertinya akan lebih baik jika dasi ini tak di pakai." Hyukjae kembali melepaskan dasi basahnya yang baru saja selesai ia cuci di wastafel.
"Seperti ini juga bagus!" pujinya atas penampilannya. Ia memutar badannya ke kanan, kemudian memutarnya ke kiri. Memperhatikan duplikatnya di dalam cermin, takut-takut ada point yang mengurangi penampilannya. Jangan sampai penampilannya membuat Siwon malu di depan tamu-tamu berkelasnya. Hyukjae menundukkan kepalanya, kembali merapihkan kemejanya dan menepuk-nepuknya untuk menghilangkan debu yang siapa tau saja menempel pada kemeja dan jas mahal dari Siwon yang di kenakannya.
CEKELK!
BLAM!
Hyukjae masih terfokus pada kemejanya, sampai-sampai ia tak menyadari kedatangan seseorang yang telah mengincarnya sedari tadi. Setelah di rasa cukup rapih, Hyukjae membalikkan badannya—
"HMPHH!" seseorang tiba-tiba saja membekap mulutnya dan mengunci pergerakan tubuhnya. Hyukjae tau betul siapa orang ini. Dicium dari aroma tubuhnya yang tak akan ada duanya, Hyukjae yakin 100% bahwa orang ini adalah orang yang paling tak ingin ia temui.
"Hyukkie-ah..." lirihnya pelan. Hyukjae mencoba berontak saat tangan kurang ajar namja itu mulai meraba-raba bokongnya. Hyukjae membulatkan matanya lebar, namja di hadapannya mulai berani meremas bokongnya. Dengan sekuat tenaga, Hyukjae membebaskan tangannya. Kemudian menepis tangan namja yang membekap mulutnya lalu mendorong tubuh namja itu sampai mundur beberapa langkah membentur salah-satu bilik toilet.
"YA! APA YANG KAU LAKUKAN KYU?!" teriak Hyukjae marah. Nafasnya terengah-engah serta wajahnya memerah menahan amarahnya agar tak semakin membuncah.
"Aku mencintaimu! Kenapa kau berani menghindariku, eoh?!" Kyuhyun menatap Hyukjae tajam. Dalam sorotan matanya, tersirat amarah dan penyesalan yang sangat dalam. Hyukjae tak tau harus menjawab apa, karena Kyuhyun sendirilah yang telah membuatnya menghindari namja berambut ikal tersebut.
"Sadarlah Kyu, kau tak mencintaiku! Sudah cukup kau menyakitiku di masa lalu. Sekarang jangan lagi, kumohon... jangan ganggu aku lagi." Mohon Hyukjae. Ia berjalan menuju pintu untuk segera keluar dari toilet. Ia tak mau lagi berurusan dengan Kyuhyun yang sekarang.
Krek! Krek!
"Sial!" Hyukjae kembali memutar-mutar knop pintu toilet yang terkunci. Tak boleh! Ia tak boleh terkunci dalam toilet ini, terlebih lagi... bersama Kyuhyun.
"Wae? Apa sekarang kau telah mendapatkan namja yang lebih kaya dariku, eoh? Choi Siwon?!" Kyuhyun berjalan mendekati Hyukjae, namun namja manis itu masih sibuk dengan usahanya membuka pintu toilet.
Grep!
"Lepas! Lepaskan aku!" teriak Hyukjae. Kyuhyun memeluk tubuhnya dari belakang dengan sangat erat. Tanpa basa-basi lagi, Kyuhyun langsung menarik tubuh Hyukjae masuk ke dalam salah satu bilik toilet, kemudian mengunci pintunya.
"TOLONG! SIAPAPUN TOLONG AKU!"
Bruk!
"Akh!" Kyuhyun mendorong tubuh Hyukjae sampai membentur dinding toilet.
"Jangan mendekat! Aku bisa saja membunuhmu jika kau berani macam-macam terhadapku!" ancam Hyukjae. Kyuhyun mendecih pelan sebagai balasan. Tanpa mengindahkan ancaman Hyukjae, Kyuhyun mendekat dan langsung mendekap tubuh namja manis itu.
"Isshh! Jangan! Kumohon~" Kyuhyun melepas paksa jas yang di kenakan Hyukjae. Hyukjae berniat memukul wajah Kyuhyun, namun namja berambut ikal yang lebih tinggi darinya itu lebih cepat menahan pergerakannya.
"Kenapa? Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Kyuhyun sedih. Ia menahan kedua bahu Hyukjae agar berhenti berontak seraya menatap mata sipit Hyukjae dengan mata yang mulai memerah.
"Seharusnya aku hikss yang bertanya s-seperti itu padamu Kyu! Kenapa k-kau mmpphh!" tidak! Hyukjae tak bisa menahan amarah dan nafsu sesaat Kyuhyun. Hyukjae menangis saat Kyuhyun berhasil mencium, bahkan melumat bibirnya ganas.
"Hikss..ahh! Janganhh! Hentikan ngghhh~!"
"DIAM!" bentak Kyuhyun. Hyukjae terdiam, detik berikutnya ia mendorong tubuh Kyuhyun kemudian berusaha membuka kunci pintu bilik. Namun usahanya sia-sia karena saat kunci terbuka, Kyuhyun menarik rambutnya kasar dan kembali mengunci pergerakan Hyukjae dengan mengikat kedua tangannya Hyukjae menggunakan ikat pinggangnya.
"HAE! TOLONG AKU!" refleks Hyukjae meneriakkan nama Donghae, dan itu semakin membuat Kyuhyun geram.
"Jangan teriakkan namanya! Karena sekarang yang akan bercinta denganmu itu aku! CHO KYUHYUN! Bukan si pelayan kurang ajar itu!"
'Hae... tolong aku, hikss...'
.
.
Donghae melirik jam tangannya, kemudian fokus pada langkah kakinya. Tak lama kemudian, ia melihat sebuah papan yang menunjukkan lokasi toilet pria. Ia berjalan pelan, mendekati pintu toilet yang tertutup rapat.
'Hikss..ahh! Janganhh! Hentikan ngghhh~!'
"Eh?" Donghae yang berniat membuka pintu toilet mengurungkan niatnya ketika mendengar suara yang seharusnya tak ia dengar dan tak terdengar di tempat umum seperti ini. Donghae yang tak ingin mengganggu sepasang kekasih atau mungkin sepasang suami-istri itu membalikkan badannya dan kembali melangkahkan kakinya menjauhi toilet.
'DIAM!'
Bruk!
Entah mengapa, Donghae menghentikan langkahnya dan kembali mendekati toilet tersebut.
'HAE! TOLONG AKU!'
Donghae membelalakan matanya terkejut. Suara ini, suara yang amat di rindukannya. Suara Hyukjae! Dan barusan, Hyukjae meneriakkan kata 'tolong' yang berarti Hyukjae sedang dalam bahaya. Dan suara desahan tadi...
Donghae menggelengkan kepalanya cepat. Saat ini bukan waktu yang tepat baginya untuk berpikir. Yang harus ia lakukan sekarang adalah menolong Hyukjae-NYA. Dengan cepat, ia mencoba membuka pintu toilet di hadapannya. Namun sayang pintunya terkunci rapat.
'Jangan teriakkan namanya! Karena yang akan bercinta denganmu itu aku! CHO KYUHYUN! Bukan si pelayan kurang ajar itu!'
Donghae semakin geram. Cho Kyuhyun, namja itu benar-benar namja kurang ajar. Dengan segala amarahnya, Donghae mendobrak pintu itu menggunakan kakinya.
BRAK!
"Hyukjae-ah?!" Donghae membuka satu per satu bilik yang di lewatinya.
"H-Haehh..." matanya langsung tertuju pada bilik toilet yang berada paling ujung begitu Hyukjae kembali merintih memanggil namanya. Donghae berjalan cepat mendekati bilik toilet itu, kemudian tanpa basa-basi lagi, Donghae langsung mendobrak pintu tersebut dalam sekali dobrakan.
BRAK!
"Beraninya kau!" Donghae geram, tangannya mengepal dengan kuat saat tau bahwa Kyuhyun tengah mencumbui leher Hyukjae. Dengan kasar, Donghae menarik kemeja Kyuhyun dan memukul wajah namja berambut ikal itu sampai jatuh tersungkur ke lantai.
"Aishh..." Kyuhyun mendesis, pukulan yang di berikan mantan pegawai cafenya itu sukses membuat hidungnya berdarah. Kyuhyun berani bersumpah bahwa tulang hidungnya patah.
"YA! Beraninya kau, LEE DONGHAE!" marah Kyuhyun. Ia tak terima di perlakukan seperti ini. Harga dirinya serasa di injak-injak. Kyuhyun bangkit dari posisinya, ia menepuk-nepuk setelan jas nya kemudian meludah tepat ke arah sepatu Donghae.
"Mwoya?" Kyuhyun menatap tajam Donghae yang balik menatapnya tajam.
"Berninya kau mengganggu ku! Kau pikir kau siapa, eoh?"
"Tsk, seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu! Kau pikir kau siapa? Hyukjae adalah istriku!"
"Hah! Jangan membuatku tertawa Lee Donghae!" Kyuhyun mendekat ke arah Donghae dan berniat memukul wajah sang lawan, namun sayang Donghae berhasil menghindarinya. Keadaan kini berbalik, giliran Donghae yang membalas.
Buagh!
Kyuhyun kembali tersungkur, lagi-lagi pukulan Donghae berhasil membuat Kyuhyun tumbang. Tak sampai disitu, Donghae kembali menarik kerah kemeja Kyuhyun, memaksa namja itu untuk berdiri. Kemudian Donghae kembali memukul pipi Kyuhyun.
"Sialan!" Kyuhyun yang tak terima dipukuli seperti ini, terlebih lagi oleh Donghae yang notabene seseorang yang rendah di mata Kyuhyun, berniat membalas pukulan Donghae. Namun sayang, Kyuhyun terlalu tenggelam dalam obsesinya untuk mendapatkan Hyukjae sampai-sampai ia tak dapat menggunakan akal sehatnya dengan benar.
"Masih berani melawan, eoh?" merasa kesal, Kyuhyun berniat memukul wajah Donghae, namun namja di hadapannya sudah terlebih dahulu menahan pergerakannya. Kemudian Donghae memukul rahang Kyuhyun dan mendorong namja yang sangat di bencinya hingga membentur ke dinding wastafel.
Masih tak puas, Donghae mendekati Kyuhyun dan mulai memukul wajah Kyuhyun dengan membabi buta. Kini, malah Donghae yang tenggelam dalam emosinya. Ia tak membiarkan Kyuhyun untuk membalasnya sedikitpun. Bahkan, saat Kyuhyun sudah babak belur dan mulai kehilangan kesadarannya, Donghae masih enggan untuk tak memukul wajah Kyuhyun.
"Eunghh... hikss..." mendengar tangisan Hyukjae, Donghae tersadar bahwa kini ia harus segera menghampiri belahan jiwanya.
"Hyukkie-ah, gwaenchana?" Donghae berjongkok di hadapan Hyukjae. Hyukjae tak menjawab, ia malah menatap wajah Donghae tak percaya dengan linangan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Uljima, ada aku disini." Ibu jarinya tergerak untuk mengusap pipi Hyukjae sayang. Donghae melepaskan jas yang di pakainya, kemudian menggunakannya untuk menutupi tubuh bagian atas Hyukjae.
"Hae, benarkah ini kau? Hikss..." tanya Hyukjae memastikan seraya meraba-raba wajah Donghae, meskipun alih-alih kini Hyukjae sedikit takut dengan sosok Donghae yang berada di hadapannya sekarang.
"Seperti yang kau lihat, ini aku Hyuk!"
"Hikss... bogoshipo~"
"Nado Hyuk, nado bogoshipoyo~" Donghae memeluk tubuh Hyukjae, kemudian mengangkat tubuh namja manis itu ala bridal style. Hyukjae yang memang pada dasarnya typical orang yang perasa, merasa tak tega saat melihat sang mantan yang hendak memperkosanya sedang dalam keadaan yang mengerikan.
'Mianhae Kyu...' lirih Hyukjae dalam batinnya. Saat itu pula, ia merasa takut akan sosok Donghae dan ingin terlepas dari dekapan namja yang tak jelas keadaan jiwanya itu. Namun di sisi lain, kini ia mencintai Donghae. Ia tak mau Donghae melepaskan dekapannya karena ia sangat merindukannya.
.
.
.
TBC
Gimana chap ini?!
Gaje? Ngelantur?
Muehehee...
Mianhae untuk Sparkyu dan Joyers(kalo ada) karena telah membuat karakter Kyuhyun seperti ini TT_TT mian juga karena telah membuat Kyuhyun babak belur T_T Mian mian dan mian untuk semua ketidak cocokan/ketidak pas-an, ketidak nyamanan, dll yang terdapat dalam ff ini, ini Cuma fanfic! :)
Yosh! Untuk part depan... Mau sad end? Happy end? Atau gantung (?) end? Endingnya ngegantung gitu maksudnya... xD
Yosh! Seperti biasa, untuk segala kekurangannya Naka mohon maaf ne~
Review please~
See you and gomawo~^_^
