Disclaimer dan kawan-kawan bisa dilihat di chapter sebelumnya.

Thanks to:

Akiko Rin, LinLinOrange, Lightmaycry, dan kazuki yang telah mereview di chapter sebelumnya.

.

.


iii. Permintaan

Semalam sebelum ekspedisi keluar dinding yang ke-57 dimulai, Rivaille tidak sengaja bertemu dengan gadis bersurai hitam legam itu―Mikasa Ackerman, di lorong kastil tua yang dijadikan markas oleh Scouting Legion.

Mereka sama-sama berhenti berjalan, terdiam di tempat menyadari keberadaan masing-masing. Api yang menyala pada obor yang tergantung di dinding kadang kala menari, ketika angin malam berhembus. Pria bersurai kehitaman ini sedikit mendongak, untuk dapat menatap dengan jelas wajah gadis itu dengan pandangan bosannya.

"Urusan sial apa yang membuatmu berkeliaran di tengah malam begini Ackerman?"

Dahi gadis itu sedikit berkerut. Ia menatap pria yang berada di hadapannya tajam pria yang berada di hadapannya, "Itu bukan urusanmu Sir," jawabnya memberi penekanan nada pada kata Sir.

Pria bermanik obsidian ini―yang tidak lain dan tidak bukan adalah atasannya sendiri, membalas tatapan Mikasa tajam. Apakah gadis ini benar-benar tidak tahu tatakrama berbicara pada atasannya?

Tidak ingin memperpanjang urusan, Rivaille segera mengakhiri percakapan mereka, "Tch, cepatlah kembali ke kamarmu Ackerman. Ekspedisi besok bukanlah sebuah karya wisata."

Pria itu pun beranjak pergi dan melewati Mikasa, karena kamarnya berada berlawanan dari arah yang gadis itu tuju. Tetapi sebelum ia melangkah terlalu jauh, sebuah suara menghentikannya.

"Eren berada satu pasukan denganmu Sir?"

Rivaille yang sudah berhenti berjalan dan memunggungi gadis itu, tidak punya pilihan lain selain menjawabnya, "Ya."

Mikasa menarik ujung atas syal merahnya sampai menutupi bagian mulutnya, "Lindungilah Eren, Sir."

Rivaille melirik punggung Mikasa dari balik bahunya, "Memang kau pikir, apa alasan Irvin memasukannya ke dalam pasukan elit milikku?" tanyanya retoris, "Kami tentu melindungi bocah itu, tapi pada saat yang bersamaan kami akan membunuhnya bila bocah itu kehilangan kendali."

"Arigatou," gumam Mikasa samar dan begitu pelan, sambil melenggangkan kaki meninggalkan Rivaille yang malah terdiam di lorong itu.

Pria itu samar-samar sedikit menangkap apa yang gadis itu katakan. A-ari ... apa katanya?

Kata itu terdengar asing di telinga kopral muda ini. Tapi Rivaille dapat merasakan setitik kehangatan saat gadis itu mengucapkannya. Kata itu seperti sebuah matra yang menciptakan efek magis bagi orang yang mendengarnya.

.

.


Output dari Kei:

Gomen karena telat update, soalnya saya minggu kemarin lagi fokus ke fic untuk entry SDAnniv. Tugas pun terus menumpuk ga karuan... :'D

Review are appreciated \m/