Warn! Bromance, OOC, AU, Yaoi, Teen, Sweetness, Typos, bahasa gak baku, garing DLL

No Copycat, thankyou ^^


Aku Sehun

Mata Luhan membelalak. Gemuruh di dadanya kembali terasa. "Aduh bagaimana ini?" Luhan menatap smartphonenya dengan alis berkerut.

Balas? Tidak? Balas? Tidak? Jadi Sehun benar-benar menyukainya?

"Sehun menyukaiku?" Tangan kanan Luhan meraba dada kirinya, tak tahan dengan lonjakan senang yang seakan bisa membunuhnya sekarang juga.

Suhu tubuhnya naik, keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya. Belum juga berkutik dari pesan yang berisi nama Sehun, ia diam tak tahu harus membalas apa.

Kepada Tak dikenal,

Dari mana kau tahu aku memikirkanmu?

Hah? Tunggu! Kenapa Luhan mengetik itu? Kau mau Sehun tahu bahwa kau memikirkannya, Lu? Itu sih sama saja cari mati.

Hapus…

Kepada Tak dikenal,

Untuk apa kau mengirimku pesan?

Lagi-lagi pertanyaan bodoh. Kenapa tidak langsung menanyakan 'Apa kau menyukaiku?' saja?

Hapus…

Ketik lalu hapus, begitu seterusnya hingga smartphonenya menerima pesan baru.

Dari Tak dikenal,

Kenapa tidak dibalas?

"Oh Tuhan! Aku harus balas apa?!" Luhan berguling kesana-kemari berharap mendapatkan pencerahan lalu membalas pesan Sehun.

Smartphonenya berdering.

Tak dikenal memanggil…

Luhan kembali membulatkan matanya. Hari ini memang penuh dengan kejutan!

"Ha-halo…"

.

.

.

Kai berjalan malas setelah pulang dari 'urusan' dimaksud 'urusan' disini adalah—ya kalian tahu, cinta remaja, kencan.

Ia rela membolos latihannya bersama Luhan dan Sehun demi kencan dengan pacarnya. Astaga! Anak ini…

Baru beberapa menit yang lalu seusai mengantarkan sang pacar dengan selamat sampai ke depan rumahnya, ia kembali dilanda kerinduan.

Sudah beberapa kali ia mengecek smartphonenya dan untuk yang kesekian kalinya juga ia merasa kecewa. Tak ada pesan baru.

Jangan salahkan dirinya kenapa ia tidak mengirimi pesan untuk pacarnya. Kai sudah mencoba mendial nomor Kyungsoo—pacarnya tapi yang didengar bukan suara merdu Kyungsoo, melainkan sang operator.

"Sial! Pulsanya tidak cukup." Itu adalah alasan konyol yang paling menyebalkan yang pernah ada.

Ia lelah seharian berkeliling—berjalan di taman hiburan bersama Kyungsoo dan kini ia harus berjalan lagi.

Bukannya tidak ikhlas, hanya saja ini sudah petang belum lagi jarak rumahnya dengan minimarket terdekat cukup jauh—ya sekitar dua puluh lima menit jika berjalan kaki.

Matahari saja sudah kembali keperaduannya. Dia harus pergi ke minimarket—untuk membeli pulsa tentu saja.

Kai lupa membelinya saat di perjalanan pulang mengantar Kyungsoo. Ia ingat saat motornya sudah masuk garasi. Uh-oh malas rasanya untuk mengeluarkannya lagi ketika pintu garasi berubah menjadi semakin menjengkelkan dari hari ke hari. Ia perlu tukang servis pintu garasi.

Inilah akhirnya, berjalan kaki sendirian.

Setelah berdebat dengan dua pilihan, antara mengisi pulsa atau membeli nomor baru. Percuma saja mengisi banyak pulsa jika ia begitu boros memakainya. Oh! Lain kata boros, mungkin lebih mengarah pada mahal.

Kai pikir akan sulit menghubungi teman-temannya jika menggunakan nomor baru. Oleh karena itu ia memutuskan untuk melakukan keduanya, mengisi pulsanya dan juga membeli nomor baru.

Ia mengucapkan terimakasih pada sang kasir lalu kembali pulang.

Di perjalanan Kai memasang nomor baru kemudian membuka smartphonenya, mendial nomor Kyungsoo. Baru mendengar suara Halo dari seberang sana. Smartphonenya mati.

Great! Lengkap sudah penderitaan namja berkulit agak gelap ini. Ia menahan hasratnya untuk tidak membanting smartphonenya sekarang. Sabar Kai.

"Apanya yang smartphone kalau begini? Ini namanya stupidphone! Ck!" Kai memasukan smartstupidphonenya ke kantung celana.

Ia mengedarkan pandangannya, lalu, "Loh? Ini kan jalan menuju rumah Luhan-hyung, lebih baik aku ke rumah Luhan-hyung saja. Ya kau pintar Kim Jongin." Tangannya mengepal diudara.

Ia menyebut dirinya pintar? Baiklah terserah saja.

Tersenyum sepanjang jalan menuju rumah Luhan. Membuka pagar rumah Luhan dengan penuh perasaan. "Kyungsoo-hyung, tunggu aku menelepon ya."

Diketukan yang kelima kali—pada pintu—seseorang membukakan pintu untuk Kai.

"Oh Kai. Ayo masuk!" ujar seorang yeoja yang membukakan pintu. Kai pun masuk, melepas sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu. Ia melihat sepatu biru-hijau toska—milik Luhan.

"Ingin bertemu dengan Luhan?"

"Ah tidak, aku kebetulan lewat dan mampir hehe. Umm Noona, boleh aku pinjam charger? Ponselku mati. Ini darurat!" tutur Kai pada yeoja itu. Yang dipanggil noona pun mengangguk dan tersenyum manis.

"Duduklah dulu, aku akan mengambilkannya. Sebentar." Kai menuruti perkataan yeoja tadi. Ia duduk di depan televisi yang sedang memperlihatkan acara gosip.

"Ini." Kai menerima charger ponsel milik yeoja itu. "Kau bisa mencharger ponselmu di situ." Yeoja itu menunjuk kontak listrik di depan ruangan—kamar Luhan. Dari mana Kai tahu? Ia sering kesini, tentu saja ia tahu.

"Akhirnya menyala." Kai sibuk dengan smartphonenya hingga sebuah suara melewati indera pendengarannya, "Sekaligus menyebalkan!" Itu suara Luhan.

Awalnya Kai tidak peduli, hingga Luhan kembali bersuara, "Kurasa Sehun memiliki tahi lalat di sekitar sini." Kai melirik ruangan didepannya.

"Sehun?" Ah ya! Dia baru ingat bahwa Luhan berlatih dengan Sehun. Berduaan. Entah kenapa setelah berpikir Luhan seharian berduaan dengan Sehun, Kai tersenyum. "Kurasa mereka cocok."

Ia mengetik pesan untuk Luhan. Iseng tidak mau menampakkan diri di depan Luhan.

Kepada Luhan-hyung,

Bagaimana harimu dengan Sehun, Hyung? Indah kan? Berterimakasihlah padaku yang telah mengenalkannya padamu. Kau berhutang ramyun padaku.

Mengirim… terkirim!

Setelah menunggu beberapa detik, kembali terdengar. "Mengganggu saja." Milik Luhan.

Senyuman Kai semakin mengerikan dikala mendapatkan balasan dari Luhan.

1 pesan baru. Membuka…

Luhan-hyung,

Apanya yang indah?! Kau menghancurkan moodku, sialan!

"Sekali-kali iseng tak apa kan?" Ia tidak dapat menahan tawanya tetapi ia harus diam, "Aduh aku ingin tertawa." Ia menutup mulutnya rapat-rapat dan tertawa dalam diam, khawatir Luhan akan mendengarnya.

.

.

.

"Kenapa tidak membalas pesanku, chagi?" Suara ini kan…

Tunggu! Sepertinya Luhan tahu, ia ingat benar seperti apa suara Sehun dan ini bukan suaranya. Lalu siapa?

Ia butuh beberapa detik untuk menyadarinya sebelum…

"Kenapa kau tidak menjawab barang sedikit pun? Kau membenciku?" Demi Tuhan ia membenci hari ini, membenci seseorang yang telah membuka pintu kamarnya dengan senyuman mengerikan.

Beberapa detik kemudian bantal yang sedari tadi menjadi korban pelampiasan kegalauan Luhan kini sudah melayang bersamaan dengan benda lainnya kearah seorang Kim Jongin yang berdiri memegang ponselnya.

"FOR GOD SAKE KKAMJONG! FVCK YOU!"

"Astaga Luhan-hyung, aku hanya bercanda," ujar Kai menghalau barang-barang yang melayang ke arahnya.

"Dengan mengaku sebagai Sehun? Oh! Selamat datang di neraka Kim-Jong-in!" balas Luhan sarkastik. Luhan mendengus kesal.

Ia melipat tangannya gusar, ia bahkan sudah berpikir yang tidak-tidak seperti; Sehun menyukaiku? Atau; Sehun memikirkanku! Bahkan; Aku dan Sehun akan berkencan setelah ini.

Astaga itu semua hanya khayalan semata dan yang merusaknya adalah bocah hitam di depannya ini—Luhan melirik Kai dengan ekor matanya.

"Oke-oke baiklah, aku minta maaf. Aku akan mentraktirmu ramyun di kantin sekolah nanti."

Dan ini lah akhirnya jika kau berani mengerjai Luhan. Kai benar-benar menyesali perbuatannya setelah melihat Luhan seperti akan menangis—dan itu hanya persepsinya saja karena Luhan pandai berakting demikian.

"Aku berpikir di sana—kantin sekolahnya—ada enam kukis coklat gratis." Kai mendengus, ini berarti akan menyita tigaperempat uang sakunya untuk membelikan enam bungkus kukis coklat sebagai permintaan maaf.

Ia memunguti satu per satu barang yang tadi Luhan lempar dan menaruhnya kembali ke tempat semula, seperti; bantal di ranjang dan buku di meja belajar.

"Baiklah." Kai duduk di ranjang Luhan. Senyuman mengembang di bibir Luhan.

"Ngomong-ngomong ada apa kau kemari?" Luhan beranjak duduk di samping Kai.

"Pinjam charger, smartphoneku mati dan—ASTAGA!AKU LUPA HARUS MENELEPON KYUNGIE!" Kai menepuk dahinya kemudian keluar kamar dan menutup pintu.

Tapi beberapa detik setelahnya ia kembali membuka pintu dan berkata, "Selamat malam, Hyung. Mimpikan Sehun-chagi yaaaa." Luhan melotot dan bersiap untuk melempar kembali bantal yang tadi dipungut Kai tetapi pintu sudah terlebih dulu ditutup dan disusul dengan tawa yang mengerikan.

"KKAMJOOOONG!"

.

.

.

Sejak tadi malam saat Kai mengatakan mimpikan Sehun, Luhan benar-benar memimpikannya. Hanya mimpi sederhana seperti; Sehun mengajaknya bicara atau hanya tersenyum.

Dan Luhan berani bertaruh jika ia menceritakan semua ini pada Kai, ia pasti akan meledeknya sepanjang hari—sepanjang waktu bersama Sehun.

Hari ini adalah hari terakhir liburannya sekaligus jadwal latihan dance bersama Sehun—juga Kai. Bisakah ia membolos untuk hari ini? Alasan sakit mungkin akan tepat, berhubung semalaman ia tidak bisa tidur dan baru menapaki mimpi tiga jam yang lalu, tentu ini membuat kepalanya terasa begitu pening.

Luhan berjalan menyibak tirai agar mentari bisa menerobos masuk ke kamarnya. Matanya menyipit saat bersinggungan langsung dengan langit yang sudah berwarna biru muda dengan awan yang menggumpal bergerak tertiup angin.

Jam 8.00, ia sudah tidak berminat lagi untuk menerjang ranjang di pagi hari—tidak seperti biasanya. Ia tidak mau kembali memimpikan sosok namja berambut putih platina itu.

Luhan berjalan ke kamar mandi di sebelah kanan ranjangnya dengan langkah gontai.

Menatap refleksinya di depan cermin wastafel, membasuh wajahnya dan kembali menatap cermin.

Wajahnya terlihat tidak bersemangat, rambutnya awut-awutan, matanya sayu dan berkantung, bibirnya kering agak pucat.

Ia berniat mandi tetapi diurungkan. Ini masih terlalu dingin. Kakinya membawanya keluar kamar. Berjalan kedapur. Entah mengapa jarak kamarnya menuju dapur terasa tak kunjung sampai karena ia harus berhenti sejenak untuk menetralkan pusing di kepalanya.

Semuanya terlihat berputar dan Luhan bersender di pintu dapur sambil menutup matanya.

Jiejienya sudah pergi dari satu setengah jam yang lalu, ia punya kelas pagi di hari minggu.

Luhan punya sekitar satu jam empat puluh empat menit sebelum berangkat latihan bersama Sehun. Ia belum memutuskan untuk berangkat atau tidak tapi kepalanya berputar setiap dua menit sekali.

Luhan membuka kulkasnya untuk mengambil air putih sebagai pemulih dehidrasi. Meneguk rakus segelas air. Matanya menangkap sticky note ukuran sedang berwarna pink dari jiejienya yang berisi dia tidak akan pulang untuk hari ini dan menyuruh Luhan untuk membeli beberapa barang makanan di minimarket.

Luhan kembali dari dapur, kini ia duduk di depan tv tanpa menyalakannya. Menaruh gelas dengan seperempat air di dalamnya ke atas meja. Badannya bertumpu pada sandaran sofa.

Matanya terpejam, kepalanya semakin sakit dan berdenyut mendengar suara anak kecil bermain di luar sesekali tertawa lepas.

Ia memutuskan untuk mengambil obat sakit kepala di kotak first-aid yang berada di kamar mandi dan kembali duduk di sofa depan tv. Luhan meminum sebutir pil kemudian menaruh botolnya di meja kaca bersama dengan gelas yang kini sudah kosong.

Dalam sekian menit Luhan merasakan kantuk, itu berarti obatnya telah bekerja. Ia pun tertidur di sana.


Smartphonenya berdering, matanya berat. Luhan mengedarkan pandangannya dan mendapati dirinya tertidur di sofa ruang keluarga.

Luhan melirik jam yang menempel di dinding, 09.54. Smartphonenya masih berdering. Luhan tahu, ia meninggalkannya di kamar, itu berarti ia harus bangkit dan mengambilnya untuk mengangkat telepon sialan yang mengganggu.

Tak dikenal memanggil…

"Halo." Luhan duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya.

"Kau dimana? Aku sudah menunggumu." Alisnya berkerut.

"Siapa ini?" ia sepertinya mengenal suara ini, tapi siapa? Otaknya tidak mau bekerja dan kembali terasa pusing.

"Sehun." Kai menjebaknya lagi? Dia tidak tahu bahwa jebakan untuk yang kedua kalinya tidak akan mempan. Ini benar-benar keterlaluan!

"Kai berhenti bercanda." Luhan mendengus kesal.

"Aku tidak bercanda, lagi pula aku bukan Kai."

"Lalu kau siapa?"

"Sudah kubilang aku Sehun, Oh Sehun. Kenapa kau mengira aku Kai?"

"Dia pernah mengirimiku pesan mengaku Sehun, meneleponku dan ternyata aku dibodohi."

"Dia juga mengirimiku pesan dan mengaku sebagai Luhan, membuatku berpikir macam-macam."

"Baguslah, itu berarti bukan hanya aku yang dibodohi—HEI! Apa yang kau pikirkan?" Kepalanya tidak berhenti berdenyut, Luhan rasa ia tidak boleh berteriak dan berpikir terlalu keras.

"Seperti; kenapa tiba-tiba? Atau; ada apa dengannya? Dan berpikir demikian membuatku gila."

"Untuk apa kau berpikir seperti itu?"

"Kau membuatku menunggu. Cepat keluar, aku di depan rumahmu."

"HAH?! Apa yang…" Luhan beranjak ke arah jendela dan mendapati sosok Sehun di atas motornya—di luar pagar—sedang menatap pintu masuk.

"Satu."

"Ne, aku keluar." Luhan segera beranjak dari sana.

"Dua…"

"Berhenti berhitung!Kau membuatku panik!" Luhan mencari kunci pintu depan di lemari sebelah rak sepatunya. Pundaknya menahan smartphonenya jatuh saat kedua tangannya sibuk mencari kunci sialan—NAH! Gotcha!

"Tiga…"

"Astaga Sehun!" Luhan membuka pintu dan berjalan tergesah-gesah ke pagar rumahnya.

Ia menatap Sehun sambil menetralkan nafasnya. Memasukan smartphonenya ke kantung celananya. Sehun yang melihat Luhan kemudian tertawa kecil dan turun dari motornya.

Rasa pening di kepalanya kembali datang. Mau tidak mau Luhan berpegangan pada pagar yang masih belum terbuka dan memijat kecil pelipisnya berharap rasa sakitnya hilang.

"Ada apa kau kemari?" Bukannya menjawab Sehun malah balik bertanya, "Ada apa denganmu?"

Luhan menatap Sehun yang terlihat berputar, "Ternyata obat itu sama sekali tidak berguna." Luhan membukakan pagar untuk Sehun dan menyuruhnya masuk.

Sehun melepas sepatunya dan menaruh helmnya di atas lemari kecil samping rak sepatu. Ia mengikuti Luhan yang kini duduk didepan tv sembari memegang kepalanya.

Sehun berjalan ke arah Luhan, menyadari itu Luhan mengangkat kepalanya.

"Duduklah, kau mau minum apa?" suara Luhan sedikit parau, Sehun tidak mengikuti intruksi Luhan untuk duduk.

Ia masih menatap Luhan dari atas hingga bawah. Rambut coklat yang acak-acakan, wajahnya pucat, sepasang piyama tidur berwarna biru langit yang agak—sangat—longgar, dan Luhan terlihat sangat mengenaskan di mata Sehun.

"Kau sakit?" Luhan mendengus kesal mendengar ucapan Sehun.

"Apa susahnya sih menjawab pertanyaanku?" Luhan bangkit dari sana berniat meninggalkan Sehun yang entah kenapa kini menyebalkan, mungkin efek dari sakit kepalanya. Sehun menarik tangan Luhan yang hendak pergi, Luhan kaget, ia menatap tangannya yang kini digenggam erat Sehun.

Matanya berpindah pada Sehun yang tengah menatapnya. Sehun melirik botol kecil berisi pil putih dan segelas air di atas meja dan kembali menatap Luhan.

Dan saat itu pula Sehun melepaskan pegangannya pada tangan Luhan. "Istirahatlah, aku akan pulang." Seakan mengerti apa yang terjadi pada Luhan, Sehun menyempatkan diri untuk tersenyum, berjalan ke depan dan duduk memakai kembali sepatunya.

"Sehun…" yang dipanggil menengok ke belakang dan mendapati Luhan tengah berdiri di sana menatapnya dengan mata penuh air.

Luhan menangis?

"Ada apa denganmu?" Sehun berdiri menghadap Luhan dan menatapnya. Luhan membuang muka.

"Jangan pergi…" ucap Luhan lirih.

"Ta-tapi…" Sehun tidak mau mendengar tangis Luhan lebih kencang ia pun menyergah ucapannya seakan-akan Luhan tidak menerima penolakan.

"Ne, aku tidak akan pergi. Kembalilah tidur, aku akan menemanimu." Tangan Sehun gatal untuk menghapus air mata yang mengalir dipipi Luhan. Kejadian seperti ini sering terjadi di drama-drama dan Sehun tahu ia harus berbuat apa.

Sekarang Sehun berterima kasih pada Kai yang telah menjejalinya drama-drama romantis yang menurut Sehun konyol.

Ia sebenarnya tidak harus mempraktekkan adegan saat dimana sang yeoja sakit dan sang namja merawatnya dengan sepenuh hati—pada Luhan. Hanya saja nalurinya berkata bahwa ia harus melakukan itu. Toh siapa lagi yang akan merawat Luhan sedangkan disini hanya ada dirinya?

"Kau sudah makan?" Sehun menyibak poni Luhan dan memegang keningnya, memastikan suhu tubuhnya.

Badannya panas

Luhan menggeleng, merapihkan kembali poninya. "Aku bahkan belum mandi." Ia mencium piyama yang ia kenakan lalu kembali menatap Sehun.

"Belum makan tapi kau sudah minum obat? Apa yang akan terjadi pada tubuhmu nanti?"

"Pantas obatnya tidak bekerja." Sehun hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Isi dulu perutmu. Dimana dapurmu?"

"Di arah sana." Tangan kanan Luhan menunjukkan arah dapur. Baru saja Sehun akan melangkah, Luhan mencegahnya.

"Di kulkas tidak ada makanan." Sehun menatapnya. Alisnya berkerut.

"Kau tinggal sendirian?" Luhan menggeleng. "Ani, aku tinggal bersama jiejieku."

"Lalu dimana jiejiemu?"

Luhan tidak menjawab, ia berjalan ke arah dapur meninggalkan Sehun. Lalu ia kembali dan menyerahkan sticky note dari jiejienya pada Sehun lengkap dengan plastik berisi uang dan secarik kertas di dalamnya yang direkatkan pada sticky note itu.

"Jiejieku hanya meninggalkan ini."

Setelah membaca itu Sehun berjalan untuk memakai sepatunya. Luhan panik dan hampir menangis. Tanpa pikir panjang ia menerjang Sehun dengan pelukan jangan-perginya, tak lupa dengan air mata yang kini mungkin sudah menempel pada jaket Sehun.

"Kumohon jangan tinggalkan aku sendiri. A-aku…"

"Ssst uljima." Sehun melepaskan pelukan Luhan, ia membalikan tubuhnya menghadap Luhan. Seperti déjà vu, Sehun menghapus air mata Luhan.

"Aku akan ke minimarket dan membeli makanan untuk makan malam. Kau mandilah, dengan air hangat." Melihat itu mata Luhan kembali berair. Luhan tidak mau Sehun menganggapnya cengeng atau sejenisnya oleh karena itu Luhan memeluk Sehun dan menenggelamkan wajahnya di dada Sehun.

Sehun terkesiap. Matanya membulat, dan jika kita perbesar wajah Sehun ada rona pink mewarnai pipi hingga telinganya.

"Su-sudahlah, a-aku hanya pergi sebentar." Sehun melepaskan pelukan Luhan. Bukannya tidak mau tapi—ah Sehun banyak alasan dan terlalu banyak berpikir.

Saat Sehun pergi, Luhan segera menuruti perkataan Sehun, mandi.

Setelahnya Luhan memutuskan untuk berbaring di ranjangnya. Tapi jika ia berada di sini Sehun tidak akan tahu dimana dia. Akhirnya Luhan kembali duduk di sofa depan tv, kali ini ia menyalakan tv nya.

Luhan tidak mengerti bagaimana bisa ia memeluk Sehun dua kali dan berkata padanya jangan pergi. Demi eyeliner Baekhyun, DUA KALI! Ia bahkan menangis seperti anak usia enam tahun dan itu menurunkan harga dirinya.

Luhan mengusap wajahnya kasar.

Dia sih memang ingin seperti itu tapi bagaimana dengan Sehun? Dia pasti akan berpikir macam-macam tentangnya kemudian membencinya dan tidak mau bertemu dengannya lagi. Astaga! Hal yang sangat konyol sekali jika itu benar terjadi.

Tapi ini seperti mimpi saja, tidak seperti pikiran buruknya tentang Sehun tadi, Sehun bahkan tidak menolak dan berjanji akan menemaninya. Itu bagus berhubung Luhan takut berada di rumah sendirian. Apa ia terlalu memaksa Sehun untuk tinggal?

Sehun masuk dengan plastik sedang di tangan kanannya dan plastik kecil di tangan kirinya. Sehun hendak menaruhnya di dapur tapi ia melihat tv menyala dan Luhan sedang memejamkan matanya di sofa.

Sehun memperhatikannya lekat. Luhan kini memakai kaos abu-abu polos dan celana pendek di atas lutut. Astaga tahukah Luhan ini sudah hampir memasuki musim gugur dan cuaca mulai mendingin? Apa dia tidak merasa kedinginan sama sekali?

Sehun menaruh dua plastik itu di lantai sebelah sofa dimana Luhan berada.

"Lu, bangunlah. Makan dulu lalu minum obat. Atau kau mau ke dokter?" Sehun menepuk pelan pipi Luhan.

Ia merasakan ada kejanggalan. "Suhunya tinggi sekali." Sehun kembali memastikan suhu tubuh Luhan dengan memegang keningnya dan tidak diragukan lagi, Luhan demam.

Luhan membuka matanya. "Ung? Sehun sudah pulang?" Luhan beranjak duduk.

Sehun panik. Bagaimana tidak, selama ini ia yang selalu dimanjakan ketika sakit tapi kini ia harus memanjakan anak orang lain yang sedang sakit.

Sehun berjongkok membelakangi Luhan. "Naiklah, aku tahu kau tidak sanggup berjalan." Luhan mengerti dan langsung naik ke punggung Sehun seperti anak koala.

"Pegang yang erat." Sehun pun berdiri dan mengambil dua plastik belanjaannya lalu menuju dapur.

Ia menurunkan Luhan di salah satu kursi makan di tengah ruangan itu. Sehun mengeluarkan belanjaannya dan memasukan sebagian ke dalam kulkas dan sebagian di meja makan.

"Sehun, aku ngantuk."Luhan melipat tangannya pada meja kaca dan menaruh kepalanya di sana.

Sepertinya ia tidur.

Sehun berhenti dari kegiatannya, ia melepas jaketnya lalu menaruhnya pada bahu Luhan. Ia pun kembali menyusun barang belanjaan ke dalam kulkas.

Setelah selesai, Sehun kembali ke meja makan, membuka plastik dan mengeluarkan apel dari kemasan stereo-foam. Ia mengambil parutan keju di rak sebelah kulkas dengan mangkuk juga sendok.

Memarut apel itu dengan hati-hati. Menambahkan madu juga sesendok krim vanilla di beralih ke plastik berisi dua bungkus nasi dan dua bungkus sup kuah daging sapi favoritnya ketika sakit. Ia tidak tahu harus membeli apa, jadi ia membeli itu.

Sehun menuang sup kuah daging sapi. Selesai dengan itu ia menuang air putih digelas, untuknya dan untuk Luhan. Kemudian membuang sampahnya.

"Lu, bangunlah. Makan dulu setelah itu minum obat."

Sehun selalu berpikir bahwa orang yang sedang sakit itu manja, tidak mau makan ini lah makan itu lah, malas kesini lah kesitu lah, dan segalanya hanya ingin serba praktis, ambilkan ini ambilkan itu.

Kenapa? Karena Sehun selalu seperti itu—pada ibunya.

Ia padahal sudah bersiap untuk memanjakan orang sakit—Luhan, tapi sepertinya Luhan cukup pengertian. Ia hanya mengangguk dan menuruti semua perintah Sehun, seperti; Makan ini! atau; Minum yang banyak!

Bahkan saat makan, Luhan tidak mengeluh tidak enak atau sebagainya, dan ini membuat Sehun berpikir Luhan tidak normal—oh ayolah! Luhan tidak ingin merepotkan orang.

"Cobalah ini." Sehun menyodorkan mangkuk berisi parutan apel dengan madu dan krim vanilla di atasnya. Lalu ia memberikan sendok pada Luhan.

Luhan menatap Sehun, seakan mengerti Sehun menjelaskan bahwa ia sering memakan itu saat sakit dan rasa lembut krim vanilla dipadukan dengan segarnya apel membuatmu istirahat tenang—menurutnya.

Dan lagi-lagi Luhan hanya menuruti perkataan Sehun tanpa komentar atau keluhan sedikit pun.

"Bagaimana rasanya?" Sehun bertanya pada Luhan beberapa detik setelah suapan pertama masuk ke mulutnya.

"Mashita—enak."

"Lu, kumohon, berhentilah memaksakan dirimu." Sebenarnya Sehun bohong dengan perkataannya yang jika kau memakan itu kau akan merasa lebih tenang.

Menurut Sehun, makanan seenak apapun jika sedang sakit itu rasanya berbanding terbalik—yang berarti sangat tidak enak dimakan—dan ya kenyataannya Sehun memang hanya ingin—ung apa ya? Istilahnya menguji Luhan, sampai mana ia akan memaksakan dirinya untuk bertindak demikian.

"Berhenti apa? Aku tidak mengerti."

Sehun menghela nafas sebentar, "Yasudah, minum obatmu." Sehun memberikan dua butir obat yang berbeda, amoxicillin dan vitamin.

Setelah minum obat, Sehun mengantar Luhan hingga kamarnya.

"Duduklah dulu, aku akan mengambil plester demam—ASTAGA LU, HIDUNGMU BERDARAH!" Kali ini Sehun benar-benar panik, "Aduh, bagaimana ini?"

Luhan mengusap darah yang keluar dari hidungnya dengan jari. "Tak apa, aku hanya perlu berbaring. Tidak perlu khawatir." Ia tersenyum sekilas lalu menengadahkan kepalanya.

Lutut Sehun lemas dan jatuh terduduk di lantai lalu menidurkan kepalanya pada ranjang Luhan.

"Kau—membuatku khawatir. Ini pertama kalinya aku panik." Tangan Sehun menggapai tangan Luhan dan menggenggamnya erat. Menyalurkan rasa khawatirnya.

Luhan hanya tersenyum dan membalas perlakuan Sehun padanya. Tanpa sepengetahuan Luhan, Sehun menangis.

Entahlah, rasanya menyedihkan melihat orang sakit. Bukan mengeluh karena lelah merawat, hanya saja ia tidak sanggup melihat orang sakit, apalagi Luhan yang tubuhnya lebih kecil dari Sehun dan terlihat lemah.

Sehun tidak tahu bahwa Luhan kuat, kini ia yang merasa lemah. Astaga kejadian seperti ini saja membuatnya bertingkah berlebihan. Ya! Kuatkan dirimu Oh Sehun!

Sehun mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Melepaskan tautan tangan mereka. Sehun menatap Luhan.

Tiba-tiba Luhan menarik tangan kanan Sehun dan menempelkannya pada pipinya.

"Tanganmu sejuk." Matanya terpejam merasakan dinginnya telapak tangan Sehun pada pipi Luhan. Tak ada perlawanan dari Sehun.

Kulit mulus Luhan menyapa telapak tangan Sehun.

Baik Luhan atau Sehun kini sudah tenang, darah sudah tidak mengalir dari hidung Luhan dan Sehun sudah tidak panik.

Sehun mendiamkan Luhan yang tengah menggerakkan tangannya keatas kebawah mengelus pipinya.

Biarkan seperti ini sejenak.

"Aku akan mengambil plester demam." Sehun menarik tangannya. Ia lalu keluar kamar dan beberapa menit kemudian ia kembali.

Sehun membuka bungkus plester demam. Ia menempelkannya pada dahi Luhan. Merekatkannya dengan hati-hati dan kembali menatap Luhan.

Ternyata Luhan sudah tidur.

Tangan kanan Sehun bergerak menyentuh kembali pipi Luhan. Dielusnya perlahan.

"Sehun…"

Awalnya Sehun mengira Luhan terbangun tapi ternyata ia hanya mengigau dan—HEI! Luhan menyebut nama Sehun.

Sehun hendak menarik tangannya pada pipi Luhan tapi yang terjadi ia malah mendekatkan wajahnya pada Luhan. Sehun sendiri tidak mengerti. Lagi-lagi nalurinya yang bekerja.

Persetan dengan drama Jongin, ini memang murni kesadaran Sehun, kehendak Sehun untuk menyalurkan perasaannya lewat bibir yang bersinggungan.

Sehun sadar sepenuhnya saat penyatuan bibir itu. Nafas Luhan menyapu wajahnya, hangat. Berbagi suhu yang berbeda dari masing-masing tubuh.

Tak ada nafsu, tindakan polos bak bayi yang baru lahir dengan naluri menguasai Sehun, hanya kecupan sederhana pada bibir Luhan.

Setidaknya Luhan tidak tahu apa yang terjadi—itu menurut Sehun.

"Jaljayo, deer."

TBC

a/n

sungguh aku terharu banget dapet bnyak review, terimakasih buat para reviewers, baik yang pake akun ataupun para guest :""")

aku selalu nyempetin buat bales kok, buat yang pake akun aja sih ._.

setelah baca review rasanya nambah semangat ngelanjutin ff yang menurutku sih gak bagus-bagus amat.

ini aku sampai begadang, tiap malem ngecek review. senengnya nambah tiap waktu. terimakasih^^

umm… maaf ya buat Disturbia chapter 3 aku masih belum bisa ngelanjutin, ide udah ada tinggal diketik, berhubung aku lagi galauin kris dari tiga hari yang lalu, rasanya mood ngetik nguap gitu aja :( soalnya mau gimana pun kris dia tetep bias pertamaku di exo.

Masalahnya orang-orang galauinnya berasa kris-in-memoriam, aku gak suka, gak ngerti mungkin mereka benaran sedih atau gimana ya tetep aja aku gak suka. Kris cuma pergi sebentar kok :") dia gak kemana mana.

Positive thinking aja. Aku percaya dia gakan ninggalin exo dan milih karir solo, aku percaya kok kris gak kaya gitu, kalian juga percaya kan? Kita gak boleh percaya sama rumor yang gak baik tentang kris ataupun exo. Semalem rumor jelek itu banyak banget beredar, terutama di twitter.

Rumornya gak masuk akal, yang lebih gak masuk akal pas aku baca tentang rumor sehun yg bilang kalo dia pemakai narkoba. Sakit hati banget.

"Make by haters, Spread by fools, and Believe by Idiots." Hati-hati ya saat kaya gini haters nyari kesempatan buat ngejatuhin exo+fansnya. Kita sebagai exofans hrs melindungi mereka, dan kris tetep member exo :")

#StayStrongKris stay strong exofans :")

Last… Review?