Disclaimer: Pokemon dan segala tetek-bengeknya bukan milik penulis.

Warning: Gak beres, gak jelas, memanfaatkan kisruh N7W, de el el.

Skenario 2 – New8Wonders

..::))/ \((::..

Suatu hari, di hutan belantara di negeri antah berantah...

Entah apa yang membuat Wibisana, tanpa seizin Farah, diam-diam kabur ke hutan tempat di mana suatu 'keluarga' pokemon edan bermukim. Untung saja Farah mengetahui tabiat dasarnya, jadi di rumahnya ia telah membuat sebuah 'pintu masuk' yang bisa dimasuki sesuatu sebesar, kurang lebih, anjing (kalau Anda sering melihat film asing, Anda akan tahu maksud saya saat ada 'pintu' kecil, yang biasanya engselnya di atas, di daun pintu, dimasuki anjing), sehingga Wibisana bisa keluar pada malam hari meski rumah dikunci. Untungnya, Wibisana tergolong kecil untuk ukuran seekor Umbreon, jadi ia tidak perlu membuat lubang yang terlalu besar. Ia sebenarnya hendak mengunjungi Prahasta, tapi karena ia akan mengunjungi lubang yang dihuni tujuh pokemon edan, ada saja insiden yang terjadi di sarang itu. Seperti apa? Mari kita lihat di te-ka-pe...

...:)/ \(:...

Karena Wibisana datang pada malam hari, ia mengira bahwa semuanya sedang tidur. Ternyata, masih ada saja yang bangun. Baru-baru ini, mereka hampir kecurian oleh sebuah gerombolan penjarah hutan kalau saja hari itu tidak ada yang bangun. Mereka bukan dari gerombolan yang dulu dipimpin Edi, jadi mereka terus menyerang sebelum pemimpin mereka, yang berada di belakang, tiba-tiba beku. Rupanya, Susanti menyelinap dalam kerusuhan dan menembak pemimpin mereka yang ternyata tidak terlindungi karena bodyguard-nya ikut menyerang semua. Mereka baru berhenti saat mereka melihat pemimpin mereka nampak terkejut dan membeku.

Setelah serangan itu, Edi sempat mengelu-elukan Susanti sebelum ia meminta untuk menghentikannya dan mengusulkan untuk membuat jadwal jaga malam. Malam itu, yang mendapat giliran jaga adalah Prahasta, Amir, dan Susanti.

"Malam," sahut Wibisana dengan kikuk. Maklum, tidak biasanya ia mendapati ada aktivitas di sarang itu pada malam hari.

"Waah, kamu, nih. Ada apa nih, kok malam-malam?" tanya Prahasta.

"Ah, enggak, cari angin aja," kata Wibisana sekenanya.

"Cari angin kok ke sini? Bukannya ada tempat lain yang lebih enak dilihat daripada 'keluarga' edan ini?" tanya Prahasta bercanda.

"Ah, nggak. Mau menjenguk kamu, kok," akhirnya Wibisana mengaku. "Kok kayaknya rame, habis ada apa nih?" lanjutnya.

"Ah, nggak, habis ngobrol ngalor-ngidul gak keruan ke mana larinya," balas Amir.

"He-em. Hitung-hitung buat menangkal ngantuk," tambah Susanti.

"Emangnya habis ngomongin apa aja?"

"Ah, kapan hari di pos jaga pernah ada buaya lepas, gitu, lho. Kamu nggak ingat?" kata Prahasta.

"Buaya? Yang benar saja! Itu bukan buaya," katanya.

"Lalu?" tanya ketiga makhluk yang lain.

"Itu komodo piaraan teman pacar Farah, Has!" seru Wibisana.

"Hah? Komodo peliharaan? Nggak salah dengar nih?" balas ketiganya.

"Memang apa menariknya komodo peliharaan?" tanya Wibisana kebingungan.

Edi, yang tadi keluar untuk *maaf* buang hajat sesaat sebelum Wibisana datang, mendengar percakapan mereka dan langsung menyolot, "Lho, kamu ini pokemon nomor berapa, sih? Masa nggak tahu kalau komodo itu binatang dilindungi, nggak boleh dipelihra?"

Sementara Prahasta memberi isyarat kepada Amir untuk menahan Edi, Wibisana menjawab, "Wah, nggak tahu, nih."

"Lha ini nih, dengar-dengar pelatihmu itu penjaga hutan, tapi kenapa kamu nggak tahu? Masa dia juga nggak tahu?" lanjut Edi, marah.

"Heh, Di, malam-malam, nih, jangan keras-keras, nanti tiba-tiba ada yang beku nggak tahu, lho," seru Amir.

"Ha? Yang beku siapa?" tanya Edi, yang masih nggak connect dengan dunia sekitarnya.

"Mir, Di, udah, udah! Kalian ini malah bertengkar di depan tamu, bisa-bisa ada dua yang beku, nih, nggak cuma satu!" seru Prahasta.

"Yaah, daripada kamu nonton mereka bertiga bertengkar, mending kita ngomongin sesuatu, yuk," Susanti mengajak Wibisana mengobrol – dengan nada yang 'menggoda' – untuk memancing Amir. Sesuai perhitungannya, tipuan ini berhasil.

"Wah, wah, wah, wah, mau ngomongin apa, nih?" di antara mereka bertiga, tinggal Edi yang masih belum nyambung juga sebelum akhirnya ia memutuskan untuk ikut nimbrung.

"Katanya, komodo mau diajukan buat jadi keajaiban dunia, ya?" kata satu-satunya betina yang terjaga di situ memulai pembicaraan.

"Iya, sih. Tapi, katanya lembaga pengurusnya enggak bonafit," tambah Prahasta.

"Emang apa namanya?" tanya Edi.

"Kalau nggak salah... New8Wonders Foundation, namanya, apa itu aku lupa," kata Prahasta.

"Nyu Eit Wondes Fondesyen? Apa itu?" tanya Edi.

"Entahlah, kemarin kami omongin bertiga nggak ketemu titik terang juga itu organisasi apa," kata Prahasta.

"Kata temen Farah, sih, alamatnya gaje-gaje gimana, gitu, kode posnya meleset pula. Katanya sih, kantornya memakai museum yang hanya buka saat musim panas, udah gitu bukanya sebentar banget pula. Kesannya mencurigakan, kok organisasi kelas dunia nggak dikenal masyarakat sekitar," timpal Wibisana.

"Yap, katanya 'organisasi dunia' ini tidak dikenal di negara asalnya," tambah Susanti.

"Hah? Serius lu, Sus?" Amir pun terbelalak dibuatnya.

"Serius. Media di negeri asal di mana New8Wonders ini katanya didirikan tidak tahu Yayasan New8Wonders itu seperti apa. Penduduk di sana juga nggak tahu," tambahnya.

"Wah, yang beginian memang berbahaya, nih," kata Amir bersamaan. Tanpa mereka duga, Edi justru menyahut, "Sus?"

Susanti, tak tahu apa maksudnya, baru sempat menoleh saat tiba-tiba Edi berkata, "Sus apa nih? Sus basah?"

Setelah sekian lama keempatnya sweatdropdan suara jangkrik berdendang setinggi delapan oktaf *hah?*, Susanti lalu menyahut, "Bukan, Di, sus kering! Kamu habis ngapain aja, kok udah lapar?"

"Tadi siang nggak sempat makan, ketiduran," balas Edi.

"Oooh, habis jaga malam sama Tarno semalam, ya?" kata Prahasta.

"Eh, kita tadi sampai di mana?" sahut Wibisana, yang sadar kalau pembicaraan sudah merambah ke topik yang nggak jelas.

"Eh, Mir, tadi katamu yang beginian berbahaya, apa bahayanya?" kata Edi.

"Begini, lho, aku dengar dari temennya Bang Has, organisasi itu memanfaatkan rasa nasionalisme," katanya.

Edi, yang merasa obrolan mereka berempat sudah di luar daya nalarnya, langsung pergi, tapi kepergiannya diketahui oleh Prahasta. "Di, mau ke mana?"

"Mau jagain Tarno, entar dia macem-macem sama Usman, lagi," jawabnya.

"Dasar, ada-ada saja," gumam Prahasta.

"Wib, maafin si Edi ya, dia bawaannya emang kasar," kata Amir.

"Udah, aku tahu dari Has, kok," jawab Wibisana.

"Oh, iya, aku pernah dengar, daripada keajaiban alam seperti itu, ada yang lebih pantas dinominasikan, kok," kata Amir.

Ketiganya secara spontan langsung bertanya, "Apa?"

"Harmoni," jawabnya.

"Harmoni... oooh, yang di Jakarta itu, ya?" jawab Wibisana.

"Bukan, bukan halte busway, Wib! Itu, lho, album terbaru presiden di... di mana,ya, aku lupa, nih," katanya.

"Suara presiden masuk dapur rekaman? Apa istimewanya?" katanya keheranan.

"Kalau baru sekali sih nggak masalah, lha ini sudah rilis empat album pada tahun ke... kalau nggak salah, sekarang masuk tahun kedelapan," kata Amir.

"Hah? Tujuh tahun sudah empat album?" kali ini giliran Susanti yang kaget.

"He-em. Gimana, dengan banyaknya kegiatan beliau sebagai kepala negara, kok masih sempat-sempatnya bikin album sampai empat buah," kata Amir.

"Terus, nurut kamu, masalah komodo ini sebaiknya gimana?" tanya Susanti.

"Nurut aku, sih, kalau benar-benar mau populer, enggak perlu repot-repot pakai bantuan New8Wonders. Lagian, siapa yang ngasih mereka mandat untuk menetapkan yang mana yang keajaiban alam, yang mana yang bukan?" jawab Amir.

"Lha iya, tho, Mir, wong mengemban dirinya sendiri saja sudah kewalahan, kok mengaku mengemban amanat organisasi internasional, itu, lho, pakai mencatut-catut organisasi internasional terkemuka," kata Prahasta.

"He? N8W aslinya perusahaan bangkrut?" sekarang ketiganya dibuat kaget.

"Yep. Makanya, daripada repot-repot vote Komodo, toh sekarang sudah habis masa berlakunya, mending kita tidur aja,"kata Prahasta.

"Eh, bos, bos, bos, bos, malam ini yang giliran jaga kita, bos!" seru Amir dan Susanti bersamaan. Tapi apa boleh dikata, Prahasta tidur di tempat itu, di saat itu juga. Wibisana kemudian berpamitan pulang.

A/N: Inilah skenario kedua dari kumpulan one-shot koplak ini. Semoga terhibur!

Dari dua skenario yang sudah penulis rilis, adakah yang membuat kumpulan one-shot ini layak dianugerahi *plak* rating M?