Gomenasaiiii minna-san...saya telat update(lagi)
Minna-san, boku ga hontou ni arigatou gozaimashita! Saya benar-benar berterima kasih untuk anda yang telah me-review dan memberi saran kepada saya! Review kalian sangat berharga...
.
Special Thank's to:
Nada-chan 'U'Laurant, Cyta-san, Katak Lompat, deviLune Michaelis, Zwart-Tumsa Matar.564, CiellaLovers, Red hair, Dolphin, HARUZE, itsuka, hana-1emptyflower, ELLE HANA, AkamakiKyuu, hime, Sora Yoshimikaze, Hendry Nofry, Guest
and You!
.
Oke...balasan review ada di bawah...jadi kita langsung mulai saja
.
.
Sebastian sadar ia terlalu lama memandangi foto itu. Ia ingin mengetahui nama dari anak di foto yang telah menyita perhatiannya tersebut. Matanya beranjak ke papan nama yang di letakkan di bawah foto anak itu. Dan ia pun mulai membacanya dengan agak sulit.
"Ci….Ci…" Gumamnya sambil berusaha memfokuskan matanya ke papan nama tersebut. Agar bisa melihat lebih jelas deretan nama yang kecil dari tempat Sebastian duduk. Ingat? Tempat duduknya terlampau cukup jauh dengan letak foto itu.
"Ci…Ci…siapa?."
Sebastian berpikir, ia tampak seperti anak Taman Kanak-Kanak yang masih tidak fasih membaca.
Ia pun mulai mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat lebih jelas lagi.
.
.
.
.
.
KIMI TO BOKU! YOU AND ME!
Chapter 3
.
Kuroshitsuji © Yana Toboso's
.
SebastianXCiel
.
Rate : T
.
.
.
.
"Ci—"
"SEBS!"
Sebastian terserentak kaget. Rupanya Claude memanggilnya dengan keras. Saat ini, dilihatnya Claude dan Alois yang melihat padanya dengan pandangan heran. Sebastian jengkel karena temannya ini memanggilnya dengan keras. Dengan tiba-tiba pula.
"Apa sih? Aku kaget!" Protes Sebastian tak terima
"Apa? Tentu saja mengajakmu pergi dari sini! Upacara sudah selesai..." Bela Claude sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Kau itu dari tadi tidak menjawab kami tau!" Sahut Alois sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada
Sebastian mengedarkan pandangannya ke penjuru aula. Dilihatnya para mahasiswa berkerumun di pintu untuk keluar dari ruangan ini
"Sejak kapan selesai?" Tanya Sebastian polos
"Hh…kau ini dari tadi melamun! Sudahlah ayo!" Ajak Claude mulai tak tahan menghadapi sahabat karibnya ini. Ia mulai melangkah menuju kerumunan dengan langkah lebar
"Tunggu dulu aku mau—"
"Ayo Sebs! Makanya jangan melamun terus." Claude memotong ucapan Sebastian
"Kalau melamun terus, bisa kerasukan lho Sebs. Kau itu dari tadi tak menanggapi kami tahu!" Alois menambahi ucapan sambil menyusul Claude. Bocah pirang ini membatin, apa yang membuat Sebastian menjadi lemot begini?. Sementara Sebastian...
"Dari tadi? Kapan?" Batinnya bingung mengingat-ingat. Entahlah... kalau ucapan Alois barusan itu benar. Sekarang ia menjadi merasa tak enak kepada dua teman karibnya itu. Untuk itupun si raven ini juga menyusul Claude dan Alois yang sudah meninggalkannya
"Iya…Iya maafkan aku." Ucap Sebastian sambil berusaha melangkah lebar agar tak tertinggal. Dan ia...
Melupakan usahanya tentang nama orang di foto itu…
#
Hari ini Ciel senang, karena 'manusia-manusia' di kost-nya sedang menjalani kuliah pada hari pertama semester baru. Maka dari itu, ia merasa bebas! Ia tak perlu lagi menutupi mulutnya ketika tiba-tiba sedang batuk, mengendap-endap untuk mengisi air minum persediaannya di kamar (kalau ada orang kostnya yang sedang berada di lantai bawah ia menahan haus), mengendap-endap keluar kamar untuk buang air kecil (tapi kalau ada orang kostnya yang sedang berada di lantai bawah ia menahannya, meskipun ia tahu itu tidak baik untuk kesehatan), mandi pagi dan sore sepelan dan secepat mungkin dan masih banyak lagi. Sekarang, ia tak perlu itu lagi.
Ia merasa senang jika penghuni kostnya itu mulai masuk kuliah. Tapi terkadang sulit juga mengingat biasanya 'manusia-manusia' itu berbeda jam kuliah. Misalnya seperti Ronald yang masuk kuliah pagi sementara yang lainnya masuk kuliah siang. Ia selalu saja repot jika hal itu terjadi! Karena tentu saja masih ada orang yang di rumah ini selain dirinya. Ia menebak pasti mereka kembali sekitar siang nanti. Mengingat ini hari pertama kuliah semester baru. Untuk itu, saat ini ia sedang melihat baju-bajunya tergulung-gulung di dalam mesin cuci dengan santai dan tak takut cemas sedikitpun pun
"Hh..." Ia menghela napas, tiba-tiba saja ia ingat kejadian sekitar empat bulan lalu yang hampir membuat identitasnya terbongkar. Tapi untung saja hampir... Ia berharap hal itu tak terulang lagi untuk kedua kalinya. Menurutnya, hari itu adalah hari yang paling sial untuknya.
Mengapa ia tak ingin terulang kembali?
...
Suatu hari saat sedang mencuci pakaiannya di kamar mandi dengan damai...Tunggu—mengapa damai? Sebab penghuni-penghuni kost yang lain sudah berangkat kuliah tujuh menit yang lalu. Dan tiba-tiba suara dobrakan pintu depan membuatnya kaget setengah mati!
"Aduh...makalahku di mana ya?" Ucap seseorang yang Ciel duga adalah Ronald. Ternyata dia yang mendobrak pintu? Oh...ia kira Bibinya. Ia pun melanjutkan acara melihat pakaiannya di mesin cuci kembali dengan tenang.
.
.
.
"HAH? RONALD!" Pekiknya telat
Ia buru-buru berlari keluar dari kamar mandi dan mencari tempat persembunyian dengan panik. Ia mempunyai firasat kalau di kamar mandi tidak aman untuk bersembunyi. Persetan dengan mesin cuci yang masih menyala! Dan seketika itu ia mendapat ide tempat persembunyian. Ia pun buru-buru masuk tempat itu sepelan mungkin agar Ronald tak tahu persembunyiannya. Dalam hati ia mengumpat kesal! Ia sama sekali tak menduga hal ini terjadi! Dengan dianugrahi pendengaran tajam, didengarnya suara langkah Ronald di ruang tamu
"Duh...di kamar tidak ada... dimana aku menaruhnya ya?" Ciel mendengarkan ucapan Ronald. Jika ia bisa, pasti sekarang ini ia akan mengutuk Ronald yang cenderung pelupa. Ciel berharap semoga-moga dia tak membuka tempat persembunyiannya. Kepalanya saat ini berpikir tentang seberapa persen identitasnya terbongkar. Dan setelah menghitung kemungkinannya, ia lebih percaya diri.
"Tenang saja, tempat ini tadi kubersihkan karena selagi tak ada makanan atau minuman sama sekali." Batinnya percaya diri. Ia kembali mendengar langkah Ronald menuju ruang makan.
"HAH! Mati aku! Jangan sampai ia membuka tempat ini!" Umpatnya tambah panik dalam hati. Yah...tempat persembunyiannya saat ini memang berada di ruang makan. Keringat dingin mulai mengucur sampai ke pelipisnya
"Ah ternyata di sini! Syukurlah..." Ucap Ronald gembira
"Ayo...Ron...cepat pergi dari sini." Harap Ciel menggumam
"Hah...aku jadi haus, di kulkas masih ada soda milikku tidak ya?" Ronald berjalan mengitari meja makan menuju lemari pendingin
"HAH!" Batin Ciel tambah panik. Padahal ia sudah menghitung persentase kemungkinan identitasnya terbongkar. Dan kemungkinannya kurang lebih hanya 5%. Sekarang ia pun pasrah. Biarlah identitasnya terbongkar oleh pemuda playboy itu. Sia-sia saja usahanya selama ini yang menutup diri dari penghuni kost. Tapi ia masih berharap—sangat—kalau Ronald tak jadi membuka kulkas...Yang menjadi tempat persembunyiannya saat ini!
"Di kulkas sudah tak ada apa-apa! Makanya aku membersihkannya! Apa dia lupa kalau di kulkas tak ada soda ataupun snack sama sekali! Dasar bodoh!" Batin Ciel kesal yang saat ini malah menyalahkan Ronald. Padahal Ronald sama sekali tak tahu apa-apa saat ini. Tiba-tiba saja, hidung Ciel menjadi gatal
"Ha—" Gumamnya tak jelas. "Tidak jangan bersin Ciel!" Batinnya yang sudah panik, tambah panik lagi. Ia menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangannya. Rupanya ia lupa, berada di tempat dingin selalu membuatnya bersin.
Setelah berada tepat di depan kulkas, Ronald mengangkat tangan kanannya, hendak menyentuh gagang kulkas. Saat telah menggenggamnya, perlahan ia membuka pintu kulkas dengan pelan. Ciel memejamkan kedua matanya erat-erat. Sia-sia sudah usahanya yang selama ini enggan menunjukkan identitasnya kepada penghuni kost. Ternyata, pilihannya kini salah besar. Seharusnya ia bersembunyi di kamar mandi! Entah mengapa dan bagaimana, sepertinya saking paniknya ia tidak jadi untuk bersin. Dan saat pintu kulkas terbuka tak sampai seperempat, tiba-tiba Ronald menghentikan gerakannya
"Oh...iya, aku lupa semua soda telah habis...yah...terpaksa aku beli minuman di supermarket depan kampus saja." Ucapnya santai sambil menutup pintu kulkas dan mulai bersiul-siul tak jelas. Dan setelah itu ia melenggang pergi keluar rumah
Ciel?
Saat ini, entah mengapa perlahan wajahnya memerah. Emosinya telah naik sampai ubun-ubun kepala. Sampai-sampai kepalanya mengeluarkan asap [?]
Lho? Kenapa? Bukankah identitasmu tak jadi terbongkar, Ciel?
"DASAR! Kenapa tak sedari tadi kau sadar HAH! Kau membuatku panik setengah MATI, RON!" Serunya melampiaskan kemarahannya. Kedua kepalan tangannya terkepal erat. Giginya merapat dan rahangnya mengeras. Beberapa detik kemudian—setelah berhasil mengontrol emosinya—ia menghela napas lega. Sangat lega. Dan ia pun mulai membuka pintu kulkas setelah tubuhnya merasa kedinginan.
"Hh..." Dan sekali lagi ia menghela napas. Rasanya luar biasa lega. Baru kali ini ia merasa sepanik tadi. Ciel pun kembali ke kamar mandi untuk melanjutkan acaranya yang semula tertunda
...
Sejak saat itu Ciel selalu keluar kamar lima belas menit sesudah keberangkatan anak-anak kost. Dan menurutnya hal itu sangat menguntungkan! Terjadi kejadian berulang kali anak-anak kost itu kembali ke rumah dan mengambil sesuatu yang terlupakan. Untung saja Ciel mengantisipasi hal itu. Sejak saat itu sih...
Ciel pun beranjak dari tempatnya menuju kearah mesin cuci setelah mendengar bunyi otomatis dari mesin itu. Ia mulai membuka tutupnya dan mengambil pakaian-pakaiannya. Dan tugas selanjutnya adalah menjemur pakaiannya di balkon kamarnya. Setelah itupun ia mengerjakan tugas-tugasnya yang lain. Seperti mengisi ulang air persediannya di kamar, dan tentu saja mandi. Sekarang ia tak perlu lagi membersihkan ruang tamu, meja makan dan lain-lain karena ada yang telah menggantikan tugasnya itu. Dan orang itu adalah Sebastian. Ya...sebelum kedatangan Sebastian di kost ini, dialah yang membersihkan bagian-bagian isi rumah karena ulah Ronald dkk yang selalu membuat rumah menjadi rusuh. Tapi sekarang, Sebastian-lah yang menggantikannya. Tentu saja, tak ada sedikitpun niat untuk berterima kasih kepada si raven itu. Toh... Ciel yang tak meminta kan? Dia kan belum menampakkan sosoknya pada para penghuni kost. Jadi bagaimana mau meminta bantuan?
Setelah membersihkan diri, ia pun mulai merapikan diri di kamarnya. Ia berencana keluar rumah untuk membeli barang kebutuhannya yang saat ini menipis. Seperti sabun mandi, pasta gigi, dan pulsa untuk modem-nya. Ia membeli kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak memakai uang Madam Red sepeser pun. Tapi ia memakai uangnya sendiri. Ciel memang tidak bekerja setelah kuliah, ia mendapatkan uang dari hasilnya membuka tempat kost untuk putra. Sebenarnya kost itu bukan milik Bibinya, melainkan miliknya sendiri. Tetapi tentu saja ia menyuruh Bibinya mengaku ke para penghuni kost kalau kost ini milik Bibinya. Rumah kost ini dulu adalah rumahnya sendiri, tetapi semenjak kedua orang tuanya meninggal, ia menjadikan rumahnya sebagai rumah kost dengan sedikit renovasi untuk menambah jumlah kamar tidur dan kamar mandi
Tiba-tiba saja, ia teringat untuk membeli kertas hvs. Untuk apa ia membeli kertas? Tentu saja untuk ia jadikan media komunikasi dengan para penghuni kost. Kertas persediaannya kini menipis gara-gara Sebastian! Semenjak manusia itu menjadi penghuni kost-nya, Sebastian selalu mencoba berkomunikasi dengannya hampir setiap jam! Seperti membawakan makanan masakannya, mengajak bermain PS dengan yang lain, mengajak bermain kartu dan lain-lain lagi untuk membuat Ciel menampakkan sosoknya. Itu membuat bocah kelabu itu sangat terusik! Dan juga lama-kelamaan membuat persediaan kertas Ciel semakin menipis. Kali ini ia akan membeli kertas hvs itu satu pack!
Ciel keluar dari rumahnya dan mengunci pintu kamar sekaligus rumahnya. Dengan berpakaian kaus putih lengan panjang dengan rompi berwarna biru tua yang kancing teratas sengaja dibukanya, celana jeans pendek selutut berwarna hitam dan tak lupa topi yang bertengger di kepalanya, ia pun mulai melangkah keluar. Walaupun ia memakai setelan yang terbilang biasa saja, namun hal itu tetap saja membuat pemuda itu terkesan manis di mata beberapa orang yang memperhatikannya saat ini
"Hei, dia manis ya?" Ucap salah seorang berbaju merah sambil memperhatikan Ciel diseberang
"Bukannya dia itu cowok?" Sahut temannya
"Kau ini buta ya? Tidak mungkin cowok mempunyai wajah secantik dia!"
"Oh begitu ya..."
Ciel hanya melanjutkan perjalanannya dengan jengkel setelah mendengar ucapan kedua pemuda diseberangnya. Meskipun jaraknya cukup jauh, tentu saja ia mendengarnya dengan jelas!
"Dasar bodoh! Kedengaran tahu! Aku ini LAKI-LAKI!" Umpatnya dalam hati kesal sambil terus melanjutkan perjalanannya. Inilah yang tak ia suka jika pergi ke dunia luar. Manusia itu selalu menilai orang dari penampilannya. Padahal untuk mengetahui karakter seseorang itu harus menilai dari dalam, bukan dari luar! Pikirnya sebal sambil sedikit menghentakkan kakinya di jalan trotoar itu
Ia pun masuk ke dalam sebuah minimarket terdekat dari rumahnya. Hawa dingin dari pendingin ruangan menerpa tubuhnya yang mungil. Sambutan selamat datang dari petugas kasir dekat pintu ia acuhkan. Dan ia pun mulai mengambil barang-barang yang ia butuhkan tanpa mengambil keranjang belanja. Tak mau berlama-lama di luar rumahnya, ia dengan cepat mengambil sabun dan pasta gigi dengan harga terhemat dan juga kertas hvs satu pack. Setelah itu ia menuju ke kasir. Tak butuh waktu lama petugas kasir itu mentotal dan memasukkannya ke dalam kantong belanja karena ia hanya membeli sedikit barang.
"Terima kasih, Nona" Ucap petugas kasir itu tersenyum lebar sambil menyerahkan belanjaan Ciel. Dan apa reaksi Ciel? Ia dengan kasar menerima belanjaannya dan melirik sinis petugas kasir itu karena telah memanggilnya 'Nona'. Tentu saja ia marah dipanggil seperti itu. Dia ini laki-laki! Laki-laki mana yang tak marah jika ada yang memanggil 'Nona'? Kalau ada, itu pasti banci atau waria!
"Aku ini laki-laki!" Ucapnya sinis dengan penuh penekanan pada kata-katanya. Petugas kasir itu langsung meminta maaf bertubi-tubi kepadanya dengan wajah berwarna merah. Raut menyesal tercetak jelas pada wajahnya. Tentu saja tak Ciel pedulikan, ia langsung membuka pintu kaca dan segera keluar dari minimarket nista itu. Yah...boleh diralat, menurutnya yang nista adalah petugas kasir itu sih...Setelah ini, ia berjalan cepat menuju tujuannya selanjutnya. Membeli pulsa modemnya...
.
BLAM
"Hh...akhirnya pulang juga..." Ucapnya lega sambil melepas topinya dan langsung menuju kamarnya
Ciel mulai melepas rompinya dan membaringkan tubuhnya ke ranjangnya yang empuk. Matanya terarah ke langit-langit kamarnya yang berwarna hijau. Ia diam merenung lama. Ya...inilah kesukaannya. Diam merenung lama sampai akhirnya tertidur pulas. Tapi saat ini ia tak mengantuk. Rupanya air dingin yang dipakainya mandi tadi telah membuatnya melek sepenuhnya. Ia juga suka tidur. Menurutnya tidur membuat tubuhnya merasa rileks dan ringan. Melupakan semua masalah duniawi yang membuatnya kerepotan. Dan juga tak mendengar pembicaraan-pembicaraan para penghuni kost yang selalu didengarnya. Lebih tepatnya ia tak ada keinginan untuk menguping, tapi apa daya?
Kedua telinganya selalu mendengar dengan jelas pembicaraan-pembicaraan penghuni kost. Ia mengetahui nama-nama dan sifat-sifat mereka juga karena mendengar pembicaraan mereka di bawah. Seperti Ronald yang mempunyai sifat playboy, Alan yang berwajah kalem, Will yang tidak menyukai kerepotan, Grell yang banci, Alois yang otaku, Sebastian yang jago memasak dan lain-lain. Meskipun belum pernah mengobrol langsung, ia tahu itu semua dari percakapan pemuda-pemuda kost-nya. Dan kalau ia terus-terusan mendengarnya, ia akan selalu mempunyai keinginan untuk berbaur dengan mereka.
Padahal ia sama sekali tak berhak untuk itu.
Tapi sebenarnya ia pun ingin untuk mencoba berteman dengan penghuni kost. Sangat ingin malah. Mendengar mereka tertawa dari ruang tamu selalu membuatnya minder dan ingin juga kesana. Tertawa bersama-sama, menceritakan keluh kesahnya, saling mendukung temannya jika kesulitan. Ia ingin hal itu...Sangat. Mempunyai teman dan berbaur dengan orang-orang sekitar, itu adalah hal yang normal untuk anak seusianya. Dan ia sama sekali tak menyangkal kalau ia tergolong tak normal. Atau bisa sebut saja abnormal, karena menutup diri dari dunia pergaulan. Bertahun-tahun lamanya sendirian, itu bukanlah hal yang mudah. Tiada teman satu pun. Karena ia memang menjauhi manusia semenjak Ibunya meninggal dunia.
Tetapi sebelum itu, ia yang dijauhi.
Selalu saja setelah mendengar para penghuni kost bersenda gurau dari ruang tamu, keinginannya untuk berbaur dengan mereka selalu timbul. Dan bertambah kuat setelah kedatangan penghuni kost baru, Sebastian.
Setelah Sebastian datang dan mulai menghuni kost-nya, si raven itu selalu saja memaksanya untuk menampakkan sosoknya. Mengajaknya bergaul dengan penghuni lain. Anak-anak yang lain juga kelihatan antusias membantu Sebastian untuk membujuknya keluar kamar. Padahal sebelum kedatangan Sebastian, para penghuni kost yang sudah di situ lebih lama, tidak terlalu memaksa si pemuda kelabu itu keluar. Sebastian seperti manusia yang membangkitkan semangat para penghuni kost yang lain untuk menampakkan sosoknya. Itu membuatnya merasa dilema! Ia ingin berbaur, tapi ia tak berhak. Dan Ciel berpikir Apakah artinya Sebastian menerimanya? Paling juga, si raven itu menjauhi dirinya setelah mengetahui identitas 'aslinya'
.
.
Ya...itu pasti.
Setelah Sebastian dan penghuni lain mengetahui jati dirinya yang asli, mereka pasti menjauhinya...
Sama seperti ia dulu
Dan daripada dijauhi, lebih baik ia yang menjauh dahulu daripada ia nanti yang sakit hati seperti dulu
Akhirnya Ciel tersadar. Ia memikirkan hal yang tidak-tidak lagi. Ditariknya napas dengan dalam, setelah itu ia mengeluarkannya dengan panjang. Akhir-akhir ini ia lebih sering menghela napas. Dan juga lebih sering memikirkan banyak hal. Semakin hari ia semakin stress. Untung saja masa-masa sekolahnya sudah tamat. Kalau tidak pasti ia akan menjadi gila saat ini! Mungkin...
Pikiran Ciel melayang jauh ke masa-masa saat Ibunya masih hidup. Menurutnya, saat-saat itu yang paling membahagiakan untuknya. Ia jadi merindukan belaian tangan Ibunya yang lembut. Bahkan ia sekarang sama sekali tak ingat betapa lembutnya tangan sang Ibu yang selalu membelai rambut kelabunya. Ia tak ingat karena sudah lama Ibunya dipanggil sang Kuasa. Dulu Ibunya selalu menemaninya, menghiburnya yang ditinggalkan teman-teman, dan mendukungnya untuk menjadi anak yang kuat dan tegar. Tapi setelah Ibunya meninggal, ia menjadi tak ada semangat sama sekali untuk hidup. Ia sangat amat sayang kepada Ibunya. Sampai-sampai ia berkeinginan untuk menyusul Ibunya kealam sana. Tentu saja, ia tak ingin mati bunuh diri. Itu hal yang naif menurutnya. Ia akan menunggu sampai sang Maha Kuasa memanggilnya. Tapi yang membuat ia kesal adalah kenapa sampai sekarang Tuhan tak kunjung memanggilnya? Ia sangat ingin bertemu Ibunya lagi meskipun di akhirat. Ia ingin Tuhan memanggilnya dengan umur mudanya ini, agar bisa bertemu dengan Ibunya. Ia ingin segera mati! Daripada menderita di dunia penuh kekejian ini.
Bagaimanapun juga 'ras' miliknya tak diterima siapapun di dunia ini...
Dulu ia selalu merengek kapada Ibunya sebab teman-temannya menjauhinya. Dan wanita itu hanya menghiburnya dan terus mendukungnya untuk menjadi anak yang kuat. Pada saat Ibunya ajal pun, ia sama sekali tak menangis. Ciel sangat terguncang waktu itu sehingga air matanya tak mau menetes keluar. Sejak saat itu ia tak pernah bisa menangis. Padahal sewaktu Ibunya hidup, ia sering menangis karena selalu diejek dan tak ada seorang pun teman yang mau mendekatinya. Dan sejak Ibunya meninggal pula, ia mulai membenci manusia dan menjauhi mereka.
#
Sebastian berjalan pulang dari kampus dengan kedua temannya. Claude dan Alois. Mereka berjalan dengan lesu di trotoar yang agak ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang. Langkah mereka pelan. Tubuh mereka sangat capek dan tak ada niat untuk membicarakan hal apapun. Tak disangka oleh mereka bertiga sih...Setelah upacara di aula tadi, semua mahasiswa baru menjalani OSPEK dari panitia yang anggotanya adalah para senior. Memang sih...OSPEK hanya dijalankan hari ini saja, tetapi memakan waktu tujuh jam tanpa istirahat! Apalagi memakai kemeja! Para senior itu tega mengerjai juniornya sampai capek stadium akhir! Bagaimana tidak?
Pertama-tama, disuruh lari mengelilingi halaman depan kampus yang luasnya minta ampun! Itupun sebanyak tujuh kali!
Kedua lompat katak mengelilingi halaman depan sebanyak dua kali! Dan kalau tidak kuat, tidak malah dibawa ke ruang kesehatan tetapi malah dikenai hukuman meminum minuman yang dari bentuk dan warnanya mencurigakan. Yah...banyak kebanyakan sih...anak-anak perempuan yang meminum minuman itu karena mereka tak kuat. Alhasil mereka yang meminum minuman itu karena hukuman, muntah dan kejang-kejang seperti orang sekarat! Tapi tentu saja oleh para senior disuruh untuk menghabiskan minuman itu.
Ketiga berlari mengelilingi halaman depan sebanyak satu kali sambil menggendong anak lain. Tentu saja pasangannya dipilihkan oleh para senior. Claude sempat memilih Alois untuk dijadikan gendongannya. Tentu saja karena badan Alois kecil. Tetapi hal itu ditolak oleh para senior, bukan Claude yang menggendong Alois. Malah Alois yang disuruh menggendong Claude! Dan Sebastian pun dipilihkan salah satu senior untuk menggendong mahasiswa baru lain yang berat tubuhnya menjapai 80kg ke atas! Semua mahasiswa baru harus menuruti keinginan para senior yang memilihkan pasangan. Kalau mengeluh, disuruh meminum minuman yang mencurigakan itu
Terakhir, semua mahasiswa baru disuruh membaca tulisan 'Kami mahasiswa baru di Universitas Oxford yang terletak di kota Oxford, Negara Inggris, Benua Eropa' sebanyak 1000 kali. Tentu saja bersama-sama. Saat-saat ini ada mahasiswa yang tak membacanya dan hal itu diketahui oleh salah satu senior. Malang sekali mahasiswa itu diberi hukuman minum minuman mencurigakan itu sebanyak sepuluh gelas. Semua mahasiswa baru heran, mengapa para senior itu mengetahui ada yang berbuat curang? Padahal jumlah para mahasiswa baru itu lebih banyak lima kali lipat dari para senior yang mengawasi itu.
Dan setelah seluruh badan, pikiran, bahkan mulut pun capek, para senior itu memberikan penghargaan kepada para mahasiswa baru. Yaitu kalung pita yang bertuliskan 'Tahan banting'. Tentu saja Itu tak setara dengan hal yang dilakukan oleh mahasiswa baru! Tak lupa para senior nista itu meminta maaf atas semua yang dilakukannya hari ini.
Maka dari itulah, Sebastian dan kedua temannya ini sangat capek! Baik tubuh, pikiran, dan mulut! Tak ada yang membuka pembicaraan sama sekali sepulang dari kampus tadi. Mulut mereka saja sangat kram setelah mengucapkan kata-kata tadi sebanyak 1000 kali! Suara mereka juga serak setelah itu
Akhirnya setelah berjalan entah berapa lama karena pelan, mereka bertiga sampai ke rumah kost. Sebastian membuka pintu dengan gerakan perlahan. Dan setelah pintu terbuka sepenuhnya...
"SELAMAT DATANG MAHASISWA BARU!"
Ucapan sambutan dari Ronald, Alan, Eric dan Grell membuat mereka bertiga kaget. Bagaimana dengan Will? Sekarang anak berkacamata itu tersenyum mengejek kearah mereka bertiga! Ketiga mahasiswa baru itu tak menjawab sambutan oleh keempat seniornya. Mereka malah memandang lesu kearah kelima seniornya yang saat ini terlihat ceria. Kontras sekali dengan mereka bertiga! Dan itu membuat Ronald kesal karena sambutannya tak dianggap
"Hei! Jawab dong! Begini-begini kami ini seniormu tahu!" Ujarnya kesal
"Ah...Sebastian, kau tetap tampan walau wajahmu lesu~..." Tentu saja para pembaca tahu kan milik siapa suara ini...
"Kalian terlihat lesu..." Ucap Alan prihatin
"Baru begini saja sudah capek...dasar payah..." Ejek Will sambil membenarkan kacamatanya yang melorot
Ucapan dan ejekan bertubi-tubi dari para seniornya pun tak mereka jawab. Lebih tepatnya sama seperti perumpamaan, masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri
"HEIIII! Kalian seperti mayat hidup saja!" Tukas Eric yang bisa direspon oleh otak mereka
"Jangan mengajak kami bicaraaaaaa!" Jawab Sebastian, Alois dan Claude serempak dengan suara serak menyedihkan
"AHAHAHAHAHAHAHA..."
Kelima seniornya—minus Will yang tersenyum mengejek—tertawa terbahak-bahak. Sementara ketiga junior mereka memberikan deathglare kearah mereka. Tentu saja tak begitu menyeramkan karena kondisi fisik mereka saat ini sangat capek! Alan yang tersadar lebih dahulu dari tawaannya mempersilahkan ketiga juniornya yang masih didepan pintu untuk masuk. Lalu cowok manis berambut coklat itu menyodorkan soda kepada ketiganya sambil membawa mereka ke ruang tamu. Melihat ketiga temannya yang masih terbahak-bahak di depan pintu, Alan pun menegurnya
"Hei! Sudah hentikan!"Teriaknya agar mengimbangi suara ketiga temannya yang masih tertawa keras
"Ahahaha...iya iya...Apapun keinginanmu akan kuturuti, Alan..." Ucap Eric membuat Alan sweetdrop. Dan karena perut mereka mulai sakit karena tertawa, Grell dan Ronald pun menghentikan tawanya. Lalu mereka menghampiri Alan, Sebastian, Alois, dan Claude yang sudah duduk nyaman di sofa. Seketika Alan mengalihkan pandangannya ke ketiga juniornya, ia kaget melihat mereka bertiga telah menghabiskan soda mereka dengan cepat. Mungkin, mereka sangat capek sekali ya...Pikirnya geli.
"Kalian bertiga masih beruntung aku dan Eric tidak menjadi panitia, kalau jadi sih...mungkin kalian sudah melayang...Ahahahaha" Ucap Ronald geli memandangi ketiga juniornya yang lesu. Oh ya...Sebastian, Alois, dan Claude mengira, kalau diantara para senior yang mengerjai mereka tadi ada Ronald dan Eric. Tapi ternyata mereka tak menjadi panitia. Untung juga sih...Sangat malahan! Mengingat Ronald dan Eric sangat ngawur seperti itu
"Ah...jadi ingat masa-masa OSPEK kita..." Ucap Eric bernostalgia
"Saking mengerikannya, aku tak mau mengingatnya!" Ronald merinding
"Masa OSPEK kalian masih bisa dibilang lebih mudah daripada masa OSPEK kami" Ucap Alan pelan
"Uh...para senior sialan itu menyuruh kami menangkap lalat sebanyak tiga tanpa membunuhnya! Padahal menangkap satu lalat saja sulitnya minta ampun!" Sahut Grell mengumpat
"Apalagi waktu disuruh meminum telur mentah...Ugh~" Perkataan Grell membuat Alois melotot kearahnya
"Kalau minum telur mentah sih mudah!" Sahut Alois seakan-akan tak terima. Ia agak kaget. Rupanya berkat soda tadi, suaranya telah kembali seperti biasa
"Kau kan pernah tinggal di Jepang...orang-orang disana kan...terbiasa minum telur mentah!" Bela Eric membuat Alois sadar
"Emm...iya juga sih...waktu pertama kali aku meminumnya juga rasanya menjijikkan...tapi lama-kelamaan aku terbiasa" Alois nyengir lebar
"Tapi bukan itu saja sih...selain menangkap lalat dan meminum telur mentah masih banyak hal mengerikan lainnya! Pokoknya OSPEK angkatanku jauh lebih mengerikan daripada OSPEK angkatan kalian semester ini!"
"Tidak! Sulit angkatan kami!" Claude merasa tersindir oleh pernyataan Ronald
"KAMI!" Balas Ronald tak mau kalah
"KAMI!"
"KAMI!"
"KA—"
"Ehem..Sudahlah...aku akan memasak! Aku tahu kalian lapar." Sebastian memotong teriakan Claude. Ia mulai beranjak berdiri dan menuju dapur. Membuat semuanya heran
"Hei, Sebs...kau tidak capek?" Tanya Ronald mengangkat sebelah alisnya. Membuat Sebastian berhenti
"Aku lapar..." Jawab Sebastian pendek
"Kau tidak usah memasak...kali ini kita beli diluar saja..." Usul Alan
"Tidak apa-apa kok..."
"Biarkan saja dia memasak..." Ucap Will membuat semua kepala menoleh padanya
"Apa?"
"Biarkan saja dia memasak, lagipula aku tak mau boros membeli makanan diluar" Lanjut Will
Seketika itu juga semuanya yang berada di situ mempunyai pikiran yang sama. Bahkan Ciel yang berada di kamarnya juga
"Dasar pelit!"
.
"Aku akan membantu" Sahut Claude beranjak dari duduknya
"Kalian tenang saja...aku masih punya tenaga kok...ayo, Claude..." Sebastian melanjutkan perjalanannya diiringi Claude dibelakangnya
#
"Berisik!" Lirih Ciel dengan jengkel sambil melepas headset-nya. Meskipun ia mendengarkan lagu dari headset-nya, ia masih saja bisa mendengar suara tawa yang menurutnya berisik dari lantai bawah. Bahkan ia barusan juga mendengar perkataan Will yang...yah begitulah. Ayolah Ciel...kau kan memang mempunyai indra pendengaran yang tajam...Syukurilah...
"OSPEK ya? Huh...kenapa harus repot ikut hal seperti itu? Aku saja kabur sewaktu OSPEK" Pikirnya bangga [?]
Ia menatap langit-langit kamarnya dengan melamun. Akhir-akhir ini ia sering merenungkan sesuatu. Entah itu apa...
Tak lama kemudian Ciel pun menuruni kasurnya dan melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya. Dibukanya pintu kayu itu, sebuah cahaya tampak menyilaukan mata Ciel yang agak rentan terhadap cahaya. Membuatnya menyipitkan mata sapphire-nya. Yah...mengingat kamarnya yang selalu gelap. Hal pertama yang ia lihat adalah langit sore mendung yang luas. Tentu saja awan-awan menutupi cahaya matahari yang berwarna keemasan. Langit cerah di Negara ini memang hal yang jarang terjadi. Angin berhembus pelan, membuat helaian kelabunya yang lembut bergerak sesuai arah angin. Poni lurusnya tersibak, memperlihatkan eye-patch putih yang menutupi mata sebelah kanannya. Pandangan iris birunya menerawang langit pucat yang luas.
Dunia ini luas
Sangat luas...
Dan seketika itu juga, tubuhnya seperti dihantam batu yang keras.
Mengapa di dunia yang luas ini 'kami' tak diterima?
#
"Oi...makanan sudah siap..." Ujar Claude kepada teman-temannya yang berada di ruang tamu. Sontak semuanya langsung berhamburan ke ruang makan untuk...makan tentu saja. Sedari tadi Alois heran...sepertinya ia mengenal bau khas dari masakan Sebastian ini. Dan dengan rasa penasaran, ia berlari mendahului teman-temannya ke ruang makan
"Bau ini...jangan-jangan..." Ucapan Alois menggantung. Didekatinya dapur tempat Sebastian memasak. Didapatinya Sebastian mengaduk-aduk masakannya dalam panci yang besar itu. Ia berjalan perlahan dengan langkah pelan. Lalu ia melongok untuk melihat panci besar yang saat ini memuat masakan Sebastian, dan seketika itu ia histeris.
"Wah...ini kare ya?" Serunya membuat Sebastian yang sedari tadi mengaduk masakannya kaget
"Alois? Sejak kapan kau disini?" Tanya Sebastian yang melenceng dari perkataan Alois
"Ini kare Jepang kan?" Seru Alois—lagi—yang menghiraukan pertanyaan Sebastian. Kedua matanya saat ini berbinar-binar kearah masakan Sebastian
"Iya..." Jawab Sebastian singkat
"Wahh~ aku tak tahu kau bisa memasak masakan khas Jepang ini! Kau tahu? Semenjak aku berada di Inggris aku tak lagi memakan masakan Jepang. Dan di saat aku merindukan masakan khas Negeri Sakura itu, kau membuatkan kare ini! Wahh~ kelihatannya enak! Aku jadi ingin cepat-cepat mencicipinya loh!" Ucap Alois panjang lebar dengan tempo cepat. Entah bagaimana Sebastian mengerti perkataan Alois yang cepat tadi.
"Iya...iya...kau berkumpul saja di meja makan bersama yang lainnya. Aku akan menyiapkannya di pi—"
"Wah...ini nasi ya? Rasanya sudah lama aku tak memakan makanan berwarna putih ini! Semenjak di Inggris aku sama sekali tak memakan nasi..." Alois memotong perkataan Sebastian
"Iya...iya...sekarang kau berkumpul di meja makan bersama yang lainnya...Aku akan menyiapkannya di piring" Sebastian mengulangi kata-katanya yang sempat terpotong
"Ok Sebs" Alois beranjak meninggalkan dapur sambil menepuk bahu Sebastian yang tinggi itu
.
.
"Wuuooo...apa ini?" Tanya Ronald dan Eric serempak sambil memandangi piring berisi makanan di depan mereka
"Kare Jepang!" Sahut Alois gembira. Membuat semua kepala menoleh kearah Sebastian
"Sebs, kau bisa masak masakan Jepang?" Tanya Ronald
"Kau kan orang Inggris, darimana bisa membuat masakan Jepang?" Tambah Eric
"Kare Jepang warnanya merah begini ya? Kelihatannya pedas" Sahut Alan sambil memandangi masakan Sebastian
"Aku juga terkejut, ternyata kau bisa membuat masakan Jepang ya?" Claude menimpali
Will hanya diam. Sementara...
"Ah~ Sebas-chan, kau memang pria tampan nomor satu" Tambah Grell yang sangat melenceng dari topik. Membuatnya terkena deathglare dari semuanya.
"Hh...sudahlah...kalian cicipi saja dulu" Kata Sebastian yang bingung harus menjawab apa.
Semuanya pun menuruti perkataan Sebastian. Mereka menyendok nasi dan kare itu lalu menyuapkannya ke mulut mereka.
Setelah mengunyah dua kali kunyahan...
.
.
.
"WUUOOOHH...ENAK SEKALI!"Seru semuanya—minus Will dan Sebastian—serempak
"Ini pedas, tapi enak..." Komentar Alan sambil tersenyum manis
"Kau juga pintar memasak masakan luar negeri ya! Ini enak sekali! Oisha..." Sahut Ronald sambil menyendok makanannya kembali
"Yang betul Oishi Ron! Yang artinya enak..." Komentar Alois sweetdrop
"Ahahahaha...Yah...itu yang kumaksud...aku tidak bisa bahasa Jepang sih" Jawab Ronald nyengir
"Aku tahu hal itu...ngomong-ngomong, kare ini enak sekali lho Sebs! Kedai ataupun restoran di Jepang tidak pernah membuat kare seenak ini" Puji Alois sambil mengacungkan kedua jempolnya
"Hmmm...yummy...Anggg~ membayangkan Sebas-chan berada di bawah pohon sakura yang daunnya berguguran di Negara Jepang...oh~kakkoiiiiii" Ucap Grell lebay + ngawur. Membuat Sebastian ingin sekali menendang Grell saat ini. Namun karena Grell tak 'menyerangnya', diurungkannya niat itu
"Baru kali ini aku makan masakan Jepang. Dan ternyata enakkk sekali!" Ucap Eric yang terakhir
Sebastian pun lagi-lagi makan sambil mendengar pujian-pujian bertubi-tubi dari temannya itu. Tentu saja minus Will yang hanya diam sambil memakan makanannya
.
.
*.*
"Kau melakukannya lagi?" Tanya Ronald memandang Sebastian heran dari lantai bawah. Sebastian melongok ke bawah kearah Ronald, setelah itu ia menghela napas panjang
"Iya...setidaknya bantu aku Ron!" Pinta Sebastian
"Aku selalu membantumu ketika kau membawakan makanan untuk Ciel! Dan meskipun kita membujuknya untuk keluar kamar, ia tetap tidak mau! Dan juga ia selalu saja tetap menggunakan surat!" Protes Ronald panjang
"Hh..." Sebastian menghela napas pasrah. Ya...sekitar kurang lebih tiga minggu ia menginap di kost ini dan ia sama sekali belum pernah melihat ataupun mendengar suara milik Ciel. Tunggu dulu...ralat, bukan hanya dia melainkan seluruh penghuni kost ini. Bahkan kelima seniornya yang sudah tinggal disini selama satu semester belum pernah melihat Ciel sama sekali. Padahal setiap hari Sebastian dan Ronald mengantarkan makanan masakan Sebastian untuk Ciel, dan anak misterius itu belum satu kalipun menerima makanan dari Sebastian. Tujuan Sebastian dan Ronald mengantarkan makanan ke Ciel, tentu saja agar Ciel menampilkan sosoknya
Sebastian mulai mengetuk pintu kamar Ciel. Semangatnya sama sekali belum menurun meskipun selama tiga minggu ia selalu ditolak oleh Ciel. Sedangkan Ronald? Yah...ia juga semangat untuk mengetahui sosok Ciel sih...tapi tentu saja semangatnya kalah jauh dibandingkan Sebastian
"Ciel, aku membawakan makanan untukmu, bukalah pintunya"
.
.
Karena merasa tak ada jawaban dari sang empunya kamar, Sebastian mengetuknya lagi. Kali ini agak keras. Bau dari kare yang ia masak tercium oleh hidung Ronald yang entah sejak kapan berada di sampingnya. Membuat Ronald ingin memakannya juga. Karena menurutnya bagiannya tadi masih kurang. Padahal ia tambah satu piring...
Tak ada jawaban lagi
"Mungkin, dia tidur Sebs..." Lirih Ronald ditanggapi tatapan yang tak bisa diartikan oleh Sebastian
"Mungkin sa—"
Sebelum Sebastian menyelesaikan kata-katanya, sebuah surat muncul dari selipan pintu kamar Ciel. Dan yang tercepat mengambilnya adalah Ronald.
Tolong, jangan ganggu aku saat ini...makan saja bagianku...
Kedua pemuda itu terhenyak membaca surat Ciel kali ini. Sama sekali tak disangka mereka sih...kalau Ciel menuliskan kata 'tolong'. Padahal ia selalu saja menuliskan tentang makian-makian untuk manusia. Akhirnya mereka berdua menyerah untuk kali ini. Sepertinya Ciel sedang benar-benar tak ingin diganggu saat ini. Itulah yang ada di benak Sebastian dan Ronald saat ini.
Mereka pun beranjak dari depan pintu kamar Ciel dalam diam. Langkah mereka yang menuruni tangga pun juga terlihat pelan.
Seolah-olah kepedihan yang Ciel alami menular ke mereka
.
*.*
Hari ini genaplah satu bulan Sebastian, Claude dan Alois menghuni kost ini. Dan juga satu bulan juga mereka bertiga belum mengetahui sosok Ciel
Sebastian, Claude, Alois, Alan dan Ronald mendapat kuliah pagi hari ini. Sedangkan ketiga penghuni lainnya—Eric, Will, Grell—mendapat kuliah siang. Hal ini sangat disyukuri Sebastian karena Grell mendapat jatah kuliah siang. Selama ini kebanyakan ia mendapat jam kuliah yang sama dengan Grell. Makanya ia sangat mensyukuri hari ini. Sedangkan Grell, yang hari ini tak mendapat jam kuliah yang sama dengan Sebastian menangis meraung-raung sambil menggigit sapu tangan pink-nya. Kontras sekali dengan Sebastian yang tak henti-hentinya tersenyum
"Selamat jalan Sebastian, jangan lupakan aku sewaktu kau kuliah" Ucap Grell lebay di depan pagar. Sementara Sebastian pura-pura tak mendengarnya dan berbincang-bincang dengan Claude
"Ahahaha...good bye, banci" Ejek Ronald melambaikan satu tangannya sambil menyusul Sebastian, Claude, Alois dan Alan yang sudah berjalan menuju kampus
"PLAYBOY!" Pekik Grell keras. Membuat orang-orang yang berjalan berlalu lalang di sekitar situ menoleh kesal padanya. Pagi-pagi sudah ada teriakan berisik. Dari seorang banci pula. Pikir orang-orang itu
"Ah~go-gomenasai" Ucap Grell sambil lari masuk ke dalam rumah setelah mulai merasakan aura-aura hitam disekelilingnya [?]
#
Inilah yang tak Ciel suka
Para 'manusia-manusia' itu berbeda jam kuliah
Membuatnya tak bisa mandi sekarang karena masih ada penghuni lainnya
"Hh..." Ciel menghela napas pasrah. Sekarang ia berpikir, apakah sebaiknya ia membangun kamar mandi di kamarnya sendiri? Tidak, itu sangat menghabiskan uangnya. Lagi pula jumlah kamar mandi di kost ini ada tiga buah. Lebih baik, uangnya ia belikan pulsa untuk modemnya. Ciel menyisir poninya ke belakang, seketika itu juga matanya terbelalak. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu...
"Gawat! Bukankah di kampus ada fotoku!" Pekiknya dalam hati yang baru tersadar
Kenapa ia baru mengingatnya! Ia tahu kalau para penghuni kost ini, kuliah di mantan Universitasnya. Tapi ia baru mengingat di aula kampusnya terdapat fotonya yang terpajang di dinding. Uh...kenapa ia harus menjadi orang yang terlewat pintar, sampai-sampai fotonya terpajang di aula kampus. Batinnya kesal
.
Ciel...di dunia ini banyak orang-orang yang ingin jenius seperti dirimu, termasuk si Author ini. Tapi kenapa kau malah tak mensyukurinya?
"Tunggu, tapi walaupun sudah satu semester lamanya Will, Grell, Eric, Alan dan Ronald kuliah di Oxford...dan sepertinya mereka tak tahu kalau fotoku ada di aula...Hh...syukurlah" Gumamnya lega
"TAPI, apakah Sebastian, Claude dan Alois mengetahuinya! Semoga-moga saja tidak...itu akan merepotkan..." Ucapnya sedikit khawatir.
Mengapa ia masih khawatir meskipun hanya sedikit? Entah mengapa Ciel mempunyai firasat kalau Sebastian yang akan mengetahui hal tersebut.
Ya...hanya Sebastian...
#
.
.
.
*.*
"Hoaahhhmmm...hah...akhirnya selesai juga...ini adalah makalah pertama yang aku buat sejak masuk kuliah" Ucap Sebastian sambil melakukan senam-senam kecil untuk merenggangkan ototnya. Perlahan ia mengambil ponsel yang terletak di mejanya
"Ah...tak terasa sudah jam dua pagi...untung aku sudah selesai" Gumamnya lega. Yah...Sebastian memang orang yang selalu mengerjakan tugasnya terlebih dahulu sebelum tidur. Ia tak akan bisa tidur dengan nyenyak jika ada urusan duniawi yang belum diselesaikannya. Tak disangkanya, kuliah di Oxford tak terlalu disibukkan oleh pekerjaan rumah seperti membuat makalah. Awalnya ia mengira akan diberikan tugas membuat makalah tepat setelah hari kedua masuk (Hari pertama OSPEK). Tapi ternyata enam hari setelah masuk, baru diberikan tugas itu.
Menurutnya, dosen-dosen di kampus itu sangat cerdas. Tentu saja...Universitas itu kan terbaik di dunia. Para dosen yang membimbing juga harus pilihan. Selalu saja setiap masuk kelas ia diberikan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dan aneh. Seperti 'Mengapa warna putih dinamai putih?', 'Jelaskan mengapa stoberri berwarna merah?' dan yang lain-lain.
Untung ia diberkahi otak cemerlang sehingga bisa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sebastian yakin, para dosen itu memberikan pertanyaan-pertanyaan aneh seperti itu kepada para mahasiswa-mahasiswa termasuk dirinya bukan untuk mencari jawaban yang benar, melainkan untuk mengetes seberapa kemampuan mahasiswa untuk menganalisis dan menjelaskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Mungkin bagi para dosen itu , mendengarkan setiap jawaban analisis dari para mahasiswa itu adalah hal yang menarik. Entahlah...itu hanya perkiraan Sebastian saja. Entah benar atau tidak...
Sebastian membuka pintu kamarnya dan mulai berjalan ke arah ruang makan. Rupanya mengerjakan makalah tadi membuatnya sedikit lapar. Namun setelah menuruni satu anak tangga, ia teringat akan suatu hal. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke kamar Claude yang berada disebelah kamarnya.
"TOK TOK"
.
.
Sebastian mulai mengetuk pintu kamar Claude lagi
.
.
Karena tak kunjung ada jawaban dari sang empunya kamar, ia berinsiatif untuk langsung membuka pintu kamar sahabat karibnya tersebut. Sesaat setelah pintu terbuka ia tak bisa melihat apa-apa dari kamar Claude tersebut
"Hei...Claude" Panggilnya sambil meraba-raba tembok disebelah pintu untuk mencari saklar lampu. Ditemukannya benda yang dicarinya dan tanpa membuang waktu lagi, ia menekan tombolnya. Dilihatnya Claude sedang terbaring nyenyak di kasur nyamannya. Mulutnya sedikit terbuka pula. Tak lupa dengan kedua tangannya melingkari kekasih penyenyak tidurnya. Guling.
Sebastian mengguncang-guncang bahu Claude sedikit kasar. Berharap capat-cepat menyelesaikan permintaan dari Claude. Ya...Sebelum anak ini tidur, ia meminta Sebastian untuk membangunkannya sekitar jam dua pagi
"Oi...bangun! Katanya kau memintaku untuk membangunkanmu kan! Jadi bangun!" Panggil Sebastian yang masih tetap menguncang-guncang bahu Claude. Kali ini ia melakukannya dengan kasar.
Akhirnya, kedua mata berwarna emas itu perlahan terbuka. Hal yang dilihat Claude pertama kali adalah Sebastian yang berdiri di sebelah kasurnya dengan tatapan sinis
"Ada...apa sih Sebs, Aku masih ngantuk! Kau mengganggu...tidurku!" Lirihnya tapi dengan nada sedikit membentak
"Apa kau bilang! Kau menyuruhku untuk membangunkanmu untuk mengerjakan tugas makalahmu!" Protes Sebastian kesal. Ya...berbeda dengan Sebastian yang jika akan tidur harus menyelesaikan masalah duniawinya terlebih dahulu agar bisa tidur nyenyak, Tapi Claude malah harus tidur dahulu lalu baru menyelesaikan masalah duniawinya. Katanya pikirannya setelah bangun tidur itu membuatnya lebih berpikir fresh
"Oh...iya...ahaha...sorry...sorry...aku lupa...baiklah terima kasih banyak karena telah membangunkanku Tuan pemarah" Jawab Claude geli. Sebastian menghela napas. Kalau ia membalas ejekan Claude, selalu saja tak berujung. Dengan itu, ia memutuskan untuk menghiraukan temannya itu dan keluar kamar. Kembali ke tujuan semulanya untuk mengambil sedikit snack
Ia berjalan menuruni tangga dengan langkah pelan. Suasana saat ini di rumah kost sepi. Tak ada tawaan-tawaan menggelegar yang biasanya memenuhi ruangan. Yah...mengingat saat ini jam tidur malam, mungkin para seniornya dan juga Alois masih tidur. Sebastian masih bisa begadang karena besok ia mendapat jam kuliah siang. Ia kembali bersyukur untuk besok karena Grell berbeda jam kuliah dengannya. Makanya, si banci itu tidur pukul sembilan malam tadi. Lebih tepatnya Grell selalu tidur tepat pukul sembilan malam. Katanya tidur lebih awal membuat awet muda [?] Tentu saja sebelum tidur ia mengoleskan entah itu krim apa yang Sebastian tak tahu. Ah...Sebastian juga tak peduli dengan hal itu. Tapi kalau teman-teman kost yang lainnya sih...selalu tidur kurang lebih jam sebelas malam. Dan juga, sebelum tidur para penghuni kost selalu berkumpul dahulu di ruang tamu untuk berbincang-bincang pastinya...
Setelah menuruni anak tangga terakhir, Sebastian berjalan kearah ruang makan. Didapatinya ruang disebelah ruang tamu itu dalam keadaan gelap. Ia mencari saklar lampu sambil meraba-raba dinding. Mana mungkin kan ia mencari makanan dalam keadaan gelap...
Setelah lampu berpijar terang, ia memutari meja makan untuk menuju kulkas. Tempat persediaan makanan...Dilihatnya kulkas yang berisi penuh dengan bahan-bahan makanan, snack dan berkaleng-kaleng soda. Sekarang di kulkas ini tak ada lagi makanan-makanan instan seperti mie dan yang sejenis itu. Yah...kehidupan para seniornya sebelum ia tinggal disini cukup mengenaskan. Setiap hari memakan makanan-makanan itu. Tak ada pergantian menu makanan baru yang lebih bergizi dan sehat.
Setelah bingung mencari-cari apa yang akan dimakannya, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil ice cream di freezer. Lho? Bukannya tujuan awalnya adalah memakan snack? Yah...karena ia tertarik untuk mencicipi ice cream yang ada di freezer akhirnya ia memutuskan untuk mengambil itu. Gila juga sih menurutnya, malam-malam saat ini makan ice cream! Dilihatnya nama yang tertera pada bungkus ice cream itu
"Punya Alois ya? Hh...dasar masih anak-anak...maaf ya Alois aku makan ice cream dob*e dut*h milikmu...aku mendadak ingin makan ice cream...jangan khawatir, aku hanya memakannya sedikit kok...mungkin..."Gumamnya nyengir sendiri yang seolah-olah meminta persetujuan dari Alois. Padahal Alois tak ada disini sekarang...
Sebastian mengambil sendok dan duduk di kursi makan. Ia mulai mencicipi ice cream rasa fruit salad itu. Dingin dari ice cream itu langsung menyetrum saraf otaknya. Tetapi setelah itu ia merasakan manis dari lidahnya. Pantas saja anak-anak suka sekali memakan ice cream, rasanya dingin tapi manis. Dulu sewaktu kecil ia juga suka memakan ice cream. Tetapi seiring dengan bertambahnya usia, tentu saja Sebastian menjadi jarang memakan makanan manis itu...
.
.
.
.
Sementara tak disadari oleh Sebastian, terdapat seseorang yang sedang bersembunyi dengan sangat panik di bawah meja makan
Kontras sekali dengan Sebastian yang saat ini sedang asyik memakan ice cream-nya...
.
.
TBC
Fiuuhh...akhirnya selesai juga chapter ini...tak saya sangka juga, banyak yang protes tentang chapter dua yang pendek...nah...untuk itu di chap.3 ini saya banyakkan lagi words-nya, yah...meskipun tak sebanyak di chap.1 sih...
Oh iya...banyak yang salut sama pendengaran tajam Ciel juga ya? Tapi, di dunia nyata memang ada lo yang seperti itu, saya punya teman dekat yang pendengarannya tajam. Tetapi dia juga tidak cacat fisik. Dan dari situlah saya punya ide untuk membuat karakter Ciel yang pendengarannya tajam...dan juga banyak yang penasaran dengan sebenarnya Ciel itu 'apa'... Apakah di chapter ini para pembaca sudah mengetahui jawabannya?
Yang suka sama karakter Ronald juga agak banyak juga ya...saya juga sempat kaget dengan hal itu
Emm...sedikit bocoran, di chapter depan sosok Ciel akan terbongkar oleh para penghuni kost...hehee
Untuk readers, Ada yang tahu?Apakah alasan Ciel sangat enggan berbaur dengan dunia luar? Coba tebak...hehee
Nah...sekarang saatnya membalas review untuk yang LOGIN atau NON-LOGIN :
Nada-chan 'U'Laurant: terima kasih telah membaca dan me-review lagi!
Cyta-san: Ok! Terima kasih telah me-review!
Katak Lompat: Chapter depan Ciel keluar kok! Terima kasih!
deviLune Michaelis: Maap kalau chapter ini saya panjanglan lagi, soalnya banyak yang ingin saya masukkan...Terima kasih!
Zwart-Tumsa Matar.564 : Ada balasan dari Ronald nih...(Ronald: wahwahwah...nggak ada pilihan lain?kalau aku sama Sebas dibunuh Ciel, kalau sama Alois dihajar Claude dan Grell? Err...gimana ya? Daripada sama anak itu mendingan sama Undertaker!Ahahaha...oke pokoknya aku tak akan kalah loh!). Ahahaha...genre-nya bukan Supernatural kok...Di chapter-chapter mendatang saya jamin akan terlihat genre aslinya...yaitu Hurt/Comfort.Sekali lagi terima kasih atas review-nya!
CiellaLovers: Genre-nya bukan Supernatural kok...di chapter-chapter mendatang akan terlihat genre aslinya, yaitu Hurt/Comfort...Terima kasih!
Red hair: Iya...chapter ini sudah saya panjangkan. Meskipun tak sepanjang chapter 1 sih...Terima kasih!
Dolphin: hehee...chapter depan Ciel keluar kok...Terima kasih banyak!
HARUZE: Ini saya sudah update, meskipun telat sih...Terima kasih!
itsuka: Ciel hanya anak yang kelewat pintar kok...Dia pernah menjuarai beberapa Olimpiade bergengsi tingkat Internasional...Terima kasih!
hana-1emptyflower: Iya...ini saya sudah apdet...terima kasih!
ELLE HANA: pertanyaan-pertanyaan anda akan terjawab di chapter-chapter mendatang, jadi tetep baca aja hehee...Terima kasih!
AkamakiKyuu: ada pair lain kok tenang saja...seperti ClaudexAlois sama EricxAlan...mau nggak? Terima kasih!
hime: Terima kasih atas review-nya!
Sora Yoshimikaze: ada jawaban dari Ronald nih...(Ronald: wah...boleh kok...tapi masih ada 3 cewek yang saat ini statusnya pacaran sama aku loh...masih mau nggak?*nabok Ron*) Terima kasih atas reviewnya ya!
Hendry Nofry: Terima kasih banyak telah menyukai dan mereview fic saya!
Guest: Terima kasih banyak telah mereview!
.
Yah...cukup sekian, sampai jumpa di chapter depan!
Review please!
Please no silent readers
Review kalian sangat menyemangatkan saya!
.
