BoBoiBoy (c) Monsta
I'm a Boy (c) Vinie-chan
Warning : This story contains a bit shounen-ai. Don't like, don't read!
-Chapter 2-
Sial, ya ... Hari ini hujan deras. Mana tidak bisa bermain dengan yang lainnya ... Terkadang yang namanya anak rumahan itu membosankan, ya? Tidak bisa bermain dengan yang lainnya, dan teman-temannya hanya sedikit.
"Apakah ini efeknya terlalu lama berada di rumah? Huh ... Bosan ...," gumamku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
Dulu di Kuala Lumpur, Abah dan Mama sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku yang merupakan satu-satunya anak tunggal di keluargaku hanya bisa diam menunggu di rumah, dengan banyak mainan dan buku-buku di rumah. Abah memang baik mau membelikanku apa saja, tetapi tetap saja ... Itu yang membuatku bosan di rumah, bahkan sifatku itu tetap melekat sampai sekarang.
Enaknya anak-anak yang bisa main ke luar rumah dengan bebasnya. Tapi sekarang hujan. Paling-paling yang main cuma sedikit. Haah ... Masa' aku menelepon Yaya untuk datang ke rumah? Mumpung rumahnya bersebelahan dengan rumah Atok.
Eh, gak usah, deh. Nanti dia bakalan bawa sekeranjang biskuit-biskuit beracunnya.
Dasar nenek sihir. Biskuit buatannya emang bikin orang pingsan. Ogah, ah!
Aku berjalan menuju tempat tidurku. Rasanya hujan memang bisa membuatku tenang. Aku mulai memejamkan mataku, terbawa ke alam bawah sadar, dan–
"BoBoiBoy!"
Deg! Sepertinya seseorang memanggilku.
"BoBoiBoy!" Aku berlari mendongak keluar jendela. Ku lihat Fang yang berdiri di bawah payung, tengah memandangiku, dengan senyuman sinisnya. "Ayo ikut aku!"
"Mau ke mana? Sekarang 'kan masih hujan!"
Fang tetap tersenyum sinis. Tangannya terjulur ke atas. "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat! Jika kau berkenan, ikutlah denganku!"
Badanku mulai kaku.
Dia mau mengajakku? Ke suatu tempat? Bagaimana kalau tiba-tiba dia melakukan hal yang aneh? Iya, aku tahu kalau anak ini memang pendiam dan tidak suka bermain dengan yang lain. Tetapi kalau sisi dalamnya berbeda?
"Ayo! Tunggu apa lagi?! Kau akan menyukainya!"
Terpaksa, akhirnya aku turun ke lantai bawah, menyambar jas hujanku, mengenakan sepatu boot, dan berlari ke luar. Fang menungguku dengan wajah kesal. Sepertinya dia marah karena aku terlalu lama di dalam.
"Dasar. Kamu ini terlalu overprotektif, ya? Tidak usah pakai jas hujan juga tidak apa-apa," protesnya.
"Aku hanya ingin berjaga-jaga saja, kok. Lagipula, aku ingin bertanya." Kami mulai berjalan bersama di bawah naungan payung ungu yang dibawa oleh Fang. Langkah kaki Fang sedikit pelan, jadi kami bisa merasakan derasnya hujan yang turun.
"Mau tanya apa?" Fang tidak memandangiku.
Aku menatapnya gusar, takut kalau dia tidak menjawab. "Kita mau ke mana?" Ekspresi Fang tetap dingin. Dia melirikku, lalu kembali menatap jalan.
"Aku tidak bisa memberitahumu."
"Ayolah! Aku ingin tahu!"
"Tidak."
"Fang ..."
"Aku bilang tidak."
"Pretty please ..."
"Tidak bisa, BoBoiBoy!" Fang berteriak marah. "Bisa tidak kamu tidak bersikap seperti balita?!" Aku terdiam.
Fang kembali berjalan, meninggalkanku yang diam, tidak percaya bahwa dia akan semarah itu. Kepalanya menengok ke belakang. Dia menghela napas panjang, dan mengulurkan tangannya kepadaku. Aku balik menatapnya. Kuulurkan tanganku, membalas uluran tangannya, dan kami berjalan kembali.
"Maaf."
"Sudahlah, BoBoiBoy ..."
Tak lama setelah kami berjalan dalam diam, hujan mulai berhenti, hanya menyisakan gerimis dan embun di sore hari. Suasana semakin canggung ketika kami berdiri di depan pagar besi yang menjulang tinggi. Lumayan tinggi untuk anak berusia 11 tahun sepertiku. Aku bahkan tidak bisa memanjatnya.
Srek! Srek!
Ku lihat Fang tengah sibuk memanjang pagar besi itu. Mungkin dia sudah terbiasa dengan hal ini. Dia memanjatnya dengan cepat, seperti kucing yang memanjat pohon. Bagaimana aku bisa memanjat seperti itu jikalau aku masih memakai sepatu boots yang basah dan licin ini?
Setelah Fang sampai di atas pagar, dia memandangiku yang diam di bawahnya. "Kenapa diam? Ayo panjat!"
Aku menurut. Ku panjat pagar besi yang menjulang itu, melompat ke atas, dan terpeleset. Bukannya menolongku, Fang malah tertawa terbahak-bahak melihatku berusaha berpegangan pada pucuk pagar. Aku memanyunkan bibir, merasa kesal melihatnya tertawa, seperti aku adalah lelucon terbaiknya. Bagaimana tidak marah? Dia justru tidak membantuku naik sampai pada akhirnya aku naik ke atas dan menyamai posisinya. Dasar jahat!
"Kenapa tidak menolongku?" Fang masih tertawa terbahak-bahak.
"Dasar payah! Bwahahaha! Kau tidak perlu melompat seperti itu! Kena juga resikonya, jadi terpeleset!" Aku memukul bahunya pelan.
"Jahat kamu!" umpatku.
"Biarin, cewek payah!" dia balas mengejekku.
Fang melompat turun dari pagar, masuk ke area lain yang tidak kuketahui. Payungnya yang terlipat ia bawa dengan tangan kanannya.
"Ayo turun! Sebentar lagi sampai!"
Aku pun melompat turun.
Kami berjalan kembali. Tetapi sebelumnya Fang memintaku untuk menutup mata. Aku menurut dan menutup mataku, sedangkan dia mendampingiku berjalan.
"Sudah sampai?"
"Belum."
"Sekarang sudah?"
"Belum."
"...? Sekarang?"
"Yup."
"Bolehkah aku membuka mata?"
"Tidak."
"Sampai kapan?"
"Tunggu sampai aku bilang 'iya'."
"Oke."
Fang terdengar seperti sedang berlari menjauh. Aku mendengar suara gemericik air yang menghantam sesuatu. Oh, ya. Suasana terlihat semakin gelap. Sore akan berganti malam, dan aku masih tidak mengerti mengapa Fang membawaku ke suatu tempat yang tak kuketahui.
Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara Fang kembali.
"Sekarang buka matamu."
Aku pun membuka mataku, dan–
Cup!
Bibir Fang bersentuhan dengan bibirku. Aku masih berusaha connect selama beberapa detik sebelum Fang menjauhkan bibirnya dengan bibirku. Rasanya ... manis.
Kami saling pandang satu sama lain. Aku tersenyum, begitu pula dengannya. Kami pun duduk di atas tanah berumput. Ah, ya ... Aku ingat. Ini di atas tebing dekat laut. Pantas aku merasa ada suara air yang menabrak sesuatu. Suasana selama sunset membuat lautan semakin ramai datang menerjang bebatuan.
Suasana sunset, air laut menerjang bebatuan, suara burung camar ...
Dan ciuman pertamaku dengan Fang.
Kami duduk dengan jarak yang sangat dekat. Fang merangkulku dengan lengannya yang besar dan hangat. Sebelah tangannya menyentuh tanganku, mengenggamnya dengan erat. Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya, dan dia menyandarkan kepalanya di atas kepalaku.
"Fang ..."
"Hmm?"
"Aku mencintaimu."
"Ya ... aku juga."
Suasana ini ... tidak akan pernah kulupakan. Aku benar-benar menyukainya.
Tuhan ...
Apakah boleh aku tetap bersamanya?
Meskipun aku dan dia adalah laki-laki?
Kumohon ...
Izinkan aku untuk tetap bersamanya.
"Terima kasih, Fang, sudah mengantarku pulang."
Fang terkekeh. "Ya."
Aku tersenyum, namun senyumanku pudar seketika.
"Fang ... Apa hubungan ini ...?"
Mendengar pertanyaanku itu, Fang mencium bibirku. Wajahku sedikit memerah melihatnya menciumku.
"Tidak apa-apa. Aku yakin, kita ditakdirkan seperti ini," jawabnya, dengan sedikit senyuman di bibirnya.
Aku mengangguk-angguk, dan mencium pipinya. "Selamat malam, Fang."
"Malam, BoBoiBoy." Fang balas mencium keningku.
Kami berpisah tepat di depan rumah Tok Aba. Aku masuk ke dalam rumah, menggantungkan jas hujanku, melepas sepatu boots, naik ke lantai atas, dan langsung ambruk di atas tempat tidur. Sumpah! Kini wajahku benar-benar merah dan panas!
Ciuman itu ... Ciuman itu ... Ciuman itu ...
Aku terus mencerna kembali apa yang terjadi. Wajahku semakin merah mengingat wajah Fang yang tersenyum manis di hadapanku. Aaa ... Dia terlalu manis sebagai laki-laki! Terlalu tampan!
Tapi apakah hubungan kami akan berjalan seperti biasanya?
Aku laki-laki dan dia juga laki-laki.
Tetapi kami berdua saling suka.
Inikah takdir?
"Masa bodo!" seruku. "Tidur saja, deh. Besok kita bertemu lagi."
Aku pun mengganti baju keseharianku yang basah dengan piyama, lalu berbaring di atas tempat tidur. Aku masih tetap mengingat kejadian sore tadi.
"Semoga itu hanya mimpi." Tak lama, aku mulai tertidur, berharap kejadian itu benar-benar tidak nyata.
Hai hai ... Lama menunggu? Tidak, 'kan?
Maaf kalau adegan romance-nya kurang. Aku lebih suka melihat pasangan yang saling menyukai tanpa harus tembak-tembakan kayak di sinetron (ya, karena aku tidak suka sinetron). Langsung ciuman, sudah. Nyeheheheh ...
Terima kasih sudah kasih support buat lanjutin cerita ini. Shounen-ai adalah yang paling kusukai. Bukannya tidak suka yaoi, tetapi yaoi 'kan bergaris keras. Sampai ada adegan 'itu'-nya segala (pernah tahu saja), dan itu pernah membuatku berkhayal sampai tidak bisa tidur (kenyataan).
Cerita anak laki-laki yang saling suka itu lebih unyu. :3
I kissed a boy just to start shit~ That homeboy was not about it~ I know it's wrong, but I don't mind~! I'm gonna start shit tonight~! (Cobra Starship - I Kissed A Boy)
Tulis adegan yang kalian suka di kotak review. Jangan lupa fav dan follow, ya. Ciao!
