Everything I Do Is Just For You

Pair: Erza S. x Jellal F.

Genre: Romance, Fantasy

Rate : T

Warning: Typo, garing kriuk-kriuk, no comedy, romance kurang

Disclaimer: Fairy Tail hanya milik bang Hiro Mashima

Erza hanya milik Jellal#ditimpuk bang Hiro

A/N : Langsung saja cuap-cuap dari saya, semoga nggak ngebosenin ini cerita -,-

-Happy Reading-

Chapter 3

Fall

Sudah seminggu Jellal bergabung dengan sekolah barunya, namun tak juga membuat progres dalam menjinakkan pendirian Erza. Ia sudah mulai akrab dengan orang-orang di kelasnya dan sangat populer di kalangan wanita, namun keakraban itu hanyalah demi bertahan di sekolah dan kelas itu, sudah pasti demi mendapatkan kembali Erza. Erza sering mengabaikannya dan sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Jellal. Yah walaupun Jellal seperti itu, namun ia tetap bersikap biasa dan tenang dalam menghadapi Erza, hingga tidak terlihat mencolok di mata teman-temannya.

Kini Jellal, Erza, Lucy, dan Natsu, Gray, Mirajane, dan Wendy tengah berada di kantin untuk makan siang. Suasananya tidak begitu canggung karena lumayan banyak yang ikut tidak seperti sebelumnya di kafe, yah walaupun hanya ketambahan dua orang. Setidaknya Natsu dan Lucy ada teman menggosip dibandingkan Gray dan Erza yang cenderung tidak suka ngerumpi.

"Ittadakimasu~", seru Natsu dengan wajah ceria dan cengiran khasnya memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

"Nyam...nyam...uwohh! panas nanas...nas!"

"Pelan-pelan Natsu, kau ini.", Lucy merasa heran Natsu bisa kepanasan?

"Ara-ara, Lucy kau sedang diet ya? Kenapa hanya memesan salad dan green tea saja? Hihi", goda Mirajane.

"Ah... Mira, jangan dibahas dong...", wajah Lucy bersemu merah karena malu.

"Gray-san, apa kau tidak lapar hanya memesan blueberry squash saja?"

"Si Ice Boxer memang begitu Wendy, jadi jangan heran kalau makan bersamanya yang hanya memesan es serut. Nyam...nyam...", sahut Natsu dengan makanan yang masih tersumpal di mulutnya.

"Apa kau Flame Head? daripada kau perut karet!"

"Apa kau Gray? Bilang aja kau lagi ngirit, buat kencan dengan banyak gadis!"

"Enak saja kau bicara!"

"STOP! Lanjutkan makan.", titah Erza mencoba melerai perdebatan tak penting mereka.

"Strawberry cheese cake and strawberry juice again?", ucap Jellal sembari mengernyitkan dahi heran mengamati apa yang dipesan Erza.

"Kenapa emang?", tanya Erza sinis.

"Wah Jellal belum tahu ya, ini adalah makanan dan minuman favorit Erza.", jelas Lucy mencoba memberi pengertian.

"Jellal, kau hanya memesan onigiri ya?", tanya Mirajane dengan senyuman seperti biasanya menghiasi wajah cantiknya.

"Ah iya, makanan ini yang sering kulihat di TV, aku ingin mencobanya.", jawab Jellal lalu memasukkan sedikit demi sedikit onigiri ke dalam mulutnya.

"Uhuk uhuk, rasa apa ini? Dan hijau-hijau ini apa?", Jellal terkejut dengan onigiri tersebut.

"Oh itu nori, emm apa ya bahasa Inggrisnya? Seaweed. Lidahmu pasti belum terbiasa dengan rasa rumput laut negeri ini. Memang seperti apa seafood disana?", tanya Mirajane yang sebelumnya memberi tahu tentang nori, namun tidak dijawab oleh Jellal yang masih memasang wajah bingung.

'Seafood?', Erza mengernyitkan dahinya merasa ada sesuatu yang dia lupakan.

"Tenang saja Jellal-san. Tidak lama lagi kau pasti akan terbiasa dengan rasa makanan negeri ini. Kau juga harus mencoba takoyaki dan sushi yang sangat enak.", sambung Wendy.

"Rasa laut memang yang terbaik, hihi!", seru Natsu.

"Rasa laut?", gumam Erza dengan suara yang tidak terdengar oleh teman-temannya, ia hampir mengingat sesuatu. Erza menatap Jellal yang hendak melanjutkan aktivitas memakan onigirinya, berharap ia mengingat sesuatu yang sepertinya ada hubungannya dengan Jellal. Begitu Jellal siap menggigit onigirinya lagi, ditepislah potongan onigiri dari tangan Jellal hingga jatuh ke lantai. Kejadian kilat barusan telah membuat orang-orang yang duduk bersama Erza termasuk Jellal terkejut bukan main. Entah sadar atau tidak atas tindakannya, yang pasti ia telah menyadari sesuatu tentang Jellal.

"Jangan dimakan.", ucap Erza pelan, malu atas perbuatannya barusan, kemudian kembali duduk dengan kepala menunduk.

"Ada apa Erza?", tanya Mirajane khawatir.

"Kenapa Jellal-san tidak boleh memakannya?", kini gantian Wendy bertanya.

"Itu...Jellal alergi makanan laut."

"Kenapa kau bisa tau, Erza?", tanya Lucy penuh selidik.

"Eh? Itu...itu...Jellal pernah mengatakannya. Hahaha", jawab Erza sewajar mungkin, malah disertai tawa hambarnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Dia pernah mengatakannya?", Gray angkat bicara sembari mengernyitkan dahinya, dalam pikirannya penuh dengan tanda tanya.

"Wah terimakasih kau sudah mengingatkan, Erza. Pasti waktu itu aku pernah mengatakannya ketika mengerjakan tugas Bahasa Inggris.", sahut Jellal berusaha menolong Erza dari teman-teman yang memojokkannya, disertai senyuman yang sama sekali berbeda dengan biasanya yang terlihat seringaian licik, kini ia tersenyum bahagia.

-SKIP TIME-

Di tengah pelajaran berlangsung, suasananya begitu sedikit ramai. Siswa-siswi mulai kebosanan dengan pelajaran paling membosankan sejagad raya, sejarah. Malahan ada yang sudah terlelap dengan dengkuran begitu keras terdengar oleh orang di sebelahnya. yah, siapa lagi kalau bukan Natsu yang paling pulas dan paling keras dengkurannya, Lucy pun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil membaca majalah mingguannya, bukan malah membaca buku pelajarannya.

"Uhuk...uhukk..."

Erza masih fokus pada buku yang dipegangnya dan tak menghiraukan suara-suara di sekelilingnya.

"Uhukk uhukk!", kali ini suara orang terbatuk sedikit lebih keras hingga menghentikan aktivitas Erza.

"Siapa yang batuk-ba—", ketika ia menoleh ke kanan, didapatinya Jellal, tengah menahan batuknya dengan menutup mulutnya menggunakan tangan. Erza tampak sedikit khawatir, ketika Jellal menoleh ke arahnya, pria tersebut hanya memberikan senyuman di wajahnya yang sedikit pucat lalu kembali menutup mulutnya yang masih terbatuk-batuk dan fokus pada bukunya.

Pelajaran demi pelajaran berlangsung. Wajah Jellal semakin pucat, ia masih terbatuk-batuk. Kini bahkan ia merasakan sesak napas.

'Ada apa denganku?', batinnya, ia malah tidak menyadari apa yang sedang terjadi dengannya. Erza daritadi mencuri pandang ke arahnya, mengkhawatirkan keadaan si rambut biru itu.

Untunglah bel pulang berbunyi, kini Jellal bisa segera meninggalkan ruangan itu. Kepalanya begitu berat, dengan tenaga yang masih tersisa ia angkat kakinya melangkah meninggalkan kelas, berusaha berjalan tegap namun pelan. Begitu berhasil keluar dari kelas, ia berjalan gontai dengan berpegangan pada dinding sepanjang lorong, sedangkan tangan kanannya memegangi kepalanya yang terasa begitu berat, seringkali memposisikan tangannya seperti orang batuk kadang juga memegangi dadanya yang sesak.

"Sial, tubuhku lemas sekali. Aku harus segera sampai.", keluh Jellal tanpa memedulikan orang-orang yang berlalu lalang.

Ia berhasil sampai di tangga lantai paling bawah gedung sekolahnya. Keadaannya semakin memburuk, matanya terasa berkunang-kunang. Ia harus tetap tersadar, bisa bahaya bila ia sampai pingsan.

Ketika ia hendak menginjakkan kakinya di anak tangga, ia kehilangan keseimbangannya dan...

BRUUKK!

Jellal membuka matanya dan mengerjapkannya pelan-pelan.

"Apakah raja sudah memanggilku kembali?", gumamnya dengan suara yang lemah.

"Raja apanya?"

"Eh?", Jellal menyadari bahwa ia tidak terjatuh dari tangga, namun ada seseorang yang berhasil menangkapnya dan kini lengan kanannya sudah berada di bahu seseorang. "Erza? Kau kah itu?"

"Kau ini bodoh atau apa? Mengapa kau makan makanan yang tak bisa kau makan, hah?", Erza marah-marah sembari menyangga tubuh lemah Jellal, namun di balik kemarahannya tersorot wajah kekhawatiran.

"Erza, tak kusangka kau masih ingat tentangku. Dengan begini aku bisa merasakan kehangatanmu lagi.", ucap Jellal dengan senyuman.

"Apakah kau sengaja membuat tubuhmu lemah dan membuatku iba agar aku mau ikut denganmu?"

'Terserah apa yang ingin kau katakan, yang pasti hari ini aku bahagia sekali, Sayang.', Jellal hanya tersenyum mendengarkan Erza marah-marah.

Sedikit demi sedikit mereka menuruni tangga dan berhasil keluar dari gedung sekolah.

Piip! Piip! Piip! Piip!

Keduanya terkejut mendengar bunyi yang tiba-tiba itu.

"Bunyi apa itu?", tanya Erza. Jellal merogoh saku celananya. dan ekspresinya sama dengan sebelumnya saat sedang berbincang dengan Gray di depan toilet kafe ketika tiba-tiba mendengar suara sinyal itu.

'Gawat! Bagaimana ini? Erza...', batin Jellal mengetahui suatu bahaya yang lebih bahaya dari tubuhnya yang lemah itu datang mendekat.

"Ada apa? Kenapa kau terkejut sekali?"

'Apa yang harus kulakukan?', Jellal mengabaikan pertanyaan Erza dan malah mendongak ke atas langit.

"Hey!",

'Sial, tubuhku lemah sekali! Aku tidak dapat bergerak cepat kalau begini.'

"JELLAL!", panggil Erza setengah berteriak sontak membuat Jellal tersadar dari pikiran khawatirnya.

'Tidak, ini terlalu cepat.', Jellal meraih tangan Erza dan menariknya untuk kembali memasuki gedung sekolah dengan sedikit berlari.

"Kenapa kau tidak menjawabku? Apa yang sedang terjadi?"

"Erza, jawablah! Uhuk...uhuk... kau ingin ikut denganku atau tidak?", tubuhnya yang lemah mencoba berlari walau dengan sempoyongan dan hampir limbung, ia tetap menggenggam tangan Erza.

"Tidak akan! Keputusanku tidak akan berubah."

"Baiklah, jika hanya ada dua pilihan, kau lebih memilih kembali denganku atau pasukan ayahmu?"

"..."

"Tidak bisa menjawab? Kalau begitu jangan bertanya.", mereka menyusuri lorong sekolah, Jellal melihat Gray sedang berjalan sendirian, lalu ia menuju ke arahnya.

"Jellal? Erza? Ada apa ini? Kenapa kalian bersama?"

PLOK! Jellal menyerahkan tangan Erza pada tangan Gray.

"Ini! Jaga dia baik-baik. Jangan keluar sebelum tiga puluh menit berlalu.", perintah Jellal pada Gray yang membuat Gray dan Erza bingung karena tanpa ada penjelasan.

"Apa maksudmu?", tanya Gray sembari mengernyitkan dahinya.

"Lakukan saja, jika ingin melindunginya...", bisik Jellal pada Gray, lalu pergi meninggalkan mereka berdua dengan tubuh yang sempoyongan.

Di luar gedung sekolah, tepatnya di depan gerbang sekolah, datanglah sebuah pesawat aneh berwarna hitam dengan cahaya ungu menutupinya, benda itu mendekati Jellal.

"Bagaimana Jellal? Apa kau sudah menemukannya?", keluarlah suara dari dalam benda berukuran sedang tersebut.

"Belum, uhuk uhuk. Pasti kau salah melacak keberadaannya, uhuk. Aku tak bisa menemukannya disini."

"Hmm ada apa denganmu?"

"Tidak, hanya salah makan."

"Baiklah, jangan buang waktumu di tempat ini. Sistem pelacak tidak mungkin salah, sinyalnya begitu kuat. pasti ada di kota ini. waktu kita tidak banyak, segera temukan."

"Pasti akan kutemukan."

Benda terbang tersebut pergi meninggalkan Jellal. Kini Jellal ambruk tidak sadarkan diri. Dan...

BRUKK!

####

CLASH!

SRINGG! SRINGG!

"Lihat itu, malaikat maut datang!"

"Siapkan pertahanan!"

"SERAAAANG!"

TRING! TRING!

JLEB!

"Aaarrggh..."

Suasana medan perang begitu mengerikan. Banyak prajurit yang telah menjadi mayat berserakan di atas tanah. Darah mengalir dimana-mana membasahi tanah peperangan, bau anyir mengelilingi medan perang. Hanya yang terkuatlah yang akan bertahan.

"Apakah ada yang tersisa, Jellal?"

"Tidak ada, kita berhasil mendapatkan peta dan harta rampasan."

"Aku tidak butuh harta, berikan petanya."

"Wah, kau tidak memberikan ampun pada sang raja?", setelah Jellal memberikan peta yang ia pegang pada lawan bicaranya, ia melihat ke bawah, di dekatnya ada mayat sang raja dari kerajaan musuh.

"Untuk apa keberadaan raja tanpa ada pengikut."

"Baiklah hari ini cukup, kita kembali."

"Hm."

#####

"Jellal, ikutlah denganku!"

"Ada apa?"

"Ayah telah berubah, bagaimana bisa dia memutuskan sembarangan seperti itu."

"..."

"Keputusan raja harus kita patuhi bukan."

"Kau juga akan mematuhi musuh bebuyutan kita, hah?"

"Tidak, itu..."

"Ayolah Jellal, kita harus pergi."

"Lebih baik kita bicara sekali lagi dengan raja."

"Tidak Jellal, ayah pasti sudah dibutakan oleh sihir penyihir itu."

"Memang kau mau pergi kemana?"

"Kemana saja, asal jauh dari tempat yang telah berubah menjadi neraka ini."

"Kemana mereka pergi?!"

"Gawat!", Jellal dan lawan bicaranya berlari sejauh mungkin dari kejaran pasukan. Entah apa yang dipikirkan Jellal, ia membawa lawan bicaranya menuju suatu tempat bebatuan dimana terdapat batu besar menyerupai dinding.

"Jellal, kenapa kita kesini?"

"Untunglah aku hafal peta itu."

Ternyata batu itu adalah pintu, Jellal menempelkan salah satu tangannya ke batu besar tersebut dan mengucapkan mantra asing yang tidak diketahui lawan bicaranya hingga terbukalah pintu itu. Gaya tarikan yang berasal dari dalam pintu itu terasa begitu kuat, terlihat seperti ada dimensi lain di dalamnya.

"Jangan-jangan kita akan pergi kesana?"

"Kita? Kau saja yang pergi."

"Apa maksudmu Jellal?"

"Lihat, itu mereka! Jangan biarkan lolos!", pasukan yang mengejar mereka telah menemukan keberadaan mereka.

"Pergilah jika kau ingin bebas. Tapi aku tidak ingin ikut denganmu. Kebebasanmu adalah pemberianku, suatu saat nanti aku akan menjemputmu kembali. Ingat itu!", ucap Jellal begitu dingin pada seseorang disebelahnya, hal itu membuat seseorang tersebut sedikit ketakutan. 'Mengapa Jellal tiba-tiba berubah menjadi dingin seperti ini?', batin lawan bicara Jellal.

"Jellal, apa yang kau katakan? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?"

"Cepatlah pergi jika tidak ingin tertangkap!"

"Tapi...Arrrrghh!", Jellal mendorong orang tersebut memasuki pintu yang telah dibukanya dengan mantra. Pintu yang berkekuatan tinggi itu menarik orang tersebut hingga menghilang dari pandangan Jellal. Kini Jellal menjatuhkan diri ke tanah dengan kepala tertunduk. Setitik air mata jatuh membasahi tanah.

"Hiduplah bahagia."

#####

"Erza...uhuk...uhukk..."

"Jellal, kau sudah sadar?"

"Erza?", Jellal langsung bangkit dari posisi terbaringnya. Ia kini sedang berada di atas ranjang dan tubuhnya berselimut.

"Kau seperti melihat hantu saja.", ucap Erza ketus dengan ekspresi Jellal.

"Aku ada dimana? Dan kenapa kau disini? Kemana Gray? Sudah kukatakan untuk menjagamu. Dan juga kau lebih mengerikan daripada hantu.", Jellal masih sempat-sempatnya berkicau sepanjang itu hingga membuat Erza tercengang terutama kalimat terakhir. 'Lebih mengerikan daripada hantu', batin Erza tak terima dikata-katain, wajahnya sedikit memberengut.

"Hoo, jadi aku lebih mengerikan daripada hantu?", raut wajah Erza berubah mengerikan seperti hendak mau menerkam.

"Eh? Ng... maksudku eto..."

"Kau sedang di rumah sakit. Tadi kau pingsan, jadi aku dan Gray membawamu kemari."

"Apa? Pingsan? Kemana dia?"

"Dia? Maksudmu Gray? Aku memintanya untuk pulang dulu."

"Kau juga pulanglah. Tidak aman bagimu disini."

"Ada banyak pertanyaan yang harus kau jawab, Tuan Fernandes."

"Hoo? Apakah aku harus menjawabnya? Kau sendiri tidak mau menjawab pertanyaanku."

"Grrrr...! Aku pulang!", Erza berdiri dan menyahut tasnya yang ada di meja lalu melangkahkan kaki menuju pintu dan membuka gagang pintu.

"Arigato, Honey.", ucap Jellal sambil tersenyum, Erza menghentikan langkahnya sejenak setelah mendengar ucapan Jellal.

"Jangan memanggilku seperti itu."

BLAAAM!

Erza meninggalkan Jellal sendiri.

Keesokan harinya, Erza mendapati Jellal tengah berada di bangkunya sendiri sedang melakukan sebuah aktivitas. 'Apakah ia sudah baik-baik saja?', batin Erza. Erza berjalan menuju bangkunya dan berpura-pura tidak melihat Jellal. Tapi ia penasaran apa yang sedang Jellal lakukan, ia melirik ke kanan dan memicingkan mata kanannya, Jellal terlihat serius mengerjakan sesuatu. Begitu Jellal mengangkat kepalanya dan menoleh ke arahnya, ia segera menormalkan gerakan matanya agar tidak ketahuan sedang meliriknya.

"Erza, ini bacanya apa?", Jellal menyodorkan buku agar dibaca Erza tanpa melepaskan pegangannya pada buku itu. Erza mendekatkan wajahnya ke buku itu dan mulai membacanya.

"Hachi? Kau tak bisa membaca kanji?",tanya gadis scarlet dengan mengernyitkan dahinya.

"Ah, aku hanya hafal kanji 'watashi' saja, aku belum sempat mempelajari itu semua."

"Apakah kau akan selalu bertanya padaku di setiap jam pelajaran? Semua buku pelajaran ada huruf kanjinya, Baka!"

"Yah mungkin."

"Mungkin?"

"Ini juga gara-gara kau tau, aku jadi menghabiskan waktuku di negeri yang salah."

"Gara-gara aku? Negeri yang salah? Apa maksudmu?", Erza penasaran dengan ucapan Jellal barusan.

"Eh? Itu... bukan apa-apa.", Jellal kembali menghadap bukunya, tanpa melihat ke arah Erza.

"Jawab aku Jellal."

"Tidak mau."

"Kau—"

"Wah-wah, kalian sudah akrab ya.", tiba-tiba Lucy datang memotong pembicaraan Jellal dan Erza.

"Siapa yang akrab dengannya.", Erza mendengus kesal sembari menyilangkan kedua tangan di dada dan menghadap ke arah yang berlawanan dari keberadaan Jellal. Lucy hanya terheran.

"Kau sedang apa Jellal?", tanya Lucy mendekat ke meja Jellal.

"Ah tidak, aku hanya mempelajari buku pelajaran saja, namun aku kesusahan dengan huruf kanji."

"Haha, kau seperti anak SD saja. Oh iya, kau lama tinggal di Amerika ya? Hm hm.", Lucy mengangguk-angguk mengerti sembari tangannya menyentuh dagunya.

"Apakah Erza mau membantuku ya?", Jellal mencoba memancing Lucy agar mengatakan sesuatu yang membuat Erza goyah.

"Ah iya, Erza, kau bantulah Jellal, kalian kan duduknya berdekatan. Kalian kan juga sudah akrab, bahkan kalian berbagi masalah pribadi. Khekhekhekhe.", goda Lucy.

"Masalah pribadi apanya?", tanya Erza ketus.

"Itu lho, tentang Jellal yang alergi dengan makanan rasa laut.", Erza mendengus kesal mendengarnya, ia hanya bisa menyangga kepalanya.

"Haha, sudahlah Lucy. Jangan menggoda Erza terus. Erza pasti mau membantuku. Iya kan, Er-chan?", padahal ia meminta Lucy untuk berhenti menggoda Erza, tapi ia malah menggodanya. (Author: Hadeh, dasar =_=)

"Tentu saja, Tuan Fernandes.", jawab Erza menahan emosinya dan ingin sekali menerkam si rambut biru itu, muncullah kerutan di dahinya dan juga otot di wajahnya.

-to be continued-

Terimakasih yang sudah mau baca, sampai jumpa! ^_^