3rd: You Only Love

"Hyungie. Hyungie harus melihat bagaimana ekspresi Yunnie saat Joongie melempar bunganya ke lantai. Hahaha. Jonggie sudah tak tahan ingin tertawa. hahahaha" Jaejoong dengan santainya bercakap dengan Junsu di dalam kamar rawatnya. Ia tak bisa henti-hentinya tertawa terbahak, sembari asik mengunyah apel kupas sepiring penuh sejak tadi.

"Tapi kau tidak boleh bersikap kurang ajar seperti itu." Junsu menyela tawa Jaejoong. Ia tidak suka dengan sikap sesuka hati dongsaengnya.

Tidak masalah jika itu untuk kebaikan. Namun, ini sudah sejak awal salah aniya? Rencana konyol adiknya hanya akan merusak rencanannya yang sedari awal ia rancang.

Padahal Ia sudah bersusah payah memohon-mohon pada Yunho untuk bersikap manis pada Jaejoong. Menyuruhnya menjenguk Jaejoong dan repot-repot membawakannya bunga. Ah, akan tetapi rencananya jadi luluh lantak sedemikian rupa.

Jaejoong menundukan kepalanya. "Hyungie,… Joongie hanya ingin Yunho menyadari perasaannya sebelum Joongie mati."

"KIM JAEJOONG!" Kuat teriakan Junsu menglegar di ruangan perawatan Jaejoong. Si terdakwa hanya mampu menunduk dalam membiarkan buliran air mata menetes di pipinya.

Junsu amat sangat benci mendengar kata 'mati' dan sejenisnya meluncur dari omongan Jaejoong. Hingga tak segan-segan ia berteriak lantang di depan dongsaenganya yang rapuh itu.

"Hiks..Hyungie lebih mengerti Joongie daripada diri Joongie sendiri. Biarkan Joongie tahu bagaimana sesungguhnya perasaan Yunho Hyung. Atau setidaknya biarkan Joongie bahagia untuk yang terakhir kalinya Hyung. Bisakan?"Jaejoong menatap Junsu dengan kedua mata letihnya yang basah.

"Jae-ah.. hiks.. hiks.." Junsu keluar dari kamar perwatan Jaejoong, menutup pintu dengan kasar lantas bersandar pada daun pintu menangis terisak-isak. Ia tidak mampu lagi membiarkan adiknya merasakan sakit yang lebih dari ini.

Tidak bisakah Tuhan menjadikannya mudah saja?


.

.

.

Setia ia masih mengetuk-ngetuk pintu. Menunggu pintu coklat itu untuk segera terbuka secepat mungkin. Jutaan uap air bekecepatan sedang berhembus melalui mulut memucatnya. Terhitung sejak sejam yang lalu saat ia memilih untuk berdiri saja di depan pintu kayu itu. Bodoh? Asalkan rasa cintanya terpuaskan, hal bodoh apa yang belum ia coba?

Seraya mengosok-gosok kedua telapak tanganya. Demi mengurangi dingin yang menyelimuti tubuhnya yang kian mengigil.

Melihat derasnya hujan salju di luar sana yang telah mampu menutupi jalanan dan atap-atap rumah. Mengingatkan penduduk kota bahwa musim dingin sudah datang.

"Nuguseyo?" Tanya orang dari dalam tatkala pintu itu peralahn terbuka juga.

Dia. Si namja berwajah cantik, Jaejoong. Tersenyum lega. Berbinar-binar menantikan sosok namja yang sangat ia rindukan. "Yunnie."

"Jaejoong-ah" Yunho terperangah. Ia tidak percaya jika di depannya telah muncul sesosok namja tersebut.

Jaejoong dengan pakaian rumah sakitnya tanpa penghangat lainnya. Rambutnya tertutupi oleh selimut salju yang perlahan mencair. Jangan tak hiraukan kulitnya yang memucat pasi.

"Kau kabur dari rumah sakit?"

Jaejoong tersenyum memperlihatkan gigi-gigi putihnya. "Joongie sangat merindukan Yunnie."

Yunho menarik lengan Jaejoong dan segera menutup pintu. Di luar udaranya dingin sekali. Ia tidak bisa berpikir dengan normal ketika melihat Jaejoong bisa-bisanya menunggunya membuka pintu dengan keadaan seperti itu.

Yunho merasakan tubuh Jaejoong bergetar hebat. Ia yakin bahwa Jaejoong pasti sangat kedinginan. Dari lengannya saja Yunho dapat merasakan tubuh Jaejoong sudah sedingin es batu.

"Apa kau sudah gila?" Yunho berucap tanpa basa-basi. Sejujurnya khawatir terhadap keadaan Jaejoong yang mungkin makin parah setelah ini.

Yunho berlari menyambar selimut dan membungkus tubuh ringkih itu.

Ia masih tidak mengerti. Kenapa Jaejoong masih bisa tersenyum selebar itu dikala tubuhnya bahkan sudah tidak bisa bertahan dengan rasa sakit. Apakah cinta memberikan kekuatan sebesar itu?

Sebab Yunho tak pernah datang setelah seminggu yang lalu untuk menjenguknya. Jaejoong dengan ketidakwarasannya memilih kabur dari rumah sakit. Tanpa berpikir menyetop taksi atau menumpang kendaraan umum. Ia berlari dengan kaki telanjang menuju apartemen Yunho yang baru-baru ini di sewanya.

Yang paling penting, Jaejoong memasabodohkan rencana awalnya untuk berpura-pura menghindar dari sang kekasih hati. Alih-alih Yunho yang datang dan memohon agar Jaejoong mau bersamanya lagi. Jaejoong malah harus menerima kenyataan bahwa dirinyalah yang harus mengalah dan mengejar cinta Yunho lagi.


.

.

.

Yunho mengecek Ponselnya yang tak henti-hentinya berdering sedari tadi. Ia melihat pesan dari Junsu sebelum membalasnya dengan kata ' Ia, aku akan menjaganya untuk kali ini.'

Jaejoong berbaring nyaman di atas ranjang king size milik Yunho. Menghirup dalam-dalam aroma yang dikuarkan oleh bantal dan juga seprai. Mencari-cari aroma Yunho yang mungkin saja masih melekat di serat-serat kain halus itu.

Jaejoong memandangi punggung Yunho yang tengah tertidur di sofa dengan selembar selimut tipis.

Jaejoong tersenyum tipis seraya bergumam dalam hati..

'Yunnie aku mencintaimu.

Kau satu-satunya yang aku cintai.

Apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu…'

.

.

.

-TBC-