Maaf, update nya kelamaan. Rencana saia sih mau pindah dari fandom Naruto.
Tapi sebelumnya, terimalah chapter 3 ini. Happy reading....
Mission Failed: Chapter 3
"Hei kau, ayo bangun!"
Suara seseorang membangunkan Kiba dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan. Ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan sel yang lebih mirip dengan gua. Ruangannya yang gelap hanya disinari cahaya lampu minyak sehingga membuat tempat itu menjadi remang. Pintu sel yang terbuat dari kayu seakan menghalangi ia memandangan lebih jauh lagi.
Kiba mencoba mengusap matanya, tapi ia tersadar bahwa tubuhnya dibalut kain yang kencang sehingga ia tak bisa bergerak bebas.
"Sial!" umpat Kiba, lalu pandangannya beralih pada seorang gadis yang berdiri di depannya.
"Ino? Kau tertangkap juga? Dasar bodoh!"
"Ha? Baru saja bertemu kau sudah bicara kasar padaku. Dasar orang gila!" cetus gadis itu. "Ngomong-ngomong Ino itu siapa?"
Kiba memperhatikan gadis itu dengan tatapan penasaran. Rambut panjang pirang itu, wajah erm... cantik itu. Dia pasti Ino. Tidak mungkinkan seorang Inuzuka Kiba bermasalah dengan pengelihatannya? Apa mungkin akibat pertarungannya dengan para penjahat itu membuat pengelihatannya bermasalah? Kelihatannya tidak begitu.
"Hah, jangan sok tolol begitu!" ledek Kiba. "Kau pikir aku ini buta apa! Sudah jelas-jelas kau itu Ino si gadis centil yang merepotkan!"
"Sudahku bilang aku bukan Ino!" cetus gadis itu. "Aku ini Putri Mio, pemimpin Kusagakure. Kau sendiri siapa? Baru bangun langsung marah-marah. Dasar!"
"Ah! Go... gomen, Mio-sama. Aku Inuzuka Kiba, shinobi yang ditugaskan untuk menyelamatkanmu." kata Kiba salting. "Tapi aku malah kena juga. Sial!"
"Oh, begitu. Lalu Ino itu siapa? Pacarmu?" tanya Mio sambil terkekeh.
Sontak, wajah Kiba langsung memerah. Cepat-cepat ia membuang muka. "Hah! Pacar! Enak saja, dia itu temanku menjalankan misi ini."
"Tapi kenapa tadi pas bangun kamu langsung memanggil nama itu?"
"Entah pengelihatanku yang salah atau apa, yang jelas kalian sangat mirip."
"Mirip di segi apanya?"
"Ah, sudahlah!" Kiba mulai gusar. "Selain wajah kalian, sifat kalian juga sama. Kalian sama-sama menyebalkan!"
"Hey, kau juga sangat menyebalkan!" balas Mio.
"Terserah, tapi lepaskan dulu kain yang melilitku ini." gerutu Kiba.
"Apa untungnya aku melepaskanmu?" tanya Mio sinis.
"Kau mau bebas dari sini apa tidak!" sahut Kiba.
Mio terdiam.
"Tunggu apalagi, ayo cepat!" kata Kiba semakin gusar.
"Ah, iya-iya, sabar." Mio menghela napas.
Tukk... Tukk....
Terdengar suara pintu kamar Ino diketuk seseorang. Ino pun membuka pintu kamarnya. Ia agak terperanjat saat mendapati Midori berdiri di depan pintu kamarnya itu.
"Midori-san? Ada apa?"
"Pakailah ini, setelah itu ikutlah denganku." kata Midori sambil menyerahkan sehelai gaun pada Ino.
Ino masih melongo, tapi cepat-cepat ia raih benda di tangan Midori itu dan masuk kembali ke kamarnya.
Tak lama kemudian, Ino pun keluar dengan memakai kimono berwarna orange dengan corak bunga-bunga merah kecil yang selaras dengan warna obi-nya. Rambut blonde panjang Ino yang disanggul dengan memakai tusuk rambut khas Jepang membuat kecantikannya bertambah sempurna. Ia benar-benar kelihatan seperti seorang putri istana sekarang.
"Kau sudah siap? Ayo berangkat!" ajak Midori. Ino mengikutinya dari belakang.
"Jadi begitu, aku mirip dengan Putri Mio ya?"
"Ya, ini fotonya." kata lelaki tengah baya itu sambil menyerahkan secarik foto pada Ino, Ino pun mengambilnya.
"Wah, ternyata memang mirip!" Ino takjub.
"Ya, maka untuk itulah kau harus menggantikan Putri Mio untuk sementara."
"M-maksudmu?"
"Kau akan menjadi putri untuk sementara sampai kita bisa menemukan markas persembunyian penjahat itu."
"Markas persembunyian?" Ino terlihat berpikir sejenak. "Ah, aku punya teman yang tau dimana markas persembunyian mereka."
"Ha! Siapa?"
"Namanya Sora, dia tinggal di kuil angin yang tak jauh dari sini."
"Benarkah? Kalau begitu kita harus menemuinya."
'SREET'
Pintu digeser oleh seseorang dari luar.
"Todoke-sama! Anak buah Hikari menyerang desa!" kata shinobi yang baru datang itu sambil terengah-rengah. "Kita harus... eh, M... Mio-sama?"
"B-bukan, aku bukan Putri Mio," elak Ino. "Sekarang kita harus bagaimana?"
"Yang penting selamatkan dulu penduduk. Mereka harus dipindahkan ke tempat yang aman." ujar Todoke. "Cepat perintahkan yang lain untuk membawa penduduk lari dari sini!"
"Baik!" seru shinobi itu sambil berlalu pergi.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Ino panik.
"Kita harus menemui temanmu itu!"
"Baiklah, ayo cepat kita pergi!"
Ino dan Todoke berlari menuju gerbang desa. Tampaklah banyak bangunan hancur dan sebagian ada yang terbakar.
"Jahat sekali..." gumam Ino.
"Tapi syukurlah mereka sudah pergi, penduduk juga sudah mengungsi." sahut seseorang dari belakang Ino. Ino dan Todoke pun menoleh.
"Sora! K-kau?"
"Jadi dia yang bernama Sora?" tanya Todoke.
"Iya, aku Sora." kata Sora sambil berjalan mendekat.
"K-kenapa kau a-ada disini?"
"Bukankah kalian membutuhkanku?" Sora tersenyum. "Selain itu aku juga mau membalas kematian teman-temanku."
"...."
"Tiba-tiba sebuah kunai melayang dari belakang Sora.
"AWAAAS!" teriak Ino. Sora pun mengelak.
"Hahahahahaha... gerakanmu lamban!" seorang pria bertubuh gemuk datang menghampiri mereka.
"Siapa kau?" tanya Sora.
"Aku Djoushou, orang yang akan menghentikan kalian sebelum kalian lebih jauh lagi."
"Kalian, cepat pergi dari sini! Biar aku yang melawannya." sahut Sora.
"T-tapi," Ino mendapati death glare dari Sora, membuatnya menghela napas singkat. "Baiklah..."
Ino dan Todoke pergi meninggalkan Sora.
"Nah, sekarang cuma tinggal kita. Tak akan ada lagi yang akan mengganggu duel kita." ledek pria gendut itu.
"Hh, buktikan saja."
"Ino, sebaiknya kau bersiap-siap."
"Iya, aku mau mengganti baju dulu." kata Ino seraya berlari ke penginapannya. "Kau tunggu di sini dulu, aku akan segera kembali."
"Hosh…. Hosh…. Ternyata kau hebat juga, pemuda sialan!" sahut Djoushou sambil terengah-rengah. Ia kembali merepal pukulannya dan bersiap menyerang Sora kembali. "Rasakan ini, HYAAAA…."
Djoushou berlari ke arah Sora.
"JUUHA REPUSHO!" Sora mengeluarkan jurus badai anginnya. Serangan itu pun telak menghantam tubuh Djoushou. Ia pun terpental ke tanah dengan bersimbah darah. Sepertinya ia telah meninggal.
Sora terengah-rengah, 'Akhirnya selesai juga.'
"Sora! Kau tidak apa-apa?" Ino berlari menghampiri Sora, lalu ia bersimpuh di depannya. Ino mengalirkan chakra ke telapak tangannya dan mulai mengobati Sora. Setelah selesai, mereka pun berdiri.
"Kau sendirian?"
"Iya, Todoke-sama aman bersama seorang shinobi Kusagakure."
"Begitu? Jadi kau sudah siap berangkat?"
"Kau sendiri?"
"...."
"Baiklah, kita berangkat sekarang."
"Apa benar di sini?" kata Ino tak percaya melihat jurang di depannya.
"Ya, markas persembunyian mereka ada di dalam jurang itu."
"T-tapi, kita kan tidak tau bagaimana penjagaan di sana."
"...."
Keduanya tampak berpikir panjang. Tiba-tiba Ino terpikirkan sesuatu. Ia melihat ke sekeliling pohon di sana.
"Ketemu! Sora, tolong jaga tubuhku ya, SHINTENSHIN NO JUTSU!"
Tiba-tiba tubuh Ino terhuyung dan Sora menangkapnya sebelum jatuh ke tanah.
Burung yang dirasuki Ino bertengger di ranting pohon.
'Jumlah mereka ada satu, dua... ya, ada dua orang. Baiklah, aku akan masuk ke gua itu.'
Burung itu pun terbang menuju gua.
"Apa kau tidak merasa aneh dengan burung itu?" isik ninja penjaga itu pada temannya.
"Dia menuju ke sini. Mari kita buktikan!" temannya itu pun melemparkan kunai pada burung itu.
'Hah! Mereka menyerang! KAI!'
"Hah!" Ino sadar, lalu ia bangkit berdiri. "Ada dua orang penjaga di luar markas. Tadi aku mau masuk ke dalam gua, tapi ternyata mereka curiga dan melemparkan kunai kepadaku. Makanya aku keluar dari tubuh burung itu."
"Baiklah, kalau begitu biar aku yang akan mengurus dua orang penjaga di luar, kau masuk saja ke dalam gua duluan."
"Baik!"
TBC
Jiah... Jelek banget! OOC dimana-mana. Terutama Sora, OOC banget! Romance nya juga belum nongol tuh!
Thanks buat semua yang udah nge-review chapter 2. Maaf, namanya gak bisa disebutin satu-satu *Author pemalas*. Tapi tetap review ya....
