Rated: T , T+, M
Main pair: Uchiha Sasuke X Uzumaki Naruto,
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre: Romance, Drama,Hurt/Comfort,
Warning: Shounen Ai, BL, Yaoi, Slash, Non-Canon, AU, OOC,OC, Smut, Badfic, Many Typo (s) maybe, M-Preg, dll….
Read and Review please? *tampang memelas bak anjing kecil, #Plaak.
Summary:
Kisah sepasang kekasih yang telah melalui banyak cobaan yang berat dalam hubungan mereka, namun masihkah hubungan yang mereka jalani kini masih seperti dulu jika seorang diantara mereka tak mengingat kebersamaan yang mereka lalui sebelumnya. Masihkah sama rasa cinta yang dimiliki oleh keduanya, ataukah hanya satu pihak saja yang memiliki rasa cinta yang begitu besar? Bagaimana kelanjutan hubungan mereka berdua? Akankah ingatan sang kekasih kembali? Yoshh ini sekuel dari "Love You, Touchan"…
Qqq Chapter 02 Qqq
"Bisakah kau tak memandangku seperti itu, Teme?" ujarku pada sosok yang sejak tadi—saat aku memulai memotong sayur-sayur ini hingga aku menyajikannya pada sebuah mangkuk besar—terus saja menatapku atau lebih tepatnya mengamati tiap gerak-gerikku.
"Hn," ujarnya yang sama sekali bukan jawaban.
"Sebaiknya kau segera berangkat atau kau akan terlambat," ujarku padanya.
"Hn," ujarnya lagi. Sudah cukup! Lama-lama aku bicara dengan mahkluk satu ini yang ada aku bisa masuk rumah sakit jiwa. Mengapa Tuhan bisa menciptakan mahkluk aneh seperti dirinya sih? ujarku dalam hati.
"Ryuu?" seruku memanggil sosok kecil yang sangat berharga bagiku.
"Ya, Touchan?" balas sosok itu, kemudian kulihat sosok kecil itu berlari mendekatiku.
"Ayo, sarapan sudah siap, tolong panggilkan Baachan, Jiichan dan Itachi ya?"pintaku padanya setelah ia berada didekatku.
"OK, Touchan," ujarnya kemudian berlari kecil melaksanakan apa yang aku pinta.
"Ryuu makin hari makin lucu," ujar sosok yang sejenak tadi tak kuhiraukan.
"Hn," balasku singkat.
"Sepertinya aku harus pergi," ujarnya lagi kemudian kudengar suara kursi bergeser, yang pastinya ia berdiri dari duduknya tadi. Namun tiba-tiba…
CUPPP…
"Aku berangkat Dobe," ujarnya santai setelah, setelah—sial! Aku lengah,lagi-lagi ia menciumku tiba-tiba. Hal yang aku tidak suka adalah efeknya—efek dari ciumannya padaku—yang membuatku jadi seperti ini, mati-matian berusaha menahan rona merah yang dengan cepat menyebar dipipiku—panas, dan debaran jantung ini yang semakin cepat, juga tubuh ini yang semakin lemas kehilangan tenaga.
"Sialan kau Teme!" umpatku pelan pada sosok yang sudah tak terlihat lagi diruangan ini.
::::LYT2::::
"Ne~ Sasuke-kun, hari ini boleh tidak aku main kerumahmu?" ujar seorang wanita bersurai pink pada sosok pemuda bersurai raven.
"Hn."
"Apa, itu artinya boleh?" Tanya sang wanita lagi.
"…" bukan jawaban yang ia dapat melainkan deathglare dari sosok pemuda itu yang merasa terganggu—bahkan SANGAT terganggu—diracau dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
"A—Ayolah, Sasuke-kun," rayu wanita itu lagi pada pemuda itu.
Rupanya sang pemuda sudah sangat cukup bersabar menghadapi wanita bertipe seperti wanita ini, keras kepala dan egois.
BRAKK..
Terdengar suara gebrakan meja yang dilakukan oleh sosok berambut raven itu sontak saja membuat penghuni ruangan kelas itu tiba-tiba terdiam yang mengakibatkan suasana kelas menjadi hening.
"Menjauhlah dariku sebelum kau menyesal." Ujarnya tegas pada sang wanita.
"…" ia hanya diam memandang sosok pemuda tampan incaranya selama dua tahundi universitas ini.
"Bukan aku yang akan menyesal Sasuke-kun, tapi kau. Kau yang akan menyesal karena telah meninggalkanku," ujarnya pelan masih menatap sosok yang sudah cukup jauh darinya.
PSTT, PSSTT…..
Terdengar bisik-bisik dari mahasiswa lain setelah sang tersangka penggebrak meja telah pergi.
"Diam kalian!" bentak wanita bersurai pink itu terhadap orang-orang didalam ruangan itu.
Dan seketika itu juga mereka yang tadinya berbisik-bisik langsung terdiam dan memulai aktivitas yang sempat tertunda tadi.
"Che!" umpat wanita itu, kemudianiapun meninggalkan ruangan kelas itu.
::::LYT2::::
'Akhirnya aku bisa bernafas lega saat ini,' ujarku dalam batin. Tentu saja. Sasuke hari ini pulang malam jadi setidaknya aku tidak akan merasakan perasaan aneh bila berada didekat mahkluk menyebalkan itu untuk beberapa saat kedepan. Yah, setidaknya aku bisa menikmati suasana tenang dan nyaman tanpa kehadirannya sejenak.
"TOUCHAAANN!" teriak seseorang memanggilku.
Tapi kurasa tidak bisa kunikmati suasana tenang dan nyaman jika 'malaikat kecilku' terus memanggilku dengan suaranya yang terlalu merdu.
"Ya, sayang, Touchan di ruang tamu," seruku padanya.
"Ne~,Ne~, Touchan,Lyuu punya kabal balu," ujar malaikat kecilku terlihat antusias.
"Berita apa, sayang? Hem?" tanyaku padanya. Kuangkat tubuhnya yang masih kecil, kududukkan diatas pangkuanku.
"Touchan tahu?" tanyanya padaku, yang tentu saja itu membuatku bingung.
"Tahu apa?" tanyaku padanya.
"Touchan, Lyuu akan jadi pengantin lhoo," ujarnya dengan cengiran lebar yang menandakan bahwa ia sangat senang. Namun aku yang mendengarnya tentu saja merasa cengo.
"Tadi, Lyuu dilamal ama Jilou lhoo Touchan, ini buktinya, katanya dengan ini Lyuu udah jadi pengantinnya Jilou, yeiiyy," ujarnya sambil menunjukkan cincin yang terbuat dari ilalang melingkar dijari manisnya. Aku yang mendengar dan juga melihat cincin itu hanya bisa menatap putraku tak percaya.
"Ne~ Touchan kenapa diam?" tanyanya padaku.
"E—eh? Aa, itu.. hemm, apa ya?" ujarku entah ingin atau harus mengatakan apa.
"Aah~ Touchan payah! Masak Lyuu ga dikasi selamat? Kan Lyuu udah jadi pengantinnya Jilou," ujarnya lagi padaku sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Aa—ha ha hmm," hanya gurauan tak jelas yang kukeluarkan.
'Astaga! Putraku dewasa sebelum waktunya, Ha~ah,' innerku.
"Ne~ Ryuu, Touchan senang melihat Ryuu bahagia, senang sekali. Hem.. tapi untuk saat ini Ryuu masih terlalu kecil untuk memikirkan mengenai hal ini, nanti jika Ryuu sudah sebesar Touchan, Ryuu barulah memikirkan hal seperti ini, Touchan tidak berniat melarang Ryuu menjadi pengantinnya Jirou atau tidak, tapi Touchan rasa untuk saat ini bertemanlah layaknya anak seumuran Ryuu. Apa Ryuu mengerti?" jelasku dengan pelan padanya. Ia nampaknya masih mencerna kata-kata yang tengah aku ucapkan untuknya, yah memang walaupun Ryuu pintar tapi ia masihlah anak kecil, dimana sebagian besar waktu yang ia miliki adalah untuk bermain dan bukannya mencerna tindak tanduk layaknya orang dewasa.
"Lyuu ga ngelti Touchan…" ujarnya setelah Nampak berpikir keras sejak tadi mencerna maksud ucapanku. Untung saja aku tidak mimisan melihat wajah putraku yang dihiasi kerutan-kerutan kecil dikeningnya, bukannya menambah kesan serius namun malah menambah kesan imutnya, kyaa~ jerit innerku.
"Ryuu ngga perlu mengerti sepenuhnya apa yang Touchan katakan, karena Ryuu saat ini masih berupa kuncup bunga ini, " ujarku sambil memperlihatkan kuncup bunga mawar yang berada dalam vas bunga di ruangan ini padanya. Ia yang melihatku menunjuk bunga itu hanya mengangguk kecil.
"Ryuu hanya perlu mengingat apa yang Touchan katakana saja, ok?" ujarku padanya, mengangkatnya keatas pangkuanku.
"Ne, Siap Touchan! Lyuu laksanakan, hehe," ujarnya sambil memeluk tubuhku. Akupun balik memeluknya. Putraku, belahan jiwaku yang sangat berharga.
::::LYT2::::
"Ada apa? Kau terlihat lesu," ujar sosok bersurai raven menghampiriku yang tengah duduk di halaman belakang kediaman Uchiha.
"Hanya sedikit lelah saja, lalu kau? Sedang apa kau disini?" ujarku menatapnya sekilas, sosoknya tak terlalu jelas terlihat—untunglah, seruku dalam hati—karena ia berdiri membelakangi cahaya bulan, hanya piyama putihnya saja yang dominan terlihat, yang lain hanya samar-samar dimataku.
"Mencari udara segar," ujarnya singkat, iapun mendudukkan dirinya tepat dibangku disampingku. Haa~ lagi-lagi jantungku berdebar-debar.
"Udara malam hari tak bagus untuk tubuh, sebaiknya cepat masuk sebelum terkena flu," ujarku menasehati. Yah setidaknya kegugupanku tiap berada dekat dengannya tak begitu terlihat.
Saat akan berdiri tanpa sengaja lenganku bergesekan dengan lengannya, entah mengapa aku bagai merasakan sengatan listrik dari pergesekan itu, semburat pink tipis menghiasi pipiku, terasa panas, darahpun rasanya menjalar kekepala dan berkumpul disana. Aku bergerak secepat yang kubisa, agar ia tak mengetahui apa yang terjadi pada perubahan wajahku.
"Dobe," ujarnya padaku ketika aku telah dalam posisi berdiri membelakangi dirinya.
"…." Tak ada sahutan apapun yang keluar dari bibirku.
"Dobe," ujarnya lagi padaku.
"…." Masih hening
"Dobe!" kali ini ia berseru padaku, akupun sedikit terlonjak kaget mendengarnya.
"…." Masih tetap hening, aku tak berani untuk membalikkan badan dan menatap kearahnya.
"Dobe! Dobe! Dobe! Dobe! Dob-"
"Berhenti memanggilku Dobe, Tem..e…" balasku padanya karena cukup kesal terus dipanggil dengan sebutan itu, kubalikkan badanku sambil mengucapkan kata itu padanya. Betapa terkejutnya aku melihat ia yang kini berdiri menatap lurus kekedua mataku.
'Tatapan ini, aku tahu tatapan ini,'
'Ta—tapi, dimana? Dimana aku pernah melihatnya?'
'Mengapa ia menatapku dengan tatapan seperti itu? Sebenarnya apa yang kulupakan tentang orang ini?'
'Mengapa detak jantungku seperti ini? Tak adakah yang bersedia memberitahuku apa yang sudah kulupakan?' batinku saat ini.
"Masih lupakah kau padaku?" ujarnya membuka pembicaraan setelah sekian lama keheningan terjadi.
"Maafkan aku," hanya kata-kata itu yang keluar dari bibirku saat ini. Namun jauh didalam hatiku ada sesuatu yang ingin berteriak dan melompat keluar, tapi seperti ada penyekat yang menghalangi sesuatu itu untuk keluar.
"Kau tak perlu minta maaf Dobe, karna akulah yang membuatmu seperti ini," ujarnya pelan namun masih dapat terdengar olehku. Mataku membelalak mendengar ucapannya.
"TOUCHANN!" teriakan itu menginterupsi pembicaraan antara kami, siapa lagi jika bukan putraku.
"Ya! Touchan segera kesana sayang!" seruku membalas teriakan dengan segera aku menundukkan kepalaku berpamitan padanya kemudian kuambil gerakan cepat—berlari—menjauhinya.
"Seandainya waktu bisa kuulang lagi," ujarnya diiringi dengan hembusan angin malam.
::::LYT2::::
'Pukul 2 pagi,' batinku. Sampai dini hari ini aku tak jua bisa memejamkan mataku, kata demi kata masih kupikirkan dari ucapannya tadi. Mengapa karna dia aku jadi seperti ini? Mengapa harus dia? Sebenarnya ada hubungan apa antara aku dan dia? Dan mengapa perasaan ini harus ada saat aku bersama dirinya? Pertanyaan demi pertanyaan datang silih berganti dikepalaku, aku tak ingin memikirkannya tapi mereka yang dengan berentetan datang menerjang isi kepalaku.
Dan efeknya sampai saat ini aku tak bisa tidur.
"Haa~h,"helaan nafasku saja yang terdengar saat ini.
'Sasuke…'
'Uchiha Sasuke…'
'Uchiha Sasuke… Sasuke…'
'Keluarga Uchiha…'
'Sasu—'
"AARGGHH!" jeritku tertahan, lagi-lagi kepalaku sakit, terasa pukul beribu-ribu martil, Sakit! Kugigit tepian selimutku, tak ingin membangunkan anakku yang tengah tertidur lelap.
Sakit! Ya Tuhan, mengapa terasa sakit begini?! Innerku.
Perlahan air matakupun menetes, akupun meringis sambil memegangi kepalaku yang entah mengapa malam ini terasa lebih menyakitkan dari pada malam sebelumnya.
-"Aku rasa perasaan kalian berdua sedang tak baik, jadi sebaiknya jangan pergi. Kalau pergipun kurasa percuma, aku yakin kalian tak akan menikmatinya selama kita disana.''
"Cukup. Sasuke jahat.. Lyuu baik-baik saja… Lyuu ga apa-apa.. jadi kita pelgi ya?"
"Huhuhu… Touchan jangan pisah sama Sasuke ya,, Lyuu sayang kalian,, Lyuu sayang Touchan juga Sasuke… jadi.. hiks.. jadi Lyuu ga mau Touchan pisah sama Sasuke.. huhuhu"
"Apa yang kalian berdua lakukan!"
"CUKUP! Hentikan ucapanmu itu pak tua. Naruto tak ada hubungannya dengan semua ini."
"Naruto? Jadi namamu Naruto? Sebaiknya sekarang tinggalkan kehidupan putraku, kau tak akan bisa memberikan kebahagiaan pada putraku, kalian sama sama laki-laki apa yang kalian pikirka dengan menjalani hubungan seperti ini hah! Tak ada, kalian hanya akan menambahkan beban pada orang lain, kalian akan mengahncurkan banyak orang disekitar kalian, kalian pun akan dibenci orang lain. Itu yang ingin kalian mau dari hubungan tak jelas ini ha?"
"HENTIKAN!" jeritku masih tertahan,serpihan-serpihan ingatan itu kini bermunculan dalam kepalaku. Air mataku mengalir semakin deras, menahan rasa sakit yang berdenyut di kepala dan juga rasa sakit dalam dada ini.
"ARGGHHH!" jeritku lagi, kali ini kulihat walaupun agak sedikit buram, Ryuu gelisah dalam tidurnya. Ingin kugapai tubuh kecilnya itu, menenangkannya dalam pelukanku, tapi apa daya, keadaanku saja masih sangat mengkhawatirkan, semakin berusaha kuulurkan tangan ini, semakin lemas dan berat pula tangan yang kugunakan, kesadaranku semakin menipis. Sakit yang mendera kepalaku semakin terasa berkali-kali lipat dari yang tadi, badanku lemas, mataku perlahan menutup masih dengan aliran air mata yang membasahi sebagian selimut dan juga bajuku.
"Sasu—ke," ujarku sebelum kututup mata ini.
::END OF CHAPTER 2::
Yippie…hai, hai hai, ku kembali lagi nih.. bawa lanjutan LYT2 nya.. ada yang kangen ama ku ga nih? #plakkk / ngarep abis.. lupakan saja ne~ readers, okay kita lanjut balas review dulu yee… nyookk…
Imperiale Nazwa-chan: hehe,makasi, makasi, ^^, wah kalau typo udah berusaha ku hindari tapi tu si typo bebal banget, #ngeles mood on =3, yaps begitulah kronologis gimana si naru hilang ingatan ada kok di Love You Touchannya… nyehehe, ni udah lanjut hehe, makasi udah review ya…^^
BlackXX: hehe ya panggil ku aj, yaps pas ntu lagi ga mood hehe, wah wah wah makasi, ku jadi kesandung, eh—ups kesanjung maksudnya hohoho.. =3, makasiih juga udah setia ngereview ficnya ku ya hehehe.. ^^
Devilluke ryu shin: hehehe, ini udah update shin san ^^, kyaknya yang ini blom termasuk kategori panjang, gomenne T.T, makasih udah review ya ^^
Guest: sedih sih tapi tenang hilang ingatannya ga lama kok nyehehehe, yoa bentoel sekali, kayaknya sih si Sasu-tempe eh maksudnya Sasu-teme makin mesum bakalan hohoho, entahlah ku juga sebenarnya ga tahu, (nah lho, apa-apaan nih authornya? =_=a kriik, kriikk), okay makasih udah ngereview ya..^^
Chooteisha Yori: wuadoooww muakasihhh banget yakkk hehhee,, # plaakk lebay mood on. Ni udah update kok, tapi maaf lama ya, makasih udah ngereview, hehe ^^
Dee chan-tik: nyehehe, makasih, makasih, makasih lhoo.. ni udah update kok, tapi maaf lama ya, makasih juga udah ngereview^^
Uzumaki nurma: hhehe, makasih, makasih. Ni udah ku lanjut kok, ya ga lama-lama kok tengang aja, hehehe. Makasih udah ngerevie ya ^^
Armelle'AquaMar'Eira: ARIGATOU… ^^, makasih semangatnya, ni udah lanjut kok, makasih juga udah review ya.. ^^
ryanfujoshiSN: yaps, tapi Cuma sebentar kok ga lama, hehe, wah makasih ya, ampe nyesek gitu, ingat ambil nafas ya,hehehe becanda, becanda, ni udah update, makasih udah ngereview ^^
dan terima kasih juga untuk readers yang sudah mem-follow maupun mem-favoritkan fic ini, ku senang n bahagia banget, maaf kalau updatenya terlalu lama ya, entah mengapa akhir-akhir ini moodnya jadi berkurang#jiaah ngeles lagi. Ok tanpa ba to the bi to the bu lagi,
akhir kata,
JA NEE MINNA… m(_ _)m
