Disclaimer: Hidekaz Himaruya – Hetalia: Axis Powers
Genre: Crime/Romance
Warning: M, Alternative Universe, Human Names Used, Typo(s), Out of Characters, Fan-Service, etc.
Vash menatap keluar jendela dengan tatapan sendu. Tangan dinginnya memeluk erat tubuhnya yang gemetar. Semua orang pasti berpikir kalau dialah orang yang telah membunuh Kakek tua itu. Tapi, sungguh, bukan ia yang melakukannya. Dengan bekas luka tembak di kepala Yao, bukan berarti kalau dia yang menembaknya. Memang Vash gemar mengoleksi berbagai senjata angin, tapi... tetap saja ini terlalu cepat untuk menuduhnya sebagai seorang pembunuh.
Di luar hujan masih turun dengan deras. Suasana dingin melingkupi seluruh ruangan. Vash tak menyalakan pemanasnya, sebab percuma saja jika hatinya saja sudah terlalu panas untuk tuduhan secara tak langsung itu. Pikiran Vash sekarang hanya tentang adiknya, Lili. Ia pasti sudah membuat adiknya kecewa. Bukan hanya itu, mungkin Lili sudah tak mau mempercayainya lagi. Lalu, Vash harus bagaimana?
"Kakak?" suara Lili terdengar dari balik pintu. Gadis itu mengetuk pintu kamar Vash untuk kedua kalinya. "Kakak ada di dalam, kan?"
Vash terdiam. Ia tak tahu harus bagaimana menghadapi Lili sekarang.
"Kak, kita bisa bicara, kan?"
Tak ada jawaban.
Lili menghela napas panjang. Lili berbalik dan berjalan kembali menuju kamarnya. Sepertinya percuma saja. Lili tak ingin memaksa Kakaknya. Memberi waktu untuknya berpikir mungkin itu yang terbaik yang bisa Lili lakukan untuk sekarang. Semoga Kakaknya baik-baik saja.
-0o0o0-
Menyebalkan! Menyebalkan! Ivan kau ini sangat menyebalkan~!
Ivan hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah aneh Alfred yang berjalan sambil terus meraba-raba tembok. Alfred terus menolak untuk dibantu berjalan oleh Ivan. Dasar keras kepala. Mau sampai kapan ia akan berjalan dengan gaya aneh seperti itu?
"Al, sudahlah, da. Kau terlihat seperti seorang pengintai kalau begitu."
"Halah, sudah diam, Ivan! Ini semua kan gara-gara kau juga."
"Oh, ya, kau bilang kan kalau kau tak mau lagi bicara lagi denganku?"
"Jangan ingatkan itu! Aku benci!"
"Oh, begitukah?"
Ivan menghela napas pendek, menempatkan tubuh Alfred dalam pelukannya dalam satu tarikan. Seketika wajah Alfred langsung memerah sampai ke telinga. Lelaki Rusia itu tersenyum.
"Al, kau ingat kan waktu-waktu saat kita bersama dulu?"
Sial!
"A-aku tidak mau mengingatnya."
Ivan mengembuskan napas pada telinga Alfred. "Tapi aku yakin kau belum bisa melupakannya. Begini saja, aku punya sesuatu di kamarku dan aku harap Al tidak marah lagi, da."
"Apa?! Kamar? Kau mau melakukan hal-hal aneh lagi, heh?!"
"Tidak, itu bisa kita lakukan kapan saja, kan?"
"I-Ivan!" tangan besar menutup mulut Alfred. "Mmmhh~."
"Kau ini berisik sekali, da. Nanti orang yang mendengarnya bisa salah sangka."
Ivan menarik tubuh Alfred masuk ke kamarnya. Tubuh Alfred terasa tak bertenaga untuk melawan. Lagi. Ia selalu tak punya kuasa untuk lepas dari cengekeraman Ivan. Lidah bisa saja terus menolak dan berbohong kalau ia tak mau disentuh oleh Ivan, tapi tubuhnya memang selalu jujur. Dan, perasaannya pada Ivan pun semakin bertambah besar, besar, dan besar.
Harus sampai kapan Alfred menggantungkan perasaannya pada hubungan yang sudah tak terikat lagi?
Harus sampai kapan Ivan menggodanya terus seperti ini?
Dan, harus sampai kapan Alfred menunggu Ivan mengucapkan kalau pria itu memang tak berniat meninggalkannya, ingin kembali padanya, lalu hidup bersama dengannya?
Sakit. Di balik setiap senyuman Ivan yang biasa, pria itu selalu bisa menyiksa orang lain secara tak langsung. Siksa batin.
.
.
Ivan mendorong tubuh Alfred ke atas tempat tidur. Wajah ramahnya berubah tanpa ekspresi, menatap Alfred dengan iris violet yang dingin, lalu melemparkan pandangan ke arah lain. Ivan mengunci pintu kamar. Alfred menggelengkan kepalanya sedikit takut.
"Tak usah takut seperti itu. Aku masih cukup waras untuk tidak memperkosamu di saat seperti ini, da."
"Lalu apa maksudmu dengan mengunci pintu kamar, heh?!"
"Aku hanya ingin berdiskusi saja. Aku tidak ingin ada yang menguping pembicaraan kita, da."
"Berdiskusi? Soal apa?"
"Mr. Wang."
Alfred memberanikan diri untuk menatap wajah tampan Ivan. "O-oh, y-ya, sudah."
"Aku sudah bisa menebak siapa yang membunuh Mr. Wang. Dan, kau pasti tidak akan percaya kalau 'orang itu' yang melakukannya."
"'Orang itu'? Siapa maksudmu?"
"Nanti saja kuberitahu, da. Lalu, kau lihat ini." Ivan menyerahkan ponselnya pada Alfred, menunjukkan beberapa gambar yang ia ambil sebelumnya. "Kau sedikit mengerti, kan, Al?"
Alfred menutup mulutnya, lalu mengangguk perlahan. "Pendarahannya sudah terhenti dan keadaannya... memucat. Tubuhnya juga sudah membiru."
"Seperti yang sudah kukakatakan di awal. dibunuh sekitar lima sampai delapan yang lalu. Darah yang mengalir dari bekas tusukan dan tembakan itu sudah terhenti bahkan mengering. Mengenai luka tembak itu, Mr. Wang ditembak setelah ia tak bisa memberi perlawanan."
"Kenapa bisa begitu?"
"Bekas tembakannya sampai menembus ke bagian belakang kepala. Itu berarti dia ditembak dari jarak dekat. Dan, mungkin 'orang itu' atau si pelaku ingin memastikan kalau Mr. Wang memang sudah tak bernyawa dengan cara menembaknya dari jarak dekat."
Kenapa Ivan bisa tahu sejauh itu?
Aku memang sempat melihatnya saat memeriksa mayat Mr. Wang dan dia melakukannya dengan sangat hati-hati. Seperti sudah terlatih untuk hal semacam ini. Lalu, ia pun yang mengusulkan agar kami tak menyentuh kembali tempat kejadian itu. Dia...ah. Setahuku Ivan tak punya basic seorang dokter, ahli patologi atau apapun itu. Dia kan hanya mahasiswa jurusan grafik desain, apa jangan-jangan... ah, tidak mungkin.
"Bukan..."
"Al?" Ivan mengangkat sebelah alisnya.
"Bukan kau yang melakukannya, kan? Bukan kau, kan?"
"... bagaimana, yah, aku menjelaskannya."
Arthur mengurut dahinya sambil sesekali mengelus alis tebalnya. Lee memang tak menunjukan ekspresi sedih atau apapun, tapi dari cara ia memandang, tatapannya jadi sedikit meredup. Pemuda itu tak mau mengatakan sepatah kata pun dari mulutnya. Ia jadi semakin pendiam. Kiku pun sudah mencoba untuk menghiburnya dengan memberikan beberapa doujinshi andalannya. Arthur sudah mengatakan kalau itu takkan berhasil dan, yah, memang tak berhasil.
Bayangan tubuh Yao yang bersimbah darah memang sulit dihilangkan dari pikirannya. Ia pun jadi merasa tak enak pada Elizavetha dan Gilbert. Padadal besok adalah hari bahagia untuk mereka, tapi kejadian pagi tadi benar-benar membuat keadaan menjadi di rundung kesedihan dan kecurigiaan pada satu orang. Memang benar, belum terbukti bahwa Vash yang melakukannya, tapi... luka tembak itu.
-0o0o0-
"Mungkin Wang-shifu benar mengenai hari pernikahan kami," ujar Gilbert lesu.
"Apa maksudmu, mon ami?"
"Y-yah, beliau mengatakan bahwa hari pernikahan kami sebaiknya diundur saja dan beliau menolak keras mengeai hari esok."
"Seperti sebuah firasatkah?"
"Aku tidak tahu pasti, tapi beliau bersikeras kalau ia tak pernah ingat menuliskan bahwa besoklah hari yang tepat untuk pernikahan kami. Benar saja, sejak kemarin sore cuacanya sudah berubah menjadi buruk, hujan deras mengguyur tempat ini, dan aku tak yakin bahwa besok akan berjalan seperti biasanya."
Francis mengelus dagunya yang berjenggot tipis. "Apa ada sesorang yang mengubah tanggalnya?"
"Ah, tapi bagaimana bisa?"
"Umm, ya, mana kutahu, moi. Tapi apa ini tidak aneh kalau Wang-shifu yang sejak awal sudah bersikeras kalau tanggal pernikahannya itu keliru ditemukan tewas dengan keadaan yang mengenaskan?"
Mulut Gilbert sedikit terbuka. "Teruskan Francis, teruskan."
"Aku tidak ahli dalam bidang seperti ini, tapi... aku yakin ada yang tidak beres dengan semua ini. Kau ingat kan saat pemuda Rusia itu mengatakan bahwa ia yakin kalau Wang-shifu itu dibunuh. Itu menandakan Wang-shifu mengetahui sesuatu mengenai pernikahanmu, mon ami."
"Aku mulai sedikit mengerti. Jadi..."
"Kalau perkiraanku benar, pelakunya pasti sudah merencanakan ini sebelumnya, dan ia pasti berencana menghancurkan pernikahan ini."
"Takkan kubiarkan hal itu terjadi."
"Kita harus segera membicarakan hal ini dengan yang lainnya."
"Ah," desahan Alfred terdengar keluar dari mulutnya. "Hah, a-ah, Ivan..."
"Sebentar lagi juga selesai, da. Maaf, kugeser kakimu sedikit, Al."
"I-Ivan, sa-sakit."
"Tapi kalau tidak kugeser, ini akan sulit dilakukan."
Alfred menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang melingkupi kakinya. "Berhenti, ha-ah, s-sudah. Ini sakit Ivan."
"Oh, Lord... ini kan karena kecerobohanmu sendiri. Sudah kubilang kau tidak bisa melihat tanpa kacamata, dan sekarang lihat sendiri kan, kakimu terkilir karena terjatuh di kamar mandi."
"Aku tahu, aku tahu! Pijatanmu hanya membuat kakiku semakin sakit!"
"Ya, sudah, ini sudah selesai, kok. Setidaknya luka memarnya tidak begitu terlihat lagi."
"... terimakasih."
"Sudahlah tak apa. Dan... walau suaramu memang tak enak didengar, tapi itu berbeda ketika kau..."
"Nah~ sudah, sudah, aku tak mau dengar!" Alfred menutup kedua telinganya. Wajahnya kembali memerah.
You are so cute, Al. Wajahmu ketika tersipu malu memang tidak pernah berubah. Mungkin kalau saatnya tiba, aku akan melamarmu lagi dan benar-benar menikahimu. Hanya saja... kalau kau sudah mengerti arti dari email-ku, da
"Ah, tadi kubilang aku punya sesuatu untuk Al, da." Ivan menyerahkan sebuah kotak kacamata berwarna merah pada Alfred. "Sejak dulu aku selalu membawa cadangannya kemanapun aku pergi. Yah, untuk berjaga-jaga saja, da"
"... sejak dulu. Sejak kita bersama, yah."
Tubuh Alfred gemetar. Berusaha menahan perasaannya yang sangat ingin keluar bebas dari dalam dadanya. Ivan merengkuh tubuh gemetar Alfred. Mengelus lembut punggung pemuda itu sembari membisikan bahwa semua tidak seperti yang terlihat di permukaan. Ivan sekarang ada di sisinya. Rasanya waktu ingin Alfred hentikan dan membiarkan Ivan terus memeluknya hangat. Terus. Terus-menerus.
Alfredka.
Ya vas lyublu ljublju tebal...
...
[Bersambung]
[Spoiler – Chapter 4]
Susunan kamar-kamar itu.
Alasan kenapa kunci-kunci hanya ada satu untuk setiap kamar.
Target yang seharusnya menjadi sasaran.
Tunggu. Kalau bukan ganjil berarti... oh, ya, Tuhan, aku mengerti. Lalu misteri tentang kamar Mr. Wang bisa dijelaskan secara rasional. Mr. Edelstein, Anda memang jenius. Sekarang tinggal mencari bukti yang menguatkan kalau memang 'orang itulah' yang membunuh Mr. Wang. Kemudian... Ivan. Aku harus segera bicara dengannya.
Sebuah hantaman keras mengenai bahu Alfred dan membuatnya jatuh tersungkur di atas lantai. Ia merintih menahan rasa sakit yang mendera, iris biru safir Alfred melihat wajah si pembunuh yang kini berdiri di hadapannya. Pembunuh berambut pirang itu memegang sebuah senapan angin. Alfred menahan napasnya. Orang itu bisa menebaknya kapan saja dan hanya tinggal menunggu waktu.
"Sepertinya kau sudah mengetahui tentang rahasia rumah ini, Alfred. Sebenarnya aku tak ingin melakukan ini padamu, tapi akan lebih baik jika kau diam untuk selamanya." Moncong senapan itu kini menghadap ke arah Alfred. "Akan kusampaikan salammu pada pemuda Rusia itu... jika aku ingat."
Alfred menutup matanya.
Ivan...
Alexandra Braginsky: wah, kebanjiran, yah. ((you don't say meme)) saya mah gak kebagian banjir untungnya. Yah, semoga bisa cepet bersekolah lagi, yah. Oh, iya, terus, terus, ayo buat lagi ajah draft RusAme-nya, tar saya baca, deh. Ganbarimasu yo~
Terus, soal repp review di FF sebelah, maaf, kalau kurang aksi. Tar saya banyakin baca FF begituan biar makin hot ((ditabok)) sama mungkin lain kali, agak disensor kata-kata vulgar Ms. Braginsky, kay?
Kan biar makin enak (?) dibaca, da.
Usa-chan: waha, kok bisa lupa pass gitu? Inget-inget lagi, deh. Dan soal FF yang itu, maaf, yah, saya udah gak bisa bantu lagi. Sendiri juga pasti pasti bisa, kan. Pasti bisa. Saya selalu tunggu update-an Usa-chan, loh.
[A/N]
Maaf, kalau chapter ini jadi pendek. Tapi saya simpen yang panjang di chapter depan, , itu yang bahasa Rusia bener, gak, sih. Saya gak mau nanya sama gogle tranlate, takut salah.
Mungkin saya harus kelas autopsi kali, yah, biar makin jelas soal beginian. ((yaelah, beda jurusan, Lind)) Fuwah, bentar lagi FF ini tamat, kok. Jadi saya bisa fokus sama FF saya yang lain, deh. Oke, gak ada hubungannya, da. Terimakasih yang udah review, saya senang. Sampai ketemu di chapter depan.
Kuroneko Lind
