Disclaimer : 'Bleach' milik Tite Kubo. Fanfic ini milik author.
WARNING : AU, OOC SANGAT T.T
Tolong maafkan Author yang masih baru di dunia fanfiction ini.. kalau ada salah, mohon diperbaiki.. (_ _)
Baiklah, selama ini pasti ada berbagai pertanyaan di benak para pembaca, seperti :
"Kalau Rukia takut sama cowok, kenapa nggak dimasukin ke sekolah khusus putri aja?"
"Kok Rukia mau sih kencan sama Ichigo?"
"Kok Rukia nggak takut sama Byakun?"
"Kok Rukia takut sama cowok?"
Hhhoohho, semua pertanyaan di atas akan Author jawab. Tapi pelan-pelan saja yaa.. :D
Okeh, check this one out *again :D
Wish you will not bored , happy reading guys
And thx buat segala masukannya ya teman-teman
TRUTH #3 : Pieces of memorize
Rukia berjalan pulang dengan tergesa-gesa dan Ichigo Kurosaki tetap mengikuti di belakangnya dengan langkah mantap. Rukia tidak memercayai dirinya sendiri karena dia baru saja mau menerima ajakan kencan anak berambut oranye yang tidak berhenti mengawasi atau mengikutinya.
Baiklah Rukia, setelah kencan ini dia akan berhenti mengikutimu. Bukankah tadi dia sudah berjanji?
Sesampainya di rumah, Rukia buru-buru membuka gerbang. Setelah menutup gerbang, Rukia membukanya lagi, mengintip ke luar.
Ichigo Kurosaki sudah menghilang. Rukia mendesah lega.
"Rumahmu bagus juga ya."
Rukia menoleh, Ichigo Kurosaki sudah berada di belakangnya. Di dalam halaman rumahnya.
"Kau? Kau? Bagaimana kau?" tanya Rukia dengan tatapan tidak percaya.
"Melompat?" jawab Ichigo sambil mengangkat kedua alisnya.
"Seperti pencuri," tuduh Rukia dengan kesal.
"Hahahahhaa… Jangan marah Kuchiki-chan, aku hanya ingin tahu dimana rumahmu."
"Kalau kau hanya INGIN TAHU," bentak Rukia menekankan di dua suku kata terakhir yang dia ucapkan. "Kau cukup melihatnya dari luar, Ichigo–san. Tidak perlu sampai masuk dengan cara melompati pagar," koreksi rukia lalu menambahkan dengan tegas. "Seperti pencuri. Dan oh.. aku tidak tahu, bagaimana mungkin kau bisa melompati pagar tanpa suara seperti itu?"
Ichigo hanya tersenyum lebar kemudian beranjak pergi dari tempatnya semula berdiri.
"Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana mungkin aku bisa seperti itu Rukia-chan, tapi kurasa itu salah satu keahlian yang diberikan Tuhan untukku supaya bisa menjadi pencuri hatimu," balas Ichigo sambil mengedipkan sebelah matanya.
Rukia mengerang sementara Ichigo hanya tertawa lalu meninggalkan halaman rumah Rukia.
"Sampai ketemu besok Rukia-chan," kata Ichigo lagi sambil melambaikan kedua tangannya, tampak sangat bahagia.
Rukia hanya bisa mendesah panjang, berharap ini semua segera berakhir karena menurutnya dia sudah mulai tenggelam dalam rayuan si rambut oranye.
"Aku pulang..," teriak Rukia seperti biasa, namun kali ini kakaknya tidak berlari menghampirinya untuk bertanya apa yang terjadi padanya hari ini. Tanpa pemberitahuan pun Rukia tahu kalau kakaknya tidak menyapanya berarti kakaknya saat ini sedang lembur di kantor. Rukia sebenarnya sangat kasihan melihat kesibukan Byakuya yang justru semakin bertambah setelah mereka pindah ke kota ini.
Rukia melempar tasnya sembarangan di dalam kamarnya dan langsung merebahkan diri di atas ranjang. Tapi segera beringsut bangun ketika sadar bahwa dia belum memasak makan malam. Kakaknya walaupun lembur, tapi setiap pulang pasti akan berteriak, "Aku lapar," sehingga Rukia mau tidak mau harus memasak untuk kakaknya, daripada nanti dia harus bangun tengah malam dan menghadapi rengekan kakaknya.
Rukia segera mengganti seragamnya dan menuruni tangga menuju dapur. Sebenarnya Rukia sangat lega karena kakaknya tidak ada di rumah, karena kalau kakaknya ada di rumah pastinya kakaknya akan menghujani dia dengan berbagai pertanyaan tentang siapa anak yang tadi dia teriaki di halaman rumah.
Rukia mulai memasak. Keheningan membuat Rukia teringat akan kenangan bersama orang tuanya.
"Ibu….," Rukia kecil merengek sambil memegangi celemek ibunya di saat ibunya sedang memasak di dapur.
"Ada apa Rukia-chan?" tanya ibunya lembut kemudian mengelus kepala Rukia.
"Aku juga mau bisa masak."
"Tentu Rukia-chan, kalau sudah besar nanti, ibu akan mengajarimu masak."
"Benarkah, Bu?" mata Rukia kecil berkilat saking senangnya.
"Tentu Rukia-chan."
Rukia mendesah panjang. "Rupanya itu yang ibu maksud, dan kenapa aku baru ingat sekarang?" Rukia tersenyum kecil. Tapi senyumnya langsung hilang karena janji ibunya tidak pernah terwujud. Kenapa? Karena dirinya.
Rukia mulai menangis, dia ingat hari itu. Saat umurnya genap enam belas tahun, saat dia duduk di kelas tiga SMA dan meminta ibunya untuk mengajarinya masak.
"Tentu Rukia-chan, dulu waktu kecil kau juga pernah minta diajari memasak," jawab ibu Rukia sambil tersenyum ramah ketika Rukia remaja memintanya untuk diajari memasak.
"Benarkah?" Tanya Rukia sambil mengangkat kedua alisnya, "aku tidak ingat kalau waktu kecil aku ingin sekali bisa memasak."
"Hahahaha.. oh iya, kenapa tiba-tiba?" tanya ibu Rukia penuh selidik.
"Hmm… aku hanya ingin bisa memasak, Bu," jawab Rukia tanpa menatap mata ibunya. Dan ibunya tahu kalau Rukia pasti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Pasti untuk anak itu, kan? Kalian sebentar lagi lulus, dan kau pasti ingin sekali memberikan dia masa-masa SMA terakhir yang indah. Salah satunya dengan membuatkan bekal."
Analisis ibunya menusuk hati Rukia, ibunya benar. "Ayolah… jangan bertanya lagi kalau ibu sudah tahu."
Ibu Rukia tertawa. "Baiklah, ibu akan mengajarimu. Tapi besok, setelah kau pulang sekolah, oke?"
"Baik ibu…," Rukia mencium kening ibunya kemudian berteriak. "Yes!" dan berlari menuju kamarnya.
Rukia menangis mengingat kenangan masa lalunya. "Oh damn, aku benci kesunyian," kata Rukia dalam hati kemudian menuju ruang tengah yang dekat dengan dapur untuk menyalakan televisi, menyetel penuh volumenya sehingga bisa terdengar sampai ke luar rumah.
Hati Rukia masih sangat pedih mengingat dia sama sekali tidak bisa belajar memasak saat itu, karena setelah hari itu, tidak ada esok hari lagi bagi Rukia. Semuanya gelap dan hancur.
Rukia menangis, melempar semua yang bisa dia jangkau. Dia tidak bisa menahannya lagi, emosinya langsung tidak stabil kalau sudah mengingat kenangan masa lalunya. Terlebih lagi tidak ada seorang pun di sisinya yang menghentikannya, tidak ada seorang pun yang membuat dia bisa berhenti mengingat kenangan masa lalunya.
"Aku pembunuh," Rukia berteriak, tapi teredam oleh suara volume televisi. "Ayah… ibu… aku membunuh ayah dan ibu!"
Rukia menggapai remote televisi dan melemparnya ke tembok. "Kenapa aku tidak mati saja saat itu!" tangis Rukia semakin menjadi-jadi. "Aku…," Rukia terduduk lemas, kemudian terjatuh. Dirinya merasa sangat lelah, ya sangat lelah. Matanya terasa berat, Rukia memejamkan matanya kemudian berusaha tertidur. Samar-samar isakan Rukia masih terdengar, tapi teredam oleh suara televisi yang kini menayangkan ramalan cuaca untuk keesokan hari.
Matahari pagi masuk melalui celah jendela, membuat Rukia terbangun dan berusaha menghindari cahaya yang menyakiti matanya.
"Aku dimana?" Rukia terkejut, kemudian kembali tenang ketika dia sadar sedang ada di kamarnya, "Oh Tuhan…," desah Rukia kemudian turun dari ranjangnya.
"Kau sudah bangun?" tanya kakaknya yang kini sedang membuat sesuatu di dapur.
"Iya, nii-san yang membawaku ke kamar?" tanya Rukia sambil menarik kursi di meja makan.
"Tentu saja, kau hampir membuat rumah kita terbakar. Tidak baik meninggalkan kompor menyala sementara kau tertidur," saran Byakuya Kuchiki sambil tersenyum. Rukia membalas senyum kakaknya dengan terpaksa.
Byakuya pasti tahu apa yang terjadi dengan Rukia semalam, tapi dia hanya diam saja. Dan itu membuat Rukia merasa sangat tidak enak terhadap kakaknya.
"Lalu bagaimana nasib masakanku semalam?" tanya Rukia berusaha menepis perasaan di hatinya.
"Kalau saja masakan itu tidak gosong, aku rasa nasibnya akan berakhir di perutku," jawab Byakuya sambil tersenyum lebar dan meletakkan piring berisi roti bakar. "Selai kacang dan coklat kesukaanmu."
Rukia tersenyum kemudian melahap roti buatan kakaknya.
"Oh iya Rukia, nanti malam kakak akan menghadiri rapat bersama beberapa rekan kerja," kata Byakuya memberitahu adiknya. "Kau tidak apa-apa kan, kalau kutinggal sendiri?"
"Tentu saja nii-san, tidak apa-apa. Lagipula nanti malam aku juga punya acara," jawab Rukia tanpa melihat wajah Byakuya.
Byakuya mengerutkan keningnya, "kemana? Dengan siapa?"
"Dengan rambut jeruk. Dan aku sendiri tidak tahu akan pergi kemana."
"Kurasa anak itu pasti punya pesona yang bisa membuatmu mau pergi kencan dengannya," kata Byakuya dengan ekspresi kurang senang.
"Aku menyetujui pergi dengannya, dengan syarat setelah itu dia harus berhenti menggangguku."
"Oh. Tapi Rukia, apa kau yakin akan pergi dengannya?" tanya Byakuya mulai was-was.
"Dia pria yang baik nii-san," Rukia menarik nafas agak dalam, sebenarnya dia tidak benar-benar tahu Ichigo itu pria yang baik atau tidak. Dia hanya berusaha agar kakaknya tidak khawatir. "Dia akan menjagaku."
"Oh yeah? Sama seperti yang si brengsek itu dulu lakukan padamu," umpat Byakuya yang langsung menaruh roti bakarnya. "Mengingatnya membuat nafsu makanku hilang."
"Sudahlah nii-san, dia dan makanan sama sekali tidak ada hubungannya. Sebaiknya kau habiskan makananmu," Rukia sedikit memaksa. Paksaannya berhasil, walaupun Byakuya memakan roti itu sambil cemberut.
"Jam berapa kau akan pergi? Oh Tuhan, tiba-tiba saja aku merasa membenci pria itu. Boleh kutahu siapa namanya?"
"Ichigo, Ichigo Kurosaki. Dan aku akan pergi jam setengah tujuh," jawab Rukia sambil tersenyum memandang kakaknya. Berusaha memperbaiki suasana hati kakaknya. Kalau tidak, kakaknya pasti tidak akan jadi ikut rapat, tapi malah membuntuti Rukia dan Ichigo.
"Baiklah, aku berangkat rapat jam lima, padahal aku berharap bisa bersantai hari Sabtu ini," keluh Byakuya.
Rukia masih memandangi kakaknya dengan senyuman sampai akhirnya kakaknya menyerah dan berbalik tersenyum padanya.
"Kau bingung mau memakai baju apa?" tanya Byakuya dengan nada sinis ketika dia memergoki adiknya membongkar lemari pakaian.
Rukia tidak tersenyum, tapi masih mengaduk-aduk lemari bajunya. Melempar beberapa pakaian ke atas kasurnya.
"Aku lupa kalau aku pernah punya baju-baju seperti ini," jawab Rukia yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Byakuya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Sudahlah…," Byakuya memasuki kamar Rukia. "Akan kupilihkan satu untukmu," kata Byakuya sambil mengumpulkan baju-baju yang sudah Rukia keluarkan dari lemari dan melempar baju-baju itu kembali ke dalam lemari. "Yang satu ini sudah cukup untukmu."
Byakuya menyisakan satu pakaian, pullover berwarna putih.
"Di luar akan sangat dingin Rukia, kau ingat, kan? Ini masih musim gugur," kata Byakuya.
Rukia tersenyum, memaksakan senyum sebenarnya. Karena pakaian yang kakaknya pilihkan sebenarnya justru adalah pakaian yang sangat tidak ingin ia kenakan.
"Baik nii-san," Rukia menyanggupi karena tidak mau mengecewakan kakaknya.
"Bagus. Kau tahu? Aku sangat suka kau mengenakan pakaian ini. Terakhir aku melihatmu mengenakan ini sambil tersenyum dengan bahagia."
"Tentu saja!" batin Rukia.
"Hei, ngomong-ngomong ada kejadian apa hari itu, ya? Kau tidak menceritakan apapun pada kakak waktu itu."
"Tidak ada nii-san," kata Rukia. "Aku sudah lupa. Dan karena aku sudah lupa, pastinya itu kejadian yang tidak penting, bukan?"
Byakuya hanya bisa mengangkat bahunya. "Baiklah. Dan Rukia, kakak percaya padamu kalau malam ini kau akan pulang dengan baik-baik saja. Karena kalau tidak, aku bersumpah, tidak akan melepaskan siapapun yang melukaimu. Tidak seperti saat itu."
Rukia tersenyum dan memeluk kakaknya . "Terimakasih nii-san, kau memang yang terbaik."
Byakuya membalas pelukan adiknya yang mungil. Satu hal yang sangat dia sadari saat ini. Dia sangat menyayangi Rukia, dan akan melindungi adiknya dari apapun yang terjadi.
Rukia duduk di atas ranjangnya sambil memandangi langit yang berwarna biru tak berawan melalui jendela kamarnya ketika kakaknya sudah tidak ada lagi di kamar itu. Rukia memandangi pullover itu dalam-dalam dan meraihnya. Rukia kemudian mengenang masa lalunya, masa lalunya dengan orang itu, orang yang sangat dia cintai. Orang yang selama empat tahun sudah menjadi pacarnya. Orang yang meminta Rukia untuk menjadi kekasihnya ketika mereka sedang berkencan, dan saat itu Rukia mengenakan pakaian yang sedang ia pegang saat ini.
Tapi itu semua hanya kenangan, kenangan yang sebenarnya tidak ingin Rukia hapus. Karena menurut Rukia, orang itu tidaklah bersalah atas segalanya. Apapun yang terjadi, itu karena kesalahan Rukia. Orang itu pergi pun karena kesalahannya. Ya, kesalahannya.
Itu semua menjadi kesalahannya, karena Rukia buta dan tidak tahu siapa yang patut disalahkan selain dirinya yang kotor itu. Seandainya dia lebih tegar, maka segalanya seharusnya menjadi lebih baik dulu.
Tapi Rukia kini pun tak ingin menyakiti dirinya sendiri dengan berandai-andai.
"Nii-san tidak berangkat?" tanya Rukia yang heran karena masih melihat kakaknya bersantai-santai menonton televisi padahal sebelumnya bilang kalau akan pergi jam lima.
"Aku menunda rapat, jadi jam tujuh. Aku hanya ingin melihat wajah anak itu," jawab Byakuya santai sambil melahap cracker beras.
"Pemimpin yang egois," kata Rukia datar kemudian menaiki tangga menuju kamarnya.
Satu jam kemudian, terdengar suara pintu rumah keluarga Kuchiki diketuk. Byakuya berlari menuju pintu. Tapi sekelebat bayangan mendahuluinya.
"Aku yang buka," halang Rukia sambil merentangkan tangannya di hadapan Byakuya.
"Baiklah."
"Dan jangan ikut membuka pintu!" perintah Rukia sambil menatap tajam ke Byakuya. Lirikan mata Rukia membuat Byakuya tahu, adiknya menyuruhnya kembali ke depan televisi.
Byakuya mengerang, namun tetap mematuhi perintah adiknya. Karena kalau tidak, adiknya pasti akan marah dan tidak mau memasak untuknya selama beberapa hari.
Setelah Byakuya berbalik, Rukia berteriak untuk orang yang sedang menunggu di pintu. "Sebentar."
Rukia membuka pintu rumahnya, di depannya tampak Ichigo dalam balutan jaket dan celana jeans. Tampak sangat kasual.
"Dimana ayah dah ibumu?" tanya Ichigo. "Aku mau meminta izin dari mereka untuk mengajakmu pergi keluar."
"Tidak perlu," Rukia menggeleng kuat-kuat. "Kita pergi saja. Sekarang!" kata Rukia dan langsung menutup pintu setelah merengsek maju ke samping Ichigo.
"Kau yakin?" tanya Ichigo skeptis.
"Tentu saja," jawab Rukia. "Dan boleh aku tahu? Kemana kita akan pergi?"
"Ke pusat kota tentu saja," jawab Ichigo dengan senyum lebar.
Mereka berdua pun meninggalkan kediaman Kuchiki. Byakuya menatap adiknya dan Ichigo pergi dengan tatapan tajam."Mirip dengan pria itu rupanya," gumamnya.
Ichigo mengajak Rukia ke sebuah Restoran Sushi. Restoran Sushi ini sangat sederhana, dindingnya dicat sedemikian rupa sehingga nampak seperti dinding kayu. Rukia dan Ichigo duduk di pojok restoran yang dinding sebelah kanannya hanya berupa jendela besar sehingga Rukia bisa melihat dengan jelas suasana di luar restoran.
"Di sini sangat ramai ya," gumam Rukia menatap ke luar jendela.
"Tentu saja," Ichigo menyahut sambil mengambil makanan yang diantarkan oleh pelayan restoran.
"Kau tidak suka keramaian?" tanya Ichigo kemudian memakan Sushi pertamanya.
"Agak tidak suka," jawab Rukia yang kemudian mengambil sumpit untuk memakan sushi dihadapannya.
"Oh iya, kenapa kau tidak masuk sekolah khusus putri saja Rukia? Kalau masuk ke sana tentunya kau tidak akan pernah berurusan dengan laki-laki bukan?" tanya Ichigo di sela-sela acara mengisi perutnya.
Rukia diam beberapa saat, kemudian menjawab Ichigo dengan senyum yang dibuat-buat. "Kalau aku masuk ke sekolah putri, tentu nantinya aku tidak bisa bertemu denganmu, Ichigo."
Ichigo mendengus. "Bagus, kau menggodaku."
Rukia tidak tersenyum lagi, kau fikir kenapa? Aku juga ingin masuk sekolah putri, tapi mereka tidak mau menerima siswi bermasalah sepertiku.
Rukia meringis.
"Ada yang salah, Rukia-chan?" tanya Ichigo khawatir.
"Tidak ada," jawab Rukia segera. "Aku sudah selesai makan, kita bisa pulang atau tidak?"
"Tentu saja tidak," jawab Ichigo cepat. "Aku sudah bilang akan membuatmu menyukaiku setelah kencan perdana kita."
"Aku tidak pernah ingat kau mengucapkan itu, yang kuingat hanya saat kau bilang bahwa aku yang tidak akan berhenti mengganggumu setelah kencan perdana kita."
Ichigo mengerenyitkan keningnya. "Baiklah, itu maksudku."
"Aku bosan," kata Rukia kemudian. "Aku ingin segera keluar dari tempat ini."
"Oke, aku akan mengajakmu berkeliling. Mungkin kita bisa ke game center atau… apa kau punya ide tentang harusnya kemana kita pergi berkencan?"
Rukia mengangkat kedua alisnya.
"Baiklah, aku tidak pernah kencan sebelum ini, "wajah Ichigo mulai memerah. "Jangan meledekku."
Rukia sama sekali tidak menanggapi pengakuan Ichigo dan langsung beranjak dari tempatnya duduk. Rukia menunggu di luar restoran sementara Ichigo membayar tagihan mereka.
"Ayo kita berkeliling, kau yang jalan di depan Rukia," pinta Ichigo sambil menatap Rukia.
"Tidak, aku yang di belakangmu, mengawasi," tolak Rukia tegas. Namun rupanya malam ini Ichigo tidak mau kalah.
"Kalau aku yang berjalan di belakangmu, aku tidak akan tahu seandainya ada yang menculikmu di belakangku."
"Tidak akan ada yang menculikku, jeruk. Aku akan baik-baik saja di belakangmu. Atau bagaimana kalau kita pulang saja?" Rukia sedikit mendesak.
"Kau kenapa sih? Tidak betah jalan denganku?"
Rukia diam. "Mungkin."
"Tidak," Ichigo menggeleng kuat-kuat. "Kau harus pergi denganku. Dan karena salah satu dari kita tidak mau mengalah untuk berjalan di belakang yang lain, maka dari itu aku akan berjalan di sampingmu─ tidak, jangan menolak," tegas Ichigo ketika Rukia membuka mulutnya. "Karena setelah ini, aku akan berhenti mengganggumu. Aku berjanji. Jadi aku mohon, turuti keinginanku malam ini."
Rukia mengerang, tapi beberapa detik kemudian Rukia menganggukkan kepalanya, "tapi ingat, jangan dekat-dekat denganku, jeruk."
"Baiklah."
Rukia Kuchiki dan Ichigo Kurosaki pun berjalan mengelilingi pertokoan yang ada di pusat kota, Rukia baru tahu kalau ada sisi lain dari kota kecil yang dia tempati. Yang selama ini dia fikir hanya kota kecil tanpa pusat perbelanjaan maupun game center.
Tapi ternyata tempat seperti itu ada, di sini, di pusat kota.
Seperti di Tokyo.
Rukia kembali mengingat masa lalunya, Rukia berusaha menahannya.
Sudahlah Rukia, sudah setahun berlalu.
"Kau kenapa?" tanya Ichigo melihat ekspresi Rukia yang berubah, dia terus mengamati Rukia sejak tadi.
"Aku haus, bisa kau belikan minum untukku?" pinta Rukia kemudian bersandar di salah satu dinding pertokoan.
"Baiklah," Ichigo menyanggupi, lalu pergi meninggalkan Rukia. "Jangan kemana-mana, tunggu aku disitu."
Rukia hanya mengangguk. Ichigo berlari kecil mencari mesin penjual minuman yang tampaknya tidak ada di sekitar mereka.
"Rukia-san?" panggil sebuah suara, dan itu membuat Rukia mengangkat kepalanya.
"Oh, Orihime."
"Waaaah, kebetulan. Sedang apa kau disini, Rukia?" tanya Orihime dengan tatapan rasa ingin tahu.
"Aku sedang menunggu Kurosaki," jawab Rukia. Jawaban yang menunjukkan dia sedang tidak berada dalam mood yang baik.
"Jadi kau benar-benar berkencan dengan Kurosaki?" tanya Ichigo dengan nada terkejut.
Rukia menatap Orihime heran. "Iya. Apa ada masalah?"
"Masalah? Kau bertanya apa ada masalah? Tentu saja ada Rukia-san," jawab Orihime segera. Air mukanya tampak sangat panik.
"Apa masalahnya?" tanya Rukia bingung.
"Astaga, jadi kamu tidak tahu? Baiklah, kamu memang tidak pernah tahu karena tidak pernah berkumpul dengan kami," jelas Orihime. "Ichigo itu berandalan, sering telat dan bolos masuk sekolah."
"Lalu kenapa? Sering bolos dan telat masuk sekolah itu sama sekali bukan masalah bagiku," sahut Rukia.
Orihime menarik nafasnya dalam-dalam. "Dengar ya, Kuchiki-san, dulu Ichigo pernah mengajak kencan seorang gadis, dan gadis itu pulang sambil menangis. Esoknya keluarganya langsung pindah. Mereka pindah tanpa pemberitahuan. Tiba-tiba menghilang dari kota ini. Kesimpulannya, Ichigo melakukan sesuatu di malam kencan mereka sehingga membuat gadis itu langsung kabur dari kota ini."
Rukia mulai terpengaruh. "Benarkah?" Rukia mulai ketakutan.
Ichigo bukan pria seperti itu Rukia, selama ini dia baik padamu!
Rukia menepis jauh-jauh suara hatinya.
"Tentu saja itu semua benar Rukia, aku tidak pernah bohong," jawab Orihime mantap. "Sebaiknya kau ikut saja dengan kami."
"Baiklah."
"Keputusan yang tepat, Kuchiki-san," senyum Orihime mengembang. Dia bermaksud mengajak Rukia untuk ikut acara Goukon karena mereka masih kekurangan teman.
Ichigo meremas kaleng jus yang ada ditangan kanannya, air mukanya langsung berubah ketika melihat Rukia tidak ada di tempat seharusnya dia menunggu.
"Rukia Kuchiki, kamu ada dimana?" Ichigo bertanya dalam hati. Dan segera membalik tubuhnya, mencari-cari Rukia.
Rukia!
Rukia!
Rukia!
Kau ada dimana?
Ichigo mulai uring-uringan karena dia tak kunjung menemukan Rukia. Dia mengelilingi pertokoan, menyusuri gang-gang sempit. Tapi dia tidak menemukan Rukia.
Keringat membasahi tubuhnya, nafasnya terasa sudah mau habis karena lelah berlari. Namun dia harus menemukan Rukia.
Sekelebat senyum Rukia muncul di benak Ichigo, dan senyum Rukia itu membuatnya serasa punya kekuatan lagi.
Bukankah sudah kukatakan untuk tidak meninggalkanku, Rukia? Kamu kemana?
Ichigo sangat khawatir dan panik.
Apa mungkin Rukia sudah pulang ke rumah?
"Namaku Orihime Inoue, dan ini temanku Rukia Kuchiki," Orihime memperkenalkan diri kepada para teman Goukonnya. Murid-murid lelaki dari SMA di kota sebelah. "Senang sekali rasanya kalian mau jauh-jauh kemari hanya untuk menemui kami."
Rukia hanya tersenyum menatap lelaki di hadapannya. Cowok berkacamata yang kata temannya bernama Uryuu Ishida.
Rukia merasa tidak terlalu buruk karena rupanya mereka tidak terlalu memperhatikannya. Dia dan Ishida seperti dikucilkan, tapi Rukia merasa senang-senang saja.
Jadi dia tidak perlu khawatir kalau-kalau ada yang mau menyentuhnya.
Oke Rukia. Semuanya tentu tidak akan menjadi buruk. Tidak akan. Batin Rukia kemudian fokus ke arah makanan dan minuman yang dihidangkan di depannya. Mereka sekarang berada di sebuah kafe yang remang-remang. Rukia tahu kenapa kafe ini remang-remang, karena memang sengaja dibuat begitu agar terkesan romantis. Disini banyak terlihat pasangan yang saling bermesraan.
"Rukia-chan!" panggil sebuah suara.
Rukia menoleh, oh tidak!
Byakuya Kuchiki berdiri di samping meja mereka, menatap nanar ke arah Rukia.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Bukannya tadi kau pergi dengan Ichigo? Apa yang dia lakukan padamu?"
Rukia terkesiap. Tapi segera memperbaiki raut mukanya. "Teman-teman, aku boleh pergi duluan, tidak?" pinta Rukia pada Orihime, Momo, dan entah siapa namanya. Rukia bahkan hanya mengenal Orihime dan Momo Hinamori di dalam kelompok Goukon mereka.
Orihime mengangguk. Dia merasa Rukia sudah boleh pergi karena rupanya teman Goukon mereka tidak mempermasalahkan jumlah pasangan karena ada satu cowok yang sepertinya tidak tertarik untuk mencari pasangan. Jadi sah-sah saja kalau Rukia mau pergi.
"Terimakasih," kata Rukia manis lalu menarik lengan kakaknya menjauh.
"Apa yang kakak lakukan di sini? Katanya rapat," kata Rukia setengah berbisik agar tidak menyedot perhatian pengunjung.
"Rapatnya di tempat ini," jawab Byakuya. "Tapi aku akan segera mengakhirinya. Kau harus kena beberapa hukuman dan omelan malam ini."
Byakuya kemudian meninggalkan adiknya berdiri di tengah ruangan. Dia pergi ke sebuah meja bundar yang lumayan besar di pojok ruangan. Anggota rapat tampak mengangguk. Setelah lima menit berlalu, Byakuya kembali ke sisi Rukia.
"Ayo kita pulang!" perintah Byakuya.
"Oh Tuhan, aku dalam masalah," batin Rukia kemudian memutar bola matanya.
"Tidak Kak, aku tadinya pergi dengan si jeruk. Aku tidak bohong. Sumpah," Rukia berusaha menjelaskan dan membuat huruf V dengan dua buah jarinya di kata terakhir. Mereka berdua sedang berjalan menjauhi pusat kota.
"Lalu kenapa kau bisa ada di kafe itu tanpa si jeruk?" Byakuya terus berusaha meminta penjelasan dari adiknya.
"Tadi kami berpisah karena…"
"Karena apa Rukia? Kakak sudah pernah bilang padamu. Kalau kau pergi ke luar rumah, kau harus memberitahu akan pergi kemana, dan kau tidak boleh bohong. Karena kalau kau bohong, bagaimana kakak bisa menemukanmu seandainya kau menghilang lagi?" mata Byakuya berkilat saking marahnya.
Rukia baru akan membalas perkataan kakaknya, tapi sudah di potong lagi oleh Byakuya.
"Kau harus jujur dengan siapa kau akan pergi Rukia. Pergi dengannya, berarti kau harus pulang dengannya. Berapa kali harus ku katakan padamu, Rukia?" Byakuya mulai membentak adiknya. Membuat orang di sekitar mereka menoleh.
Rukia tahu kenapa kakaknya sangat marah. Alasan kakaknya marah begitu kuat. Yakni karena Rukia pernah melakukan kesalahan dan berakibat fatal. Kakaknya hanya tidak ingin hal itu terjadi lagi.
Karena tahu dirinya salah, Rukia kemudian bergelayut mesra di tangan kakaknya.
"Baiklah aku salah," aku Rukia. "Kakak jangan marah lagi ya?" pinta Rukia manja.
"Tidak. Kau harus dihukum. Sesampainya di rumah, kakak akan memikirkan hukuman yang pantas untukmu."
"Aku akan memasak masakan spesial untuk kakak," Rukia terus merayu.
Byakuya tetap pada pendiriannya. "Tidak."
"Ayolah…," pinta Rukia manja.
"Rukia-san!" teriak seseorang, Rukia kenal teriakan itu. Suara Ichigo Kurosaki. Rukia dan Byakuya langsung berbalik.
Di belakang mereka berdiri Ichigo Kurosaki yang nampak penuh dengan keringat. "Akhirnya aku menemukanmu," kata Ichigo sambil terengah-engah.
"Kurosaki…," Rukia panik. Dia merasa bersalah.
"Aku menemukanmu. Dan aku sepertinya sekarang melihat dirimu yang sebenarnya," Ichigo menatap tajam Rukia.
Mereka kini sudah jauh dari pusat kota. Tinggal sekitar 300 meter lagi dan mereka akan sampai di halte bis. Bis yang harus mereka naiki untuk sampai di pusat kota. Hanya perlu 10 menit menggunakan bis dari pusat kota menuju halte terdekat dengan tempat tinggal mereka. Di pinggir Kota Karakura. Pinggiran kota yang sepi dan damai.
"Apa maksudmu?" tanya Rukia, rasa bersalahnya mulai menghilang.
"Aku baru saja meninggalkanmu sebentar dan kau malah langsung bergelayut mesra begitu dengan seorang om-om."
Kening Byakuya berkedut, sedikit tersinggung dibilang om-om.
Ichigo terus melanjutkan ocehannya yang penuh dengan amarah. "Di sekolah kau bahkan tampak jijik bersentuhan dengan laki-laki. Tapi disini? Oh Rukia, kau benar-benar munafik. Aku tidak tahu kau wanita seperti ini. Berakting tidak suka laki-laki di sekolah agar kedokmu yang sebagai wanita penghibur om-om itu tidak ketahuan."
Rukia sangat tersinggung dengan ucapan Ichigo. Apa haknya marah-marah sebelum tahu kenyataan?
Baru saja Rukia mau membuka mulutnya, Byakuya sudah maju kehadapan Ichigo dan menghantamnya tepat di wajah.
"Rukia bukan gadis seperti itu. Jaga omonganmu bocah."
"Dasar om-om genit, kau tahu apa hah?" sergah Ichigo lalu melayangkan tendangannya ke kepala Byakuya, tapi berhasil di tepis dengan mudah dengan satu tangan oleh Byakuya.
"Masih terlalu dini untuk bisa mengalahkanku yang juara nasional karate se-Jepang ini, bocah," kata Byakuya menyombongkan diri sambil terkekeh.
Ichigo kembali berusaha menghajar Byakuya, dan kini melayangkan tinjunya ke perut Byakuya. Namun Byakuya dengan sigap meraih kepalan tangan Ichigo dan memutar tangan Ichigo ke punggungnya.
"Hentikan!" teriak Rukia, tapi tidak di pedulikan oleh Byakuya. Sebenarnya Rukia juga ingin menghajar Ichigo. Tapi karena Rukia tidak bisa menyentuh Ichigo, jadi Rukia merasa bahwa satu atau dua pukulan untuk Ichigo terasa pantas sebagai akibat perkataannya yang tidak sopan barusan.
Byakuya memelintir tangan Ichigo, membuat Ichigo mengerang kesakitan. Ichigo berusaha melepaskan diri. Akhirnya tangannya terlepas dari cengkeraman Byakuya, namun tinju Byakuya langsung mengenai telak wajah Ichigo. Dan terakhir Byakuya menendang perut Ichigo dari depan. Ichigo langsung jatuh terduduk.
"Sudah! Hentikan! " bentak Rukia sambil melayangkan tendangan ke kepala kakaknya. Byakuya menepis tendangan Rukia.
"Aku rasa segitu sudah cukup," kata Byakuya kemudian dan menggandeng tangan Rukia. Mengajak Rukia pergi.
Namun Rukia berhenti di hadapan Ichigo. "Aku memang wanita seperti ini. kau sudah tahu sekarang, kan? Jadi, berhentilah mendekatiku , Ichigo."
Ichigo memegangi perutnya yang sakit dan menatap nanar ke arah Rukia.
Rukia bersama Byakuya meninggalkan Ichigo yang babak belur sendirian. Rukia merasa inilah yang terbaik, Ichigo Kurosaki tidak boleh mendekatinya lagi. Ichigo Kurosaki harus jauh dari dirinya, sebelum dirinya jatuh cinta pada bocah jeruk itu dan membuat keadaan menjadi semakin buruk.
Akhirnya chap ini selesai juga *author ngelep keringet
Kok makin lama rasanya makin panjang yaa. Ah sudahlah *buang muka.
Oh iyaa, mengenai para reviewer yang penasaraan, sabar yaa bentar lagi kok, dikit lagi. ihhiihhihiih. Dikiiiit lagi. dikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.
*author hobi bikin orang penasaran XD
Author seneng banget deh di kasi saran dan pujian (geer) sama para reviewers. Tottemo arigatou (_ _)
Berhubung Ichigo sedang sedih, dan Rukia menghilang. Jadi saya pribadi yang akan membalas para reviewers, jangan kecewa yaa
Untuk :
Aizawa Ayumu Oz Vessalius : iya dooong, Rukia kan pairna Ichigo. Ichigo harus jatuh cinta dong . ahahah XD
My sensei : arigatou sensei, jangan dibankai yaa *manja
Nana Naa : sabar ya nana naa , bentar lagi kok. Keep reading aja *maksa secara halus. Haha
Kokota : lam kenal balik kokota , kenapa ya sama nii sama dia gak takut? Ada kok jawabannya, keep reading pokokna XD
Kurosaki Miyuki : belum saatnya kissu, tapi pasti ada. Jelas lah. Aku kan pecinta Romance. Hihihhi XD. Makasi banyak yaaa miyuki-san.
Vvvv : gimana hayo kencannya? Hihihi, udah dibaca, kan? Maaf ya bikin toshiro main kasar. T^T *dilempar ember besi
Merai Alixya Kudo : lam kenal balik pasti jadian kok. Hihihi
Reiji – senpai : iyaah senpai, makasi ya dukungannya selama ini. Aku kuat karena senpai :D *apa deh
Kianhe Tsuji : makasi ya kia udah datang lagii , aduuh, maaf ya kia, chap ini belum dikasi tahu. Step by step. Hihihihi *dilempar kipas angin (?)
Yurisa-Shirany Kurosaki : haloo. Salam kenal balik aduh, makasi ya atas pujiaannya *author nari-nari. Makasi banyak atas sarannya juga. Aku seneng banget. Okeh. :D
Author sebenernya lagi sibuk menjelang ujian. Tapi Author masih nyempetin waktu buat nulis ff. Author juga pengen banget baca ff nya para reviewers, tapi pas libur aja deh. Maaf ya kalau author tidak mengunjungi kalian, tapi Author janji. Nanti setelah libur. Bulan maret tepatnya, Author akan mengelilingi akun-akun anda sekalian XD
Thx udah mau sempet ngereview cerita Author.
Keep reading, review n reveiew again.
Thx so much all.
God bless you.
and thx a lot for my editor 御剣 怜持 sensei (_ _)
See ya at next chapter
