Dua pasang kaki itu melangkah-langkah kecil. Berlari saling mengejar di tengah hamparan ilalang liar yang menari.

Tawa mereka menggema. Tak mempedulikan sudut-sudut ilalang yang mengusik wajah mungil mereka. Dinikmatilah oleh mereka lembayung pagi yang masih berseri. Sang bola api menghangatkan pagi, cakrawala yang menaungi.

Tawa mereka menggema. Salah satu dari mereka terjatuh dengan sengaja, Masih tertawa, menghindari serangan beruntun yang dikeluarkan sosok kecil serupa dengannya.

.

Tungu, siapa dia?

.

Ah, lagi-lagi dia lupa. Tentu saja itu saudara—kembar—nya. Mereka berbagi tanah, alasan itulah yang menyebabkan mereka hampir tidak bisa dibedakan secara fisik.

Tidak dengan kepribadian.

Mereka berdua saling bertukar senyum setelah salah satunya menghentikan serangan beruntun. Sama-sama berbaring dihamparan rumput dan berhadapan satu sama lain, lantas mereka terkekeh geli. Menertawakan segala hal yang telah mereka lakukan selama ini.

Sosok beruang dan kelinci kecil ikut andil, mengambil tempat tiba-tiba diantara mereka seolah merajuk karena telah dilupakan.

Akhirnya, bersama, mereka menutup mata. Menikmati desiran angin yang berbisik lembut, kicauan burung yang terbang membentuk formasi ke arah selatan.

Sejenak, dilupakanlah oleh mereka tanggung jawab sebagai mahluk istimewa. Mereka bukan mahluk biasa, tapi mereka tentu tetap memiliki sifat manusia.

Mereka terikat dengan bumi. Merekalah sumber kehidupan tanah yang mereka pijak. Mereka adalah rumah alasan tujuan bagi orang-orang pulang.

"Alfred! Matthew!"

Suara itu memanggil, membuat yang dituju melongokkan kepala sebelum akhirnya tersenyum lebar serempak. Tak peduli bahwa nama yang disebut itu berbeda dengan nama mereka sebelumnya, Maska dan Kanata.

Ah, itu Papa dan Ayah!

Dan segeralah, mereka menyambar kawan masing-masing kemudian berlari bersamaan keujung bukit dengan tawa riang yang menyenangkan.

Dirauplah mereka bersamaan dengan satu pelukan hangat. Bersama, empat orang itu berbagi tawa yang bergema dibawa angin.

Ah, merekalah contoh keluarga yang berbahagia.

.

America!

.

Tes.

.

Eh, apa ini? Rintik hujan mulai turun?

Si kecil bermata biru lantas menatap langit yang warnanya tak lagi sama dengan irisnya. Mengabaikan perdebatan tentang-siapa-yang-memasak-malam-ini yang dilakoni oleh kedua orang dewasa dan secara tak langsung diklaimnya juga saudaranya sebagai-pasangan-suami-istri-orang-tua-mereka.

.

America!

.

Tes. Tes.

.

Ah, langit sudah kelabu. Ditambah hembusan angin yang tak lagi pelan seolah membawa pesan bahaya.

Butiran-butiran air mulai mengenai wajahnya. Dingin.

Mata bulatnya kembali berpaling. Memperhatikan dua orang yang masih asyik meribut. Dilihatnya sosok kecil lainnya—ah,siapa itu? oh ya, saudaranya—yang membalas tatapannya dengan pandangan lugu.

"Ayo pulang," ajaknya. Tapi saudaranya tak mengubris. Si pemilik mata violet itu malah mendekati kedua uhukorangtuanyauhuk yang masih asyik meribut dan kini sudah saling adu pedang. Seolah tak mengerti bahwa dia bisa berada dalam bahaya jika ikut bergabung kedalam perselisihan itu.

Terkadang, pribadi mereka mirip...

.

Tes. Tes. Tes.

.

Bisa! Bocah ini bisa melihatnya!

Empat figur gelap itu berdiri. Memperhatikan mereka dari jarak yang tak bisa diukur oleh satu jari—tidak, bocah kecil ini amat menyadari kalau pandangan mereka tertuju kearahnya!

Siapa mereka? America seperti mengenal tapi entah kenapa pikirannya terasa buntu.

Tiba-tiba saja ia merasa ketakutan memenuhi hatinya apalagi setelah melihat senyuman yang lebih pantas disebut seringai penuh arti.

.

Dia takut!

.

Tes. Tes. Tes.

.

Dan disaat ia berbalik untuk memperingatkan keluarganya atas bahaya yang menanti, ia menyadari kalau semuanya terlambat.

Pemandangan disekitarnya menjadi gelap—seolah mendung menelan apapun yang dinaungi.

Bocah kecil itu menggigil, sebagai bentuk apresiasi ketakutan yang menjadi.

Mana ayahnya? Papanya? Saudaranya?!

Ia takut!

Kelinci kecil yang tadi dipelukannya pergi entah kemana.

Ia benci sendirian!

(Entah kenapa, ia merasa bersalah pada saudaranya...)

Bola matanya bergerak-gerak liar. Mencoba menghindar dari empat figur gelap yang mengeluarkan aura intimidasi menegaskan kalau mereka yang berkuasa kini.

Ia takut! Ia merasa familiar tapi dia takut!

Melihat senyuman-senyuman yang tak manis itu, America tahu...

Apa yang ia lupakan?

Aku ini Hero... bocah kecil itu meyakinkan diri sendiri. Dan Hero tidak takut apapun. Tapi jika mereka hantu...

Semuanya terlalu cepat.

Yang ada di bukit padang rumput itu hanya kelabu. Angin yang bergemuruh menyampaikan bahasa langit.

Jadi, disaat rintik air semakin menjadi dan tangan-tangan gelap itu mencoba menjangkaunya—

.

"AMERICAAAAA! BANGUUUUUUUUUUUUUUUUN!"

BRUUUUSSS

...guyuran air sukses membawanya kembali pada alam realita.

.

.

.

DIET

Disclaimer: Papa Himaruya, saya pinjam anak-anakmu ya!

Story: Hay Anime-14

Warn: OOC,Gaje,Abal,non Canon, gak sesua EYD, Typos and miss typos, dll OC ALERT! MAAF BAGI YANG NONI!

OC FEM!INDO: Kirana Paramesti Nusantara

OC MALE!MALAY: Razak Abdul Parawa coretKirklandcoret(Harusnya sih, NUSANTARA)

OC MALE!SINGA: Dan Simha coretKirklandcoret(Harusnya sih, NUSANTARA)

OC MALE!BRUNEI: Darojatun Lukman coretKirklandcoret(Harusnya sih, NUSANTARA)

*Saya tahu saya gak kreatif*

.

Bagi yang merasa enek, gak suka silahkan tekan tombol back atau exit. Maksa baca, bukan paksaan saya kan?

~Happy Reading, Minna~

.

.

.

ATTENTION!

Dalam rangka membantu 'Program Diet' pihak kedua, dibawah ini daftar PERATURAN DASAR yang wajib dijalankan oleh pihak kedua:

1. Selama berada di kawasan wilayah Pihak Pertama, Pihak Pertama berhak melakukan apa saja karena apapun yang diucapkan oleh Pihak Pertama selalu benar. Kekuasaan mutlak ada di tangan Pihak Pertama. Segala seuatu perbuatan dilarang menyalahkan Pihak Pertama karena Pihak Pertama hanya bersifat membantu.

2. Sebagai Pihak Kedua, Diwajibkan mengikuti semua yang diucapkan oleh Pihak Pertama. Semuanya, tanpa ada protes, bantahan dan jika ada pertanyaan 'mengapa', maka kembali ke peraturan yang pertama.

3. Jika ada segala sesuatu yang bersangkut paut menyebabkan Pihak Kedua merasa tersiksa, mati rasa, ter-dzalimi, dan lain sebagainya—dipastikan, kembali ke peraturan yang kedua.

4. TAMBAHAN—Jika ada permintaan dari pihak kedua, pihak pertama yang menentukan izin tidak diizinkannya permintaan tersebut.

.

Berdasarkan keterangan diatas, itu hanyalah daftar PERATURAN DASAR. Pihak pertama berhak menambahkan peraturan-peraturan lain yang tidak tertulis. Apapun bentuk segala hal yang melanggar peraturan-peraturan dasar, Pihak Pertama berwenang menjatuhkan SANGSI apapun pada Pihak Kedua.

Peraturan ini sudah disetujui oleh masing-masing pihak.

Yang Bertanda Tangan Dibawah ini.

Pihak Pertama: Keluarga Melayu

Pihak Kedua: United State of America

(Piagam itu dipasang di ruang tamu sebagai bentuk kesepakatan.)

.

.

.

.

America masih menggigil.

Bukan, bukan berarti dia masih membayangkan salah satu 'kenangan' manis yang bertransformasi menjadi sebuah mimpi buruk.

Tidak! Dia tidak takut dengan mimpi buruk itu karena dia HERO!

Butir-butir air masih berjatuhan dari rambutnya yang sangat basah—mengingatkannya akan rintik hujan pada mimpinya. Dan juga—kesadarannya belum sepenuhnya bangun.

Hey—baju bagian atasnya juga amat basah. Orang itu langsung menariknya dari lantai tiga menuju ruang makan di lantai satu tanpa memberikan waktu untuk berganti baju.

America mau protes!

Tapi ia ingat peraturan nomer dua...

Bisa gak sih bangunin dengan cara yang wajar?!

"Salahmu sendiri tak bangun-bangun walau sudah diciprati air. Jadi, awak guyur saja sekalian. Dasar kebo."

(Malaysia. Razak Abdul Parawa. 47 tahun Independence. Pelaku.)

America menatap sangsi mengiringi backsound lagu Sakitnya tuh Disini. Ngebangunin sih, ngebangunin, tapi enggak usah pake air sebaskom juga kali!

(Jauh dalam hati, America sangat berterima kasih.)

Manik birunya menatap jam analog yang berbunyi tik-tok tik-tok di dinding.

Gila. Ini masih jam setengah 4 kurang sableng!

America kembali menatap Malaysia dengan keki tapi sang target tak mempedulikan. Sibuk menyendok nasi ke piring.

Makanan. Tapi mata America masih menuntut minta ditutup. Meja didepannya keliatan melambai-lambai bertransformasi menjadi bantal...

Emang bisa?

SPLAAAK!

"Jangan tidur lagi, America." Singapore berkata setelah sebelumnya menggampar belakang kepala si Super Power dengan handuk. Perhatian sekali. "Nanti makanannya kena iler kamu."

Perhatian sama makanannya, maksudnya.

America nguap. "Tapi ini masih pagi." Diusapnya belakang kepalanya yang nyeri sekaligus mengeringkan rambutnya yang kelewat basah. "Makasih handuknya, ngomong-ngomong."

"Itu dari Uma." Singapore enggak tsundere kok. Emang kenyataannya dari Brunei yang lagi asyik nyeduh teh manis.

"Kan sudah dibilang untuk bangun pagi, America," kata Brunei sembari nyeruput tehnya yang masih mengepul. Nikmat sekali. Mengikuti gaya mantan ExMotherlandnya yang beralis tebal. America jadi pengen.

"Ta-tapi ini TERLALU pagi! Orang-orang masih terlelap sekarang!"

"Ini jam biasa orang buat sahur, America." Si negeri minyak ASEAN dengan sabar menjelaskan. "Sahur itu kebutuhan untuk orang puasa sehari penuh. Lagian udara pagi sehat. Bukannya sudah kubilang untuk bangun pagi?"

"Ta-tapi—" America masih mencari celah untuk berkilah. "Kupikir, pagi jam 8. Rapat selalu mulai jam 10."

"Lu kira sarapan?"

"Jangan gitu, Lon. America belum terbiasa ama perbedaan waktu. Biarkan dia belajar untuk bangun lebih pagi mengingat waktu di Amerika asli jauh dari kata pagi."

Indonesia, kamu sama sekali enggak ngebantu tahu.

Sementara sang negeri Pertiwi tengah asyik menata makanan dibantu Brunei, tiba-tiba saja gerakannya berhenti.

"Ah!" Lalu berseru. Membuat perhatian empat Nation tertuju pada tuan rumah yang merupakan seorang wanita satu-satunya

"Aku belum ngasih sahur ke para peliharaan!" Dengan begitu Indonesia setengah berlari meninggalkan ketiga adik serta tamunya yang berdiam di meja. "Sahur aja duluan! Dan, Kanishta, singa sama orangutan kalian aku aja yang ngasih!"

"Peliharaan?" America bertanya bingung setelah Indonesia benar-benar tak terlihat oleh pandangan.

"Ehm." Singapore acuh tak acuh memainkan tabletnya. Makanannya belum tersentuh. Ia enggak berniat sahur sebenarnya, tapi ini baru hari pertama. Kapan lagi dia bakal ngumpul bareng keluarga? Dingin-dingin gini tapi dia gak bakal malu ngasih perhatian lebih ke keluarganya. Beda ama kakak nomer duanya yang menganut aliran tsundere warisan mantan mentor mereka. Dia ini tipe DPK—diam-diam perhatian keluarga.

Terus, mana mau dia gak melihat keadaan America pas sahur? Apalagi kalau si tokoh pernistaan kita menyadari hal 'itu'.

Ah, dia emang gak peka. Kira-kira kapan nyadarnya ya?Singapore bertanya-tanya dalam hati.

"Begini-gini, para peliharaan-peliharaan kami juga dilatih untuk puasa dari zaman dahulu kala." Brunei menyambung dengan senyuman di wajah memenuhi perannya sebagai orang paling baik dan pemilik hati suci dalam cerita. Mungkin. "Ah, ngomong-ngomong bukan peliharaan dalam tanda 'kutip' ya. Kalau mereka mah, teman. Eh, peliharaan juga teman sih mengingat kami sudah hidup bersama dari kita kecil."

Anggap aja kayak hubungan Kumajirou ama Canada. Thailand ama gajahnya. Australi dengan koalanya. Dan hubungan Nation lain dengan hewan hidup-sematinya(?).

Dan America punya Tony. Walau dia bukan binatang, ngomong-ngomong.

Oke. Gak nyambung.

"Oh—tunggu, MEREKA JUGA IKUTAN PUASA?!" America langsung heboh, gak habis fikir. Keluarga macam apa yang mengikut sertakan peliharaan dalam puasa?(America sendiri lupa kalau dia pertama kali puasa kini) Ini sih melanggar hak asasi binatang! Maksudnya—maaf—mereka 'kan gak punya akal pikiran?! Naluri mereka 'kan hanya untuk makan dan bertahan hidup! Dan apa tadi Brunei bilang peliharaan-peliharaan?!

"EMANGNYA MEREKA BAKALAN NGERTIII?!

America belum tahu apa yang akan dilakukan para peliharaan untuk masa depannya nanti.

"Berisik kau, America. Mereka bukan peliharaan biasa karena mereka sudah terbiasa." Malaysia menyuapkan nasi dengan potongan dendeng kedalam mulut dengan tiga jari tangan kanan tentunya. Sunnah Rasul. "Bilang aja kamu kalah dan malu dengan binatang yang lebih terbiasa puasa tidak sepertimu."

Ngek. Moga muka America enggak berubah jadi tomatnya Spain, Tuhan.

"Lebih baik buruan sahur. Entar keburu imsak dan kamu enggak bisa makan lagi." Brunei sebagai yang selalu jadi pihak menengah mengingatkan America akan kebutuhan wajibnya.

Ah, bodo amat dengan harga dirinya yang dibandingkan oleh hewan peliharaan. America sekarang lapar—dan dia memang selalu lapar ya, ralat.

Lihat hidangan diatas meja. Ada nasi didalam bakul, dendeng kayak punya Malaysia, bakwan jagung, sayur asem, telur balado, sambel terasi, ayam goreng~hmm sedapnya~~apalagi ini hidangan Nusantara!

Tapi America merasa ada yang kurang.

"Aku mau burger."

"Enggak ada burger. Sudah, makan apa yang ada," kata Malaysia acuh. Dalam hati mengumpat, Syukuri apa yang ada napa! Masakan Indon itu surga luar biasa!

"Benar kata Kak Razak, Syukuri apa yang ada. Diluar belum tentu orang bisa sahur seperti sekarang." Brunei mulai berkhutbah.

Tapi America bersikeukeuh. Menggembukan pipinya ia merajuk, "Tapi aku mau burger."

England ngajarin apa sih. Ni anak manja banget, sumpah, gak nahan—Tangan Malaysia sudah gatel pengen langsung ngelempar pisau diatas meja. Tapi dia punya sisi 'S' yang lebih suka ngeliat korbannya tersiksa-siksa. Jadi mending liat America menderita dengan acara-acara pada hari pertama puasa dan juga seterusnya.

Kapan lagi ngeliat Super Power terhina tak berdaya—Dalam hati Malaysia ketawa sadis.

"Tapi enggak ada burger disini, America." Brunei tetap bersabar.

"Aku bawa burger banyak kok. Ada di kamarku."

Ah, ini dia yang Singapore tunggu-tunggu.

(Pura-pura enggak dengar, Singapore menenggelamkan diri dalam dunia virtual tablet. Membiarkan sebuah senyum terlukis tipis.)

"Kamar?" Brunei membeo, dahinya berkerut.

America mengangguk heboh. "Iya! Aku akan mengambilnya dan makan burger saja!"

"Maksudmu, burger yang ada dalam koper biru bergambar Captain America?"

"IYA! Yang itu!"

"Ah." Brunei memasang senyuman simpatik. "Maaf America, tapi itu tidak bisa."

"Hah? Tidak boleh?"

"Bukan begitu, hanya saja—"

"—Burger-nya sudah enggak ada." Malaysia memotong ucapan Brunei. "Tu koper tiba-tiba nongol di ruang keluarga. Dibawa sama mereka kayaknya. Terus isinya sudah dibagi-bagiin ke warga sama Dan juga Indon."

"EEEEH?!"

"Tanyakan sama Dan, sebagai bukti."

"SINGAPORE?!"

"Ah—ya, ada apa?" Singapore berkata seolah ia baru keluar dari dunianya. Tak tahu apa-apa dengan memasang wajah tanpa dosa. "Oh iya, yang isinya burger 'kan? Sudah dibagi-bagi ke warga bareng sama Kak Kiran. Kita enggak tahu itu punyamu karena kamu enggak bertanya."

Dusta.

"APAAAA?!" America menjerit nyaring tak terima. Meja dipukul pelan sebagai pelampiasan(Soalnya kalau kencang America enggak mau makanannya tumpah seketika). "Itu—itu persedianku sebulan..."

Lu kira tu burger enggak bakal basi?

"Ah, ada apa ini?" Indonesia tiba-tiba sudah duduk pada kursi disamping Malaysia. Biar Author jelaskan susunannya. Mereka duduk di meja makan bentuk persegi panjang untuk delapan orang. Bagian ujung dibiarkan tak terisi. Disisi kanan, ada Brunei dan Singapore. Diseberangnya, Indonesia, Malaysia tak lupa America.

"Indonesia..." America bersiap meminta—penyebab Malaysia mendesis tak suka. "Aku mau burger."

"Ah." Indonesia tersenyum menanggapi. "Maaf America, burger-mu kami bagi-bagikan pada warga yang membutuhkan. Dan tak ada burger untukmu sebulan ini sebagai salah satu program diet."

"TIDAAAAAAAAAAAK!"

Malaysia tertawa. Puas sekali.

.

.

.

.

.

.

Bersedekah itu amal ibadah, America.

Brunei Darussalam. Darojatun Lukman. 31 tahun Independence. Berkhutbah.

.

.

.

.

.

.

America ngegulet. Terus garuk-garuk pantatnya santai banget. Dia baru selesai sahur dan sekarang ada di ruang santai. Akhirnya dia makan nasi, dendeng, bakwan, jagung, ayam goreng sama sayur asem. Dia enggak ngambil telur balado dan sambal terasi. Enggak kuat dia ama pedasnya yang naudzubillah.

Tadinya dia pengen nambah—seenggaknya enam porsi lagi. Enggak kenyang dia walau sudah makan sepiring penuh. Tapi keluarga Melayu menolak habis-habisan dengan alasan, porsi makan kini mereka yang mengontrol.

America pengen nangis. Pengen pulang. Pengen ngadu ke England. Kebebasan yang selama ini ia umbar-umbar serasa direbut paksa. Tapi dia pengen juga berat ideal.

Diliriknya jam analog yang tik-tok-tik-tok di dinding terus tersenyum bahagia.

Ah, masih kurang dari setengah lima pagi. Tidur lagi boleh kali~

Baru saja menapak kaki di anak tangga pertama. Tapi sudah diinterupsi sama sang tuan rumah nomer satu.

"Mau kemana kau?"

"Eh? Balik ke kamar lah!" Enggak tahu kenapa America menjawab dengan bangga. Kembali enggak peka dia sama keadaan.

Indonesia menatap America seolah dia orang dari planet tetangga. Dan please, jangan buat Author menambahkan karakter Planet Moe disini.

"Ditolak."

"EEHHH? Kenapa?!"

America tanpa disadari telah mengingkari peraturan kedua.

"Karena aku selalu benar." WOIWOIWOI! Jangan nyasar ke fandom sebelah WOI!

Canda ding, karena Indonesia kita tercinta amat baik hatinya, dengan segenap jiwa dan raga ia menjelaskan, "Enggak bagus tidur lagi habis sahur. Entar kau tambah gemuk."

Indonesia, kau baiiiik sekali. Saking baiknya itu perhatian ama sindiran sangat luar biasa beda tipisnya!

Tatatata-tapi—America nyoba protes. Tapi dia entar ngelanggar peraturan—lagi. Ah, bodo amat! Yang penting ada alasan yang bisa diterima oleh otak!

Modus dikit lah, waktu tidur lima menit itu berharga!

"Aku mau ganti baju, Indonesia. Tadi basah karena diguyur air sama Malaysia!" America berkilah, sekaligus mengadu. Berniat mengadu domba dua saudara walau ia tahu akan terjadi perang dunia tiga dadakan dalam rumah. Teheh.

"Bajumu 'kan sudah kering."

Ah—Mission Failed.

"Ta—tapi!" America enggak mau gagal. Demi kasur empuk lima menit menanti ia tetap coba untuk bernegosiasi. "Rasanya risih! Masih lembab! Kalau aku masuk angin gimana?"

(Nation gak mudah sakit loh, America. Apalagi kau Nation luar biasa.)

Dipoles dikit, biar muka makin meyakinkan, America masang wajah T^T.

Kokoro Indonesia JLEEEEEEB! Gak kuaaaaat! Moe-nya overload!

(Dengan susah payah Indonesia nahan darah yang ngalir dari hidung.)

"Baiklah."

"YEEEEEES!"

"Lima menit."

"Eh?"

"Waktunya lima menit untukmu berganti baju dan kembali turun."

"EEEEH?! Tapi waktu buat naik tangga aja se—"

"Empat menit."

"IYAAAAA!"

America berlari terbirit-birit.

Dengan ini saya menyatakan modus kembali gagal.

.

.

.

.

.

.

"Korupsi waktu lima detik. Push-Up tiga kali untuk tiap detik yang kau ambil."

"Ta-tapi—"

"Tambahkan dua Push-Up untuk tiap huruf yang kau ucapkan."

"BAIK!"

(Indonesia. Kirana Paramesti Nusantara. 70 tahun Independence. Sudah siap menjadi seorang mentor.)

.

.

.

.

.

.

Sekali lagi saya bertanya kepada para Pembaca sekalian, tahukah alasan keluarga Melayu menempatkan America di Kamar belakang paling atas?

.

.

.

.

.

.

Ini baru pukul 06.45.

Sumpah. Di Amerika sana, ini masih jam tidur!

"Huahm~" America ngantuk sumpah. Sekarang dia masih berlari dari pukul setengah lima pagi. Dan tadi Indonesia menyuruhnya ganti baju lagi dengan pakaian training tetap dengan waktu lima menit. America sudah sigap tentunya.

Tapi dia keserimpet pas buru-buru naikin resleting.

Please jangan tanya apa yang terjadi.

Dan itu membuatnya korupsi waktu 15 detik. Kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi.

Oh, kalian tanya kok celana training ada resleting? Itu permasalahannya—America salah baju. Dan untuk ketiga kalinya ia lari ke lantai tiga.

Dia mau protes, yang ada malah dapat bonus.

Flashback...

"Tapi—Indonesia!" America enggak terima! Baru saja turun masa disuruh ke atas buat ganti baju lagi? Kenapa enggak dari tadi ngomongnya!

"Kita mau Jogging America. Kamu mau jogging pake kaos oblong?"

America mau-mau saja. Soalnya dia enggak mau susah.

"Waktunya lima menit. Protes—"

"BENTAAAAAAAAAAAR!"

.

(Dari bawah, Saudara Melayu yang sudah bersiap mendengar suara teriakan yang memilukan.)

.

"Korupsi waktu lima belas detik."

"Tunggu dulu! Aku bisa jelaskan! Pas tadi—"

"Posisi Push-Up. Dan America, ingat peraturannya tadi?"

"MAAAAAAF!"

"Oh ya, America."

"Ya-ya?" Moga aja diringanin—Americ berharap banget.

"Kamu salah baju. Emangnya kita mau World Meeting?"

"..."

"Nanti ganti baju lagi. Sekarang, Push-Up dengan jumlah yang sudah ditetapkan."

"Baik."

Sekilas, America melihat senyuman Keluarga Melayu mirip dengan senyuman pada mimpinya.

Untungnya, untuk yang ketiga kalinya dia enggak korup waktu.

FLASHBACK END

Belum lari pagi diluar aja America udah keringetan.

"Jangan melambat, America!" Disisi kiri Malaysia berseru sembari mensejajarkan langkahnya. Tangan kanannya memegang sebuah stopwatch, dia sekarang yang mengambil peran sebagai seorang mentor. "Butuh dua setengah kilo lagi untuk sampai tujuan dan melengkapi target lima kilometer!"

"Semangat, America!" Indonesia kini berperan sebagai tokoh pemandu sorak. Bedanya kalau pemandu sorak biasa bawa pom-pom-man dia malah dengan santai ngegoes sepeda ontel disisi kanan. Enak sekali.

"Tapi—Hosh, aku—hosh, ngantuk—hosh, capek juga! Aku enggak boleh istirahat?!"

"Boleh! Tapi nanti kalau kita sudah sampai alun-alun!"

"AKU CAPEEEK!"

Mari lupakan America yang mengeluh.

Singapore memandang kesal. Gara-gara ada America, lari paginya yang biasa cepat jadi terhambat. Ini korupsi waktu. Moga kakak-kakaknya ngasih hadiah lagi.

"Lama." Dengan begitu, sang negeri Singa sudah mendahului mereka semua. "Uma, ayo tanding sampai ke alun-alun."

Emang enggak setia keluarga—eh, setia kok. Buktinya Brunei diajak. Kedua kakaknya? Biarkan mereka menikmati masa bahagia menjadi mentor diet jejadian.

"Oke!" Dan Brunei mengiyakan dengan sangat senang hati. Walau tanah mereka terpisah, tapi persaudaran mereka terlampau dekat, melebihi Indonesia-Malaysia duo kakak adik yang tsundere—ah, enggak ding, itu mah bagi si Muda saja. Singapore satu-satunya yang walau mengakuinya sebagai anak paling bantet tapi tidak pernah memanggilnya Kanishta. Itu sangat menyenangkan hatinya. Dan mereka menjadi duo yang tak terpisahkan. Ditambah Timor Leste atau Philippines lengkap sudah Trio Kwek-kwek.

Itu kalau salah satu dari mereka ada loh. Kalau dua-duanya ada, bukan trio lagi namanya.

(Yang ngeship SingaBrunei angkat tangaaaaan!)

Dan SingaBrunei-pun sudah menjauh dari pandangan.

BRUUUUUK!

Jangan khawatir. Itu cuman America yang tumbang di trotoar, kok.

"Oi, America! Jangan mati dulu!"—seenggaknya sampai aku puas membantumu, itu batin Malaysia. Noel-noel tubuh kelebihan berat(America protes kalau tubuhnya hanya kelebihan berat badan dan tidak gemuk sama sekali) America yang tepar kayak mayat pake ranting yang dia pungut dari jalanan.

"Benar! Ini masih pagi!"—seenggaknya kalau kamu mati serahin Freeport-nya dulu, itu batin Indonesia yang sampai sekarang berharap banget Freeport jadi milik bangsanya. Lumayan, hutang lunas dan rakyat sejahtera. Moga aja enggak ada tikus yang mengerat.

"Aku—capek," lirih America tak bertenaga dengan nafas yang memburu. Dengan keadaan tubuh yang telungkup, ia nyoba korup waktu lima menit—pura-pura pingsan kalau bisa.

"Hah! Kalah kamu sama Dan dan Kanishta yang kemungkinan besar sudah sampai alun-alun!" Malaysia dengan ejakan berusaha membangkitkan semangat si Hamburger Freak untuk berlari.

Begini-gini, walau dendam ada di hati, dia Nation yang bertanggung jawab.

Dan Author baru nyadar. Human Name Singapore kurang enak berdampingan dengan kata sambung 'dan'. Mulai sekarang kita sebut Human Name-nya dengan Simha. Sesuai namanya, sesuai keinginan orangnya. Dan dengan ini Singapore berbahagia. Setuju para pembaca yang juga berbahagia?

"Be—da, mereka masih muda—masih hijau dan sangat lincah..." Kalau yang ngucapin China sih, enggak masalah(China bersin di hutan bambu). Dia mah emang berumur. Lah ini diucapin sama kamu yang masih muda tapi seolah-olah kamu orang tua enggak punya tenaga, berkebalikan dengan sikapmu yang selama ini kelebihan gula dan kelewat hiperaktif bertenaga setara dengan autis.

"Mereka—masih masa perkembangan. Masih bisa tumbuh dengan sempurna—"

Ngek. Asal kamu tahu, Indonesia yang sejarahnya lebih tua darimu enggak sampai selebay kamu yang sok-sok-an jadi bijak dan kerasa tua mendadak.

America menolak bangkit dari posisinya yang dianggap surga dunia.

Bukan mau pura-pura pingsan lagi. Sudah ngorok dia.

"Ah!" Malaysia berdecak kesal. Ranting di tangan dilemparnya ke tubuh kelebihan berat sekuat tenaga. "Sekarang gimana, Ndon?"

Indonesia malah mainin bel ontelnya ber-MKKB ria. "Mau gimana lagi?" Senyuman manis di bibir baru saja terukir. "Lanjut saja."

"Oh, jadi pake itu?"

"Ayo Razak! Kamu ngerti maksud Kakak 'kan?"

Kakaknya nyebut namanya walau sebelumnya dia memanggil 'Indon'. Berarti dia berharap banget dan sudah mempercayainya. Boleh enggak Malaysia melayang?

Malaysia dengan hati berbunga—tak lupa senyuman manis seperti sang Kakak tercinta menyambar peluit pramuka tingkat penggalang yang tergantung cantik di bahu kiri.

"PRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT!"

.

.

.

.

.

.

Sumpah, demi Tuhan Yang Maha Kuasa, yang mengajari manusia sampai pandai berbicara—

"INI APA-APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN?!"

"ROAAAAAR! GUK!"

"Kenapa aku bisa dikejar anjing—EEEEEH, ITU ANAK HARIMAU SAMA SINGAAA?!"

"MAJU TERUS, AMERICAAAAA!"

"PRIIIT! PRIIIT!"

"GUUUUUK! ROAAAAAR!"

"GAAAAAAAAAAAAAAAAH!"

"SEMANGAT!"

"AKU ENGGAK MAU JADI BAHAN SARAPAAAAAAAAN!"

"ROAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAR!"

"HIIIIIIIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!"

"PRIIT! PRIIT!"

"SUDAH DONG MALAYSIAAAAA!"

"JANGAN MAU RAZAK! AMERICA JANGAN NGELUH!"

"TOLOOOOOOOOOOOOONG!"

"GUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUK! ROAAAAAAAAAR!"

"IGGGGGGGGGGGGGGGGGYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY!"

Sekali lagi, jangan khawatir. Itu Cuma America yang lagi main kejar-kejaran sama anak-anak Harimau Singa yang berkedok jadi Akita Inu juga German Shepherd. Berterimakasihlah kepada Keluarga Melayu sebagai penata rias. Kenapa dirias? Biar warga enggak jantungan ngeliat ada hewas buas keluar kandang. Dan mereka enggak buas ya, buat penegasan.

Tapi kok ada suara guk setelah roar?

"SERIGALA JUGA NGIKUUUUUUT?!"

Please, America. Tolong bedakan serigala dengan Ajag hewan asli Nusantara.

America masih berlari sekuat tenaga. Dibelakangnya Akita Inu-German Spepherd jejadian—tak lupa Ajag mengekor dengan bahagia(?). Dilihat dengan imajinasi, ada asap putih mengikuti sebagai jejak bukti betapa luar biasanya kecepatan mereka berlari.

Tak jauh dari belakang, ada Malaysia yang menggoes sepeda ontel mencoba mengikuti—tahu diri tak akan bisa mengejar dengan hanya sepasang kaki. Peluit pramuka ditiupnya sesekali. Sementara Indonesia, selaku Negeri kita tercinta dibonceng Malaysia—enak sekali—tak lupa memberi kalimat motivasi dari toa putih yang disiapkan sedari tadi .

Kok orang awam pada enggak komen ya? Ah, mereka sudah amat mengenali perihal Keluarga Melayu yang luar biasa kelakuannya dan memaklumi apapun yang dilakukan mereka pasti ada alasan—absurd—yang tak bisa dibantah.

Toh, lumayan tontonan gratis di pagi hari pada hari pertama puasa. Hiburan tersendiri bagi para warga. Keluarga Melayu dapat banyak pahala karena selalu bisa bikin warga tersenyum sampai tertawa bahagia. Melupakan beban yang mesti dijalani sebagai manusia. Dan andaikan hari ini bukan hari puasa, semangkuk bakso panas pasti ada di tangan Brunei dan Singapura yang duduk sambal menonton di pinggir trotoar saat ini. Nikmat sekali.

Sayang sekali.

"IGGGGGGGGGGYYYYYYYYYYYYYYYY!"

"TOLOOOOOOOOOOONG!"

"AKU ENGGAK PENGEN JADI SARAPAN BINATAAAAAAANG!"

America sejenak lupa. Kalau para peliharaan juga ikut berpuasa.

Pelajaran bagi America—entah itu peliharaan atau 'peliharaan' dalam tanda kutip sama-sama berbahaya, sama-sama menakutkan—sama-sama bisa membuat luka mental.

"ROOOOOOOAAAAAAAAAAAR! GUUUUUUUUUUUUUUK!"

"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

.

.

.

.

.

.

Jangan pernah remehkan Pets Power. Hmp!

Singapore. Dan Simha. 50 tahun Independence. Pawang singa legendaris.

.

.

.

.

.

.

.

"Indonesia, aku mau sarapan."

"Lah, puasa mana ada sarapan."

"Aku bisa mati kelaparan!"

"Nation mustahil mati walau enggak makan sekali."

"..."

.

.

.

.

(Ini baru hari pertama di pagi hari, buat pengingat.)

.

.

.

TBC

.

Apa kurang tersiksa? Request kalau mau?

MAAF BANGEEEEEEEEEET PARA PEMBACA YANG TERHORMAAAAAT!

SAYA LAMA UPDATE YAA? BULAN PUASA DAH LEWAAAT! MAAAAF!

Saat saya mau lanjut saya terserang sakit...setelah itu dikirim ketempat yng enggak ada laptop... alasannya ada di fic saya yang In a Train itu... bukan maksud promosi kok...

TAPI SAYA ORANG YANG BERTANGGUNG JAWAB KOK! SUMPAH! #ApaPerluSayaDiscontinuedAja?

Makasih sama AngelKumala yang bertanya dilanjutin apa kagak.

Kat. Mini. 718 Iya, maaf ya. Tapi ada 'gantinya' kok...

Poly gigi Ini dah lanjut. MAAAAAF

Lena. Lofiel Kalau begitu maaf kalau nggak terlalu sadis! Saran dong!

Kurai Uso Makasih. MAAF BARU UPDATE! Ini dah kesiksa belum?

Rei Arisawa Ini bagaimana?

Eqa Skylight Iya. Maaf baru lanjut.

Sabila Foster makasih! Moga kehibur!

Ame kalau anda menangkapnya begitu...

TifaCat gagal update kilat sayangnya...

Makasih yang mau review follow dan fave... SEKALI LAGI MAAF BANGET!

Akhir kata

Hay Anime14