Disclaimer : Cast milik Tuhan. Saya hanya meminjam nama tanpa berniat mengambil keuntungan apapun.
Cast : EXO member and many more
Main Pair Kaisoo. Littlebit Chanbaek and HunHan
Genre : Romance & Hurt/Comfort
Warning : Anggap saja dalam ff ini di Korea hubungan sesama jenis sudah menjadi hal lumrah :'v/? Typo(s), YAOI, Boys Love.
Kim Jongin 24 tahun
Do Kyungsoo 22 tahun
.
Happy reading!
.
•Just Married•
.
.
.
Chapter 3: Orang ketiga (Part I)
Jongin tengah membelikan Bubble Tea, untuk Sehun. Bocah itu membantunya menyewa sebuah restoran ternama untuk makan malam romantisnya bersama Kyungsoo kemarin. Dan bayarannya adalah mentraktir si cadel itu bubbletea selama tiga bulan. Tak masalah uangnya bahkan bisa membeli kedai bubbletea. Sekalian ia ingin membeli black coffee, pekerjaan yang menumpuk dikantor membuatnya stress juga. Ia butuh coffee agar tak mengantuk jika lembur nanti.
Seseorang beramut almond menarik perhatiannya. "Taemin.." lirih Jongin tak percaya. Dia sesorang yang pernah mengisi hati jongin dulu. Terlalu banyak persepsi dikepalanya. Terutama seragam pegawai yang Taemin kenakan.
Kenapa Taemin bekerja di kedai seperti ini? kemana kekayaannya dulu?
Lelaki itu sejak kecil bergelimang harta, ayahnya seorang pembisinis yang handal, mempunyai perusahaan di Seoul dan Tokyo. Selalu mendapatkan apa yang Taemin inginkan. Merubahnya menjadi pribadi yang congkak. Ia tak pernah memuja tapi selalu dipuja. Sikapnya yang bagai ratu dan parasnya yang rupawan. Memikat hati Jongin. Taemin mengajarkannya cinta dan juga Kehancuran.
Walaupun luka itu masih terasa namun tak sesakit dulu. Seseorang yang kini menjadi nomor satu dihidupnya yang mengobati Jongin. Kyungsoo. Tanpa sadar bibirnya mengukir sbuah senyuman, tatkala ingatannya manampilkan Kyungsoo yang setia menunggunya di rumah.
Ah jadi kangen istri. Ia harus segera kembali kekantor. Menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk sebelum pulang pada istrinya yang imut itu. Namun sebelum itu, demi kesopanan. Ia setidaknya harus menyapa Taemin dulu. Mereka sempat berteman dulu.
"Hei" panggil Jongin menghampiri Taemin yang tengah mengelap meja. Mendengar suaranya Taemin membeku menjatuhkan lap usang, lalu handak berlari.
Jongin amat kaget akan respon Taemin yang cukup berlebihan. Walau dia hitam, tapikan tidak menyeramkan seperti hantu. Kenapa lelaki itu langsung ingin kabur, untung saja refleknya bagus. Jongin langsung mencekal lengan Taemin.
"Lepaskan Jongin...lepaskan" ia terisak lemah, tangannya yang bebas menutupi wajahnya yang memerah.
"Hei kau kenapa?" Tanya Jongin panik, langsung melepaskan tangannya yang menahan Taemin. lalu berganti mengusap punggung Taemin yang bergetar. "Sebaiknya kita bicara" Jongin membawa Taemin ke pojok kedai bubble tea. Dengan dua kursi yang saling berhadapan. Untuk memberikan mereka privasi, untunglah kedai sedang sepi jadi Taemin dapat bebas sebentar.
Setelah mereka berdua duduk, Taemin langsung menundukan wajahnya. Tak mau dilihat Jongin. Ia pasti jelek karna ia sudah miskin.
"Jongin aku memalukan hiks" Taemin mengangkat wajahnya, menatap langsung mata tajam Jongin.
Melihat air mata Taemin yang terus mengucur dan penampilannya yang berubah lebih mengenaskan dibandingkan empat tahun lalu, saat mereka kuliah. Membuat hati Jongin teriris iba. Dia menghapus air mata Taemin dengan ibu jarinya secara perlahan. "Kamu masih semanis dulu" katanya menyemangati. "Apa yang terjadi?" tanyanya bingung. Kemana semua kekayaan Taemin? Bagaimana mungkin dia bisa bekerja di tempat seperti ini. Dulu bahkan untuk mencuci piring saja dia tak sudi.
Taemin mengalihkan tatapannya. Kemana saja asal tidak pada Jongin, mantan kekasihnya yang sekarang luar biasa tampan dengan stelan jas kantor. Jongin masih tetaplah sama, masih perhatian padanya.
"Ayah bangkrut, saat perusahaan ayah diambang kehancuran, beliau meminjam uang pada rentenir, kini bunga nya semakin bertambah. Walau aku sudah bayar seperempat. Tapi masih tersisa banyak." Wajah Taemin merona, malu menceritakan masalah keluarganya. Namun ia telah lelah menyimpan semuanya seorang diri. Ketika Jongin tiba-tiba muncul memberikan perhatian padanya. Sedikit beban bagai hilang entah kemana. Kehadiran Jongin bagaikan memberikan perlindungan untuknya.
"Aku turut berduka" kesedihan menyengat mata Jongin, dulu Taemin sangat bahagia. Namun saat ini dunia bagai terbalik begitu saja. Dia mengambil kartu namanya dan mengulurkan pada Taemin yang menatap nya bingung. "Ambil ini, temui Kim Kibum pada bagian HRD. Dan dia akan memberimu pekerjaan yang kau mau"
Taemin membaca kartu namanya 'Kim inc' gumam Taemin kagum, salah satu perusahaan terbesar di korea. Kedua matanya terbelalak tak menyangka perusahaan itu adalah milik Jongin? Mantan nya yang dulu ia sia-sia kan begitu saja. "J-ojongin" ia terbata-bata, terkejut mengetahui fakta yang ada.
Jongin tersenyum, mengeluarkan cek dalam saku jas nya. "Tulis nominal yang kau butuhkan untuk melunasi semua hutang ayahmu"
Taemin terperangah, air mata kembali mengalir pada matanya yang sembab. Ia terlalu bahagia, terkejut dan tak menyangka semuanya tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Tangan nya yang kurus dan gemetar menutup wajahnya malu. "Kenapa.. kau masih begitu baik.." bisik nya sambil terisak.
Mata jongin melembut menatapnya. "Itu lah gunanya teman. Lagi pula aku hanya ingin berterima kasih. Berkat mu aku menemukan istri ku. Orang yang bisa membahagiakan ku hingga saat ini"
Dulu ketika ia terpuruk karena cintanya pada Taemin, Kyungsoo hadir menemukannya. Menarik nya dari jurang keputusasaan, memeluk nya tanpa pamrih. Mengajari cinta sederhana yang begitu berarti dalam hidupnya.
Taemin tersenyum "Tapi ini begitu banyak.." ujarnya melihat cek diatas meja.
"Hei, ini tidak gratis aku akan memotongnya dari gajimu setiap bulan" Jongin tertawa dan tawanya menular pada Taemin dihadapannya.
.
.
.
.
.
Setelah beberapa minggu menjadi pegawai di Kim inc. Pekerjaannya tak terlalu berat. Lee Taemin menikmati kegiatannya sekarang. Ia bebas dari hutang. Hidupnya sekarang pun terjamin dengan gaji di kantor yang cukup besar. Tak perlu takut menjalani hari dikejar-kejar rentenir.
Ayahnya yang tua memang merepotkan, mati meninggalkan hutang yang besar. Batin Taemin benci.
Tetapi, ia harus berterima kasih pada mending ayahnya. Karena berkat beliau kini dia dapat akrab kembali dengan mantan kekasihnya lagi. Mantan kekasihnya yang dulu kurus kering, hitam dan tidak memiliki uang banyak. Ia tinggalkan begitu saja. Kini Kim Jongin telah tumbuh menjadi pria yang luar biasa tampan. Tubuhnya atletis, tinggi menjulang dan dia sangat kaya raya. Perusahaan nya sukses. Taemin ingin mati saja, mengapa ia begitu tolol meninggalkan Jongin dulu. Sekarang Jongin telah menikah. Tapi tak masalah, status itu bisa ia rubah.
.
.
Taemin tersenyum. Merapihkan rambutnya, kaca menampilkan wajahnya yang terawat. Dengan gaji yang ia dapat dari kantor. Taemin bisa perawatan. Perlahan ia kembali menjadi Taemin yang menawan seperti dulu. Ia berbalik dan berjalan menuju lift. Menghampiri Jongin di ruangannya adalah hobby baru Taemin.
.
.
.
Telpon di mejanya berbunyi. Jongin melirik lalu mendengus kesal. Pekerjaan yang menumpuk membuat moodnya buruk.
"Sajangnim, Taemin ingin bertemu anda" Yoona sekretaris nya memberitahu sopan.
Lagi-lagi Taemin. Mau apa lagi dia? Nurani Jongin kesal.
Taemin selalu mengunjunginya, entah menanyakan pekerja yang tidak ia mengerti, atau sekedar berbasa-basi mengajaknya pulang bersama. Walau mereka dulu teman yang 'akrab' tetap saja sangat menganggu. Seharusnya Taemin bisa bersikap profesional di kantor.
"Suruh dia masuk" sahut Jongin datar. Menutup telpon dimejanya kesal. Mau bagaimana lagi? Tak tega dia jika harus memarahi Taemin. Hatinya selembut kapas. Jongin tahu bahwa Taemin itu gampang sekali terluka.
"Merepotkan" umpat Jongin sambil melanjutkan mengecek dokumen.
.
.
.
"Hei" panggil Taemin setelah menutup pintu besar ruangan Jongin. Lelaki berkulit tan itu menoleh, memandangnya dengan alis bertaut."Aku membawakan mu bekal," Taemin tersenyum manis. Senyum yang dulu mampu membuat Jongin bertekuk lutut. Namun sekarang tak berefek apapun pada lelaki itu.
"Ah tidak usah" Jongin berdiri, tak enak hati. "Aku biasa membeli diluar. Tidak usah repot-repot" jelasnya sambil menghampiri Taemin.
"Duduklah" Jongin menarik lengan kurus Taemin ke arah sofa di samping ruangannya.
Lelaki berambut almond itu hanya terdiam, kepalanya menunduk dalam "Hanya ini yang dapat aku lakukan untuk membalas kebaikan mu. Jangan tolak. Kumohon" kepala Taemin terangkat lemah. Menatap Jongin dengan mata berkaca-kaca.
"Izinkan aku, membuatkan mu bekal setiap hari" pintanya, menggenggam jemari Jongin diatas meja.
Siapa Jongin yang mampu menolak Puppy eyes dari mantan nya itu.
Kelemahan Jongin masihlah Taemin hafal dengan baik. Taemin menyeringai.
Apa yang harus kulakukan? Pergolakan batin Jongin kebingungan.
Tak apalah, toh hanya bekal.
"Baiklah" Jongin setuju setengah hati seraya menarik tangannya, risih akan kontak fisik dengan lelaki lain. Jika Kyungsoo tahu, ia pasti akan salah paham.
.
.
.
Gedung itu sangat besar, dan kokoh menantang langit biru. Beberapa Security terlihat berjaga dimanapun. Kyungsoo menganga ia meremas tas nya gugup. Tak menyangka suaminya memiliki kantor sebesar ini. Ia selalu dilarang untuk keluar rumah tanpa seizin Jongin, Kemana pun, bahkan ke pasar di dekat mansion mereka. Alasannya selalu sama, Jongin takut ia tersesat dan diculik om om jahat. Padahal sekarang umurnya sudah 22. Kyungsoo cemberut.
Kyungsoo tak pernah mengunjungi Jongin dikantornya. Biasanya ia akan memilih untuk menjadi istri yang baik, kerjaannya hanya tidur-tiduran disofa sambil nonton gosip terpanas artis korea. Jongin seharusnya bangga memiliki istri sepertinya.
Kemarin ia bertemu Luhan sahabatnya sewaktu kuliah, di swalayan. Luhan membawa anak yang imut mirip dengannya—Ziyu. Saking imut nya Ziyu. Kyungsoo hampir memakan anak itu, untung saja Luhan cepat tanggap dengan menjauhkan anaknya dari jangkauan Kyungsoo. Terkadang dia memang buas juga.
Luhan mengatakan setelah dari swalayan, dia bersama Ziyu akan menemui Sehun—suaminya dikantor.
"... disana banyak cewe cantik, aku harus menjaga Sehun agar tidak main mata. Dan Ziyu juga kangen dengan papanya"
Setelah mendengar alasan Luhan, Kyungsoo terdiam. Bahkan sampai rumah pun ia tetap terdiam. Otak nya yang lamban mencerna rangkaian kata dari Luhan. Dalam kecepatan cahaya Kyungsoo menelepon Jongin.
"Halo" Suara dalam terkesan sexy, menyambut Kyungsoo.
"Jongin, jongin.." Kyungsoo merengek. Ia dapat mendengar Jongin tertawa gemas padanya.
"Iya sayang, ada apa?" Jongin masih terkekeh, tumben sekali istrinya yang bulat itu manja di telpon.
"Aku ingin berkunjung ke kantor mu."
Untuk beberapa saat, Kyungsoo tidak mendengar apapun. Ia pikir Jongin memutus sambungan telponnya.
"Kyungsoo kamu tidak apa-apa?"
Hei apa yang kau pikirkan Jongin? Kyungsoo baik-baik saja. Tadi pagi dia menghabiskan nasi goreng tiga porsikan.
"Apa ada hal darurat?" lanjut Jongin tidak menyembunyikan nada cemas dalam suaranya.
"Tidak.. aku hanya ingin melihat kantormu. Tidak boleh ya?" Kyungsoo mulai murung.
"Tentu saja boleh!" Lelaki berkulit tan di seberang sana memekik senang. Waw ia memiliki banyak fantasi panas bercinta dengan Kyungsoo diatas meja kerja, dan sebentar lagi bisa menuju kenyataan.
Mendadak firasat Kyungsoo tidak enak.
Jongin menyeringai. "Segera datang baby, aku akan kirimkan alamatnya via sms" ucapnya membuat senyum Kyungsoo merekah menggemaskan.
"Yes! Dadah Jongin" terlalu bersemangat. Sebelum Jongin membalas, Kyungsoo sudah membanting Ponselnya ke kasur. Terburu-buru ia berlari ke lemari besarnya, memilih baju terbaik yang mampu mengalahkan semua gadis atau namja di kantor suaminya. Ia harus tampil menarik. Api membara berkobar diseluruh tubuhnya.
Ponsel mahal itu Jongin tatap dengan alis memberengut. Heran dengan tingkah aneh istrinya. Walau sudah biasa. Tapi tetap saja, Jongin tidak bisa menahan gemas di dadanya. Ia menutup mulut menahan senyuman. Seakan pipinya akan robek saking lebarnya ia tersenyum. Dapat ia bayangkan betapa antusias Kyungsoo sekarang. Mungkin Kyungsoo sangat kangen dengannya. Pikir Jongin kepedean.
Tok
Tok
Tok
"Sajangnim" Suara panggilan merdu, entah milik siapa mengusik khayalan kotornya bersama Kyungsoo di kantor.
Jongin merenyit sebal. "Masuklah!"
Seorang pemuda menawan, memakai kemeja baby blue masuk keruangan dengan membawa bento ditangan.
Pria berkulit tan itu mengangkat alis heran. "Taemin?" lagi lanjutnya dalam hati.
"Ayo kita makan bersama" ajak Taemin ceria sambil mengangkat kotak bekalnya. "Aku merasakanmu ayam kecap, kau pasti suka Jongin"
"A-aa" Jongin bingung harus berespon seperti apa. Sudah beberapa hari Taemin rutin membuatkannya bekal dan kemudian mereka akan makan siang bersama. Jongin masih belum terbiasa.
"Pekerjaanku masih banyak" bukanlah sebuah alasan, pekerjaannya memang menumpuk. Menjadi seorang CEO bukanlah hal yang mudah.
"Aku akan menunggumu kalau begitu" putus Taemin keras kepala.
Jongin hanya bisa mengangguk terpaksa.
.
.
.
"Wow. Wow. Wow" gumam Kyungsoo terkagum-kagum. Bibir berbentuk hatinya, terus bergerak-gerak lucu dengan kepala mengadah—memperhatikan kantor suaminya yang banyak terbuat dari kaca, sangat megah dan elegan. "Jongin sangat kaya" Kyungsoo berbicara sendiri. "Aku istri orang kaya" matanya membulat lucu. Terkejut akan pemikiran nya sendiri. Ia bertepuk tangan senang. Tak memperdulikan beberapa karyawan memandangnya aneh.
"Aku tidak tahu dia dari divisi mana, tapi dia selalu mengunjungi Sajangnim saat makan siang" Kyungsoo menghentikan langkahnya. Beberapa perempuan bergosip didekat lift. Tubuhnya membeku. Sajangnim? Apakah maksudnya Jongin?
"Mereka pasti sangat dekat" ucap perempuan yang berambut ikal pada kedua temannya.
"Apakah mungkin Dia itu adalah pasangan Tuan Kim? Romantis sekali mengantarkan bekal setiap hari." ketiga perempuan itu terus menggosip tanpa menyadari bahwa seseorang dibelakang mereka terpukul mendengarnya. Kedua mata Kyungsoo sudah memerah siap meneteskan air mata kapan saja.
Pasangan apa?
Aku bahkan baru mengunjungi Jongin hari ini.
Siapa yang mereka maksud?
Apa kah Jongin memiliki pasangan lain? Batin Kyungsoo. Menutup mulutnya tak percaya. Air mata yang coba ia tahan akhirnya mengalir juga. Ia berlari menuju pintu keluar tak memperdulikan tubuhnya menabrak beberapa orang. Ia hanya ingin pergi jauh. Jauh. Pergi dari kenyataan yang menyakitkan.
Jongin selingkuh.
Jongin selingkuh dariku.
"Hei kau!—Kyungsoo?" Chanyeol manajer keuangan yang merupakan sahabat Jongin. Hampir memarahi orang yang menabraknya. Sebelum menyadari bahwa Ia adalah Kyungsoo. Istri Jongin atasannya. Keningnya merenyit heran.
Niat ingin bertanya hilang begitu saja setelah melihat airmata mengalir membasahi pipi Kyungsoo. Lelaki jangkung itu tercekat, tak berkata apa-apa. Hanya mampu menatap punggung sempit itu yang perlahan menghilang—berlari menjauhi kantor.
'Apakah mereka bertengkar?' tanya Chanyeol dalam hati seraya berjalan memasuki lift. Menuju lantai tertinggi, ruangan pribadi Jongin sebagai CEO berada. Lebih baik tanyakan langsung saja. Batinnya.
Jongin dan Kyungsoo merupakan pasangan yang paling lengket di dunia. Chanyeol kerapkali merasa iri. Aneh rasanya jika mereka sampai bertengkar. Jongin sangat mencintai Kyungsoo melebihi hidupnya sendiri. Tidak mungkin atasannya itu menyakiti Kyungsoo sampai seperti tadi. Pasti ada yang tidak beres. Sebagai sahabat yang baik, tentu ia harus membantu.
"Jongin-ah" Chanyeol membuka pintu besar itu begitu saja, tanpa mengetuk terlebih dahulu. Kebiasaannya, walau Jongin atasannya ia tak pernah bersikap kaku. Jongin pun sama sekali tak keberatan, ia tak suka dihormati oleh orang yang penting dalam hidupnya.
Kebingungan tampak jelas pada raut wajah Chanyeol. Saat retinanya menangkap Lee Taemin sedang duduk di sofa Jongin sambil memangku dua kotak bekal.
"Oh! Yeol ada apa?"
Suara Jongin membuyarkan lamunannya. Lelaki berkulit tan itu sedang memeriksa dokumen dimeja kerjanya.
"Selamat siang manajer Park" sapa Taemin sambil membungkuk sedikit dan tersenyum sopan.
Chanyeol tidak membalas sama sekali, ia tak menyukai kehadiran lelaki itu. Apalagi senyumnya. Masih terbayang diingatannya bagaimana hancurnya Jongin saat Taemin menyiayikan sahabatnya itu begitu saja. Sekarang setelah semua yang dia lakukan dulu. Masih punya muka untuk duduk manis diruangan ini? Chanyeol tak habis pikir dengan isi kepala Jongin. Jongin memang terkadang bodoh, terlalu baik atau tak tegaan sih? Emosi jadinya dia.
"Hm" balas Chanyeol pada Taemin singkat. Tanpa susah payah menyembunyikan ketidaksukaan dalam nada dan sikapnya.
Senyum Taemin luntur begitu saja.
"Laporan minggu lalu" Kata Chanyeol sambil menyerahkan dokumen kepada Jongin yang terlihat mengetik sesuatu di laptop.
"Thanks, Yeol. Tolong letakan saja dimeja" Kata Jongin tanpa mengalihkan perhatian nya dari laptop. Benar-benar sibuk rupanya.
Saat meletakkan dokumen sesuai instruksi Jongin. Tak sengaja ia melihat foto diatas meja. Foto dimana Jongin dan Kyungsoo saat sedang kencan di lotte Word. Chanyeol menebak pasti saat mereka masih kuliah. Kebahagiaan tampak terlihat jelas di dalam foto tersebut. Bagaimana Jongin mencium pipi Tembem Kyungsoo dipelukannya, sementara Kyungsoo tersenyum begitu senang. Raut wajah berbeda sekali dengan Kyungsoo yang ia temui di lobi. Berlari dengan wajah penuh air mata. Mengingatkan Chanyeol akan pertanyaan yang mengganggu nya.
Sebelum Chanyeol bertanya, suara orang terbatuk terdengar, ia mengalihkan pandangannya pada lelaki yang duduk manis di sofa.
"Apakah kau sakit Taemin?" Cukup sukses untuk menarik perhatian Jongin.
Chanyeol mencibir dalam hati.
"Gwenchana" ucap Taemin sambil tersenyum lembut.
"Minumlah beberapa vitamin" saran Jongin singkat, sambil mematikan laptopnya. Tak menyadari Taemin menatapnya bahagia. Jongin seakan masih peduli padanya.
Lelaki bermarga Kim itu menyadari Chanyeol masih berdiri di hadapan mejanya. "Ada apa yeol?" tanya Jongin heran. Chanyeol type paling malas berbasa-basi, dia biasa to the point dalam segala hal. Bukan kah Chanyeol hanya menyerahkan dokumen. Mengapa dia masih betah diruangan? Pikir Jongin.
"Apa yang dilakukan Taemin dikantor ini!" bisik Chanyeol kesal, merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Jongin yang duduk diatas kursi.
"Aku memberinya pekerjaan, dia membutuhkannya" Jongin membuang punggungnya pada sandaran kursi. Kelelahan.
"Terserah, suruh dia keluar dari sini. Aku ingin berbicara dengan mu empat mata. Mengenai Kyungsoo"
Mendengar nama Kyungsoo, tak pelak mengingatkan Jongin akan rencana istrinya yang akan datang berkunjung. Kepanikan merayap dalam dada Jongin. Tergesa-gesa ia mengecek Ponselnya. Tidak ada panggilan tak terjawab ataupun satu pun pesan disana.
Apa-apaan ini, harusnya Kyungsoo sudah sampai kan?! Pikir Jongin kalut.
Tidak mungkin Kyungsoo dalam bahaya? Apa mungkin dia diculik? Tidak. TIDAAK—
"Hei tenanglah" Chanyeol sedikit terkekeh geli. Lucu sekali, kepanikan Jongin terlihat jelas. Hanya menyebut nama Kyungsoo mampu membuat sahabatnya itu begitu khawatir. Sekarang Chanyeol tak perlu begitu cemas. Ia salah meragukan perasaan Jongin pada Kyungsoo.
Kyungsoo pasti sangat berharga bagi Jongin.
"Kyungsoo tidak diculik?"
"Dasar bodoh" cela Chanyeol tak habis fikir. Ia harus meluruskan sesuatu. Tetapi tidak dengan Taemin yang masih satu ruangan dengan mereka. "Suruh dia keluar" ia mengedikan dagu ke arah Taemin. Disana Taemin menatap mereka dengan mimik tertarik. Walau jarak lumayan dekat, namun dia tak dapat mendengar pembicaraan Jongin dan Chanyeol.
Karena Jongin sudah sangat penasaran ia menuruti Chanyeol tanpa bertanya. "Bisakah Kau keluar?" perintahnya keras pada Taemin.
Taemin tersentak, dia berdiri kaku. Wajahnya menunjukan kekecewaan yang mendalam. "Bagaimana dengan makan siangmu?" tangannya yang putih, memeluk dua bento. Seakan benda itu sangat berharga.
Chanyeol mengangkat alis. Apa maksudnya? Mereka akan makan bersama?
"Letakkan saja disitu" sahut Jongin tak acuh.
"Baiklah" Taemin pasrah. Rusak sudah rencana makan berdua dengan Jongin seperti biasa.
Setelah Taemin meninggalkan ruangan. Chanyeol menarik Jongin menuju sofa. Tak enak berbicara dengan posisi Jongin duduk sementara ia berdiri. Tidak adilkan.
"Apa yang kau lakukan pada Kyungsoo?" Tanyanya setelah mereka berdua duduk dan mengambil posisi yang nyaman.
"Aku apa?" Jongin belum konek sepertinya.
Chanyeol menghela napas panjang. "Aku melihatnya. Berlari, sambil menangis. Menangis parah" Sedikit berlebihan pada dua kata terakhir. Chanyeol tak tahu kata apa yang bisa menggambarkan. Betapa menyediakan Kyungsoo yang ia temui.
"Kyungsoo menangis?!"
"Ya"
"Dia sudah tiba disini dan kemudian pergi sambil menangis?" perjelas Jongin sendiri. "Aku tak melakukan apapun. Siapa yang membuatnya sedih. Siapa yang menyakitinya!" gumam Jongin beruntun, bingung dan emosi. Belahan jiwanya tersakiti di kantor nya sendiri dan dia hanya terduduk dimeja tak melakukan apapun.
"Sebaiknya kau pulang, dan tanyakan langsung padanya. Jujur aku cemas sekali. Aku tak pernah melihat Kyungsoo sehancur itu."
Rangkaian kata yang Chanyeol lontarkan bagaikan pisau yang menusuk hatinya. Selama berpacaran dengan Kyungsoo ia sudah berjanji pada diri sendiri akan menjaga dan membuat Kyungsoo selalu bahagia. Hari ini, walau ia tak tahu apa yang terjadi. Namun kegagalan akan janjinya membuat ia tak bisa berkata-kata. Kyungsoo nya telah terluka...
Jongin bangkit berdiri, mengambil kunci mobilnya dilaci. "Terima kasih yeol" katanya sebelum tergesa-gesa keluar ruangan.
Chanyeol tersenyum.
.
.
.
.
Mansion Kim biasanya terasa hangat sejak kehadiran Kyungsoo. Tetapi ketika Jongin menginjakan kaki turun dari mobil, suasananya berubah bagai hening yang tidak mengenakan hati.
Jongin resah bertambah khawatir ketika membuka pintu dan menyadari tak terkunci sama sekali. Aneh, Kyungsoo tak biasa seceroboh ini.
"Baby? Aku pulang"
Jongin menyapukan pandangan nya pada ruangan. Tak menemukan tanda-tanda kehidupan sedikit pun.
"Baby" panggilnya lagi kini sedikit manaikan nada suara. Biasanya jam segini Kyungsoo akan bermalas-malasan menonton acara memasak di depan tv sambil mengemil kripik kentang. Sekarang ruang Tv nya kosong. Rumahnya terlalu bersih dan hampa. Mengingatkan nya akan keadaan ketika ia masih Kuliah dulu, sebelum Kyungsoo hadir dalam hidupnya. Dimana ia selalu sendirian.
"Kyungsoo?! Kim Kyungsoo" Pikirannya kacau, kecemasan menghalanginya untuk berfikir jernih. Ruangan demi ruangan dalam mansionnya yang megah ia dobrak begitu saja. Hingga ia menemukan buntelan besar mencurigakan dalam kamar kosong. Kamar untuk calon anak mereka kelak.
"Kyung? Baby? Kau kah itu?" ragu Jongin mendekati buntelan itu. Menarik dua selimut hingga munculah kepala dengan surai hitam lembut.
"Ah Kyungsoo" Saking leganya Jongin jatuh terduduk. Lelaki berkulit tan itu menarik selimut untuk membebaskan tubuh istrinya. "Kau bisa sesak jika begini. Nanti kesulitan bernafas bagaimana" katanya sedikit kesal. Tersenyum menyadari Kyungsoo tengah tertidur dalam selimut. Namun senyumnya luntur saat ada sisa air mata menuruni pipi tembem istrinya.
Walau mata bulat itu tertutup, Jongin dapat menerka seberapa lama lelaki mungil itu menangis. Kantung mata Kyungsoo bengkak, bibirnya yang biasa berwarna blossom lembut. Tampak pucat kebiruan.
"Kamu kenapa?" tanya Jongin penuh perhatian. Jemarinya yang sedikit kasar mengusap pipi Kyungsoo. Merasakan betapa dingin pipi lembut itu. Dalam hati ia bersumpah akan membunuh siapapun yang membuat pujaan hatinya seperti ini.
Usapan pada pipinya membuat tidur Kyungsoo sedikit terusik. "Jongin.. hyung..." igau Kyungsoo mulai terisak. Matanya masih tertutup bagaikan tak berani membuka mata untuk menghadapi kenyataan yang ada.
Seakan dihatam batu, dada Jongin sesak melihatnya. Segera menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Menciumi kening istrinya seraya mengusap punggungnya lembut. "Ssst aku disini baby..aku disini"
Perlahan Kyungsoo membuka kelopak matanya. Menampilkan sepasang cermin kembar berwarna kemerahan.
"Berapa lama kau menangis?" tanya Jongin dingin. Tak senang mengetahui Keadaan Kyungsoo sekarang.
Si mungil dalam pelukan Jongin menunduk tak mau beradu tatap dengan suaminya. "Kau sudah pulang? Aku akan menyiapkan air untukmu mandi" katanya mengalihkan pembicaraan. Sebelum Kyungsoo berdiri, Jongin menarik Kyungsoo kembali kedalaman pelukannya. Ia mengunci Kyungsoo dengan lengannya yang kuat. Tak membiarkan lelaki itu pergi dari sisinya.
Mereka beradu pandang sesaat, menyelami fikiran masing-masing.
"Ada apa sayang? Kau membuatku khawatir"
Pertanyaan lembut dan pelukan dari Jongin. Tak membuat Kyungsoo merasa lebih baik, air mata malah beruntun menuruni pipinya bagaikan derasnya hujan membasahi hatinya yang gersang. Kesakitan. Ia nyeri membayangkan perhatian dan hangatnya pelukan Jongin sekarang. Telah dibagi kepada orang lain diluar sana. Selain dirinya.
"Hei baby!? Kenapa menangis lagi? Mana yang sakit?" panik. Jongin memeriksa tubuh Kyungsoo, mengecek apakah ada yang terluka.
'Hatiku yang sakit Jongin' bisik Kyungsoo dalam hati. Berharap Jongin memahami.
"Aku tidak ingin membicarakannya dulu. Jika aku sudah memastikannya, akan ku katakan padamu" Kyungsoo bangkit berdiri. Meninggalkan Jongin dengan sejuta tanda tanya.
.
.
.
.
.
Matahari telah berganti tugas dengan sang rembulan. Dalam Mansion Kim biasanya terdengar canda tawa atau celotehan. Kini hanyalah keheningan. Kyungsoo tak bicara sejak Jongin menemukannya dalam kamar calon anak mereka. Kyungsoo pun tak mau menatap matanya. Jika Jongin bertanya mimik wajah belahan jiwanya itu akan berubah sendu kembali. Jadi Jongin memilih untuk diam, atau mencari tahu sendiri nanti.
"Baby, mengapa kau tidak makan?"
Tanya Jongin menyadari Kyungsoo hanya mengaduk-aduk makan malamnya.
Kyungsoo menggeleng.
"Makanlah nanti kau akan sakit. Hm?"
"Arraseo" sahut Kyungsoo, namun ia tak kunjung memakan makanan nya.
Jongin menghela nafas berat.
.
.
.
"Kyungsoo, jangan tidur diujung ranjang begitu. Kau bisa jatuh sayang. Kemarilah aku akan memelukmu" Jongin bersiap menarik Kyungsoo tapi lelaki itu malah menepis lengannya. Perbuatan Kyungsoo tak seberapa tapi mampu menorehkan luka dihatinya.
"Aku mau mandi" Kyungsoo meninggalkan kamar mereka.
"Tapi kau baru saja mandi" Jongin berkata seorang diri. Memandang kosong pintu yang baru Kyungsoo tutup. Memikirkan apa kesalahan yang telah ia buat, hingga mendapatkan sikap seperti ini dari Kyungsoonya.
.
.
Malam itu adalah malam pertama mereka, tidur terpisah setelah menikah. Jongin di kamar sementara Kyungsoo di sofa ruang tv beralasan ingin menonton pertandingan bola seorang diri. Semua itu bohong. Jongin menyadari Kyungsoo sedang menghindarinya.
.
.
.
.
Pagi-pagi sekali Jongin bangun dengan mood yang berantakan. Biasa mendapat kecuapan atau pelukan saat bangun oleh Kyungsoo. Kini yang ia temukan hanya ranjang dingin dan kosong. Cukup sudah mengapa ia harus dihukum seperti ini?
"Kyungsoo kamu mau kemana?" tadinya Jongin ingin meluruskan masalah mereka. Tapi musnah sudah niatnya melihat Kyungsoo telah berpakaian rapih. Demi Tuhan. Ini baru pukul enam!
"Aku harus menyelidiki sesuatu." kata Kyungsoo sambil menyediakan kemeja untuk Jongin pergi kekantor. Semarah apapun Kyungsoo padanya. Lelaki mungil itu tetap tidak meninggalkan kewajibannya sebagai istri sah Jongin. Dia tetap memasak dan menyiapkan semua keperluan suaminya.
"Kau ingin bermain dectekfian sepagi ini?" tanya Jongin tak percaya. Kyungsoo memang terkadang kekanakan. Tapi Jongin tak habis fikir untuk yang satu ini.
"Kau tak mengerti." sahut Kyungsoo singkat.
"Kalau begitu buat aku mengerti!" persetan. Jongin muak dengan rahasia ini. Ia lelah menebak-nebak apa yang terjadi. Lelah dengan sikap Kyungsoo yang terus menghakiminya akan kesalahan yang tak ia mengerti.
"Jangan berteriak padaku" rintih Kyungsoo dengan bibir bergetar.
"K-kyung" emosi Jongin hilang begitu saja ketika mata bulat istrinya sudah berkaca-kaca. Brengsek kau Kim Jongin. Kau telah membuat Kyungsoo menangis lagi sekarang. Sialan. Nuraninya marah.
"A-aku tak bermaksud, maaf—"
"Aku harus pergi sekarang." Kyungsoo memotong perkataan Jongin, ia segera meraih tasnya dimeja nakas. "Bekal mu sudah ku siapkan di dapur. Aku memasak ayam bawang kesukaanmu hyung"
"Ah kau tak perlu... maksudku.. aku..akan makan diluar dengan klien"
"Apa makan diluar bersama klien setiap hari?"
Jongin tercekat. "Baby aku—"
Sebelum Jongin menyelesaikan perkataannya Kyungsoo terlebih dahulu keluar begitu saja dengan membanting pintu kamar mereka.
"Sialan. Kenapa aku tidak jujur saja!" Jongin menjambak rambut nya kesal. Merasa serbasalah.
Lagi-lagi ia ditinggalkan sendirian.
.
.
Pukul 7:30 Kim Kyungsoo sudah berdiri didepan kediaman Park. Bimbang, dia terus memecet bel. Hingga lelaki bermata sipit menyambutnya bingung.
"Loh Kyungsoo ada apa?"
"Baek.." hancur sudah pertahanannya. Kyungsoo menubruk Park Baekhyun yang bengong didepan pintu. Air mata yang ia tahan sepanjang jalan. Kini tumpah begitu saja.
Merasakan pundaknya basah. Baekhyun panik segera menarik Kyungsoo ke dalam rumah.
"Siapa yang bertamu sepagi ini sayang?" Suara bass yang familiar sontak membuat Kyungsoo mengangkat kepala.
"Hai Chanyeol hyung" sapanya serak.
Baekhyun mengangkat bahu menjawab pertanyaan Chanyeol. 'Kyungsoo sedang ada masalah' katanya pada suaminya itu tanpa suara.
Walau sebenarnya Chanyeol sudah tahu. Pria itu mengangguk kecil. Ia pikir masalah Kyungsoo dan Jongin sudah selesai. Untuk apa lelaki mungil itu kemari?
"Ada apa Kyungsoo?" tanya Chanyeol lembut. Setelah mereka bertiga duduk diruang tamu. Kehadiran si mungil tak menganggunya dan Baekhyun sama sekali. Mereka semua bersahabat dekat. Sudah bagaikan saudara.
Dalam beberapa saat Kyungsoo tak mampu menjawab. Ia masih sesegukan dalam pelukan Baekhyun. "J-jo-jongin selingkuh"
Baekhyun emosi dan menggebrak meja. "APA?!" ia harus memeriksa pendengarannya. Segera.
Dihadapan nya Park Chanyeol hanya gelen-geleng kepala akan respon istrinya yang berlebihan. "Sayang santai lah sedikit" walau ia pun cukup terkejut akan informasi itu.
"Dari mana kau tahu?" Chanyeol menatap Kyungsoo serius.
"Aku mendengarnya sendiri. Mereka mengatakan di kantor. Jongin dekat dengan seseorang. Mereka mengira seseorang itu adalah pasangan Jongin."
'Oh, jadi itu alasannya Kyungsoo menangis saat berpapasan denganku.' Sekarang rasa penasaran Chanyeol terjawab sudah.
Mata bulat Kyungsoo memerah dan terus mengeluarkan air mata. Baekhyun disebelahnya terenyuh, merasa iba. Kyungsoo memang cengeng tapi, sekarang bukan saat yang tepat untuk meledek lelaki bersurai hitam itu.
"—pasangan Jongin 'kan aku hyung?!" tiba-tiba Kyungsoo memekik tak terima. Terkejut, Chanyeol dan Baekhyun langsung mengangguk kompak.
"Sementara aku tak pernah mengunjunginya di kantor. Jadi sebenarnya siapa yang mereka maksud?" lanjut Kyungsoo lemas. Menutup wajahnya yang basah dengan kedua telapak tangan.
Dalam hati. Chanyeol sudah dapat menebak pasangan Jongin dikantor. "Apakah kau sudah mengatakannya pada Jongin, Soo?"
"Belum. Belakangan ini aku pun curiga. Dia selalu menolak ketika ku buatkan bekal. Tapi aku tak mau menuduhnya dulu. Sebelum ada bukti hyung"
'Tentu saja, dia dibuatkan bekal oleh Taemin. Kyungsoo-ya.' Batin Chanyeol jengkel.
"Sayang apakah kau bisa membantu Kyungsoo?" pinta Baekhyun. Menyentuh jemari Chanyeol penuh harap. Prihatin akan masalah yang dihadapi Kyungsoo.
"Tentu saja. Tanpa kau minta aku akan melakukannya." Chanyeol tersenyum menyakinkan dua lelaki manis dihadapan nya. "Jangan khawatir."
.
.
.
.
.
Hari demi hari Kyungsoo lewati, hanya bicara seperlunya dengan Jongin dirumah. Tanpa bertatap muka. Menunggu kabar dari Chanyeol bagaikan dalam neraka. Tubuhnya terbakar rasa cemburu. Membayangkan kemungkinan yang ada.
"Baby.. Bisakah bantu aku pasangkan dasi ini" Jongin muncul dari kamar mereka. Menghampiri Kyungsoo di dapur yang tengah memotong sayuran. Memasak untuk sarapan mereka.
Walau sedang terjadi perang dingin di dalam mansion kim, Jongin tidak pernah berubah. Selalu perhatian padanya, memanggilnya dengan panggilan kesayangan seperti tadi dan menatapnya dengan pandangan akan cinta yang tersirat. Suaminya itu tak pernah balas marah padanya. Jongin tidak menyerah untuk selalu bersikap lembut seperti saat hubungan mereka masih harmonis dulu. Perilaku Jongin mengakibatkan perasaan bersalah hadir dalam benak Kyungsoo. Namun semua itu ditepis mengingat suaminya bermain api dibelakang hubungan mereka. Rasa marah dan tak terima mendominasi diri Kyungsoo.
"Apa kau tak lihat aku sedang sibuk" pisau itu diacungkan di hadapan wajah Jongin. Suaminya refleks bergidik, beringsut mundur beberapa langkah. Kyungsoo sedang badmood sangat menyeramkan. Nyawanya dalam bahaya.
"Baiklah Kyungsoo ku. Aku berangkat kerja kalau begitu." Jongin menghela nafas lelah. Tidak mau berdebat lebih lanjut.
"Kenapa terburu-buru sekali? Sarapan bahkan belum siap." tanya Kyungsoo sinis memunggungi Jongin, tak berniat sama sekali untuk memandang wajah suaminya itu.
"Banyak pekerjaan, aku harus meeting nanti siang dan materinya belum ku periksa ulang. Nanti aku beli sarapan di jalan."
Kyungsoo tersenyum mengejek. "Oh, bukan untuk menjemput seseorang agar bisa pergi ke kantor bersama?" tebaknya marah. Dadanya terbakar oleh api cemburu. Semua yang dilakukan Jongin bagaikan salah dimatanya.
"Apa maksudmu?" Jongin balik bertanya. Sumpah ia tak mengerti.
"Sudahlah. Berangkat sana. Jangan membiarkan seseorang menunggumu.."
Dengan kesal Jongin melepaskan dasi yang tadinya hanya menggantung dilehernya begitu saja. Ia lempar kelantai dapur kasar. Selalu seperti ini. Ketika ditanya Kyungsoo tak pernah mau menjawab apapun. Selalu bisa mengalihkan topik.
Kapan masalah ini akan selesai kalau pihak utamanya tak mau membeberkan cerita. Ingin ia mencari tahu sendiri, namun apa mau dikata jika pekerjaan di kantor malah memenjarakannya. Jongin tak bisa berbuat apapun selain berharap suatu saat nanti Kyungsoo akan mengatakan semuanya, tentang masalah rumah tangga mereka.
.
.
.
Suara derum mobil menjauhi kediaman Kim. Menandakan Jongin sudah pergi meninggalkan Kyungsoo sendiri. Dia hanya terdiam dengan pandangan kosong kedepan. Dirinya bagai raga tak bernyawa. Ia melirik dasi hitam yang tergeletak di dekat kakinya. Sengatan panas melewati irisnya tak kuasa menahan air mata. Mengingat saat dulu ia selalu memakaikan Jongin dasi. Berciuman sebelum memulai hari. Semua itu hanya masalalu kini.
Tubuh kecil Kyungsoo merosot, tak kuat menanggung beban batin. Ia terduduk dilantai keramik yang dingin sambil memeluk lututnya. Angannya terbang entah kemana, memikirkan semua yang ia lalui bersama Jongin kini perlahan hambar hanya karena orang ketiga diantara mereka.
Ponsel di saku celananya terus bergetar menandakan adanya panggilan masuk untuknya.
Chanyeol is calling
Jantung Kyungsoo berdentum keras. Ketakutan menerima kenyataan, mencekik Kyungsoo. Beberapa kali ia berdehem menenangkan dirinya. Segera ia mengangkat telpon itu dengan suara sedikit bergetar. "Hyung.."
"Kyungsoo kita harus bicara."
.
.
.
Cafe dengan nuansa modern itu sepi pengunjung. Hanya ada beberapa orang di pojok ruangan. Di meja nomor tujuh. Chanyeol dan Kyungsoo duduk berhadapan. Keheningan menyelimuti mereka. Tak tahu harus mulai dari mana Chanyeol terus mengaduk coffee yang baru ia pesan.
"Hyung, tak usah merasa tak enak padaku. Bicaralah walau kenyataan itu menyakitkan. Aku siap mendengarkan"
Sendu suara Kyungsoo. Mencubit dada Chanyeol. Lelaki bertubuh jangkung itu menghela napas berat sebelum menatap kedua mata bulat Kyungsoo.
"Aku sudah mencari tahu semuanya."
Dibawah meja jemari Kyungsoo saling meremas gugup. Hatinya belum siap untuk jatuh. Tetapi ia telah menanti saat ini, kebenaran mengenai perilaku suaminya yang tidak ia ketahui.
"Belakangan ini, Jongin memang akrab dengan Taemin. Seseorang yang dekat dengan Jongin dikampus dulu" Chanyeol sengaja mengaburkan penjelasan Taemin. Tak tega jika harus mengatakan yang sebenarnya. Jika Taemin dan Jongin sempat memiliki hubungan. Kyungsoo pasti akan lebih sedih nantinya. Karena fakta suaminya dulu pernah mencintai Taemin pasti sangat menyakitkan untuknya.
"Mereka selalu makan bersama. Itu yang Sekretaris Jongin katakan padaku dan waktu itu aku melihat sendiri Taemin membawakan Jongin bekal."
Kyungsoo terhenyak dikursinya. Dalam pandangannya semua buram karena matanya mulai berair. Padahal air matanya dirumah bagaikan sudah habis.
"Aku menanyakan pada beberapa orang. Security mengatakan beberapa kali, Taemin masuk kedalam mobil Jongin"
Kyungsoo pikir, ia cukup kuat. Nyatanya panah dari makna perkataan Chanyeol masih menghujam hatinya. Tak kuasa berkata-kata dadanya diliputi sesak tak terkira. Kyungsoo hanya terdiam menatap jemarinya. Tepatnya pada cincin pernikahannya berada.
Chanyeol dapat melihatnya jelas, kehancuran dari kedua retina Kyungsoo.
"Kyungsoo-ah berita itu belum tentu benar..em? Sebaiknya kau tanyakan langsung pada Jongin. Mungkin semua ini hanya salah paham"
Kyungsoo tahu Chanyeol hanya ingin membuat perasaannya lebih baik, walau tak ada yang berubah sama sekali. Air matanya mengalir tanpa henti dalam kebisuan.
"Tadinya aku ingin menanyakan langsung pada Jongin. Tapi Kupikir itu bukanlah urusanku. Aku terlalu ikut campur urusan rumah tangga kalian nantinya" Chanyeol menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Tak apa hyung. Terimakasih sudah membantuku. Maaf merepotkan" kata Kyungsoo pelan disela tangisnya. Hampir terdengar seperti bisikan.
"Bicara apa kau ini, kita saudara. Oke? Tentu saja aku akan melakukan apapun untukmu dan Jongin"
"...terima kasih hyung. Bisa kah kau tinggalkan aku? Aku ingin sendirian dulu"
Andaikan bisa Chanyeol ingin memeluk Kyungsoo menopang tubuh kecil itu. Ia segera mengurungkan. Kyungsoo membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Mencerna semua hal yang terjadi belakangan ini.
"Baiklah, aku pergi."
Setelah Chanyeol meninggalkan kursinya. Kyungsoo menangis tanpa henti.
Ponselnya berdering, lagu khusus jika ada pemberitahuan dari Jongin.
Walau hatinya hancur, Kyungsoo tak terbiasa mengabaikan Jongin. Namun semua itu membuat nya menyesal begitu Jongin mengirimkan foto di chat mereka. Foto dimana Jongin tengah memeluk tubuh seseorang. Dalam foto itu lelaki yang Kyungsoo tebak bernama Taemin menyandarkan kepalanya pada pundak Jongin yang lebar. Walau posisi Jongin membelakangi kamera. Kyungsoo sangat hafal dengan bentuk kepala suaminya. Potongan rambutnya dan kemeja biru yang Jongin kenakan. Sama seperti kemeja yang Jongin kenakan tadi pagi. Posisi mereka begitu intim. Melekat bagai tak ada spasi. Kyungsoo dapat mendengar hancurnya hatinya terjatuh kedasar.
Lebur, perasaannya berserakan. Ponselnya tergeletak dilantai. Sepenuhnya terabaikan.
Kami sedang bersenang-senang, sayang.
Sungguh kurang ajar capsion di foto itu. Apa Jongin sudah gila? Bagaimana mungkin suaminya tega melakukan ini padanya?
Kyungsoo menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak meraung histeris, ia menyesal mengapa harus bertemu dengan Chanyeol di Cafe tadi bukan dirumah saja. Dadanya sesak, Kyungsoo ingin berteriak mengosongkan beban dalam dirinya.
Tanpa memperdulikan pelayan yang menatap wajahnya yang berantakan—penuh dengan air mata. Kyungsoo memesan empat gelas black coffee walau ia tahu Maagnya sedang kambuh. Ia tak perduli.
Kyungsoo lebih baik mati.
TBC
Coming soon
Chapter 4: Orang ke tiga (part II)
"Kenapa perpisahan begitu mudah kau putuskan. Apa arti diriku untukmu?"
.
.
(A/N)
Halooo
Bertemu lagi dengan saya :3
Rada nyesek-nyesek ya chap ini? Semoga hurt nya tersampaikan.
Tadinya mau aku jadiin satu bagian saja bab "Orang ketiga" ini. Tapi, panjang banget TT. Jadi ku bagi dua kekeke
Tolong kasih pendapat kalian di kolom review. Biar aku bisa semangat lanjutin.
Kalau yang minat dikit part II nya rada lamban dilanjut(?) /heleh
Terimakasih telah baca! Sampai jumpa di chapter mendatang. Adios!
Shinkyu
