Regret
.
.
.
Pairing: Hunkai, slight! Kriskai/Hunhan
Support cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Junmyeon, Zhang Yixing
Warning: Genderswitch/Married life/little bit angst/ooc/typo(s) everywhere
Previous chapter
Saat mereka sampai di depan pintu, seseorang berdiri dihadapan mereka. Lebih tepatnya berdiri dihadapan Jongin. Jongin membulatkan matanya, berbeda dengan Baekhyun yang menatap orang itu dengan pandangan bertanya dan tidak mengerti. Kemudian ia bisa mendengar suara Jongin yang bergetar dan lirih namun masih bisa terdengar oleh Baekhyun dan orang itu.
"k-kau.."
.
.
.
.
.
CHAPTER 3
"jadi.. ada apa Luhan-ssi?"
Jongin bertanya tanpa memandang sosok yang tengah menatapnya dengan pandangan angkuh. Jongin benci mengakuinya, namun Luhan memang benar-benar sempurna. Tubuhnya yang mungil, putih mulus, body s-linenya yang membuat semua pria bertekuk lutut untuk mencicipi tubuhnya. Termasuk juga Sehun. Jongin tersenyum kecut mengingatnya.
"ah ya, ternyata kau sudah tau namaku." Ucap Luhan dengan nada sombongnya. Ia mengangkat dagunya. "ada beberapa hal yang ingin aku katakan."
Saat bertemu di depan pintu rumah sakit tadi, Luhan menghadang jalannya. Jongin tentu saja shock. Dan yang lebih parahnya dia mengajak Jongin berbicara empat mata saja. Akhirnya dengan sedikit enggan ia mengiyakan ajakan Luhan dan menyuruh Baekhyun untuk kembali ke rumah sakit. Dan saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe yang jaraknya tidak jauh dari rumah sakit. Hanya berdua. Dengan Luhan. Wanita yang ia segani sekaligus ia benci.
"langsung saja," Luhan menatap Jongin tajam. "Sehun adalah milikku. Jangan pernah kau coba-coba untuk merebutnya, karena sampai kapanpun Sehun tidak akan pernah tertarik dengan wanita yang tidak sempurna sepertimu." Luhan menyeringai melihat wajah Jongin yang menegang.
"kau tau maksudku itu bukan?" luhan bisa melihat tatapan Jongin berubah sendu. Tak lama ia menatap Luhan dan menganggukkan kepalanya.
"ya, Luhan-ssi." Luhan tersenyum licik. Ia beranjak dari duduknya, namun saat ia hendak melewati Jongin, ia berbisik tepat di samping telinga Jongin.
"satu lagi, kau ingat ini baik-baik, Jongin-ah. Jika aku tidak bisa memiliki Sehun, maka tak ada seorangpun yang bisa memilikinya. Termasuk dirimu. Aku akan melakukan apa saja untuk menjauhkan debu sepertimu dari hidup Sehun." Setelah mengatakan itu, Luhan segera berjalan meninggalkan Jongin yang terdiam tanpa kata-kata. Pikirannya kosong. Hatinya sakit mendengar ucapan itu. Namun, ia tak mau menyangkal. Bahwa yang dikatakan Luhan semuanya adalah benar. Ia hanyalah seonggok debu yang beruntung bisa atau pernah ada di hidup Sehun.
Ia terisak. Namun ia mencoba menghentikan tangisnya karena sekarang ia masih berada di kafe. Walaupun kafe tidak terlalu ramai dan ia berada di sudut kafe, tapi tetap saja ia masih mempunyai harga diri. Mungkin ia akan membolos hari ini. Ya, ia butuh menenangkan pikiran saat ini. Segera ia beranjak dan berjalan keluar dengan kepala ditundukkan. Ia akan pulang kerumah –kerumah Kris-
.
.
.
Regret
"Jongin?"
"Jongin Honey?"
"Kim Jongin?"
Panggil Kris saat ia baru saja tiba di rumah. Tak ada sautan. Ia melirik jam dinding, pukul sembilan lewat duapuluh menit. Mungkin Jongin masih diperjalanan. Tapi, tadi ia melihat sepatu Jongin yang dipakainya kemarin. Berarti ia sudah pulang? Lalu, kemana lagi dia? Kemarin tidak pualang, dan sekarang saat sudah pulang malah pergi lagi. Haish kenapa Jongin jadi suka menghilang seperti ini. Ia mengambil ponselnya di saku dan mencoba menghubungi Jongin kembali. Namun nihil, dari kemarin ia menghubungi Jongin yang menjawab hanya operator saja. Kris mengacak rambutnya frustasi. Haruskah ia mencari? Atau melapor? Tapi ini belum 24 jam. Mungkin ia harus menunggu Jongin lagi. Kalau hari ini ia tidak juga pulang berarti ia harus melaporkannya dengan kasus kehilangan.
Sedangkan Jongin sedang berada di sebuah bar bersama Baekhyun yang ngotot untuk menemaninya. Mereka sedang duduk di meja depan bartender, dengan alasan Jongin ingin minum sepuasnya saat ini. Ia belum menceritakan kejadian tadi pagi saat ia bertemu dengan Luhan kepada Baekhyun. Biarkan ia saja yang memendamnya, ia tidak mau menambah beban pikiran siapapun karena memikirkan nasipnya saat ini.
"Jongin-ah, sudah cukup. Kau minum terlalu banyak!" Baekhyun mencoba merebut gelas Jongin, namun kalah cepat dengan Jongin.
Jongin menggerakkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan, dan ikut menggelengkan kepala, "diam Baekhyun... aku... ingin minum yang sangaaattt banyak." Ucap Jongin yang sudah mabuk dengan gerakan mengangkat kemudian melebarkan tangannya. Baekhyun gelelng-geleng.
"sebenarnya apa yang terjadi denganmu huh? Apa ada hubungannya dengan wanita yang tadi pagi kita temui?"
Jongin kembali menggelengkan kepalanya. "aniya.. aku hanya... kau tau kan Baek... hidupku sangat rumit... hmm" ucap Jongin dengan terbata bata. Kemudian ia kembali menuang wine nya dan kembali meneguknya. Wajah Jongin juga sudah memerah karena terlalu mabuk. Baekhyun sudah tidak tahan, segera ia merebut gelas dan mengambil botol wine dari Jongin yang sedang leng itu.
"haish.. apa yang.. kau.. lakukan.. bodoh.. eoh?" Jongin mencoba menggapai gelasnya, Baekhyun segera memberikan botol wine kepada bartender disana. "tolong kau jauhkan benda ini dan jauhkan dari jangkauan dia sejauh mungkin." Ucap Baekhyun kepada salah satu bartender sambil menunjuk kearah Jongin yang mengerucutkan bibirnya, merajuk.
"Baekhyun.. ayolah Baekhyunnie kau.. tidak boleh.. seperti ini.. uhmm.." Jongin mulai menaruh kepalanya diatas meja dan bergumam tak jelas. Baekhyun memerhatikan Jongin dengan tatapan sendu. Ia mengusap kepala Jongin dengan sayang.
"mengapa kau harus mengalami hal seperti ini, Jongin-ah?" ucapnya lirih. Tak lama ia melihat Jongin meneteskan airmatanya namun wajahnya yang sedikit terkekeh. Baekhyun menghela napasnya dan ia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"oppa, bisakah kau menjemput Jongin di bar tempat biasa?"
..
"Mengapa kau selalu menyusahkanku Jongin? Tak bisakah sekali saja kau menurutiku? Aku ini hampir mati panik karena kau menghilang terus, kau tau. Untung saja Baekhyun menghubungiku untuk menjemputmu semalam, kalau tidak kau pasti akan hilang lagi." Jongin tersenyum geli mendengar ocehan Kris. Kris yang melihat itu meliriknya sebal.
"apa? Tak usah tertawa aku ini sedang marah padamu. Apanya yang lucu? Lihatlah wajahmu masih pucat akibat terlalu banyak mengeluarkan isi perutmu tadi. Sekarang cepat habiskan sarapanmu dan minum obatnya. Hari ini kau tak usah bekerja." Jongin menghela napasnya.
"kau itu seperti ibu-ibu ya lama-lama. Telingaku panas mendengar ocehanmu, Kris." Jongin menggelengkan kepalanya, "lagipula, aku harus masuk kerja. Aku sudah terlalu banyak membolos kalau kau mau tau."
"aku tidak peduli." Ujar Kris acuh "kau harus tetap istirahat Jongin. Biar aku nanti yang kerumah sakit untuk membawa surat dokter."
"tidak Kris. Aku bisa kehilangan pekerjaanku."
"dan kau akan kehilangan nyawamu jika kau keras kepala seperti ini, Jongin." Kris menegaskan ucapannya. Jongin mendesah. Berdebat dengan Kris tidak akan menang, percayalah.
Akhirnya dengan berat hati ia menyetujui. "baiklah, tapi—"
"tapi apa?"
"besok izinkan aku kembali bekerja."
Kris mengangguk, "hmm, tergantung kondisimu. Jika kau sudah benar-benar sehat aku akan mengizinkanmu."
Jongin mengangguk semangat, "aku akan pastikan itu."
"baiklah, sepertinya aku harus segera pergi." Kris berdiri dari duduknya dan merapikan sedikit pakaiannya. Lalu berpamitan dengan Jongin yang masih terduduk dan memakan sarapannya di meja makan.
Tak lama setelah kepergian Kris, Jongin menyelesaikan makannya dan segera meminum obatnya. Kemudian ia mencuci piring setelahnya beranjak untuk mandi.
Selesai mandi, Jongin memutuskan untuk menonton tv. Ia duduk sambil mengangkat kakinya untuk bersila. Ia menyalakan tv dan mulai menonton. Sedikit tidak fokus, ia mengambil ponselnya yang berada disampingnya. Mengecek pesan Line yang ternyata ada banyak pesan untuknya. Paling banyak sih Baekhyun, yang rata rata menanyakan keadaannya. Ia membalasnya bahwa ia baik-baik saja, lalu menscrollnya kebawah untuk melihat siapa saja yang mengirimnya pesan. Ada Kris, Yixing, Joonmyeon dan Sehun—
Apa? Sehun? Ia segera melihat isinya dan membacanya. Hanya pesan tidak penting. Pikirnya. Ia berniat untuk tidak membalas. Tak lama suara bel berbunyi. Jongin mendesah malas, ia menaruh ponselnya di sofa dan segera beranjak membukakan pintu tanpa melihat intercom terlebih dahulu.
"Sehun?"
"hey Jong, bisakah—"
BRAK
Pintu langsung tertutup kasar oleh Jongin. Ia sudah muak. Ia masih mau hidup dengan tenang tanpa bayang-bayang Luhan maupun Sehun.
"pergilah yang jauh Sehun! Pergi dari kehidupanku! Aku sudah muak dengan semua ini!" jongin berteriak di balik pintu. Saat ia hendak pergi, suara Sehun menghentikan langkahnya.
"aku tidak akan pergi sebelum kau menemuiku Jongin! Aku tidak akan menyerah kali ini. Aku bersungguh-sungguh!" Sehun juga berteriak. Namun bukan teriakan bentakan seperti yang Jongin tadi. Namun teriakan sarat akan ketegasan. Jongin tercenung sebentar sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti untuk menuju ke kamarnya. Ia tidak peduli lagi. Benar-benar tak mau peduli.
.
.
.
Regret
Sudah jam delapan malam, Jongin baru bangun dari tidurnya. Dan sudah satu jam pula hujan turun. Jongin mendesah. Ia menggigit bibirnya. Apakah Sehun masih ada di depan rumahnya? Tapi ini sudah berjam jam sejak ia meninggalkan Sehun tadi. Apa ia serius? Astaga ini sedang hujan. Jongin mencari ponselnya. Dimana ponselnya—ahh! Ponselnya kan masih berada di sofa. Ia segera beranjak menuju sofa dan mengambil ponselnya.
Ia mengecek ponselnya. Ada banyak panggilan dari Kris. Jongin mengernyitkan keningnya, sepertinya penting. Ia segera menelpon Kris.
"ada apa, Kris."
"astaga Jongin, kau kemana saja?!"
Jongin meringis mendengar pekikan Kris, "aku tertidur Kris, hehe."
Terdengar helaan napas disebrang sana. "dan pasti kau tidak tau bahwa hujan badai sedang melanda Seoul sejak satu jam yang lalu dan menyebabkan tumbangnya pohon dan banjir di beberapa titik rawan?"
"aku tau jika sedang hujan. Tapi—tunggu. Apa kau bilang tadi? Badai?..." Jongin mengecilkan suaranya diakhir kalimat.
"YaTuhan Jongin! Hilangkanlah kebiasaan burukmu itu. Tidur seperti kerbau. Kau bisa saja mencelakakan dirimu sendiri dengan cara tidurmu itu. Oh astaga aku akan cepat tua."
Jongin terdiam. Mata Jongin membola sempurna. Bukan karena gerutuan Kris, namun ia teringat dengan seseorang yang masih berada di depan pintu rumahnya. Oh tidak, ini buruk. Semoga saja Sehun sudah pulang. Batin Jongin.
"Jongin? Hey apa kau masih disana?"
"y-ya Kris. Aku akan menutup telponnya—"
"tunggu. Aku menelponmu berulang kali karena ada hal penting yang harus kuberitau. Malam ini aku tidak bisa pulang Jongin. Aku akan menginap di kantor dan besok pagi jika kekacauan akibat hujan ini sudah beres aku akan segera pulang."
Jongin masih terdiam, ia hanya bisa menangkap kaliamt 'tidak akan pulang malam ini, dan 'besok pagi Kris baru akan pulang' pikirannya melayang kepada sesosok lelaki yang kemungkinan besar masih berada di depan pintu rumahnya.
"a-aku.. aku akan menutup telponnya Kris."
"ya, jaga dirimu baik-baik."
Jongin tidak membalas ucapan Kris. Ia segera melempar ponselnya ke sofa dan berlari menuju kamarnya untuk mengambil mantel. Dan berlari keluar menghampiri pintu utama. Dengan cepat ia mengetikkan password dan ketika pintu terbuka ia mendapati tubuh Sehun yang terduduk jatuh tepat di depan kakinya.
"astaga Sehun!"
..
Jongin memeras handuk kompresan dan menaruhnya di kening Sehun. Ia menghela napasnya. Untung saja tadi Sehun masih setengah sadar saat ia menemukannya didepan pintu. Dengan susah payah Jongin membopong tubuh Sehun yang lebih besar darinya itu membawa ke keamarnya. Dan sekaran Sehun terbaring tak sadarkan diri dengan demam yang lumayan tinggi.
Jongin menggigit bibir gelisah. Haruskah ia menggantikan baju Sehun? Tapi ia merasa tak berhak. Namun baju Sehun yang basah kuyup membuatnya berpikir duakali. Ia sudah menyiapkan baju Kris yang tadi sudah diambilnya. Jongin meyakinkan dirinya sekali lagi untuk menggantikan baju Sehun. Ya, Sehun juga tidak akan tau, toh dia sedang pingsan kan?
Dengan sekali tarikan napas, Jongin mulai mulai membuka kancing baju Sehun dengan pelan. Ia tidak mau jika Sehun sambil tersadar. Setelah kancing terlepas ia mulai melepaskannya dari tubuh Sehun dengan sedikit kesusahan. Ia memambil baju Kris yang terletak tak jauh dariya dan hendak memasangkan di tubuh Sehun sebelum sebuah tangan menangkap pergerakan tangannya.
Jongin melebarkan matanya. Jantungnya berdetak tak karuan, pipinya mulai memanas. Gawat. Sehun sudah sadar. Oh tidak bagaimana ini? Harga dirinya akan terinjak lagi jika ia ketauan melakukan ini—
"Jongin.." gumam Sehun tanpa membuka matanya.
"y-ya Sehun?" Jongin memandan takut-takut kearah Sehun.
"Jo...ngin" gumam Sehun lagi.
Jongin mengernyit. Tak ada tanda-tanda Sehun akan sadar. Sehun masih menutup matanya, namun satu tetes airmata membuat Jongin membulatkan matanya. Sehun menangis?
"Jongin.. mianhae.. Jongin.. andwae.." Sehun bergerak gelisah dalam tidurnya. Sehun... memimpikannya? Sebesar itukah rasa bbersalahnya?
Jongin menangkup wajah Sehun dan mulai menghapus lembut airmata Sehun dengan ibu jarinya. Ia mengusap pipi Sehun guna menenangkannya. Sehun masih sedikit terisak. Namun sudah mulai tenang. Tak lama Sehun tertidur kembali. Jongin memandangnya miris. Pipi Sehun terasa lebih tirus dari sebelumnya. Tubuhnya juga kelihatan lebih kurus. Apa Sehun makan dengan baik? Apa Luhan menjaganya dengan baik. Tapi kenapa? Kenapa Sehun masih menghantui hidupnya jika sudah ada Luhan disisinya?
"wae Sehun-ah? Kenapa kau seperti ini? Membuangku lalu kau berusaha mengambilku kembali?" ucap Jongin lirih. Segera ia menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda dan beranjak keruang tamu. Ia akan tidur disana saja daripada harus satu ruangan dengan orang yang membuat hidupnya berantakan seperti ini.
Flashback
"Sehun! Lihatlah, indah sekali bukan?" seorang wanita menunjukkan hasil objek fotonya kepada lelaki yang sedang duduk sambil menatap wajah ceria sang gadis. Lelaki itu –Sehun- tersenyum lembut melihat wajah cerah sang gadis. Diusapnya kepala sang gadis, dan mendapat tatapan protes dari gadisnya itu.
"ya Sehun! Kau tidak mendengarkan apa yang aku bilang barusan?" tanyanya denagn wajah marah yang sangat lucu menurut Sehun.
Sehun menggelengkan kepalanaya pelan membuat sang gadis memukul bahunya, namun tidak keras.
"aish aku membencimu." Katanya sambil membuang mukanya.
"benarkah?" tanya Sehun antusias. Namun sang gadis diam tak menjawab pertanyaan Sehun.
Sehun menggeser dudukna dan memeluk tubuh sang gadisnya dari samping sambil menaruh kepalanya di pundak gadisnya. "hey apa kau marah?"
Sang gadis tetap tak menggubris. Dapat Sehun lihat bibirnya mengerucut menggemaskan. Namun, Sehun masih mengerti dan ia tak akan mengecup bibir merah itu meskipun ia sangat ingin. Segera Sehun mengecup hidungnya itu membuat sang gadis memekik.
"astaga Sehun! Aku benar-benar membencimu!"
Sehun terkekeh, "baiklah maafkan aku, Jongin sayang. Jadi, apa yang kau perlihatkan tadi?" tanya Sehun dengan nada lembut membuat Jongin melupakan rasa kesalnya dan menunjukkan kembali kamera slr nya yang menampilkan pemandangan pantai yang sangat indah.
"jadi ini?" Jongin mengangguk, "indah bukan?" katanya dengan meta berbinar. Sehun menggeleng lagi membuat Jongin mengerutkan dahinya bingung.
"menurutku, kau jauh lebih indah, Jongin." Ucap Sehun sambil mencium keningnya. Pipi Jongin memerah mendengarnya. Perasaannya menghangat. Sehun selalu saja bisa membuatnya menjadi seperti anak remaja yang baru merasakan cinta.
"Jongin?"
"ya Sehun?"
"aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jangan pergi dariku." Sehun memeluk erat tubuh Jongin. Jongin tersenyum dan membalas pelukan Sehun.
"aku juga mencintaimu Sehun. Ya aku berjanji. Dan berjanjilah juga untukku kau tak akan meninggalkanku."
"aku terlalu mencintaimu, Jongin sayang. Dan aku tidak akan bisa melakukan itu."
Flashback off
Sehun terbangun dari tidurnya. Ia mencoba untuk duduk walaupun kepalanya masih terasa pusing. Ia terdiam mengingat mimpinta barusan. Ia bermimpi—bukan, itu bukan mimpi. Tapi adalah kenangannya dengan Jongin dulu. Rasanya menyenangkan sekali. Andai waktu bisa diulang, ia tak akan mau mengkhianati Jongin, dan sekarang mungkin mereka akan hidup dengan bahagia. Namun, penyesalan selalu datang belakanang bukan?
Sehun tersenyum miris. Lalu ia menatap sekelilingnya. Ini bukan kamarnya. Tapi ia bisa mengenali aroma yang berada di kamar ini, lavender. Harum khas seorang Kim Jongin. Benarkah? Benarkah ia berada di kamar Jongin? Sekilas ia teringat kejadian saat Jongin membuka pintu dan membantu memapah tubuhnya saat setelahnya semuanya menjadi gelap. Sehun tersenyum. Itu berarti Jongin tidak benar-benar membencinya kan?
Ia turun dari tempat tidur dan berjalan untuk mencari Jongin. Melihat jam di sebentar, pukul dua pagi. Jongin tidur dimana? Pikirnya. Ia berjalan keluar dan menuju ruang tamu terlebih dahulu. Dan benar saja, berada disana. Di sofa, dengan selimut tipis, padahal udara sanagt dingin. Ia menghampiri Jongin dan berjongkok tepat dihadapan wajah damai Jongin.
Sehun mengelus lembut, sangat lembut agar Jongin tidak terbangun dari tidurnya. "aku mencintaimu, Jongin." Ucapnya lirih dengan tatapan sendu.
"apa kau tak bisa memaafkanku?" ia menjeda ucapannya. Menguatkan dirinya sebelum melanjutkan, "aku akan pergi darimu jika itu yang kau inginkan. Tapi aku mohon. Bicaralah padaku, katakan jika kau ingin aku benar-benar pergi dari hidupmu, dan aku akan melakukannya untuk menebus semua kesalahanku."
Tak lama, Jongin membuka matanya, menatap mata Sehun yang juga sedang menatapnya dalam dengan mata yang berkaca-kaca. Hati Jongin sakit melihatnya. Ia masih sanagt mencintai Sehun, namun egonya memilih untuk melepaskan Sehun. Maka dari itu, ia menetapkan hatinya untuk memilih keputusan yang benar-benar sudah ia pikirkan dengan matang.
"pergilah... Sehun."
.
.
.
TBC
A/N: how a bad chap T_T aku udah berusaha, tapi.. emang dasarnya gabisa bikin angst jadinya ya begini-_- kayaknya ff ini gak bakal sampe 10 chap yaa. Soalnya masih banyak projek ff yg mau aku publish wkwk.
Buat yg nembak itu luhan selamat kamu benar! Ya gak heran jugasih, udah gampang ketebak yakan-_-
Ohiya, sehunnya disuruh pergi tuh sama jongin. Jadi kalian maunya sehun pergi dan menghilang aja atau si jongin yg berubah pikiran nih? Wkwk.
Big thanks to:
[ jonginisa ][ Wiwitdyas1 ][ jumee ][ cute ][ alv ][ ariska ][ kim Ha Kyung ][ Ren Chan ][ Guest ][ kianini ][ Baby niz 137 ][ Kim Kai Jjong ][ Kamong Jjong ][ sayakanoicinoe ][ VampireDPS ][ ulfah . cuittybeams ][ yuvikimm97 ][ bubbleosh ][ ohkim9488 ][ Nadhefuji ][ vivikim406 ][ Guest ][ Hun94Kai ][ dwinur . halifah . 9 ][ Jongin48 ]
Duh yg seneng ngeliat sehun menderita seneng amat kayaknya wkwk. Tenang, ff ini happy ending kok, karena aku juga benci sad ending huhu.
See you in next chap mwach!
Review please?
