A/N: Thank you for pointing out my mistakes.
Naruto © Kishimoto Masashi.
This is a work of fanfiction. No material profit is taken.
against the sun
A Naruto fanfiction
.
.
Sasuke memperlakukan Sakura dengan formalitas paling kaku yang bahkan membuat Kakashi menaikkan alisnya tinggi-tinggi dalam tanya.
Satu-satunya cara memperlakukan wanita itu yang Sasuke ketahui adalah dengan senyum samar dan tangan lembut dan atensi penuh, tetapi cara itu tentunya tidak bisa dia gunakan sekarang. Jadi, Sasuke terpaksa memilih jalur penuh formalitas itu. Sakura, jika dia keberatan dengan perlakuan Sasuke terhadapnya, tidak memperlihatkannya. Entah sejak kapan wanita itu telah belajar caranya bermuka pasif dan pandai menyembunyikan perasaannya. Sakura yang dia kenal sejak kecil tidak pernah sungkan-sungkan menunjukkan perasaannya kepada dunia; dia tertawa dan menangis lebih keras dari siapa pun.
Betapa Sasuke membenci dirinya yang membuat wanita itu harus belajar caranya menutupi perasaannya.
Dan betapa Sakura telah membuktikan kepada semua orang bahwa dirinya bukanlah target yang mudah dilindungi. Sudah berapa kali sejak masa tinggalnya di markas itu Sakura menghilang begitu saja, menyalahi berbagai protokol keamanan yang sudah susah payah Sasuke susun dengan teliti. Tim pengawalnya sudah dibuat kewalahan untuk mencari batang hidung Sakura ketika wanita itu mulai berulah lagi. Kesebelas bawahannya sudah bersama-sama menyimpulkan, bahwa jika Sakura tidak ingin ditemukan, tidak ada seorang pun yang bisa menemukannya. Jadi, bukannya segera berpencar dan berkeliling kompleks markas begitu target mereka menghilang, mereka justru berdiam diri menunggu Sakura muncul dengan sendirinya.
Sasuke mencoba mengingatkan dirinya tentang berbagai alasan mengapa mencekik mereka satu per satu bukanlah ide bagus karena saat ini dia sudah sangat tergoda untuk melakukannya. Berada dalam kondisi migrain yang nyaris konstan sama sekali bukan hal yang menyenangkan. Beruntungnya Kakashi yang masih bisa menemukan letak kelucuan dalam situasi pelik yang dialami Sasuke.
"Wanita ini benar-benar menguji kesabaranmu, eh?" Kakashi, bersama beberapa perwira menengah lain yang berada di ruangan bersama mereka, terkekeh geli. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Sasuke telah dibuat nyaris gila oleh kehadiran wanita itu.
"Bagaimana tidak," mulai Kakashi di suatu siang ketika orang-orang Sasuke kehilangan jejak Sakura—untuk yang kesekian kalinya dalam seminggu ini saja. Jika tidak sibuk mengurus agenda diskusi perdamaian mereka, wanita itu lebih banyak membuat masalah bagi Sasuke. "Dia wanita yang terjun dari helikopter seperti atraksi fast roping itu, 'kan?" amat Kakashi. Ada decak kekaguman dalam nada suaranya yang segera membuat Sasuke memutuskan untuk tidak menyukainya. "Kira-kira siapa yang mengajarinya?"
Sasuke mengernyit, tidak suka diingatkan kembali mengenai peristiwa yang terjadi beberapa minggu lalu tersebut. Bukan hanya Sakura yang bergelantungan pada tali suspensi helikopter, melainkan juga jantung Sasuke yang malang. Mengenai kira-kira siapa yang mengajari wanita itu, Sasuke tidak punya keraguan sedikit pun: dua dari tiga kakak laki-laki Sakura dulunya adalah anggota pasukan angkatan udara. Seorang kakaknya yang lain yang bertanggung jawab mengajari Sakura merakit dan membongkar bomnya sendiri.
Tumbuh besar bersama empat bersaudara itu, Sasuke tidak lagi tahu berapa banyak hal ilegal yang telah mereka ajarkan kepada adik perempuan mereka yang saat itu masih di bawah umur. Meski tentu saja, tidak akan ada yang percaya bahwa seorang Sakura, yang masih gemar membawa boneka beruangnya kemana-mana hingga usia dua belas tahun, pernah dilatih sebagai seorang penembak jitu. Tidak akan ada yang percaya bahwa wanita yang ramah dan perhatian itu telah melalui begitu banyak kepahitan hidup. Tetapi orang-orang berkata, mereka yang terluka paling dalam justru yang mampu tersenyum paling indah.
Harusnya Sasuke tidak melupakan hal-hal penting itu. Sakura: Sakura yang menuntut didudukkan di atas pundak ayah Sasuke dan dibawa terbang berkeliling halaman rumah; Sakura yang tidak sampai hati menolak pemberian yukata musim panas pertamanya dari ibu Sasuke; Sakura yang merupakan adik perempuan kesayangan kakak Sasuke; Sakura yang terikat terlalu kuat dengan keluarganya tidak seharusnya dia lupakan begitu saja.
—
—
Letnan jenderal paling berpengaruh itu tiba di markas regimen mereka beberapa hari setelah kedatangan Sakura; datang bersama sekawanan perwira bawahannya yang merangkap tugas sebagai pengawalnya.
Sasuke merasa ayahnya telah benar-benar bertindak di luar kebiasaannya. Karenanya, di suatu kesempatan ketika dia berhasil mengonfrontasi ayahnya, yang keanehannya tidak berhenti hanya sampai membuat Kakashi dan Sasuke bermain pengawal untuk Sakura, Sasuke menyuarakan kesangsiannya atas sikap pria itu.
Ayahnya memandangnya dengan tatapan mata tak terbaca, rahang kaku; mengenakan ekspresi yang sama saat dia memarahi kedua putranya karena telah kehilangan jejak Sakura ketika mereka pergi bermain di taman kota.
"Sudah berapa kali kita gagal melindunginya, Sasuke?" Fugaku bertanya-tanya, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang kepada Sasuke. "Untuk kali ini saja, Ayah ingin melakukan yang terbaik untuk melindunginya. Di antara kau dan Kakashi, tidak ada orang lain yang Ayah percayai untuk melindungi menantuku."
Ucapan ayahnya menyengat dada Sasuke seketika. "Mantan," koreksi Sasuke dengan keengganan yang menyelinap dalam nada suaranya. "Mantan menantu."
Fugaku, masih dengan tatapan tak terbacanya, terdiam sejenak memandang putra bungsunya yang terlalu banyak mewarisi sifat-sifatnya. "Kau tidak terlihat seperti mantan siapa-siapa."
Sasuke tidak tahu harus memberi respon macam apa terhadap komentar itu. Jadi, dia alihkan saja arah pembicaraan mereka dengan pertanyaan lain. "Kenapa Ayah tiba-tiba ikut berurusan dalam pembicaraan perdamaian ini? Ayah bukan Mayor Jenderal Namikaze."
Fugaku mendengus. "Puji Tuhan." Fugaku dan juniornya itu terlalu bertolak belakang untuk bisa disamakan. "Kau tahu betapa berbahayanya posisi Sakura sebagai seorang delegasi perdamaian?" Fugaku terhenti sejenak, menunggu Sasuke mengangguk paham. "Kita berdua sama-sama tahu betapa liciknya mereka. Mereka tidak menginginkan perdamaian, lalu kenapa tiba-tiba sekarang mereka berubah pikiran?
Ayah sama sekali tidak meremehkan pencapaianmu, tapi setelah satu dekade berdarah, kali ini nyaris terlalu mudah. Gelagat mereka terlalu mencurigakan. Sayangnya, Sakura terlalu peduli sampai dia nekat mengambil risiko menjadi delegasi dalam situasi genting ini. Kita berhutang banyak hal kepadanya, Sasuke, sangat banyak."
Sasuke tidak perlu diberitahu lagi. Dia juga memahami dengan baik berapa banyak hutang mereka kepada Sakura. Hutang nyawa, hutang kebahagiaan, hutang masa lalu dan masa depan, dan tidak satu pun yang bisa Sasuke maupun Fugaku bayarkan.
"Jadi jika perdamaian dunia adalah apa yang Sakura inginkan, Ayah sendiri yang akan membawakannya untuknya."
Bagi Uchiha Fugaku, dan Uchiha-Uchiha lain sebelum dan sesudah dirinya, keluarga adalah kepada siapa dia menempatkan loyalitasnya pertama kali, sebelum loyalitas seorang prajurit kepada negaranya—suatu pelajaran yang sempat Sasuke lupakan dulu, yang harganya harus dia bayarkan seumur hidupnya.
—
—
Sasuke berdiri di hadapannya, hanya berjarak tiga langkah dari tempatnya berdiri kini, tetapi Sakura tahu dia tidak bisa memangkas jarak itu untuk meraihnya. Seragamnya yang rapi dan insignianya yang berkilat-kilat seolah mencemooh Sakura tiada hentinya. Monster-monsternya kembali berteriak menertawakannya.
"Siapa kau?" tanya pria itu dengan suara parau. Keningnya berkerut dalam, matanya menuntut tajam. Sakura membenci betapa pria itu kini terlihat jauh lebih mirip seorang Kolonel Uchiha daripada suaminya Sasuke. Mantan suami. "Kau terlihat seperti dia, tapi bukan dia."
Tidakkah mereka semua begitu? Yang tersisa dari mereka hanyalah wajah-wajah familier yang semakin hari semakin tidak Sakura kenali. Sakura bertanya-tanya apa lagi yang telah berubah dari pria itu. Ada bekas luka di pelipis kirinya, kalus yang semakin kasar di telapak tangannya, kerut nyaris permanen di antara kedua alisnya, garis mulutnya yang lebih turun dari yang Sakura ingat. Sasuke juga, duga Sakura, tidak mengenali Sakura yang sekarang. Waktu telah mengubah banyak hal dari diri mereka masing-masing, tetapi mungkin bukan apa yang masih tersisa di antara keduanya selama ini.
"Ke mana perginya wanita dengan mimpi sederhana itu?"
Di mana, Sakura juga mempertanyakannya. Entah sudah sejak kapan Sakura kehilangan dirinya yang dulu. Sudah tidak tersisa jejak-jejak wanita polos nan lugu yang mengharapkan kebahagiaan dalam hidupnya. Yang tersisa hanya seorang Sakura yang getir dan skeptis terhadap dunia.
Sama-sama tidak memiliki jawaban atas pertanyaan itu, Sakura tersenyum tipis. "Dia sudah lelah menunggu kepulangan orang-orang yang tidak akan pernah pulang."
—
—
Ini adalah agenda diskusi kelima mereka.
Sudah begitu banyak waktu berlalu semenjak hari ketika mimpi buruk Sasuke mewujud nyata. Kini dirinya hidup dalam kondisi cemas dan paranoid yang konstan. Sasuke sama sekali tidak menanti-nantikan agenda diskusi mereka berikutnya. Agenda berikutnya berarti mereka harus menyeberang tembok perbatasan untuk berganti lokasi diskusi.
Sasuke tidak mempercayai segala hal yang berhubungan dengan negara tetangga mereka itu. Orang-orangnya terlalu misterius dan tertutup. Setelah satu dekade beradu senjata dengan mereka, Sasuke tahu betul sampai sejauh mana kelicikan mereka, yang tercermin dalam setiap manuver politik dan strategi militer mereka selama ini. Sasuke adalah yang paling vokal menyuarakan ketidaksetujuannya mengenai pengaturan tempat diskusi mereka. Tetapi jika sudah berhadapan dengan kekeraskepalaan Sakura, dia sendiri seringkali tidak bisa berbuat apa-apa.
Sasuke mencoba keras untuk tidak menjengit dalam kepanikan setiap kali seseorang berdiri terlalu dekat di sekitar Sakura. Sikapnya itu, sudah saatnya Sasuke akui, sedikit banyak adalah campuran antara kewaspadaan dan kecemburuan yang dirasakannya. Tak peduli bagaimanapun hubungan mereka sekarang, Sasuke tidak pernah suka berbagi. Kini, semua orang di markas besar mereka tahu untuk tidak berbuat macam-macam kepada Sakura, dengan maksud dan tujuan apa pun. Tak terkecuali.
Beberapa orang curiga, beberapa yang lain sampai berani mulai menggali-gali informasi mengenai hubungan keduanya. Sasuke tidak peduli dengan apa pun yang mereka bicarakan di belakangnya. Sasuke hanya butuh mereka menuruti perintahnya—meski harus Sasuke akui, kali ini dia telah sedikit menyalahgunakan posisi dan jabatan tingginya.
"Mereka ingin apa?" tanya Sasuke, nyaris membentak, kepada Sakura yang berdiri di hadapannya.
Mereka baru saja mengakhiri sesi diskusi melelahkan mereka, masih dengan hasil nihil, dan Sasuke sudah sangat siap untuk kembali ke markasnya. Satu per satu perwakilan militer lawan mereka telah meninggalkan ruangan, menyisakan Sasuke, Sakura, dan beberapa anggota tim pengawalannya di ruangan yang telah tiga kali menjadi lokasi diskusi alot mereka.
Sakura seketika mengatupkan rahang rapat-rapat. Matanya was-was memandang Sasuke dan gerak-geriknya persis seperti Sakura yang dulu: yang hendak mengatakan suatu hal yang tidak Sasuke sukai dan kini tengah berusaha mengubah redaksi kalimatnya.
"Mereka meminta pengaturan yang lebih personal untuk diskusi berikutnya," ulang Sakura lamat-lamat. Pandangan mata masih waspada.
"Definisikan makna personal di sini."
Sakura menggigit bibir. "Tanpa pengawalan."
"Tidak."
"Sas—Kolonel Uchiha!"
Sasuke memandanginya dalam diam. Tatapan matanya tajam, rahangnya tegas. Semua orang tahu untuk tidak menentang Kolonel Uchiha jika pria itu sudah memasang wajah yang demikian. "Tidak."
Tetapi tentunya, Sakura selalu menjadi pengecualian dalam setiap tidak Sasuke. Sudah berapa kali wanita itu telah menjadi sebab dari setiap keragu-raguannya, alasan dari setiap penyesalannya, tujuan dari setiap kepulangannya. Betapa wanita itu telah menguasai seluruh entitasnya. Tidakkah wanita itu paham apa yang tengah Sasuke pertaruhkan baginya?
"Aku dan delegasi yang lain sudah bersedia."
Sasuke tidak pernah peduli dengan yang lain, tetapi saat ini dia membutuhkan argumentasi yang lebih kuat dari sekadar kata 'tidak'.
Masih dengan ketegasan yang sama, Sasuke berkata, "Ini bukan hanya tentang dirimu atau rekan-rekanmu. Kami menolak menempatkan jenderal-jenderal kami dalam situasi berbahaya seperti itu. Tidak akan ada diskusi tanpa pengawalan."
Sakura memicingkan mata. "Ini adalah mandat PBB, Kolonel."
Sasuke mendengus meremehkan. "Kalau begitu kami mundur dari pembicaraan perdamaian ini." Pandangan matanya beradu dengan Sakura. Sasuke tidak akan menyerah untuk kali ini. "Kami hampir memenangkan perang ini. Pembicaraan perdamaian ini hanya menguntungkan mereka. Jadi agenda diskusi ini seharusnya dilakukan dengan cara kami. Tidak ada pengawalan, tidak ada diskusi."
Sasuke tahu dia telah memantik amarah wanita itu. Tetapi ada beberapa hal yang tidak akan pernah Sasuke kompromikan meski harus menanggung risiko dan berhadapan dengan kekeraskepalaan Sakura yang setara batu gunung.
Dan persis seperti yang Sasuke prediksi—karena dia masih mengenal Sakura paling baik—bukannya menyerah dan menurut, wanita itu justru semakin garang memelototi Sasuke. Ada arogansi yang khas dalam sudut dagunya yang diangkat tinggi-tinggi. "Baik. Kita lihat saja nanti."
—
—
Kening Sakura berkerut dengan cara yang dia tahu Sasuke benci; kerut yang menjadi pertanda bahwa dia akan melakukan suatu hal yang tidak pria itu sukai, terlebih karena dia tahu Sasuke tidak akan bisa mengubah keputusannya.
"Kalau aku tidak bisa mempercayai mereka untuk tidak melukaiku atau rekan-rekan delegasiku yang lain, Kolonel Uchiha, bagaimana aku bisa mempercayai mereka untuk melanjutkan agenda perdamaian ini hingga akhir?"
Sakura terdengar seperti orang bodoh, memang, tetapi rekan delegasinya yang lain turut mengangguk setuju. Kalau begitu setidaknya, dia tidak terlihat bodoh sendirian. Dia bisa melihat betapa kerasnya Sasuke menahan diri untuk tidak meluapkan kekesalannya, entah kepada Sakura atau kepada perwakilan militer pihak lawan yang begitu bodohnya memamerkan wajah sombong mereka. Barangkali Sakura sudah terlampau jauh menguji kesabaran pria itu.
Tetapi Sakura tidak bodoh dan, tidak seperti yang kebanyakan orang sangka tentang dirinya, tidak pula naif. Sakura tahu ada yang berbeda dari agenda diskusi kali ini. Ada sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan yang mengganjal hatinya; dari atmosfer gedung yang terlalu pekat hingga lirikan-lirikan yang terlalu misterius.
Sakura, yang sudah sejak kecil diajari untuk selalu mempercayai instingnya, diam-diam mempersiapkan dirinya ketika memasuki ruang diskusi mereka. Meski, harus dia akui, keputusannya untuk menuruti tuntutan pihak lawan untuk mengadakan diskusi tanpa penjagaan itu adalah keputusan bodoh. Dia tidak menyukai ekspresi ganjil penuh kecurigaan yang dengan gamblang Sasuke tunjukkan. Dia tidak menyukai sudut kaku bahu Fugaku ketika berjalan di sisinya. Dia tidak suka berada di dalam ruang tertutup tanpa Sasuke yang berdiri di belakangnya.
Tetap saja, Sakura memiliki tugas penting yang harus dia jalankan. Dia hanya bisa berharap instingnya salah untuk kali ini. Karena jika dia terbukti benar, Sakura tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya nanti; tidak dengan kehadiran dua Uchiha yang bagai predator itu di sana.
Tetapi, tentunya, kehidupan suka sekali mengecewakan Sakura. Kali ini pun tidak ada bedanya. Rasanya baru sebentar mereka memulai diskusi alot mereka ketika tiba-tiba saja seseorang dari pihak lawan mengeluarkan senjata api dan mengarahkannya kepada Uchiha Fugaku. Sakura, tentu saja latihan dan gaya hidupnya selama ini telah mendarah daging di dalam dirinya dengan begitu kokohnya, tanpa pikir panjang melompat dari kursinya dan melakukan satu-satunya hal yang bisa dia pikirkan.
Ada suara tembakan—sudah lama Sakura tidak mendengarnya, dan ada setitik keterkejutan ketika dia baru menyadari betapa kerasnya suara itu terdengar di dalam ruangan tertutup—yang dengan mudahnya memporak-porandakan agenda mereka. Sakura, jika dia bisa keluar hidup-hidup dari situasi ini, akan menjewer telinga dan memaki habis-habisan siapa pun yang telah mencetuskan ide mengerikan semacam ini. Berani-beraninya mereka menghancurkan kerja kerasnya selama nyaris dua bulan ini.
—
—
