Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T

Warning : OOC, typo (maybe), AU, angst (dikit), gaje, amburadul, dll

Hiruk-pikuk kantin sekolah selalu ramai setiap saat, udara yang semakin sesak karena murid-murid sekolah itu satu demi satu berdatangan hanya untuk mengisi perut mereka yang sudah mengadakan 'konser live'. Tak terkecuali bagi seorang Uchiha Sasuke, walaupun ini sudah waktu pulang sekolah, kantin sekolah itulah yang tidak pernah nampak kosong. Selalu ramai dikunjungi berbagai makhluk sekolah (?)

"Kau kenapa Sasuke? Kok kelihatan 'galau' sekali?" Tanya seorang pria berambut jabrik hitam dengan dua tanda di kedua pipinya.

"Nggak." Sasuke menjawab dengan sinis, ia terlihat seperti sedang serius melihat sesuatu.

"Kau nampak berbeda hari ini, apa kau tadi salah makan?" Tanya lagi pria itu ngasal.

"Enak aja!" Sasuke memberikan deathglarenya kepada pria yg berada tepat di depan ia duduk. "Aku sedang berfikir..." Tambahnya, tatapan deathglarenya barusan sudah lenyap dari wajahnya.

"Berfikir apa kau?" Wajahnya nampak penasaran, kemudian dia meletakkan kedua tangannya di meja, melipatnya sehingga bisa menopang dagunya. "Tentang Hinata, kan?" Pria itu sedikit menampakan ketawa nyindir.

BUAGH!

Tepat dibagian wajah, kembali Sasuke dengan sukses nimpuk pria itu dengan kamus 500 halamannya. *kok kamusnya dibawa kemana-mana ya?* "Bukan urusanmu, Kiba!" Tepat setelah ia nimpuk pria yang bernama Kiba dengan kamusnya tadi, dia mengambilnya kembali dan beranjak berdiri dan hendak melangkah pergi, sepertinya kalau ia tetap duduk pembicaraan akan mengarah ke masalah pribadi Sasuke. Ya ngerti sendiri kalau Sasuke itu tidak suka membicarakan masalah pribadinya kepada siapapun, ia lebih memilih memikirkan sendiri jalan keluar untuk masalahnya.

"Jadi benar, kan, Sasuke?" Kiba menyeringai, tidak memperdulikan hidungnya sakit karena baru ditimpuk kamus oleh Sasuke. Langkah Sasuke terhenti sejenak, menolehkan kepalanya kehadapan Kiba, "Kau tau apa tentangku?" Lalu dia memasukkan kedua tangannya ke kantong dicelananya dan beranjak pergi. Kiba menampakkan senyum kemenangannya, tapi seolah Sasuke 'cuek-cuek' aja. *Dia kan ngga mau image nya di sekolah jatuh cuma karena pembicaraan bodoh itu* * dichidori*

'Tau apa kau tentangku, hah?' batin Sasuke di sela-sela langkahnya keluar dari kantin.


'Kenapa harus Hinata?' gumam Sasuke sambil menggebrak meja di depannya, lalu berdiri mondar-mandir seperti orang bingung membayar hutang *plakk* 'Aku suka, tapi aku tak bisa jika ada si baka Dobe itu.' langkahnya mondar-mandirnya semakin dipercepat, namun terhenti.

Tok Tok Tok

Seseorang mengetuk pintu apartemennya, 'Mengganggu saja' gumamnya seraya berjalan menuju pintu.

KREEKKK

Suara pintu berdesis saat dibuka, Sasuke nampak terkejut dengan apa yang dilihatnya. Belum sempat pintu sepenuhnya terbuka, Sasuke langsung membanting pintu itu, menutup dan mencoba berfikir kalau orang yang sedang berdiri didepannya itu tak nyata.

"Wajar jika kau tidak ingin melihatku, Sasuke-kun." Suara yang sangat lembut tapi terlihat sendu mulai bersuara. "Aku datang kesini bukan untuk menambah luka di hatimu lagi, ak-" belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Sasuke memotong perkataan itu, "Cukup! Aku sudah tidak mau melihatmu dan mendengar penjelasan apapun darimu!" Ucap Sasuke dengan suara tegas namun sedikit menampakkan ketakutan.

"Hmm..." Perempuan itu menghela nafas pendek, mendekati dan menyandarkan tubuhnya di tembok dekat pintu apartemen Sasuke, "Selama 3 minggu ini aku mencarimu. Jika kau mau membuka pintu dan mendengar sedikit saja tentang penjelasanku, aku berjanji tidak akan menemuimu lagi."wajahnya tertunduk lesu.

KREEEKK

Tampak pintu yang tadi tertutup kini mulai dibuka oleh Sasuke, sedikit demi sedikit hingga akhirnya pintu itu sepenuhnya terbuka. Mendengar suara pintu terbuka, perempuan yang posisi awalnya menyender di tembok dekat pintu kini sudah menghempaskan tubuhnya memeluk Sasuke, air mata mulai menetes dari pelupuk matanya. Sasuke yang menerima tubuh mungil perempuan itu nampak seperti tidak mempunyai jiwa, diam mematung. Suasana berlangsung seperti ini hingga 1 menit. Setelah jiwanya kembali dalam raganya (?) Sasuke dia langsung memegang pundak dan melepaskan pelukan perempuan itu dengan kedua tangannya.

"Kau punya waktu 5 menit untuk menjelaskan semuanya, Sakura..."


FLASHBACK ON

"BERHENTI, SASUKE!" Teriak seorang pria berambut merah dengan tatanan rambut yang acak-acakan

"Apa lagi yang ingin kau katakan padaku? Hah?" Bentak Sasuke karena sudah terlampau kesal.

"Pasti ada alasan mengapa dia tiba-tiba memutuskanmu!" Seru pria itu yg sudah berhenti berlari mengejar Sasuke, nampak berkeringat tapi raut wajahnya tak menunjukkan kalau dia lelah.

"Alasan macam apa lagi yang akan dia keluarkan? Sudah jelas-jelas dia bermain dibelakangku!" *main petak umpet donk* *plakk* Ucap Sasuke terlihat sangat geram, terlihat dari bagaimana dia mengepalkan tangan. Kalau yang bicara itu bukan temannya, mungkin dia sudah dihajar Sasuke hingga masuk Rumah Sakit. +_+

"Aku tak tau! Tenangkanlah sedikit amarahmu itu! Temui Sakura dan mintalah penjelasan kepadanya!"

Sasuke meregangkan kepalan tangannya dan berjalan kearah temannya yang tadi. Menatapnya dan menampakkan kesan aku-ingin-membunuhmu-sekarang-juga. Di cengkramlah kerah baju temannya itu, "Tau apa kau tentangku, hah?" Suaranya terlihat seperti api yang terkena minyak, semakin ditetesi minyak semakin besar apinya.

"Pukul saja aku jika itu bisa meredakan amarahmu!" Suaranya agak meninggi, raut wajahnya tampak sangat kesal pada Sasuke.

Sasuke mengepalkan tangan kanannya, mengambil kuda-kuda dan bersiap memukul temannya itu. Namun diurungkan niatnya itu, tangan kirinya yang tadi memegang kerah baju temannya itu sekarang sudah dilepas, "Maafkan aku, Garaa. Aku sudah kehilangan akal ketika aku mengetahuinya." Ucap Sasuke sambil menunduk, "Rasanya sakit..." Kakinya lemas terkulai, duduk. Menyenderkan punggungnya di tembok didekatnya, mengangkat kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya diantara kedua kakinya. Tetesan air matanya mulai berjatuhan ke tanah.

"Aku tau." Garaa kemudian memegang pundak kiri Sasuke, "Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Masih ada hari esok yang mungkin akan merubah kehidupanmu menjadi lebih baik." Sambil tersenyum, Garaa mengulurkan tangannya. Dengan perlahan Sasuke menerima uluran tangan sahabatnya itu. Seperti apa keadaan Sasuke, selalu ada Garaa yang memberinya nasehat. "Kau benar Garaa, aku tidak boleh terpuruk hanya karena seorang gadis!" Seru Sasuke yang mulai mengusap air matanya, kalimat yang diucapkan Garaa barusan seperti sihir bagi Sasuke. Seperti obor dan api, selalu menerangi setiap gelapnya jalan dengan cahaya mereka. (A/N : kok rada maho nih flashback nya Sasuke ama Garaa, critanya kan mereka berdua sahabat disini =_=")

Malam itu juga, tanpa memberi kabar terhadap Garaa, Sasuke meninggalkan Oto ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan. Konoha.

FLASHBACK END


SASUKE POV

"Penjelasanku..." Sakura menghela nafas.

"Soal Sai-"

DUG. Dadaku terasa sakit ketika dia mengucapkan nama itu.

"Sudah menjadi sifat turun-temurun jika seorang putri Haruno dijodohkan-"

DUG. Dadaku terasa sakit lagi. Dijodohkan?

"Aku terpaksa bertunangan dengannya, jadi-"

Cukup! Hentikan Sakura, ku mohon!

"-dengan terpaksa aku meng-iya-kannya, ancaman itu..." Suaranya terhenti. Ancaman apa yang dia maksud?

"Mereka mengancam akan membunuhmu jika aku menolak pertunangan itu." Lanjutnya dengan nada sedikit rendah dari yang tadi.

Aku terbelalak dengan kata-katanya barusan, mem-membunuhku? "Apa maksudmu dengan membunuhku?" tanyaku sedikit sinis, walaupun sebenarnya aku ingin sekali menangis.

"Ya, keluargaku adalah mafia." pekiknya lirih dilanjutkan dengan helaan nafas. Aku masih bingung, mafia?

"Baiklah, waktu 5 menitmu sudah habis! Sekarang, bisakah kau keluar dari sini?" Tanyaku cuek sambil memasukkan kedua tanganku ke dalam saku celana.

"Ba-baiklah, Sasuke-kun. Kuharap kau menemukan seseorang yang lebih baik dariku." Sakura memalingkan wajahnya searah jarum jam dengan terpaan angin mengenai rambut pink-nya sehingga membuatnya bergejolak seperti air laut. Dia pergi, pergi hingga aku tidak dapat melihatnya lagi.

Aku menutup pintu apartemenku. Menyesal? Ya! Senang? Ya! Kedua perasaan itu bercampur aduk didalam hatiku. Membuatku semakin ingin menghancurkan pintu apartemenku yang sudah reyot. Lalu aku duduk di sofa, meluruskan kedua kakiku yang daritadi nampak tegang karena pembicaraan itu. "Hhhh..." Aku menghela nafas panjang, kemudian berusaha menutup mataku, berfikir bahwa yang aku alami barusan itu terjadi dan tak pernah mengenalnya. Dan aku tertidur...

To Be Continued


Balasan Review

Chappy-chan : arigatou pujiannya, maap baru kepikiran bales review ^^ salam kenal juga, Chappy-chan.

zhoumimi : tengkyu ^^ kalo ada inspirasi sih bisa cepet update, kalo lagi blank bingung mau nulis apa

Mikky-sama : buat ending sih udah kepikiran *manggut-manggut* malah udah di tulis, cuma lagi mikir bikin stroy nya aja dulu, emang mau bikin Sasuke kacau nih, wkekeke

Ilham S'EyeShield AKATSUKI : hihi ^^ makasi mau mampir *bungkuk-bungkuk*