Dan kedua onyxnya membola saat ia melihat Taehyung keluar dengan sebuah koper yang ia geret dengan tangan kirinya. Tidak. Bukan itu yang membuatnya tercengang. Namun penampilan Taehyung saat ini. Sebuah snapback yang menutupi surai lilac acak-acakannya, kaus kutung putih dengan sablon Parental Advisory di depannya dan juga jaket jeans di atasnya. Serta celana putih super pendek yang bahkan tak mencapai setengah pahanya. Membuat Jungkook dapat melihat paha tan namun mulus itu. Seketika ia menelan salivanya gugup.

"Hey! Apa yang kau lihat?"

Suara berat dengan nada sarkas itu mengusik pendengarannya. Dipandanginya sosok Taehyung lekat-lekat. Kopernya ia berdirikan di samping kaki jenjangnya. Kedua tanganya berlipat di depan dada. Sorot matanya tajam, tapi juga menggoda dalam satu waktu.

Taehyung berjalan mendekatinya, melambaikan tangan di depan wajahnya. Seolah ingin menyadarkannya dari rasa terkejutnya. Manik abu-abu itu memandangnya penuh tanya, tapi ia juga dapat melihat kekesalan di sana.

Dan satu hal yang membuatnya makin terkejut adalah sepasang manik abu-abu yang terus-terusan menatapnya dengan sorot tajam itu.


Unravel

Cast: Jeon Jungkook, Kim Taehyung

Rated: M

Genre: Crime, Drama, Romance

Melihat kakakmu dibunuh dengan sadis di depan matamu merupakan hal yang sangat menyakitkan. Namun Jeon Jungkook, seorang psikolog harus berurusan dengan pembunuh kakaknya. Kim Taehyung, laki-laki yang mengakui dirinya dan rela ditangkap.

Inspiredby Tokyo Ghoul and its soundtrack, Unravel

Warning: sebaiknya dibaca setelah berbuka puasa karena ada beberapa konten yang 'menjurus'


.

.

.


Onyxnya mengerjab cepat. Memastikan pemandangan di depannya ini nyata. Sosok Kim Taehyung dengan kulit tan manis dan juga sexy yang benar-benar terekspos. Ia mengutuk choker hitam yang melingkari leher jenjang laki-laki itu, membuatnya terlihat menggoda. Shit, kenapa laki-laki di depannya ini benar-benar atraktif?

"Kau―bukan Tae-hyung."

Napasnya tercekat. Wajah Taehyung benar-benar dekat dengannya, hingga ia bisa merasakan napas hangat laki-laki itu menerpa wajahnya. Karena posisi Taehyung yang membungkuk, menyebabkan kaus putih kebesaran itu seperti menggantung. Memperlihatkan dada bidang milik Taehyung. Lagi-lagi ia menelan salivanya gugup.

"Yeah, aku memang bukan Taehyung."

"Lalu kau―"

"Lex. Namaku Lex."

Jungkook terperangah. Ia menemukan satu lagi kepribadian Taehyung. Dan kali ini―agak sulit menjelaskannya.

"Omong-omong, kau siapa?" Salah satu alisnya naik. Lex makin mendekatkan wajahnya pada Jungkook. Membuat laki-laki itu menahan napasnya sendiri.

"Aku Jungkook. Jeon Jungkook. Temannya Taehyung." Ia memundurkan tubuhnya saat wajah Lex semakin mendekat padanya. Kedua alis Lex mengerut.

"Benarkah?"

Jungkook mengangguk cepat. Ia menghembuskan napas lega saat sosok itu menjauhkan wajahnya. Tapi kelegaannya tak bertahan lama saat Lex duduk di atas pahanya dan mengurungnya dengan kedua lengan kurus itu.

"Kau manis."

"Well, terima kasih?"

Tone suara yang agak berat itu sukses membuatnya merinding. Ditambah dengan keintiman yang begitu menyiksanya. Jungkook bisa gila karena sosok ini.

"Berapa usiamu?"

"Duapuluh empat."

"Wow, kau lebih tua dariku. Apa aku harus memanggilmu―ah apa yang biasa orang Korea katakan? Oppa?"

Jungkook tersentak. Ia memandang sosok yang tengah memiringkan kepalanya sembari menyeringai. Satu hal yang tidak pernah terpikir olehnya adalah―Taehyung memiliki kepribadian wanita di dalam dirinya.

Ia menelan salivanya. Ia gugup. Sangat. Hal yang biasa terjadi jika ia berada di dekat wanita. Apalagi jika berada dalam jarak seintim ini. Ia sedikit bersyukur karena wanita itu berada di tubuh Taehyung yang notabene seorang laki-laki tulen. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada dirinya.

"Wajahmu memerah."

Jungkook membuang tatapannya ke berbagai arah. Ia tak ingin menatap langsung manik abu-abu yang tengah berkilat jenaka itu. Jemari lentik itu merayap di sekitar pipi dan rahangnya. Memaksanya untuk menatap ke arah wanita itu. Ia dapat merasakan salah satu tangan milik Lex bergerilya di dada bidangnya. Menyentuhnya nakal. Tak mengindahkan wajah Jungkook yang semakin memerah karenanya. Tangannya semakin turun, menyusuri guratan otot samar di perut laki-laki itu.

"Kau memiliki tubuh yang bagus." Satu kancing kemeja hitamnya terbuka. Lalu disusul satu kancing lagi. Menyebabkan dadanya terekspos. Ia dapat merasakan jemari di wajahnya berpindah tempat ke daun telinganya, membelainya sepelan mungkin. Meninggalkan friksi aneh namun menyenangkan. Ia memejamkan matanya sedari tadi. Entah kenapa tubuhnya melemas dan juga memanas. Jungkook bahkan tak berniat melawan sedikitpun.

Jungkook membelalakkan matanya saat ia merasakan panas di rahangnya. Panas yang begitu menyiksa sekaligus memabukkan. Dan kedua onyxnya semakin membola saat bertubrukan dengan manik abu-abu yang menatapnya sarat akan nafsu. Begitu dekat, begitu intim. Ditambah lidah panas yang bergerak di rahangnya, membuatnya gila. Napasnya tercekat. Suaranya tertahan di kerongkongannya. Ia membenci betapa intensnya wanita itu mencumbunya. Tapi reaksi tubuhnya berkebalikan dengan nalarnya.

Jemari lentik itu sudah membuka kancing kemeja Jungkook sepenuhnya. Tangan nakalnya tak lelah bermain di sekitar tubuh yang terpahat bak dewa itu. Napasnya sendiri memberat. Lidahnya terus menyusuri rahang tegas itu. Ia makin merapatkan tubuhnya pada Jungkook kala kedua lengan itu bertengger di pinggangnya dan menariknya. Seolah haus dengan segala kontak fisik yang diberikan olehnya.

Tangannya semakin turun, menyentuh kancing celana jeans itu. Membukanya perlahan, menghasilkan erangan pelan dari laki-laki di bawahnya. Lidahnya menggoda sudut bibir merah itu, menyelipkannya di antara celah yang terbuka. Salah satu tangannya beralih ke tengkuk laki-laki itu. Menekannya. Membuat kedua bibir itu saling bertubrukan. Hingga saling memagut dengan penuh nafsu.

Sekalipun nalarnya berkata ini semua salah, tapi Jeon Jungkook tetaplah laki-laki dewasa dengan kebutuhan biologis yang harus dicukupi. Bercumbu dengan pasiennya sendiri membuat adrenalinnya terpacu seketika. Tidak, ini tidak bisa dilanjutkan! Batinnya berteriak. Tapi segala rasionalitasnya kalah oleh nafsu yang membumbung tinggi. Sentuhan bibir itu, tangan itu―semuanya, benar-benar membuatnya gila. Terlebih saat jemari itu mendarat di atas alat vitalnya yang masih terbalut oleh pakaian dalamnya. Menyentuhnya dan memanjakannya. Tidak! Ini salah!

Dengan setetes akal sehat yang masih tersisa, ia mendorong tubuh di pangkuannya itu. Melepaskan segala kontak fisik dengan wanita itu. Membuahkan erangan protes dari Lex. Tangannya dengan sigap membenahi celana serta pakaiannya sendiri. Ia berdiri dan dengan suara serak dan dalamnya, ia bertanya. "Dimana letak toilet?"

Lex yang masih kesal karena kesenangannya terhenti menunjuk ke ujung lorong pendek. "Satu-satunya pintu di samping kulkas."

Bibirnya mencebik sebal manakala Jungkook langsung berjalan ke arah yang ia tunjuk. Tapi dalam hati ia tertawa senang. Well, setidaknya ia berhasil membuat laki-laki itu terbuai dengan sentuhannya. "Butuh bantuan?"

"Tidak. Terima kasih. Aku bisa menyelesaikannya sendiri."

Dan seketika ia tertawa mendengar respon Jungkook dari lorong itu. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa. Merogoh kantong jaketnya dan mengambil sekotak rokok beserta pematiknya. Ia membuka kotaknya dan mengambil sebatang rokok dengan mulutnya. Satu tangannya menyalakan pematik dan menyulut rokok itu. Lex menyesapnya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya. Membuat asap membumbung di sekitarnya.

"Kau merokok?"

Manik abu-abunya mengerling ke arah Jungkook yang tengah berdiri di samping sofa. Pandangannya semakin turun ke daerah selangkangan Jungkook.

"Oh, sudah selesai rupanya." Ia terkekah geli sementara tangannya mengetukkan rokok itu ke asbak, membuang abunya. "Kurasa aku tak perlu menjawabnya."

"Hey, rokok tidak baik untuk kesehatan."

"Apa pedulimu?"

Jungkook menghela napasnya. Ia merasa sia-sia menasihati wanita di hadapannya itu. Ia pun mendudukkan diri di sofa, tepat di samping Lex. "Kau sudah memasukkan seluruh pakaianmu?"

Onyxnya mengerling ke arah koper yang tak terlalu besar di dekat meja. Kemudian ia memandang ke arah Lex yang asik dengan rokok di tangannya dan menyilangkan kakinya dengan elegan.

"Well, belum semua. Aku hanya memasukkan milikku."

"Kau tidak memasukkan pakaian milik Taehyung?"

Lex menggeleng. Dan Jungkook kembali menghela napasnya. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar milik Taehyung.

"Hey, apa yang ingin kau lakukan?"

"Packing."

"Ck, jangan sentuh apapun di dalam sana!" Lex bangkit dari sofa dan langsung berlari mengejar laki-laki itu. Ia menahan tangan Jungkook yang hendak membuka pintu itu. Manik abu-abunya mendelik ke arah Jungkook yang mengernyitkan dahi sembari menatapnya heran. "Biar aku saja."

Ia menepis tangan Jungkook dan membuka kenop pintu itu. Melenggang masuk ke dalam kamar itu, meninggalkan Jungkook yang terdiam di depan pintunya. Ia segera membuka lemari berukuran cukup besar, mengabaikan Jungkook.

Sementara Jungkook sendiri masih berdiam diri di depan kamar itu. Ia mengamati kamar berdesain simple seperti ruang tamunya. Warna abu-abu memang mendominasi di apartemen itu, termasuk ruang kamar. Ranjang dengan ukuran minimalis yang cukup ditiduri oleh dua orang, meja nakas yang di atasnya terdapat sebuah lampu meja, dan juga sebuah lemari jati yang cukup besar berada tepat di samping ranjang. Berseberangan dengan lemari, sebuah meja lengkap dengan kursinya tertata rapi merapat ke dinding. Di sebelah meja itu ia dapat melihat sebuah tong sampah kecil yang berisi gumpalan-gumpalan kertas. Dan juga rak buku yang cukup tinggi menjulang di sisi lain dari meja itu.

Kamar yang cukup rapi dan teratur. Dan Jungkook menyukainya. Tae-hyung pasti orang yang rajin berbenah.

"Hey! Kau akan diam saja disana?" Onyxnya bergulir cepat ke arah Lex yang tengah berkacak pinggang. Beberapa lembar pakaian telah tertumpuk di ranjang. Raut wajahnya jelas menunjukkan kekesalan. "Kau tidak berniat membantuku, huh?"

"Kau sendiri yang melarangku menyentuh apapun di kamar ini." Ia yakin saat ini di pelipisnya sudah tercetak sebuah perempatan saraf. Bagaimana tidak? Ingatkan ia jika wanita itu baru saja melarangnya menyentuh apapun di kamar itu dua menit yang lalu. Dan sekarang wanita itu juga yang menuntutnya untuk membantu. Apa-apaan.

Bibirnya mencebik kesal. Tangannya bergerak cepat untuk mengeluarkan pakaian dari lemari itu. "Cepat ambil koper di bawah ranjang itu!"

Dan Jungkook yakin jika saat ini perempatan saraf itu tidak hanya berjumlah satu. Wanita itu baru saja memerintahnya. Hell, dia pikir siapa dia. Sudah tadi menggodaku, sekarang dia memerintahku?

"Hey! Cepatlah!"

Ia melangkahkan kakinya lebar-lebar ke dalam kamar itu. Tangannya menelusup masuk ke bawah ranjang. Tapi gerakannya terhenti kala mendengar ucapan dari Lex.

"Hati-hati. Aku tidak yakin jika di bawah ranjang itu tidak ada barang milik V."

Dan seketika wajahnya memucat. Ia menelan salivanya. Ia agak ragu dengan ucapan Lex yang menekan pada tiga kata terakhir. Tangannya belum sempat menyentuh koper yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari tangannya.

"Bercanda. Taehyung pasti sudah membereskannya." Dengan santainya wanita itu menaruh beberapa lembar celana di ranjang. Tak mengindahkan ekspresi Jungkook yang antara marah dan juga malu karena percaya dengan bualan dari wanita itu. Ia mencibir pelan, tangannya bergerak untuk mengambil koper itu dan meletakkannya di ranjang. Ia pun memperhatikan Lex yang sibuk dengan pakaian-pakaian milik Taehyung dan juga pakaian yang ia yakini milik V.

Kedua onyxnya membulat saat melihat pemandangan di depannya. Entah sengaja atau tidak, wanita itu membungkuk begitu dalam dengan keadaan membelakanginya. Membuat pandangan Jungkook terfokus pada bokongnya. Well damn, apa yang baru saja aku pikirkan?

Ia mendudukkan dirinya di ranjang itu dan mencoba menyibukkan diri dengan ponselnya―mengalihkan perhatian dari pemandangan di hadapannya. Membiarkan Lex merapikan pakaian-pakaian itu sendirian.

"Selesai."

Kepalanya dengan cepat menoleh ke arah wanita yang tengah menutup resleting koper itu. Dan ia baru sadar jika wanita itu juga mengeluarkan sebuah tas ransel yang cukup besar dan mengisinya dengan beberapa lembar pakaian. Ia meringis pelan.

"Banyak sekali."

"Ini bukan hanya milik Taehyung. Tapi juga milik V, bocah menyebalkan, si brengsek itu dan yang lainnya."

Jungkook mengernyitkan dahinya. Ia baru saja hendak bertanya tentang pernyataan Lex barusan. Namun wanita itu sudah melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Meninggalkannya dengan segala pertanyaan yang memenuhi kepalanya.

"Oh iya, tolong bawakan koper dan tas itu."

"Apa?"

"Kau tidak akan membiarkan seorang wanita membawa beban berat, kan?"

Jungkook mengumpat dalam hatinya. Mau tak mau ia membawa koper dan ransel yang lumayan berat itu. Ranselnya ia taruh di punggungnya, sementara tangannya menggeret koper itu keluar. Mengekori Lex.

Hingga mereka berdua berada di basement apartemen itu. Memasukkan koper-koper dan tas milik Taehyung ke dalam bagasi mobil milik Jungkook.

"Jadi, kita mau kemana?"

"Ke rumahku. Taehyung akan tinggal disana."

Jungkook membuka pintu mobilnya, dan langsung masuk. Ia menghidupkan mesin mobil mewah itu dan hendak mengeluarkannya dari area parkirnya.

"Hey, cepat masuk."

Lex bergeming. Bukannya masuk, ia malah bertumpu di jendela mobil itu. Mendekatkan dirinya pada Jungkook.

"Aku akan membawa motorku. Kita bertemu di pintu keluar."

Dan setelah secepat kilat mengecup bibir Jungkook, wanita itu langsung melenggang pergi meninggalkannya.

"Ck, terserah."


.

.

.


Dan saat ini Jungkook hanya terdiam melihat pemandangan di depan matanya. Lex yang tengah menunggangi sebuah Ducati Monster berwarna merah. Entah kenapa lekukan motor yang sudah wah itu jadi terlihat makin sexy saat ditunggangi oleh wanita itu.

Jungkook menggelengkan kepalanya cepat. Menepis segala pikiran kotor yang hinggap di otaknya. Tapi melihat paha tan kurus yang terekspos itu membuatnya kembali berpikiran macam-macam. Sial, rutuknya dalam hati.

Dan saat itu juga kedua onyxnya tak dapat lepas dari sosok itu hingga ia menyadari jika Lex sudah berada di sebelahnya, dengan kaca helm yang terbuka dan menampakkan raut dingin dari wanita itu.

"Kita kemana?"

Untuk beberapa sekon, Jungkook hanya memandang wanita itu tanpa berkedip sekalipun alih-alih menjawab pertanyaannya.

"Yak!"

Hingg saat tangan kurus itu terjulur untuk memukul kepalanya, ia mengerjab cepat. Menyadari kebodohannya sendiri. Meneguk ludahnya kaku, ia pun berdeham sejenak. Menetralkan suaranya yang menjadi serak karena tenggorokan yang mengering.

"Well, kita ke rumahku,"

"Distrik Songpa." Lanjutnya.

Lex pun hanya mengangguk. Sementara Jungkook mulai menjalankan C200nya menuju jalan raya dan diekori oleh wanita itu.


.

.

.


"Jadi ini rumahmu?" Lex melepas helmnya dan menelusuri bangunan rumah bergaya elegant itu dengan sepasang manik abu-abunya. Kedua bola matanya bergulir dengan pandangan menilai. Sesekali Ia akan mengangguk pelan dan kembali mengamati bangunan rumah milik Jungkook. "Tidak buruk juga." Ia pun mengendikkan bahu pelan dan mengikuti Jungkook memasuki garasi untuk memarkir motornya.

Ia memarkirkan motornya tepat di samping mobil milik laki-laki itu. Seketika kedua alisnya bertaut kala melihat sebuah motor lain yang terpampang di sebelah motornya. Sebuah Ninja berwarna putih yang nampak sangar namun juga elegant.

"Tunggu, sepertinya aku mengenal motor ini."

Ia berjalan mengitari motor itu. Tangannya menyentuh kaca spion yang sedikit retak dan juga bengkok. Tak menghiraukan Jungkook yang berdiri di samping mobilnya dengan dahi yang mengernyit.

"Dari mana kau mendapat motor ini?" Manik abu-abu dan onyx itu saling bertubrukan. Raut dingin tak lepas dari wajah wanita itu. Sementara kedua netranya menelisik laki-laki itu. Meminta sebuah konfirmasi.

"Itu milik kakakku. Kenapa?" Jungkook menyandarkan punggungnya ke pintu Mercedes-benz miliknya. Kedua lengannya ia lipat di depan dada, memperhatikan raut Lex yang berubah drastis. Kedua keping abu-abu yang membola serta bibir yang sedikit terkuak. Keterkejutannya yang tak dapat Ia tutupi.

"Kau―adiknya Momo?"

Dan sebuah anggukan menjadi jawaban atas pertanyaannya. Lex kembali memandangi motor putih itu. Segaris senyuman tipis terpatri di wajah cantiknya. "Kau tahu, dia sangat cantik saat mengendarai ini." Jemari lentiknya menyusuri lekuk body motor itu. Senyuman tak kunjung luntur dari wajahnya seolah Ia tengah mengingat momen di masa lampau.

Jungkook menaikkan sebelah alisnya. Dia mengenal Momo dengan baik. Lengannya terjulur untuk mencekal pergelangan tangan wanita itu yang langsung dihadiahi dengan ekspresi bingung yang Jungkook akui cukup menggemaskan.

"Kita bicara di dalam." Dan usai pernyataan itu, Jungkook langsung menarik lengan kurus itu dan membawanya masuk ke dalam rumahnya. Ia mendudukkan Lex di salah satu sofa di ruangan itu. Sementara dirinya berjalan menuju dapur dan kembali dengan membawa dua kaleng soda.

Dengan sigap Lex menangkap salah satu kaleng soda yang terlempar ke arahnya. Membukanya tanpa basa-basi, dan meneguk isinya rakus. Lex mengerling sekilas ke arah Jungkook yang duduk di sampingnya sembari meneguk soda miliknya. Iris abu-abunya menyusuri bibir kaleng yang menempel lekat dengan bibir laki-laki itu. Seolah terpaku, ia mengikuti bagaimana jakun Jungkook bergerak naik-turun saat cairan membakar itu lolos ke kerongkongannya. Tanpa sadar dirinya meneguk liurnya sendiri. Memandangi leher jenjang Jungkook yang terlihat dengan jelas di depan matanya.

"Apa yang kau lihat?"

Serasa déjà vu, ia mengerjabkan kelopak matanya cepat. Menyadari jika reaksinya amat sangat bukan dirinya. Berdeham pelan, Lex mengatur duduknya. Melipat kaki dengan siku yang menopang ke paha tannya dan menggenggam kaleng soda itu. Atensinya terpaku pada paras sempurna laki-laki yang duduk di sampingnya. Mencermati tiap pahatan yang seolah diukir oleh Tuhan dengan begitu hati-hati. Nyaris tanpa cacat jika ia tak menangkap bekas luka keci di pipi kiri Jungkook.

"Kau mengenal Momo?" Onyx bertemu dengan abu-abu. Gelapnya onyx itu seolah memakunya. Membuatnya tak ingin beranjak dan terus memperhatikan lubang hitam itu hingga ia puas―yang tak ia ketahui kapan. Lex mengangguk sekilas dan menggumam, mengiyakan pertanyaan Jungkook. Membuat gestur seolah menyuruh laki-laki itu untuk melanjutkan pertanyaannya.

"Dari mana kau mengenalnya?" Entah disadarinya atau tidak, wajah Jungkook kini sudah tepat berada di hadapannya. Menelitinya. Membuatnya sesak. Tapi dirinya sendiri tak ada niatan untuk memundurkan wajahnya. Membiarkan keduanya merasakan deru napas masing-masing dengan kedua pasang iris yang saling mengunci.

"Club. Dan balapan. Aku sering bertemu dengannya. Well, kami dekat."

"Lanjutkan."

Lex mengangguk pelan. Sekilas menjilat bibirnya yang mongering. Maniknya kembali menyusuri lekukan wajah laki-laki itu dan berakhir di kedua belah bibir yang mengatup rapat. "Kami berteman. Friend with benefit. V yang melakukannya. Aku tidak perlu menjelaskan lebih lanjut, bukan? Sedangkan aku, kami hanya bertemu di area balap. Dan sesekali aku mengajak kakakmu ke club. Yah, jujur. Aku menyukainya." Ia dapat menangkap raut keterkejutan yang sekilas menghiasi wajah Jungkook sebelum kembali berubah menjadi datar seperti sebelumnya.

"Kau tahu, aku biseksual. Aku melakukannya sesekali dengan Momo. Dan aku beruntung berada di tubuh pria." Lex terkekeh pelan. Tak mengindahkan Jungkook yang menatapnya dengan pandangan heran dan sedikit aneh. Ia memundurkan wajahnya tapi sama sekali tak melepas kontak mata antara mereka berdua. "Sepertinya cukup itu yang kau tahu."

"Tunggu," Jungkook kembali mencekal lengannya. Namun kali ini lebih meremukkan dibandingkan sebelumnya. Lex yang baru saja hendak beranjak pun membatalkan niatannya. Alisnya betaut. "Cepatlah, aku lapar. Kau punya makanan kan di dapurmu?"

Jungkook mengangguk sekilas. Setidaknya ia harus menjaga mood dari wanita ini jika ia ingin mendapatkan informasi lebih banyak. "Tentang kematian Momo. Kau terlibat?" Dan harapannya untuk mendapat informasi lebih lanjut pupus manakala netranya menangkap gelengan kepala sebagi jawabannya.

"Tidak. Kau tahu? Aku bahkan marah saat tahu V membunuh Momo." Rautnya mengeras seketika. Rahangnya mengetat dan giginya bergesekan kasar. Otot-otot lengannya menegang dan membuat Jungkook dapat dengan jelas merasakan lengan kurus itu mengeras. Menggenggam benar-benar kuat hingga buku jarinya memutih.

Dan Jungkook ingat jika ia mendapat laporan dari Yoongi jika Kim Taehyung pernah mengamuk di dalam sel. Berteriak seperti orang kesetanan hingga larut malam dan seketika berubah menjadi sosok manja dengan raut menggemaskan di keesokan harinya.

Tunggu dulu. Seketika kedua onyxnya membola. Ia baru saja hendak menahan Lex saat wanita itu sudah menghempas tangannya dan beranjak menuju dapur. Ia berjalan mengikuti wanita itu. Menemukannya sudah berada di depan kulkasnya dan membongkar isinya. Mengambil beberapa camilan dan juga jus.

"Tunggu sebentar, ada yang ingin kutanyakan―"

"Besok saja. Kau tahu, hari mulai gelap. Dan aku benar-benar lapar."

Dan Jungkook hanya mengangguk pasrah saat Lex berjalan menuju ruang tengah. Menyalakan televisi seenaknya dan membuka satu-persatu bungkus camilan yang baru saja ia ambil. Melupakan sang tuan rumah yang hanya memperhatikannya sambil menghela napas berat.

Mungkin ia harus menahan pertanyaannya untuk esok hari.


.

.

.


Jeon Jungkook terbangun di kamarnya dengan beban di perutnya. Awalnya ia sama sekali tak berniat bangun. Namun saat ia merasakan beban itu semakin menekan perutnya, ia memutuskan untuk membuka kedua matanya. Dan Jungkook nyaris ingin berteriak saat menemukan Kim Taehyung tengah duduk di atas perutnya sembari memiringkan kepalanya―polos. Iris birunya terlihat begitu terang tertimpa cahaya matahari.

Refleks ia menarik selimut merahnya, menutupi tubuh atasnya yang tak terbalut apapun dan langsung terduduk. Memaksa laki-laki di atasnya untuk menyingkir.

"Ugh, maafkan aku. Kau pasti kaget. Tapi bisa kau beri tahu aku ini dimana? Tempat ini asing bagiku." Taehyung mengerucutkan bibirnya. Memasang ekspresi yang menggemaskan―yang sebenarnya tak ingin diakui oleh Jungkook.

Jungkook mengerjabkan matanya cepat. Eh?

"T-tunggu. Siapa kau?!" Entah efek bangun tidur atau bagaimana, jalan kerja otaknya serasa tak seperti biasa. Telunjuknya menuding laki-laki di hadapannya yang langsung membuat mata Taehyung juling mengikuti telunjuk Jungkook. Onyxnya memperhatikan sosok yang kini tengah duduk bersimpuh di hadapannya dengan pakaian yang berbeda dengan semalam. Sekilas ia dapat membaui aroma vanila yang menguar dari laki-laki itu. Rambutnya juga tampak sedikit basah dan wajahnya terlihat lebih segar.

"Aku? Namaku Six." Sembari tetap memiringkan kepalanya, sosok yang mengaku bernama Six itu menjawab dengan polosnya. Seolah tanpa beban.

Jungkook kembali mengerjab cepat. Memforsir otaknya untuk bekerja dua kali lebih cepat dari semestinya. Dan sekarang ia mendapatkan jawabannya. Jawaban dari pertanyaan yang mengganjal semalaman di kepalanya. Pertanyaan yang awalnya ingin ia tanyakan kepada Lex namun terjawab dengan sendirinya.

"Six?" Sosok itu mengangguk, kelewat semangat. Sebuah senyuman kekanakan terukir di wajahnya. "Berapa usiamu?"

"Sepuluh."

Jungkook mengernyitkan dahinya. Mencoba menduga-duga kenapa sosok ini ada di hadapannya.

"Sejak kapan kau disini―maksudku di tubuh Taehyung. Empat tahun?"

Dan Six kembali mengangguk. "Hyung yang baik hati menamaiku begitu, sesuai dengan usiaku." Dan senyuman itupun semakin lebar menghiasi wajah manis milik Taehyung. Seketika dahi Jungkook semakin mengernyit. Ia kembali mengulang perkataan Six di dalam benaknya. Hendak bertanya, namun anak itu sudah menyelanya terlebih dahulu.

"Omong-omong kau siapa? Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku."

"Aku? Namaku Jeon Jungkook. Kau bisa memanggilku Jungkook-hyung atau apapun itu. Yang jelas aku jauh lebih tua darimu. Dan soal kau berada dimana―ini rumahku. Kau―Kim Taehyung akan tinggal disini untuk jenjang waktu yang tidak bisa ditentukan. Dan, aku temannya Taehyung." Apa aku harus memperkenalkan diriku tiap kali bertemu dengan salah satu alter milik Tae-hyung?

"Mm, Daddy?"

Jungkook pun tersedak liurnya sendiri. Kedua matanya membola mendengar panggilan Six untuknya. "A―apa-apaan panggilan itu?"

Sementara Six hanya melemparkan senyuman padanya lagi. "Entahlah. Daddy terlihat seperti ayah." Dan disambung dengan kekehan kecil dari bocah itu. Dan Jungkook hanya bisa mengangguk pasrah. Ia memilih untuk bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak di samping kamarnya dengan handuk dan pakaian ganti di tangan.

"Kau sudah sarapan?" Ia menggenggam kenop pintu yang baru setengah terbuka, memandang sosok laki-laki yang masih setia duduk bersimpuh di ranjangnya. Six kembali mengangguk yang membuat dirinya membalas anggukannya dengan gumaman pelan. "Kau sarapan mendahului tuan rumah."

"Maaf, daddy." Six kembali mengerucutkan bibirnya. "Aku lapar tadi. Aku menemukan roti di meja, jadi aku memakannya."

Jungkook mengangguk sekilas. "Sebaiknya kau menunggu di ruang tengah. Aku ingin mandi."

Yang langsung membuat Six bangkit dari ranjangnya dan berjalan mendekatinya. Mengikutinya keluar seperti anak ayam. Berpisah di tangga dengan Jungkook yang berbelok menuju lorong pendek dan masuk ke kamar mandi, sementara dirinya menuruni anak tangga itu.

Ia menghempaskan bokongnya di sofa empuk milik Jungkook yang lagi-lagi berwarna merah. Jika diperhatikan lebih seksama, barang-barang di rumah ini didominasi oleh warna merah, dengan sedikit sentuhan hitam dan juga putih. Terkesan modern di dalamnya.

Six memperhatikan televisi 32" di depannya. Tangannya menggapai remote yang berada di sebelahnya dan menyalakan televisi besar itu. Mengubah-ubah salurannya secara acak, mencoba mencari acara yang menarik untuk ditonton. Hingga kedua iris birunya berbinar kala menemukan sosok kotak kuning dengan teman bintangnya tengah bermain-main di dalam benda kotak itu. Ekspresi yang tadinya tampak bosan kini menjadi sumringah. Ia membenarkan duduknya, memangku bantal duduk sembari melipat kedua tangannya. Tampak serius menonton acara itu namun tak dipungkiri tawa lolos dari mulutnya.

Jungkook yang baru saja menyelesaikan acara mandinya terkekeh melihat laki-laki yang tengah serius menonton televisinya. Ia mendudukkan dirinya di samping Six yang langsung membuat laki-laki itu tersentak kaget.

"Kau terlalu serius menonton itu sampai-sampai tidak menyadari kehadiranku." Jungkook tertawa kecil memperhatikan Six yang mengerucutkan bibirnya lucu. Bantalnya ia letakkan di samping tubuhnya. Sementar tangan Jungkook terulur untuk mengacak surai lilac miliknya.

"Maaf,"

"Tidak apa-apa. Omong-omong, apa kau ingin keluar? Ke taman atau manapun. Aku bosan di rumah."

Dan Six pun langsung mengangguk semangat.


.

.

.


Kini keduanya tengah berada di sebuah taman dekat rumah Jungkook. Beberapa anak tampak bermain dengan permainan yang tersedia disana. Beberapa penjual mainan tampak di beberapa sudut taman. Wajar saja, ini hari libur. Dan banyak ibu yang membawa anak mereka untuk bermain di sabtu pagi yang cerah ini.

Jungkook hanya bisa menggeleng-geleng pelan saat melihat Six mulai mencoba beberapa permainan anak. Yang membuatnya terlihat lucu adalah, ia berada di tubuh Taehyung yang notabene berusia duapuluh lima tahun. Ia memilih duduk sambil memperhatikan gerak-gerik Six. Sesekali anak itu mengajak beberapa anak kecil untuk bermain bersamanya. Sekalipun tubuhnya dewasa, tapi ia benar-benar seperti bocah berusia sepuluh tahun. Bocah yang dengan wajah cerahnya bermain tanpa mengenal lelah dengan teman-temannya.

"Daddy~"Jungkook mengerjab. Menemukan Six yang sudah berdiri di hadapannya dengan wajah merengek. Reflex tangannya terangkat untuk mencubit pipi milik Six yang membuat empunya semakin merengek dan mengusap pipinya yang sedikit memerah.

"Ada apa, Six?" Jungkook terkekeh kecil. Sesekali ia dapat melihat ataupun mendengar beberapa ibu yang berbisik sembari mengamati mereka berdua.

Daddy? Apa itu ayahnya? Kenapa terlihat sangat muda?

Entahlah, tapi tidak mungkin pria semuda itu mempunyai anak sebesar itu kan?

Dan beberapa bisikan lain yang tentu saja tak ia hiraukan.

"Aku mau itu." Jemari lentik milik Six menunjuk ke arah balon berwarna-warni dengan berbagai bentuk yang berada di sudut taman. Bola mata birunya tampak berbinar memperhatikan bagaimana balon-balon itu bergerak perlahan tertiup angin. Wajahnya mengekspresikan dengan begitu jelas keinginannya untuk memiliki salah satu dari balon-balon itu.

Jeon Jungkook hanya mengangguk. Bagaimanapun ia harus bisa menyenangkan alter milik Taehyung. Dengan harapan beberapa dari mereka bisa didekatinya dan diajak bekerja sama. "Baik. Aku belikan."

Dan saat itu juga Jungkook langsung bangkit dari bangkunya. Ia tersentak kaget saat Six menarik lengannya kuat dan menyeretnya ke arah penjual balon itu. Memilah-milah balon mana yang paling ia inginkan dengan wajah bersinar khas anak kecil.

Balon berbentuk kepala Micky Mouse berwarna merahlah yang menjadi pilihannya. Jungkook hanya bisa menggelengkan kepalanya dan membayar balon itu kepada sang penjual. Membiarkan Six berlarian dengan balon di tangannya. Jika boleh jujur, Six terlihat begitu menggemaskan. Apalagi dengan setelan kaos putih dengan stripes hitam di ujung lengan pendeknya dan bagian kerah yang dipadu padankan dengan celana pendek berwarna baby blue. Surai lilacnya tersisir rapi menutupi dahinya. Sekilas tampak begitu manis dengan senyuman yang terus merekah di wajahnya.

"Hey! Apa yang kau lakukan? Tersenyum sendiri seperti orang gila begitu. Oh, aku lupa. Kau memang gila."

Sebuah tepukan di bahu cukup mengagetkannya. Jungkook menghentikan acara memandangi Six yang terus berlari kesenangan dan bermain-main dengan balonnya. Ia melirik ke kanan, mendapati seorang laki-laki pendek berambut oranye terang tengah memegangi bahunya. Park Jimin, sahabatnya.

"Diam, Jim. Aku tidak tersenyum sendiri. Aku sedang memperhatikan seseorang. Kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini, bantet? Tidak ada kelas, eoh?" Jungkook menaikkan sebelah alisnya. Memperhatikan Jimin yang mengenakan pakaian santai. Sangat jarang melihatnya pagi-pagi begini mengingat jadwal kelas si oranye selalu di pagi hari.

Jimin berdecak dan menggeleng pelan. "Liburan, man. Dan apa-apaan panggilan itu? Aku tidak bantet, dan kumohon hormati aku. Aku lebih tua darimu, sialan!" Tangannya berpindah dari bahu Jungkook ke kepala laki-laki itu. Memukulnya kencang dan membuat Jungkook mengaduh pelan kemudian mengusap kepalanya.

"Kau hanya beberapa bulan lebih tua." Gumam Jungkook pelan.

"Omong-omong, kau memperhatikan sia―"

"Daddy."

Jimin tersedak liurnya sendiri. Obsidiannya memindai laki-laki yang tiba-tiba muncul di depannya dan Jungkook. Dan memanggil Jungkook dengan sebutan Daddy. Ia memandangi Six dari ujung rambut hingga kakinya. Dan jika ingin ia akui, ia cukup terpesona dengan laki-laki itu. Surai lilacnya yang sedikit berantakan, wajah manis yang merengut sebal, gestur tubuh yang juga menjelaskan seberapa kesal laki-laki itu, dan bagaimana sesekali kedua kakinya menghentak kecil. Menggemaskan.

"Siapa dia?" Jimin tetap memperhatikan laki-laki itu. Bertanya pada Jungkook tanpa melepas atensinya sama sekali. Seolah kedua obsidiannya terpaku dan hanya ingin memandang laki-laki menggemaskan di hadapannya ini. Sementara Jungkook merotasi onyxnya malas melihat bagaimana Jimin memperhatikan pasiennya seolah ingin menerkam.

"Kim Taehyung―maksudku, Six. Dan Six, ini Park Jimin. Sahabatku." Jungkook yang menangkap raut bingung Six saat melihat Jimin pun memutuskan untuk mengenalkan laki-laki pendek itu padanya. Dan Jungkook kembali merasa jengah saat Jimin mengulurkan tangannya dan menggunakan senyum menyebalkannya. Dan semakin jengah kala Six menjabat uluran tangan itu dengan senyum yang merekah lebar di wajahnya.

"Park Jimin, sahabat Jungkook. Kau bisa memanggilku apapun, eum―Six?"

Six mengangguk cepat. "Six. Dan senang berkenalan denganmu, Jimin-hyung."

"Sudah sudah." Jungkook menyela cepat adegan yang menurutnya cheesy ini. Terlalu drama. Dan itu memuakkan menurutnya. Cepat ia melepaskan jabatan tangan antara Jimin dan Six yang membuat Jimin merengut kesal dan Six hanya memiringkan kepalanya―tidak mengerti dengan sikap daddynya itu. Dan tentu saja diabaikan oleh Jungkook.

"Omong-omong, ada apa? Kenapa kemari? Bukannya kau sedang bermain balon?" Six kembali mengerucutkan bibirnya, ditambah dengan ekspresi merajuk.

"Balonku pecah, daddy." Dan juga kedua iris biru yang berkaca-kaca. Membuat Jungkook tak tega sekaligus gemas. Ia mengusak pelan rambut keunguan milik Six, dengan senyum yang nampak begitu menenangkan di wajahnya. "Tidak apa-apa. Nanti aku belikan lagi." Dan seketika itu juga raut Six berubah menjadi cerah kembali.

Jimin yang sedari tadi menyaksikan interaksi antar dua laki-laki di dekatnya hanya mnegerutkan dahinya. Tangannya kembali terulur untuk menarik kaos marun milik Jungkook, menyeretnya untuk mendekat. Sukses membuat Jungkook bingung.

"Hey, apa hubungan kalian sebenarnya?" Jimin memilih berbisik di dekat telinga sahabatnya itu. Mengantisipasi agar Six tidak mendengarnya. Entah, ia hanya tidak ingin Six mendengarnya.

"Akan kujelaskan nanti." Dan itu membuat Jungkook mengikuti caranya dengan balas berbisik kepadanya. Jimin hanya mengangguk dan melepas cengkeramannya pada kaos milik Jungkook.

"Ah, sepertinya aku butuh kopi. Aku belum merasakan segelaspun pagi ini. Kajja." Six hanya mengerjab bingung saat lengannya ditarik oleh Jungkook. Sama halnya dengan Jimin. Tapi ekspresi laki-laki itu terlihat tenang seolah sudah mengerti benar bagaimana Jeon Jungkook sebenarnya. Sedangkan Jungkook? Ia menarik dua lengan itu kelewat semangat. Membawa Jimin dan Six menyusuri trotoar dan berhenti di depan kafe langganannya.

Pintu kafe dibuka. Suara lonceng kecil yang khas menggema di seluruh kafe. Beberapa pelayan menyambut mereka bertiga dengan senyum ramah. Bahkan seorang pelayan laki-laki tampak melakukan highfive bahkan merangkul Jungkook dan Jimin. Seolah kedatangan mereka sudah ditunggu di kafe itu.

Pelayan itu menggiring mereka bertiga untuk duduk. Tepat di depan jendela besar yang manampilkan pemandangan kota yang ramai, lengkap dengan hiruk pikuknya. Pelayan dengan nametag Jeon Wonwoo itu menarik salah satu bangku dan menempatkannya di sebelah meja karena jumlah bangkunya hanya ada dua. Sedangkan Jungkook membawa satu orang lagi yang tak ia kenal.

"Kalian pesan duluan. Aku ingin ke toilet." Dan tinggallah Park Jimin dan Six beserta Wonwoo yang siap dengan note dan pena ditangannya. Six nampak membuka-buka buku menu yang berada di meja. Memperhatikan satu per satu gambar dan nama-nama menu yang disediakan di kafe itu.

"Sudah menemukan hal yang kalian suka?"

"Seperti biasa untuk aku dan Jungkook. Dan, Six―kau mau pesan apa?"

"Ah?" Six mengerjabkan matanya cepat. Ia sempat mendongak ke arah Jimin yang tersenyum kepadanya namun dengan cepat mengalihkan atensinya ke buku menu lagi. "Aku ingin vanilla latte. Dan juga cheesecake."

Dengan cepat Wonwoo mencatat pesanan mereka berdua dan kembali ke tempatnya setelah menggumam Tunggu sebentar. Pesanan kalian akan segera diantarkan.

Sementara itu, Jungkook yang baru saja keluar dari toilet memilih untuk menghampiri meja barista. Melipat dua tangannya di meja counter itu dan memperhatikan bagaimana sang barista meracik dengan cekatan kopi-kopi itu.

"Hai, hyung." Suara yang berasal dari sisi kanannya membuat laki-laki berambut merah itu menoleh. Refleks tersenyum dengan lebar melihat siapa yang baru saja datang menyapanya. Ia meninggalkan sebentar mejanya dan berjalan mendekati Jungkook. Mengusak tiba-tiba surai legam milik Jungkook dengan tangan lebarnya.

"Yak! Chanyeol-hyung! Apa yang kau―yak! Jangan mengacak-acak rambutku!" Dengan sigap Jungkook menahan tangan itu. Setelah memastikan Chanyeol tidak lagi mengacak-acak rambutnya, ia langsung membenahi rambut hitamnya itu. Sementara Chanyeol hanya berdecak kecil sembari berkacak pinggang.

"Kemana saja kau seminggu terakhir ini, huh? Heran melihatmu tidak ke kafeku lebih dari tiga hari."

"Maaf. Hanya saja aku sibuk belakangan ini. Kau tahu? Kasus itu." Jungkook menyandarkan tubuhnya ke meja dengan menopang pada kedua tangannya. Wajah tampannya mengukir senyum pahit sekilas, namun sedetik kemudian berganti menjadi senyum simpul.

"Ya, aku tahu. Aku turut berduka cita." Sementara itu Chanyeol kembali sibuk dengan kopi dan alat-alatnya. Meracik espresso milik Jimin. Membubuhkan krim dan membentuknya menjadi pola yang unik. Tak mengindahkan Jungkook yang memperhatikannya sedari tadi. "Omong-omong, siapa laki-laki yang bersama Jimin itu? Temanmu? Aku baru kali ini melihatnya."

"Oh?" Jungkook tersentak dari acara mari-memperhatikan-Chanyeol-hyung-meracik-kopi-nya. "Dia? Kim Taehyung. Pasien baruku." Jungkook sedikit melirik Six yang tengah memejamkan matanya tanpa disadari Jimin yang tengah sibuk dengan ponsel miliknya. Tubuh Six tampak begitu rileks. Namun kemudian tersentak pelan, dan kelopak matanya terbuka. Sedikit menoleh ke kanan dan kiri, seperti memastikan sesuatu dan kemudian duduk diam di bangkunya.

Jungkook mengernyit memperhatikan itu.

"Pasien barumu? Dia tidak terlihat seperti pasien dengan gangguan mental kurasa."

"Don't judge a book by it cover, hyung. Dia pasienku, sekaligus pembunuh nee-san."

Kedua bola mata Chanyeol membulat. Membuatnya dua kali lebih besar dari ukuran aslinya, padahal matanya tergolong dalam kategori bulat. Ia hampir saja menjatuhkan tekonya jika tak ingat seberapa mahal teko yang kini ia genggam erat itu. "Kau tahu, hyung? DID? Kepribadian ganda? Itu yang dia alami."

Beberapa menit berbincang, membahas segala macam hal. Mulai dari Kim Taehyung, Hirai Momo, pertandingan Euro Cup yang akan diadakan, dan lain-lain. Jungkook memilih untuk kembali ke bangkunya setelah berpamitan dengan Chanyeol.

Di sana, di tempat Six duduk. Ia dapat melihat gestur Six yang lugas. Mulai dari cara ia menyesap kopi dari gelasnya, cara ia duduk―semuanya. Atensinya langsung terfokus pada kedua iris Six yang tak begitu terlihat dikarenak posisi laki-laki itu yang menyamping.

Dan kini ia melihatnya, sepasang iris nyaris semerah darah yang menatapnya. Tanpa intimidasi, tanpa tekanan. Terkesan santai dan kalem. Auranya berbeda dengan V yang pertama bertemu dengannya. Senyum simpul nampak dari balik gelasnya. Sementara iris cokelat yang terlihat semerah darah saat tertimpa sinar matahari iru terus menatapnya. Seolah mempelajarinya.

Oh Tuhan, tidak lagi.


.

TBC

.


a/n:

ANNYEONG! ADA YANG KANGEN SAMA RED? /gakada

Pertama red minta maaf karena update ff ini ngaret―banget. Dikarenakan kehidupan real yang bener-bener nyekik/? Maafkan red :"""""

Trus makasih buat yang sering nagih-nagih red di pm walaupun gak red bales. Tapi pasti red baca kok. Semua review yang masuk juga red bacain semuanya.

Banyak yang minta ini dijadiin Vkook ya? Hmm gimana ya? Nanti red pikir-pikir lagi /plak
Karena disini red gak akan dominasiin ini ff dengan pairing. Lebih ke arah gimana cara JK nyembuhin Tae. Tapi kan tetep moment JK sama Tae nya banyak/?

Dan oh iya, buat yang nebak yang terakhir muncul itu bukan V, SELAMAT KALIAN BENAR! YUHUUU/?

Dan silahkan kembali menebak-nebak yang muncul di akhir siapa. Hint nya ada di warna mata mereka.

Btw ada yang nanya ini terinspirasi dari Kill Me Heal Me kah? Jawabannya, enggak. Red bahkan gak tau itu apa sebelumnya xD ternyata drama toh, maafkan red. Gak begitu apdet tentang drama soalnya. Inspirasi aku murni dari Tokyo Ghoul dan soundtrack nya Unravel, Sybil, dan Billy Miligan. Dan selebihnya hanya fantasi red saja/?

And last,

Special big thanks for my reviewers:

hhsvk, Nana Huang, gbrlchnerklhn, shanaxkim, dila kim, peachpeach, TaeKai, maknaehehso, Kim Taeru, melindajikook, Sugahoney, YuRhachan, dhana, AXXL70, TAEKOOKED, taehyungslut, Alestie, prbyfanfic, Guest, Ren Afrezya, Phcxxi, Hobi hyung, KeepBeef, irairabira, kookv, Kimizaki Fitriian, kyuminmi, pervelt, kimxjeon, AprilKimVTae, Mitha, Hastin99, Mrs. EvilGameGyu, Baby-Army, Kim tete, kkumkkuja

and also for them who follows and favorites Unravel

Gomawoo~

Udah red kebanyakan bacot-_- rasa-rasanya ini a/n terpanjang yang pernah red buat.

Nah, give review for this chapter, please?

P.s.: Ada yang bisa nebak berapa jumlah kepribadian Taehyung? :)

P.s.s.: Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan :)