Anak lelaki berusia delapan tahun terlihat duduk menyendiri di sudut taman sekolah. Semua sedang menikmati waktu istirahat mereka, namun tidak dengannya yang tampak murung.

''Neji-kun.''

Panggilan dari suara cempreng gadis yang se'usianya membuatnya menoleh. Ia tidak menampakan senyum khasnya atau pun berbicara saat gadis yang teman sekelasnya itu menghampirinya. Kembali, ia meluruskan pandangannya pada pemandangan taman yang indah dengan daun-daun berguguran.

"Aku mencarimu," gadis manis yang memiliki mata hijau dan rambut merah muda itu langsung duduk di samping Neji dan meletakan kotak bento di sampingnya. "Ayo kita makan siang dan kenapa kau di luar." ujar gadis itu sedikit kesal karena Neji yang tiba-tiba menghilang.

"Ada kakakmu bukan?" entah petanyaan atau pernyataan yang keluar dari Neji dan lagi membuat gadis itu berdecak.

"Gaara-nii kan sudah dua hari tidak masuk Neji-kun."

Neji bergumam dan menoleh menatap gadis itu dalam diam. Ada yang ingin ia sampaikan sebenarnya kepada temannya ini, tapi ia takut.

"Sakura."

Gadis yang kini sedang membuka bentonya mendongak. "Ya."

"Lusa aku akan pindah ke Konoha."

"K-konoha?"

"Hm."

Perkataan Neji membuat Sakura menghentikan tangannya yang akan menyumpit tempura kesukaannya. "B-benarkah?"

Neji mengangguk. "Maaf."

Sakura tertawa mendengar Neji minta maaf. Temannya di sini hanya Neji sedangkan yang lain mendekatinya hanya karena ingin dekat dengan Kakaknya.

"Untuk apa minta maaf," Sakura menyumpit tempura itu dan menyodorkan nya kepada Neji. "Hari terakhir bersamaku." ucapnya riang dan memaksa Neji memakannya.

"Aku sangat menyukaimu." ucap Neji tersenyum disela kunyahannya.

"Tentu saja," Sakura berujar bangga namun jelas terlihat matanya berair menahan tangis. "N-Neji-kun kapan-kapan kembalilah ke Suna."

Mengulurkan jari kelingkingnya Neji tersenyum. "Janji."

Sakura pun tersenyum dan menautkan jari kelingking mereka. "Aku akan menunggumu."

Terlihat wajah kelegaan dari Neji setelah mengatakan semuanya kepada Sakura. Ia yang harus pindah ke keluarga besarnya di Konoha dan harus berpisah dengan Sakura, teman yang selalu menemaninya setiap saat.

...

Neji bersender di pagar rumahnya. Ayahnya sedang mengambil koper di dalam rumah. Iris mutiaranya terus menatap ke arah jalan berharap seseorang akan datang memberikan salam perpisahan kepadanya.

"Ayo berangkat, Neji."

Ayah Neji sudah keluar dengan dua koper besar. Ia berjalan ke mobil dan menaruh koper-koper itu di bagasi.

"Neji."

Neji menghembuskan nafasnya pelan dan berjalan ke mobil. Namun, saat ia memegang pintu mobil suara seseorang yang sangat ia kenal dan ditunggunya datang.

"NEJI-KUN!"

Neji menoleh dan senyumannya mengembang saat gadis berambut merah muda sebahu itu bergoyang akibat berlari kencang datang di hari keberangkatannya.

"Sakura."

Sakura bertumpu kepada lututnya dengan nafas terengah. "Hah... hah... Syukurlah belum terlambat."ucapnya yang mulai berdiri.

"Ya."

Sakura tersenyum dengan tangan kanan terangkat membuat Neji melihatnya bingung apa yang akan di lakukan Sakura.

"Tada~"

Sebuah kalung terlihat saat Sakura membuka genggaman tangannya. "Ini untukmu."ucapnya dan memakaikan kepada Neji.

Neji terpaku dengan tangan memegang kalung pemberian Sakura. Tersenyum, ia pun membuka syal putih yang dipakainya dan memakaikan kepada Sakura. "Aku akan menjaganya."ucapnya seraya memeluk Sakura.

Sakura mengangguk dengan air mata yang menetes. Teman satu-satunya harus meninggalkannya dan ia akan selalu merindukannya.

"Aku berjanji tidak akan cengeng dan baik-baik saja."

Melepas pelukannya Neji tersenyum dan mengusap air mata yang membasahi pipi Sakura. "Janji, dan saat aku kembali kau harus menepati janjimu."

"Ya."

"Sayonara, Sakura." ucap Neji dan melambaikan tangan saat akan masuk ke mobil.

"Hati-hati dan ingat janjimu." ujar Sakura dengan senyuman dan juga melambai kepada Neji.

Mobil itu telah membawa teman satu-satunya yang selalu menemani Sakura selain Kakaknya. Sosok anak lelaki yang pendiam yang memiliki rambut coklat gelap pendek dengan iris mutiara yang indah. Pintar, menjadi idola namun selalu mengasingkan diri menjauh dari keramaian. Dia menerima Sakura dan selalu berbicara banyak hal saat mereka berdu bahkan saat liburan musim panas yang dihabiskan berenang atau berburu kubang.

"Neji-kun."

I Believe

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Story by Me

Gaara x H. Sakura

Au, Typo, Ooc, Eyd, GaJe etc.

.

.

.

.

.

3

.

.

.

.

.

= I Believe =

Suasana pagi mulai terasa kebisingannya di gedung sekolah. Siswa mulai berdatangan dan hilir mudik memulai aktifitas mereka masing-masing. Namun, ada yang berbeda dari sekumpulan siswa yang memenuhi papan pengumuman. Semua berdesakan dan terlihat gembira menyambut apa yang akan diadakan pihak sekolah.

Termasuk Sakura dan Ino yang juga sedang berdiri membaca pengumuman itu.

"Hey Sakura apa kau akan ikut?"

"Tentu saja." jawab Sakura yang jelas sekali senang dengan hal ini. "Kapan lagi kita mengelilingi daerah Amegakure yang katanya selalu turun hujan."

Ino menopang dagu dengan ibu jarinya memikirkan sesuatu. "Kita sekalian berkunjung ke salah satu sekolahan di sana bukan?" tanyanya dan dijawab anggukan Sakura.

Sakura mengeryitkan alis menatap Ino curiga karena sahabatnya itu tersenyum aneh. "Jangan bilang kau akan mencari pemuda di sana Pig."

Ino tertawa pelan dan menjentikan jarinya. "Menyelam sambil minum susu."ucapnya dan berbalik pergi. "Ayo kita ke kelas."

Sakura memutar matanya bosan. Itu lah Ino dan ia hanya bisa berharap di sana tidak ada pemuda tampan seperti kekasihnya. Berbicara soal kekasih, tiba-tiba pipinya memerah. Menggeleng, Sakura berbalik untuk menyusul Ino namun ia menabrak seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.

"Aww."

"Kau tidak apa-apa?"

mendongak, iris hijau Sakura terbelalak melihat siapa yang tertabraknya. "K-kau."

Siswa yang pernah bertemu di taman sekolah. Wajahnya yang tampan, rambut panjangnya dan iris mutiara itu seperti tidak asing baginya.

Siswa itu hanya merundukan wajahnya dan sontak membuat semua yang berada di sana bersorak riuh.

"H-hey menjauh!" Sakura memundurkan wajahnya dan terlihat terkejut dengan apa yang dilakukan siswa menyebalkan itu.

"Hm." Siswa itu hanya bergumam. Tangannya terangkat, "Tadaima, Sakura." ucapnya dan perbuatannya itu -lagi- menjadi keriuhan yang menyaksikannya.

Sakura mengerjapkan matanya berkali-kali karena perkataan pemuda itu. "S-siapa kau?"

Pemuda itu menegakan tubuhnya dan berbalik pergi meninggalkan Sakura tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.

"H-Hey siapa kau?!" Sakura terus berteriak namun pemuda itu menghilang saat berbelok. Saat ia akan mengejar, bel berbunyi dan perpaksa ia harus menunda mencari pemuda itu.

...

Gaara duduk di kursinya dengan buku di meja yang sedang dibacanya. Bel berbunyi dan siswa mulai masuk berdatangan.

"Hey Gaara aku punya sesuatu."

Utakata datang dan duduk di kursi depan Gaara dengan badan berbalik menghadap Gaara.

"Hn." Gaara hanya bergumam tanpa minat berpaling dari buku bacaannya.

"Kau akan menyesal." dengus Utakata karena Gaara yang sepertinya enggan menanggapinya.

"Yang selalu menyesal kan kau."

"Ini soal Sakura-chan." ujar Utakata dan benar saja Gaara langsung bereaksi jika mengenai adiknya itu.

"Kenapa?"

"Lihat ini," Utakata mengeluarkan ponselnya dan menunjukan kepada Gaara. "Sepertinya dia menyukai Sakura-chan."

Gaara terdiam namun sekilat iris jadenya mengkilat dengan rahang mengeras. Apa yang di tunjukan Utakata adalah foto adiknya dan seorang siswa yang jarak mereka sangat dekat.

"Siapa siswa itu?" tanya Gaara dengan nada datar.

"Hey biarkan adikmu merasakan indahnya masa SMA. Kau itu harus membiasakan Gaara jangan selalu mengekangnya." ucap Utakata sekaligus menasehatinya.

Gaara tidak menanggapinya dan mengambil ponselnya mengirim pesan kepada adiknya.

"Dasar siscom." cibir Utakata melihat kelakuan Gaara jika sudah menyangkut adiknya dan bisa-bisa perang dunia terjadi lagi.

...

Sakura mengetuk ruang Osis dengan senyuman yang menghiasi wajah manisnya. Alisnya mengeryit saat tidak ada tanda orang akan membukanya. Ragu menghampirinya karena pintu itu sedikit terbuka. Suara yang sangat ia kenali terdengar dan itu membuatnya semakin ragu untuk langsung masuk ruangan atau tidak.

"Shion aku..." suara Kakaknya terhenti dan itu semakin membuat Sakura penasaran. Memberanikan diri, Sakura mencoba mendorong pintu itu pelan-pelan.

Iris klorofilnya seketika terkejut dan kembali menarik diri mundur. Menghela nafas, ia memejamkan matanya perlahan dan setetes air mata melintasi pipinya dan dengan cepat ia usap kasar dan berbalik pergi meninggalkan ruangan yang di minta kedatangannya siang ini.

...

Ino mengirim pesan dan mencoba menghubunginya berulang kali karena ia mengirim pesan ingin beristirahat di ruang kesehatan. Dia pastinya cemas dan ia tidak mungkin menceritakan tentang apa yang di lihatnya tadi, apalagi ia dan Kakaknya menjalin hubungan. Menghembuskan nafasnya perlahan, Sakura menatap langit mendung dengan tubuh yang bersandar di dinding atap.

"Kenapa suasananya sangat nyaman saat ini." ujarnya dengan senyuman sendu.

"Karena hatimu sangat membutuhkan."

Perkataan seseorang membuat Sakura terlonjak dan sontak menoleh ke samping kanannya. Siswa itu? Siswa yang membuatnya penasaran saat pagi tadi.

"K-kau? Siapa sebenarnya?" tanya Sakura yang langsung menanyakan siapa sosok misterius itu.

Siswa dengan rambut coklat panjang itu menoleh dan berdiri. Ia menghampiri Sakura dan berjongkok tepat di depan gadis yang masih tidak lepas menatapnya intens.

"Kau lupa padaku?" tanya pemuda itu dengan alis mengeryit heran.

Sakura terdiam berusaha mengingat siapa yang ia kenali di masa lalu. Tapi ia hanya kenal dengan sahabat Kakaknya dan Ino. Jadi siapa dia?

Iris klorofilnya melihat sekali lagi, warna rambut, mata itu seperti tidak asing dan apa mungkin jika dia...

"N-neji-kun?"

Siswa itu mendengus dan langsung duduk di samping Sakura. "Otakmu lamban sekali."

Sakura terus mencerna kejadian ini, dan lagi ia terus menatap lekat pemuda yang duduk di sampingnya.

"B-benarkah kau?"

Menoleh, Neji menusuk pipi tembam gadis itu. "Memang siapa lagi teman lelakimu, eh?" dengus Neji dibarengi senyuman tipis.

Tidak menanya apa pun lagi, Sakura berhambur memeluk teman masa kecilnya itu. "Aku tidak menyangka ternyata ini kau."

Tersenyum, Neji membalas pelukan Sakura. "Aku sudah berjanji dan aku ingin menagih janjimu itu tapi, kelihatannya kau masih cengeng." ucap Neji dengan tangan mengelus surai merah muda Sakura.

Melepaskan pelukannya, Sakura memukul dada Neji membuat pemuda itu meringis. "Aku tidak cengeng." elak Sakura dengan dengusan kasar.

"Aku melihatmu termenung dan terlihat sedih, jika bukan cengeng itu apa namanya?"

"A-aku tidak cengeng."

"Terserah lah."

Sesaat mereka hanya terdiam dalam keheningan. Ingin menanyakan sesuatu Sakura pun bertanya tentang temannya ini.

"Kapan kau kembali?" tanya Sakura yang ingin tau kapan Neji kembali.

"Dua minggu yang lalu." jawab Neji dan langsung dihadiahi pukulan Sakura.

"Kenapa kau tidak mengabariku!" sewot Sakura.

"Maaf, aku sudah ke rumahmu tapi kau masuk sekolah asrama."

Sakura mengangguk mengerti dan memilih kembali diam.

"Dan akhirnya kau mengikutiku ke sini, eh?"

"Hn."

"Dasar."

"Bagaimana kabar Kakakmu?" Neji menanyakan tentang Kakak Sakura yang ia ketahui juga sekolah di sini.

"Dia sudah besar." jawab Sakura terdengar kesal dan asal.

"Kalian sedang bertengkar?"tanya Neji heran dan Sakura langsung berjengit mendengar pertanyaan itu. "T-tidak."

"Kenapa? Apa dia tidak merestui kau punya pacar?" lagi Neji bertanya dengan apa yang ada di pikirannya.

"A-aku tidak punya pacar dan kami baik-baik saja." dengus Sakura entah kenapa sangat kesal mendengar tentang hubungan, dan mana mungkin ia mengatakan Kakakku itu kekasihku pada Neji.

"Souka."

Bel berbunyi menandakan jam pelajaran berganti. Bangun, Sakura mengulurkan tangannya pada Neji. "Ayo ke kelas!" ajaknya.

Neji menggeleng. "Kau duluan saja, kelas kita berbeda." ucapnya.

"Baiklah, aku duluan ya? Dah Neji-kun."

Sakura pergi kembali ke kelasnya karena sekarang adalah ulangan Matematika dan bisa-bisa tamat riwayatnya jika melewatinya.

Pandangan Neji tidak lepas hingga sosok temannya itu menhilang di balik pintu. Menghela nafas, ia pun bangun dan berjalan menuju pintu.

"Tapi tadi kau terlihat sedih, Sakura." gumamnya yang benar-benar melihat wajah Sakura yang nampak murung.

...

Gaara mengecek ponselnya berulang kali dan tidak ada tanda-tanda sesuatu yang berhubungan dengan adiknya itu. Bukan kah ia sudah mengirim pesan kepadanya? Tapi tidak ada balasan atau kehadirannya dan itu membuatnya heran.

"Ini sudah selesai."

Shion memberikan sebuah map merah kepada Gaara dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.

Gaara yang memang sedang bersandar di dinding lorong sekaligus menunggu Shion membawa dokument yang akan di serahkan kepada kepala sekolah.

"Hn, ayo!" ajak Gaara yang langsung berjalan di ikuti Shion di sampingnya dengan sebuah dokument di tangannya.

Semua siswa terlihat berhamburan keluar kelas karena bel jam pelajaran akhir sudah berbunyi. Di sela perjalanannya menuju ruang kepala sekolah, iris jade itu menjelajah mencari sosok yang ada di pikirannya. Mungkin dia masih di atas karena kelasnya yang terletak di atas dan kebetulan ruangan yang akan di tujunya pun berada di lantai paling atas.

"Mencari siapa Gaara-kun?" tanya Shion yang bingung melihat Gaara yang memang seperti sedang mencari seseorang.

Pertanyaan Shion tidak di jawab Gaara. Mereka berbelok menaiki tangga dan sangat ramai karena siswa kelas satu yang menuruni tangga.

Gaara menghentikan langkahnya saat sosok yang di carinya ada di depannya. Namun sosok itu tidak tersenyum atau pun menyapanya seperti biasanya. Ia menarik tangan temannya dan berjalan begitu saja melewatinya.

"Ada apa Gaara-kun?" tanya Shion saat Gaara menghentikan langkahnya. Pandangannya pun mengikuti kemana arah pandangan Gaara.

"Sakura-chan!" panggil Shion dengan mengeraskan suaranya namun Sakura sepertinya tidak mendengarnya karena gadis itu langsung berbelok. "Dia tidak dengar ya."

"Sebaiknya kita cepat berikan ini Gaara-kun." Shion menepuk bahu Gaara dan memperlihatkan apa tujuan mereka.

Menghela nafas, Gaara mengangguk dan kembali menaiki tangga menuju ruangan kepala sekolah.

...

Malam yang dingin karena awan mendung masih nampak dan mulai turun rintik-rintik hujan yang nampak jelas jejaknya di kaca jendela di sampingnya. Sakura duduk di kafe asrama yang memang tersedia di sini. Semua sudah makan malam dan hanya beberapa yang masih di sini, termasuk Sakura yang duduk di meja samping jendela sendiri karena Ino kembali ke kamar untuk urusan yang ia yakini pasti menghubungi lelaki incarannya.

Menghela nafas, Sakura kembali meminum jus stroberry nya perlahan.

"Kenapa kau tidak datang?"

Sakura tidak menjawabnya karena tau siapa yang bertanya kepadanya itu. Sosok itu lagi-lagi menatap Sakura bingung dan langsung duduk di depan Sakura.

"Ada apa denganmu?" tanyanya lagi dan kali ini mendapat respon Sakura.

"Aku ada urusan." jawab Sakura seadanya dan itu semakin membuat pemuda di depannya heran.

"Katakan kepadaku!" pintanya agar Sakura mau bercerita namun gadis itu menggeleng.

"Aku tidak apa-apa sungguh."

Gadis di depannya tidak nampak bahagia atau pun tersenyum jika saat bersamanya saat ini. Sebenarnya apa yang terjadi?

"Sakura -"

"Aku sudah mengatakannya aku tidak apa-apa Gaara-nii."

Ucapan Sakura membuat Gaara terdiam. Ia sangat yakin jika sesuatu terjadi kepada adiknya -kekasinya- ini, tapi jika dipaksakan juga tidak baik jika itu adalah Sakura.

"Baiklah." ucap Gaara yang menyerah menanyai lebih lanjut. Mungkin ada sesuatu yang memang ia tidak boleh tau dan Sakura belum siap menceritakan nya.

Sakura terdiam sesaat. Nafasnya berhembus perlahan dengan tangan yang meremas roknya. Ini sudah ia pikirkan sejak siang dan mungkin ini yang terbaik atau mungkin...

"Kita akhiri sampai di sini."

... tidak.

Sakura berujar pelan dan langsung bangun, berbalik berjalan dengan sedikit berlari meninggalkan Gaara yang terdiam mendengar perkataan Kekasihnya itu tanpa sempat pergi menyusul Sakura karena seseorang berdiri tepat di depannya.

"Apa kabar..."

Gaara mengeryit melihat siapa yang menghalanginya saat hal penting ini. Pemuda itu ia kenal saat bersama Sakura.

"... Gaara-san ?"

TBC

Nyicil sedikit-sedikit ya. Thanks buat yang sempat mampir ke fict gaje ini, sekali lagi terima kasih.

CKRG

WRKT