Moon

Phase Three : Dusk

©kosukefan – brainproject


Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

.

Warning: Fluffy, slight angsty, OOC, Rated M for a reason.

.

"Love is a tiny elf dancing a merry little jig, and suddenly he turns to you with a machine gun." – Unknown

.

(Shikamaru POV)


.

Senja hari itu merupakan saat-saat di mana matahari akan perlahan tenggelam dan digantikan oleh sosok bulan yang sangat indah. Pada saat senja hari tiba, bumi seolah-olah dipenuhi oleh warna jingga. Senja menandakan bahwa ketika matahari pergi dari bumi, ada suatu keindahan yang datang, yaitu bulan.

Kebanyakan orang menyukai pemandangan senja yang sangat menakjubkan, termasuk perempuan yang selalu ada di pikiranku. Hyuuga Hinata pernah berkata kepada Neji―yang secara sengaja aku dengar― bahwa senja membuatnya teringat kepada seseorang yang bermata biru langit dan berambut pirang. Senyum di wajahnya menandakan betapa dalam perasaannya kepada Naruto dan membuat aku perlahan mundur selangkah demi selangkah. Hingga setelah beberapa detik, Neji membuka suaranya…

"Kau masih memikirkan Naruto?"

Dia tidak menjawab pertanyaan saudara terdekatnya. Hanya seulas senyum terpampang di wajahnya yang menjadi jawaban dari semua pertanyaan orang-orang tentang perasaannya terhadap seorang pria bodoh berambut pirang.

"Tetapi, Hinata-sama, bukankah Naruto tidak akan pernah membalas perasaanmu? Menyadarinya pun tidak!"

Ya, semua orang merasa aneh dengan sikapmu, Hinata. Bagaimana bisa seseorang mencintai orang lain sedalam itu dan tetap teguh pada perasaannya walaupun dia tahu bahwa perasaannya tak akan terbalas? Bagaimana mungkin engkau bisa berhati besar seperti itu, Hinata? Aku bisa mencintaimu lebih dalam daripada Naruto. Aku juga bisa memberikanmu segala hal yang tidak dapat Naruto berikan kepadamu. Bukankah otakku lebih jenius daripada Naruto? Bukankah engkau lebih layak mendapatkan seseorang yang mencintaimu?

Selang beberapa saat, dia menoleh ke arah sepupunya yang telah berubah dan tersenyum manis. Rambut sebahunya dipermainkan oleh sang angin sewaktu-waktu. Tatapan mata dari penerus Hyuuga itu mengartikan seluruh perasaan di hatinya saat itu.

"Aku menyadarinya, Neji-nii-san, tetapi aku tetap menyayanginya walaupun dia tidak akan membalas perasaanmu seperti itu. Tidak ada alasan lain mengapa aku tidak bisa berhenti menyayanginya."

Aku terhenyak dan segera menyadari, bukankah perasaanku kepada Hinata sama seperti cintanya kepada Naruto?

Selang beberapa hari setelah kejadian di rumah Kurenai-san, ada pertemuan antar Rookie 9 secara mendadak karena Kazekage dan kedua saudaranya datang dari Suna. Beruntunglah pada saat tersebut tidak ada satu pun dari antara kami yang menjalankan misi sehingga pertemuan kali itu lengkap dengan anggotanya. Aku berjalan ke arah tempat pertemuan itu dengan malas-malasan terlebih mengingat bahwa hari itu Temari akan datang dan membuatku sibuk dengan perlakuannya yang merepotkan. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa Hinata, orang yang sebenarnya aku inginkan untuk malam ini dan hari-hari seterusnya. Helaan nafasku dapat terdengar oleh orang-orang yang berjalan kaki. Terdengar aneh bahwa seorang ninja sedang berjalan kaki sendirian pada malam hari. Beberapa kali kulihat, para penduduk Konoha yang melihatku dengan tatapan aneh.

Pertemuan hari ini berada di restoran barbeque yang sering kudatangi dahulu bersama tim Asuma. Berada di pintu masuk restoran tersebut, membuatku teringat dengan Chouji yang selalu makan sampai piring bertumpuk-tumpuk dan membuat Asuma-sensei menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melihat ke dompetnya yang terus menipis karena ulah Chouji. Senyum tipis terpampang di wajahku. Kali ini saja, biarkan kenangan akan Asuma-sensei terulang di otakku dan melupakan kehilanganku. Untuk sementara…

Ketika aku melangkahkan kaki ke dalam restoran tersebut dan dapat terlihat hampir seluruh anggota Rookie 9 sudah berkumpul di meja paling besar di tengah-tengah ruangan. Naruto yang pertama kali menyadari keberadaanku dan melambaikan tangannya.

"Hoi, Shikamaru!"

Aku menganggukkan kepala sekilas dan mulai mencari kursi. Hanya ada dua kursi kosong, yang diperuntukkan untukku dan Sai, yang sering terlambat ke acara-acara seperti ini. Aku mengambil kursi kosong di sebelah Temari yang juga merupakan tempat terbaik untuk melihat dia tanpa diketahui. Kursi ini merupakan kursi yang berhadapan dengan kursi Hinata di ujung sana walaupun pandanganku sedikit terhalang dengan gelas minuman.

Dia duduk di antara Kiba dan Naruto. Seringkali, dia tertawa dengan anggunnya terhadap lelucon Kiba atau kebodohan Naruto yang segera dibalas amukan Sakura terhadapnya. Setiap pertemuan selalu seperti ini, aku akan duduk di sebelah Temari dan berdiam diri kecuali seseorang menanyakan terhadapku atau mengomentari Naruto yang kebodohan-kebodohannya sudah melampui batas.

Pada kenyataannya, tidak ada yang tahu siapa orang yang ingin aku berbincang. Mereka sibuk dengan apa yang kelihatan di mata mereka dan tidak peduli dengan orang-orang seperti aku yang menyimpan semuanya di dalam hati. Karena hal tersebut, aku terkadang mengerti bagaimana kesepiannya menjadi Sasuke atau Gaara. Mereka memilih untuk menyembunyikan semuanya untuk diri mereka sendiri. Ada yang mengganggu pikiranku terhadap orang yang sedang duduk di sebelahku ini. Temari sepertinya sudah mulai menyadari perasaanku terhadap Hinata tetapi memilih untuk diam saja.

Pertemuan ini hanyalah untuk formalitas semata, karena aku hampir selalu merasa tidak dianggap setiap kali bertemu dengan mereka. Mereka hanya akan bertanya tentang anak-anak di akademi tidak sepenuh hati, hanya sekedar basa-basi. Seperti sekarang ini…

"Shikamaru-san, bagaimana dengan anak-anak di akademi?"

"Baik saja, Sakura-san, setidaknya tidak ada Konohamaru yang semerepotkan Naruto."

"Oi, Shikamaru! Aku mendengar itu!"

"Diamlah Naruto-baka."

"Sakura-chan!"

Lalu, mereka berdua akan berdebat lagi dan melupakan bahwa ada aku yang tadi mereka tanya kabarnya. Mereka akan terlalu sibuk dengan orang yang sudah membuat mereka terbiasa akan kehadirannya dan akan melupakan orang-orang yang tidak sama berartinya dengan sahabat mereka. Tiba-tiba saja, di dalam tubuhku ada yang berdenyut sehingga membuat kepalaku pening, terlebih lagi saat Hinata…

Tersenyum riang kepada Naruto yang mencoba 'mencari perlindungan' kepadanya.

Sungguh ironis. Dia bisa tertawa riang dengan orang-orang bodoh seperti mereka, tetapi denganku? Apakah aku memang sedangkal itu di pikirannya? Apakah aku tidak kompeten untuk menjadi seseorang yang lebih dari sekedar 'teman' atau 'rekan kerja' baginya? Bahkan Kiba yang bermulut besar saja bisa menjadi sahabatnya.

Tidak sadarkah dia bahwa selama ini aku memendam rasa kepadanya?

Seketika, kakiku melangkah sendiri ke luar restoran dalam diam dan tidak disadari oleh siapapun.

"Kau menyadarinya bukan, Temari?"

Aku berkata kepada seseorang yang mengikutiku dan sekarang berdiri di belakangku. Sekarang kami berada di luar restoran dan aku merebahkan diri pada bangku panjang di dekat pintu masuk restoran.

"Chouji dan Shino juga menyadari kepergianmu, tetapi sepertinya hanya Chouji yang tahu mengapa kau keluar dari pertemuan."

"Kau juga bukan?"

"Maksudmu?"

"Tidak usah mengelak, Temari. Kau tahu alasanku dengan jelas."

Dia terdiam dan tidak menjawab pertanyaanku. Dengan perlahan, dia mengambil tempat di sebelahku dan tetap menutup mulutnya. Sepertinya, dia masih tidak mau bertanya soal perasaanku ke Hyuuga Hinata. Cih.

"Sudahlah, aku mengetahui kalau kau sadar akan perasaanku kepadanya."

Dia masih terdiam di sebelahku. Wajahnya tertunduk dan poninya menutupi wajahnya. Aku mengetahuinya dari awal, bahwa kalau membiarkan Temari dekat denganku akan membuatku menyakitinya tanpa bermaksud demikian.

"Me-mengapa kau menyukainya?"

"Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya. Mungkin ini terdengar tidak logis, tapi dia segalanya untukku."

Dia terhenyak ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku barusan. Tidak ada senyum nakal ataupun wajah yang bahagia yang biasanya selalu berada pada wajah perempuan di sebelahku. Matanya yang berwarna biru tua pun mulai berkaca-kaca. Aku mengetahui bahwa aku akan menyakitinya tetapi aku tidak tahu bahwa akan menjadi sesulit ini.

Aku tidak tahu bahwa aku akan membuatnya menangis. Perempuan kuat, merepotkan, berisik, dan tegar seperti dia akan menangis untukku. Tiba-tiba aku teringat akan percakapan antaraku dan Tou-san saat aku baru lulus menjadi Genin.

.

"Satu hal, Shikamaru, suatu saat perempuan akan menangis karenamu, jangan beda-bedakan perempuan! Mereka butuh perhatian kita."

"Bahkan perempuan merepotkan seperti Kaa-san?"

"Ya, dulu Tou-san pernah membuatnya menangis."

"HE? Berarti benar bahwa perempuan itu sebenarnya lemah."

"Mereka tidak lemah, Shikamaru. Suatu saat nanti kau akan bertemu perempuan merepotkan seperti Kaa-san, tetapi ingatlah lagi, bahwa perempuan menangis karena mereka sudah tidak kuat untuk menanggung bebannya sendirian, jangan pernah meremehkan mereka."

"…..Hai. Mendokusai."

.

Sekarang, perkataan Shikaku benar adanya. Semua yang dahulu diajarkannya kepadaku, semua perkataannya tentang perempuan dan betapa merepotkannya mereka. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

"Gomen, Temari. Aku tidak pernah memberitahukannya kepadamu."

"'Dia' tergila-gila dengan Naruto, kau tahu itu kan?"

"Ya, aku tahu itu."

"Kalian para ninja Konoha benar-benar bodoh."

"…"

"Sakura menyukai dan selalu menunggu Sasuke yang selalu membencinya tanpa menyadari perasaan Naruto terhadapnya. Naruto selalu menyukai Sakura tanpa pernah sadar akan keberadaan 'dia' yang setia kepadanya. Dan 'dia'… tergila-gila kepada Naruto tanpa pernah sadar akan tatapan penuh kasih sayang yang hanya kau berikan kepadanya! Kau…"

"Aku menyadarinya, Temari. Tidak seperti Naruto, Sakura, Uchiha, ataupun Hinata, aku menyadari seseorang yang selalu menemaniku di saat dia mampu dan mencintaiku lebih daripada partner kerja. Perempuan itu juga yang menemaniku ketika Asuma-sensei pergi."

Dia menatapku dengan berbagai perasaan yang dapat kulihat melalui sorot warna teal dari kedua matanya. Senyum tertahan muncul di wajahku. Mungkin setelah ini, hubungan di antara kita berdua menjadi canggung.

"Carilah pria lain, Temari, aku bukanlah seseorang yang dapat membahagiakanmu."

"Shika…"

"Aku akan terus menyakitimu kalau berada di sampingmu."

"Shika…"

"Kau memang wanita merepotkan, berisik, tetapi kau teman yang baik bagiku."

"Shikamaru."

"Kuharap kau mengerti, karena satu hal yang tak akan berubah adalah perasaanku kepadanya. Hal itu tidak pernah berubah dari awal aku mengenalnya bahkan walaupun aku masih balita pada saat itu."

"…"

"Temari?"

"Aku tidak bisa habis pikir… Apa yang sebenarnya kau lihat dari perempuan itu!"

Selesai berkata demikian, dia berlari dengan wajahnya tertunduk. Aku tidak bisa menyalahkan Temari atau siapapun kecuali diriku sendiri. Aku telah membawanya terlalu dalam dan tidak bisa menghapus ingatannya. Aku yang membuatnya mengenal sisi terdalam dalam hidupku. Aku yang mendekatinya saat dia mulai tertarik kepadaku. Terlebih lagi, semua itu hanya untuk membuat orang-orang tidak mengetahui perasaanku terhadap Hinata.

Tetapi semua sudah terjadi dan untuk sekarang ini, aku tidak akan mengejarnya.

"Gomen, Temari."

Senja hari didominasi warna oranye, bukan kuning, karena langit menjadi gelap, seiring dengan sang matahari yang semakin tenggelam. Senja hari menandakan kepergian matahari, sang bintang, dan mendatangkan kegelapan. Senja hari itu juga penuh dengan enigma, bagaimana orang-orang dapat terpukau oleh salah satu keindahan alam tersebut.

Walaupun matahari akan menghilang, senja hari tidak pernah sepenuhnya gelap.

Mungkin, kisah ini juga tidak akan selesai sampai di sini. Mungkin, peristiwa hancurnya pertemanan antaraku dengan Temari hanyalah sebuah awal…

Dari kisah panjang dalam paradigma kehidupan ini.


To Be Continued


Dusk : the time of day when the light has almost gone but it isn't yet dark (Based on Oxford) in Indonesian: senja hari.

#nowplaying Taylor Swift – You're Not Sorry.

.

A/N: AKHIRNYA SAYA LULUS LALALALAALALA. /jogetjoget. Ah ah ah, koreksi diri dari saya untuk chapter ini… PENDEK! Scenenya dikit, malah ada scene ShikaTema, bukan ShikaHina. Ah, tapi ini juga ada reason-nya kok. Pokoknya konflik baru mulai! Apa yang akan dilakukan Temari selanjutnya? Ih, eike gak tega loh sebenernya bikin dia nangis (secara implisit) di sini. Setiap cewek, seperti kata Shikaku, gak ada yang tegar, mereka bakal nangis kalau kita sakitin tanpa sadar, tapi mereka gak cengeng. Termasuk saya, yang nangis pas temen saya nangis bahagia di depan kelas tadi siang. Tapi diem-diem sih, udah gitu saya juga orangnya sama kayak Shika, terlihat menonjol tapi sebenarnya introvert hehe.

Oh oke ini kenapa jadi curcol gak jelas? /plak. One more, saya agak kecewa dengan review. Chapter pertama dapat 20, kenapa chapter dua dapetnya 6 review? Apa chapter 2 kemarin mengecewakan? Saya juga tidak tahu, hm.

OKE, AUTHOR INI SEBENERNYA GAK SUKA BIKIN A/N PANJANG-PANJANG JADI….

MIND TO REVIEW? ;)

Concrit Will Be Appreciated More!