Tobi anak sakit 3!
Karena seonggok Tobi anak sakit, semua makin rumit. "Pantas saja Deidara jadi panik." Menyebabkan member Akatsuki gigit jari. "Danna! Kau baik-baik saja, un?" Menjadi cleaning service pun Konan rela. "Kau benar-benar tidak becus mengepel, ya?" Dan sebuah rahasia klan Uchiha disaat demam membuat Kakuzu mengap-mengap.
Disclaimer, Akang Masashi Kishimoto.
Peringatan, bisa membuat boring, bosan, kesal. Salah ketik. Bahasa asing yang tidak digaris miring. Garink. OC . Aneh. GAJE. Kelewat OOC (percayalah, OOC-nya tidak main-main.) Jalur waktu yang kaga jelas.
Reviewer, KALONG SAYANG KALIAN! *peluk atu-atu, bukan muhrim* tanpa kalian, ihik… fict ini tidak akan berchapter-chapter! *digampar karena banyak basa-basi* Oh, ya. Ingat, setiap chapter akan selalu garink seperti biasa. Salah pembaca jika tetap ngotot membaca. Chap ini kelewat pendek, mengecewakan.
-.-.-
Mata bundar Rock Lee menatap awas disekelilingnya. Rambut batok kelapanya berkibar seperti jemuran emak-emak di musim panas. Disaat butiran pasir mengenai mata bulat sempurnanya, bulu matanya yang lentik berkibas-kibas. Butir-butir pasir yang membuat mata Lee serasa terbakar amaterasu tersebut, berasal dari pasir milik Gaara. Mata Lee yang dari sononya sudah lebar menjadi makin lebar selebar badan Chouji saat melihat seonggok Gaara berjalan kearahnya. Dengan gaya penari Bollywood, Rock Lee berlari menuju tubuh Gaara.
"Gaara-kun~! Kau datang juga rupanya!" seru Lee dengan slow motion yang makin memperkeruh suasana. Gaara yang melihat alaram bahaya berupa pelukan Teletubis dari Rock Lee segera menghindar ke samping. Lee yang tidak sadar terus berlari ingin memeluk Gaara, dan akhirnya menobrok Sasori yang mencoba kostum ondel-ondel miliknya.
"He-hei! Me-menjauh dariku!" tegas Sasori dengan teriakan ala anak SMP labil. Lee yang insap dari khilapnya langsung bangkit sambil garuk-garuk panu.
"Maafkan aku, maaf! Aku akan membantumu!" Rock Lee membantu sang ondel-ondel untuk bangkit dari keterpurukan, ehm dari nyungsepnya. Tapi, karena tenaga Lee yang kelewat bersemangat, nyonya ondel-ondel tersebut jatuh ke depan, menobrok Lee. Pelajaran di hari itu untuk Rock Lee. Jangan menarik benda dengan kekuatan penuh. Gaara yang melihat kejadian naas tersebut melalui mata jahe, ehm mata jadenya hanya sweatdrop.
"Nyonya ondel-ondel, menjauh dariku! Aku akan menikah, jangan goda aku!" ucap Lee dengan GR-nya. Wajah Sasori memerah marah karena dikira sebagai ondel-ondel penggoda. Dengan segera, Rock Lee mendorong Sasori sampai nyungsep lagi. Chiyo hanya berdecak ilpil dalam liang kubur.
"Gaara, kau datang!" ucap Lee dengan senyum riang. Gaara menatap Lee ilpil. Sejenak. kemudian Gaara berpaling sambil melenggang pergi menuju gedung pernikahan Lee. Menuju gedung, tempat acara pernikahan Lee dengan seorang kunoichi yang aduhai akan terlaksana. Kunoichi, bernama… *aura seram*
Haruno Sakura.
Mari kita doakan, agar rumah tangga Rock Lee dengan Haruno Sakura aman sejahtera. Semoga, Sakura tidak akan melakukan KDRT terhadap Lee. Dan kita doakan, semoga Uzumaki Naruto tidak akan pergi ke toko silet untuk bunuh diri. Amin.
"He-hei tuan mata bundar! Tolong aku!" pinta Sasori bak wanita yang terikat di rel kereta api. Tapi teriakan tersebut tidak menghilangkan aura suram dari Lee, yang ter-kacang-kan oleh sang Kazekage. Bagaikan anak pungut yang diusir, Lee terduduk di depan pintu sambil memeluk lutut. Hal yang tengah Lee gumamkan, "Pasti Gaara-kun iri dengan alis tebalku. Makanya dia menjauh dariku."
Greeb!
"Eh?" sebuah genggaman hangat Lee rasakan di pundaknya. Lee mendongak, dan tangan itu milik Gaara. Sang Kazekage yang sedari tadi meng-kacang-kan seonggok Rock Lee. Lee tersenyum sumringah.
"Gaara! Kau, kau~ kembali?" Lee mengap-mengap bahagia. Gaara masih memasang wajah datar sedatar baju yang disetrika dengan Rafika Ahmad.
"Dimana Rokudaime Hokage?" tanya Gaara sambil menatap Lee tajam. Acara mengap-mengap Lee terhenti. Mata bulatnya yang sudah bulat kini makin membulat bak fenomena super moon.
"Memangnya, ada apa dengan Naruto?" tanya Lee kepo sambil berkacak pinggang. Gaya Rock Lee yang terlihat 4l4y bagi Gaara, sehingga Gaara nyaris muntah di wajah hoekgantenghoek milik Lee. Gaara tutup mulut, takut jika benar-benar muntah. Bisa-bisa Lee mengiranya tengah hamil jika muntah. Padahal, Gaara adalah Kazekage. Bisa hancur martabatnya jika dikira hamil diluar nikah. Oh, satu lagi. Gaara itu manusia bergender jantan.
"Aku ingin meminta maaf pada Naruto." Tutur Gaara sambil menerawang kearah langit. Lee mengikuti gaya Gaara, menerawang kearah langit. Plagiat.
"Tentang apa?" tanya Lee makin kepo. Gaara menatap Lee. Tatapan Gaara seolah berkata, "Sekali lagi kau bertanya, akan kucuri semua alismu!"
"Tentang… malam itu." Ujar Gaara, membuat Lee makin penasaran. Dan Sasori? Harus tabah dalam posisi telentang. Dikacangi oleh Gaara dan Lee.
"Hei bodoh, tolong aku!" teriakan Sasori yang membuat nyaris tuli tidak dapat merusak suasana galau Gaara dan suasana kepo Rock Lee. Sasori pasrah, jika sebentar lagi menjabat gelar ondel-ondel bakar yang terjemur dibawah terik matahari.
'Nenek Chiyo, mungkin aku akan menyusulmu. Deidara, jangan lupakan aku. Padalah aku belum bilang jika aku yang membuang stok tanah liat milikmu minggu lalu.' Batin Sasori miris.
"Malam itu?" tanya Lee lagi. Nyaris, nyaris saja Gaara akan mencuri semua alis milik Lee. Hingga Gaara sadar. Jika Sakura mendapati calon suaminya tidak memiliki alis kebanggaan, desa Suna bisa tersisa kenangan dan gurun pasir semata.
"Kau kepo sekali." komentar Gaara pedas. Lee nyengir kunti, kemudian bertanya lagi. "Memangnya apa yang terjadi?"
"Aku… salah." Ucap Gaara singkat, padat, TIDAK jelas. Alis tebal setebal kulit kudanil milik Lee terangkat ke surga, ehm keatas. Lee benar-benar puyeng mendengar penuturan sang MANTAN jinchuriki.
"Salah bagaimana?" Lee mencengkram kedua bahu Gaara kuat. Diguncang-guncangkannya bahu Gaara dengan efek slow motion. Jangan lupakan, ingus Lee yang bercucuran. Makin mendramatisir keadaan. Keringat sebesar upil gajah menampakan diri di kepala Gaara.
"Aku, melakukan kesalahan yang amat besar." Lee merem melek saking geregetnya. Alisnya bergoyang seiring desiran angin, alis Lee menari hula-hula.
"Kesalahan apa?" pertanyaan Lee membuat Gaara nyaris mencekek leher buluk Lee, karena pertanyaan Lee disertai dengan hujan lokal. Untung saja ingatan Gaara akan kekuatan super Sakura tidak pernah lekang oleh waktu. Jika sampai Lee mati, Gaara akan menjadi Kazekage terakhir. Bagaimana nasib Matsuri nanti? Padahal Gaara belum sempat bilang 'I lop your eyebrow!' kepada Matsuri.
"Aku…"
"Ya?"
"Telah…"
"Ya?"
"Merenggut…"
"Hm?"
"Hal yang paling berharga…"
"Ha-hal yang paling berharga?"
"Milik Naruto…"
"A-apa itu?" Gaara memandang mata bulat Lee tajam setajam silet. Dahi Lee bercucuran keringat dingin sedingin isi kulkas. Desiran angin lembut membuat kejadian tersebut terlihat makin dramatis.
'Apakah Gaara mencuri Kyuubi? Apakah Gaara rindu menjadi seorang jinchuriki?' pikir Lee penuh fantasi anak-anak.
"Aku merenggut…"
"Apa itu?"
"Kegratisan SMS di hapenya. Untuk mengirim pesan kepada Mizukage."
Lee mengap-mengap sebelum pingsan. Saat Lee pingsan, Gaara sempat berteriak, "Lee!" dengan gaya istri Pahlawan Indonesia yang melihat suaminya mati ditembak penjajah. Segera saja, Gaara membawa Lee masuk menuju gedung pernikahan. Sasori dikacangin dalam kostum ondel-ondel.
"Selamat tinggal, Deidara. Itachi. Zetzu. Kakuzu. Hidan. Pain. Konan. Kisame. Tobi anak sakit." Sasori menutup mata. Namun… sebuah tangan mungil membantu Sasori berdiri. Tangan itu, memiliki mulut.
"Danna!" pekik Deidara khawatir saat melihat wajah Sasori merah merona dehidrasi. Dengan kepedulian tingkat tinggi, Deidara meraba kening Sasori. Diraba-raba, Sasori mesem-mesem bahagia.
"Danna! Kau baik-baik saja,un?"
"Tidak, jika aku tidak mendapat pelukan. Kurasa, aku sakit."
Dan dengan gobloknya, Deidara memeluk Sasori.
'Lihat, Tobi. Bukan hanya kau yang bisa dipeluk! Mueheheh…' Sasori tertawa bahagia dalam batin yang bergejolak.
-.-.-
Konan berjalan di lorong sambil menenteng sebuah ember yang penuh dengan air. Dibelakangnya, Pain membawa sebuah sapu, kemoceng dan alat pel. Oh, jangan lupakan sebotol obat pel yang nangkring di kepala Pain. Mirip Sarimin yang sedang atraksi di jalan bernama kehidupan.
"Pain. Aku menyapu, kau mengepel." Ucap Konan datar sambil menyodorkan ember ke wajah Pain. Pain berhenti berjalan sambil menatap sang ember.
"Kenapa aku?"
"Karena jika aku yang mengepel, namaku hanya tinggal kenangan." Ucap Konan sambil mengeluarkan selembar kertas origami dari sakunya. Kertas itu ia masukan kedalam ember. Kertas itu basah, robek.
"Kau lihat? Dan jika aku hanya tinggal kenangan, arwahku akan selalu menggentayangimu." Konan menatap Pain tajam. Pain manggut-manggut cepat bak Akamaru diberi tulang kerangka Yondaime Hokage. Mengerikan.
"Kemarikan sapu dan kemoceng itu." Pinta Konan. Dengan gugup, Pain menyerahkan alat-alat kebersihan tersebut. Konan segera beraksi membersihkan seluruh debu yang menempel di permukaan sekolah. Gerakannya cepat dan gesit. Saking gesitnya, gerakan Konan mampu mengalahkan gesitnya laju pelari tercepat di dunia. Usain bolt. Pain mengap-mengap.
"Giliranmu, leader." Ucap Konan dengan nada menghina. Pain yang merasa dihina tidak terima. Dengan angkuhnya bak Putra Indonesia, Pain memasukan sang alat pel kedalam ember. Diletakannya kain pel diatas lantai tanpa prosesi pemerasan kain pel. Pain menyapukan kain pel ke penjuru lantai. Sang lantai basah dengan indahnya. Konan bergidik ngeri.
"Pa-Pain, ka-kau mau membunuhku?" Konan berjalan mundur, sementara Pain masih berlenggak-lenggok bak model sambil mengepel. Terlalu menghayati. Ingin, ingin sekali Konan menggampar Pain yang mulai brutal. Namun sayang, kain pel mengancam jiwanya. Konan mulai menyanyi, mencoba menyadarkan sang leader.
"Bang, disane aje bang…" nyanyi Konan dengan nada gemetar. Pain menatap Konan sejenak, kemudian menatap sang kain pel sambil mengepel lagi.
"Ogah ah disini aje neng…"
"Pain, ngepel di sane Pain!" Konan ngeri sambil jejeritan saat sang kain pel basah mulai mendekati dirinya.
"Ogah ah disini aje, Nan." Balas Pain, tetap fokus pada sang kain pel. Konan menyernyit. Semakin berjalan mundur. Latar suara, lagu fur elise. Konan mundur selangkah, Pain maju 3 langkah. Konan mundur 3 langkah, hitung sendiri berapa langkah Pain maju.
CKIIIT!
JEDUUUUK!
"Hei! Pria penuh anting macam bencong taman lawang!" seorang bocah sekolahan menuding Pain, dalam keadaan nyungsep. Pain menoleh ke belakang, tidak memajukan sang alat pel menuju rekannya. Konan bernafas lega.
"Aku?" tanya Pain sambil menunjuk dirinya. Sang bocah malang, yang nyungsep tersebut berusaha bangun dari nyungsep. Pain memandang miris kearah si bocah. Sudah nyungsep, pemarah, tidak sopan, idup pulak. Pain berkacak pinggang sambil menatap sang anak. Sang anak segera bangkit.
"Kau adalah pria yang tidak becus menjadi pembantu!" ucap anak itu sambil menuding Pain. Pain melengos.
"Aku bukan pembantu, bocah." Ujar Pain sambil menatap bocah itu bosan. Sang bocah berambut pirang sepunggung tersebut terlihat marah, ia berjalan mendekati Pain dengan tampang sangar. Pain tidak gentar. Konan makan popcorn, merasakan bahwa fenomena tersebut akan berbuntut panjang. Dan beberapa bocah yang melihat kejadian tersebut berseru, "Kalahkan pria penuh tindik itu!"
"Hei, rambut duren busuk. Kau benar-benar tidak becus mengepel, ya?" hina sang bocah sambil berkacak pinggang, gaya bocah songong jaman sekarang. Sementara Pain, menggunakan tongkat pel sebagai penyangga dagunya.
"Aku bisa, nak. Jangan hanya mengeluh seperti perempuan." Ledek Pain sambil memandang Konan yang tengah makan popcorn. Dipandangi, Konan merasa terhina. Sang popcorn Konan acuhkan begitu saja. Popcorn patah hati.
"Aku memang perempuan, bodoh!" sang bocah, yang ternyata seonggok betina menarik kerah baju seragam kebersihan Pain dengan bringas. Tampang ancur Pain hanya berjarak 3 cm dari tampang sang bocah. Hati Konan panas membara melihat adegan Pain yang manes-manesin ati.
"JAUHKAN WAJAH BULUKMU DARI AYANG PAIN, BOCAH!" seru Konan sambil mengembat ember penuh air. Disiramkannya sang aer dalam ember ke wajah sang anak tanpa ber-peri ke bocah-an. Sang anak, panggil saja Akinine Soak terpaku saat sanga aer membasahi tubuhnya. Ya, terpaku. Bukan tergergaji.
"Ko-Konan-chan kau…" Pain menatap Konan dengan pandangan nanar. Konan menjatuhkan sang ember ke lantai. Jari Konan basah. Pain mendadak histeris.
"KONAN-CHAN~!" Pain memeluk Konan dengan rasa haru. Kali ini, otak bokepnya tidak ambil alih sama sekali. Tapi hati, hati yang berbicara. Salah satu tindikan Pain lepas dan jatuh ke lantai dengan efek slow motion. Mendramatisir. Murid-murid akademi bersiul penuh hawa penggodaan.
"Konan-chan, kenapa kau melakukan ini!? Jarimu basah, Konan!" Pain menatap Konan dengan mata berjendela-jendela. Digenggamnya bahu Konan erat sambil diguncang-guncangkan. Konan jadi puyeng. Akinine sweatdrop.
"Karena aku, adalah Konan. Yang selalu menyayangi ayang Pain." Ucap Konan, makin mendramatisir keadaan. Nyaris saja Pain mewek di bahu Konan sampai dia ingat, Konan bisa makin basah kuyup. Kemudian, Pain menatap Akinine dengan tatapan nyalang. Akinine mengeluarkan keringat dingin, begitupun murid-murid akademi yang menyaksikan pertarungan PainxKinine.
"Kau membuat jari ayang Konan basah!"
"Wanita itu juga membuat rambutku basah! Kau tau? Kemarin aku baru saja creambath di salon Orochimaru! Dan sekarang, rambutku rusak!" curhat Akinine, membuat Pain sweatdrop terbujur kaku tak berdaya mendengar keluhan Akinine yang tidak bermutu layaknya fict ini.
"Apakah kau memiliki kata-kata terakhir?" tanya Pain sambil menyiapkan jurus andalannya, tendangan si bokep. Akinine mengusap dagu, bergaya bak detektip swasta. Kemudian, Akinine menjentikan jari lentiknya.
"Iya. Kau, coba lihat ke belakang." Akinine menunjuk ke belakang Pain. Pain berbalik, kemudian mengap-mengap. Nampak Iruka yang tengah berkacak pinggang bak model yang dicium paksa oleh fans-nya.
"Sekolah berantakan, lantai licin, membentak murid akademi," Iruka menuding tindikan Pain. "KALIAN DIPECAT!"
"A-aku dipecat?" Pain terpaku, Konan menepuk jidat, dan Akinine menyeringai senang.
-.-.-
Hidan tersenyum puas memandang sekarung uang koin disamping kirinya. Hasil meramal warga Konoha. Kakinya yang lemah gemulai tengah dipijat oleh seorang bocah dengan rambut coklat sebahu, Matsuri. Beberapa bocah lainnya tengah mengipasi badan Hidan dengan daun pisang, nyolong di kebun milik Ino.
"Jadi, Hidan-sama…" Matsuri menatap wajah Hidan lekat. "Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi istri dari Gaara-sama?"
Hidan menguap, memandang Matsuri bosan. "Hem… pertanyaanmu sungguh merepotkan…"
Shikamaru bersin.
"Ta-tapi aku sudah memijat kakimu, Hidan-sama! Ja-jadi kau harus menjawab pertanyaanku…" Matsuri merajuk, berhenti memijat kaki Hidan yang kelewat bau. Hidan mengelus rambutnya sebentar, berpose bak aktor yang bangga akan ketampanannya karena memakai susuk anting Hello Kitty.
"Baik, baiklah… Jashin-sama sudah memberikan pesan untukmu…" Hidan memejamkan mata. "Kau, harus membuatkan jus alpokat untuk Gaara."
"Hanya itu?"
"Hanya itu."
Matsuri membungkuk dihadapan Hidan, melemparkan koin kearah Hidan dan pergi. Hidan menangkap koin itu sambil menyeringai.
"Beri jus alpokat, yang kau beli dari seorang dukun pelet." Guman Hidan.
-.-.-
Encok Kakuzu mulai membaik. Mata ijonya menatap Tobi yang tengah tertidur pulas, mungkin lelah karena terlalu banyak melakukan aktivitas autisnya. Iseng, Kakuzu mengejek suhu tubuh Tobi. Menyentuh permukaan topeng Tobi.
Ces…
"Panas sekali!" pekik Kakuzu sambil meniup-niup tangannya. Namun Tobi masih bergelung manja di tikar berbahan bulu ayam miliknya. Kakuzu geleng-geleng kepala.
"Pantas saja Deidara jadi panik. Ckckck… badannya benar-benar panas." tiba-tiba, sebuah ide penghematan muncul di otak matre Kakuzu. Kakuzu segera pergi menuju dapur. Mengambil panci penuh air, gelas, teh celup, gula dan sendok. Semua barang tersebut Kakuzu 'embat' menuju kamar dimana Tobi tertidur pulas.
Ces…
"Bukannya aku licik, Tobi. Tapi ini juga untuk penghematan." Ucap Kakuzu sambil menempelkan sang panci diatas topeng Tobi. Ingin memasak air untuk membuat teh hangat.
"Ng… Itachi-senpai… jangan sita lolipop Tobi…" gumam Tobi yang tengah molor. Kakuzu memandang Tobi heran.
"Itachi-senpai… senpai… uang iyuran nunggak 5 bulan…" gumam Tobi lagi, membuat mata ijo Kakuzu melebar dan merekah sempurna.
"Kau benar, Tobi. Untung saja kau mengingatkanku. Kau lebih berguna saat sakit." Kakuzu beranjak menuju kamar Itachi. Menggeledahnya.
"Hm… Itachi, ternyata kamarmu benar-benar 'rapi' ya?" Kakuzu melirik ke sekeliling kamar Itachi. Dimana-mana, toples kecil dengan label 'krim anti keriput' berserakan. Di lantai, kasur batu,atas lemari, ventilasi, bahkan di kamar reader (?). Kakuzu membuka lemari Itachi, dan semuanya nyaris krim anti keriput. Mata Kakuzu tak sengaja melihat sebuah buku di lemari. Buku itu…
RAHASIA KLAN UCHIHA. BUKU DIARI UCHIHA TERGANTENG, UCHIHA ITACHI.
"Dasar narsis." Komentar Kakuzu saat membaca sampul buku tersebut. Kemudian Kakuzu mulai membaca buku. Entah setan apa yang merasuki Kakuzu hingga ia lupa masalah uang. UANG, aneh sekali.
"Rahasia mata sharinggan? Membosankan. Asal-usul klan Uchiha? Tidak menarik. Upil Madara Uchiha?" mata ijo Kakuzu melebar. "Boleh juga."
"SENPAI! TOLONG TOBI! TOBI DIKEJAR BAJAJ BAJURI! TOLONG!"
Masih memegang buku, Kakuzu berlari menuju kamar Tobi dirawat. Melupakan nyeri encok yang menyerang punggungnya.
"Ada apa Tobi?"
"BAJAJ! TOLONG! ONDEL-ONDEL! MERCON! ADA SINDEN JEJADIAN!" jerit Tobi, membuat Kakuzu panik. Bukunya terjatuh, dan membukakan halamannya. Mata Kakuzu membaca judul dalam halaman tersebut.
"Saat sang Uchiha demam!?" Kakuzu meraih sang buku.
Saat seorang Uchiha terserang demam, suhu tubuhnya bisa berubah sangaaaaaaaaaaaaa~
19991999 huruf 'a' kemudian…
~aaaaaaat panas. Saking panasnya, bisa untuk membuat teh celup.
"Aku sudah tau…"
Semakin banyak aktivitas yang ia lakukan, suhu tubuhnya makin panas. Saking panasnya, bisa menandingi adegan panas SasuNaru yaoi!
"Heh…" Kakuzu memasang senyum kecut.
Terkadang, Uchiha yang tengah demam tidak bisa terganggu saat tertidur. Tapi, jika ia sampai mengigau, itu sangat berbahaya!
"Berbahaya?"
Karena disaat Uchiha mengigau dalam keadaan sakit…
-.-.-
Kenapa chap ini begitu pendek? Dimana Itachi, Zetzu, dan Kisame? Kenapa Tobi mengigau? Kapan Lee akan menikah dengan Sakura? Kenapa chap ini garink? Kenapa author bertanya sendiri? Siapa itu Akinine? Apa rencana Pain dan Konan? Kapan teh buatan Kakuzu matang? Kenapa ayam menyebrang jalan? #plaaak!
Tanyakan pada review yang bergoyang. (?)
TBC. Tekanan Batin Cinta.
Salam. Kalong anak baek ^^ (karena fict ini, aye ngepens ame Obito. Nyesel bikin fict ini. T.T)
