slowburn. rencanaku buat chapter ini kepanjangan jadi terpaksa kupotong. hope you guys don't mind me rambling a lot here.
.
.
Tubuh Hashirama terbangun sebelum otaknya terjaga. Ia meninggalkan kamarnya yang sederhana, murni digerakkan oleh agenda kegiatan hari ini yang telah terpatri semalam seperti kebiasaannya belakangan ini. Sendirian ia menembus jalanan yang lengang, hanya dipandu oleh memori ototnya yang sudah berkali-kali mengitari seluruh desa. Hashirama tidak berhenti hingga ia tiba di petak-petak lahan yang masih kosong. Segera ia pusatkan cakranya, dan mulai bekerja. Barulah ketika sebuah rumah mulai separuh terbangun ia sepenuhnya terjaga, dalam-dalam ia hirup udara pagi yang dihangatkan cakra mokutonnya.
Usai balok-balok yang saling silang dan kasau tertutupi oleh atap yang rata, Hashirama melepas segel ularnya. Peluh membanjir di dahinya. Permukaan rumah itu terasa hangat di telapak tangannya, masih berdenyut penuh kehidupan yang baru. Rerumputan di halaman rumah tersebut telah meranggas hingga kering. Butuh waktu lama hingga rumput-rumput baru bisa tumbuh normal. Lengannya masih bergelenyar dengan jejak-jejak cakra.
Hashirama mendudukkan diri di atas tumpukan kayu datar yang nantinya akan dijadikan pintu dan daun jendela. Deretan rumah kosong balas menatapnya lewat lubang-lubang di dinding. Ia teringat pada Touka, dan reaksinya jika ia melihat Hashirama menghabiskan waktu membuat rumah satu persatu. Pasti akan dicibirinya karena tidak efisien dan hina. Hashirama bisa mendengar komentarnya andai ia berdiri di sisinya. Berkacak pinggang dengan dagu runcing terangkat. Biarkan saja mereka membangun rumah sendiri!
Namun, ia tak bisa melanggar janjinya untuk membuatkan rumah bagi klan-klan yang akan beraliansi dengan Konoha. Kayu dari jurus mokutonnya sendiri terlampau keras untuk digergaji manual, karena didesain untuk menahan serangan jurus destruktif. Setidaknya rumah-rumah ini akan awet sampai anak-anak mereka tumbuh dewasa dan berkeluarga sendiri.
"Hokage-sama."
"Shimura-san. Selamat pagi." Hashirama mengangguk menyapa pria itu. Shimura Keita beberapa tahun lebih muda darinya; ia duga belum menginjak usia dua puluh. Ia kepala klan Shimura yang baru, diangkat menggantikan ayahnya yang belum lama ini mangkat. Rambutnya cokelat muda, wajahnya bersih tercukur. Ada kepanikan nyata dalam bahasa tubuhnya. Ia terus menerus menautkan jemarinya, gelisah.
"Pagi," balasnya singkat. Ia melirik pada rumah baru itu. "Saya diberitahu bahwa Anda ada di sini, jadi…."
"Ya?"
"Bisakah—er, maukah … maksud saya, bersediakah Anda mengantar saya ke … kediaman…." Kata-katanya terucap begitu lirih serupa bisikan sehingga Hashirama mendekat dan memintanya mengulangi. "Ke kediaman … klan Uchiha…."
"Tentu saja," ia mengiyakan tanpa berpikir dua kali. "Yuk, sekarang."
"Se, sekarang!?" ulang Keita terperanjat. "Maaf, maksud saya … tentu lebih baik pergi sekarang…." Ia mencengkeram dadanya, mengikuti Hashirama tanpa suara.
Seorang penjaga turun dari atas pohon ketika mereka menyusuri sisi danau. Usai Hashirama menyampaikan maksud kedatangan mereka, ia segera berlari pulang. Keita bernapas begitu cepat hingga sang Hokage takut ia akan mendadak pingsan.
"Tenanglah." Ia menepuk bahu pria itu. "Tarik napas dalam-dalam. Tak ada yang perlu ditakutkan."
Keita bertelekan pada kedua lututnya. "Justru itu, Hokage-sama … jujur saja, saya agak takut…."
"Pada Madara?"
Keita membuat ekspresi kesakitan. Hashirama terkekeh geli. "Tidak apa-apa, ada aku di sini." Pria itu hanya tertawa lemah mendengarnya.
Pepohonan rimbun menaungi pagar kayu sederhana yang memisahkan kompleks dari belantara. Kokok ayam, kerik serangga dan cuitan burung bergema di sekeliling mereka. Hashirama belum pernah ke sini sebelumnya, hanya sekali ketika klan Uchiha baru membuka hutan untuk pemukiman. Letaknya yang lumayan jauh dari pusat desa membuatnya jarang bertandang. Lain kali ia harus lebih sering berkunjung.
Penjaga yang sama menyambut mereka di pintu masuknya. "Mari. Uchiha-sama sudah menunggu Anda berdua." Ia mempersilakan mereka masuk. Keita menarik napas tajam di belakang Hashirama.
Si penjaga sigap menuntun mereka menyeberangi lapangan yang masih berkabut, membelahkan jalan untuk mereka dengan uap cakranya yang panas. Mereka tiba di bangunan kayu besar yang tampaknya adalah rumah utama. Tangan Keita gemetar. Kegugupannya semakin menjadi-jadi ketika mereka melepas alas kaki dan naik ke selasar. Dan menular juga; Hashirama berusaha merapikan rambutnya diam-diam, mendadak sadar ia belum sempat berbenah setelah bekerja membangunkan rumah.
Mereka diantar ke sebuah ruangan. Madara dan Izuna sudah duduk menanti mereka, terlihat santai seolah sudah terbangun sejak lama. Kimono biru gelap mereka yang senada dihiasi lambang klan Uchiha mungil di kerahnya. Kedua tamu sudah beranjak masuk, tetapi Hashirama berhenti di tempat, bingung. Hanya ada satu bantal duduk yang disediakan menghadap kakak beradik itu. Kebingungan sang Hokage pecah ketika Madara memanggilnya.
"Hokage-sama," ia mengangguk ke sebelah kanannya, tempat sebuah bantal duduk lain disediakan, "silakan duduk di sini."
Hashirama mengambil tempat yang telah disediakan untuknya, walau agak merasa janggal. Ia merasa akan turut menginterogasi Keita. Dari sebelah Madara, pria itu terlihat dua kali lebih pucat. Tatapannya terarah pada kaligrafi yang menghiasi dinding di belakang mereka bertiga.
"Sebelumnya," Keita berhenti untuk berdeham dan melirik Hashirama, seolah mencari pertolongan, "sebelumnya saya minta maaf telah mengganggu Anda berdua—bertiga, sepagi ini…."
"Langsung saja ke inti masalahnya," Madara memotong tajam.
Hashirama meliriknya. Ekspresinya sekeras bebatuan. Otot lehernya sedikit menegang, rahangnya kaku.
Keita serta merta membungkuk hingga dahinya membentur tatami. "Atas nama seluruh klan Shimura, saya minta maaf sedalam-dalamnya atas insiden dengan anggota klan kami semalam," ujarnya cepat-cepat, "Kami berharap insiden ini tetap berada di antara kita saja. Saya bersedia menanggung segala tuntutan Anda sebagai kompensasinya."
Madara tidak berkata apa-apa, hanya menoleh ke adiknya. Izuna tidak butuh waktu lama untuk mengiyakan permintaan tersebut. "Masalah itu sudah kuanggap selesai semalam, Shimura-sama. Anda tidak perlu memberikan kompensasi apapun." Ia terdengar agak lelah.
"Mengapa bukan Hisao sendiri yang datang kemari?" sergah Madara.
"Beliau sedang mengistirahatkan luka-lukanya, Uchiha-sama." Keita belum juga mengangkat kepalanya. "Saya hanya tidak ingin menunda permintaan maaf dan memperpanjang masalah."
Mau tak mau Hashirama merasa agak kasihan kepada kepala klan muda ini. Namun ia salut akan keberaniannya datang meminta maaf sendirian. Apalagi langsung menghadapi Madara.
"Tolong angkat wajah Anda, Shimura-sama," pinta Izuna.
Keita mematuhinya, dan Hashirama harus menggigit bibir agar tidak tertawa. Tekstur tatami telah meninggalkan bekas kemerahan di dahi pria itu. Ia berterima kasih dengan khidmat, lalu mohon diri untuk pulang. Penjaga yang tadi sudah kembali untuk mengantar.
"Oh, aku tidak … tidak sekarang," ujarnya ketika ditanyai apakah ia akan kembali sekarang. Hashirama menanti sampai kedua orang itu pergi, lalu beralih pada Izuna. "Bagaimana lukamu?"
Izuna melemaskan kedua lengannya. "Baik-baik saja. Lukanya tidak dalam. Tuh," ia seketika sigap berdiri dan menepuk sisi pinggangnya yang semalam ditebas Hisao, menegaskan pernyataannya. "Sampai nanti, Hashi-san." Ia menghilang ke selasar sembari menguap lebar-lebar. Pintu ia tutup di belakangnya. Hawa dinding cakranya menipis dengan cepat, ia pasti telah menjauh dari ruangan itu.
Hashirama masih menatap pintu, merasa Izuna pergi tergesa-gesa. "Apa lukanya benar-benar sudah tidak apa-apa...?"
"Dua penyembuh bekerja semalaman untuk menutup lukanya." Madara bergeser untuk menghadapnya. "Jika kau tidak ada di sana semalam, ceritanya akan lain."
Kepala Hashirama tertunduk, lelah. "Maafkan aku."
"Kenapa diizinkan?" Nada suaranya tidak setajam tadi.
"Aku memercayai kemampuan Izuna dan menghormati keputusannya." Mencegahnya hanya akan mempermalukan Izuna, juga klan yang ia wakili. Apalagi Hisao menghinanya di hadapan perwakilan klan-klan lain, sekaligus Hashirama sendiri.
"Kau tetap membahayakan nyawanya."
Cepat kepalanya diangkat. Kekagetan membuatnya menarik napas tajam. "Tentu tidak—aku mengubah peraturannya. Jadi—"
"Lihat hasilnya," desis Madara, lengannya yang terlipat menegang. "Hisao sudah berniat melukainya. Lain kali bisa lebih parah. Kau sanggup menanggung risikonya?"
"Madara, dia tak akan berani menyakiti Izuna lagi. Kepala klannya akan mencegahnya."
"Dia tak akan berani karena ada aku di sini," ujar Madara. "Orang itu akan menciut di hadapan Hisao." Sejenak ia berhenti. "Usir dia."
"Tak bisa—"
"Usir dia dari Konoha," ulang Madara, mencondongkan diri ke arahnya.
Hashirama balas menatap mata hitamnya. Ia paham—sangat paham mengapa Madara begitu kukuh menuntut. Namun, situasinya sudah berubah. Mereka tidak lagi hidup terpisah dari klan-klan lain, tetapi berbagi satu ruang, satu rumah bersama. Jika dahulu perselisihan mudah diselesaikan dengan pedang atau menghindar, sekarang tidak lagi. Shimura Keita boleh saja sudah meminta maaf secara langsung, akan tetapi Hisao masihlah salah satu tetua Shimura yang berpengaruh. Ia beruntung dalam kasus ini karena perseteruan Izuna dengan Hisao terjadi di depan matanya sendiri. Tetapi dengan sepuluh klan tinggal bersama, dengan adat istiadat berbeda, Hashirama tak mungkin mengawasi semuanya setiap saat. Mengurus infrastruktur saja ia sudah mulai kewalahan, padahal hanya ia seorang yang bisa menumbuhkan rumah-rumah….
Ditariknya napas dalam-dalam. Wangi pernis kayu dan cemara hinoki memenuhi paru-parunya.
Perlahan ia tanggalkan persona Hokagenya, berusaha membujuk Madara sebagai sahabatnya. "Apa permintaan maaf dari kepala klannya tidak cukup?" Suaranya ia pelankan, nyaris sekeras bisikan. "Kompensasi apa yang kaubutuhkan?"
Pertanyaannya tak dihiraukan. "Kau sibuk dengan urusan Hokage. Bagaimana caranya kau bisa memastikan keselamatan Izuna setiap saat? Shimura Hisao sendiri berani melukainya di hadapanmu, berlindung di balik pertarungan untuk menyelesaikan perselisihan di ruang rapat." Dadanya naik-turun dengan cepat. Sebelum ia sempat merespons, Madara melanjutkan, "Apa gunanya desa kalau semua orang masih main hakim sendiri?"
Hashirama bungkam, menyadari pertanyaan yang disiratkan kepala klan Uchiha ini.
Apa gunanya desa ketika adik mereka sendiri tidak aman di dalamnya?
Usianya dua belas tahun, dan ia sibuk memerhatikan sebuah pertarungan hidup mati dari balik kerimbunan daun jauh di atas kepala semua orang dewasa. Kedua petarung berhadapan dikelilingi lingkaran besar yang terdiri dari anggota klannya. Selain tiga orang, semuanya penontonnya laki-laki.
Petarungnya adalah salah satu anggota klan Senju melawan anggota klan Hagoromo yang beberapa minggu lalu berpapasan dengannya dan Touka di hutan. Rupanya selama ini ia dikurung dan diinterogasi. Menurut Tobirama, interogasi artinya ditanyai paksa untuk mendapatkan informasi penting. Klan Hagoromo tidak pernah berafiliasi dengan klan Senju, jadi informasi tentang mereka pastilah langka.
Lawan sang tawanan berputar pada tumitnya dan menggoreskan pedang dalam-dalam pada pahanya. Usai sudah. Hashirama bergeser di cabang pohonnya, perlahan turun untuk menemui adiknya sementara shinobi Hagoromo itu tersungkur dalam kubangan darahnya sendiri. Ia meninggalkan kerumunan yang berseru-seru di belakang, suara mereka menjadi sayup-sayup semakin jauh ia melalui ladang-ladang klan. Sebuah surat tergenggam di tangannya.
Sejak ia diculik berminggu-minggu lalu, ayahnya akhirnya mengizinkan Hashirama ikut Tobirama dalam kelas pengetahuan umumnya, yang isinya hanya duduk diam berjam-jam di hadapan teks yang sulit dipahami. Ia tampaknya beranggapan gadis kecil itu akan lebih enggan berkeliaran jika dibiarkan bergabung dengan adiknya dalam kelas. Namun, baginya membaca itu lebih melelahkan daripada taijutsu. Otaknya seolah enggan untuk menerjemahkan konsep-konsep dari buku dan gulungan itu menjadi ide-ide solid. Meminta Tobirama menjelaskan materi pelajarannya jauh lebih mudah dipahami. Setidaknya ia sudah bisa membaca dan menulis.
Butsuma menyuruhnya menyurati sepupu Uzumaki mereka. Ia tidak menyebutkan sepupu yang mana, sehingga Hashirama otomatis memilih Mito. Anak perempuan itu menyenangkan sekali; ia pintar menyanyi dan mengepang rambut. Selama ia berkunjung dulu, mereka menghabiskan malam bereksperimen dengan rambut masing-masing. Hashirama tidak akan keberatan kalau ia datang kembali. Asal tidak bersama Nobuo.
Sayangnya, Mito seringkali menceritakan sepupu-sepupunya dalam suratnya. Termasuk Nobuo. Hashirama selalu melewati bagian itu, sehingga tak pernah menanggapinya dalam balasannya. Akan tetapi Mito selalu sanggup membawa topik itu kembali ke dalam suratnya.
"Ashina-sama membawa beberapa cucunya ke ibukota," Hashirama bercerita sembari mengulangi gerakan taijutsu yang baru ia pelajari dari Tobirama. "Entah buat apa."
Sementara ia menghantam musuh-musuh imajiner, adiknya duduk di atas sebuah tunggul pohon, dahinya berkerut membaca surat Mito yang baru ia terima tadi pagi.
"Mereka dikirim untuk berguru pada para samurai," jelasnya, "atau belajar di istana."
"Ih, buat apa?" Hashirama menangkis dan menendang udara.
"Membangun koneksi."
"...Koneksi?"
"Jaringan sosial," Tobirama turun dari tunggul, "untuk melebarkan pengaruh."
Hashirama mengerti maksudnya, hanya saja ia selalu mengira koneksi dibangun dengan pernikahan. Perjanjian pun ada, tetapi ninja umumnya tidak punya perjanjian damai. Yang seperti itu cuma bisa dilakukan antarbangsawan saja.
"Dalam beberapa tahun klan Uzumaki akan terkenal di kalangan istana. Kakak tahu 'kan … rambut merah mereka menyolok sekali. Mereka juga ninja."
"Bukannya samurai nggak suka kita? Apalagi para bangsawan…." Hashirama mendaratkan tendangan berputar terakhir ke udara, lalu menarik kedua sikunya ke belakang. Ia mengembuskan napas panjang, mendinginkan tubuh selepas latihan. Gadis itu meringis lebar pada adiknya, mengharapkan saran atau—kalau ia beruntung—pujian.
"Aku tahu Kakak belakangan sibuk apa," Tobirama memulai, sama sekali tidak menyinggung taijutsu-nya seperti yang diduga Hashirama. "Touka sering menyelundupkan Kakak ke pelatihan kunoichi."
Jantungnya mencelos. Sanggahan telah siap diluncurkan lidahnya, tetapi diurungkan. Ia tak suka membohongi adik-adiknya. Hashirama melemaskan bahunya. "Kalau iya kenapa?"
Sekilas ia terlihat cemas. Poninya yang seputih salju ia singkirkan dari dahinya. "Aku tak suka berbohong pada Ayah. Mengajari Kakak taijutsu sembunyi-sembunyi pun sudah berisiko."
"Kalau begitu nggak usah bilang apa-apa," balas Hashirama. "Bibi pengajar dan anak perempuan lainnya nggak ada yang tahu, kok. Aku selalu bersembunyi."
Butsuma sebenarnya sudah curiga ketika ia memutuskan untuk memotong pendek rambutnya dan mulai mengenakan pakaian anak lelaki. Ia berdalih rambut panjangnya merepotkan ketika ia bermain-main, dan rok panjang tidak praktis untuk memanjat pohon. Untunglah ia tidak ditanya-tanyai lagi. Menjauhi belantara selama sebulan penuh atas saran Touka memberinya keuntungan besar. Butsuma mengiranya masih trauma karena insiden penculikan itu sehingga ia tidak mengawasinya seketat sebelumnya.
"Memang Kakak belajar apa saja?" tanya Tobirama.
"Tentang herba hutan, merebus ramuan obat. Jurus kecil-kecilan seperti henge dan genjutsu ringan…." Ia berhenti, bingung. Mengapa Tobirama tidak tahu? Bukankah ia dipersiapkan untuk menjadi calon ketua klan? Seharusnya ia paham kalau tugas utama para kunoichi adalah pengumpulan informasi dengan menyaru menjadi rakyat biasa di desa-desa. Itulah sebabnya mereka tidak banyak mempelajari taijutsu maupun ninjutsu elemen alam. Sebagian diajari cara merawat luka, tetapi ninjutsu medis masih terlampau sulit dipelajari pada tahap ini. Di kalangan wanita dewasa pun Hashirama hanya mengenal lima orang yang bisa melakukannya.
"...Jangan bilang Kakak mau jadi kunoichi."
"Apa salahnya?"
"Kakak bisa diculik lagi."
"Aku nggak akan diculik lagi." Hashirama berkacak pinggang. "Taijutsu-ku sudah lebih baik. Lagipula," dijumputnya helaian pendek rambut dari ubun-ubun, "aku sekarang terlihat seperti anak laki-laki, kan?"
Tobirama hanya menghela napas dan mengembalikan surat Mito kepadanya. Tanpa suara mereka kembali ke perkampungan. Anak perempuan itu berjalan sedikit di belakang adiknya, memerhatikan secercah cahaya matahari menembus kanopi hutan dan membuat bayangan-bayangan aneh di kepala adiknya.
Hashirama sungguh berterima kasih Tobirama mau mengajarinya taijutsu, tetapi jika ia terlihat enggan Hashirama tak ingin memaksanya. Butsuma jauh lebih keras kepadanya daripada kepada si sulung karena ia dipersiapkan untuk memimpin klan kelak.
Saat mereka tiba, seluruh perkampungan sedang sibuk dengan persiapan perang. Semua laki-laki, baik anak maupun dewasa, pontang-panting membawa persenjataan dan lempengan zirah, sesekali meneriakkan perintah untuk membawakan sesuatu atau bersiap di mulut gerbang. Beberapa perempuan memasangkan zirah pada anak-anak lelaki mereka, wajah mereka kaku menyembunyikan kecemasan.
"Tobirama! Dari mana saja kau?" Butsuma mendadak muncul dari arah gerbang, sudah berzirah lengkap. Sode-nya berisik memantul-mantul di bahu sementara ia berlari menghampiri kedua anaknya. "Ambil perlengkapanmu dan segera bersiap! Dan kau—" ia beralih pada Hashirama sementara Tobirama segera berlari pergi.
Ia menelan ludah, gugup.
"—Tetaplah di sini."
Begitu Butsuma beralih memeriksa shinobi Senju lainnya, Hashirama perlahan beranjak ke gerbang di antara kekacauan persiapan ini. Samar-samar ia mencuri dengar pembicaraan orang-orang. Seorang pengintai mengabarkan bahwa sekelompok shinobi Hyuuga telah memasuki wilayah daimyo Matsudaira, yang saat ini mengontrak mereka. Klan lain mendekat dari arah berlawanan, sepertinya Hagoromo. Sebagian orang mengaitkan kedatangan mereka dengan tawanan yang tadi mati mati setelah berusaha membeli kebebasannya lewat pertarungan hidup-mati, tetapi kabar kematiannya belum juga tersebar.
Jantungnya berdentum-dentum di balik rusuknya. Hashirama merasa terbelah; ia ingin turut bertempur. Namun, ia juga ingin mencegah anak-anak pergi. Mereka masih terlalu muda, seharusnya perang itu hanya urusan orang dewasa saja. Matanya mengamati barisan shinobi yang siap pergi. Sebagian di antaranya masih sekecil Itama….
"Itama!?"
"...Kakak?" Adik termudanya menoleh, wajahnya bingung. Pelindung dadanya terlalu besar, dibuat untuk anak yang jauh lebih tua. Kedua pipinya terasa lembap di telapak tangan Hashirama. Matanya yang gelap, persis matanya sendiri, mengerjap-ngerjap sementara ia menyeka wajahnya.
"Ayah menyuruhmu pergi juga?" tanyanya, yang dibalas dengan anggukan. "Kawarama...? Mana Kawarama…."
Itama menunjuk barisan lain, tempat Kawarama berdiri paling depan. Hashirama memberinya pelukan singkat, lalu menembus barisan pria-pria menuju adiknya yang lain. "Oi! Hati-hati!" seorang pria tinggi besar menghardiknya setelah ia menubruknya, yang ia abaikan.
Kawarama melihatnya sebelum ia mendekat. Berbeda dengan Itama, ia masih sanggup tersenyum lebar. Tak sabar ingin segera maju ke medan tempur. Mengapa ia malah sesenang ini? Tak tahukah ia bahaya apa yang menantinya? Bukankah ini bukan pertempuran pertamanya? Hashirama hanya sempat memeluknya, karena suara ayah mereka bergaung di atas segala keributan di perkampungan, memberi aba-aba untuk maju.
Debu dan dedaunan kering mengelilinginya ketika ratusan shinobi laki-laki Senju melesat ke dahan-dahan pohon. Kawarama menggeliat lepas dari rengkuhan lengannya, tertawa sembari menyusul sanak satu klannya ke kanopi hutan. Kedua lengannya masih kaku di udara, membentuk lingkaran yang tadi dihuni Kawarama. Hashirama terpaku menyaksikan ini bagai terhipnotis genjutsu sampai ia merasakan sebuah tangan menepuk bahunya.
"Kami akan kembali, Kak."
Begitu zirah biru Tobirama menghilang dalam lautan cokelat dan hijau, Hashirama berbalik lari. Ia berhenti sebentar di rumahnya, mengambil syal untuk melindungi lehernya dari angin. Sebelum Touka atau penjaga lainnya melihat, ia menghilang ke dalam belantara di arah berlawanan, dipacu adrenalin dan luapan emosinya.
Peraturan pertama shinobi dan kunoichi adalah membunuh emosi demi keberhasilan misi. Namun, klan Senju bukanlah klan maniak perang yang keji. Ayahnya bahkan menegaskan hal tersebut berulang kali, bahwa prinsip Senju berlandaskan kasih sayang. Para nenek dan bibi yang mengajar di kelas kunoichi pun bilang begitu, dan gadis-gadis murid mereka diajari bagaimana mengekspresikan cinta dan kasih sayang dengan benar. Termasuk kepada laki-laki asing sekalipun. Beberapa gadis berseru jengah mendengarnya, sehingga mereka ditegur dan diingatkan untuk membunuh emosi demi misi.
Namun, bagaimana caranya mengekspresikan kasih sayang jika emosi sudah dibunuh? Bukankah itu membuat cinta menjadi palsu? Jadi apa gunanya—
Hashirama menapakkan kakinya keras-keras ke batang sebuah cemara, mendaki hingga mendekati puncak sebelum melompat ke dahan besar pinus raksasa. Disibaknya ranting untuk melihat ke kejauhan. Sebuah sungai mengalir di lembah, tak jauh dari belantara. Pertempuran pasti akan terjadi di hulu. Aturan perang klan Senju mengharuskan pasukan untuk menjauhi ladang dan sungai agar tidak mencemari sumber makanan dan air dengan darah, mayat dan cakra, tetapi klan-klan yang akan menyerang mereka pasti menyasar tempat-tempat itu. Bekas-bekas pertempuran akan hanyut ke hilir, tempat ia bisa memantau dengan leluasa.
Memusatkan cakranya di kaki, Hashirama menuruni dahan dan tebing, masuk ke hutan di lembah. Ia mengerjapkan matanya yang kabur, mengeringkan kelembapan yang sudah menggenang di sana. Napasnya ia atur sedemikian rupa agar memelan. Gemericik sungai yang semakin dekat membantunya menenangkan diri. Tempat ini jarang dikunjungi orang, sehingga ia sering bertandang untuk menyepi atau belajar kontrol cakra.
Namun, kali ini sudah ada orang lain di sana. Seorang anak lelaki dengan rambut mencuat berantakan ber-kimono kelabu gelap. Hashirama diam di sesemakan, menekan cakranya hingga tipis sembari mengamati. Usia anak lelaki itu pasti sepantaran dengannya, dua belas atau tiga belas tahun. Wajahnya kesal, berkali-kali ia menimpuki sungai dengan kerikil...
Bukan, ia tidak asal melempar. Semua kerikil yang ia pilih adalah batu pipih yang juga sering ia gunakan untuk bermain batu lompat. Batu-batunya melompat di air sekali, dua kali, lalu tenggelam. Si anak lelaki berdecih keras setelah gagal untuk kesekian kalinya. Menyaksikan ini sungguh menghiburnya, tetapi ia juga merasa terdorong untuk membantunya.
Hashirama perlahan meninggalkan tempat persembunyiannya, sepelan mungkin menapakkan kaki. Ia memungut sebuah batu pipih, menimangnya di telapak tangan, lalu melemparnya dengan luwes ke permukaan air. Batunya melompat lima kali sebelum tenggelam.
Ia meleletkan lidahnya saat anak itu menoleh dan membelalak kepadanya. Dipasangnya senyum terlebarnya. "Begitu caranya melempar batu," ujarnya bangga, dadanya membusung. "Bidiklah agak tinggi."
Anak lelaki itu galak menanggapinya, "Siapa kamu!? Ngapain kamu berdiri di belakangku?"
Hashirama manyun, kepalanya lesu tertunduk. "...Aku cuma mau bantu kamu main lempar batu," jawabnya lirih, "supaya bisa sampai ke seberang sungai."
"Nggak usah!" tolaknya dengan telunjuk teracung pada wajah Hashirama, "aku nggak butuh bantuan anak aneh kayak kamu!"
"Ya sudah." Hashirama membalikkan badan, siap beranjak pergi. "Lagipula kamu galak banget—"
"Hei! Siapa yang menyuruhmu pergi?" Anak itu mencengkeram bahu Hashirama, membuatnya nyaris terjungkal ke belakang.
"Jadi kamu ini mau dibantu atau tidak…?"
Si anak lelaki tidak menjawab, hanya cemberut dan melirik ke arah lain. Hal ini mengundang tawa keras Hashirama. Gadis itu berseru, "Bilang saja kalau mau!"
"Berisik!" hardiknya. "Namamu siapa?"
"Hashirama." Ia memungut sebuah batu dan melempar-lemparnya ke udara. "Namamu?"
"Madara."
Sesaat keduanya bertatapan, seolah menanti satu sama lain mengatakan sesuatu. Namun, hal ini tak berlangsung lama. Hashirama nyengir, yang dibalas dengan senyuman tipis Madara. Anak lelaki itu melempar sebuah batu lagi ke sungai, yang tenggelam setelah tiga kali memantul di permukaan air. Dari gerakan lengannya, Hashirama langsung tahu bahwa lemparannya itu khas shurikenjutsu.
Bukan gerakan amatir—Madara pasti telah berlatih cukup lama. Berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun….
Sebelum Hashirama sempat mengoreksi lemparannya, sesuatu mengapung dari kelokan di arah hulu. Seorang pria dewasa berzirah. Gadis itu menjatuhkan batu di genggamannya, melesat menghampiri. Sambil berlutut di atas air, ia memeriksa denyut nadinya. Sudah tidak ada. Lambang di lengan mayat itu ia kenal, terpatri dalam ingatannya di hari ia pergi ke belantara bersama Touka.
Hashirama menegakkan diri, mengatur air mukanya. "Sebaiknya kita pergi dari sini," ujarnya dengan suara rendah, masih menatap mayat itu. "Sebentar lagi pertempuran akan merembet kemari." Ia melesat ke sisi lain sungai. Ketiga adiknya di medan tempur; masih terlalu muda, terlalu kecil, mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu yang tak mereka pahami….
Itama yang pipinya berbekas tangis; Kawarama yang santai meringis—
"Hashirama?"
Ia tersentak dan buru-buru berbalik. Ekspresi Madara tak bisa ditebak, walau perlahan melunak menunjukkan rasa ingin tahu yang telah terpenuhi.
"Jadi kau juga seorang shinobi."
Hashirama tidak mengiyakan maupun menyanggah pernyataan itu. Pikirannya justru dipenuhi satu pertanyaan lain: mengapa Madara kemari?
Jawabannya entah bagaimana sudah menyelusup begitu saja ke dalam hatinya.
Ia pasti ada di sini dengan alasan serupa alasannya sendiri.
"Kak, makan."
"Mm," gumam Hashirama datar selagi ia menepuk-nepuk kuning telur setengah matang di atas buburnya dengan sendok. Wangi daun bawangnya yang meruap bahkan tidak mampu menggoda selera makannya. Di seberangnya, bubur Tobirama sudah separuh habis. Jemarinya mengetuk-ngetuk gulungan yang terbuka di antara kedua mangkuk itu.
Teringat akan agenda rapat klan dengan paman-pamannya pagi itu, Hashirama berlari secepat kilat dari kediaman klan Uchiha. Namun, tetap saja ia terlambat. Rapat sudah berjalan hampir selesai dipimpin oleh Tobirama. Beberapa menit yang tersisa dihabiskan para tetua untuk menceramahi sang Hokage itu. Usai rapat, adiknya mengajaknya makan di satu-satunya kedai yang telah buka di kawasan pertokoan sembari menerangkan apa saja yang mereka bicarakan dalam rapat. Hashirama berusaha mendengarkan, tetapi fokusnya menolak utuh.
"Kak," desaknya.
"Iya, iya…." Hashirama melelehkan kuning telurnya, lalu menyuapkan sesendok penuh bubur asin. Ia menelannya tanpa dikunyah. "Sampai di mana tadi kamu…?" tanyanya sembari menyesap teh yang sudah dingin.
"Kas klan," Tobirama membukakan gulungan. "Hampir semua klan meminjam uang kita untuk pindah ke Konoha. Kakak tidak memberikan jatuh tempo pembayaran, sementara pemasukan belum lancar karena kita tidak menerima misi-misi lagi dari para daimyo. Ada usulan untuk menarik pajak desa tetapi aku ragu Kakak akan setuju."
Hashirama mendengus. "Memang tidak!" serunya, "dan itu bukan pinjaman—itu pemberian."
"Kakak tidak mengharapkan klan kita akan membayar segalanya, 'kan?" Tobirama mendelik dari gulungannya. Ia merendahkan suaranya. "Jika diteruskan, mereka yang enak. Uang kita juga ada batasnya."
Telurnya lengket di langit-langit mulut Hashirama. Sementara ia sibuk dengannya, Tobirama melanjutkan, "aku tahu Kakak bersedia membiayai kepindahan mereka, tetapi kita tidak bisa menanggung semuanya. Paman Joji sudah mengirimkan surat meminta pinjaman lagi tanpa sepengetahuan kita."
Hashirama lagi-lagi bergumam datar, konsentrasinya berantakan. Ia sibuk mengaduk buburnya hingga encer. Tobirama menghela napas sebal; ia tahu adiknya itu benci bubur yang diaduk-aduk. Semasa kecil, ia suka melakukannya jika sedang kesal kepadanya.
"Kakak tadi pagi ke mana? Aku mencari Kakak sebelum rapat, tapi Kakak tidak ada di pemukiman."
"Kompleks klan Uchiha," jawabnya, kemudian semua kejadian tadi pagi meluncur keluar tanpa henti dari mulutnya. "Menurutmu bagaimana? Aku sungguh tak ingin mengusirnya. Orang-orang akan menganggapku otoriter."
Tobirama menyisihkan mangkuknya yang sudah kosong, perlahan membuka catatan rapatnya lebih jauh. "Izuna tak pernah sendirian. Ia bersamaku nyaris sepanjang hari. Ada Makoto juga yang mengantarnya dari dan ke kompleks klan."
"Jadi menurutmu aku tak perlu mengusirnya?"
Ia menggeleng. "Kupikir kita butuh peraturan tertulis dengan konsekuensi riil. Gabungan dari peraturan internal setiap klan. Akan kuminta perwakilan klan-klan memberi peraturan masing-masing, sekalian memberi memo pada setiap ketua klan soal ini." Tobirama berhenti untuk menyesap tehnya. "Bagaimana?"
Hashirama menganga lebar. "...Efisien sekali."
"Bukan apa-apa…." Tobirama melirik ke arah meja lain. Ujung telinganya memerah. "Nanti malam akan kukabari prosesnya."
Pembicaraan mereka beralih ke agenda desa. Gedung kerja Hokage masih belum selesai, kecuali bagian kediaman pribadi Hokage dan perpustakaan desa. Hashirama sengaja meminta para tukang dan pekerja untuk memprioritaskan fasilitas umum dan pertokoan. Rumah sakit yang paling menyedot alokasi dana pembangunan desa. Banyak anak-anak maupun lansia yang jatuh sakit ketika pindah berombongan ke Konoha. Untuk mencegah penyakit menular, mereka yang sakit parah diminta pindah ke bangsal yang tersedia. Para penyembuh berbagai klan bekerja keras merawat mereka.
"Sebagian besar stok obat-obatan klan kita diberikan ke rumah sakit. Klan Hyuuga memiliki kenalan di kota terdekat yang biasa memasok obat-obatan keliling. Hanya saja, rute yang dilalui untuk ke Konoha belakangan jadi sarang bandit. Penjaja obat tak berani pergi tanpa membayar pengawalan, dan harga obat naik sebagai akibatnya."
Hashirama teringat pada sekelompok petani dari desa lain yang mengeluhkan soal bandit kepadanya tempo hari. "Ini perasaanku saja, atau belakangan memang banyak bandit berkeliaran?" Sejenak ia terdiam, menatap dasar mangkuk buburnya. "Kita perlu mengorganisir patroli lebih jauh dari desa, mengamankan rute yang dilalui pemasok makanan … Tsubaki-san sempat menyarankan tim empat orang dengan berbagai spesialisasi sebagai tim standar operasi. Tanyakan apa dia juga mau mengorganisir satuan patroli…."
Selama ia berbicara, Tobirama sudah mencoreti catatan rapatnya dengan pensil. "Mayoritas kontrak kita dengan para daimyo adalah untuk menjaga keamanan. Kita belum mulai menerima kontrak misi lagi dari mereka, jadi…." Ia mendadak berhenti. "Aku baru ingat—Kaisar mengumumkan ia akan datang dalam dua hari."
Hashirama menganga. "Dua hari!?" serunya, lalu dengan suara rendah ia menambahkan, "kukira rombongan beliau akan datang dalam dua minggu! Berapa … berapa orang jumlahnya? Berapa lama mereka berencana tinggal?"
"Puluhan. Antara empat hingga lima puluh—"
"Aduh."
"Beliau hanya berencana menginap semalam, untungnya."
Sang Hokage memijat pelipisnya, mengerang sebal. Mereka tak mungkin hanya memberikan akomodasi sederhana kepada sang Kaisar. Dan dengan rombongan sebanyak itu pula! Mau tidur di mana mereka? Tak ada bangunan yang cukup besar untuk menampung semuanya. Rumah-rumah buatannya terlalu kecil. Tak mungkin rasanya meminta beliau tinggal di kediaman klan-klan seperti Hyuuga dan Uchiha. Walau cukup besar, rumah mereka sendiri juga belum selesai dibangun.
Namun, mengapa mendadak kunjungan Kaisar jadi dipercepat?
Berita kedatangan Kaisar menyebar secepat kebakaran hutan.
Mendadak semua orang, tua muda, menghentikan kegiatan masing-masing untuk membantu berbenah desa. Seharian ia berlarian dari ujung ke ujung, menumbuhkan pohon-pohon berbunga di tepi jalan. Bibitnya ia peroleh dari kerabatnya yang ahli botani. Tanah ia gali dengan jemarinya sendiri, lalu memaksa bibit pohonnya tumbuh dalam sekejap dengan cakra senjutsu-nya.
Ia berpapasan dengan Tsubaki di tengah jalan, yang dengan riang memberitahunya bahwa satuan patroli sudah dibentuk. Kelompok-kelompok pertama akan berangkat saat itu juga. "Area yang akan kami awasi ada dalam radius lima kilometer di luar Konoha," sang kepala klan Inuzuka menerangkan sambil berjalan cepat di sisi Hashirama sementara sang Hokage menumbuhkan mengubah lapangan kosong menjadi taman yang rimbun. Tato merah di pipinya terdistorsi ketika ia nyengir. "Sudah termasuk lumbung, sawah dan ladang. Ada tugas lain untuk grup patroli?" tanyanya, suaranya ditinggikan mengalahkan dentang palu dari berbagai arah.
Hashirama menarik napas panjang terengah. Garis-garis merah gelap lenyap dari wajahnya. "Jika memungkinkan … burulah beberapa hewan. Satu-dua ekor rusa seharusnya cukup."
Setelah Tsubaki melesat pergi, Hashirama menyandarkan diri ke batang ek besar yang baru ia tumbuhkan. Perutnya keroncongan keras, hanya diisi segelas air setelah ia sarapan terlambat dengan Tobirama hari itu. Ia beranjak kembali ke arah kediaman Hokage, berniat untuk berganti baju dan makan sesuatu sebelum kembali bekerja.
Di depan kediamannya, ia berhenti dan berbalik. Jalanan temaram membentang ke cakrawala. Obor-obor sudah mulai dinyalakan sebelum berkas-berkas cahaya matahari terakhir sirna dan gelap menyelubungi Konoha seutuhnya. Struktur-struktur kayu, baik buatannya maupun hasil kerja para tukang, semua bermandikan cahaya jingga serupa dengan bayangan ganjil lidah api di permukaan kayunya. Siluet gelap pohon-pohon wisteria dan kousa bergoyang pelan karena angin malam. Hashirama tak sabar ingin melihatnya esok pagi.
Ia ganti menatap gedung kerja Hokage yang belum selesai. Kediaman Hokage hanya berupa apartemen sederhana di lantai dua. Separuhnya masih berupa rangka tanpa lantai. Hashirama harus meniti balok-balok itu untuk mencapai apartemennya. Dinyalakannya lampu minyak yang terletak di sebelah pintu masuk. Cahaya jingga jatuh ke ruangan sederhana berisi sebuah meja, dua kursi, dan sebuah kaligrafi yang ia bawa dari rumah lamanya dahulu. Sebuah pintu lain membuka ke kamar tidur yang sama sederhananya: hanya berisi sebuah lemari dan tempat tidur kayu dengan kasur jerami. Kasurnya juga ia bawa dari rumah lama, sudah melesak setelah bertahun-tahun menyangga bebannya.
Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, Hashirama mendapati buntalan buku diletakkan di atas meja. Jilidnya asal-asalan, seolah diikat asal jadi dengan tali dari pilinan serat. Ia mengenali tulisan tangan Tobirama di sampul depannya: rancangan peraturan desa. Ditaruhnya lampu di meja, lalu mulai membaca. Ada usulan untuk sistem pengadilan, dengan wewenang yang dilimpahkan dari Hokage kepada seorang hakim untuk urusan yang tidak membahayakan keamanan seluruh desa. Pencurian termasuk di sini. Hukuman yang disarankan untuk setiap tindakan kriminal pun bervariasi, mulai dari kurungan, kerja sosial, pencabutan status sebagai shinobi aktif, sampai pengasingan dari desa. Pembunuhan yang disengaja akan dijatuhi hukuman mati, atau pengasingan sedikitnya dua puluh tahun. Ia membaliknya hingga halaman-halaman terakhir. Ada lampiran dengan tulisan tangan yang berbeda. Semuanya adalah peraturan internal setiap klan, minus klan Aburame dan Sarutobi yang memang belum tiba di desa.
Sekilas ia membaca isinya. Isinya tak jauh berbeda jika menyangkut persoalan hukum, kecuali di hukum dan adat pernikahan. Klan-klan Nara, Yamanaka dan Akimichi melarang penerus klan untuk menikah satu sama lain. Klan Hyuuga melarang keluarga intinya menikah dengan orang tanpa byakugan. Wanita-wanita klan Inuzuka boleh memiliki lebih dari satu suami, terutama jika mereka adalah kunoichi yang hebat. Asal usul si suami tidak masalah selama mereka adalah shinobi yang cakap.
Hashirama terkikik membacanya, walau merasa agak aneh. Tsubaki sudah menjanda walau masih muda, dan ia tidak terlihat berniat menikah lagi. Entah apa sebabnya.
Ia hanya sebentar membaca bagian klan Senju karena sudah dihafalnya di luar kepala. Kepala klan boleh memiliki lebih dari satu istri. Ayahnya dulu memiliki tiga istri, tetapi hanya dua yang melahirkan anak-anaknya. Bayi-bayi yang dilahirkan para kunoichi tanpa suami otomatis menjadi shinobi Senju, seperti Touka sepupunya itu. Kunoichi yang menikah diharuskan berhenti bekerja.
Lampiran terakhir adalah peraturan klan Uchiha. Lama ia menatap judulnya, dan bagai didorong insting Hashirama segera menemukan bagian tentang adat pernikahan. Mereka menganut pernikahan endogami, kecuali karena kondisi khusus. Kunoichi Uchiha dari keluarga kepala klan bisa melakukan pernikahan politis di luar klannya. Shinobi Uchiha boleh menikahi lebih dari satu wanita, dan juga diizinkan memiliki istri tak resmi dari mana saja.
Hashirama menutup buku itu keras-keras, mendadak merasa kesal. Ia mengambil lampunya, berniat pergi, ketika ia mendapati buntalan lain diletakkan di bawah rancangan peraturan desa. Perlahan ia meraihnya, dahinya berkerut selama ia membaca.
Buntalan itu adalah enam buah lamaran pernikahan yang ditujukan kepadanya. Dari klan-klan Sarutobi, Inuzuka, Aburame, Hyuuga, Yamanaka, dan Akimichi. Goresan pensil Tobirama pada secarik memo memberitahunya bahwa semuanya sudah ditolak.
Ada kekecewaan terbersit di hatinya.
Setelah bercakap-cakap dengan Hyuuga Mori tempo hari, Hashirama sudah menduga ini akan terjadi. Namun ia juga paham bahwa hal ini wajar. Klannya yang paling berkuasa dan kuat di antara klan lainnya. Tentu semua klan ingin dirinya menjalin pernikahan dengan mereka. Bagaimanapun juga, pernikahan dipandang lebih kuat daripada perjanjian biasa. Anggota klan Senju lainnya sudah banyak yang menikah dengan klan-klan ini.
Tentu saja tak ada yang sekuat dirinya.
Hashirama mendarat lembut di sisi bangunan, lalu buru-buru menekan cakranya. Terdengar suara dua orang yang sedang berdebat. Ia terjepit di antara mengabaikannya untuk langsung kembali bekerja, atau tinggal untuk mencuri dengar. Pilihannya jatuh pada opsi kedua begitu ia mengenali suara Tobirama.
"...Kautahu kau tak boleh sendirian sama sekali."
"Ini cuma gelap, Tobirama, kita ini ninja," suara Izuna menyambar. "Aku hafal jalan pulang."
"Makoto sudah pulang duluan."
"Tentu saja! Bibiku ingin dia pulang sebelum gelap untuk mengurus kakeknya. Kau ini kenapa, sih?"
Tobirama bungkam. Hashirama berjingkat ke ujung dinding untuk mengintip. Adiknya dan Izuna berdiri di depan pintu masuk perpustakaan, sama-sama memunggunginya.
"Ini pasti karena insiden dengan Hisao waktu itu," Izuna menyatakan dingin. "Jadi karena itu kau meminta salinan peraturan klan kami, dan mengusulkan satuan patroli internal."
"Izuna—"
Wanita itu memotongnya, "Bukan cuma dia yang memiliki dendam pada klan lain. Pikirkan hal itu." Ia melipat lengannya, sebal. "Kita semua saling bunuh beberapa tahun lalu. Klanmu membunuh adik-adikku, klanku membunuh adik-adikmu. Kaupikir dendam yang sudah lama dipupuk akan hilang begitu saja saat mereka bergabung dengan Konoha?"
"Ini hanya tindak pencegahan," Tobirama merespons dengan suara yang lebih rendah, "tidak ada yang boleh main hakim sendiri."
"Tak ada masalahnya aku pulang sendiri, 'kan?"
"Peraturannya belum resmi."
"Kau sama menyebalkannya dengan Kakak. Kenapa kalian berdua tak mau percaya pada kemampuanku sendiri?"
Hashirama memutuskan bahwa ia sudah cukup mendengarnya. Ia mengambil jalan memutar, dan singgah sejenak di kediaman klan Senju. Ia masuk dari jalan belakang, langsung menuju dapur untuk mengambil sekepal nasi dan potongan ikan bakar dalam wadah oval mempa. Ia mengisinya penuh-penuh, tahu akan kebutuhan energinya karena ia berniat bekerja sampai larut. Pelayan yang menemuinya menjejalkan tiga buah apel yang dibungkus kain untuknya.
"Anda terlihat agak pucat, Hashirama-sama," ujarnya sebelum sang Hokage berterima kasih dan pamit. Hashirama meragukan kata-kata pelayan yang sudah uzur itu. Ia tak pernah jatuh sakit.
Ada satu lahan besar di deret pertokoan yang masih kosong. Sebuah penginapan direncanakan akan dibangun di situ. Tempat ini akan menjadi akomodasi yang pas untuk sang Kaisar beserta rombongannya.
Hashirama menatap lahan kosong itu, yang diterangi obor di empat sudutnya. Ia membuat segel ular, lalu mulai bekerja.
"...Tobirama, ini masih terlalu pagi."
"Bisa-bisanya kau mengira aku ini adikmu, Hashirama."
Hashirama membuka mata, gelagapan. Sesuatu menggelinding dari pangkuannya—bagian tengah sebuah apel yang penuh bekas gigitan. Orang yang membangunkannya menyepaknya sampai lewat pintu depan yang tak berdaun. Wanita itu menengadah, melihat langit berbintang di atasnya. Bulan sabit sudah meninggi. Bangunan yang ia buat dengan mokuton-nya sudah hampir jadi, hanya kurang atap saja. Ia memijat bahunya. Tidur di atas tanah dengan posisi aneh membuat tulang belikatnya nyeri.
Wajah berbingkai rambut hitam panjang memasuki pandangannya. Madara berlutut di sampingnya, gunbai-nya tergeletak di tanah. Tatapannya terkunci pada wajah Hashirama, dan perlahan ia merasa harus mengalihkan pandangan. Namun, ia tidak melakukannya. Ujung-ujung rambut Madara yang mencuat diterpa sinar bulan dari atap yang bolong, tampaknya butuh dirapikan lagi … dari jarak sedekat ini, Hashirama bisa melihat garis-garis kelelahan di wajahnya … kantung matanya juga lebih tebal dari biasanya.
"Jangan bengong."
Hashirama tersentak. "Nggak, kok," jawabnya buru-buru, kembali memasang senyum profesionalnya. Ia menggosok lengan atasnya, menutupi kegugupan yang mendadak muncul karena malah memikirkan ujung rambut sahabatnya ini. Absennya cakra mokuton yang mengaliri pembuluhnya berjam-jam lalu membuatnya kedinginan dalam udara larut Konoha. Napasnya berembun di udara.
"Sudah lewat tengah malam, tapi kamu masih kerja," ujar Madara lirih. "Perhatikan kesehatanmu juga, Hashi."
Hashirama tercenung. "Tapi cuma aku yang…." Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, perutnya keras berbunyi. Pipinya menghangat. Segera ia meraba dalam temaram, mencari wadah mempa-nya.
"Aku tahu." Madara menjejalkan benda itu ke tangannya, terdengar geli. Aroma ikannya menguar ketika tutupnya dibuka.
Tubuhnya terasa hangat, dan Hashirama beringsut mendekat. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri karena tidak membawa haori-nya saat meninggalkan apartemen. Ia makan tanpa bicara, menawari sahabatnya apel yang diterimanya dalam diam juga. Selama beberapa saat hanya suara kunyahan yang membunuh hening di antara mereka sampai Hashirama angkat bicara.
"Kamu sendiri … kenapa ada di sini selarut ini?"
"Aku ikut patroli." Madara melempar keluar sisa apelnya. "Kelompok pertama baru saja kembali. Kulihat bangunan ini tadinya tidak ada, jadi aku mampir dulu. Rupanya kamu yang tidur-tiduran di sini."
Hashirama membenamkan kepala di antara kedua lututnya. "Apa boleh buat … rumahku sendiri belum selesai dibangun. Jadi Hokage itu ternyata melelahkan, ya…."
"Hashi," Madara terdengar berusaha menahan tawa, "delegasikan saja sebagian tugasmu."
"Sudah, sih." Hashirama mengintip dari balik lengannya. "Tapi anggota dewan desa lainnya sibuk dengan urusan internal maupun program yang sudah kuinstruksikan. Untuk urusan mendadak, aku cuma percaya Tobirama dan kamu." Suaranya melirih di bagian terakhir. Ia menepuk-nepuk debu dari pakaiannya, lalu berdiri tegak. "Mau langsung pulang?"
Madara sejenak melirik atap yang menganga, lalu menggeleng. Hashirama tersenyum lebar, memberinya sebuah balok pendek yang ia buat dengan mokuton. Pria itu mengambil dan mengembuskan napas ke ujungnya, menciptakan obor yang berkobar. Cahayanya menerangi ruangan sementara langit sedikit demi sedikit ditelan oleh atap penginapan yang ditumbuhkan Hashirama. Energi yang ia dapat dari bekalnya tadi serasa terkuras habis begitu ia selesai.
Wanita itu membungkus wadah mempa yang telah kosong dalam kain sementara Madara mematikan obornya. Dalam gelap mereka berjalan bersisian ke pintu keluar. Punggung tangan mereka bersenggolan beberapa kali. Ia mendadak berhenti selangkah dari pintu.
Lidahnya kelu, tetapi ia merasa ada hal-hal yang harus disampaikannya pada Madara. Mengganjal napasnya seperti gumpalan genjutsu di tenggorokan. Hashirama pun tak tahu dari mana ia harus memulai; apakah dari rancangan peraturan desa? Kunjungan Kaisar yang tinggal hitungan hari? Kesulitannya menangani urusan internal klan Senju sembari menjalankan tugas Hokage-nya? Atau pembicaraan adik mereka yang tadi ia curi dengar?
Namun, ia juga ketua klan lain; hal-hal seperti itu tak selalu pantas ia bagi betapapun menggebunya kebutuhan untuk berbagi. Segalanya tak lagi seleluasa dulu, sewaktu mereka masih dua bocah yang bermain lempar batu di pinggir sungai.
Akan tetapi di saat itupun mereka telah belajar menari mengitari rahasia-rahasia mematikan, yang sayangnya tetap saja tercium satu sama lain.
Kelelahan mengaburkan fokusnya, dan ia merindukan kasur tuanya yang tipis di apartemennya yang separuh jadi. Ingin rasanya mengempaskan diri dan tidur sampai esok sudah separuh habis. Ia merasa seperti sebutir jeruk yang akan terinjak Chokichi. Hanya sepersekian detik dari kehancuran—
"Hashirama."
Ia menautkan jemari mereka, murni didorong oleh insting. Ketika Madara membalas genggamannya, Hashirama merengkuhnya. Kepalanya ia sandarkan di bahu; tangannya yang bersarung melingkar di pinggangnya. Ia menghirup napas dalam-dalam.
Wangi cemara hinoki itu mengikutinya ke alam mimpi.
.
.
sode = pelindung bahu
kousa = dogwood
mempa = oval shaped bento box made from japanese cypress
thanks for reading :'D
