Chapter 2 – My Darling Dr. Sehun
.
.
.
.
.
Main Pair
Oh Sehun
Kim Jongin (GS)
Kim Junmyeon aka Suho
Lee Taemin (GS)
.
.
.
.
.
Happy Reading !
.
.
-oOo—
Piip.. Piip.. Piip..
"Uuugghh.." rengek seorang gadis dibalik selimutnya mendengar alarm dari handphonenya. Dengan malas dia mengulurkan tangannya untuk mencari yang entah dimana.
Dengan kesal dia bangkit dari posisi tidurnya, yang kini terduduk di atas tempat tidur dengan masih menutup mata dan rambut berantakan seperti habis diterjang torpedo. Dia mulai membolak balik kan selimut, menengokkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk mencari , yang ternyata terselip dibawah bantal yang dia tiduri.
"Ah.. ketemu, kita lihat jam berapa sekarang…" matanya terbelalak saat melihat jam yang ditunjukkan di . Rasa kantuk itu hilang seketika, dan dia sekali lagi melihat dan mengucek matanya siapa tahu penglihatannya salah karena masih mengantuk, tapi tetap angka di jam tersebut tidak berubah,
"GAWAAAATTTT… Aku kesiangan." Teriaknya.
Ah, maaf aku belum memperkenalkan diri, perkenalkan aku Kim Jongin, umurku 19 tahun, aku seorang mahasiswa di fakultas seni di Universitas yang kuimpikan. Saat ini, aku tinggal sendiri di apartemen dan aku menikmatinya. Hehehe
Tapi aku selalu bermasalah dengan bangun pagi, jadi beginilah kalau aku ada jadwal kuliah pagi pasti terlambat. ^^
.
Setelah menyelesaikan mandi kilatnya dan juga memakai baju yang asal dia ambil, jongin siap berangkat ke kampus dan melewatkan sarapannya karena ini sudah sangat terlambat.
CKLEK
"Aduuuhhh…"
Karena terburu-buru jongin tidak melihat sebuah kardus yang terletak di depan pintu apartemennya, sehingga saat membuka pintu, jongin tersandung dan jatuh.
"Sakiiit.. Siapa yang menaruh barang-barang di teras sich.?" Kesal jongin sambil memegang kakinya, karena kakinya sakit sekali.
CKLEK
Mendengar suara pintu terbuka, jongin mendongakkan kepalanya untuk melihat seorang laki-laki keluar dari pintu disebelah apartemennya. Sepertinya tetangga baru pikir jongin.
"Ah, maaf itu barang-barangku. Aku baru mau mengangkatnya. Kupikir tidak akan mengganggu kalau kuletakkan barang-barangya disitu. Kalau jalan itu lihat ke depan." Ucap laki-laki itu datar.
Rahang jongin jatuh mendengar ucapan datar dan wajah tidak bersalah laki-laki didepannya itu, dalam hati jongin menggerutu "Dasar menyebalkan…"
Dengan kesal jongin mencoba berdiri dan menahan rasa sakit di kakinya, tanpa membalas perkataan laki-laki itu jongin bergegas pergi dan hanya mengucapkan "Aku terburu-buru."
.
Skip time – At Kampus..
Saat ini jongin sedang berjalan menuju ruang kuliah dengan temannya, taemin. Namun, tiba-tiba taemin berhenti berjalan dan melihat kearah jongin.
"Jongin, bukannya lebih baik kamu periksa ke rumah sakit?" Ucap Taemin. Taemin tidak tega melihat jongin berjalan dengan tertatih begitu.
Nyyuttt…
Jongin merasakan sakit lagi di kakinya, tapi dia tetap memaksa, "Tapi aku sudah terlambat kuliah tae."
"Bagaimana kalau ada tulang yang patah..? Kontes melukis sudah dekat jongin." Taemin tetap berusaha membujuk jongin untuk pergi keruma sakit. "Sebaiknya kamu ke rumah sakit. Pergi ke Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Universitas Yonsei saja, Rumah Sakit ini terkenal dengan dokter-dokter keren dan ahli, lho."
Hufh..
Jongin mendengus, temannya ini menyuruhnya ke rumah sakit untuk periksa atau mencari dokter tampan sich.
"Jonginiiee…" panggil taemin, saat melihat jongin hanya diam saja.
"Baiklah.. baiklah.. aku akan kerumah sakit setelah kuliah ini, hari ini aku hanya ada satu mata kuliah tae. Oke." Jongin tersenyum mencoba meyakinkan temannya.
Taemin melihat jongin dan berfikir, keudian tersenyum " emh.. baiklah."
Setelah itu, mereka berdua melanjutkan perjalanannya menuju kelas dengan taemin membantu memegang jongin agar tidak jatuh saat berjalan.
-oOo—
At Rumah Sakit Universitas Yonsei
Setelah pulang kuliah jongin menepati janjinya pada taemin untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Dan disinilah dia sekarang, sedang duduk menunggu hasil rontgennya keluar setelah tadi dilakukan pemeriksaan.
"Kim Jongin"
Mendengar namanya dipanggil, pelan-pelan jongin masuk, kemudian duduk didepan sang dokter. Jongin terus memandang wajah sang dokter. "Benar-benar tampan. Tapi sepertinya aku pernah melihatnya, dimana ya?" batin jongin sambil terus memperhatikan wajah sang dokter. Sampai suara sang dokter memutus lamunan jongin.
"Hasil Rontgennya menunjukkan tidak ada tulang yang patah. Tapi, sedikit retak."
"HAAAHHH?" Tunjuk jongin pada sang dokter.
Jongin bereteriak bukan terkejut karena hasil melainkan teringat dimana dia bertemu wajah sang dokter sebelumnya.
"Tadi pagi kita bertemu di teras, kan." Sungut jongin.
"Oh, yang tadi pagi jatuh,.." jawab sehun datar. "Apa luka ini gara-gara tadi.?" Raut wajah sehun mulai melunak.
"Benar.." jawab jongin cepat dan tegas.
"Maafkan aku. Ini salahku sebagai gantinya aku yang bayar biaya pengobatanmu."
"Sungguh.." jongin terkejut mendengar perkataan sang dokter, dalam hati jongin tersenyum "Aku beruntung."
.
TING TONG..
"Ya sebentar.." teriak jongin sambil berjalan kearah pintu apartemennya.
CKLEK
"Ini handuk untuk kenang-kenangan sebagai tetangga barumu dan surat ini mengenai biaya pengobatanmu. Tolong dibaca dan bubuhi tanda tangan disitu." Sehun langsung menyodorkan handuk dan surat pada jongin tanpa mengucapkan salam saat jongin membuka pintu.
"Tanda tangan ? tunggu sebentar ya.."
"Oke, tolong dibaca juga ya.." kata sehun.
Jongin masuk kedalam rumahnya untuk mencari bolpoin untuk mendatangani surat yang diberikan sehun, sedangkan sehun tetap berdiri di depan pintu rumah jongin.
"Kyaaaaaaaa…"
Mendengar teriakan dari jongin, sehun buru-buru masuk kedalam rumah jongin untuk melihat kondisinya. "Ada apa? Aku akan masuk."
Tepat saat sehun melihat jongin, sehun terdiam melihat keadaan didalam rumah jongin.
"oh, tidak apa-apa. Aku tidak sengaja menginjak barang. Hanya kondisi rumahku berantakan, tapi kakiku tidak apa-apa kok." Jawab jongin dengan senyum terpaksa melihat raut muka sehun saat melihat isi rumahnya.
"Kau hidup di tempat seperti ini." Sehun melihat jongin sambil menunjuk ke isi rumah jongin yang sangat berantakan seperti habis terkena bencana alam gempa bumi yang memporak porandakan isi rumah jongin. Sehun tidak habis pikir bagaimana cara hidup gadis ini.
"Iya, tidak apa-apa kok, seperti aku akan mati dengan tinggal disini." Jawab jongin sinis.
"Ayo bereskan." Sehun berkata dan mulai membersihkan ruangan jongin.
"Eeeehhhhhhhhh.." jongin melebarkan matanya.
"Kamu ini perempuan, tapi tidak bisa masak, ya?" Omel sehun saat melihat bungkus makanan instan di meja.
"Jangan menyimpan pakaian seperti ini." Omel sehun lagi saat merapikan baju jongin yang berserakan dimana-mana.
Jongin melebarkan matanya saat melihat barang yang dipegang sehun, "Jangan lihat pakaian dalamku." Teriak jongin.
Sehun tidak menghiraukan teriakan jongin, dia terus membersihkan barang-barang jongin dan terus saja mengomel tentang barang jongin.
"Gambar laki-laki telanjang." Ucap sehun saat menemukan sebuah lukisan.
"Itu tugas kuliah." Teriak jongin sekali lagi.
Dan begitulah mereka sambil membersihkan rumah sehun terus mengomel dan jongin terus membalas omelan sehun.
.
Skip Time..
"Begini lebih baik." Kata sehun saat melihat ruangan jongin yang sudah bersih dan rapi.
"Waahhh,, sudah lama aku tidak melihat lantai bersih." Jongin tersenyum cerah saat melihat isi rumahnya.
"Sepertinya kakimu baik-baik saja" Sehun melihat kearah kaki jongin.
Jongin terdiam, kemudian melihat kearah sehun sambil tersenyum kaku, "Sebelumnya kakiku benar-benar sakit kok."
"Sudahlah, kalau ada apa-apa telepon saja." Sehun menyerahkan kartu namanya kepada jongin.
Setelah memberi kartu namanya, sehun mulai melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen jongin.
"Ah, dokter."
Sehun berhenti saat jongin memanggilnya.
"Terima Kasih." Pipi jongin bersemu merah.
Sehun melihat jongin sekilas, kemudian berkata, "Anak perempuan jangan membiarkan laki-laki masuk dengan mudah." Setelah itu, sehun benar-benar meninggalkan jongin terdiam ditempatnya.
DEG... DEG… DEG…
Jongin melihat kartu nama yang diberikan oleh sehun.
RS Fakultas Kedokteran Universitas Yonsei
Dokter Bedah - Oh Sehun
No. Hp 090-25x-xxxx
"Jadi namanya dokter Sehun, ya.." kata jongin masih belum beranjak dari tempatnya.
Tapi, tiba-tiba jongin berlari ke dalam apartemen mencari buku sketsanya dan saat menemukannya jongin tersenyum dengan lebar, "Aku bisa membayangkan desain yang bagus." Dan dengan itu jongin mulai membuat desainnya.
-oOo—
Malam berikutnya…
Jongin sedang berbaring di sofa di apartemennya, sampai terdengar panggilan masuk dari .
Dengan malas jongin mengangkatnya, "Ya, ini aku. Aku sedang tiduran, kakiku sedikit retak, tapi tidak apa-apa kok."
"…."
"Ah, Aku lupa lukisannya. Ya mulai besok aku akan datang ke kampus."
"…"
"Oke, Terima kasih. Sampai jumpa." Jongin mengakhiri panggilannya.
Kemudian jongin memegang perutnya, "Aku lapar." Ucapnya dengan lemas.
Skip Time…
Jongin keluar supermarket dengan gembira, sambil memakan roti yang dibelinya dan membawa sekantung tas penuh dengan mie instan.
Jongin terus tersenyum sampai tiba di depan bangunan apartemennya. Tapi tiba-tiba dia ingat perkataan dokter yang menjadi tetangganya itu "Kamu ini perempuan tapi tidak masak, ya..?". Jongin jadi kesal kalau mengingat itu, karena terlalu larut dengan kekesalannya jongin tidak melihat tangga yang berada di depannya. Dan akhirnyaa…
DUUAAGGHH…
"Saaakkkiiittttt…" jongin berjongkok sambil memegangi kakinya.
"Bagaimana ini, sakit sekali..hiks hiks.."
Jongin tiba-tiba ingat pesan yang disampaikan oleh dokter sehun, dengan cepat dia merogoh sakunya dan mengeluarkan dan mencari kontak dengan nama Dr. Sehun.
.
Ditempat lain sehun sedang duduk di sofa apartemennya untuk bersantai sampai dia mendengar panggilan masuk di . Tidak ada nama pemanggil pikir sehun, tapi tetap dijawab pula oleh sehun.
"Ya"
"Ini aku, jongin."
"Ada apa ? ini kan sudah jam 11, apa yang kamu lakukan malam-malam begini?"
"Aku didepan bangunan apartemen. Kakiku yang luka terbentur, sakit sekali tidak bisa digerakkan. Mungkin akan patah kalau terbentur lagi."
"Kakiknya tidak bisa digerakkan? Sakit?" jongin menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan sehun, meskipun sehun tidak bisa melihatya.
"Ah, Tidak apa-apa. Sampai nanti." Jawab sehun datar kemudian memutus panggilan.
Tut! Tut! Tut!
"Apa-apaan orang itu, katanya kalau ada apa-apa telepon saja.." jongin memandang handphonenya kesal. "Dasar pembohong."
"Siapa yang pembohong?" Tanya sebuah suara yang tiba-tiba berada di belakang jongin.
Jongin berbalik, "EH.."
GYUT
"Waaaa…" Jongin terkejut tiba-tiba Sehun mengangkat tubuhnya.
"Ayo, kuantar ke apartemenmu.." Sehun mulai berjalan dan tidak lupa membawa belanjaan jongin.
Sebenarnya, saat mengetahui yang meneleponnya adalah jongin, sehun sudah beranjak dari sofanya dan mulai melangkahkan kakinya ke tempat jongin, maka dari itu saat dia mengakhiri panggilannya dia sudah berada dekat dengan jongin.
"Do…dokter." Panggil jongin.
Deg… Deg… Deg…
"Apa?"
"Barang-barangku…."
"Sudah kubawa. Mie instan semua kan?" jawab sehun.
Jongin tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya karena malu.
.
Apartemen Jongin
"Apa-apaan ini?" Sehun terkejut melihat kondisi apartemen jongin yang sudah berantakan lagi.
"Hehehehe…" jongin hanya tersenyum.
"Waktu bersih-bersih kemarin itu, Cuma mimpi ya?" Tanya sehun kesal.
"Aku kan sibuk." Jongin beralasan.
Hufh..
Sehun menghela nafas melihat tingkah gadis yang ada di gendongannya sekarang ini.
Sehun mendudukkan jongin di sofanya, kemudian memeriksa kaki jongin.
"Tenang saja. Tidak tambah parah kok." Kata sehun setelah selesai memeriksa kaki jongin.
"Syukurlah." Jongin merasa lega.
"Ya sebentar lagi sembuh."
"Oh.." jongin menundukkan kepalanya setelah mendengar perkataan sehun. "Bukankah seharusnya aku senang, aku akan sembuh. Tapi kenapa aku sedih. Aku juga jadi berdebar-debar karena dokter. Perasaan apa ini?" pikir jongin.
"Ayo kita bereskan. Mau kumasakkan apa?" sehun bertanya sambil mengangkat lengan bajunya.
"Sudahlah dokter, ini sudah larut malam." Cegah jongin.
"Aku benci keadaan berantakan seperti ini."
"Dokter, kenapa begitu baik?"
"Sudah kebiasaan dan tanggung jawab." Jawab sehun datar.
"Dokter orangnya jujur ya, keras dan tidak fleksibel." Kata jongin.
"Ya.. banyak yang bilang begitu."
Jongin terus tersenyum memperhatikan sehun yang sedang memasak sambil membuat desain di buku sketsanya, Dokter aneh ya… tapi baik hati…
-oOo—
Beberapa hari kemudian…
At Rumah Sakit Universitas Yonsei
"Semakin bagus." Kata sehun saat melihat kondisi kaki jongin. "Tugasku sebentar lagi selesai."
Jongin menundukkan kepalanya, untuk menutupi wajah sedihnya, "Terima kasih."
Kenapa aku merasa kesepian begini…?
"Dokter.." panggil jongin.
Sehun melihat kearah jongin, "…."
"Dokter boleh beres-beres apartemenku kapan saja."
Sehun terkejut, kemudian tertawa. "Hahahaha… Aku jadi sungkan."
.
Saat jongin baru keluar dari ruangan sehun, jongin dikagetkan dengan dokter lain yang berdiri didepannya.
"Kamu pacarnya dokter sehun ya ?" Ucap dokter dengan nametag Drg. Suho itu.
"EEh.. Bukan anda salah." Jawab jongin cepat sambil melambaikan tangannya.
"Owh, begitu ya. Jarang sekali mendengar dia tertawa."
"… dokter sehun tidak punya pacar, ya ?" Tanya jongin pada dokter didepannya.
"Ingin tahu ya?" goda Suho pada jongin.
"Ya.."
Mendengar seberapa cepat jongin menjawab, membuat suho tertawa. " Lugu sekali. Baiklah karena kamu special aku beri tahu. Dokter sehun itu, orangnya serius. Aku tidak pernah mendengar gossip tentang dirinya. Dia sangat disiplin juga menyukai kebersihan. Karena itu, sepertinya tipe ideal wanitanya sangat tinggi."
"Huh.. tidak ada hubungannya dengan tipe ideal.. Aku adalah aku.." pikir jongin.
.
At Kampus
Ruang Seni Lukis
"Wah..! Ada apa dengamu jongin? Pilihan warnamu berbeda dari biasanya. Begitu dalam dan lembut. Sangat Cantik."
Jongin tersenyum menerima pujian dari dosennya, sekarang jongin tengah menyelesaikan lukisan yang akan dia kirim untuk kontes.
"Terima kasih."
"Sama-sama jongin, tetap semangat.."
"Hu'umh, Aku akan berjuang." Teriak jongin penuh semangat.
"Jongin, pelankan suaramu." Ucap sang dosen.
Hehehe…
--oOo—
BRUK
"Ada apa tengah malam begini..?" jongin terbangun akibat suara benda atau seseorang terjatuh di depan apartemennya.
Karena penasaran akhirnya jongin bangkit dari tidurnya dan melihat keluar.
CKLEK
"Dokter, apa yang terjadi? Dokter baik-baik saja?" Jongin terkejut melihat sehun yang terduduk di depan .
"Tidak apa-apa Cuma terjatuh." Jawab sehun lemah.
"Bisa berdiri? Ayo pegang pundakku." Ucap jongin sambil berjongkok di depan sehun untuk membantunya.
Saat membantu sehun berdiri jongin dapat mencium bau sake dari mulut sehun.
"Sudahlah jangan hiraukan aku."
Tapi jongin tidak mendengarkan, dan tetap membawa sehun ke dalam apartemennya dan mendudukkan sehun di .
"Dokter mau minum apa ?"
Tidak ada jawaban dari sehun.
Jongin melihat kearah sehun, dan membuat jongin semakin khawatir melihat sehun duduk dibawah sofa dengan kedua kaki ditarik kedadanya dan kepala yang disembunyikan di antara kakinya.
"Dokter tidak berkata apa-apa. Padahal aku sudah membawanya masuk, biasanya dia akan langsung mengomel melihat keadaan apartemenku. Ada apa dengan dokter ?" pikir jongin.
Kemudian jongin mencoba bertanya lagi pada sehun, "Dokter menangis ya ?"
Pfft..
Sehun tersenyum kemudian mendongakkan kepalanya, "Kamu perempuan yang apa adanya ya."
Jongin terdiam dan tersipu… DEG DEG DEG
"Tidak bisa tertolong, tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Sebelumnya ada dokter yang berkata seperti itu padaku." Sehun menarik nafas kemudian melanjutkan ceritanya, "Kalau setiap ada pasien yang meninggal kamu terpuruk seperti itu, kamu tidak akan bisa bekerja. Kalau kau terlalu baik begitu, tidak cocok jadi dokter. Dokter itu pernah berkata seperti padaku, tapi aku…"
Dokter..
BUGH
"Dokter bicara apa ?" jongin memukul sehun, sehingga sehun menghentikan ceritanya.
"Aduuhhh." Keluh sehun sambil mengusap punggungnya.
"Bukannya bagus bersikap seperti itu? Kalau dokter tidak berbuat baik apa lagi yang bisa dokter lakukan? Kalau terpuruk, terpuruk saja. Kalau sudah bisa semangat lagi, kan ?" jongin tersenyum kearah sehun.
Sehun tertegun mendengar apa yang diucapkan jongin, tapi kemudian dia tersenyum merasa sedikit lega dengan uacapan jongin, "Kamu baik ya, aku jadi lega."
Jongin tertawa kemudian berjalan kearah lemari pendingin untuk mengambil bir, dan kembali berjalan ke sehun.
"Dokter ayo minum bir." Jongin berkata sambil mengangkat bir keatas dengan semangat.
"Tidak boleh, kamu masih belum cukup umur."
"Ayolaahhh…" Bujuk jongin dengan menggunakan .
"Baiklah, lagipula sekarang aku bukan sehun yang biasanya." Ucap sehun sambil mengambil bir dari tangan jongin.
"Dokter mabuk, ya.." Tanya jongin yang hanya dijawab tawa oleh sehun.
Sehun jatuh tertidur setelah menghabiskan beberapa bir yang diberikan oleh jongin, sedangkan jongin masih terjaga karena dia hanya minum sedikit.
Jongin sedang menatap wajah damai sehun saat tidur, kemudian jongin semakin mendekatkan wajahnya ke wajah sehun, semakin dekat jongin menutup matanya dan membiarkan bibirnya menyentuh bibir milik sehun.
CUP
Aku suka dokter…
.
"Ngghh.." Sehun menggeliat dari tidurnya. "Sekarang jam berapa.?" Saat sehun mencari untuk melihat jam, dia terkejut melihat jongin tidur di sebelahnya. HAH..
Sehun langsung bangkit dari posisi tidurnya dan melihat kearah jongin yang mulai bangun akibat guncangan yang dia buat saat bangun.
"Selamat pagi dokter, tenang saja tidak ada apa-apa kok." Ucap jongin dengan suara bangun tidurnya.
Fiuuhhhh…
Sehun kemudian berdiri dan mengambil barang-barangnya, "Ini sebuah kesalahan, maaf merepotkanmu. Lupakan saja kejadian semalam."
"Tidak mau. Aku suka dokter sehun."
Sehun melebarkan matanya, tapi dengan cepat berubah menjadi datar lagi, "Kamu ini… berbicara tanpa memikirkan perasaan orang lain. Aku tidak bisa, aku tidak suka dengan perempuan yang tinggal di tempat seperti ini." Jelas sehun.
Jongin tetap tersenyum meskipun dia ditolak oleh sehun, "Aku tahu, tapi aku suka dokter.."
Sehun tidak menjawab jongin dan langsung berjalan keluar apartemen jongin.
BLAAAMMMM..
Setelah kepergian sehun, jongin hanya terdiam dengan ekspresi kosong. Sampai sebuah panggilan dari membangunkan jongin dari lamunannya.
"Ya, ini aku.. Eh." Jongin terkejut.
"…"
"Eeehh, Aku menang, benarkah..?"
"…"
"yeeaayyy, oke aku akan bersiap."
Jongin bangkit dari duduknya, dengan perasaan senang sepertinya jongin lupa dengan kejadian penolakan cintanya sebelumnya. Ya berita kemenangannya di kontes lukis membuat jongin sangat senang, usahanya tidak sia-sia.
.
Jongin baru saja pulang dari perayaan kemenangannya dengan teman-temannya, Suasana hati jongin saat ini sedang baik. Jongin berjalan masuk ke dalam lift menuju ke lantai atas dimana berada dengan buket bunga pemberian teman-temannya berada dipelukannya.
Namun, saat pintu lift akan tertutup jongin melihat dokter sehun berjalan kearahnya, sepertinya dia baru pulang kerja. Dengan itu, jongin menekan tombol untuk membuka pintu lift lagi dan membiarkan dokter masuk.
Saat pintu lift tertutup, keduanya hanya terdiam tanpa ada yang berbicara.
Sehun mencoba memecahkan keheningan dengan bertanya, "Bunga itu..?"
"Ah, aku menang kontes melukis. Ini dari teman-temanku, mereka juga membuat pesta perayaan untukku."
"Oh baguslah, selamat ya."
"Lalu… sudah diputuskan aku akan dikirim ke paris untuk pertukaran pelajar. Bagaimana menurut dokter ?" jongin semakin mempererat pelukannya pada bunga dipelukannya menunggu jawaban sehun.
"Itu bagus kan? Kamu masih muda. Bisa ke luar negeri itu pengalaman bagus. Jangan sia-siakan kesempatan itu."
"Syukurlah. Belajar di luar negeri memang impianku. Aku juga sudah belajar bahasa perancis. Tidak diangka ya.." jongin mencoba tersenyum tapi terlihat sekali kalau dia memaksakan senyumnya.
"Ya, tidak disangka, tapi kamu sudah benar-benar berusaha untuk mendapatkan apa yang kamu sukai."
GREEEKKK
Pintu lift terbuka, dan sehun sudah melangkahkan kakinya untuk keluar namun tidak dengan jongin, dia tetap diam di tempat.
"Ada apa? Tidak mau keluar?"
Sehun yang tidak mendapat jawaban berbalik dan terkejut melihat jongin menangis didalam lift.
"Dokter tidak bisa sedih sedikit ya? Bodoh.."
Dan dengan itu pintu lift tertutup lagi, meninggalkan sehun terdiam didepan lift dan jongin yang menangis keras didalam lift.
Aku tahu dokter tidak punya perasaan apa-apa padaku…
Pasti dokter akan cepat melupakanku…
Dia tidak akan ingat lagi tentang diriku…
-oOo—
Saat ini sehun sedang berdiri di depan mading yang ada di lorong rumah sakit. Sehun sedang melihat pengumuman pemenang kontes lukis yang diikuti oleh jongin, yang entah bagaimana bisa ada di madding rumah sakitnya. Dan benar nama jongin tertulis disana sebagai pemenang.
"Paris ya.." ucap sehun pelan.
"Ada apa.?" Sapa sebuah suara dari belakang sehun.
"Owh, Suho hyung, tidak apa-apa."
Suho memicingkan matanya melihat apa yang daritadi dilihat sehun, "Sepertinya aku kenal nama ini.." tunjuk suho pada nama Kim Jongin.
"Suho hyung! Dia itu hanya pasienku. Jangan berpikir yang bukan-bukan."
"Aku tidak bilang apa-apa." Jawab suho dengan muka polos. "Anak yang itu, kan ? yang rambutnya sepanjang bahu. Dia yang sudah bikin dokter sehun tertawa." Lanjut suho sambil tertawa setelah berhasil menggoda sehun.
"Aku tidak suka anak itu, selalu saja bikin kesalahan. Melihat itu membuat langkahku hancur. Menghadapi kepolosannya aku tidak suka."
"Karena itu kau melarikan diri.." Ucap suho tenang.
"Eh…" Sehun terkejut mendengar ucapan suho.
Suho menepuk pundak sehun, "Pikirkan lagi.." Kemudian meninggalkan sehun dan membiarkan sehun memikirkan ucapannya.
.
Pameran Lukisan Pemenang Kontes XXX
"Eh, jongin. Ada orang yang daritadi melihat lukisanmu terus." Bisik taemin pada jongin sambil menunjuk orang yang di maksud.
Jongin menolehkan kepalanya kearah orang yang ditunjuk oleh taemin, "eh.."
Setelah itu, jongin meninggalkan taemin dan menhampiri orang tersebut.
"Aku terkejut. Dokter tertarik dengan lukisan ?" jongin bertanya pada sehun. Ternyata orang yang daritadi melihat lukisan jongin adalah dokter Oh sehun.
"Tidak.."
"Sudah jelas.." batin jongin sambil menghela nafas.
"Aku tertarik dengan lukisanmu.."
"Eh,, kenapa ?" jongin melebarkan matanya, terkejut dengan jawaban sehun.
"Aku tidak tahu." Jawab sehun datar.
"HUH, sudah kuduga."
"Tapi, kurasa lukisan ini mirip denganmu. Lembut dan tulus." Jawab sehun jujur saat melihat lukisan jongin. Mungkin lukisan jongin terlihat sederhana hanya berupa lukisan bunga tapi yang membuat tampak indah adalah warna yang ditempatkan jongin pada lukisan itu.
Ada jeda sebelum sehun melanjutkan ucapannya, "Kalau kau tidak ada, aku akan kesepian."
Jongin terdiam mencerna ucapan sehun, jongin melebarkan matanya dan melihat kearah sehun, "Maksud dokter..? Dokter suka padaku.?" Jongin berteriak sambil menunjuk dirinya sendiri.
"itu…."
"Maaf hanya bercanda.." potong jongin sebelum sehun bisa menjawab pertanyaannya.
"Aku tidak bercanda, karena memang seperti itu.."
"Eh.." sekali lagi jongin terkejut dan membuat pipi jongin merona merah.
"Aku takut.. dirimu yang apa adanya masuk kedalam kehidupanku, pelan-pelan mengacaukannya. Tapi, aku akan menjadi pria licik kalau aku melarikan diri."
Jongin tersenyum sangat manis mendengar peengakuan Sehun, tapi tetap jongin tidak bisa merubah keputusannya, "Dokter aku akan pergi.."
"Oh, begitu ya. Aku mengerti.." jawab sehun lirih.
GREP
Jongin memeluk sehun dari belakang kemudian menangis, "Aku pasti pulang. Maka dari itu, Dokter harus menungguku. Dokter nanti pasti kaget. Aku akan menjadi wanita dewasa."
Kemudian sehun mambalik badannya sehingga sekarang berhadapan dengan jongin. Tangan sehun menangkup pipi jongin dan menghapus airmata dipipi jongin.
"hehehe itu harapanku."
Dan setelah itu, Sehun memeluk jongin dan memberikan ciuman diatas kepala jongin.
-oOo—
5 Tahun Kemudian…
Jongin sedang melukis dirumahnya, dari tempatnya dia bisa melihat langsung kedapur, dimana suaminya sedang memasak. Ya, Jongin sudah menikah… Siapa suaminya, tentu saja Dokter Oh Sehun.
Bagaimana mereka bisa menikah, itu semua akibat serangan dari jongin yang mengatakan pada sehun, "Tinggal bersama sebelum menikah itu tidak mungkin."
Dan karena itu, agar bisa hidup bersama, sehun akhirnya melamar jongin dan menikahinya.
Jongin tertawa saat mengingat kejadian itu, itu diluar dugaan jongin bahwa setelah mengucapkan kalimat itu, sehun benar-benar langsung menikahinya.
Jongin melihat kearah sehun lagi yang masih berkutat di dapur, "Dokter aku lapar"
"Iya ini baru selesai. Ayo makan."
Jongin beranjak dari tempatnya dan berjalan ke meja makan, dimana sehun baru selesai meletakkan makanan disana.
"Setelah ini aku ada kerja shift malam. Makan malam sudah ada di kulkas, tinggal dihangatkan saja." Ucap sehun sambil mengambil tas dan jas kerjanya.
Jongin yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya.
Sehun yang melihat tingkah jongin hanya tersenyum, bagaimana menggemaskan istrinya. Kemudian, sehun berjalan kearah jongin mengusap rambutnya dan mencium pipi jongin.
"Aku berangkat dulu, ingat pesanku sayang. aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu dokter oh sehun."
Dokter Sehun masih seperti biasa jujur dan disiplin. Dokter yang selalu mengutamakan kepercayaan pasien dan perawatnya dan juga AKU. ^^
.
.
.
END
.
.
.
An : Oke Chapter 2 disini,, sebelumnya aku minta maaf kalau judulnya aku ubah, tidak sama dengan yang aku tulis di prolog kemarin. Aku juga bingung mau pakai julukan apa buat sehun dan jadinya sehun tidak ada julukannya, maaf ya. Dan juga maaf kalau jongin tidak jadi penari malah jadi pelukis…hehehe
Dan terima kasih buat yang udah review dan baca cerita ini.. ^^
.
.
.
.
Review and Comment ?
