BALESAN REVIEW..

Keei_luen: Jadi gak kecepetan ya? yokatta.. hahah awalnya aku malah sempet mikir mau jadiin Happy naga, tapi karena terlalu aneh jadi terpaksa jadi kuda aja :v

guest: Gomen kalo moment NaLu-nya kurang *bow* author juga mempertimbangkan fic ini yang punya dua genre. Tapi selanjutnya author bakal berusaha banyakain moment NaLu-nya lagi. Yosh, silahkan dibaca ^^

Dragneel77: Kali ini updatenya cepet gak? :v

Ayuka OnyxKoyuki: Makasih dukungannya Ayuka-san. selamat membaca ya! Semoga suka sama chapter kali ini :D

YOSH MINNA!

HAPPY READING

.

.

.

.

Chapter 3-A: Wars Begin


Pagi yang indah itu tiba-tiba saja berubah menjadi begitu menegangkan saat mendadak Igneel mengumpulkan semua orang dalam ruang pertemuan.

Para bangsawan klan Dragneel dan juga para pemimpin pasukan tempur kini duduk berhadapan didepan sebuah meja panjang diruangan itu.

Tak lupa, tiga orang pemuda berbakat yang kini juga berada disana. Natsu, Gray, dan Erza.

Mereka semua terdiam, dengan jantung berdebar-debar menunggu apa yang akan dikatakan Igneel dalam pertemuan kali ini.

"Lupakan tentang salamnya. Ini keadaan genting!"

Kalimat pembuka dari Igneel membuat orang-orang itu saling bertatapan dan berbisik satu sama lain. Keadaan macam apa lagi ini?

"Pagi ini, elang komunikasi tercepat yang kita miliki, datang membawa surat dari mata-mata kita, Gildarts."

Semua orang menyimak dengan baik. Jika seorang mata-mata yang terus berkelana dan tak pernah kembali ke klan mengirimkan sebuah surat, maka ada dua maksud dari hal tersebut. Pertama, dia menemukan celah untuk melumpuhkan musuh. Dan kedua, dia memberi kabar bahwa musuh akan segera menyerang.

"Dalam waktu satu minggu. Redfox akan menginvasi Magnolia dan menyerang kita semua. Kekuatan mereka, diperkirakan lebih dari tiga sampai empat batalion pasukan."

Mereka yang mendengarnya saat ini merasa seperti dihantam dengan batu besar tepat dikepala mereka. Seketika keadaan bertambah tegang. Dalam waktu satu minggu, peperangan akan kembali pecah dengan lebih dari empat batalion pasukan menginvasi mereka secara langsung. Bagaimana jika mereka kalah?

"Tidak ada yang perlu ditakutkan! Sejauh ini Dragneel telah memenangkan begitu banyak peperangan. Kita harus yakin kita akan menang."

Laxus, prajurit terkuat di klan Dragneel itu angkat bicara saat melihat ekspresi khawatir dari orang-orang yang ada disana. Dia tak akan membiarkan seorang pun ketakutan dan menyerah begitu saja.

"Kau salah, Laxus."

Kata Natsu membuat semua orang kini menatapnya.

"Kita tidak bisa berperang hanya dengan percaya bahwa kita akan menang ataupun melarikan diri karena yakin kita akan kalah." Sambungnya.

"Yang harus kita lakukan adalah, mengerahkan seluruh kekuatan kita dan menyerang musuh dengan sekuat tenaga. Sekuat apapun mereka, kita harus tetap bangkit dan melawan balik." Tambah Gray melanjutkan kalimat Natsu.

Mereka semua mengangguk setuju.

"Mereka benar. Ini adalah kesempatan besar kita. Jika kita berhasil memenangkan peperangan kali ini. Maka Redfox dan seluruh pasukan tempurnya akan menjadi milik kita." Tambah Erza.

Igneel tersenyum bersamaan dengan semua orang yang kini terkagum melihat kejelian otak ketiga pemuda itu. Suatu saat, mereka pasti akan menjadi orang-orang yang hebat. Mereka adalah aset berharga klan Dragneel.

"Aku setuju dengan mereka. Jika kita dapat membentuk aliansi. Maka klan Cheney, Eucliffe, bahkan Heartfilia pun bukanlah tandingan kita. Dan berdasarkan perhitunganku, ada 78% kemungkinan bahwa mereka akan langsung menyerang kedalam benteng ini dari arah timur."

Satu lagi pemuda berbakat yang kini menyuarakan pendapatnya. Jellal, teman dekat Erza ini adalah seorang pemimpin batalion ketiga klan Dragneel diusianya yang masih 20 tahun. Ia pernah menaklukkan sebuah klan kecil di bagian barat kota Bosco hanya dengan membawa 200 orang dari pasukannya.

Igneel kembali tersenyum, dalam keadaan genting ini pemuda-pemuda itu benar-benar sukses membuatnya tersenyum.

"Sepertinya aku bisa pensiun sekarang." Guraunya.

Namun detik berikutnya wajah Igneel kembali serius.

"Benar. Selain dari arah timur, Redfox hanya bisa menuju kesini melalui perairan. Aku yakin mereka akan memilih arah timur untuk menyerang kita dari daratan. Karena itu aku sendiri yang akan berada untuk menjaga gerbang timur." Kata Igneel kemudian.

"Baiklah, sebelum pertemuan ini dibubarkan, aku perintahkan kalian untuk mempersiapkan semuanya mulai saat ini. Laxus, Natsu, Gray dan Erza. Kalian berempat akan memimpin pasukan secara terpisah untuk menjaga perbatasan dari empat arah di garis depan."

"Divisi pertama Laxus menjaga gerbang utama di arah barat, Divisi kedua Gray di arah utara, divisi tiga Erza di arah selatan dan divisi empat Natsu di arah timur. Tugas kalian adalah menghalau musuh sebisa mungkin agar tidak memasuki benteng. Aku akan ada bersama di barisan ini."

"Jellal, dan pemimpin batalion pertama. Tugas kalian adalah mendukung mereka berempat digaris tengah."

"Porlyusycha. Kerahkan seluruh tenaga medis, untuk mengobati yang terluka digaris belakang."

"Batalion kedua dan keempat. Aku minta kalian menjaga didalam benteng."

"Dan sisanya.. tugas kalian adalah menyiapkan persenjataan termasuk merakit bahan peledak dan membuat jebakan disekitar benteng. Aku juga ingin kalian menjadi regu pengintai dan membuat tempat persembunyian di setiap perbatasan."

"Terakhir, Aku ingin kalian semua memulainya dengan memberitahukan semua penduduk biasa untuk mengungsi di wilayah sekutu terdekat sampai perang selesai. Kita akan mengadakan pertemuan kembali dalam dua hari. Gunakan otak kalian untuk menyusun strategi sebaik mungkin. Berpencar!"

Perintah mutlak dari Igneel itu diterima. Semuanya membubarkan diri dan melaksanakan tugas masing-masing.

Namun Natsu tak beranjak dari tempatnya. Masih menatap Igneel dengan banyak pertanyaan dikepalanya.

"Ada apa?" Igneel yang menyadari hal itu langsung menanyakannya.

"Apa Wendy juga akan ikut berperang?" tanya Natsu khawatir.

"Tentu saja tidak, bodoh. Dia masih terlalu muda. Jika dia mati di medan perang maka klan ini tidak akan memiliki generasi penerus."

Jawaban dari Igneel itu membuatnya lega. Tapi masih ada hal lain yang ia takutkan.

"Apa aku benar-benar bertarung sebagai pemimpin di garis depan? Bagaimana jika aku malah mengacaukan semuanya?"

Natsu mengepalkan tangannya. Jujur saja ini bukanlah perang pertamanya. Hanya saja, peperangan yang sudah ia lalui selama ini hanyalah perang biasa dimana Dragneel menginvasi klan-klan kecil di Fiore. Seumur hidupnya, ia belum pernah melihat Dragneel diserang seperti ini. Itu karena Dragneel adalah klan yang paling ditakuti di seluruh Fiore. Namun akhir-akhir ini, klan-klan besar seperti Redfox dan Heartfilia sepertinya sudah mulai lebih berkembang dan memberanikan diri mereka untuk menyerang Dragneel.

"Karena itulah aku ada bersamamu untuk mengawasimu. Aku yakin kau bisa melakukannya."

Natsu terdiam. Kata-kata seperti itu tidak bisa menjamin semuanya akan berjalan sesuai rencana. Yah, meskipun dengan bersama Igneel setidaknya membuatnya sedikit lebih tenang.

"Dalam perang ini, alangkah baiknya jika kau percaya setiap pasukan bekerja tanpa halangan."

"Ya.."

"Natsu."

Natsu menoleh, menatap Igneel yang saat ini menatapnya dengan begitu serius.

"Kau adalah putra Igneel. Tunjukkan bagaimana darah yang mengalir dalam tubuhmu itu adalah darah Dragneel. Aku yakin ibumu akan senang jika kau bisa menjalankan peranmu itu dengan baik."

Ujar Igneel, seraya melangkahkan kakinya keluar meninggalkan Natsu disana.

"Aku yakin Gray dan Erza juga bisa melakukannya. Aku percaya pada mereka, seperti aku percaya pada putraku."

Sekilas, Natsu dapat melihat senyuman Igneel sesaat sebelum dia menutup pintu.

Tak lama setelahnya Natsu ikut tersenyum. Jika dalam peperangan ini mereka dapat mengalahkan Redfox, maka Dragneel dan Redfox akan membentuk persekutuan. Seperti yang Jellal katakan, dengan begitu Heartfilia dan klan lainnya pun bukanlah tandingan mereka.

Dragneel, Heartfilia, Redfox, Eucliffe, dan Cheney. Mereka adalah lima klan terbesar yang paling kuat dan berpengaruh di seluruh Fiore. Sejauh ini telah ada klan kecil di Fiore yang menjadi sekutu Dragneel. Jika Dragneel berhasil menaklukkan empat klan besar lainnya maka klan-klan kecil pun tidak akan bisa melawan. Mereka akan menghilangkan semua kebencian dan membentuk perdamaian dengan menjadikan mereka semua sebagai sekutu. Dengan itulah, mungkin mereka bisa membentuk sebuah kerajaan dimana semua klan bersatu dan tidak ada lagi permusuhan.

Hanya saja, karena pemimpin klan Heartfilia dan Eucliffe adalah saudara jauh, sejak 5 tahun yang lalu mereka telah membentuk sebuah persekutuan yang dinamakan aliansi "Eufilia." Itulah mengapa Dragneel perlu berpikir dua kali sebelum menyerang aliansi tersebut.

Karena itu, pada invasi Redfox kali ini Dragneel akan mengerahkan seluruh pasukan tempur dan berjuang sekuat tenaga untuk mengalahkan mereka. Jika Redfox dikalahkan, mereka bisa membentuk aliansi untuk menyerang Cheney dan membentuk aliansi yang lebih kuat untuk menjatuhkan Eufilia.

Begitulah rencana mereka.

Lebih dari itu, meskipun hampir mustahil Natsu benar-benar berharap bahwa klan-klan itu mau untuk berdamai tanpa jalan kekerasan. Sebanyak apapun orang yang telah terbunuh oleh pedangnya hingga saat ini, ia tetap tidak ingin seorangpun menjadi korban. Terlebih, bagaimana jika Lucy berasal dari klan Redfox dan ikut andil dalam penyerangan kali ini? Apakah mereka benar-benar akan bertarung satu sama lain?

Tidak. Sebaiknya ia tidak memikirkan itu dulu. Yang harus ia lakukan sekarang adalah tetap fokus dan menjalankan misi pertama untuk mengevakuasi semua penduduk untuk menuju wilayah sekutu. Saat ini, prioritas utamanya adalah keselamatan Wendy.

Natsu pun beranjak dari tempatnya. Keluar dari ruang pertemuan untuk melaksanakan tugas pertamanya sebelum peperangan besar dimulai.

.

.

.

.

Sementara itu, di bagian utama kota Bosco, tepatnya wilayah kekuasaan Heartfilia, mereka juga sedang mengadakan pertemuan.

"Mata-mata kita mendapatkan kabar itu pagi ini." kata Jude mengakhiri kalimatnya.

"Syukurlah bukan Heartfilia yang menjadi sasaran mereka."

Lucy tercengang mendengar percakapan para petinggi dihadapannya.

Dragneel akan diserang? Itu berarti, Natsu sedang dalam masalah.. bagaimana jika dia gugur dalam perang ini? Tidak, Lucy tidak ingin itu terjadi.

"Jude-sama. Bukankah ini kesempatan yang bagus untuk ikut menyerang dan membuat Dragneel kewalahan?" kata Darton, salah satu bawahan Jude yang berperan penting dalam hal pertahanan.

"Jangan bercanda Darton. Kau bermaksud melakukan peperangan tiga arah? Itu juga akan mempersulit kita sendiri." Balas Arcadios, komandan pasukan elit Heartfilia.

Mereka semua kini sama-sama bingung. Entah keadaan ini akan menguntungkan atau tidak, yang jelas saat ini mereka juga sedang dalam bahaya.

"Lucy, bagaimana pendapatmu?" tanya Jude pada putrinya itu, sebab dari tadi Lucy sama sekali belum mengeluarkan suaranya. Dia sebagai putri Heartfilia seharusnya juga ikut terlibat dalam hal seperti ini.

"Menurutku, untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri dan memperhitungkan segala kemungkinan. Karena, entah Dragneel atau Redfox yang akan menang. Mereka pasti akan menyerang kita juga. Jika itu terjadi disaat kita belum menyiapkan strategi, maka klan ini akan hancur."

Semuanya terdiam memikirkan perkataan Lucy.

Lucy menunduk. Bagaimana jika Dragneel yang akan menang dan kemudian menyerang Heartfilia? Bagaimana jika dirinya diharuskan untuk berhadapan dengan Natsu di medan perang. Dan ia sangat yakin, Natsu pasti akan langsung membunuhnya saat itu juga. Natsu tidak akan memaafkan dirinya yang berasal dari klan yang sudah membunuh ibunya.

"Sepertinya, pendapat Lucy-sama adalah yang paling tepat. Menyerang mereka terlalu beresiko. Sekutu juga belum tentu akan membantu kita disaat seperti ini. Tanpa bantuan mereka kita bisa kalah." Kata Capricorn, salah satu pengawal Lucy yang paling setia menyetujui perkataan tuannya itu.

Yang lain hanya berbisik tak jelas, masih mempertimbangkan apakah pendapat Lucy patut mereka iyakan atau tidak. namun pada akhirnya mereka tak punya pilihan, mereka semua pun menyetujuinya.

Jude mengangguk. Setelah konfirmasi dari jude itu, mereka pun diberi perintah untuk menjalankan tugas mempersiapkan segala sesutu mulai dari persenjataan hingga strategi jika tiba-tiba saja mereka menyerang.

Namun Lucy, ia sama sekali tidak memperhatikan apa yang mereka katakan dan juga yang ada dihadapanya. Ia terus saja menunduk, sibuk memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi antara ia dan Natsu jika mereka bertemu di medan perang.

Tanpa ia sadari semua orang yang ada disana telah keluar meninggalkan ruangan tersebut. Ia mengangkat kepalanya, sedikit terkejut karena Jude tidak menyuruhnya melakukan apapun.

"Kau hanya perlu mempersiapkan dirimu sendiri, Lucy. Aku sangat bangga padamu yang memiliki pemikiran seperti ini. Dengan ini kita dapat lebih mempertahankan wilayah, lalu menyiapkan segalanya untuk menyerang dan mengambil alih wilayah dan kekuasaan mereka. Selangkah demi selangkah, Heartfilia pun akan menguasai seluruh Fiore."

Setelah kalimatnya itu Jude meninggalkan ruangan.

Kekuasaan? Itukah yang mereka cari?

Mereka semua benar-benar busuk! Melakukan apa saja hanya demi kekuasaan dan kekayaan. Bukan itu yang Lucy inginkan..

Ia menginginkan perdamaian, sama seperti Natsu. Tapi ada apa dengan orang-orang ini? Mereka bahagia hanya dengan kekuasaan dan harta. Mereka sama sekali tidak memikirkan orang lain. Tidakkah mereka memikirkan nasib klan kecil yang sudah banyak mereka hancurkan itu walau hanya sedikit? Setidaknya berpikirlah bagaimana jika mereka yang ada di posisi orang-orang itu.

Lucy lelah dengan semua ini.

Ia pun beranjak dari duduknya, membuka pintu ruangan kemudian mengamati sekelilingnya dengan hati-hati.

Bagus, tak ada satupun orang yang berada disana. Ini kesempatan yang bagus baginya untuk pergi keluar klan. Karena jika salah satu dari 10 pengawal setia Lucy berada disana maka mereka pasti akan mengikuti Lucy kemanapun ia pergi.

Lucy menutup kepalanya dengan tudung jubahnya. Perlahan keluar dari ruangan itu, menyatu dengan penduduk lainnya agar tidak mudah dikenali.

Kini sampailah ia didepan gerbang utama. Hanya ada dua orang penjaga disana. Sepertinya Informasi penyerangan yang akan dilakukan Redfox itu benar-benar membuat semua orang sangat sibuk sekarang. Dengan cepat ia berlari keluar gerbang.

"Lucy-sama, apa anda akan pergi ke hutan lagi? Itu sangat berbahaya, sebaiknya anda tidak kesana untuk sementara ini. Bukankah anda sendiri sudah tau kabar penyerangan Redfox itu?"

Penjaga itu menghentikan langkah Lucy. Lucy pun diam ditempat, tak ia sangka penjaga itu mengenalinya. Namun sebuah ide yang benar-benar bagus tiba-tiba saja muncul dikepalanya.

"Aku diberi tugas untuk mencari tanaman obat dihutan. Itu juga sangat dibutuhkan dalam strategi kita. Jangan khawatir, aku akan segera kembali."

Tanpa memberikan kesempatan pada kedua penjaga itu untuk bicara, Lucy segera berlari meninggalkan keduanya, memasuki hutan yang sudah menjadi tempat favoritnya itu.

Tidak masalah, Natsu sudah menghajar beruang yang mengejar mereka waktu itu. Lucy yakin beruang itu sudah kembali ke tempat aslinya dan tidak akan berani untuk kembali ke hutan itu lagi.

Langkahnya kini membawanya ke depan sebuah air terjun. Air terjun tempat ia mengobati luka Natsu itu tempo hari.

Sunyi, hanya terdengar suara dari air terjun saat ini. Rupanya Natsu tidak datang hari ini. Apakah Dragneel sudah mengetahui jika mereka akan diserang? Jika begitu maka berarti saat ini Natsu tengah disibukkan dengan persiapan perang yang akan mereka hadapi itu. Apakah dia akan berada di garis depan? Apakah dia akan baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dikepalanya. Entah mengapa ia merasa begitu khawatir dengan laki-laki berambut salam yang beum lama ia kenal itu. Lucy bahkan tak bisa berhenti memikirkannya saat malam hari.

"Aku punya firasat kalau kau ada disini dan ternyata benar."

Lucy benar-benar terkejut saat seseorang tiba-tiba berbicara dari arah belakang. Begitu berbalik, yang ia dapati adalah seseorang yang saat ini sedang pikirkan. Hal itu membuat wajah Lucy terlihat memerah. Bagaimana tidak? Orang yang sedang ia pikirkan itu tiba-tiba muncul dihadapannya dan kini memasang senyumanya yang begitu menawan. Ia malu, dan juga senang.

"Natsu, kenapa kau ada disi-"

Lucy menghentikan kalimatnya. Jika ia bertanya mengapa Natsu ada disini, maka Natsu akan tau bahwa Lucy sudah mengetahui apa yang akan terjadi pada klan Dragneel. Untuk saat ini, yang bisa ia lakukan hanyalah berpura-pura tidak tau bahwa Natsu berasal dari klan Dragneel. Ya, saat ini ia harus melupakan bahwa Natsu adalah calon penerus klan Dragneel. Klan yang suatu saat nanti pasti akan membalaskan kematian Grandine dan menghancurkan Heartfilia tanpa menyisakan seorangpun.

Sampai saat itu terjadi.. Lucy akan terus menikmati kebersamaannya dengan Natsu.

"Kau ingin bilang apa tadi?" Natsu duduk disamping Lucy.

Lucy hanya menggeleng pelan, mengurungkan niatnya untuk menanyakan apa yang ada di pikirannya.

"Aku sedang pusing sekarang. Makanya aku kesini untuk bertemu denganmu." Natsu berbaring diatas rumput, menopang kepalanya dengan satu tangan kemudian mencabut sebatang rumput lalu menggigitinya, entah apa yang ia lakukan.

Lucy kembali merona. Natsu, datang kesini untuk menemuinya?

"K-kenapa harus menemuiku?" Lucy menjadi salah tingkah.

"Hng? Entahlah.. hanya saja, aku merasa nyaman jika berbicara denganmu. Kau seperti benar-benar mengerti soal aku. Yah, mungkin seperti itu."

Ah kenapa Natsu berkata seperti itu? Lucy benar-benar salah tingkah dibuatnya. Ia bahkan tidak tau mengapa sekarang jantungnya berdegup begitu kencang dan wajahnya terasa begitu panas.

"L-lalu apa yang membuatmu 'pusing' itu?" tanyanya kemudian.

Jujur saja ia juga sama, ia sedang pusing memikirkan perang besar yang sebentar lagi akan dimulai dan juga sedang dalam tekanan karena orang-orang didalam klannya yang benar-benar tidak pernah mengerti soal perdamaian.

Natsu mengubah posisi berbaringnya. Kini ia menggunakan kedua tangannya sebagai bantal dan menatap lurus kearah langit yang terlihat tak berawan siang itu. Ia kemudian memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang menggelitik permukaan kulitnya dengan lembut.

"Sebenarnya aku merasa pusing setiap hari."

"..."

"Setiap hari, semua orang hidup dalam rasa takut. Takut akan peperangan yang bisa pecah kapan saja, dan takut pada musuh yang bisa menyerang mereka kapan saja." ujar Natsu melanjutkan kalimatnya tadi.

Ya, bahkan orang biasa yang tak pernah tau cara memegang sebilah pedang dan terjun langsung kedalam peperangan pun merasakan ketakutan setiap harinya. Semakmur apapun hidup yang mereka jalani, tak ada artinya selama peperangan masih ada.

Tanah Fiore, sudah ternodai oleh terlalu banyak darah dari orang-orang yang harus mati karena takdirnya untuk berperang.

"Luce, apa kau pernah berpikir bahwa perdamaian yang selalu kita bicarakan itu hanya omong kosong?"

Lucy terhenyak, yang Natsu katakan ada benarnya juga. Selama ini mereka menginginkan perdamaian, namun disisi lain mereka masih tak tau apa yang harus mereka lakukan untuk mewujudkan perdamaian itu sendiri. Tetapi..

"Aku percaya suatu saat nanti kita bisa mewujudkannya.." Lucy tak tau apakah yang ia katakan itu bisa disebut sebagai jawaban untuk pertanyaan Natsu atau tidak, ia tak tau harus mengatakan apa selain hal itu.

Natsu mengerutkan dahinya, merasa tak puas dengan jawaban Lucy barusan. Tapi sudahlah, ia pikir Lucy pun tak tau jawabannya.

"Boleh aku bertanya?" Lucy kembali membuka pembicaraan setelah keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat.

"Silahkan saja."

"Sudah berapa kali kau terjun ke medan perang selama ini?"

Mendengar pertanyaan dari Lucy, Natsu kini terlihat berpikir, mencoba mengingat-ingat berapa kali dirinya telah bergabung dalam perang. Mulai dari sebagai prajurit pasukan kelas bawah, hingga menjadi pemimpin pasukan di perang yang akan datang.

"Aku juga tidak tau. Yang jelas, aku mulai ikut berperang saat umurku masih 15 tahun. Saat itu benar-benar berat untukku, aku masih sangat muda, dan aku sangat takut akan terbunuh. Tapi entah bagaimana aku berhasil melewatinya dan masih hidup hingga sekarang."

"..."

"Kau sendiri?" Natsu kini balas melempar pertanyaan.

Pertanyaan itu sukses membuat Lucy bingung. Ia juga tidak ingat berapa kali ia ikut berperang selama hidupnya. Yang jelas, ia pernah melakukannya.

"Aku juga tidak tau. Dan aku punya pengalaman yang sama sepertimu. Setiap kali aku melukai musuhku, entah mengapa rasanya dadaku begitu sakit. Setiap sayatan itu terasa seperti aku menyayat jantungku sendiri. Begitu sakit, dan menyesakkan. Aku pernah berpikir untuk bunuh diri dan melarikan diri dari semuanya. Tapi entah mengapa aku berpikir bahwa suatu saat nanti aku bisa melihat perdamaian, karena itulah aku masih hidup."

Natsu tersenyum mendengarnya. Sudah ia duga gadis pirang disampingnya ini benar-benar memiliki pemikiran yang sama sepertinya. Bunuh diri dan lari dari kenyataan mungkin akan membawa kedamaian untuk diri sendiri, tapi tidak dengan orang lain. Mewujudkan perdamaian untuk semua orang itulah perdamaian yang sebenarnya.

Setelah percakapan itu mereka pun kini bercerita tentang diri mereka masing-masing, keseharian, juga pengalaman masa kecil mereka. Memakan buah, meminum air dari air terjun yang segar, dan berburu bersama. Natsu bahkan menangkap seekor kelinci putih yang benar-benar lucu untuk Lucy. Lucy juga sudah berjanji untuk merawatnya. Pertemuan singkat mereka hari ini benar-benar terasa menyenangkan. Sangat menyenangkan hingga tanpa mereka sadari matahari sudah hampir tenggelam.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka pun berpisah. Kembali kerumah dengan arah yang berlawanan.

Natsu tersenyum disepanjang perjalanannya menuju klan. Ia tidak pernah merasa sesenang ini sebelumnya. Tepatnya, setelah kematian ibunya. Gadis itu benar-benar telah menghapus dukanya. Lucy, sudah seperti penyemangatnya untuk mendapatkan perdamaian.

Ia akan terus mengingat hari yang ia lalui bersama Lucy ini. Itu karena, ia sendiri tidak tau apakah ia masih tetap hidup setelah perang nanti.

"Sudah kami duga kau ada disini."

Suara Erza menghentikan langkah Natsu. Ia menoleh kesamping, mendapati Erza dan Gray yang kini bersandar pada sebatang pohon.

"Kalian.."

"Kau pergi seenaknya disaat seperti ini tanpa memikirkan bagaimana sulitnya kami untuk mencarimu!"

BLETAK!

Dalam sekejap, benjolan kini terlihat diatas kepala Natsu akibat jitakan maut dari Erza barusan. Tanpa aba-aba dari siapapun, Natsu kini meminta maaf, memohon pengampunan sebelum Erza menghabisinya.

"Lupakan itu. Untuk saat ini Igneel-sama melarangmu meninggalkan klan sampai perang selesai." Erza memperingatkan.

"Benar. Kau adalah calon pemimpin Dragneel selanjutnya. Pembunuhan salah satu anggota klan sebelum perang dimulai sangat sering terjadi. Aku juga yakin ada sangat banyak orang yang ingin membunuhmu diluar sana." tambah Gray, berharap teman pink-nya itu akan mengerti dan menuruti perintah.

Tanpa mereka duga, Natsu kini mengangguk tanpa ada protes atau alasan lain yang biasa selalu ia katakan saat Igneel melarangnya ini dan itu. Dan jika dilihat dari wajahnya, Natsu terlihat sedang dalam mood yang benar-benar baik hari ini.

"Oey Flame-head. Jangan bilang kau sudah jatuh cinta dengan gadis itu?"

Perkataan Gray sukses membuat Natsu diam tak berkutik. Apa gadis yang Gray maksud adalah Lucy?

"G-gadis mana yang kau maksud hah?"

"Jangan pura-pura tidak tau. Kami melihatnya sendiri, seharian ini kau bersenang-senang dengan gadis pirang itu kan?! Kalian bahkan terlihat seperti orang yang sedang pacaran!" balas Gray yang entah kenapa menjadi sewot sendiri.

Natsu shock ditempat. Jadi mereka melihatnya?

"Tidak perlu khawatir seperti itu. Kami tidak akan marah atau membeberkannya ke orang lain. Tapi kau harus tetap waspada, Natsu."

Erza kembali memperingatkan Natsu. Bagaimanapun mereka berasal dari klan yang berbeda. Bukan tidak mungkin jika suatu saat Lucy akan memanfaatkan Natsu untuk mendapatkan informasi dan menyerang Dragneel.

Natsu hanya mengangguk pelan. Sejauh ini Natsu masih penasaran dari klan mana Lucy berasal. Ia tidak yakin bahwa Lucy berasal dari klan kecil. Dan yang paling ia takutkan saat ini adalah bagaimana Lucy berasal dari Redfox? Bagaimana jika mereka ditakdirkan untuk berhadapan di medan perang yang akan datang sebagai musuh? Ia tidak ingin itu. Karena jika itu terjadi, maka Natsu pun tidak tau apakah dirinya sanggup melukai Lucy atau tidak.

Natsu benar-benar berharap bahwa Lucy bukan berasal dari klan Redfox, ataupun klan terkutuk yang sudah membunuh ibunya itu.

.

.

.

Curse The Fate

.

.

.

Natsu membaringkan dirinya diatas tempat tidur. Ditemani dengan nyala lilin yang hangat itu ia kini mulai memejamkan mata. Tapi entah mengapa ia tak kunjung tertidur.

Persiapan untuk perang sudah hampir selesai. Orang tua dan anak-anak sudah dipindahkan ke tempat yang aman meskipun sebagian dari mereka belum meninggalkan klan. Mulai besok, regu pengintai akan mulai menjalankan tugasnya untuk mengintai musuh di perbatasan. Sudah empat hari berlalu sejak mereka mendapat kabar bahwa Redfox akan menyerang dalam waktu seminggu. Itu berarti, tinggal tiga hari sebelum mereka datang.

Tiga hari bukanlah waktu yang lama untuk menyiapkan segalanya. Meski begitu mereka harus memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya dan mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Itupun jika Redfox tidak tau bahwa Dragneel telah siap dengan penyerangan itu. Jika Redfox mengetahuinya, mereka pasti akan mengubah rencana.

Natsu kembali memejamkan matanya. Untuk saat ini ia harus beristirahat untuk menyiapkan mental dan fisiknya.

DUMM! BLAAARRRR!

Natsu langsung bangkit saat terdengar suara ledakan yang cukup keras itu.

Itu ledakan ditempat yang jauh, bukan di dalam klan. Jangan bilang musuh telah melancarkan serangan? Sulit dipercaya! Masih ada tiga hari sebelum waktu yang seharusnya. Apa mereka sudah mengubah rencana?

"Serangan musuh! Semuanya, bergerak ke posisi kalian dan jangan panik!" Natsu terkejut mendengar suara Igneel dari luar rumah. Jadi benar musuh sudah menyerang.

"Igneel-sama. Mereka menyerang kita malam ini. Gildarts baru saja melaporkan jumlah musuh diperkirakan lebih dari 7000 orang."

"Darimana arahnya?"

"Kami masih belum mengetahuinya. Ledakan itu berasal dari ranjau yang dipasang regu pengintai di perbatasan. kemungkinan besar unit komando mereka yang sedang menuju kesini menginjaknya dan terkena ledakan."

Mendengar percakapan itu, Natsu buru-buru mengambil pedangnya. Segera keluar dari kamarnya dan membuka pintu kamar Wendy dengan paksa.

"Nii-sama. Suara apa itu. Aku takut." Wendy memeluk Natsu erat.

"Tenanglah, sekarang ikut aku."

Segera, Natsu menarik wendy menuju kandang kuda. Menggendongnya kemudian menaikkan Wendy keatas punggung seekor kuda putih.

"Wendy. Pergi dari sini secepat yang kau bisa. Pergilah ke desa Rosemary melalui jalur yang kita lewati waktu itu. Aku yakin tidak akan ada musuh yang menghadang disana."

"Bagaimana denganmu. Pergilah bersamaku, aku takut.."

"Aku yakin kau akan baik-baik saja. Pergilah Wendy, aku tidak akan memaafkanmu jika sampai kau masih disini. Aku akan pergi ke garis depan."

"Nii-sama, hiduplah demi aku juga."

Setelahnya dengan berat hati Wendy menunggangi kudanya, pergi menuju Rosemary secepat yang ia bisa sambil terus berdoa agar kakak dan ayahnya itu akan baik-baik saja.

Sementara Natsu, saat ini ia langsung berlari menuju gerbang timur dimana seluruh pasukannya telah berisap disana.

"Sial. Tidak kusangka mereka menyerang kita saat malam hari."

Natsu terus berlari, menerobos barisan batalion pertama, unit medis, batalion ketiga hingga akhirnya sampai di barisan utama.

"Darimana saja kau?!" Igneel terlihat sangat marah atas keterlambatan Natsu disaat seperti ini.

"Maaf, aku harus mengamankan Wendy dulu."

"Lalu dimana dia?"

"Dia sudah pergi menuju Rosemary."

"Apa kau gila? Bagaimana jika musuh menyerangnya."

"Tidak. Wendy adalah putri Igneel. Dia akan baik-baik saja." Natsu tersenyum.

"Bagaimana dengan Erza, Gray dan juga Laxus?" tanyanya kemudian.

"Mereka sudah bersiap ditempatnya. Fokus. Jika perhitungan kita benar, mereka akan menyerang dari arah ini melalui jalur darat."

Natsu terkagum, ayahnya itu masih tetap tenang disaat seperti ini. Konsentrasinya benar-benar luar biasa, Natsu bisa merasakannya dari sini.

Natsu mengeluarkan pedangnya. Entah bagaimana ia merasa semuanya akan baik-baik saja dengan Igneel berada di sampingnya. Selain itu, ia yakin Erza, Gray dan Laxus juga tidak akan kalah dari siapapun.

Natsu pun berusaha untuk fokus dan tetap tenang, jika benar musuh akan menyerang melalui arah timur.

Saat ini Natsu bisa mendengarnya, suara langkah kaki dari begitu banyak orang dan mungkin juga kuda, datang dari arah timur. Tapi dari yang bisa ia dengar, orang-orang itu tidak terlalu banyak.

"Mereka datang." kata Igneel.

Tak lama kemudian mereka bisa melihat orang-orang itu muncul dari dalam hutan. Natsu terkejut mengetahui jumlah mereka yang terbilang sedikit itu. Hanya sekitar seribu orang.

"Semuanya! Jangan biarkan mereka mendekati benteng. Maju!"

Komando dari Natsu diterima. Semua orang langsung maju menghadapi orang-orang Redfox itu sebelum mereka menyerang mereka lebih dulu. Seketika teriakan dan bunyi dari pedang yang saling berbenturan terdengar begitu nyaring ditelinga mereka. Pertempuran telah dimulai. Apapun yang terjadi Dragneel harus menang.

Duarrrrr!

Semua orang kini menatap ke langit saat sebuah bom asap berwarna biru ditembakkan keudara. Itu adalah sebuah sinyal. Dan arah itu, Utara. Itu adalah tempat Gray berjaga. Apa mereka sedang dalam bahaya?

"Komandan, lebih dari empat ribu orang menyerang dari arah utara!"

Salah satu antek melaporkan situasi. Jadi sinyal itu. Gray benar-benar dalam keadaan terdesak.

"Empat batalion menyerang dari arah laut?! Mustahil!"

Sekarang mereka semua menjadi panik. Tapi bagaimanapun musuh juga menyerang mereka saat ini. Kepanikan mereka malah akan membuat semuanya menjadi kacau.

"Jangan panik! Perintahkan batalion kedua dan keempat yang menjaga didalam benteng untuk membantu divisi Gray!" Natsu kembali memberi komando.

"Tapi bagaimana dengan penjagaan di dalam benteng?"

"Jangan khawatir. Aku bersumpah tidak akan membiarkan mereka sampai memasuki benteng. Cepat lakukan!"

"Baik. Natsu-sama."

Dengan perintah dari Natsu, antek tersebut kini melaksanakan tugasnya. Menghubungi pemimpin batalion kedua dan keempat untuk menuju ke gerbang utara.

Ditengah peperangan itu Igneel tersenyum, Natsu benar-benar menjalankan perannya dengan baik. Mungkin setelah ini ia benar-benar akan pensiun.

"Semuanya! kerahkan seluruh kemampuan kalian! Setelah kita membereskan mereka kita akan pergi menuju divisi dua dan menyerbu mereka!"

"Ooooooo!"

Semangat mereka kembali berkobar, menyerang musuh tanpa ampun hingga membuat mereka semua kewalahan. Tapi meski begitu sudah banyak orang-orang Dragneel yang terluka dan bahkan Natsu sendiri sudah mendapatkan banyak luka. Natsu memerintahkan pada yang terluka parah dan masih bisa berjalan untuk menuju unit medis. Sementara mereka yang hanya mengalami luka ringan harus tetap ditempat dan menghabisi musuh.

Sial. Meski jumlahnya sedikit mereka cukup gigih dan terus menyerang meskipun sudah terluka. Jika begini, mereka tidak akan sempat menuju divisi dua. Bagaimana jika musuh sudah memasuki benteng?!

Karena memikirkannya Natsu lengah, ia tidak sadar seseorang kini sudah mengincarnya dari arah samping.

"Celaka!"

TBC ke bagian 2

Langsung saja klik Next!