Tidak terasa aku sudah meninggalkan fiction yang satu ini selama lebih dari setahun. Banyak hal yang terjadi yang membuatku mendadak jadi terkena WB sampai lama sekali.

Untuk menebus rasa bersalahku karena belum menyelesaikan cerita ini maka aku akan melanjutkannya. Ini adalah chapter terakhir dari Apriori.

Selamat Membaca

.

.

.

Disclaimer : Hanya meminjam nama-nama dari Vocaloid

Pairing : RinxLen

Genre : Scific, Romance

Warning : Tidak mengikuti EYD yang berlaku, tidak suka tolong tekan tombol back…

Have Fun~

Apriori

Last Chapter

- New Born -

Atmosfer di sekeliling ku dan dia mendadak menjadi sangat hangat dan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan ku yang bisa kembali bersama dengannya, dan kebahagiaannya yang aku tidak tahu alasannya, menyatu menjadi sesuatu yang benar-benar indah.

Dalam pelukan pria honeyblonde ini, aku merasakan kehangatan yang menentramkan jiwa dan ragaku. Kebahagian yang terpancar dari tubuh pria ini menular padaku dengan cepat.

Aku menengadah untuk melihat wajahnya yang sempurna itu dan mendapati ada sebuah senyuman tersungging disana, ya ampun.. sekarang wajahnya tidak kalah tampan dengan wajah Lucifer saat masih disurga.

Sebenarnya aku tidak pernah tahu Lucifer itu seperti apa, aku hanya mendengarnya dari Luka-chan, tapi aku yakin dia pasti sangat-sangat tampan.

Aku mengerahkan pandanganku ke depan, sekedar ingin tahu sudah sampai dimana kami ini. Ternyata rumahnya sudah dekat, aku dapat melihat bangunan yang sudah ku kenal dengan baik itu di ujung jalan.

Yokatta.. ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan!

Pria itu masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apa-apa dan langsung melesat masuk ke kamarnya. Padahal biasanya dia akan berteriak dan berkata "tadaima" berulang kali sampai ada yang menjawabnya, tapi kenapa hari ini dia diam saja? Begitu tidak sabarnya kah dia untuk membawaku kembali ke kamarnya? Hehehe

Saat pintu kamarnya terbuka, aku dan dia melihat sesosok makhluk berwarna negi di dalam ruangan yang serba kuning itu.

"Hai Len-kyun~" sosok berwarna negi itu melambai sok akrab kepada pria honeyblonde yang sedang menggendongku. Ah jadi nama pria ini adalah Len, eh? Siapa dia? Kenapa dia memanggil Len-ku dengan sebutan begitu hah? Batinku berteriak geram. Rasanya aku ingin sekali melompat kearahnya dan membenamkan cakarku yang tidak begitu tajam ini ke wajahnya.

"Oh.. kau." Kemenangan berada di pihakku mendengar nada datar yang di layangkan pria bernama Len ini ke gadis negi itu. Hohoho, aku tahu kalau pria ini tidak menyukai dia.

"Sekali saja panggil aku dengan nama kecilku kenapa sih, dasar Len Baka!"

Hee! Siapa dia sih, berani-beraninya memanggil Len dengan sebutan baka. Kau itu yang baka dasar gadis negi jelek menyebalkan! Batinku kembali berteriak geram. Tanpa sadar aku meronta mencoba keluar dari dekapan Len.

"Ah manis, kurasa kau harus tenang dulu. Ssssh… ssshh… tidak apa-apa manis, tenanglah…" Len membujukku lembut sambil mengelusku, pangeranku yang satu ini memang selalu tahu cara untuk membuatku tenang.

Setelah melihatku kembali tenang, Len mengalihkan pandangannya ke gadis di hadapannya. Dia menatap gadis itu bosan.

"Ada apa kau kemari?" tanya Len datar.

"Profesor ingin agar aku memastikan apa kelinci-mu itu sudah kembali atau belum.." gadis itu menjawab ketus, melirikku sebentar lalu melanjutkan perkataannya lagi, "Sepertinya kau sudah siap untuk melakukan proyek besarmu itu besok, kan Len-kyun? Semoga saja hasilnya bagus.."

Ada jeda beberapa detik sebelum aku merasakan aura kemarahan menyelimuti pria yang sedang menggendongku ini. Menurutku dia semakin mirip dengan Lucifer saja.

"Kau ingat perjanjian kita, kan? Kenapa tidak menyerah saja? Sudah banyak percobaan seperti itu yang gagal, bahkan para seniorpun tak pernah ada yang berhasil membuat objek menjadi sempurna. Lupakan saja dan bertunanganlah denganku, Len-kyun~ dari pada kau mengorbankan kelinci kesayanganmu itu.."

Kejadian yang berikutnya menjadi abstrak dan terjadi begitu cepat. Len dengan cekatan menarik gadis negi itu keluar dari kamarnya, kemudian membanting pintu tepat di depan wajah si gadis.

Aku sendiri sudah melompat ketika Len menarik lengan gadis negi itu. Tubuhku selalu saja bereaksi otomatis dengan segala bentuk hal yang terjadi secara mengagetkan. Ini membuatu kesal, seolah-olah aku ini dibuat dengan unsur dari kata "Lari!".

Yang kutahu diantara kebisingan yang di buat oleh dua manusia itu adalah aku harus mencari tempat gelap untuk bersembunyi. Sayangnya di kamar pria itu tidak ada tempat yang benar-benar gelap, jadi aku memutuskan untuk lari ke pojok ruangan.

Cukup lama mereka masih saling berteriak satu sama lain, padahal si gadis negi itu sudah tidak ada di dalam ruangan, tapi suaranya lah yang paling membahana.

Tiba-tiba ada sesuatu yang menggigit leherku, dia membawaku seolah aku adalah anaknya. Dia pasti Mikuo. Aku selalu tahu caranya memaksaku untuk pergi bersamanya.

Aku meronta-ronta mencoba melepaskan diri. Apa dayaku, tubuhnya saat ini lebih besar dari pada aku, kelinci betina sebenarnya bisa lebih besar dari pejantannya kalau sudah dewasa sayangnya aku ini masih bisa dibilang kecil.

Pria yang sedang bicara dengan pintu bersuara gadis negi itu tidak sadar bahwa aku sedang diculik oleh tunanganku sendiri. Penyesalan atas keadaanku yang tidak bisa berbicara dengannya menderaku sekarang. Seandainya saja aku ini bukan kelinci..

Mikuo melompat ke atas meja milik Len, karena dia membawaku yang pastilah cukup berat di mulutnya, dia kehilangan keseimbangan. Oh yeah! Dia menyenggol beberapa barang aneh yang ada di atas meja itu, membuat pria berambut honeyblonde itu sadar bahwa aku hampir saja diculik.

"Hey!" Len berlari kearah kami, Mikuo yang masih keberatan denganku –rasakan itu!- mencoba melompat kearah jendela.

Terlambat.

Tangan ramping dan hangat milik Len sudah terlebih dahulu menangkap kami. Dia menahan Mikuo agar tidak bisa bergerak kemudian menutup jendela kamarnya.

Sedikit mengejutkan melihat Mikuo mendadak melompat kesana kemari seperti orang ehm maksudku kelinci gila. Aku yang masih setia dia bawa juga kena sialnya karena beberapa kali tubuhku membentur sesuatu.

"Lepaskan aku Mikuo!" teriakku sambil meronta-ronta. Sekelebat aku melihat Len kewalahan mencoba menangkap Mikuo, kamar kuningnya yang rapi itu mendadak juga terlihat sangat berantakan.

.

.

.

.

Dari balik tabung kaca, aku bisa melihat Mikuo menatapku sedih dari balik kotak kecil berjeruji. Kemarin, setelah membuat aku dan dirinya sendiri babak belur Mikuo akhirnya berhenti bertingkah gila karena kelelahan.

Tak disangka-sangka ternyata pria honeyblonde bernama Len sama sekali tidak berusaha menangkap Mikuo, dia berdiri seperti kami – berdiri dengan tangan dan kaki - diatas tempat empuk yang biasa dia tiduri.

"Kenapa kau bisa menyukai manusia menyebalkan yang satu itu Rin?" pertanyaan aneh dari Mikuo itu tak kujawab. Aku capek dasar baka Mikuo!

Perlahan-lahan Len mengulurkan tangannya yang membawa benda berwarna orange panjang yang berbentuk seperti… ah itu wortel!

"Manusia yang satu ini ternyata sangat bodoh, disamping menyebalkan." Mikuo menyindirku dengan nada sadis. Aku menatap Len putus asa, Mikuo itu tidak suka wortel, seandainya si gadis negi itu masih ada disini pasti sudah dimakan habis oleh Mikuo.

Len menatapku bingung, satu alisnya sedikit terangkat ketika menatap mataku dalam kemudian dia mengerti. Dia menarik lagi wortel di tangannya dan menyodorkan negi yang entah muncul dari mana.

Malampun berlalu penuh dengan bau negi dan obat entah apa yang pria itu berikan di sekujur tubuhku dan Mikuo.

Paginya, Len menggendongku dan menaruh Mikuo di dalam kotak berjeruji lalu membawa kami ke bangunan-yang-selalu-dikunjunginya.

.

.

.

.

.

Len-pov

Baiklah ini adalah hari yang sangat bersejarah untukku. Aku melepaskan jemariku dari infuse yang baru saja ku pasangkan ke tangan mungil kelinciku. Aku menatap matanya cemas, berharap dia tidak kesakitan.

Kelinci kecilku yang satu ini memanglah yang terbaik, dari balik mata merahnya ada sesuatu yang berkilau disana. Harapan. Dia menyimpan harapan besar padaku, dia benar-benar percaya padaku bahwa apapun yang kulakukan sekarang itu pasti untuk kebaikannya.

"Sungguh mengejutkan melihatmu menangis seperti itu Len," sebuah tangan memegang bahuku, mengejutkanku.

Aku menangis?cepat-cepat kuraba pipiku yang ternyata memang basah. Ada apa denganku sekarang? Apa aku takut akan kenyataan bahwa para seniorpun tak bisa menciptakan obyek yang sempurna?

Kelinci kecil yang telah mengisi hidupku yang hampa selama 19 tahun itu apakah harus ku korbankan? Bagaimana jika percobaan ini gagal? Bagaimana jika dia mati? Bukankah aku akan kehilangan satu-satunya makhluk di dunia ini yang dapat memahamiku? Relakah aku?

Tanpa sadar mataku melirik ke beberapa tabung berisikan berbagai macam makhluk dengan wujud yang aneh. Makhluk-makhluk itu terpaksa dibunuh karena takutnya mereka akan lepas kendali dan melarikan diri dari laboratorium.

"Kalau kau terlalu lama menatapnya begitu aku yakin percobaanmu kali ini akan gagal dan aku akan memberimu nilai nol."

Senyumku mengembang, kulihat ekspresi bingung terpancar di wajah kelinci yang mulai melemas dihadapanku ini. Aku tidak akan membiarkan percobaan ini gagal! Apapun yang terjadi aku harus tetap membuat kelinciku ini hidup! Bukan hanya hidup, tapi menjadi sempurna!

"Jangan mengatakan hal jahat begitu padaku Profesor, aku ini muridmu yang jenius bukan?" Aku memutar tubuhku dan tanganku bergerak mendahului otakku untuk menangkap sebuah jarum suntik yang baru saja di lemparkan seorang gadis paruh baya bersurai sakura.

"Kau ini muridku yang paling bodoh! Sudah cepat lakukan saja semuanya. Semakin cepat semakin aku bisa pulang dan memakan sushi tuna yang baru saja ku beli tadi."

Dasar guru tsundere gila batiku sambil sedikit terkekeh, lihat saja Luka-sensei akan ku buat kau dan seluruh dunia tercengang dengan apa yang akan kulakukan sekarang!

.

.

.

.

.

Rin-Pov

Aku ini sedang berada di surga kan? Tubuhku rasanya sangat ringan dan sejuk.

Kalau dia tahu bahwa aku sedang disurga seharusnya Mikuo tidak perlu berteriak dengan heboh saat Len akan menyuntikku dengan sesuatu yang berwarna keemasan. Dia berteriak apa ya? Aku tidak bisa ingat.

Ya ampun aku mencium aroma rerumputan seperti yang ada di taman di tempat Len, bebauan manis bercampur aroma rumput segar dan bau bunga sakura!

Mataku sulit ku terbuka, aku harus mengerahkan tenaga ekstra untuk memaksa kedua mataku ini agar terbuka. Hal pertama yang aku lihat adalah wajah Malaikat Len di kedua mataku. Aku mengerjap beberapa kali untuk memastikan apa yang kulihat. Oh astaga! Aku melihat Len dengan kedua mataku!

Aku mencoba untuk bangkit. Sejak kapan aku… Oh ya ampun! Aku punya tangan seperti yang dimiiki Len! Kakiku! Kakiku sudah bukan kaki kelinci lagi! Apa yang terjadi denganku?

"Kau sudah bangun kelinci kecilku, apa yang kau rasakan sekarang?" suara Len yang lembut menarik kedua mataku untuk kembali memperhatikan mata pria itu dari tubuhku yang mendadak menjadi seperti manusia.

Sesuatu di dalam mata Len membuatku merasa sangat hangat dan nyaman. Aku bisa melihat pantulan diriku disana, rambutku yang sewarna dengan pria dihadapanku ini sepertinya di hiasi dengan kain putih membentuk hampir seperti telinga kelinci. Di tengah semua kekacauan yang ada di pikiranku, aku mencoba menenangkan diri.

Baiklah, aku harus menarik kesimpulan bahwa sekarang aku berwujud seperti manusia. Berarti sesuatu yang terjadi padaku waktu itu telah mengubahku menjadi seperti ini.

Sekarang aku berbentuk seperti makhluk yang serupa dengan Len, berarti aku bisa...!

Sedikit terburu-buru aku mencoba membuka mulutku, disaat yang sama aku cukup terkejut dengan lidahku yang tiba-tiba saja menabrak langit-langit mulutku. Aku tersedak hebat kemudian. Ya ampun aku ini bodoh sekali batinku berteriak jengkel.

"Pelan-pelan manis, tidak apa-apa.. tenanglah…" Len memegangi bahuku erat, menjagaku agar aku tidak limbung dan terjatuh. Sensasinya benar-benar berbeda dan rasanya aneh, biasanya tubuhku pasti sudah berteriak lari kalau pria honeyblonde itu menyentuhku mendadak seperti ini.

"Suki~"

Rasanya dunia mendadak berhenti saat itu juga ketika tanpa sadar aku melontarkan kata-kata pertamaku sebagai manusia. Len membelalakan matanya mendengar apa yang baru saja ku ucapkan.

Kami –sekarang aku bisa mengatakan aku dan dia sebagai kami, kan?- diam untuk waktu yang cukup lama. Lenlah yang pertama kali mengatasi rasa terkejutnya perlahan-lahan dia mendekatkan matanya ke mataku.

Dia menempelkan dahinya ke dahiku lalu menatapku lekat-lekat. Mata birunya terlalu dekat membuatku mulai pusing berlama-lama menatapnya.

Len menunduk membuatku semakin bingung, aku bisa mendengar dia terkekeh penuh rasa syukur kemudian dia berguman sesuatu, sayang pendengaranku sekarang tidak sebagus dulu jadi aku tidak tahu apa yang Len gumamkan.

Ketika Len menengadah aku melihat cairan bening mengalir di kedua pipinya, dia juga seperti itu sewaktu di dalam bangunan-yang-selalu-dia-kunjungi, dia seperti yang dikatakan gadis sakura itu, dia menangis..

"Ah ini tidak sama dengan yang dulu manis, ini namanya air mata bahagia." Jelas Len tanpa ku minta, sepertinya kami masih bisa saling memahami walaupun aku masih belum bisa bicara.

"Sepertinya aku harus mengajarimu banyak hal ya manis.." dia mengusap air dari pipinya, senyuman lembutnya mengembang untukku.

"A~aku R~r~in, a~a~aku ma~m~mau be~bes~besa~ma L~Len!" butuh usaha besar untuk mengeluarkan kata-kata sepanjang itu dari mulutku. Ini hebat! Aku memang sudah lama berlatih mengatakan hal ini saat masih menjadi kelinci, dulu sekeras apapun aku mencoba aku tidak bisa mengatakannya. Namun sekarang, ternyata lebih mudah mengontrol lidahku agar aku bisa mengatakan semua itu.

Aku melemparkan senyuman ke arah Len yang sedang terkejut untuk kedua kalinya. Sebelum Len bisa berbuat sesuatu aku sudah menubruknya jatuh. Suara tawa kami berdua membahana di antara desir rerumputan.

Siapa sangka tubuh manusia ini lebih mudah di gerakkan dari pada tubuh kelinci? Impianku untuk selalu bersamanya akan menjadi kenyataan! Sekarang cinta kami tidak lagi di halangi oleh perbedaan status apapun!

Kami berguling-guling di atas reumputan, menabrak beberapa bunga dandelion, menyebabkan tubuh kami sekarang di kerumuni oleh sayap-sayap dandelion kecil yang lepas dari bulatannya.

"Rin…"

Ini pertama kalinya pria yang telah menyelamatkanku itu memanggil namaku yang sebenarnya!

"Aku akan memberitahumu sebuah kabar gembira.." dari tatapannya aku tahu kalau ini sama sekali bukan gambar gembira. Rasanya aku langsung mengerti bahwa kami tidak bisa bersama seperti yang aku minta tadi.

Kenapa?

Tubuhku tiba-tiba ditarik oleh seseorang. Aku mendongak untuk melihat siapa yang sudah menarikku dengan paksa. Kulihat sesosok pria dengan rambut berwarna Negi menatapku penuh amarah. Oh tidak! Ini Mikuo, aku selalu tahu caranya memaksaku pergi dengannya.

"Tunanganmu juga di ubah oleh gadisku menjadi manusia.."

.

.

.

.

.

Apriori

-end-

Huweee.. padahal aku pinginnya ini jadi ending bahagia pertama yang mau ku buat! Tapi kenapa aku malah menulis begitu? TT^TT

Bagaimanapun ini memang cerita yang mudah di tebak. Maaf kalau ada sesuatu yang tidak berkenan tarutama untuk Miku, hehehe maaf membuatmu menjadi penjahat *digebukin miku pakai negi*

Sekali lagi sebelum aku mati di bunuh Miku, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya dan terimakasih bagi yang sudah mau membaca.. aku akan sangat manghargai kalau ada yang mau memberi masukan dan saran.. *ojigi*

Oliver : kembalikan jamesku!

.

.

.

.

.