Zona pribadi, apa kalian pernah mendengar istilah itu? Yap, sebuah zona yang melarang seseorang ataupun orang yang kita kenal memasuki urusan pribadi kita. Walaupun itu anggota keluargamu sekalipun, tetap saja mereka tidak boleh dengan seenaknya masuk dan mancampuri urusan kita. Apalagi kita adalah laki-laki yang sudah menginjak remaja, itu sudah keterlaluan bukan!

Akan tetapi, apa yang kualami sekarang sudah melewati batas wajar, karena mereka bukanlah siapa-siapa. Orang tua bukan,saudara bukan,kakek buyutku apalagi, ya mereka adalah gadis-gadis yang tanpa sopan santun mengikutiku kemanapun aku pergi. Siapa lagi kalau bukan gadis Senju yang sok akrab denganku dan gadis Gremory yang dengan sopannya memanggil nama depanmu ketika dirimu baru pertama kali bertemu dengan orang tersebut. Sudahlah, ini adalah pertama dan terakhir kalinya kejadian ini akan terjadi.

"Namikaze-kun/Naru-kun, ayo kita coba kesana!"

"Oii! Apa yang kalian lakukan hah!?"

.

.

fict inspired by author's life story

Title :

現実 / Genjitsu

Genre :

Slice of life, hurt/comfort, family, romance, school

Warning :

OOC, Typo(s), miss-Typo, alur berantakan, bahasa ngaco, dll.

Summary:

Hidup yang ideal adalah keinginan setiap manusia, tapi bagaimana bila salah satu dari mereka menyerah dan memilih hidup dengan apa yang mereka punya saat ini? Dan inilah kisah seorang pemuda yang ingin hidup normal, tidak seperti remaja lainnya…

Rate:

T

Disclaimer :

Chara anime Naruto dan Hs dxd yang berada di-fict ini tidak milik saya, saya hanya meminjam dari pencipta aslinya tanpa mengambil biaya apapun

.

.

Chapter 2 : Sesuatu hal yang dinamakan MEREPOTKAN

.

.

Flashback on (beberapa menit setelah ditinggal Naruto)

.

'Hmm...aku harus berhati-hati dengan gadis yang bernama Rias Gremory itu, baru pertama kali bertemu tapi dia sudah memanggil Namikaze-kun dengan nama depannya. Apalagi,apalagi-akhh...pokoknya aku tidak boleh kalah darinya!'gerutu Shion sambil memukul wastafel yang ada di toilet perempuan. Setelah beberapa menit yang lalu ditinggal oleh Naruto untuk kembali kekelas duluan, Shion sekarang berada di toilet perempuan untuk menyuci wajahnya yang bertujuan untuk mendinginkan otaknya. Saat ini Shion sedang dilanda galau dadakan, karena dikelasnya saat ini mencul saingan baru yang ingin mendekati pemuda Namikaze yang selama ini ia sukai itu. Alih-alih ia dapat mendekatinya, selama ia sekelas dengan Naruto ia sama sekali tidak pernah dapat mengobrol dengan Naruto sekali saja.

Yang kemarin saja hanyalah keberuntungan untuk dapat mengobrol dengan Naruto, bukan dirinya yang terlalu malu untuk berbicara dengan Naruto tapi memang Naruto-nya yang sangat sulit untuk didekati. Oh, kita kembali kepada Shion sekarang. Setelah selesai membasuh wajahnya, Shion langsung berjalan menuju kelasnya. Ketika ia melewati kantin, netra-nya tanpa sengaja melihat seorang pemuda bersurai orange sedang berkumpul dengan teman-temannya. Tanpa basa-basi lagi, Shion langsung berjalan menuju pemuda tersebut dan memanggilnya.

"Menma-chan"yang dipanggil pun langsung menegang mendengar panggilan kesayangan dari Shion.

"Oi Menma, sepertinya ada yang memanggilmu tuh"ucap teman yang sedang berkumpul dengan Menma.

"Lagipula, apa itu 'Menma-chan' memangnya kau banci apa? Pft...pft"timpal pemuda yang satunya.

"Hahahaha"jadilah Menma menjadi barang bully-an teman-temannya saat itu juga. Menma yang merasa malu karena menjadi objek olok-olok-an pun langsung berjalan mendekati Shion diikuti Kiba dibelakangnya.

"Jadi, ada apa senpai memanggilku dan juga tolong memanggilku dengan panggilan itu kumohon. Harga diriku sebagai seorang laki-laki serasa diinjak-injak senpai"ucap Menma sambil menangis anime dan membuat Kiba yang berada dibelakangnya tertawa terbahak-bahak.

"Bwahahahaha...tidak apa-apa Menma, justru panggilan itu sangat cocok untukmu"Menma yang semakin diejek oleh Kiba pun pundung dibawah meja sambil menulis kanji manusia dan memakannya, Shion yang melihat kejadian barusan pun terlihat memakai pose berpikir.

"Oh, Inu-gaki dayo ne"ucapnya dengan ekspresi tanpa dosa yang membuat Kiba langsung berlari sambil berteriak OOC.

"Huwaaa...sialan kau Onii-san, akan kukutuk kau menjadi katak huwee"sedangkan teman-temannya yang melihat kelakuan pemuda penyuka anjing yang OOC tersebut hanya ber-facepalm berjama'ah.

"Jadi, ada apa senpai memanggilku?"tanya Menma yang sudah pulih dari kejadian nista barusan, sedangkan Shion yang datanya to the point oleh Menma pun jadi gelagapan. Karena ia berniat mengorek informasi tentang Naruto dari adik bungsu-nya itu.

"Emm...ano...etto...apa Menma-chan tahu hobi dan hal yang disukai oleh Namikaze-kun?"tanya-nya dengan wajah tersipu karena bertanya hal yang dapat membuatnya malu, sedangkan Menma yang mendengar pertanyaan Shipn barusan pun langsung mengukir senyum rubah diwajahnya dan sebuah ide terlintas dikepalanya.

"Emm...Nii-chan ya? Kalau Nii-chan aku tidak terlalu tau karena bila pagi ia selalu berangkat ke sekolah duluan sedangkan aku dan Naru-nee berangkat dengan Tou-san, lalu ketika pulang sekolah Nii-chan tidak pernah langsung pulang karena ia mengambil kerja part-time hingga larut malam dan begitu seterusnya. Ma-ma pada akhirnya kami sekeluarga juga tidak pernah tau hal yang menyangkut tentang Nii-chan, gomen senpai aku tidak bisa membantu lebih"ucap Menma dengan jelas sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal karena melihat ekspresi Shion yang kecewa.

"S-souka? Eh, Menma-chan tidak perlu meminta maaf padaku seharusnya ynag meminta maaf adalah aku yang terlalu memaksa. Gomen dan arigatou atas masukannya, nanti akan kucoba usaha sendiri. Matta ne Menma-chan"ucap Shion hendak pergi ketika kata-kata Menma selanjutnya mmbuatnya berhenti sebentar.

"Mungkin kalau senpai ingin tau hal yang disukai Nii-chan, senpai bisa pergi mengikutinya nanti ketika pulang sekolah dan juga jangan memanggilku dengan suffix -chan. Aku laki-laki tulen!"teriak Menma sedikit menggema karena kantin saat ini sudah mulai sepi dan untungnya hanya beberapa orang yang mendengar teriakan memalukan darinya barusan. Dan yang diajak bicara pun sudah pergi bak ditelan bumi yang membuat Menma swetdrop karena kecepatan menghilang senpai-nya sangatlah cepat.

'Apa tadi dia mendengar ucapanku ya? 'Batinnya bingung.

Sedangkan di koridor yang menuju kelasnya, terlihat Shion sedang berjalan sambil merenungkan kata dari Menma barusan. "Mengikuti Namikaze-kun, yang berarti aku menjadi stalker? Dan resiko bila ketahuan adalah dibenci oleh Namikaze-kun atau yang lebih buruk aku akan dicap sebagai 'gadis penguntit yang aneh' dan bisa-bisa reputasiku di sekolah bisa hancur. Arghh...apa yang harus kulakukan?"ucap Shion yang sedang stres sambil mengacak-acak rambut pirangnya.

"Tidak ada cara lain, selain menggunakan cara itu!"ucapnya dengan semangat berapi-api.

.

.

Change scene with Naruto

.

.

Sedangkan saat ini tokoh utama kita sedang asik membolak-balik buku catatannya guna mengecek apa ada yang ia lupakan. Tanpa sepengetahuannya, siswa laki-laki dikelasnya saat ini menatapnya penuh iri dan tidak terima karena masalah pembagian kelompok tadi. Tanpa aba-aba, seorang siswa berjalan kearahnya...

Tap tap tap

Brak

"Oi Namikaze!"bentak remaja tersebut sambil menggebrak meja yang ditempati Naruto dan hal tersebut sukses membuat sang pemilik meja terkaget karena shock therapy dadakan barusan.

"Hmm...nani?"tanyanya dengan acuh, karena fokusnya masih pada buku catatannya. Apalagi alat tulisnya yang berhamburan gara-gara ulah pemuda yang menggebrak mejanya tadi, sedangkan pemuda yang menjadi tersangka penggebrakan tadi pun tersulut emosi karena dirinya diacuhkan oleh Naruto.

"Kalau ada yang berbicara denganmu itu lihat orang-nya, jangan malah asik sendiri!"

Srett

Tanpa diduga, pemuda tadi menarik kerah seragam milik Naruto dan tentunya membuat empu-nya terseret dan secara terpaksa pandangan mereka bertemu. Murid lain yang melihat kejadian tersebut hanya diam menonton tanpa ada rasa ingin melerai ataupun melaporkan kejadian tersebut pada guru mereka. Murid laki-laki yang melihat hal tersebut pun ada yang tersenyum dan ada yang menatap bosan, karena menurut mereka hal tersebut hanya membuang-buang tenaga.

Sedangkan murid yang tersenyum adalah mereka yang memiliki rasa benci kepada Naruto. Sifat benci memang hal yang alami ada pada diri setiap manusia, hanya saja sifat tersebut tidak dapat dikontrol agar tidak keluar secara tiba-tiba. Dan sifat benci adalah akar dari seribu kemungkinan masalah yang terjadi setelah munculnya rasa benci. Namun, apakah sifat tersebut memang dapat mempengaruhi manusia dengan mudah? Jawabannya tergantung.

Yap tergantung, semua itu tergantung pada manusia itu sendiri. Bila ia mudah tersulut emosi dan pemikirannya dangkal, pastilah dia dengan mudah terpengaruh hal-hal negatif yang dipusatkan padanya. Dan bila tidak, emm...sebagai contoh adalah Naruto. Saat ini pemuda Namikaze tersebut hanya memandang tidak peduli pemuda yang sedang menarik kerah seragamnya.

Tatapan penuh kebosanan dan tatapan tidak memiliki semangat untuk meraih apapun, itulah yang saat ini terlihat didalam manik sapphire tersebut. Sedangkan pemuda yang menatapnya tetap tidak bergeming dan masih menatap penuh benci pada Naruto.

"Urusanmu apa hingga kau menggangguku seperti ini?"ganti nada dingin nan menusuk keluar dari mulut pemuda pirang tersebut, sedangkan yang ditanya hanya meneguk ludah kasar karena nada dingin dan tatapan datar sedang terarah padanya. Tapi karena tidak ingin dipecundangi, pemuda tersebut memberanikan dirinya melawan intimidasi dari Naruto.

"J-jangan senang karena kau bisa sekelompok dengan murid pindahan itu, orang payah sepertimu tidak pantas satu grup dengan Senju-san dan Gremory-san"ucap pemuda bersurai coklat tersebut pada Naruto tapi hanya dibalas ekspresi bosan nan tidak peduli oleh lawannya.

"Ho...kalau mau kau ambil saja gadis merah itu, aku bisa mengerjakan tugas sendiri. Tidak seperti kalian yang menyedihkan yang hanya bisa memanfaatkan orang lain. Dan juga..."

Naruto menjeda ucapannya dengan menatap lawan bicaranya semakin dingin dari tadi disertai hawa intimidasi yang kuat darinya mengabaikan tatapan benci murid lain karena ucapannya barusan.

"Aku tidak pernah kenal denganmu, jadi jangan seenaknya menyentuhku!"ucap Naruto dengan nada berat sambil melepaskan cengkaraman dari kerah bajunya. Sedangkan pemuda tadi terdiam karena ucapan Naruto barusan, pemuda tersebut tersentak dengan ucapan Naruto barusan yang berarti Naruto sama sekali tidak ingat maupun kenal dengan teman sekelasnya. Hal tersebut membuat yang lain juga menatap Naruto tidak percaya, mereka seakan tidak pernah saling mengenal dan memang tidak ingin mengenal satu sama lain.

Bagi Naruto semua orang yang berada dikelasnya hanyalah orang asing yang tidak ia kenal dan tidak ingin ia kenal, karena memang ia tidak ingin terikat dengan sebuah hubungan yang bernama 'pertemanan'. Karena baginya hubungan seperti itu hanyalah hubungan palsu yang terasa manis diawal dan meragukan diakhir. Maka dari itu Naruto tidak pernah bergaul apalagi berteman dengan seseorang, ia tidak percaya bahwa hubungan yang bernama 'pertemanan' dapat membuat pribadi seseorang menjadi lebih baik.

Yang ada hanyalah pengkhiantan yang akan didapat bila terlalu percaya pada seseorang, sebanyak-banyaknya ikatan yang manusia buat pada akhirnya mereka akan sendiri. Jadi tidak perlu melakukan hal yang merepotkan seperti mencari sebuah teman ataupun kekasih, karena pada akhirnya kita semua akan sendiri dan lebih baik mengerjakan semuanya sendiri karena hal tersebut lebih efisien dan lebih cepat selesai.

Selama ini Naruto mempercayai itu dan menerapkannya, dan hasilnya ia lebih sedikit berinteraksi dan semua yang ia kerjakan cepat selesai tanpa ada gangguan apapun. Baik itu dari keluarganya maupun orang tidak jelas yang berada disekitarnya, dan inilah kehidupan yang ia inginkan tidak muluk-muluk. Tidak ada orang yang mengusik hobi dan kehidupannya, itu lebih dari cukup dan ia tidak meminta hal yang aneh-aneh lagi. Setelah mendengar ucapan Naruto barusan, pemuda tadi meninggalkan meja Naruto dengan perasaan kesal dan murid yang lain bubar dengan rasa benci kepada Naruto. Sedangkan Naruto cuek saja dan melanjutkan kegiatannya yang tertunda gara-gara kejadian tadi.

'Dasar bodoh, hidup ini tidak pernah adil. Maka dari itu biasakanlah, hanya karena aku sekelompok dengan gadis baru itu dia ingin mengajakku berkelahi. Bila setiap orang memiliki pemikiran dangkal sepertinya, bisa-bisa rusak bumi ini'batin Naruto kesal sambil membaca buku catatannya.

Tidak lama kemudian masuklah Shion dan Rias yang tanpa sengaja bersamaan, mereka berdua saling bertatapan karena melihat suasana yang canggung entah karena apa. Tapi karena sudah memasuki jam pelajaran, mereka berdua pun berjalan menuju tempat duduk masing-masing tanpa perduli tatapan tidak suka yang mengarah lada Naruto.

.

.

Skip time

.

.

Teng tong teng tong

"Baiklah anak-anak, kerjakan tugas yang sensei berikan tadi dan sampai jumpa minggu depan"ucap guru sejarah yaitu Kurenai kepada murid 2C.

"Hai' sensei!"ucap mereka serentak, serlah itu mereka pun berhamburan keluar kelas karena sudah jam pulang. Tidak terkecuali pemuda pirang yang saat ini sedang melihat layar smartphone milikknya, terlihat Naruto sangat serius menatap layar smartphone-nya. Entah apa yang ia lihat tapi raut wajah serius tidak luntur pada wajahnya, Shion yang melihat Naruto masih berada di bangkunya pun berjalan mendekatinya.

Tap tap tap

"A-anoo Na-namikaze-kun"ucap Shion sedikit keras agar mendapat perhatian dari pemuda pirang tersebut.

"Hmm...masih ada waktu untuk ke toko buku setelah itu kerja part time-ah ada apa Senju-san?"tanya Naruto yang sedikit terkejut karena Shion yang sudah berada didepannya. Sedangkan yang ditanya pun gugup karena ditatap intens oleh Naruto.

"A-anu, apa setelah ini kamu sibuk? Kalau tidak aku ingin mengajak Namikaze-kun jalan-jalan dulu, bagaimana?"tanya Shion sambil menunduk dengan tangannya yang meremas ujung rok-nya karena gugup. Saat ini hari dimana seorang Shion mengajak pemuda yang disukainya untuk jalan-jalan yang dalam artian 'kencan terselubung'.

Naruto yang mendengar ajakan dari Shion pun sedikit berpikir untuk menerima ataupun menolak ajakan gadis Senju tersebut. 'Hmm...kalau dilihat lagi, aku masih ada waktu beberapa menit untuk berjalan-jalan dan ke toko buku baru ketempat kerja. Tapi bila dengan Senju-san, pasti merepotkan. Tapi tidak enak bila menolak ajakannya, hahhh...mungkin sekali ini saja lah'batin Naruto menghela nafas berat.

"Baiklah, tapi sebelum itu aku ingin ke toko buku untuk membeli sesuatu"ucapnya sambil berjalan keluar dan Shion yang mendengarnya pun menatap punggung Naruto tidak percaya karena ajakannya diterima.

"Uhm-"tapi belum ucapannya selesai sebuah suara menginstrupsi membuat langkahnya dan Naruto terhenti.

"Are, futari-san mau kemana? Kalau kudengar tadi, kalian akan jalan-jalan ya? Apa aku boleh ikut?"ucap sekaligus tanya seorang gadis bersurai crimson pada Naruto dan Shion. Sedangkan Shion yang mendengar suara gadis tersebut pun mengepalkan tangannya.

"Gomen, tapi aku tadi hanya mengajak Namikaze-kun saja. Jadi dirimu tidak boleh ikut Gremory-san"ucap Shion sedikit dingin karena melihat saingannya sesang tersenyum aneh kepadanya. Senyum meremehkan yang tentunya membuat harga dirinya seperti diinjak-injak.

"Bukannya tidak boleh, tapi yang dikatakan Senju-san tadi ada benarnya Gremory-san. Gomennasai"ucap Naruto dengan sopan, walaupun itu hanya alibinya. Karena berjalan dengan Shion saja sudah pasti merepotkan. Apalagi ditambah gadis tanpa rasa malu, yaitu Rias ikut juga. Pasti sangat merepotkan.

"Naru-kun hidoi desu, padahal aku kan juga ingin melihat-lihat kota ini"ganti Rias membalas ucapan Naruto dengan berpura-pura menangis, membuat Naruto sedikit tidak enak sedang Shion yang melihat akting Rias pun menatapnya tidak suka. Untung saat ini keadaan kelas sudah kosong, hanya menyisakan Naruto,Shion, dan Rias saja jadi tidak ada yang melihat percakapan mereka bertiga.

"Ahh...baiklah, hanya sekali ini saja dan juga tolong panggil aku dengan margaku Gremory-san" Naruto pun mengalah dan membiarkan Rias ikut dan Shion yang mendengarnya pun terpaksa mengikuti keputusan Naruto walaupun ada sesikit rasa tidak suka dengan sikap Rias yang seenaknya saja.

"Hee~~ bukannya lebih enak bila kupanggil dengan nama depanmu Naru? Kamu juga tidak apa-apa memanggilku dengan nama depanku"ucap Rias dan hanya dibalas tatapan datar oleh Naruto.

"Gomen, tapi kita tidak saling kenal. Maka dari itu aku ingin ada sikap saling menghormati diantara kita, jadi tolong mengertilah"ucapnya sambil berjalan keluar kelas, Shion yang melihat Naruto berjalan keluar pun juga mengikutinya. Sedangkan Rias yang mendengar ucapan Naruto barusan pun tersentak dan menundukkan kepalannya, ekspresinya saat ini jadi tidak terlihat karena tertutupi poni rambutnya.

"Tidak saling mengenal ya...mungkin kamu melupakannya Naru"

Tes

tanpa diketahui siapapun, setetes air mata jatuh dari manik blue-green dari gadis Gremory tersebut.

.

.

.

Flashback Off ama Naruto Pov on

.

.

.

Kupikir tadi yang Senju-san maksud jalan-jalan adalah berjalan santai di taman yang tenang dan damai, bukan seperti ini.

"Namikaze-kun/Naru-kun, ayo kita coba kesana!"

Naruto Pov off

"Namikaze-kun/Naru-kun, ayo kita coba kesana!"Terlihat dua orang gadis sedang berjalan dengan semangatnya menuju stand penjual crepe yang ada dipusat perbelanjaan di Kuoh. Sedangkan pemuda yang berjalan dibelakang gadis-gadis tadi hanya mnghela nafas kasar.

"Oii! Apa yang kalian lakukan hah!?"ucapnya menahan rasa jengkel karena sikap dua gadis tersebut yang kekanak-kanakan dan seenaknya saja tanpa memikirkan dirinya.

Dengan terpaksa Naruto pun mengikuti dua gadis tersebut pergi, rata-rata mereka mendatangi stand makanan yang ada disana. Naruto pun sesekali melirik jam-nya karena setelah ini ia harus pergi ke tempat kerjanya.

.

.

Skip time

.

.

Setelah mendatangi semua stand makanan yang ada di pusat perbelanjaan tersebut, mereka bertiga pun beristirahat dibangku taman yang letaknya tidak jauh dari pusat perbelanjaan tadi. Terlihat raut kelelahan tercetak jelas diwajah Naruto saat ini, bahkan tidak itu saja. Antara menahan amarah,kesal,dan sebagainya sedang bercampur aduk dalam dirinya.

"Hari ini menyenangkan sekali ya, Naru"ucap Rias dengan tersenyum dan mnggenggam erat tangan kiri Naruto, sedangkan Shion yang melihat tingkah Rias pun tidak mau kalah.

"Uhm, bila ada waktu senggang ayo jalan-jalan lagi Namikaze-kun?"ucap Shion yang balas menggenggam tangan kanan kanan Naruto.

Naruto yang menjadi korban sifat egois dua gadis tersebut pun merasa risih, menatap lurus kedepan dan melepaskan genggaman sepihak dua gadis tersebut sambil berkata dengan nada datar nan dingin.

"Tolong jangan salah paham dulu, ini terakhir kalinya aku menuruti kemauan egois kalian dan tidak ada kata lain kali. Dan untukmu Gremory-san, tolong jangan panggil aku dengan panggilan yang terkesan kita sudah mengenal lama"ucap Naruto sambil berdiri berniat pergi dari sana.

"Tapi Naru! Apa kamu sama sekali tidak mengingatku?!"balas Rias agak keras sambil menarik ujung blazer seragam Naruto membuat empunya terhenti, tak sedikit pengunjung taman yang berhenti karena mendengar ucapan Rias barusan. Sedangkan Shion hanya diam karena ia juga penasaran tentang hubungan Naruto dan Rias. Semua orang yang berhenti pun menunggu jawaban dari Naruto,sedangkan pemuda pirang tersebut hanya diam sambil memutar otak. Apa ada sebuah kejadian yang pernah ia lewatkan.

'Percuma, aku tidak ingat pernah bertemu maupun kenal dengan gadis ini'batin Naruto menyerah, karena memang dia tidak pernah bertemu dengan Rias. Atau mungkin gadis Gremory itu yang salah orang? entahlah.

"Gomen, setelah kuingat-ingat memang aku tidak mengingatmu Gremory-san. Atau mungkin dirimu salah orang? Karena wajahku sangatlah pasaran dan untuk tugas dari Azazel-sensei akan kukerjakan jadi kalian bertiga tidak perlu repot untuk memgerjakannya"ucap Naruto sambil berjalan menjauh menuju tempat kerjanya.

Deg

"Tapi Namika-"belum selesai Shion berbicara, ucapannya sudah disela oleh Naruto.

Deg

"Tolong mengertilah Senju-san"balas Naruto dingin.

Rias Pov On

Apa hanya sampai disini saja? Setelah semua yang kulewati untuk mencarinya, apa sampai sini saja?. Senyumannya,tawanya, dan caranya untuk menghiburku masih teringat jelas dikepalaku, apa baginya hari-hari yang telah kami berdua lewati hanya mimpi belaka?. Tidak! Setelah bertemu dengannya tidak mungkin aku menyerah begitu saja. Ya, aku harus mengejarnya..

Tap tap tap

"Gremory-san kau mau kemana?" suara ini, suara dari sainganku untuk mendapatkan orang yang berharga bagiku. Aku tidak akan kalah darinya!

"Pulang, aku lelah"sedikit membohonginya tidak apa-apa kan?

"Oh baiklah, sampai jumpa dikelas besok"

Akhirnya sainganku pergi, baiklah mari kita ikuti kemana perginya pemuda keras kepala itu.

Rias Pov Off

Setelah Shion pergi, Rias segera berjalan mengikuti jalan yang dilewati Naruto tadi, yap dia berniat mengikuti kemana Naruto pergi. Dan dengan semangat Rias berjalan sedikit cepat agar tidak ketinggalan jejak pemuda Namikaze tersebut, tanpa disadari dari jauh terlihat dua orang remaja sedang melihat interaksi mereka bertiga dari tadi.

"Nii-chan, sejak kejadian ketika kita masih kecil dia jadi menutup diri dan tidak pernah mau bergaul dengan seseorang. Tapi aku merasa familiar dengan senpai berambut merah tadi, bagaimana menurutmu Naru-nee?"tanya pemuda bersurai orange yang tidak lain adalah Menma dan disebelahnya berdiri seorang gadis bersurai pirang diikat twintail A.k.a Naruko.

"Uhm...aku juga merasa familiar dengannya, tapi aku tidak ingat siapa. Ahh, ayo kita ikuti mereka berdua"ucap Naruko sambil berlari meninggalkan Menma yang masih berdiri ditempat karena masih mengingat-ingat tentang Rias.

"Tunggu, dia kan..."

.

.

Change scene with Naruto

.

.

Setelah kejadian tadi, Naruto masih berjalan sambil mengingat-ingat tentang Rias. Tapi seperti tadi, ia tidak ingat apapun hal yang berhubungan dengan gadis Gremory tersebut. Yang paling Naruto ingat adalah kejadian Menma yang hampir tertabrak mobil, selain itu ia tidak ingat apapun. Ketika Naruto hendak melewati minimarket, sebuah suara memanggil dirinya.

"Namikaze-san"ucap pemilik suara tersebut yang sepertinya seorang gadis.

"Are Shinra-san? Tumben masih disini? Apa kamu absen kerja hari ini?"tanya Naruto kepada Tsubaki yang baru keluar dari minimarket sambil berjalan kearahnya. Tsubaki yang ditanya pun mendudukkan diri pada kursi yang ada di minimarket tersebut.

"Ahh...pasti bos tidak membaritahumu Namikaze-san, begini untuk 3 hari kedepan kita diliburkan karena bos sedang mengambil cuti untuk berlibur"jelas Tsubaki pada Naruto sedangkan yang dijelaskan sedang blank dengan ekspresi tidak percaya.

"Nani? Bos cuti 3 hari dan aku tidak diberi tau. Hahhh...dasar bos kita selalu saja"ucapnya sambil menghela nafas kasar yang membuat Tsubaki tertawa karena wajah yang diperlihatkan Naruto saat ini.

"Pft...pft...Namikaze-san ternyata kamu lucu juga bila seperti ini"ucap Tsubaki sambil menahan tawa karena ekspresi konyol Naruto barusan.

"Huhh, memangnya biasanya aku seperti apa sampai kamu bilang seperti itu, Shinra-san?"ganti Naruto bertanya kepada Tsubaki.

"Biasanya kamu tidak seperti ini, Namikaze-san yang kukenal orangnya serius,bisa diandalkan, dan cekatan. Jadi ketika kamu bersikap lucu seperti ini membuatku terkejut, oh iya aku lupa. Bos juga menitipkan gajimu bulan ini Namikaze-san"Tsubaki pun menyerahkan sebuah amplop kepada Naruto yang berisi gajinya bulan ini. Seketika mata Naruto berubah menjadi terang dengan mulutnya mengeluarkan air liur dan tentu saja ekspresinya yang OOC itu membuat Tsubaki tertawa.

"Hahahahaha, sebegitu inginnya kamu dengan ini Namikaze-san?"ucap Tsubaki sambil sedikit menggoda Naruto dengan memaju-mundurkan amplop yang berisi uang tadi, membuat Naruto tidak bisa mengambilnya.

"Uang...uang...uang...ayolah Shinra-san, tapi ngomong-ngomong sekarang tanggal berapa kok bos sudah memberi kita gaji?"tanya Naruto sambil berkerut dahi. Sedangkan Tsubaki yang melihat perubahan ekspresi Naruto pun menaruh amplop tadi dimeja yang memisahkan dirinya dan Naruto.

"Kamu lupa Namikaze-san, sekarang lima hari sebelum akhir bulan Maret dan karena bos mengambil cuti 3 hari yaitu Rabu,Kamis,Jum'at lalu Sabtu dan Minggu kita libur makanya kita diberi gaji hari ini?"terang Tsubaki sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Ohh"balas Naruto sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Mereka pun bercakap-cakap ria tanpa menyadari dibalik tiang yang tidak jauh dari sana, seorang gadis bersurai crimson memperhatikan perbincangan mereka.

"Kenapa Naru bisa sesenang itu ketika berbicara dengan gadis itu? Kalau dilihat-lihat rupa gadis itu lumayan manis juga, akkhh...kenapa sainganku bertambah lagi?"ucap stres Rias sambil mengacak-acak surai crimson miliknya. Ketika asik memata-matai Naruto, sebuah tangan menepuk pundaknya.

Puk

"Akh"pekik Rias terkaget, ketika dirinya berbalik manik blue-green-nya menangkap sepasang remaja berbeda gender dan surai sedang menatapnya. Ekspresi kedua remaja tersebut berbeda, yang pemuda bersurai orange sedang tersenyum kearahnya sedangkan gadis disebelahnya menatap dirinya penasaran.

"A-ano, ada perlu apa ya? Dan kalian berdua siapa?"tanya Rias gugup, takut kegiatan menguntitnya ketahuan.

"Gremory-san desu yo ne"ucap pemuda bersurai orange yang tidak lain adalah Menma, sedangkan Rias yang ditanya pun mengangguk kaku.

"Apa senpai ingat aku?"tanya Menma sambil tersenyum polos selerti bayi, Rias yang ditanya pun memasang pose berpikir. Beberapa menit kemudian ia tersenyum yang membuat Menma ikut tersenyum.

"Dare?"

Menma yang mendengar ucapan Rias barusan pun swetdrop dengan Naruko yang menahan tawa karena sifat Menma yang sok kenal.

"Pft...pft...pft...sifat sok akrabmu itu membuatku ingin tertawa Menma, ano...senpai ingat kami berdua"ulang tanya Naruko yang tetap mendapat gelengan kepala dari Rias.

"Senpai aneh sekali, bisa mengingat Naru-nii tapi tidak ingat kami berdua"ucap Naruko pura-pura ngambek yang membuat Rias tiba-tiba tersentak karena baru mengingat sesuatu.

"Naru-chan,Menma-chan! Itu kalian berdua?"ucap Rias histeris sambil memeluk Menma dan Naruko bersamaan, sedangkan yang dipeluk pun tersenyum.

"Entah kenapa sudah dua kali ini aku dipanggil dengan suffix -chan oleh senpai-senpai yang menyukai nii-chan"ucap Menma sambil tersenyum kecut, namun tiba-tiba Rias melepaskan pelukannya dan salting katena ucapan Menma yang blak-blakan tadi.

"Si-siapa yang me-me-menyukai nii-chanmu, Menma-chan?"ucap Rias menyangkal tapi berbanding terbalik dengan wajahnya yang sudah memerah padam.

"Ohh, kalau begitu kenapa akai-neesan ada disini?"tanya Naruko sedikit menggoda Rias dan yang digoda pun menjadi semakin gelagapan karena niatnya hampir ketahuan oleh adik pemuda yang disukainya.

"A-a-aku hanya kebetulan lewat sini, ya hanya kebetulan saja"

Menma yang mendengar ucapan Rias barusan pun hanya memasang wajah polos-tidak-tau-apa-apa-milik-nya dan bertanya denga menunjuk kearah Naruto yang sedang mengobrol dengan Tsubaki.

"Tapi disana ada nii-chan dengan gadis lain sedang mengobrol, dan berarti akai-neesan sedang menguntit nii-chan dayo ne"ucap Menma polos sambil tersenyum lima jari yang tentu saja membuat Rias tidak bisa beralasan lagi.

"Hahh...ne akai-neesan, lebih baik Nee-san ikut kami pulang untuk bertemu dengan Tou-san dan Kaa-san kami, mereka berdua pasti terkejut bila melihat Nee-san ada di Jepang"ucap Naruko sambil menyeret tangan kanan Rias.

"Eh, bertemu Kushina-baasan dan Minato-jiisan? Tapi Naru-"belum selesai Rias berbicara, ucapannya telah dipotong oleh Naruko lagi.

"Tenang saja Nee-san, kalau soal Naru-nii sebentar lagi dia juga pulang karena cafe tempatnya bekerja sedang libur selama 3 hari kedepan"jelas Naruko panjang lebar.

"Hontou?"tanya Rias antusias.

"Uhm"

"Tapi bagaimana kalian tau"tanya Rias penasaran karena informasi dari Naruko barusan.

"Kami punya mata-mata sendiri dan lagipula itu tidak penting Nee-san. Ayo pulang kerumah kami"ucap Menma ikut-ikutan menarik tangan kiri Rias, yang ditarik pun pasrah dan mengikuti kemana dirinya dibawa pergi.

Change scene at Naruto

"Hahh"hela nafas kasar Tsubaki yang membuat perhatian Naruto terarah kepadanya.

"Kamu kenapa Shinra-san? Kelihatannya kamu kelelahan sekali"ucap Naruto sambil melihat Tsubaki yang memijit kening dan bahu-nya bergantian.

"Saat ini OSIS sedang sangat sibuk, karena saat ini petugas perpustakaan sedang kosong. Karena petugas sebelumnya mengundurkan diri karena sudah kelas 3, jadi kami sibuk mencari penggantinya. Tapi sampai sekarang kami tidak menemukan penggantinya, hahh"jelas Tsubaki panjang lebar sedangkan Naruto sedikit tertarik dengan apa yang diucapkan Tsubaki barusan.

"Memangnya sesulit itu mencari pengganti petugas perpustakaan ya Shinra-san?"tanya Naruto sedikit memancing Tsubaki agar menjelaskan secara rinci tentang ucapannya barusan.

"Sangat sulit Namikaze-san! Di zaman yang para remaja-nya lebih tertarik kepada hal-hal seperti karaoke,game center, dan berkumpul di cafe, jadi tugas sebagai petugas perpustakaan menurut mereka sangatlah membosankan. Mereka berpikir kalau menjadi petugas perpustakaan hanya sebatas menjaga ruang perpustakaan dan men-data buku-buku yang ada disana saja, padahal menjadi petugas perpustakaan ada manfaatnya"jelas Tsubaki tanpa panjang lebar tanpa berhenti membuat Naruto swetdrop karena kekuatan bernafas dari gadis tersebut.

"Memang benar sih, saat ini para remaja lebih tertarik pada hal-hal yang tidak penting"ucap Naruto sambil menaruh dua kaleng minuman yang berisi teh yang baru ia ambil dari mesin minuman yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.

"Oh iya, ngomong-ngomong Namikaze-san mengikuti klub apa?"tanya Tsubaki sambil membuka kaleng yang ditaruh Naruto tadi.

"Aku tidak mengukuti klub apa-apa"ucap Naruto sambil meneguk minumannya.

"Kalau begitu-"ucap semangat Tsubaki terpotong karena ucapan Naruto yang sambil tersenyum.

"Ok...ok...aku tau arah pembicaraan ini, aku akan mengajukan diri menjadi petugas perpustakaan. Lagian menjadi petugas yang menjaga ruang perpustakaan yang besar dan seorang diri sepertinya menyenangkan daripada aku duduk tidak jelas dikelas"ucap Naruto sambil tersenyum.

Sret

Tanpa diduga Tsubaki langsung menggenggam tangan Naruto dan berjabat tangan dengannya.

"Arigatou Namikaze-san, dengan ini tugas kami menjadi sedikit lebih ringan"ucap Tsubaki sambil tersenyum manis dan tulus membuat Naruto blushing.

"A-ah doitashimashite"balasnya gugup sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. Ketika Naruto melihat jam dilayar ponselnya ia pun tersentak.

"Sudah mulai petang Shinra-san, lebih baik kita pulang sekarang"ucap Naruto yang mendapat respon anggukan kepala oleh gadis tersebut dan yang membuatnya terkejut adalah arah jalan pulang mereka ternyata searah dan selama ini Naruto tidak tau karena memang ia tidak mau tau.

"Sungguh kebetulan sekali ternyata kita searah ya, Namikaze-san?"ucap Tsubaki memulai percakapan, sedangkan Naruto hanya tersenyum kikuk.

"A-ahh, aku juga baru menyadarinya. Ahahaha"

'Ahh...sebenarnya aku juga tidak pernah memperdulikan sekitar dan orang lain sih, makanya aku baru sadar sekarang. Matte, aku baru ingat kalau tadi aku berniat mampir ke toko dulu, ahh...nanti beli lewat online saja lah'batin Naruto.

"Ahh, tapi kalau tidak salah Namikaze-san memiliki dua adik kembar ya?"tanya Tsubaki lagi karena ia merasa canggung dengan suasana mereka saat ini.

'Kyahh...kenapa aku jadi sok akrab begini, apa Namikaze-san menganggapku aneh ya?'batin Tsubaki resah tapi tertutupi dengan sifat kalemnya.

"Yahh, walapun tudak bisa dibilang kembar sih...tapi bagaimana kmu tau Shinra-san?"tanya Naruto dengan ekspresi penasaran yang langsung membuat Tsubaki berkeringat dingin, tapi lagi-lagi tertutupi dengan sifat kalemnya.

"Kalau itu, baru kemarin OSIS mendata para murid untuk beberapa hal dan tanpa sengaja aku melihat data dua orang kouhaikita yang nama belakangnya Namikaze"balasnya dengan alasan yang logis agar Naruto tidak curiga dan hebatnya Naruto mempercayainya.

"Anu...etto...aku memiliki saran tentang cara kita memanggil nama kita agar tidak ribet, karena jujur aku kasihan padamu Shinra-san karena harus memanggilku dengan nama margaku yang terlalu panjang itu. Ahh...tentu saja kalau Shinra-san menyetujuinya"usul Naruto dengan gugup karena baru pertama kali ini dirinya memperbolehkan seseorang memanggilnya dengan panggilan khusus yang dibuat seseorang yang mengartikan bahwa mereka sudah berhubungan dengan baik.

Sedangkan Tsubaki yang mendengar ucapan Naruto barusan pun terdiam tidak percaya. "U-uhm, aku setuju. Lagian jujur aku kesulitan bila harus memanggilmu Namikaze-san"ganti Tsubaki yang menjawab dengan malu-malu, karena dirinya juga baru pertama kali mendapat panggilan khusus dari seseorang.

"Jaa, kalau begitu kamu bisa memanggilku Naruto dan kalau boleh apa aku bisa memanggilmu Tsu-tsubaki-san?"tanya Naruto dengan wajah yang sudah memerah karena menahan malu.

"B-boleh, kalau begitu aku memanggilmu Naruto-san desu yo ne"balas Tsubaki.

Merekapun berjalan dibawah senja menjelang petang bersama-sama dengan ditemani obrolan ringan untuk mengusir kebosanan diperjalanan, sesekali terlihat mereka berdua tersenyum sampai tertawa karena candaan masing-masing. Tak terasa ketika mau melewati perempatan, mereka pun berpisah karena rumah Tsubaki harus belok kiri sedangkan rumah Naruto tetap lurus.

"Kalau begitu aku duluan Naruto-san, mata ashita"ucap Tsubaki sambil melambaikan tangan kearah Naruto.

"Uhm, mata ashita"balasnya yang sama-sama melambaikan tangan kearah Tsubaki. Ketika gadis tersebut telah hilang dari pandangannya, Naruto pun kembali meneruskan perjalanan pulangnya

Naruto Pov On

Aneh sekali, bila aku mengobrol dengan Tsubaki-san, aku measa cocok dengannya. Tidak seperti ketika aku berbicara dengan gadis Senju dan Gremory itu, aku merasa kalau kami memiliki pemikiran yang sama. Kami berdua bisa saling menghormati dan bisa saling mengutarakan pendapat satu sama lain.

Apa ini yang disebut teman? Saling bertukar pikiran, bercanda, dan menghabiskan waktu bersama. Padahal menurutku semua bakal lebih mudah bila kulakukan sendiri ahh...atau mungkin cuma Tsubaki-san saja yang sepaham dengan pemikiranku.

Tap tap tap

Are, kenapa didepan rumah kami ada mobil ya? Kalau tidak salah jam segini Tou-san dan Kaa-san masih belum pulang kerja? Atau ada tamu? Akhh...kenapa aku harus pusing memikirkannya? Ada tamu dan tidak ada tamu bukanlah urusanku, lebih baik aku segera masuk dan mandi.

Cklek

"Tadaima"

Naruto Pov Off

"Tadaima"ucap Naruto sedikit lirih dan pandangannya pun melihat ada sepatu yang lumayan banyak yang berarti memang ada tamu dirumah mereka.

"Okaeri, ahh...Naruto kamu sudah pulang?"ucap wanita bersurai merah yang tidak lain adalah ibunya, Namikaze Kushina.

"Uhm, tempatku bekerja sedang libur 3 hari jadi aku bisa sedikit santai untuk 3 hari kedepan"ucap Naruto sambil menaruh sepatunya dirak dan berjalan masuk.

"Apa kita kedatangan tamu? Didepan ada mobil yang pasti bukan milik Tou-san dan ada banyak sepatu disini dan tumben kalian sudah ada dirumah jam segini tidak dikantor?"tanya Naruto sambil melihat kearah sepatu tadi.

"Oh, kita memag kedatangan tamu. Bos sekaligus teman lama Tou-sanmu sedang berkunjung karena baru tiba di Jepang kemarin, makanya kami berdua dapat libur hari ini"jelas Kushina panjang lebar dan hanya dibalas "oh" saja oleh Naruto dan tanpa pikir panjang Kushina segera menatik Naruto keruang tamu untuk bertemu dengan tamu mereka.

Ketika sampai, betapa kaget dirinya ketika tamu mereka adalah...

"Oh...kita bertemu lagi, Naru"

Tbc

Yo, ketemu lagi di chapter ini dan ane akan menjelaskan sedikit tentang Naruto. Ekhem, disini Naruto saya buat orangnya sangat kaku dan anti sosial (karena saya ambil dari pengalamanku) dan disini Naruto bukannya pilih-pilih orang untuk dia percaya kayak tadi pas scene sama Tsubaki. Dia hanya terbuka pada orang yang sama sopannya dengan dia, makanya ketika ama Shion dan Rias dia kubuat sifatnya dingin. Dan memang ini benar-benar dari pengalamanku, dan juga ane mau ambil voting untuk pair-nya Naruto nanti jadi mohon bantuannya ya reader-tachi.

Rias

Shion

Tsubaki

?

Ok, dan untuk yang keempat masih ada satu chara lagi yang akan keluar jadi tungguin aja. Dan juga info kalau fict ane yang kawatta akan kuhapus karena entah kenapa ane bingung dengan alurnya. Ok itu aja dan sampai jumpa di chapter depan.

Unknownman 18 out