Saya kembali lagi readers...
Lagi semangat-semangatnya nih buat bikin fic hehehe...
Kita mulai aja yo readers...
Pertama thanks dulu buat yang udah ngereview :
Billie Joe Armstrong 104, Yoshi, Naru Aii Uchiha, akira, Zack, nona fergie, Aiko Kirisawa, Mikaatharashi
rasanya seneng banget kalo ada yang ngereview walau terkadang isinya ada yang kurang enak, tapi dengan bertambahnya review dan readers justru semakin semangat untuk menulis lagi... yeayy...
Aiko Kirisawa: sebenarnya dari awal saya agak sedikit tertarik untuk masukin salah satu rambut merah ini... (#dicekik)... jadi karena udah terlanjur dimasukkin saya mohon maaf
nona fergie: oh iya aku baru sadar kurang memperhatikan soal waktu (#ngejeplak jidat sendiri), tapi di chapter2 depan akan kuperbaiki lagi, makasih sarannya.
Billie Joe Armstrong 104: sebenernya sih aku berniat balas dendam sama temen aku yang fans berat kankuro entah mengapa... (#muka iblis) jadi dia aku jadikan korban... hahaha... (nanami maafin gue, #sujud depan nanami yang udah nge death glare dari kemarin)
Yasudah maaf karena kebanyakan bacot... ini dia...
.
.
.
Chapter 3: Punishment
"ARRRRGGGHHH!" kankuro jatuh tersungkur di hadapan sakura dengan tangan memegang kepala yang bersimbah darah. Sakura panik dengan apa yang telah ia lakukan, secara tidak sengaja ia mengambil botol minuman di atas meja dan memukulkannya ke kepala kankuro. Sekarang botol itu pecah bertebaran di atas lantai.
Terdengar bunyi derap langkah banyak orang di luar ruangan, sakura sangat panik, dia sadar dia akan terkena masalah...
.
.
.
Unwanted Meeting
Disclaimer Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Hurt/Comfort
Warning: OOC, AU, typo di mana-mana.
Don't like? Just don't read
.
.
Sakura jatuh terduduk, matanya berkaca-kaca, kepalanya terus berpikir 'apa yang harus kulakukan?'. sementara itu derap langkah di luar yang semakin mendekat membuatnya semakin panik. Dia tak beranjak sedikit pun dari tempatnya ketika seseorang menggedor pintu kamar itu,
"Tuan kankuro, anda tidak apa-apa?" suara seorang lelaki yang secara tergesa-gesa datang dari balik pintu. Sementara yang dipanggil masih merintih kesakitan di atas lantai.
'gawat itu suara chouji!' sakura yang menyadari siapa pemilik suara itu menggenggam tangannya menguatkan diri agar tidak menangis. Dari pendengaran sakura dia menyadari bahwa di balik pintu tidak hanya ada chouji seorang. Dia merasa sepertinya sebentar lagi pintu akan didobrak, orang yang diluar pun akan memaksa untuk masuk.
BRUAKKKHH...
Benar saja, suara pintu di dobrak bersama beberapa orang masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru. "Aw, apa yang telah terjadi sakura?" nyonya tsunade berteriak saat mendapati keadaan di dalam ruangan. Sakura terduduk dengan pandangan kosong dan wajah yang berlinang air mata sementara itu di hadapannya kankuro yang terbaring di lantai dengan bersimbah darah yang mengalir dari kepalanya sedang merintih kesakitan. Ino dan shion, teman-teman sakura, segera mendekat ke arah sakura dan menenangkannya. Sedangkan chouji, tsunade dan beberapa tamu lain yang tadi datang bersama kankuro berlari ke arah kankuro.
Kankuro yang masih tersadar lalu mengumpulkan kekuatannya, lalu menunjuk ke arah sakura sambil berteriak, "wanita sialan itu telah memukulku, DASAR PELACUR SIALAN! Wanita jalang!" sakura yang ketakutan meringkuk ke arah ino yang berada disebelahnya. Tsunade yang mendengar itu marah sekali dan melemparkan death glare ke arah sakura.
"Chouji, bawa dia ke kamarnya." Tsunade berkata pada chouji dengan emosi yang meledak-ledak. "Maafkan kami tuan kankuro, sungguh ini kesalahan saya yang kurang memuaskan anda." Tsunade lalu meminta maaf pada kankuro.
"Sudahlah! Tak perlu minta maaf! Aku tak kembali lagi ke bar ini. Memuakkan!" kankuro yang dibantu berdiri oleh teman-temannya berkata marah pada tsunade sebelum ia meninggalkan ruangan itu. Bekas luka di kepalanya masih terus mengucurkan darah.
Chouji mendekati sakura dan menarik lengannya paksa, "ayo ikut aku!" ucapnya garang.
"akh..." sakura meringis kesakitan saat chouji menarik tangannya paksa dan meninggalkan tanda merah di lengan sakura.
"pelan-pelan chouji!" shion berkata pada chouji, tak tega melihat perlakuannya pada sakura.
"bukan urusanmu!" chouji menatap tajam shion dan ino. Dia lalu kembali menuntun, lebih tepatnya menggusur sakura secara paksa keluar dari ruangan. Ino dan shion pun mengikuti mereka dari belakang. Sakura yang digusur oleh chouji berjalan tersungkur-sungkur dan juga berusaha menahan sakit di pergelangan tangannya.
Setelah berjalan menyusuri lorong yang penuh kamar itu, chouji berhenti di sebuah kamar yang merupakan kamar sakura dan membukanya dengan kasar. Dia lalu melemparkan sakura ke dalam kamar. "masuk kau! Diam disini sampai nyonya datang!" katanya pada sakura dengan nada memerintah. Ino dan shion yang sejak tadi mengikuti mereka segera berhamburan ke arah sakura begitu melihat chouji pergi dari kamar itu, sepertinya chouji akan memanggil nyonya.
"apa yang terjadi sakura," ino memegang bahu sakura, sedangkan shion duduk di sebelah sakura dan memeluknya untuk menenangkan sakura yang masih menangis.
"aku tak tahu ino, dia sudah terjatuh begitu saja di depanku ketika dia berusaha menciumku. Aku hanya ingat memegang botol minuman yang sudah pecah dan berhamburan ke lantai."
"tenanglah, cobalah untuk menarik nafas dalam-dalam. Sebentar lagi nyonya pasti datang kesini, kau harus bersiap." Ucap shion pada sakura, shion yang sudah pernah terkena kemarahan oleh tsunade merasa khawatir pada sakura. Dia takut hal serupa akan menimpa sakura. Sakura hanya mengangguk dan mengikuti perkataan shion untuk menenangkan dirinya.
Tak lama kemudian tsunade datang bersama chouji memasuki kamar itu. "keluar kalian berdua," ucapnya pada shion dan ino, wajahnya memendam kekesalan yang amat besar, sakura telah membuatnya malu di hadapan para tamu setianya. Shion melepaskan pelukannya pada sakura dan ino beranjak menuju ke pintu keluar, shion mengikuti di belakangnya. Sebelum keluar keduanya memandang sakura khawatir lalu mereka meninggalkan sakura bertiga dengan tsunade dan chouji.
"kau tahu sakura, kau baru saja menghilangkan empat tamu berhargaku," tsunade mendekat ke arah sakura dan jongkok di depan sakura. Wajah sakura begitu ketakutan, dia tidak berani berkata apapun.
PLAKK...
Tsunade menampar wajah sakura dengan kerasnya. Sakura meringis kesakitan dan memegang pipinya yang merah, sudut bibirnya menitikkan darah. Wajah tsunade begitu menyeramkan, sakura hanya dapat menundukkan kepalanya. Tsunade lalu mengangkat dagu sakura dan berkata, "kau harus membayarnya," sakura kaget mendengar kata-kata tsunade. Tsunade berdiri dari tempatnya tadi, sakura yang ketakutan lalu memeluk kaki tsunade.
"ma...maafkan aku nyonya, aku ti... tidak sengaja..." sakura memohon pada tsunade untuk mengampuninya. Tapi tsunade tidak menggubrisnya sama sekali, dia menyingkirkan tubuh sakura dengan menendangnya.
"bereskan dia chouji," satu kalimat yang mengakhiri semuanya. Tsunade lalu duduk di sebuah kursi dekat pintu masuk lalu menuangkan minuman ke gelas yang ada pada botol di atas meja di sebelahnya. Sebentara itu chouji mengepal-ngepalkan tangannya dan menatap sakura dengan picik, dia lalu melepas sabuk yang menempel pada pinggangnya. Sakura ketakutan melihat hal tersebut, dia menggeserkan tubuhnya mundur sampai menyentuh dinding di belakangnya.
Chouji lalu mengangkat tangannya yang memegang sabuk dan,
CTARR...
"AKHH..." dia memukul sakura dengan sabuk itu sampai kulinya memerah dan meninggalkan bekas luka memanjang. Sakura hanya bisa menahan sakit dan memegang pahanya yang dipukul oleh chouji.
CTARR...
Chouji mengulang pukulannya pada sakura dan terdengarlah kembali teriakkan kesakitan sakura. Dia terus melakukannya beberapa kali sehingga di ruangan itu terdengarlah suara pukulan dan teriakkan miris secara bergantian. Sampai akhirnya sakura jatuh pingsan tak kuat lagi menahan sakit. "cukup chouji, ayo kita tinggalkan dia." Ucap tsunade pada chouji, sejak tadi ia memperhatikan apa yang sedang terjadi di ruangan itu dengan senyum puas. Ia lalu meninggalkan ruangan itu diikuti chouji yang menutup pintunya. Mereka meninggalkan sakura yang tersungkur pingsan dengan luka-luka memanjang di sekujur tubuhnya, bahkan beberapa dari luka-luka tersebut mengeluarkan darah.
Menjelang tengah malam, ino dan shion pergi ke kamar sakura untuk melihat keadaannya. Mereka begitu terkejut begitu melihat sakura dan segera berhamburan ke arahnya. "ini lebih parah daripada yang dia lakukan padaku." Ucap shion pada ino. Lalu mereka berdua membopong sakura dan menidurkannya di tempat tidur. Ino mengambil kotak obat yang berada di lemari di seberang kamar itu. Sedang shion mengambilkan baju ganti juga baskom berisi air dan lap untuk membersihkan tubuh sakura yang berlumuran darah dan bir.
Setelah mereka mengganti baju sakura dan membersihkan luka-lukanya, ino membalut luka-luka sakura dengan perban. Lalu mereka terduduk di sebelah sakura yang masih belum sadar dari pingsannya.
"Kasihan dia, padahal ini bukan kesalahannya..." ino hanya bisa meratap sedih melihat sakura. Dia menyelimutinya dengan selimut yang dibawanya dari lemari.
"Sudahlah, kita memang tidak bisa berbuat apa-apa." Ucap shion pada ino. "Sebaiknya kita tinggalkan dia sendiri, dia butuh istirahat." Ino pun mengangguk menyetujui ajakan shion, mereka pun meninggalkan kamar sakura. dalam keadaaan pingsan pun air mata sakura masih mengalir dari ujung matanya.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam ketika naruto kembali mengunjungi kembali bar itu seperti biasa untuk menemui sakura. Dia memesan minuman lalu mencari tempat untuk duduk. Dia terus menanti kedatangan sakura yang biasanya muncul tiba-tiba. Tapi setelah agak lama menunggu sakura tidak kunjung muncul juga, dia merasa gelisah karena waktu yang dipunyainya tidak banyak. Akhirnya dia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan bar itu meskipun harus merasa kecewa tidak dapat bertemu dengan sakura malam itu, karena ada urusan yang harus diselesaikannya.
Di sisi lain ruangan ada ino yang ternyata sedari tadi menyadari kehadiran naruto di bar itu. Dia tahu tentang naruto karena sakura pernah menceritakan tentang lelaki unik yang baru-baru ini dikenalnya dan lelaki itu adalah naruto. Ino pun segera pergi menuju ke kamar sakura untuk menceritakan kedatangan naruto. Saat ino membuka pintu kamar sakura, terlihat sakura yang sudah sadar dari pingsannya tapi masih terduduk lemah di tempat tidurnya. Shion sedang duduk di sampingnya sambil berusaha menyuapi sakura makan langsung melihat ke arah pintu begitu ino masuk. Ino pun berjalan mendekati tempat tidur sakura dan duduk di sampingnya bersama shion.
"Tadi aku melihat lelaki berambut kuning itu datang," ucap ino pada sakura.
"maksudmu naruto, apa dia mencariku?" sakura menatap serius ino, ketika ia menceritakan kedatangan naruto.
"sepertinya iya, dia terlihat kebingungan tadi. Tapi dia sudah pergi lagi karena kau sepertinya tak kunjung datang." Ino menjawab pertanyaan sakura.
"Tak apa, aku tak ingin ia melihatku dengan keadaanku yang seperti ini." Sakura memperhatikan luka-lukanya yang masih terbalut perban, wajahnya berubah sendu. "Jika dia kembali, kuharap kalian tidak menceritakan kejadian ini padanya ya," pinta sakura pada teman-temannya.
"kau menyukainya sakura?" tanya shion tiba-tiba.
"a...aku, tidak tahu," ucap sakura malu-malu, wajahnya memerah.
"menurutku dia pria yang cukup tampan dan badannya juga enak dipandang," goda ino padanya yang membuat wajah sakura semakin memerah.
"baguslah jika kau mempunyai seseorang untuk ditunggu, setidaknya itu akan mempercepat penyembuhanmu," kata shion lagi.
"sekarang kau habiskan dulu makanmu, sejak tadi malam kau terus pingsan dan belum memakan apapun," ino membujuk sakura. shion pun kembali menyuapi sakura yang sempat mogok makan tadi. Mereka berdua merasa lega karena perasaan temannya ini sudah tidak terlalu sedih sejak kejadian kemarin berkat kedatangan naruto meskpun itu hanya sebuah berita dari ino. Sakura pun bersyukur mempunyai sahabat yang baik seperti mereka, dalam pikiran sakura, ia mengiyakan perkataan kedua temannya ini. Ia ingin cepat sembuh agar bisa bertemu lagi dengan naruto.
.
.
.
Keesokan harinya, naruto kembali ke bar itu masih dengan tujuan yang sama yaitu dia ingin menemui sakura. Tapi seperti hari kemarin, ternyata hari ini pun hasilnya nihil, sakura tidak terlihat dimanapun di bar itu. Naruto mulai khawatir sesuatu telah terjadi pada sakura. sejurus kemudian dia baru ingat bahwa dia mempunyai nomor hp sakura, segeralah ia mengambil hp nya dan mengetikkan pesan untuk dikirim pada sakura. Setelah selesai dia menekan tombol kirim.
Di kamarnya sakura yang sedang beristirahat melihat hp nya bergetar tanda ada sms masuk.
From : Naruto
Hai sakura, kau sedang apa?
Sakura senang sekali begitu melihat nama pengirimnya. Dia mengetikkan balasan untuk naruto dengan senyuman yang tulus terpasang di wajahnya.
From : Sakura
Aku sedang beristirahat naruto.
Setelah menunggu beberapa lama, naruto senang sekali ia menerima balasan dari sakura. sebelumnya ia sempat berpikir bahwa sakura tidak akan membalas pesannya.
From : Naruto
Sudah dua hari ini aku tidak melihatmu, kemana saja kau? Apa kau sedang sakit?
From : Sakura
Aku hanya sedang tidak enak badan saja naruto. Aku ada di kamarku sekarang.
Naruto khawatir begitu membaca pesan itu, dia berpikir sakura pasti sedang sakit parah karena harus beristirahat sampai dua hari.
From : Naruto
Kau sakit apa? Boleh aku menemuimu sekarang?
From : Sakura
Tenang saja, aku hanya demam biasa saja. Tidak bisa naruto, nyonya pasti akan marah jika kau menemuiku, lagipula aku juga harus beristirahat.
Naruto merasa ada sesuatu yang tidak beres, karena mana mungkin jika hanya demam biasa saja dia sampai harus beristirahat sampai dua hari. Apalagi jika mengingat tsunade si pemilik bar yang sakura panggil sebagai nyonya itu, dia kan orangnya sangat pemaksa, jika hanya demam biasa dia pasti disuruh untuk bekerja seperti biasanya.
From : Naruto
Istirahatlah kalau begitu, kabari aku jika keadaanmu sudah membaik. Aku akan kembali lagi kesini besok.
From : Sakura
Terima kasih naruto, akan kukabari kau jika kondisiku sudah membaik.
Setelah percakapan melalui sms itu berakhir naruto menyimpan kembali hp-nya. Perasaannya sudah agak tenang karena ia sudah berhasil mengobrol dengan sakura. shion yang berada tak jauh dari naruto sejak tadi memperhatikannya, dia ragu apakah itu naruto atau bukan. Akhirnya dia memberanikan diri untuk menemui naruto. Dia ingin menceritakan kejadian yang telah menimpa sakura, meskipun sakura telah malarangnya tapi shion yakin naruto lah orang yang mampu menolong sakura.
"selamat malam tuan," sapa shion pada naruto ketika ia berniat untuk meninggalkan bar.
"malam, apa aku mengenalmu?" tanya naruto ragu sambil tersenyum dan berusaha mengingat apakah mungkin gadis cantik di depannya ini adalah temannya.
"Mungkin, kau tidak mengenalku, tapi kau mengenal temanku, namanya sakura," shion menjawab keingintahuan naruto.
"Teman sakura?" naruto bertanya untuk memastikan.
"iya aku juga bekerja di bar ini seperti sakura. Bolehkah aku duduk?" tanya shion sopan.
"oh iya tentu saja." Naruto mempersilahkan shion "maaf atas ketidaksopananku," ia kembali tersenyum.
"Namaku shion," ucap shion mengulurkan tangannya pada naruto setelah ia duduk disebelahnya.
"Aku naruto," jawab naruto membalah uluran tangan shion.
"Aku mengenalmu dari cerita sakura mengenai pria yang dikenalnya baru-baru ini. Dan pria itu adalah anda."
"Aku sangat tersanjung sekali sakura menceritakan tentangku," naruto tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.
"Jadi sebenarnya maksud saya menemui anda adalah untuk menceritakan keadaan sakura, saya yakin anda adalah orang yang tepat untuk menolongnya." Shion mengutarakan maksudnya menemui naruto.
"Menolong sakura? apa yang terjadi padanya?" raut wajah naruto mulai menunjukkan rona serius, dia memasang telinganya dalam keadaan maksimal untuk mendengar penjelasan shion.
Shion lalu melihat sekeliling terlebih dahulu, lalu setelah ia memastikan keadaannya aman dia mulai menceritakan semua kejadian yang dialami sakura dua hari yang lalu. Termasuk kondisi sakura yang saat ini terbaring lemah di tempat tidurnya, karena luka yang dideritanya untuk berjalan ke kamar mandipun dia kesusahan. Naruto mendengarkan penjelasan shion dengan seksama, dia begitu terkejut mengetahui kondisi sakura yang sebenarnya. Ingin rasanya ia memeluknya dan menenangkan hatinya sekarang.
"Nah begitulah naruto, kuharap kau bisa menolong mengurangi penderitaannya, karena sepertinya sejak bertemu denganmu hidupnya mulai berubah." Shion mengakhiri penjelasannya dengan sebuah permintaan. Naruto memutar otaknya untuk mencari ide, tak lama akhirnya ia menemukan sebuah rencana. Dia pun tersenyum pada shion lalu berpamitan untuk pergi dari bar itu.
"kau tenang saja aku akan melakukan sesuatu, sekarang aku harus pergi dulu." Ucapnya pada shion.
"terima kasih naruto." Shion merasa lega karena telah berhasil menceritakan hal tersebut, dia hanya berharap semoga saja kondisi sakura dapat membaik setelah bertemu dengan naruto.
.
.
.
Malam ini adalah malam ketiga sejak kejadian yang menimpa sakura, tapi sakura masih belum dapat melakukan pekerjaannya seperti biasa. Saat ini ino dan shion sedang berada di kamarnya untuk menemaninya malam itu sebelum mereka bekerja seperti biasa, sebenarnya di bar ini terdapat lebih dari 20-an gadis tapi hanya mereka berdua saja yang dekat dengan sakura, yang lainnya belum terlalu akrab dikarenakan sakura masih anak baru.
Tanpa diduga sebelumnya tsunade langsung memasuki kamar sakura dan memberi perintah pada sakura, "sakura cepat kau bersiap-siap, ada tamu yang ingin menemuimu malam ini," katanya begitu memasuki ruangan. Ino yang saat itu duduk si sebelah tempat tidur sakura langsung menanggapi pernyataan tsunade tersebut,
"Tapi kan nyonya, sakura belum sembuh total," ino meminta pada tsunade.
"Iya nyonya, biarkanlah dia beristirahat terlebih dahulu," shion pun yang baru keluar dari kamar mandi langsung terkaget begitu melihat tsunade masuk ke kamar sakura.
"Sudah kalian jangan banyak omong, ini urusanku. Jangan sampai tamu kita yang ini juga pergi karena kau lagi," tsunade menatap tajam ketiganya terutama sakura. "Pakailah ini, biar tamu kau berpenampilan lebih baik, tamumu menunggu di kamar 14." Tsunade mengambil sebuah pakaian dari tangan chouji yang sedari tadi berdiri di belakangnya dan menyimpannya di ujung tempat tidur sakura, lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu.
"Sudahlah tak apa, aku tak ingin kalian juga terkena kemarahannya," ucap sakura pada ino dan shion untuk menenangkan mereka. Mereka berdua hanya bisa mengangguk pasrah. Lalu sakura beranjak dari tempat tidurnya, dengan dibantu oleh ino, untuk mengganti pakaiannya. Dia mengambil pakaian yang diberikan tsunade tadi padanya. Sebuah gaun tidur terusan berwarna violet dengan tali di pinggangnya sebagai satu-satunya pengikatnya, yang jika tali itu dibuka maka akan langsung menampakkan tubuh indah sakura yang hanya memakai pakaian dalam saja.
Ino dan shion membantu sakura yang masih terseok-seok berjalan menuju ke kamar 14, sebelum masuk ke kamar mereka berdua lalu memeluk sakura dan memperhatikan sampai sakura menutup pintu kamar itu. Begitu masuk terdengar suara berat seorang lelaki di telinga sakura,
"Kau ternyata memang cantik seperti kata nyonyamu," sakura mencari asal suara itu. Seorang lelaki berkumis dan berjenggot hitam sedang duduk di kursi dekat perapian. Dia memakai kaca mata hitam dan topi kupluk yang menutupi hampir keseluruhan rambutnya, membuat sakura sedikit susah untuk melihat wajahnya. Sakura masih terdiam di tempatnya terakhir tadi ia menutup pintu.
"Selamat malam tuan, ada yang bisa saya bantu," ucap sakura menyapa pria itu dengan seutas senyum. Pria itu beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah sakura.
"Sudahlah jangan banyak bicara, aku tak suka berbasa-basi, kita langsung saja ke intinya saja." Pria itu mengeluarkan suara beratnya kembali. Saat ini jarak mereka hanya tinggal 30 centi, lelaki itu menggapai tali yang terikat di samping tubuh sakura. Sedangkan sakura hanya bisa menutup matanya, tak ingin membayangkan apa yang selanjutnya akan terjadi. Begitu dibukanya perlahan tali itu terlihatlah tubuh sakura yang indah dan hanya memakai pakaian dalam, tetapi tubuh indah itu ternodai oleh bekas-bekas luka yang terlihat sadis juga beberapa perban di sana-sini yang masih membalutnya. Pria itu tak tahan lagi untuk tidak menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Separah inikah penderitaanmu sakura?" suara pria itu tiba-tiba berubah melembut berbeda dengan suara berat tadi, berubah menjadi suara yang sakura kenal, suara yang sakura rindukan. Tapi sakura ragu untuk membuka matanya, karena dia yakin yang tadi dilihatnya bukan naruto, mungkin itu hanya ilusi karena dia sangat ingin bertemu dengannya. Pria itu lalu memakaikan kembali gaun sakura dan mengikatkan talinya, sakura yang merasa bingung karena pria itu tidak jadi menjamahnya akhirnya membuka matanya. "kau tidak menjawab pertanyaanku sakura," ucap lelaki itu lagi, sakura masih merasa ragu dan dia pun bertanya untuk memastikan.
"Naruto, apa itu kau?" ada rasa sedikit bahagia dan ragu dalam suaranya. Pria itu pun tersenyum dan melepas topi juga kaca mata hitam yang menempel di kepalanya, menunjukkan rambut kuning dan mata biru laut yang sangat sakura kenal. Dia pun melepas kumis danjenggot palsu yang dia pakai. Sakura tersenyum bahagia melihat naruto berdiri di hadapannya, dia langsung memeluk naruto.
"Maaf aku tak ada untuk bersamamu sakura," ucap naruto membalas pelukan sakura. setelah beberapa lama, naruto sadar bahwa tubuh sakura masih penuh luka, mungkin ia merasa kesakitan karena terlalu lama berdiri. Naruto pun melepas pelukannya dan mengajak sakura untuk duduk. Maka dituntunnyalah sakura menuju ke kursi terdekat, tapi sakura berjalan dengan tertatih-tatih. Naruto tak tega melihatnya, maka ia pun menunduk dan mengangkat kaki sakura dengan tangannya sementara tangan yang satunya lagi ia lingkarkan di punggungnya. Dengan satu gerakan naruto mengangkat badan sakura, dia membopongnya dan mendudukkannya di tepi tempat tidur. Sakura kaget dengan perlakuan naruto padanya, tapi dia tidak menolaknya justru dia merasa senang naruto begitu memperhatikannya.
"Kenapa kau harus menyamar naruto?" tanya sakura pada naruto ketika mereka berdua sudah duduk. Naruto tersenyum sekilas lalu menjawab pertanyaan sakura,
"Aku ingin memberikan kejutan padamu," Ujarnya. "mengapa kau tidak memberitahuku alasanmu sakit saat kutanya kau?" naruto berkata serius pada sakura.
"Aku hanya tak ingin merepotkanmu naruto, lagipula kita baru saja bertemu," ucap sakura menjelaskan.
"Jadi kau merasa bahwa aku orang lain," naruto menaikkan sebelah alisnya.
"Bu... bukan begitu naruto." Sakura sedikit takut mendengar ekspresi naruto, tentu saja naruto orang yang sangat berarti baginya, dia hanya tak ingin melibatkannya dalam masalahnya. Naruto hanya terdiam tidak benggubris perkataan sakura. "Apa kau marah naruto?" sakura menanyakan alasannya diam saja tapi naruto tetap memalingkan wajahnya dengan alis masih dinaikkan. "Kok gitu sih? Aku kan tidak bermaksud apa-apa." Sakura mulai sedikit khawatir naruto sakit hati atas perkataannya.
"hahaha... tenang saja manis, aku hanya bercanda." Naruto lalu menatap sakura dengan cengiran di wajahnya, dia mengacak-acak rambut sakura yang berwarna pink itu. Wajah sakura memerah karena candaan naruto padanya yang seperti memperlakukan anak kecil.
"Kau ini, selalu saja menggodaku... rasakan..." sakura mencubit naruto untuk menutupi rona merah di wajahnya. Naruto hanya tertawa dengan kelakuan gadis manis di depannya ini.
"Kau sebegitu takutnya melihatku marah?" tanya naruto lagi menggoda sakura.
"Huh kau ini kepedean, aku kan hanya takut saja kau tiba-tiba pergi, nanti aku dihukum lagi oleh nenek sihir itu karena telah mengecewakan tamu lagi." Sakura menyangkal pertanyaan naruto, padahal di dalam hatinya dia mengiyakan kata-kata itu.
"Kalau begitu, malam ini kau milikku dan aku berhak melakukan apapun terhadapmu." Ujar naruto lagi, sakura terkaget mendengar hal itu. Tapi ia tidak merasa keberatan , karena hatinya kini telah dimiliki oleh pria tampan berambut kuning ini. Hanya saja bibirnya masih malu untuk mengakuinya.
"Huh, enak saja. Memang aku bonekamu apa..." sakura kembali mencubit pinggang naruto dan naruto pun senang akhirnya dia dapat melihat tawa gadis ini lagi. Dia ingin selalu melindungi gadis ini. Mereka pun menghabiskan malam itu untuk mengobrol, niat naruto pun untuk mengembalikan tawa gadis itu sudah terpenuhi. Sampai akhirnya mereka kelelahan dan memutuskan untuk tidur.
Sakura dan naruto tidur berjauhan di tepi ranjang memberi jarak yang lebar di antara mereka, mereka saling membelakangi satu sama lain. Tapi naruto tak dapat tidur, pikirannya masih terbayang dengan cerita shion mengenai kejadian yang menimpa sakura. dia memikirkan cara untuk terus bersama sakura. naruto membalikkan badan dan menatap sakura yang sudah terlelap. Ditatapnya tubuh nungil itu, dia akhirnya mendekatkan dirinya pada sakura dan memeluknya dari belakang.
Sakura yang sebenarnya juga belum tertidur merasakan tangan kekar naruto yang memeluk erat pinggangnya juga hangat yang ditimbulkan dada naruto yang menempel pada punggungnya. Sakura tak ingin melepaskannya, pelukannya hangat dan memberikan rasa perlindungan bagi sakura, dalam hatinya berdoa. 'Tuhan biarkan aku jatuh cinta pada seorang lelaki saja, hanya lelaki ini saja.' Merekapun terlelap dan tenggelam dalam mimpinya masing-masing.
.
.
.
Keesokan harinya saat sakura terbangun matahari sudah agak terang di luar jendela dan dia tak menemukan naruto di sampingnya. Dia hanya menemukan secarik kertas yang bertuliskan,
Aku sudah pergi lebih dulu tadi pagi, aku harus menyelesaikan pekerjaanku di Oto pagi ini. Aku tak enak membangunkanmu yang tertidur seperti bayi, hehe...
Beristirahatlah, aku akan kembali kesini untuk menemuimu saat pekerjaanku telah selesai nanti.
Naruto.
Sakura tersenyum melihat surat itu, dia menempelkannya di dadanya.
.
.
.
Naruto sedang berada di sebuah mobil van hitam bersama beberapa orang rekannya saat sakura membaca surat tersebut. Hari ini dia akan melakukan tugasnya sepeti biasa di Oto. Jumlah keseluruhan orang di mobil itu ada 6 orang. Naruto duduk di jok tengah bersama seorang lelaki yang berambut seperti nanas.
"Target kita kali ini bernama Shino Aburame, dia adalah seorang pemilik bank di 3 negara. Menurut permintaan klien kita, dia harus sudah dibereskan maksimal besok. Alasan permintaan ini adalah dendam klien karena telah dikhianati, Shino mengambil keuntungan melalui korupsi dari bunga hasil penjualan perusahaannya secara licik." Ujar seorang anggota mereka di jok bagian belakang yang sedang menatap laptop di pangkuannya.
"Ada lagi informasi yang kau dapat Hidan?" tanya yang lain yang duduk di jok depan.
"Yang kudapat dari Konan, agen kita yang sudah 5 hari menyusup sebagai karyawan di perusahaannya hanya sepertinya dia menyewa seseorang untuk melindunginya. Kemana-mana dia selalu bersama orang itu. Dan kabar yang kudapat juga bahwa orang sewaannya itu tidak sendirian." Pria bernama hidan itu menambahkan.
"Baguslah, sepertinya tugas kali ini akan lebih seru, itu sebabnya kita dikirim dalam bentuk tim kali ini?" pria berambut nanas di sebelah naruto menyambut berita itu.
"Tapi jangan remehkan lawan kita shikamaru, komposisi tim kita bukan tim biasa. Oleh sebab itu, asuma juga pasti sudah memperkirakan bahwa lawan kita juga bukan yang biasa-biasa saja." Naruto menanggapi pernyataan Shikamaru di sebelahnya.
"Cih, tentu saja aku tak akan gegabah naruto, aku juga menyadari hal itu, mengapa sampai kita berenam yang dikirim." Shikamaru kembali berkomentar malas.
"Kita hampir sampai, kalian bersiaplah." Pria yang mengemudikan mobil memberitahu anggota lainnya. Seluruh penghuni mobil mulai bersiaga di tempatnya, beberapa mengisikan peluru dan mulai memompa pistolnya sedang yang lain memakai melihat keadaan sekitar.
"baik, kita sudah sampai. Saat ini pukul 3. 45, Shino sedang melakukan rapat rutin bersama para stafnya. Pukul 4 dia akan meninggalkan ruangan menuju ke basement untuk mengambil mobil dan menuju ke rumahnya. Deidara, naruto dan hidan akan pergi ke pintu timur dan mencegatnya di tengah jalan, sedangkan aku, Kisame dan sasuke akan menuju ke pintu barat dan menunggu di sana sebagai antisipasi dia mengambil jalan memutar." Jelas shikamaru yang merupakan pemimpin misi kali ini. Mereka semua mengangguk dan mulai berpencar sesuai arahan shikamaru tadi.
Naruto diikuti oleh deidara dan hidan dibelakangnya menaiki tangga dengan pistol yang tergenggam erat di tanggannya. Mereka kemudian menaiki lift dan berhenti di sebuah lorong di lantai yang tadi hidan sebutkan sebagai lantai tempat ruangan Shino berada. Mereka masing-masing bersembunyi di sudut lorong yang tidak terlihat oleh pandangan mata sekilas. Menunggu sampai dia keluar dari ruangannya. Dan tepat saat jam menunjukkan pukul empat lebih lima menit beberapa orang keluar dari ruangan tersebut sambil berbicara dan bercanda. Diantara mereka terdapat Shino yang fotonya sempat diperlihatkan hidan saat di mobil tadi dan orang-orang tak dikenal yang sepertinya rekan kerja bisnisnya. Tapi diantara mereka juga ada beberapa orang yang naruto yakin bukan bagian dari mereka. Orang-orang itu mengelilingi masing-masing pengusaha, sepertinya setiap pengusaha mempunyai penjaganya masing-masing. Mereka pun menunggu sampai orang-oranng itu bubar agar tidak menimbulkan keributan sedikit pun.
Setelah sekitar 10 menit menunggu satu per satu orang-orang itu mulai berpisah dan meninggalkan tempat itu, sekarang hanya tersisa 5 orang saja disana. Shino dan 4 orang lain yang sepertinya bukan rekan bisnisnya. Naruto dan teman-temannya yakin itulah orang yang disewa shino ntuk menjaganya. Mereka berjalan beriringan menuju ke pintu lift di ujung lorong. Saat naruto menatap hidan yang sedang bersembunyi di balik meja resepsionis lantai itu, dia sedang mengarahkan pistolnya tepat ke arah shino. Saat hidan bersiap untuk menembaknya tiba-tiba pria berambut hitam yang menemani Shino menyadari kehadiran Hidan, dia segera bergerak ke arah shino dan mendorongnya menjauh.
DOR... DOR...
Dua tembakan melayang, satu dari hidan yang gagal menembak shino dan satu lagi dari pria berambut hitam tadi yang menembak ke arah tempat hidan bersembunyi. Tiga yang lain segera menyadari keadaaan dan membawa shino pergi dari tempat itu menggunakan lift. Deidara dan naruto segera menembak ke arah mereka tetapi gagal karena pintu lift segera tertutup begitu mereka masuk ke dalamnya.
Hidan yang baru keluar dari persembunyiannya merintih kesakitan dengan luka tembakan di lengan kirinya yang mengucurkan darah segar. "Shikamaru, mereka menuju ke basement." Deidara berusaha menghubungi tim yang lain yang telah bersiap di sisi lain gedung. Mereka bertiga pun tak mau kalah, mereka segera meaniki lift satu lagi untuk menyusul yang lain. Dan tanpa diduga ternyata saat mereka mencapai basement, telah terjadi pertempuran yang sangat sengit, terlihat dari banyaknya tembakan yang dilepaskan oleh kedua belah pihak. Mereka bertiga pun segera mengambil langkah untuk bersembunyi di balik mobil putih dan segera terlibat dalam perkelahian itu. Shino dan keempat pengawalnya berada di sisi utara ruangan dan naruto beserta rekannya berada di sisi sebaliknya. Seseorang telah berhasil menembak perut sasuke dan kisame yang melihatnya segera melakukan serangan balasan yang secara cepat mampu melumpuhkan pria itu. Suasana menjadi semakin menegangkan karena masing-masing kubu telah kehilangan satu anggotanya apalagi dengan tambahan hidan yang cedera karena tangannya tertembak di kubu naruto.
DOR... DOR...
Naruto bergerak cepat sambil melepaskan tembakan untuk memojokkan mereka, tapi ternyata hal itu adalah suatu kesalahan besar. Pria berambut merah berhasil menembak tangan kanannya ketika ia berusaha menyembunyikan diri, wajahnya meringis melihat darah yang terus mengalir dari lengannya itu. Apa yang harus ia lakukan karena justru posisinyalah yang sekarang terpojok...
.
.
.
TBC
.
.
.
Chapter tiga selesai, maaf ya semua yang mungkin kecewa dengan banyak adegan yang kurang memuaskan apalagi adegan tembak-tembakkannya... (#bersujud)
Author paling ngga bisa bikin adegan gituan, tapi ngotot mau masukin bagian itu (#tomat nyungseb di muka) .
Aku sebenarnya suka banget film action bahkan satu jam sebelumnya author sempet nonton dulu film action. Tapi tetep aja kayaknya kesan menegangkannya gak dapet ya?
Mohon dimaafkan ya readers, juga untuk adegan lain yang telah banyak membuat chara kesayangan readers jadi OOC banget...
Author harap readers masih mau menunggu chapter selanjutnya...
Sepertinya chapter ini lebih panjang dari yang sebelumnya dan saya belum makan dari tadi pagi demi menyelesaikan ini semua... (#gak penting juga diceritain) sekarang saya mau hunting makanan dulu ya readers... hahaha...
Sampai jumpa!
Review please?
