Disclaimer: I do not own Death Note or its characters. It all belong to Takeshi Obata and Tsugumi Ohba.
Chapter 3: Aiber
Light's POV
Cendekiawan pucat itu masih mengikuti di belakangku. Kuakui pengendalian dirinya sangat besar dan masih berjalan dengan tenang meskipun kami berjalan di tengah-tengah penjahat yang lebih berbahaya dariku. Tsk, sebenarnya aku juga muak melihat wajah-wajah para penyamun di sini. Aku mungkin pencuri, tapi aku hanya mencuri dari para orang kaya korup yang arogan dan menindas rakyat kecil. Sangat jauh jika dibandingkan dengan para perampok yang merampok tanpa pandang bulu; pembunuh bayaran; pemerkosa; pencuri yang mencuri dari siapapun; penculik yang kadang bukan demi tebusan tapi juga menjual korbannya… serta penjual budak.
Untuk yang terakhir itu kami baru melewati kandang para budak milik Sahreem, salah satu bos penjual budak terbesar di negeri ini. Benar-benar mengerikan. Kondisi hewan ternak yang mau dijual di pasar saja lebih baik dari itu. Tatapan mata L (kupanggil begitu saja karena aku tak tahu nama aslinya) saat melihat mereka nampak terluka… menunjukkan sisi lain yang lembut dan manusiawi dari si cendekiawan negara ini. Yah, dia memang benar. Aku heran, kalau Sahreem si Jengot Kambing beranting lima itu mau menjual budak, kenapa ia memperlakukan dagangannya seperti itu? Pasti banyak yang mati dan sakit ketika dijual, bukankah merugikannya? Atau ia sengaja mau menunjukkan bahwa nyawa manusia tidak ada artinya dan begitu mudah ia dapatkan?
Aku ingat pernah mendengar dari anak buahnya bahwa yang budak tidak pintar, tidak kuat dan tidak menarik fisiknya akan diperlakukan seperti itu sementara yang memenuhi kualifikasi akan ditempatkan di tempat lain yang lebih baik. Beberapa yang paling cantik dan menarik akan diambilnya sebagai simpanan, baik perempuan maupun lelaki. Yang tidak memenuhi kualifikasi harus menunjukkan kemampuan bertahan hidupnya atau mati dan jika sanggup baru akan dianggap cukup berharga untuk dijual. Gila. Semudah itukah dia menentukan harga seorang manusia? Aku agak ngeri membayangkan kalau dia melihat L. Aku tahu ia akan berbuat apa kepadanya dan aku tidak tahan membayangkan L jadi simpanan si Jenggot Kambing itu.
Kutengok lagi L dan ia masih berjalan tenang sambil menunduk. Kain coklat nampak melambai-lambai dan kebesaran untuknya. Sebenarnya bukan kain itu saja, tapi baju yang kuberikan juga serba kebesaran, terutama celananya yang jika saja kain ikat pinggangnya tidak diikat kencang akan langsung melorot. Badannya memang terlalu kurus. Aku bingung, apa saja yang dimakannya di istana sampai ia ceking begitu? Biasanya orang kaya atau bangsawan yang kutemui bertubuh subur atau sangat subur. Apa cendekiawan diharuskan memakan menu tertentu? Tapi tidak. Aku ingat sejumlah besar makanan manis yang tersaji di kamarnya semalam.
Matahari makin tinggi, siang makin terik. Aku agak kasihan dengannya yang berkerudung kain berwarna gelap. Ia pasti sangat kepanasan, apalagi kulitnya sangat pucat. Yah, aku memang berpakaian serba hitam tapi aku sudah terbiasa. Nanti kalau tenda milik Zathir, kenalanku yang memiliki bisnis penukaran barang dengan uang serta penjualan barang illegal tersebut tak ada orang, aku akan memintanya melepas kain itu. Toh Zathir adalah orang yang bisa dipercaya dan tidak bermulut besar. Tinggal beberapa blok lagi.
Dan akhirnya, sampai. Kubuka tirai penutup tenda tersebut dan seperti yang kuharapkan, sepi. Tentu, karena siang hari banyak penyamun yang beristirahat karena banyak yang mulai bekerja pada malam hari. Itulah sebabnya aku memilih datang siang hari. Kutahan tirai dengan tanganku, mempersilahkan L masuk lalu aku menyusul kemudian.
Zathir, pria berusia lima puluh bertubuh subur serta memiliki kumis melintang lebar dan rambut separuh botaknya berwarna kelabu, hasil percampuran merata antara uban dengan rambut hitamnya. Ia nampak sedang menulis catatan di mejanya yang penuh tumpukan buku, timbangan, kaca pembesar, pita pengukur, sempoa, dan perlengkapan lainnya. Mata hijau dan senyumnya menyambutku dengan hangat saat ia mendongakkan wajahnya. Aku pun balas tersenyum. Dengan lincah kuputar tas punggungku dan meletakkannya di atas mejanya yang berjarak dua meter dari pintu. Berat dari isi tas membuat bunyi berat dan meja bergetar. Zathir memandangku dengan senyum lagi setelah memandang tas hitamku.
"Tangkapan besar, kali ini?"
"Yeah. SANGAT besar," tukasku bangga.
"Ho, kau pantas mendapatkannya setelah sebulan mendapat hasil yang kurang memuaskanmu, L~."
Segera kupotong kata-katanya dengan isyarat tanganku. Ia awalnya bingung, lalu melirik ke arah L yang masih berkerudung kemudian melihatku lagi dengan tatapan paham.
"… Tuan Night God Thief…," lanjutnya cepat.
Huh, hampir saja nama asliku disebutkan. L sudah tahu wajahku, jangan sampai ia dapat bonus berupa nama asliku. Lain urusannya dengan julukanku, yang sudah terkenal nyaris di setiap kota. Zathir membuka penutup tasku dan nampak sangat terkesan dengan isinya. Setelah menggosok-gosokkan tangannya dengan sehelai saputangan, ia mulai menaksir kisaran nilai harta karunku.
Kutengok L yang masih berdiri di samping pintu dan berkata, "Pasti kau kepanasan. Kau boleh buka kain penutupmu, Zathir orang yang bisa dipercaya."
Dengan jemari ramping pucatnya, L menarik lepas kain cokelat kerudungnya dengan anggun, menyingkapkan kecantikannya. Kudengar suara benda jatuh di meja dan kulirik Zathir. Ia nampak melongo dengan mulut terbuka saat melihat L sampai menjatuhkan anak pemberat timbangannya. L nampak tidak menyadari dan melipat kain dengan rapi kemudian melampirkannya di lengan kiri.
"Ehem," aku berdehem pelan, menyadarkan Zathir dari keterpesonaannya.
"Perkenalkan, namanya Ryuzaki," ujarku sambil memandang L dengan senyum tertahan. Ia membalasku dengan ekspresi campuran antara kaget, bingung, kesal, marah, dan sebal, memang reaksi yang kuharapkan. Aku telah memikirkan banyak nama dan kurasa Ryuzaki sesuai untuknya, lagipula L seperti memiliki keturunan Asia. Ia kemudian mendengus dan memandang ke arah Zathir dengan senyuman yang membuat jantung kami berdua serasa ditabok. Senyum pertama yang kulihat dari L dan menaikkan pesonanya menjadi berkali-kali lipat.
"Dan… emm… ini Zathir, kenalan dan teman lamaku," kataku lagi sambil menunjuk Zathir dengan sapuan tangan kananku.
"H… halo…," sapa Zathir dengan kikuk dan bersemangat sambil melambaikan tangannya dengan tampang seperti orang bodoh.
Ya ampun, Zathir adalah salah satu orang paling pintar di perkemahan ini dan ia bertingkah di hadapan L seperti orang idiot. Sebenarnya aku juga nyaris seperti itu namun kupaksa diriku mengendalikan diri. Mungkin rumor tentang L diberkati oleh dewa memang benar adanya. Ia punya aura dan pesona yang luar biasa kuat.
"Senang berjumpa denganmu," katanya lagi dengan ringan dan lembut, masih dengan senyum mematikannya. Zathir nampak seperti kehilangan jiwanya selama sepuluh detik. Diam-diam aku memaki dalam hati, kenapa L tak pernah bersikap dan bersuara sedemikian manis padaku?
"Ehm, Light…," bisik Zathir padaku. Aku sedikit menundukkan kepalaku agar bisa mendengar lebih jelas. "Aku tak tahu siapa dia dan kenapa dia bisa bersamamu, tapi kau tahu 'kan apa yang bisa terjadi pada pemuda cantik itu di tempat begini?" Aku bisa merasakan kecemasan dalam suaranya.
"Yeah, percayalah, ini semua kecelakaan. Aku tidak berencana membawanya dan aku tahu resikonya. Jadi bisakan kau merahasiakan keberadaan Ryuzaki di sini?"
"Tak usah kau bilang pun tentu akan kulakukan," ujarnya mantap. Zathir memang bisa kupercaya dan kuandalkan seperti biasa. Kulirik L yang terlihat tak nyaman dengan kondisi aku dan Zathir yang main bisik di depannya. Jangan sampai ia mengira aku mau menjualnya.
Zathir kembali menaksir. Ia memandang jubah mandi L dengan heran lalu memandangku yang kubalas dengan cengiran. Aku bisa membayangkan wajah L yang pasti memerah di belakang kepalaku. Aku setengah mati menahan tawa.
"Oi, halo Zathir," terdengar suara berat nan empuk yang familiar di telingaku. Seseorang baru memasuki tenda dan aku sudah bisa memperkirakan siapa itu sebelum aku berbalik.
Pria dewasa dengan tinggi menjulang dengan rambut pirang dan mata biru memasuki tenda. Tubuh kekar tegapnya berbalut pakaian seperti pengusaha kelas atas. Ia karismatik dan auranya menyeruak memenuhi tenda. Dia Aiber, si penipu.
"Oh, ternyata kau ada disini, L~," kata-katanya terpotong isyarat tanganku dan Zathir dengan panik. Ia lantas melirik ke arah L dan berwajah paham. Kekaguman yang terpancar di mata Aiber saat melihat L membuatku muak. "… Tuan Night God Thief…," ia melanjutkan.
Ia lalu mendekati L, meraih tangannya, lalu mengecup lembut, membuat L tersentak. "Senang berjumpa denganmu, Wahai Tuan yang Rupawan…," tuturnya lembut sambil menatap L dalam-dalam. Wajah L merona dengan cantik dan ia tersenyum gugup.
Aku keki. KEKI SEKALI. Aiber si Penipu Cinta, si ahli memanipulasi perasaan orang lain dengan sikap dan mulut manisnya. Ia kenalan lamaku. Sebenarnya aku tak akan mau kenal dengannya kalau saja dia bukan sahabat karib Wedy, mentorku. Bahkan ia bisa membuat si jenius L merona dan gugup!
"Hai, Aiber. Sukses menipu siapa lagi?" Aku memberi penekanan di kata 'menipu'. L nampak sedikit kaget lalu menarik tangannya dari genggaman Aiber. Aiber nampak sedikit jengkel padaku.
"Sebaiknya kau urusi urusanmu yang lebih penting, Tuan Night God, seperti… memperkenalkan nama pemuda penuh pesona ini…." Ia menggerling pada L yang langsung menunduk malu.
Cukup. Aku mau muntah. Persetan dengan Om-om-tukang-tipu-berlidah-ular-bermulut-gombal-yang-licik-nan-picik-nan-mata-keranjang-nan-sok-ganteng-yang-suka-cari-muka-ini. Sial, aku nyaris kehilangan kontrol. "Namanya Ryuzaki, kami bertemu secara tak terduga dan tak disengaja." Kutekan sebisa mungkin keketusan dalam nada suaraku.
"Boleh kutahu dalam rangka apa ia berada di sini?"
"Sebaiknya kau urusi urusanmu yang lebih penting, Tuan Aiber, seperti… menghitung hasil tipuanmu?" kubalas dengan sarkastik serta meniru pekataannya tadi.
Ia mendengus dengan wajah tenang, kemudian mengelengkan kepala dengan anggun seperti menyesali kekasaranku dengan sikap bak ksatria. Bahkan L nampak memandangku dengan tajam. F*S#!7&^%##^&*(! S#!l&^%##^&* F*! Aku tak tahu makian apa lagi yang bisa kupikirkan.
Aiber lalu menghampiri meja Zathir dan meletakkan tas barangnya di area kosong meja. "Tolong hitung milikku setelah Tuan Night God Thief." Zathir mengangguk sambil tersenyum kemudian melanjutkan menghitung.
Mata Aiber terpaku sejenak pada hasil curianku (membuatku bangga, karena pasti melebihi hasilnya) namun kemudian tatapannya terpancang pada jubah mandi indah milik L yang terlipat rapi di sudut meja. Diam-diam kusesali keputusanku menjual jubah mandi L, karena Aiber pasti menganggapnya lucu dan akan jadi bahan lelucon. Tapi aku 'kan tidak tahu ia mau datang!
Aiber lalu mengambil jubah mandi L dengan halus tanpa merusak lipatannya, kemudian ditimangnya dengan sayang. Dengan penuh kelembutan dicium dan dihirupnya dalam-dalam aroma jubah itu sambil memejamkan mata dan tersenyum seolah sedang bermimpi indah. "Jubah yang sangat indah, namun pasti pemiliknya jauh lebih indah. Aku tersanjung karena mendapat kehormatan menyentuh jubah yang pernah bersentuhan dengan tubuh indah pemiliknya."
Wajah L merah padam dan ia menunduk, poninya yang berjatuhan menghalangi pandanganku. Tapi jelas, ia merasa malu, gugup, dan tersanjung. Aku tak percaya, pemuda yang ada di hadapanku ini adalah si jenius Cendekiawan L yang tak sampai sejam yang lalu bersikap dingin padaku! Apa bagusnya kata-kata dan sikap Aiber tadi? Bukankah itu lebih terlihat seperti tindakan dan komentar orang mesum? Aku saja yang melihat dan mendengar merasa geli dan jijik! Harusnya L merasa badannya gatal-gatal karena perkataan tadi! Sial! Aiber pasti pakai dukun.
Sambil menunggu Zathir menghitung hasil curianku yang memakan waktu cukup lama, si om-om kecentilan itu sibuk mengajak L bicara, tanpa melibatkanku sama sekali seolah aku tak ada (kurang ajar!). Aku tak usah khawatir, L juga nampaknya tidak mau mengungkap jati dirinya, ia hanya menjawab hal yang umum seperti hobi, umur, dan hal sederhana lainnya. Aiber memperhatikan seolah tiap kata yang keluar dari mulut L adalah alunan musik bermutu tinggi seorang maestro dunia. L menolak saat Aiber menaruh tangan di pundaknya (rasakan itu Aiber!) namun nampak tidak marah setelah Aiber meminta maaf. Kemudian Si om-om sok ganteng itu melontarkan lelucon ringan yang mampu membuat L si dingin tersenyum (yang harus kuakui bahwa si Pirang Genit itu ahli dalam hal-hal seperti ini). Cih. Aku makin merasa terpinggirkan.
Zathir memanggilku saat hitungannya selesai dan memberiku sekantung besar koin emas (EMAS!) sebanyak 180 keping, jumlah yang bagaikan mimpi bagiku. Aku mengucapkan terima kasih pada Zathir yang juga terlihat senang. Karena gengsi, aku tidak melompat-lompat girang (apalagi ada si Pirang Edan itu di sini).
Pikiranku mulai ke mana-mana. Dengan uang sebanyak itu aku bahkan mampu membeli tiga buah rumah mewah ataupun lima toko penuh pakaian atau makanan dan masih bersisa sangat banyak. Roger, Mello, Matt, dan anak panti lainnya pasti sangat senang. Akan kubelikan mereka baju baru dan makanan enak, terutama cokelat untuk Mello. Setelah memasukkan kantong uang ke dalam tas punggung hitamku dan melampirkannya di bahu kanan, aku melirik L yang masih berada di samping Aiber dan merasa bahwa sudah saatnya menjauhkan L dari Om Genit itu.
"Ryuzaki, saatnya pergi," ajakku sambil berjalan ke pintu. L nampak masih asing dan belum terbiasa dengan 'nama barunya' namun menurut. Ia melangkah ke pintu menjauhi Aiber yang jelas nampak kecewa setelah berpamitan. Aku melambaikan tangan pada Zathir dan menghampiri L. Mendadak langkah L tergelincir dan ia menubrukku sambil berpegangan erat selama beberapa saat pada lengan kananku. Ia langsung menjauh karena malu begitu sadar dan melangkah mundur. Aku menikmati raut wajah menggemaskannya dan nyengir padanya yang jelas tidak dibalas.
"Apa kalian mau makan siang?" tanya Aiber mengacaukan kebahagiaan sesaatku.
Tidak, Light, jangan biarkan keapesanmu berlanjut. Pasti dia mau ikutan makan siang bersamamu dan L. Bilang saja 'tidak'.
"Oh, ayolah Tuan Night God, sudah lama kita tidak berbincang santai selayaknya kawan lama…," katanya lagi sebelum aku sempat menjawab sambil merangkulku dengan tangan kirinya. "Tunggu sebentar sampai Zathir selesai menghitung bagianku, lalu kita pergi bersama, ya?"
Bisa kurasakan cengkraman jari besarnya yang menyakitkan sebagai ancaman agar aku menurut namun wajah kurang ajar dan sok gantengnya itu tetap terlihat polos. Aku melotot padanya saat ia memutar badannya dan mengajak (paksa) badanku untuk ikut berputar juga, membelakangi L dan Zathir.
"Banyak hal menarik yang ingin kudengar darimu, Light, dan juga tentang kisahmu melibatkan cendekiawan muda cantik itu," bisiknya di telingaku yang membuat kepalaku serasa dipukulnya dengan martil.
Di… dia tahu identitas L? Bagaimana…?
"Rasanya kau jadi setuju, Light?" bisiknya lagi penuh kemenangan. Muka sok gantengnya benar-benar makin menyebalkan karena terlihat dari jarak dekat.
Sial, sial, sial, sialsialsialsialsialsial. Aku tak tahu apa yang direncanakan si gombal licik itu, tapi aku tak bisa menolak. Mana bisa aku menolaknya sekarang setelah ia tahu siapa L?
"Tuan Ryuzaki, kelihatannya Tuan Night God setuju mengikutsertakan diriku dalam acara makan siang kalian," ucapnya dengan nada senang setelah melepas rangkulan menusuknya dan berputar kembali menghadap L.
Aku mengelus bekas jari bongsor Aiber yang terasa ngilu di pundak kiriku sambil memasang tampang yang kupaksa terlihat senang sambil membalik badan. Zathir melihatku dan menyadari apa yang telah terjadi lalu terkikik. Diam kau, Zathir! Aku melotot padanya namun ia terus terkikik sambil menghitung. L nampak bingung namun juga senang. Pelet apa yang dipakai Aiber sehingga bisa membuat L seperti itu? Aiber kembali melanjutkan obrolannya dengan L dan kembali mengacuhkanku.
Sial. Semoga makan siang ini cepat selesai dan Aiber terkena musibah seperti tersedak makanannya sehingga berhenti sok keren. Huh. Rasanya keapesanku hari ini belum selesai.
* Kenapa Aiber bisa tahu, jawabannya ada di chapter selanjutnya (dalam tahap pengerjaan). Cerita ini mungkin akan panjang dan memiliki alur tidak terduga. Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa saat Light menyebut nama anggota panti asuhan nama Near tidak disebutkan. Hal tersebut akan terjawab dan tenang saja, Near akan tetap muncul, kok.
** Saya baru sadar lupa menjelaskan kata 'hutan' di chapter 1. Mungkin ada yang bingung kok ada hutan di tengah padang pasir? Jawabannya karena ibukota dikelilingi oasis serta aliran sungai dan 'hutan' yang dimaksudkan bukan seperti hutan tropis, tapi pohonnya adalah pohon seperti palem, korma, dan tumbuhan gurun lainnya serta tidak terlalu luas.
*** Agak kebingungan juga mencari istilah sesuai yang jadul. XD Akhirnya muncul juga beberapa terminologi modern semacam 'om-om' dan kawan-kawan.
Maaf jika membingungkan. Terimakasih telah membaca. Salam, PenWanderer.
