Hasrat cinta

Masahi kishimoto

Pair : NARUHINA

Genre : Romance/Drama

Rated : T+

SELAMAT MEMBACA

Chapter 3

"Aku rasa kode nya benar, apa dia menggantinya? Tidak, tidak, aku menyuruhnya untuk tidak menggantinya, tapi. . ." Hinata menekan kembali tombol pintu apartement Naruto, "aah, akhirnya, aku benar, ternyata dia tidak menggantinya!" Hinata masuk tanpa seijin Naruto, karena dia sengaja tidak memberitahu Naruto bahwa dia akan datang ke apartement untuk menyambut pamannya, "apa dia pergi keluar, keterlaluan, pamannya mau datang tapi dia malah pergi. Baiklah, kalau dia tidak mau menyambutnya, aku saja yang menyambut, pertama-tama aku harus menyiapkan sesuatu . . . oh, Kyuubi? Kukira dia mengajak mu, apa kau belum makan Kyuubi, aku akan memberi mu makan, ayo kemari!"

Disisi lain Naruto tengah terduduk di taman, sambil memandang tempat pertama kali ia melihat Hinata, dia mengingat hari itu saat Hinata berbicara dengan anjingnya. Seperti baru kemarin, tapi ini sudah tiga bulan dia mengenal Hinata, sama-sama kesepian, itulah mereka berdua. beberapa menit telah berlalu dan hampir satu jam dia disana, tiba-tiba ponselnya berdering, "hallo, Naruto kau dimana, paman mu sudah datang!" Naruto terkejut dan dia bergegas pergi.

"Paman, kenapa paman tidak memberitahu ku dulu jam berapa paman sampai, aku belum menyiapkan makan malam. Seharusnya paman datang di pagi hari, agar aku bisa menyiapkan segalanya!"

"Lalu bagaimana dengan kuliah mu nanti?"

"Ya ampun paman, ini kan hari sabtu, aku libur!"

"Ah iyah. Tidak apa-apa, paman bisa menunggu sedangkan kau memasak!"

"Baiklah, tapi sebelum itu ayo kita mengobrol dulu!"

"Baiklah, paman membawa ini!"

Iruka membawa ayam goreng yang Hinata sukai, "kadang kala aku tidak pernah percaya pada orang lain sebelumnya, tapi aku percaya pada paman, karena paman adalah keluarga Naruto." iruka tersenyum hangat, ia percaya bahwa Hinata adala perubahan bagi Naruto, "Naruto tidak punya orang tua sejak lama, ketika ia bayi ia sudah ditinggal pergi. Sekarang paman tidak tahu harus melakukan apa agar Naruto mengerti bahwa bukan hanya dirinya yang merasa kehilangan, tapi juga orang yang ada disekitarnya, dia terlalu kesepian padahal ada aku dan neneknya yang ada di desa. Meskipun begitu, dia menjalani kehidupannya sendiri dan tidak peduli pada orang lain bahkan warisan yang ditinggalkan ayahnya!"

"Paman, aku akan mencoba membuat Naruto berubah dan agar dia merasa bahwa dia tidak sendirian lagi sekarang!"

"Paman mendukung mu!"

Suara pintu terbuka, "ah, itu pasti Naruto." Hinata berlari ke arah pintu dan melihat Naruto datang, "kau lama sekali, ayo, paman mu ada didalam!" Hinata menarik Naruto ke ruang tengah, dan disana dia melihat pamannya tengah terduduk dan berdiri saat meliha dia datang, "nah, sekarang kau duduklah disini, sementara aku akan menyiapkan ayam goreng ini!" Hinata meninggalkan mereka berdua, Iruka memulai pembicaraan, "kau tampak sehat dan baik, bagaimana kuliah mu? Hinata bilang kau selalu bersemangat belajar, benarkah itu?"

"Aku baik, dan apapun yang dikatakan Hinata itu semua tidak benar!"

"Perkataan yang mana yang menurut mu tidak benar huh?" tiab tiba Hinata datang, "Aku mencoba menceritakan semua yang baik-baik tentang dirimu, tapi kau malah menyangkalnya. . ."

"Kau tidak perlu melakukan semua itu!"

"Kenapa tidak perlu. Paman mu ingin tahu semuanya, orang macam apa yang ditanya hanya diam saja huh, aku bukan dirimu, paman aku . . ." perkataan Hinata terputus

"Hentikan ocehan mu, kau tidak berhak . . ."

"Apa yang tidak berhak, aku sudah tahu semuanya dan kau tidak perlu mengelak lagi!"

"Kau seharusnya . . ." sahut Naruto

"Cukup!" Iruka menghentikan pertengkaran mereka yang akan semakin sengit jika terus berlanjut, "jangan bertengkar hanya karena hal spele seperti ini, paman mohon, maafkan paman jika paman bersalah. Seharusnya ini menjadi obrolan yang menyenangkan kan, jadi untuk apa. . ."

"Diam!" teriak Naruto dan Hinata. Iruka terdiam begitu saja, menyadari kesalahannya karena berteriak pada Iruka, Hinata langsung meminta maaf, "paman aku minta maaf, Naruto kau juga harus minta maaf cepat!" Naruto hanya terdiam, "maafkan dia paman. Maafkan kami, kami sedikit terbawa emosi, tapi paman jangan khawatir, ini bukanlah pertengkaran, ini hanya. . ."

Hinata melihat Iruka tertawa renyah, suranya membahana hampir ke seluruh ruangan, "paman, sangat senang melihat kalian, haaah ya ampun, sudahlah nak, jangan meminta maaf, paman mema'luminya!"

"Huuffftt aku kira apa. Baiklah, sementara kalian mengobrol, aku akan menyiapkan makan malam!"

Setelah Hinata pergi Iruka mencoba berbicara kembali, "dia sangat lucu, paman menyukai pacar mu!" Naruto melihat pamannya yang sedang mengunyah paha ayam, "dia bukan pacarku!" kata Naruto. tapi sepertinya Iruka tidak peduli dan hanya mengangkat bahu, tahu bahwa Hinata sudah bercerita sebelumnya, kalau Naruto bilang begitu ia hanya malu untuk mengakuinya. Beberapa menit di dapur, Hinata hanya menunggu masakannya matang. Tahu Naruto datang ke dapur tanpa melihat ke belakang, dia hanya terpaku pada penggorengan.

Saat Naruto tak bicara terus menerus Hinata yang memulainya, "kau bersikap seolah-olah paman mu adalah orang lain, apa kau tidak pernah sekali pun memeluknya atau menyapanya, kenapa kau begitu dingin bahkan pada keluarga mu sendiri, huhh, kalau aku jadi kau, aku tidak akan melakukannya!"

"Kenapa kau melakukan semua ini?"

"Melakukan apa. Aku hanya menyambut paman mu, aku tahu kau pasti lari saat paman mu akan datang kemari, aku tidak punya pilihan untuk datang ke sini. Lagipula Kyuubi butuh makan, kau meninggalkannya dengan piring kosong, untung aku datang!" Hinata menghampiri Naruto dan memeluknya. Naruto sedikit terkejut dengan tindakan Hinata yang tiba-tiba, Hinata melingkarkan lengannya di leher Naruto, "kau tahu, aku sangat senang jika kau bersikap biasa layaknya seorang paman dan keponakan, bukan orang yang tidak kau kenal, paman bukan musuh mu, tapi dia keluarga mu!"

Naruto mencoba melepaskan Hinata, tapi dia malah mengeratkan pelukannya, "lepaskan Hinata!" Hinata menggelengkan kepalanya, "aku tidak akan melepaskannya, aku tidak mau melepas mu!" Hinata mencium leher Naruto, kemaskulinannya membuat Hinata tergila-gila. Sementara itu Naruto mengepalkan tangannya dan menahan dorongan untuk menerkam Hinata, "kau berjanji tidak akan bersikap seperti itu lagi kan pada paman mu? Ayo katakan!"

Iruka diam dan mendengarkan sebelum masuk ke dapur, "ayo katakan, jangan bersikap begitu pada paman mu, Naruto!" Naruto membelai rambut Hinata dengan satu tangannya, "aku berjanji!" sementara itu, "Naruto, Hinata!" Iruka datang ke dapur dan melihat kedua orang itu tengah berpelukan, "oh tidak, maafkan paman, sepertinya time nya tidak bagus, paman permisi!" Iruka pun keluar dari dapur mengusap-usap dadanya, "sejak kapan Naruto luluh pada orang lain, ini sangat mengejutkan!"

Saat malam tiba mereka makan malam dengan damai dan tanpa gangguan sedikit pun, "kau tahu paman," Hinata bicara sambil mengunyah makanannya, "saat study tour dan mengunjungi museum aku bertemu dengan teman ku namanya Gaara. Naruto mengira dia adalah pacar ku, tapi sebenarnya bukan. Kurasa dia cemburu!" bisik Hinata pada Iruka, tapi tetap saja Naruto mendengarnya, "benarkah itu, paman ingin lihat wajahnya seperti apa saat cemburu."

"Aku tidak cemburu!" kata Naruto. dengan nada kesal

"Wajahnya seperti harimau kelaparan, sangat marah ku kira!" Hinata dan Iruka terkekeh, sementara Naruto hanya terdiam membisu. "makanan mu sangat enak Hinata, kau belajar dari siapa?"

"Dari ibuku sebelum dia meninggal. Aku selalu belajar sejak kecil paman, kata ibu, seorang wanita tidak hanya boleh berkarir, tapi dia juga harus punya karir dalam bidang lainnya, khususnya memasak!"

"Itu bagus. Kau akan menjadi istri yang baik dan pandai dalam segala hal, kasihan orang yang tidak memiliki mu, dan beruntung orang yang nanti akan memiliki mu!"

"Entahlah paman. Mungkin orang yang akan memiliki ku itu, bukan sembarang orang, dia harus pandai dalam bergaul, membahagiakan aku, terutama dalam hal menjalankan hubungan dan juga bukan orang yang dingin dan bersikap seolah hanya dialah yang mampu menjalani hidup hanya sendiri!"

Naruto menghentikan makannya, "kurasa kau menyinggung ku!" kata Naruto.

Hinata tersenyum masam, "benarkah, aku kira kau bukan orang seperti itu, apa kau seperti itu? Ah, kalau memang begitu seharusnya aku tidak berpacaran dengan mu, benarkan paman?"

"Yah, carilah orang yang lebih baik Hinata, paman yakin kau akan menemukan seorang pria sejati di luar sana, banyak yang sedang menunggu mu!"

Kelihatannya Naruto sudah tidak lagi berselera makan, dia membanting sendok dan menyilangkan lengan di dada. Hinata terssenyum puas dalam hatinya ia sudah membuat Naruto kesal, "paman, kapan-kapan kita mengobrol lagi yah, kalau paman ada waktu!"

"Pasti nak, sampai jumpa!"

Setelah Iruka pulang. Hinata tidak bergegas pulang, ia malah membereskan meja dan mencuci semua peralatan makan dan masak. Naruto memperhatikan Hinata di meja makan, "kalau kau hanya memperhatikan ku, aku tidak akan pernah menyelesaikan pekerjaan ku!" Hinata menoleh ke belakang, "tak bisakah kau membantuku?" dengan wajah kesalnya Hinata mencucui kembali piring-piring itu.

Naruto berjalan ke arah Hinata dan membantunya mencuci piring, Hinata tersenyum kecil dan sangat senang dalam hatinya. "jangan mencari orang lain!" tiba-tiba Naruto mengatakan hal itu, tapi Hinata tidak mengerti apa maksud nya, lalu dia memutar kembali pikiran yang sempat hilang, kata-katanya. Akhirnya Hinata mengerti, "kenapa tidak boleh?" tanya Hinata yang sudah selesai mencuci piring dan membersihkan tangan dengan lap, "kenapa aku tidak boleh mencari orang lain, kau bilang aku bukan pacar mu, aku bisa mencari pria lain!"

Saat itu itu juga Naruto menghampiri Hinata dengan cepat, Hinata sedikit terkejut karena Naruto menyudutkannya ke lemari es. Tapi dia menyukainya, mungkin ini yang namanya emosi berlebihan, pikir Hinata. "aku kira kau bukan pacar ku, itu kan yang ada dalam pikran mu, aku bukan. . ."

Naruto menghentikan kata-kata Hinata dengan semakin memojokannya. Tangan Hinata dipegang erat hingga tidak bisa menyingkirkan Naruto, "apa yang ingin kau katan sebenarnya Naruto, kau mau mengatakannya sebelum aku yang berkata. Lagi pula, paman Iruka benar, aku harus mencari pria yang lebih baik dari mu, dan mau mencintaiku apa adanya, diluar sana banyak, paman Iruka bilang. Mungkin aku harus. . ."

"Kau harus diam, atau aku akan. . ."

"Apa? Kau mau melakukan sesuatu padaku? Memukul, menampar, atau mungkin mencium ku? Ku yakin yang ketiga bukanlah pilihan yang tepat bagi mu buka . . . mmpphh!"

Tanpa peringatan atau pun alarm, terjadi begitu saja. Naruto menciumnya, itu sesuatu yang jarang terjadi. Hinata hanya terdiam, lalu kemudian tersenyum, dia tersenyum saat Naruto menciumnya, itulah yang selama ini di inginkan Naruto. Dia mencium Hinata tanpa henti dan tentu saja Hinata membalas ciuman itu. Sungguh dia tidak pernah bisa mengerti betapa nikmatnya saat seseorang membalas ciuman mu.

Naruto tidak bisa berhenti, dan itu adalah kesalahan Hinata. Meskipun begitu, ia juga tidak mau moment ini cepat berakhir, tapi apabila tidak berakhir, maka Hinata harus siap menanggung semuanya. Lututnya kini lemas dan tidak mampu berdiri, dia terjatuh tapi Naruto menahannya. Naruto menelan dengan susah saat dia memegangi Hinata, tak punya pilihan Naruto mengangkatnya dan membawanya ke kamar, apa kamar?

Hinata memejamkan matanya saat Naruto membaringkannya di tempat tidur, dia melingkarkan lengannya di leher Naruto agar Naruto tidak pergi. "jangan kabur dari ku begitu saja ketika kau yang memulainya, aku tidak menyukai hal itu!" Naruto mencoba melepaskan tangan Hinata, "aku tidak memulai apapun, lepaskan aku!" Hinata tidak melepaskannya, "aaaaakhh. . . " tiba-tiba Hinata menjerit ketakutan, dan dia memeluk Naruto. Terlihat di luar turun hujan, dan petir pun terdengar nyaring, Hinata ternyata takut pada suara petir, "kau takut?"

"T-tidak, aku hanya terkejut saja mendengarnya." Hinata menatap wajah Naruto, "kurasa aku tidak bisa pulang, bolehkah aku tidur disini?" tanya Hinata dengan lembut dan terkesan menggoda.

Naruto melepaskan tangan Hinata saat dia lengah, lalu dia pun terlepas dari Hinata. Tidak mengatakan apapun, itu berarti Naruto mengijinkannya, "mungkin aku akan sering-sering menginap disini, atau . . aku mungkin bisa tinggal disini, aaahh, itu pemikiran yang bagus!" Hinata tersenyum bahagia. Dia turun dari tempat tidur dan menatap keluar jendela, terlihat petir menyambar, menghiasi langit yang gelap, musim penghujan kali ini akan terasa lebih menyenangkan karena ada seseorang yang berada disampingnya saat ini, "kau mau mandi?"

"Jika kau mengijinkan!" kata Hinata, sambil berlalu menghampiri Naruto, "aku rasa, akan lebih menyenangkan jika kau memanggil nama ku sekali saja!"

"Aku pernah memanggil nama mu!"

"Tapi tidak setiap hari. Biasakan saja memanggil nama ku, apa susahnya, kita kan pacaran. Tapi. . . kau boleh memanggilku sayang, atau cinta, sweety. . tidak, tidak, terlalu berlebihan, sayang, kurasa cukup. Bagaimana?"

"Terserah kau saja!" kata Naruto lalu meninggalkan Hinata.

Beberapa jam setelah ia mandi, "Naruto!" panggil Hinata, "apa yang harus aku pakai?" Naruto menemui Hinata di kamarnya dan melihat Hinata hanya memakai handuknya, rambut Hinata basah, dan oh tidak, dia memiliki kaki yang panjang, kaki jenjangnya itu membuat Naruto sedikit goyah, lalu dengan bahu Hinata yang terbuka lebar, dia ingin membuat Naruto mati karena cinta.

"Pakai saja pakaian ku, ada di lemari!" Naruto buru-buru keluar sebelum tubuhnya bertindak terlalu jauh. Hinata hanya tersenyum melihat Naruto, sekarang dia sudah bisa menilai dan memahami arti dari binar mata Naruto saat ini, dia sudah bisa menebak sekarang, "mmhhh, coba kita lihat, baju mana yang cocok untuk ku!" beberapa menit kemudian setelah memilih baju, "apakah ini cocok untukku?" kemeja berwarna putih itu membuat tubuh Hinata hampir terbuka, pahanya yang pendek dengan lengan mencapai siku, rambutnya yang basah membuat Hinata terasa seperti santapan yang menggoda.

"Kenapa kau memilih baju itu?" bentak Naruto.

Hinata tekejut dan menelan ludahnya, "kenapa tiba-tiba membentak ku?" sekarang giliran Naruto yang terkejut, "aku tidak salah, kau sendiri yang menyuruh ku untuk memilih baju, hanya ini yang tidak terlalu besar di tubuh ku. Kenapa kau jadi . . . jangan-jangan, apa kau mau berbuat mesum padaku?"

Naruto menyemburkan minumannya saat Hinata mengatakan hal itu. Kalau ada kesempatan dan dua-duanya suka sama suka, mungkin Naruto akan melakukannya, mungkin! "jangan bercanda, cepat duduk dan makan!" Hinata tersenyum senang saat Naruto menyuruhnya duduk, "apa kau yang menyiapkan semuanya?" tanya Hinata. Naruto mengangguk pelan dan melihat Hinata mulai menikmati masakannya, "mmmhh ini enak. . . kau hebat dalam memasak, istri mu pasti bangga dengan mu!"

"Bagaimana kau tahu?"

"Karena aku yang akan jadi istri mu, yah, aku bangga pada mu!"

Seakan mudah ia katakan. Naruto berdecak, tak mau menanggapi komentar Hinata lagi, "bagaimana kau bisa memasak? Siapa yang mengajari?" Naruto hanya terdiam saat Hinata bertanya, "ayo jawab, aku ingin tahu semuanya!"

"Bukankah kau sudah tahu semuanya, dari paman!"

"Tapi tidak sedetail yang kau kira, aku. . .akkhhh." suara petir itu terdengar nyaring, dan itu membuat Hinata kaget, dia menghentikan makannya. Dan berlari ke arah Naruto disebrang meja saat lampu tiba-tiba mati. Hinata memeluk Naruto seerat mungkin, dan Naruto juga menyadari dalam kemeja putih yang Hinata kenakan dia tidak memakai apapun didalamnya, mungkin hanya bra dan celana dalam, pikir Naruto. saat dalam keadaan seperti ini dia berpikiran mesum, "kau tidak memakai apapun dalam kemeja ini?" tanyanya

"Hanya bra dan celana dalam!" kata Hinata, "ya ampun kenapa disaat seperti ini kau menanyakan hal itu, apa yang ingin kau lakukan padaku?"

"Kau seharusnya jangan seperti ini Hinata. . ."

"aku suka. Kau memanggil nama ku, katakan lagi!"

Naruto menghela napas, "jangan lakukan ini didepan pria lain!"

"Kenapa? Kenapa tidak boleh, apa hanya pada mu saja kalau begitu?"

"Yah, hanya pada ku saja!"

Naruto melepaskan pelukan Hinata, "aku akan menyalakan lilin!" Hinata menyukai pengakuan Naruto yang tiba-tiba. Naruto meraba-raba meja, dan Hinata mengikutinya dari belakang sambil memegang tangan Naruto. Saat Naruto menyalakan lilinnya Hinata memeluknya dari belakang, "apa kita akan melakukannya?"

"Melakukan hal apa?

"Hal-hal yang dilakukan pasangan kekasih, seperti nonton film, makan malam, tidur bersama, kencan dan pergi ke tempat-tempat yang romantis lainnya. . ."

"Tunggu, kau tadi bilang apa. Tidur bersama?"

"Apa aku mengatakan hal itu, sepertinya tidak! Ahhh kau ini, tapi itu bisa jadi daftar yang romantis bukan. Hanya tidur biasa, dengan pakaian yang lengkap tapi . . . jika kau mau. Kita bisa melepas pakaianya. . . . mungkin"

Naruto melepas tangan Hinata, "kau. . . apa semua pria yang kau kenal. . ."

"Cukup! Aku sudah bilang padamu sebelumnya, kalau aku tidak pernah melakukan hal apapun pada pria lain, hanya kau Naruto. Tidak kah kau mengerti, aku sendirian sebelum kau hadir dalam hidupku. Tidak sebesar ini keinginan ku untuk memiliki seorang pria, kadang aku pernah berpikir, bahwa hidup melajang mungkin hal yang mudah, tidak perlu menikah dan mempunyai anak, hanya sendiri, kupikir itu ide yang bagus!" kata Hinata dan tidak ketinggalan, tetesan air matanya tumpah menurni pipinya yang mulus.

"Jangan menangis, aku tidak menyukai hal itu, terutama kau, Hinata aku mohon!" Mendengar Naruto memanggil namanya sudah menghapus kesedihan padanya, air matanya kini tak mengalir lagi, "aku takut jika aku harus sendirian Naruto, aku tidak punya siapa-siapa, kakakku sibuk dengan pekerjaannya, dan aku hanya sendiri!"

"Kau tidak sendiri, aku ada disini!" kata Naruto lalu memeluk Hinata, dia juga membawa Hinata ke tempat tidur dan membaringkannya, lalu ikut berbaring disamping Hinata. Hinata memeluk Naruto, mencoba berhenti menangis lagi, tapi sulit. Ketika Naruto mencium keningnya, Hinata mulai tenang kembali. "jangan menangis, aku ada disini!"

"Kau tidak akan ada disini selamanya untuk ku kan, katakan padaku!"

"Aku akan selalu bersama mu, disini, selamanya!"

Hinata semakin memeluk Naruto erat, dia senang dan bahagia, semoga ini bukanlah mimpi belaka, batin Hinata, lalu muali terlelap saat petir menjadi sebuah nyanyia tidur. Keesokan harinya, udara terasa dingin dan itu membuat semua orang tidak ingin meninggalkan tempat tidur, begitu juga dengan Hinata yang terbangun lebih dulu, dia tidak bangun karena sedari tadi memandangi wajah Naruto yang tampan saat tidur, "apa aku mimpi, melihat seorang pria tampan!" gumam Hinata. Dia mencoba melakukan apa yang dilakukan kebanyakan orang, mengambil kesempatan dalam kesepatan yang ada. "mungkin hanya ciuman ringan kurasa!"

Hinata mencium bibir Naruto, berulang-ulang, menyentuh hidungnya matanya, pipinya, dan bibirnya lagi hingga saat terbangun pun ia masih menciumnya. "apa yang kau lakukan?" Hinata tersenyum, "aku mencoba sesuatu yang sering dilakukan pasangan lain!" ketika Hinata akan menciumnya lagi Naruto menghentikannya, "aku mau mandi!"

"Tunggu! Apa ada yang ingin kau makan?"

"Mungkin ramen!" dan setelah itu Naruto melesat ke kamar mandi, "ini sudah jam sembilan, mungkin tidak apa-apa kalau makan ramen, baiklah kalau begitu!"

Beberapa menit kemudian saat Naruto sudah selesai mandi dan Hinata sudah menyiapkan ramen kini mereka duduk bersama di meja makan, "kau suka ramen yah? Paman bilang kau lebih menyukai spagheti!"

"Itu dulu, setelah ke kota aku lebih menyukai ramen! Apa Kyuubi. . ."

"Aku sudah memberinya makan!" kata Hinata, lalu memandangi Naruto, "ada apa?"

"Hari ini kan hari libur, ayo kita jalan-jalan!"

"Cuaca sedang tidak memungkinkan. Lagi pula semua pelayan di rumah mu pasti kahwatir!"

"Setiap hari sabtu dan minggu mereka semua pulang ke rumah masing-masing, jadi rumah itu sepi. Aku sering menginap di rumah Sakura atau Ino saat hari sabtu dan minggu!"

"Aku ingin sekali bertemu dengan kakakmu!"

"kenapa? Kau sudah tidak sabar yah, tenang saja, diakhir semester kita akan bertemu!"

Naruto tidak sabar karena dia ingin mengatakan semuanya pada Neji, bahwa Hinata adalah miliknya selama Hinata tidak ada yang menjaga dan melindunginya, bahkan dia akan mengakui kepemilikannya tanpa seijin Neji sekali pun. Kurasa itu adalah ide yang sangat brilian.

"Lalu apa yang akan kita lakukan hari ini, aku sangat ingin jalan-jalan!"

"Baiklah, kita akan jalan-jalan!"

"Benarkah, kalau begitu aku akan mandi, tapi . . . pakaian ku?"

"Aku sudah mencucinya!"

"Benarkah, tapi sepertinya aku akan membeli stock pakaian!"

"A-apa?"

"Sudahlah, hari ini kita akan bersenang-senang!" kata Hinata dengan girangnya lalu mengambil handuk Naruto dan mencium bibirnya singkat, bahkan mereka pun berbagi handuk. Beberapa menit kemudian Hinata sudah keluar dari kamar mandi, ia berteriak memanggil Naruto, dan Naruto terkejut saat melihat Hinata tengah memakai dress nya, "tolong naikan resleting ku!" Hinata selalu mempunyai kesempatan untuk membangkitkan gairah pada diri Naruto, kalau saja dia tahu, dengan tidak melakukan hal itu pun gairah Naruto selalu menyala-nyala saat menatapnya. Naruto menaikan resleting itu saat Hinata menyibakan rambutnya ke samping dan Naruto mencium aroma mawar menyeruak di hidungnya.

"Apa itu sabun?" tanya Naruto, Hinata mengangguk, "aku membelinya kemarin sebelum datang ke apartement mu, tapi aku menaruhnya dikotak penyimpanan, pasti kau belum melihatnya kan. Nanti saat kita jalan-jalan, kita harus mampir membeli beberapa shampo, sabun, sikat gigi dan lainnya. . ."

"Untuk siapa dan untuk apa?"

"Tentu saja untukku dan aku akan menggunakannya khusus saat berada di apartement mu!"

"Ini bukan penampungan!"

"Siapa yang bilang, ini akan menjadi rumah ku nanti. Kau sudah selesai kan, awas minggir, aku akan menyisir rambut!" beberapa hari ke depan Naruto lah yang akan menyisir rambut panjang nan indah itu,, tunggulah

"Kurasa aku melupakan sesuatu!"

"Apa lagi, kau sudah membeli semuanya!"

"Tidak, aku lupa ini!" Hinata mengambil sesuatu, sebuah bungkus kecil. Saat Naruto melihatnya, dia pun terkejut dan langsung mengambil bungkus itu, "k-kau!" Naruto menarik paksa Hinata agar menjauh keluar dari toko secepatnya, "Hinata!"

Sebelum melanjutkan kata-katanya Hinata menyela, "apa?" Naruto tidak bisa berkutik, karena Hinata juga terlihat kesal, hanya karena bungkus kecil itu. Hinata amat kesal, dia tidak mau melihat Naruto saat ini, "aku membenci mu!" ujarnya, lalu meninggalkan Naruto. dia membawa semua barang-barang yang ia beli dan menaruhnya di mobil Naruto, sementara itu dia pergi ke tempat lain, tanpa memberitahu Naruto kemana ia pergi.

"Hinata!" panggil Naruto, tapi Hinata tak sama sekali menoleh ke belakang. Naruto mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan dan mengacak-acak rambutnya pertanda frustasi. Salahnya sendiri tidak mengijinkan Hinata membelinya, apakah dia membuat kesalahan, jika ia menginginkannya pasti kelak akan terjadi, tapi tidak untuk saat ini, masih terlalu awal. Pusing dengan semua ini, Naruto pun pergi dengan semua barang-barang Hinata dan menaruhnya di apartement sesuai dengan barang yang ia beli.

Naruto membaringkan badannya di tempat tidur, ia masih merasakan kehadiran Hinata di ranjang itu, aromanya masih tertinggal, dan dia tidak mau aroma itu lenyap begitu saja. Naruto menantikan saat-saat dimana dia dan Hinata menghabiskan waktu di tempat tidur ini seharian, dan saat-saat itu akan terjadi setelah ia memiliki Hinata dengan atau tanpa persetujuan kakaknya, tapi dia harus mencoba untuk menemui Neji. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Naruto bahwa dalam hidupnya keinginan terbesarnya adalah memiliki Hinata, dalam hidupnya hanya ingin terus menyendiri dan menyembunyikan diri dari orang lain, tapi sata bertemu Hinata semuanya berubah.

Disisi lain, saat Hinata tengah kesal, ia menjauh dari keramaian dan menyendiri, tidak mau bergantung pada orang lain, "disaat seperti ini, disaat aku menginginkannya, tapi dia menolak. Apa kurangnya diriku, apa akurang cantik hingga tak mau dia menyentuhku, keterlaluan!" Hinata berada di kampus, teatnya di rooftop, "disaat aku sudah jatuh cinta dan siap untuk melakukan segala hal dengan pasangan ku, dia malah menolak, aaaakkkhhhh, apa kurangnya aku Naruto?" Hinata mulai menangis, "aku iri dengan teman-teman ku, mereka adalah orang-orang yang bebas melakukan segala hal, dan aku juga ingin melakukannya, aku kan sudah dewasa juga!" kata Hinata

Dia memanyunkan bibirnya sambil mengucek-ucek ujung pakaiannya hingga kusut, "apa dia tidak memikirkan aku, aku kan ada disini Naruto, di rooftop, kenapa kau tidak menjemputku!" Hinata terduduk lesu di kursi panjang, dia menguap dan tiba-tiba badanya berbaring hingga ia tertidur.

Sementara itu, Naruto mencoba menghubungi Hinata, tapi ponselnya tidak aktiv. Dia juga menghubungi teman-teman Hinata, tidak ada yang tahu dimana dia, hari sudah gelap dan dia sangat khawatir. Sampai Naruto teringat, kemudian dia bergegas memakai jaket orangenya dan berlari secepat mungkin menuju lift, saat sampai di mobilnya, ia pun melaju cepat menuju kampus.

Naruto dengan cepat sampai di kampus, dan dia berlarian menuju rooftop hingga tersandung dan terjatuh, saat itu kampus sudah gelap dan tidak bisa melihat apapun saat menaiki tangga. Naruto sampai di rooftop dan melihat disekeliling, dia menemukan Hinata tengah terbaring kedinginan di kursi. Untung saat ini tidak turun hujan, Naruto lega telah menemukan Hinata. Baru saja ia bicara tidak turun hujan, detik kemudian hujan pun turun, "ya ampun!" gumam Naruto.

Saat turun hujan itu Naruto melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Hinata, dia pun terbangun saat hujan besar itu turun, "Naruto!" gumam Hinata. Naruto menutupi wajah Hinata dengan kedua tangannya, "ayo kita pulang!" kata Naruto dambil berteriak, "aku tidak mau!" sahut Hinata. Naruto sudah menyangka bahwa ia akan menolak, tapi tetap saja Naruto memaksanya dengan menggotong Hinata, Hinata berteriak dan meronta-ronta tapi Naruto dapat mengatasinya hingga mereka sampai di mobil dan mendudukan Hinata di bangku depan.

Saat diperjalanan Hinata tersenyum-senyum dalam hati tapi raut wajahnya menampakan kekesalan. Saat sampai di apartement mereka menaiki lift dengan keadaan basah kuyup. Naruto menggotong Hinata dan dia melingkarkan lengannya di leher Naruto, dia menyukai hal itu, tapi Naruto tidak menyadarinya, ia terlalu khawatir. Saat sampai di apartement Naruto akan menurunkan Hinata dan dia sudah turun, akan tetapi Hinata menolak melepaskan pelukannya di leher Naruto, karena saat itu lampu tiba-tiba mati, "aku harus menyalakan lilin, dan kau harus mengganti pakaian mu!"

Hinata menggelengkan kepalanya pelan, dia semakin memakin memeluk Naruto erat, "kau kedinginan, mandi air hangat dan gantilah pakaian mu!"

"Aku mau mandi tapi kau harus menemani ku!"

Entah apa reaksi Naruto, yang pasti dia menyalakan lilin lebih dulu baru setelah itu dia, menemani Hinata ke kamar mandi. Ruangan itu sedikit samar, karena hanya ada beberapa lilin yang menerangi. Naruto menaruh Hinata di bathub, dan menayalakan air hangat untuknya. "kalau kau sudah selesai, panggil aku, mengerti?" Hinata tidak mengangguk atau pun bicara, dia hanya menatap Naruto.

"Jangan tatap aku seperti itu, tidak ada gunanya juga kau marah padaku!"

"Aku tidak marah!" kata Hinata, "aku hanya kesal pada mu!"

"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang agar kekesalan mu hilang?"

Hinata menyeringai, "baiklah, buatkan aku susu, ambilkan baju tidur ku, dan aku ingin makan ramen!" Naruto mengira Hinata akan meminta hal-hal aneh itu sekarang, tapi dia bernapas dengan lega. "baiklah, tapi sekarang kau mandi dulu!" Naruto keluar meninggalkan Hinata yang akan mandi, dia menyiapkan semua permintaan Hinata, padahal dia sendiri belum berganti pakaian dan masih basah. Beberapa menit kemudian saat Hinata sudah selesai mandi, ia memanggil Naruto, dan Naruto pun datang dengan menuntun Hinata menuju kamar, sambil berganti pakaian Naruto masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.

"Aku rasa, jika aku merayunya dia akan tergoda, apa itu mungkin, aku harus mencobanya!"

Keinginan Hinata untuk tidur dengan Naruto sangatlah besar, padahal dia pernah tidur dengannya, lalu tidur yang bagaimana maksud mu Hinata?

Beberapa menit berikutnya mereka duduk di sofa sambil menikmati makan ramen ditengah kegelapan dan remang-remang cahaya lilin, "aku rasa apartement ini memiliki fasilitas buruk setiap turun hujan!" kata Hinata sambil memakan ramennya. Naruto tidak bisa melihat bagaimana Hinata makan ramen sambil bicara, pernah dia melihat Hinata memakan yang lain, tapi untuk ramen dia belum pernah melihatnya."apa yang kau katakan pada teman-teman tentang diriku?"

Hinata menyukai obrolan ini, "aku bilang pada mereka kalau kau adalah pacarku, tapi mereka tidak percaya!" kata Hinata. Naruto tersenyum kecil, "kita sudah tiga bulan saling mengenal, tapi mereka tetap tidak percaya, karena kau tahu? Mereka belum pernah melihat mu mencium ku, atau setidaknya kita berciuman, mereka menginginkan bukti dan itulah satu-satunya bukti!"

"Kau sudah selesai?"

"Aku sedang membicarakan ciuman disini, kenapa kau malah menanyakan sudah selesai. Menyebalkan, aku sudah selesai makan dari tadi, puas?" Hinata menaruh cup ramen itu di meja, "lagi pula kenapa hanya menyalakan satu lilin, kecil lagi, apa tidak ada lagi lilin?"

"Tidak ada. Kau yang berbelanja, kenapa tidak membeli lilin?"

"Aku suka berbelanja," dengan nada menggoda, "tapi tidak untuk lilin!"

^^Bersambung. . . ^^