Chapter 3: Salvia.

Disclaimer: Hiro Mashima

Warning: AU, OOC, and typo(s)

Pair: Gray Fullbuster and Juvia Locksar

Genre: Romance/Drama

Rate: T

.

.

.

Salvia

~ Memikirkanmu.

.

Tek..

Tek..

Kriiiiiiinggggg~!

Suara dering jam alarm memenuhi sebuah kamar gelap pagi itu. Tirai biru masih menahan cahaya langit untuk masuk melalui kaca jendela. Yang terdengar hanyalah deru pelan angin dan gemerisik jalan diluar.

Kriiiiinnggg~!

Suara keras itu terus berbunyi. Seakan berteriak agar penghuni kamar bersurai hitam yang masih menggeliat di kasurnya segera bangun.

Krrrriiiinggg~!

" Ukh-" Erang gadis itu akhirnya. Kelopak matanya terbuka perlahan, menampakkan sepasang permata sapphire yang berkilat. " Engghh-" Erang gadis itu lagi.

Krriiiinnggg~!

Tangan pucatnya bergerak pelan memegang kepalanya. Matanya berkunang-kunang. Kepalanya sakit luar biasa, seakan-akan sebongkah batu raksasa tengah menindihnya saat ini.

" Nggg~.." Erangan terus keluar selagi dirasakannya perutnya bergejolak, sepeti di kocok hingga membuatnya mual dan ingin muntah.

Krriiingggg~!

Ia merutuki jam alarm yang terus berbunyi. Seakan tak mau mengerti keadaannya saat ini. Dengan kepala yang serasa berputar, dengan perlahan di bangkitkan tubuhnya. Tangannya menggapai sebuah jam alarm bewarna biru yang ada di atas meja samping tempat tidurnya.

Krrriiii-

Klik.

Ia menghela nafas pelan. Akhirnya suara yang memekikkan telinga itu lenyap. Membawanya kembali dalam kesunyian. Namun, ketenangannya terganggu sesaat ketika sakit kepala yang luar biasa kembali menyerangnya. Perutnya pun juga serasa siap untuk memuntahkan semua yang ia makan kemarin.

Dengan lunglai, ia melangkah cepat menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya.

" Ueekk.." Erangnya begitu makanan-makanan dalam perutnya berhasil keluar. " Ueekk.. Unghh~"

Keringat dingin muncul dari kedua pelipisnya. Mengalir pelan melalui wajah pucatnya. Dengan pelahan disenderkan tubuhnya di depan tembok kamar mandi berkeramik coklat. Dengan nafas terengah ia pejamkan kedua matanya. Mencoba menetralisir rasa sakit yang masih dirasakan di sekujur tubuhnya.

" Haah.." Nafasnya serasa tercekat. Namun sedetik kemudian kembali normal walau rasanya begitu berat.

Di sentuhnya kedua pipinya, merasakan permukaan kulit wajahnya yang serasa begitu dingin, padahal di sisi lain keringat terus bercucuran dari kedua pelipisnya. Diliriknya jam kamar yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Dengan cepat disambarnya handuk biru yang tergantung di kamar mandi. Dengan mengabaikan sedikit rasa sakit yang masih tersisa, ditutupnya pintu kamar mandi tersebut dan bersiap menuju sekolah.

.

.

.

Ia melangkah pelan melewati jalan yang ramai pagi itu. Merapatkan mantel birunya, berharap mendapatkan kehangatan yang lebih di tengah tiupan angin musim dingin yang semakin kencang.

" Eh-... Ohayou, Juvia..." Suara familiar seorang pemuda menyapanya dari belakang. Diputar tubuhnya hingga kini ia melihat seorang pemuda berambut merah muda tengah tersenyum lebar padanya.

" Natsu-kun.." Gumamnya, " Ohayou... Mana Lucy?" Tanyanya begitu ia tak melihat sesosok gadis yang biasanya datang bersama pemuda itu.

" Ia berangkat duluan. Katanya ada keperluan di sekolah... " Natsu tersenyum sambil menyamakan langkah mereka berdua, " Ayo!"

Juvia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk sambil melanjutkan perjalanan. Berjalan beriringan dengan Natsu. Cukup canggung memang, apalagi ia memang jarang mengisi waktu berdua dan berbicara dengan pemuda itu kecuali saat mereka berada di kelas yang sama.

" Kalau boleh tau, Lucy ada urusan apa?" Tanyanya kemudian. Natsu masih terdiam, melirik teman perempuan yang ada di sebelahnya.

" Entahlah..." Jawab Natsu kemudian. Pemuda itu kembali mengalihkan pandangannya pada jalan yang ada di depan. " Mungkin masalah universitas.." Lanjutnya.

" Kudengar dari Lucy, kau akan melanjutkan sekolah ke Osaka.."

" Ya..." Natsu tersenyum kecil, " Dan dia akan ke Kyoto..."

" Jangan khawatir..." Ucap Juvia pelan, " Lucy sudah janji akan terus menghubungimu... Kalian pasti akan baik-baik saja..."

Langkah Natsu terhenti, membuat Juvia bertanya dan melihat kearah pemuda itu. Pemuda itu terdiam, menatap menatapnya sambil berpikir.

Juvia menghembuskan nafas pelan. Tau apa yang pemuda itu khawatirkan. Dengan pelan kembali di buka kedua bibirnya dan berucap.

" Dia sayang padamu. Dia takkan berbuat macam-macam di luar sana. Sekarang tinggal dirimu yang harus percaya padanya... Dan mempercayai dirimu sendiri yang percaya pada Lucy..."

Natsu terkejut. Tidak percaya dengan sepenggal kalimat yang barusan Juvia ucapkan. Ia tahu gadis sapphire itu pintar, tapi ia sungguh tak menyangka gadis itu juga dapat membuat perasaan yang mengganjal dalam hatinya beberapa hari ini hilang begitu saja.

Dengan senyum kecil yang terbingkai di bibir pemuda itu, ia kembali menatap temannya.

" Ya... Kau benar, Juvia..." Ucapnya, " terimakasih.."

" Tidak perlu," Potong Juvia cepat, " Sudah kewajibanku untuk membantu teman.." Dan Juvia-pun ikut tersenyum.

" Yah.. Ayo cepat, sepertinya sudah ada yang menunggu kita di halte.."

.

Angin berhembus pelan masuk ke dalam halte sepi pagi itu. Seorang pemuda berambut raven memejamkan matanya selagi kedua telinganya asyik mendengarkan musik yang dimainkan oleh ponsel birunya. Rambutnya bergerak pelan mengikuti arah angin. Kedua tangannya terlipat di depan dada, seakan-akan telah jatuh ke dalam dunia mimpi.

" Yo, Gray..." Suara Natsu menyapa gendang telinganya. Dengan malas dibuka kedua kelopak matanya hingga kini dapat ia lihat Natsu tengah berdiri tak jauh di sampingnya, disusul oleh seorang gadis familiar yang kini sibuk membenahi topi putih yang ia gunakan.

" Heh-" ia mencibir pelan. Berusaha menyembunyikan suaranya dari Natsu yang kini tengah menatap jalan, menunggu bis yang sepertinya datang terlambat.

Gadis tadi kini telah duduk tak jauh di sampingnya, membuka buku bersampul coklat dan mulai membacanya. Selagi gadis itu membaca, permata dark bluenya sibuk menatap dengan intens, mengamati gerak-gerik gadis itu yang terlihat risih. Sepertinya gadis itu menyadari tatapan intens darinya.

Ia alihkan kembali pandangannya pada Natsu yang kini duduk sambil memainkan ponsel miliknya. Sebenarnya ia sempat bertanya bagaimana gadis itu bisa datang bersama Natsu, sedangkan di sisi lain Juvia tidak ada bersama mereka.

Berbagai pemikiran mulai mucul dalam benaknya. Di sertai dengan rasa panas yang seketika menyerang perutnya. Ada apa dengan dirinya? Ia merutuki dirinya sendiri. Dieratkan kedua kepalan tangannya, begitu ia melihat kedua insan itu kembali berbicara satu sama lain.

"- Aku juga berpikir begitu.. Kau benar-benar pintar, Juvia!" Ucap Natsu diiringi dengan senyuman di kedua bibirnya

" Ahahah.." Juvia hanya tertawa pelan, kembali ia alihkan perhatiannya pada buku yang sedang ia baca.

" Em.. Kau sakit ya?" Tanya Natsu tiba-tiba.

" Hah? Ti-tidak kok.."

" Tapi kau kelihatan pucat.."

" Ti-tidak sungguh.."

" Kalau sakit bilang saja ya.." Natsu kembali tersenyum, " Kau tidak ingin membuat Lucy dan aku khawatir 'kan?"

" Ya.." Jawab Juvia disertai dengan sebuah anggukan pelan.

Suara Natsu terngiang di benaknya, membuatnya semakin ingin melemparkan rasa kesal yang entah datang dari mana dan karna apa.

Dengan cepat dilirik kembali gadis yang berada tak jauh di sampingnya. Sepertinya gadis itu tengah berusaha menghindari tatapan sinis darinya.

" Tidak kusangka kau begitu murahan..." Katanya tanpa berpikir panjang. Menarik perhatian dua orang lain yang berada di dekatnya.

" Kau bicara pada siapa Gray?" Tanya Natsu bingung.

Mereka bertiga kembali terdiam. Natsu masih melemparkan tatapan bingung selagi dua remaja lainnya masih sibuk untuk mengatur emosi.

Juvia menggenggam bukunya erat. Ia tau jelas siapa orang yang Gray maksudkan tadi. Demi Tuhan! Hanya ada mereka bertiga disana. Dengan kepala yang semakin menunduk ia berusaha keras menahan rasa sesak yang menyerang dadanya, rasanya begitu sakit, begitu panas.

" Kau berusaha mendekati Natsu... Kau ingin menghancurkan hubungan mereka 'eh?" Lanjut Gray dengan senyum meremehkan di kedua bibirnya. Dilepasnya kedua earphone biru yang sedari tadi ia gunakan. " Benar 'kan?"

Natsu hanya terdiam, otaknya kini dapat memproses apa yang tengah terjadi. Permata onyx pemuda itu kini bergerak kearah Juvia yang gemetaran, terlihat jelas gadis itu tengah menahan tangis.

" Dasar tak punya pendirian-"

" Gray sudah!" Potong Natsu cepat. Sebisa mungkin ia tidak ingin membuat keadaan kian memburuk.

" Kau pikir dengan mendekati Natsu, Lucy akan berpikir yang macam-macam hingga hubungan mereka rusak?" Lanjut Gray menghiraukan panggilan Natsu yang sedari tadi memintanya berhenti.

" Gray! Hey!"

" Ternyata kau tipe orang yang suka menusuk dari-"

" Gra-"

Praak!

Dan sebuah buku tebal bersampul coklatpun terlempar kearah Gray yang kini menutupi wajah dengan lengan kirinya.

Kini kedua pemuda itu menatap kearah gadis yang barusan melemparkan sebuah buku bersampul coklat itu dengan terkejut.

Seketika keheningan menyelimuti mereka bertiga.

Deg.

Sekelebat perasaan aneh tiba-tiba menyerusuk masuk kedalam dada Gray begitu ditatapnya gadis sapphire yang kini terlihat gemetar. Wajah pucat gadis itu memerah, bibirnya ikut bergetar seakan-akan ingin berucap sesuatu. Tangan gadis itu mengepal erat hingga warna-warna kemerahan terlihat jelas di telapak tangan pucatnya.

" Juvia..." Natsu memanggil gadis itu pelan, namun bingung harus berucap apa.

Gadis itu menundukkan kepalanya, tubuhnya terus bergetar menahan amarah yang seakan akan membuat sesak hingga ubun-ubun kepalanya. Dengan perlahan ditatapny Gray yang kini terlihat terkejut melihatnya. Permata Biru tua pemuda itu menatap ragu penuh penyesalan, yah.. Mungkin begitu.

" Kau.. Tidak mengerti.." Gadis itu berucap pelan. Diangkat kepalanya secara perlahan.

" Kau tidak berhak.." Geramnya

" ..."

" Kau tidak berhak mengataiku seperti itu!"

Dan kini dapat Gray lihat dengan jelas air mata yang mengalir deras di pipi gadis pucat itu.

" Kalau tidak mengerti- Kau tidak berhak berpikiran seperti itu terhadapku!" Gadis itu kembali berteriak. Tak peduli akan air mata yang terus mengalir di wajahnya yang memerah karna amarah. Tidak peduli dengan Natsu yang menatap mereka tanpa bisa berkata apa-apa.

Tidak peduli, karna yang ia pedulikan saat ini adalah rasa sakit yang menusuk-nusuk hingga kerongga hatinya.

" Bilang saja kalau kau membenciku!"

Gadis itupun melangkah pergi keluar dari halte tanpa berbicara apapun lagi. Meninggalkan Natsu yang terlihat geram pada teman lelakinya.

Meninggalkan Gray yang terlihat shock dengan apa yang barusan terjadi.

Kenapa dadanya ikut terasa sakit?

.

.

" Apa yang kau pikirkan?" Suara Natsu memecah keheningan diantara dirinya dan Gray. Pemuda itu menatap lirih kearah sahabatnya yang kini terdiam menatap jalan di luar bis yang mereka naiki.

Ditatapnya terus pemuda berambut raven itu, menunggu sebuah jawaban yang mungkin akan meluncur keluar, memberikan alasan masuk akal sehingga ia bisa memaklumi hal yang baru saja Gray lakukan. Tapi, pemuda itu tetap terdiam.

" Haaaahh~" Hembusnya pasrah.

"..."

" Sepertinnya tetap sulit ya memahamimu, padahal kita sudah berteman sejak lahir.. Haha.." Ia berbicara lagi. Mengalihkan pandangannya dari Gray yang masih terdiam. " Apa sebegitu sulitnya mempercayaiku?"

"..."

" Padahal aku percaya padamu.."

"..."

" Percaya bahwa kau takkan merebut Lucy dariku.."

Gray tersentak, dengan cepat ditatapnya Natsu yang kini masih terdiam menatap jalan yang ada di depan mereka. Pemuda itu tak menunjukkan ekspresi apapun, membuatnya semakin penasaran akan apa yang barusan Natsu ucapkan.

" A-apa?" Tanyanya ragu.

" Heh-" Natsu berseringai kecil, " Kau pikir aku tak tau soal itu?" Kini pemuda itu kembali menatapnya.

" Soal apa?"

" Soal dirimu yang tertarik pada Lucy.." Jawab Natsu tegas, " Aku tau siapa dirimu... Jangan kau pikir aku tak pernah memperhatikanmu selama ini, bagaimanapun juga aku teman mu 'kan?"

" Maaf.." Ucapnya pelan.

" Jangan minta maaf padaku. Minta maaf-lah pada Juvia..." Lanjut Natsu sambil menggenggam erat sebuah buku bersampul coklat yang tadi sempat Juvia lempar. Menatap lirih pada buku lusuh itu.

Apa reaksi Gray begitu ia membaca selembar surat yang ada di dalam buku ini?

.

.

Buk!

Suara tubrukan seketika membuat kelas pagi itu menjadi hening. Para penghuni kelas Biologi dikagetkan dengan kehadiran seorang gadis _dari kelas lain_ yang tiba-tiba mendorong tubuh Gray hingga membentur tembok.

Amarah terlihat jelas dari mata gadis cantik itu. Dengan tangan yang terkepal, dicengkramnya kerah baju Gray sehingga kini pemuda itu mengankat kepala dan menatapnya ragu.

" Apa yang kau pikirkan?! Hah?!" Teriaknya seketika. Membuat seisi kelas dan juga pemuda lain _yang berdiri di belakangnya_ ikut terkejut.

" Luce tenang dulu-"

" Diam kau!" Perkataan pemuda berambut merah muda bernama Natsu ia potong dengan cepat. Kembali ia arahkan perhatiannya pada pemuda yang masih terdiam di hadapannya. " Jawab aku!"

Gray masih terdiam. Mata pemuda itu menatap ragu ke arahnya yang masih terus menggenggam kerah Gray dengan erat. Berharap segera mendapat penjelasan atas apa yang ia lakukan tadi pagi.

" Kau tuli! Gray jawab aku!"

Paaak.

Gray menepis tangan Lucy pelan, membuat gadis itu kehilangan kata-kata. Ia kembali menunduk dan membangkitkan tubuhnya secara perlahan, mencoba menghindari pertanyaan Lucy yang pada kenyataannya tak bisa ia jawab.

Dengan perlahan dilewati Lucy yang masih terpaku menatapnya.

" Mau kemana kau?" Desis Lucy. Jari lentik gadis itu menahan pergelangan tangannya yang kekar, " Jelaskan dulu..."

" Tidak ada yang perlu dijelaskan.." Jawabnya dingin.

" Lalu kenapa kau harus berkata seperti itu... Kau pasti punya alasan 'kan?" Paksa Lucy lagi.

" Bukan urusanmu 'kan? Lagipula yang harusnya marah itu bukan kau, tapi dia-"

" Juvia tidak akan sanggup marah padamu Gray!" Potong Lucy cepat. Permata caramel gadis itu berkilat oleh air mata. Dengan tatapan kesal dipandangnya Gray yang masih terdiam tanpa melihatnya. " Kau tidak mengerti.."

" Aku memang tidak mengerti."

" Makanya dengarkan aku!" Bentak Lucy lagi. Membuat murid-murid yang lain ikut terdiam, penasaran dengan apa yang terjadi antara dirinya, Gray dan Juvia

" Tidak kah kau memahami perasaannya barang sedikit saja?" Geram Lucy.

" Luce, kita sudah janji tidak membicarakan ini.." Potong Natsu cepat.

" Aku tak peduli.." Balas Lucy cepat.

" Luce..." Panggil Natsu pelan, namun gadis itu kembali mengalihkan perhatiannya pada pemuda raven yang berdiri di dekat mereka.

" Kutanya padamu Gray... Apa kau mengerti bagaimana rasanya mencintai orang yang bahkan tak pernah peduli akan eksistensimu? Apa kau mengerti bagaimana rasanya memendam perasaanmu selama bertahun-tahun pada seseorang yang bahkan tak ingin tau bagaimana keadaanmu?" Desis Lucy. " Kau tak tau kan rasanya? Bagaimana rasanya saat perkataanmu diabaikan oleh orang yang kau sukai?! Bagaimana rasanya saat orang yang kau sukai malah menghindarimu... Berpura-pura tidak tau dan menghindari kenyataan.. Kenyataan bahwa kau menyukainya?" tanya Lucy lirih. Tetes demi tetes airmata mengalir melewati pipi mulusnya, " Kau tak menger-"

" Aku mengerti!" Bantah Gray kemudian. Kedua kelopak matanya terpejam, menyembunyikan pemata biru tuanya. Kedua tangannya ikut terkepal, bergetar perlahan menahan emosi. " Makanya aku seperti ini.." Lanjutnya lirih.

" Apa maksudmu?" Tanya Lucy bingung.

" Aku-" Perkataanya terhenti. Kembali dipejamkan kedua kelopak matanya " Aku tak peduli.." Lanjutnya singkat.

Dialihkan pandangannya dan dengan langkah cepat ia gerakkan kakinya keluar kelas.

Menyisakan keheningan yang masih menyeruak dalam kelas bercat putih caramel pagi itu.

.

.

Seorang gadis bersurai biru tertunduk dibawah pohon sakura yang kelopaknya telah hilang pagi itu. Membiarkan angin berhembus pelan mengangkat helaian rambutnya. Menampakkan wajah pucat miliknya yang masih jelas menyisakan air mata beberapa saat yang lalu. Bibirnya sedikit terbuka. Matanya menatap kearah kerikil-kerikil kecil yang berada di sekitar rerumputan tempatnya berpijak.

Matanya kembali menyiratkan pandangan kosong. Ia sudah tak peduli bila nantinya sebuah garis merah akan menghiasi kertas absensinya di kelas. Karna yang terpenting baginya saat ini, adalah melupakan hal yang barusan terjadi.

Sehingga ia dapat mengatur ulang dan berharap semuanya akan kembali seperti semula.

Tapi di dunia ini tak ada momen yang sama 'kan?

Kecuali kau hidup dalam sebuah film yang skenarionya sudah di susun rapi oleh sipenulis.

" Haahh~" ia menghembuskan nafas pelan. Dengan perlahan diangkat kepalanya dan kini wajah pucatnya tengah menghadap langit yang terlihat begitu gelap. Butir-butir salju berbentuk heksagonal melayang-layang di atmosphere. Seakan begitu fana memantul di permata sapphire nya.

Harusnya ia tidak membentak pemuda itu.

Harusnya ia bisa menahan amarahnya saat itu.

Harusnya ia tak menangis.

Harusnya..

Harusnya..

Harusnya dia tak berandai-andai saat ini.

Tes.

Airmata kembali mengalir dari sudut matanya. Rasa sakit kembali menusuk-nusuk, membuat dadanya terasa sesak.

Dengan gemetar digigitnya bibir ranum yang memucat itu.

Tangannya terkepal erat menahan emosi.

" Aaakkkhhhh!"

Ia berteriak. Tak peduli jikalau ada orang lain yang akan berpikir bahwa ia gila.

Karna pada dasarnya ia memang merasa sudah gila.

Baik dirinya, dunia, dan kehidupannya sendiri.

" Akkhhh!" Sambil berteriak, dihempaskan kaki jenjangnya dengan keras diatas aspal. Membuatnya meringis kesakitan atas perbuatan bodoh yang barusan ia lakukan.

Tapi sekali lagi ia tak peduli.

Karna hanya dengan cara ini _ia yakin_ ia akan merasa lebih baik.

Walau sebenarnya tidak sama sekali.

" Hhnnnhh~" Erangnya tiba-tiba. Dirasakan sekujur tubuhnya yang menegang. Kepalanya terasa begitu sakit. Perutnya kembali terasa mual. Dengan segera ditelusurinya seluruh sudut-sudut taman. Berharap menemukan sebuah wastafel.

Tapi nihil.

'Sial'

Cercahnya dalam hati. Penyakitnya bahkan tak pernah bisa ia ajak berkompromi.

Kenapa datang di saat cobaan lain juga sedang menghampirinya?!

Kembali ia meringis kecil. Dengan langkah gontai segera ia mengambil tasnya dan berjalan pulang menuju rumah.

Dengan berharap, setidaknya ia masih sanggup melangkah sampai rumah.

Kalau tidak, mungkin sekali lagi ia harus merepotkan Gajeel dan meminta dokter muda itu menjemputnya.

Sepertinya tidak ada yang lebih buruk dari hari ini.

.

.

" Dia tetap tak mengangkat ponselnya..."

Keluhan keluar untuk kesekian kalinya dari bibir Lucy. Ia menggigit bibir bawahnya pelan. Menahan rasa khawatir yang menggerayangi perasaannya seharian ini.

" Tuh -kan.." Lanjutnya begitu ponsel pink miliknya menyerukan hal yang sama.

" Tenanglah Luce..." Natsu angkat bicara. " Kau terlalu kahwatir. Hanya itu-"

" Tapi bagaimana kalu dia kenapa-napa di jalan?!" Potong Lucy cepat.

" Ia pasti baik-baik saja.."

" Tapi aku khawatir, Natsu!" Bantah Lcuy setengah berteriak. Air mata mulai menggenangi permata caramelnya. " Aku khawatir.." Lanjutnya lirih.

Natsu terdiam. Bingung harus membalas pernyataan yang barusan Lucy ucapkan. Karna pada dasarnya pemuda berambut merah muda itu juga merasa khawatir. Sungguh, bagaimanapun juga ia masih punya rasa peduli pada temannya 'kan?

" Sejujurnya aku juga khawatir.." Ucap Natsu memecah keheningan. Dengan mata yang masih tergenangi cairan bening itu, Lucy mengalihkan pandangan kearah kekasihnya yang duduk sambil menatap rerumputan dibawahnya. " Hari ini dia terlihat begitu pucat..."

" Apa?"

" Saat kutanya apa dia baik-baik saja, ia menjawab tak usah khawatir. Tapi aku tau tak ada yang baik-baik saja... Lalu.."

Perkataan Natsu terhenti. Dengan pandangan sedih ditatapnya Lucy yang masih bersabar menunggu ucapannya.

" Aku menemukan selembar kertas di buku yang tadi pagi ia lempar..."

" ... "

" Di sana tertulis kalau.."

" Kalau apa?"

" Kalau Juvia positif terkena Kanker Otak; Gloima... "

.

.

Angin musim dingin bertiup kencang mengiringi butiran salju yang beterbangan siang itu. Selimut alam bewarna putih tergelar luas menutupi setiap sudut jalan. Jejak-jejak kaki membekas seiringan dengan langkah sepasang manusia yang terbalutkan mantel tebal. Mencoba melindungi diri dari suhu dingin yang mencapai minus nol derajat itu.

Ting Tong...

Suara bel itu bergema diantara atmosphere es yang ada di sekitarnya. Menambah jelas keheningan yang sedari tadi menyelimuti kompleks perumahan sederhana itu.

Ting Tong...

Tidak ada jawaban.

Ting Tong...

Kini gadis berambut coklat yang sedari tadi menekan tombol bel terlihat mulai hilang kesabaran.

Ting Tong...

Tetap tidak ada jawaban.

" Ck!" Desah gadis itu kesal.

" Sabarlah... " Ucap pemuda di sebelahnya.

Ting Tong...

Ting Tong...

Ting Tong...

" Luce! " Gertak pemuda itu kemudian. Ditahannya pergelangan tangan milik gadis yang terus-terusan menekan tombol bel itu dengan tak sabar, " Kubilang sabar..."

" Bagaimana aku bisa sabar?!" Balas gadis itu kesal. " Juvia sudah lima hari tidak masuk sekolah! Aku bahkan tak tau ba-"

Ckrek...

Suara gembok yang terbuka itu menghentikan ucapannya. Dengan cepat kedua insang itu menatap pintu gerbang bewarna eboni yang perlahan-lahan terbuka. Menampakkan sesosok wanita cantik yang berdiri diantara celah gerbang yang ada.

" Ada perlu apa? " Tanya wanita itu dingin.

" Aa.. Konnichiwa, Obaa-san.." Sapa Lucy ragu. Senyum kecil ia coba bentuk diantara kedua sudut bibirnya.

" Emm..."

" Sumimasen, Maaf kami mengganggu.. " Potong Natsu cepat, " Tujuan kami datang kemari untuk menanyakan bagaimana keadaan Juvia.. " Lanjutnya lancar.

Tapi wanita itu hanya terdiam.

Menatap dingin sepasang remaja yang terlihat jelas menantikan jawaban darinya.

" Aku tak tau... " Jawabnya acuh. " Pergilah.. " Lanjut wanita itu. Dengan perlahan ditutupnya kembali pintu kayu bewarna eboni yang terasa lembab oleh udara.

Set.

" Tunggu, obaa-san! " Ucap Lucy cepat. Ditahannya pintu gerbang itu agar tak tertutup, membuat pemiliknya mendelik kesal atas perbuatannya. " Obaa-san pasti tau..." Lanjutnya lirih.

" Apa maksudmua?"

" Kami hanya ingin tau keadaan Juvia. Hanya itu saja obaa-san.."

" Sudah kubilang aku tau tau.."

" Tidak, kau tau.."

" Aku tidak tau! "

" Kumohon Obaa-san.." Pinta Lucy. Tangannya mencoba menggenggam lengan wanita itu. Menahannya agar tidak pergi dan menutup pintu gerbang itu.

" Kau ini apa apaan!" Bentak wanita itu.

" Obaa-san!"

Paaak.

Wanita itu menepis tangan Lucy yang sedari tadi menggenggam erat lengannya. Permata sapphire wanita itu menyiratkan perasaan kesal yang kini tertuju pada gadis muda yang ada di hadapannya.

" Tanyakan saja sendiri padanya.. " Desis wanita itu, " Aku tak tau. Aku tak peduli dengan keadaannya... Terserah saja, paling-paling gadis jalang itu sedang keluyuran entah kemana... Kenapa kau harus bertanya padaku? " Ucapnya sarkastik.

" Matipun aku tak peduli.."

Brak.

Dan pintu gerbang itupun akhirnya tertutup.

Meninggalkan kedua remaja yang kini kehilangan kata-kata.

Meninggalkan Lucy yang terdiam sambil meneteskan airmata.

Sebenarnya... Juvia dimana?

.

.

Wuuuusshhhh.

Angin berhembus kencang menuju pesisir. Langit sore bewarna abu-abu berhiaskan semburat oranye menjadi latar cakrawala tempat seorang pemuda terdiam. Rambut ravennya melambai-lambai diterbangkan angin. Permata biru tuanya menatap jauh kelaut. Dengan kedua tangan yang ia selipkan di antara saku celanannya, bibir pemuda itu bergetar pelan menahan dinginnya udara.

" Haahhh... " Bibirnya mendesah pelan. Kelopak matanya ia pejamkan sejenak, membiarkan angin membawa pergi segala pikiran yang berhari-hari menggerayangi otaknya.

' Bilang saja kalau kau membenci ku!'

Lagi-lagi bayangan gadis pucat yang meneriakinya beberapa waktu lalu datang kembali. Berputar-putar di otaknya tanpa lelah.

Ia kesal sungguh.

Tapi disisi lain, ia juga sangat khawatir. Sangat.

Karna saat gadis itu meneriakinya, adalah saat terakhir ia melihat gadis itu.

Yang ia tau sudah hampir seminggu gadis itu tak muncul di kelas, bahkan di sekolah.

Dan ia mulai resah.

Wuuuusshhhh.

Ombak kembali menggulung menuju pantai, membawa butir-butir pasir putih bersamanya.

Matanya kembali tergerak tanpa arah. Mencari sesuatu yang jelas takkan berada di sana.

Harusnya ia tidak seresah ini. Bahkan hanya demi seorang gadis.

Bukan hanya itu, bahkan ia merasa takut. Sangat takut.

Ia takut gadis itu kenapa-napa.

" Dimana kau?"

.

.

" Ohayou... " Suara berat seorang pria terdengar seiringan dengan pintu bercat putih yang terbuka pelan. Gadis berambut biru _penghuni kamar_ itu dengan segera menengok ke sumber suara.

Kini dilihatnya seorang lelaki berjas putih, yang sejak seminggu lalu rutin mendatanginya.

Di rumah sakit ini.

" Sudah bangun rupanya.. " Pria itu tersenyum, " Juvia-chan? "

" Jangan panggil Juvia dengan sebutan itu. " Desahnya kemudian.

" Hahahahah! " Suara pria itu pecah. Dengan langkah maju, ia mendekati ranjang putih tempat gadis itu berada. " Jangan marah gitu dong. Ini 'kan masih pagi... " Lanjutnya.

" Juvia tidak marah.. " Sanggah gadis itu. Sedetik kemudian pandangannya kembali ia arahkan pada jendela kaca yang berada tepat di sampignya. Menampakkan butir-butiran salju yang berjatuhan menyelimuti jalan yang ada di luar.

Tahun lalu, ia masih bisa menikmati salju di awal bulan februari itu.

Tahun lalu, ia masih dengan lincahnya berlari menembus salju yang tebal itu.

Tahun lalu, ia masih sanggup berdiri berjam-jam di dalam halte yang dingin itu.

Tapi itu tahun lalu.

Namun sekarang semuanya sudah berlalu.

" Jadi kapan Juvia bisa keluar dari sini? " Ucapnya kemudian.

Tidak ada jawaban.

" Gajeel-kun?"

" Sabarlah, Juvia.." Balas pria disampingnya. " Semuanya butuh waktu-"

" Tapi Juvia sudah lelah bersabar.." Potongnya cepat.

" Dengarkan aku-"

" Juvia selalu mendengarkan Gajeel-kun..." Potongnya lagi.

" Aku tau-"

" Lalu kapan Juvia bisa keluar.." Lanjutnya cepat. Diarahkan pandangannya pada pria yang berdiri tepat di sampingnya itu " Juvia lelah disini. Juvia ingin keluar... "

" Juvia... " Panggil pria itu lembut. " Dengarkan aku dulu. Kau bahkan baru akan menjalani operasi dua hari lagi... Dan kau masih butuh waktu untuk menjalankan terapi hingga sembuh.. " Jelasnya.

" Berapa lama..?"

" Segera hingga kau sembuh total.." Jawab pria itu sambil tersenyum.

" Kalau Juvia tak sembuh juga... Sampai ia mati?" Tanyanya pelan.

" Tidak akan terjadi. Percayalah.. " Ucap pria itu sambil menggenggam erat tangannya. Berharap dapat memberikan keyakinan pada gadis remaja yang ada di depannya. " Sebentar lagi sarapanmu akan tiba... "

Juvia _gadis itu_ hanya terdiam menatap Gajeel yang kini berjalan pelan menuju pintu kamarnya.

Kriet..

" Tenanglah. Aku yakin, kau pasti akan sembuh.. " Ucap pria itu kemudian, " Aku pergi dulu..."

Blam.

.

.

.

Saya update lagi. Terimakasih pada semua Reviews :

Nnatsuki : Hahaha, kira-kira apa ya reaksi Gray? Itu rahasia. Kita lihat di beberapa chapter kedepan ya!

Santika : Iya lucy sudah tau^^. Ah iya! Gomen, sekali lagi saya jelaskan sebenarnya fic itu bertokohkan OC saya. Dimana akhirnya saya gunakan tokoh FT sebagai pengganti mereka. Rai itu berperan sbg Juvia. Rui sbg Gray. Mui sbg Lucy dan Shichi sbg Natsu.

Rizu-tan : Iya, maaf sekali lagi. Saya memang miss typo. Jika ada waktu luang... Akan saya edit lagi. Terimakasih sarannya!

Nadia M. Izza : Thankyou! Hahaha glad to know finally ure getting interested in FT! U don't know how hard I tried to tell u 'bout it! Iyanih maaf, saya memang senang menyiksa main chara saya :v

Terimakasih banyak reviewnya!

Nah, Mind to RnR? どうもありがとう!^^