Samantha Song present
.
"Our Happy Time"
.
.
.
Cast :
Tao | Hwang Zitao - EXO
Kris | Wu Yi Fan – EXO
Yozoh | Shin Su Jin
.
.
.
Chapter 1
Begitu senja menjelang, kepingan salju yang mencair sebentar lagi akan berubah menjadi hujan. Cahaya dengan gradasi kebiru-biruan menyelimuti jalan, awan yang keberatan menahan kelembapan menghapus antara batas langit dan bumi. Waktu menunjukkan sudah lebih dari pukul lima. Aku mengenakan jaket, lalu keluar rumah. Mobil-mobil di tempat parkir yang diam seribu bahasa membuat suasana tempat itu menyerupai suasana pemakaman. Dari jendela seberang, cahaya kekuningan satu per satu mulai menyala, bersinar menggantikan cahaya bintang yang tidak bisa sampai ke Bumi. Pohon-pohon di tepi jalan yang sejak tadi merontokkan daun-daun pitanya terlihat seperti pagar besi yang membagi apartemen umum di seberang sana dengan apartemen di sini. Bukannya naik ke mobil, aku justru mendongak ke atas melihat langit dengan tidak peduli. Langit putih keabu-abuan menyelimuti bangunan apartemen yang tinggi. Di dalam takdir kegelapan di bawah naungan langit mendung, apartemen-apartemen menjulan itu juga tampak seperti kastel berdinding halus. Hujan musim dingin membasahi jalan yang beku. Aku naik ke mobil. Begitu menyalakan lampu depan, dengan cahaya berbentuk tabung itu aku bisa melihat hujan yang meliuk-liuk seperti serbuk es lembut. Suatu petang yang remang-remang diterangi seberkas cahaya dari baliho toko-toko dan lampu-lampu jalan. Di bawah cahaya itulah bisa diketahui hujan turun atau tidak karena di dalam kegelapan, kita benar-benar tidak akan tahu wujud nyata saat kita basah.
Bibi Yozoh pingsan, lalu dibawa kerumah sakit lagi.
"Kali ini sepertinya sudah tidak ada harapan, sebaiknya mempersiapkan segala sesuatunya," kata dokter yang berbicara melalui telepon di seberang sana.
Keliahatannya itu berarti aku harus siap-siap untuk melepas kepergian seseorang lagi. Ketika menyalakan mesin, tiba-tiba sosok itu kembali muncul. Kacamata hitam dengan bingkai dari tanduk, wajah suram, bibir tebal berwarna merah tua, serta lesung pipit yang muncul dari salah satu pipinya saat dia tersenyum malu-malu...
Sebenarnya aku tidak ingin mengingat orang itu. Bahkan, untuk melupakannya, berhari-hari aku tidak bisa tidur. Hari-hari ketika sendiri atau ketika tidak mampu memejamkan mata, semburat fajar membuyarkan khayalan yang seolah-olah menyesakkan tenggorokan.
Aku membenamkan wajah ke bantal, lalu menunggu air mataku keluar. Namun, hingga sekian lama bibirku hanya mampu mengutarakan suara rintihan aneh. Baiklah kalau begitu, lebih baik diingat saja, ayo ingat, ingat semua, jangan sampai terlewat satupun, suatu hari aku berpikir demikian, tetapi akhirnya aku pingsan di sofa karena mabuk.
Setelah dia pergi meninggalkanku, setiap pagi, saat mataku terbuka, hal yang kali pertama merasuki pikiranku adalah mulai saat ini tampaknya duniaku tidak akan pernah sama dengan dunia tempat aku hidup hingga saat ini. Segala hal terlihat kacau seperti saat aku belum bertemu dengannya. Namun, setelah bertemu dengannya, perlahan-lahan hal yang nyata mulai tampak. Hal itu adalah aku tidak bisa memutuskan lagi meninggalkan dunia ini sendirian. Itulah siksaan dan hadiah terakhir yang disisakan untukku.
Ada banyak hal di dunia ini yang tak terlihat dalam gelap, seperti halnya gerimis halus yang turun pada musim dingin, yang hanya dapat dilihat jika terkena cahaya lampu depan mobil.
Setelah bertemu dengannya baru kuketahui hal itu. Hal yang tak dapat dilihat itu bukanlah sesuatu yang astral. Setelah bertemu dengannya, aku mulai menggali sisi gelapku dan menemukan bentuk nyata dari kegelapan yang bernapas seperti kematian. Jika bukan karenanya, sekali pun aku tidak akan memperhatikan segala hal dengan saksama. Setahuku itu adalah sebuah kegelapan ganas, tetapi sesungguhnya aku hidup dalam ketidaktahuan bahwa ada hal yang begitu menyilaukan mata.
Kegelapan ataupun cahaya yang sangat terang itu perlahan-lahan pasti akan menjauh, jadi sebaiknya mataku tidak usah melihat karena aku berpikir bahwa ada banyak hal yang kuketahui. Seandainya kami bisa mencintai dengan tulus, aku menyadari bahwa saat itu Tuhan telah menunjukkan keagungan-Nya.
Sekarang dia sudah tidak ada disisiku lagi, tetapi aku tetap ingin berterima kasih kepada Tuhan atas anugerah yang telah diberikan kepadaku, yaitu dengan mempertemukan kami berdua.
Mobilku mulai melaju di tengah hujan di jalanan yang gelap. Mobil-mobil tumpah ruah di jalan. Tidak ada yang terburu-buru. Entah kemana mereka akan pergi. Yang pasti, mereka akan pergi ke suatu tempat. Apakah mungkin mereka benar-benar tahu ke mana aku akan pergi, hal yang kupikirkan bagaikan kenangan lama yang tertinggal.
Mobil-mobil melaju di tengah hujan yang berwarna putih seperti awan dan kabut tipis. Lampu lalu lintas yang berwarna oranye seperti matahari tiba-tiba menyala. Secara serempak mobil-mobil yang sedang melaju berhenti. Aku pun turut berhenti.
