Hai! Maaf buat yang nungguin, karena mungkin updatenya terlalu lama, yah, aku mau bilang

TERIMA KASIH UNTUK YANG MEREVIEW DAN MEM-FAV FIC INI! \^o^/ Aku terharu QwQ, walaupun Cuma sedikit =w=a, tapi gakapa!

Oh iya, mungkin ini akan jadi Multi-crossover deh ._. sama mungkin genrenya akan ku tambah jadi Adventure, Friendship, Romance (Akan ku usahakan!), Supernatural. Sci-Fi, sama Fantasy ._.

Oh iya, waktunya balas Review!


Shiroi Karen: Eh? Iya kah? Ah, aku gak tahu kalau bagian se simple itu bisa jadi EPIC di matamu ^^

Eh? Polisi di sini kan semuanya gak becus xD jadi gak bakal bisa di tangkep dong xDv

Iya, Gumi yang ngajakin (Baca: Maksa) Rin buat ikut

Ini udah Update :D

Berliana-Arnetta03: Nih Udah Lanjut


Yak! Chapter 3 Dimulai!

Disclaimer: Vocaloid+Semua anime dan character anime, juga element-element dari anime yang di sebutkan secara langsung dan/atau tidak langsung di chapter ini bukan milik saya, melainkan milik pemiliknya masing-masing

Warn: Liat chapter 1


Normal Pov

With Kaito...

Diantara 4 orang yang berandal, 2 di antaranya membawa sebuah Wakizashi di tangannya berdiri seorang pemuda berambut biru membawa sebuah rambu lalu lintas; lebih tepatnya rambu berwarna merah dengan tulisan 'STOP' di dalamnya sebagai senjatanya. Pemuda tersebut memperhatikan gerak-gerik para berandalan tersebut dengan teliti, lalu ia berkata. "Ayolah, maju! Dan hadapi aku, Kaito Shion! Sang pemuda tertampan, dan terhebat di Jepang!" lalu, pemuda tersebut; yang bernama Kaito Shion, tersenyum sedikit. "Atau kau bisa duduk diam disitu seperti bayi, dan biarkan aku memukulimu" Katanya.

Tentu saja, semua orang akan marah jika mereka diejek seperti itu, termasuk keempat berandal yang mengelilingi pemuda tersebut, dank arena itulah, mereka mulai maju untuk menyerang pemuda itu, tanpa berfikir dua kali. Kesalahan besar. Saat 2 orang dari mereka-satu dari arah belakang dan yang satu dari arah depan- mendekati Kaito untuk memukul kepalanya, Kaito mengayunkan senjatanya secara vertical dari atas ke bawah, menghantam pemuda yang ada di depannya, tepatnya pada bagian wajah, lalu mengayunkannya lagi seratus delapan puluh derajat ke belakang dan mengahantam kepala orang yang berniat menyerang nya dari belakang. Belum cukup sampai di situ, ia mencengkram leher salah satu dari mereka, lalu membuangnya ke tempat sampah, lalu satu orang lainnya ia tending hingga menabrak sebuah kotak telefon. Salah seorang berandal yang memegang Wakizashi bergerang dari samping kanan pemuda tersebut, lalu mengayunkan Wakizashinya. Kaito tidak tinggal diam, dia mengerakkan rambu lalu lintasnya untunk menahan serang Wakizashi berandal itu, lalu memukul sang berandal hingga menghancurkan hidungnya, membuatnya terpental sejauh empat meter. Berandal yang sebelumnya di tending Kaito ke kotak telefon bangkit kembali, dan menyerang Kaito dengan sebuah pemukul base ball yang terbuat dari besi (jangan tanya darimana dia dapet benda itu ==") lalu Kaito menghindari serangannya. Kaito mengangkat rambu lalu lintasnya dan berniat menghantamkannya pada sang penyerang, tetapi, sesaat sebelum ia mengenai sang berandal, sakah satu dari mereka menahan serangan Kaito dengan Wakizashinya. Pertarungan antara Wakizashi dan rambu lalu lintas pun terjadi, mereka mengayunkan senjata mereka masing-masing dengan lihai, menyebabkan percikan api berterbangan di sana-sini, dan bunyi besi beradu pun terdengar di sekeliling jalan. Mereka terus mengayunkan senjata mereka, tidak ada yang mau mengalah. Akhirnya, Wakizashi milik sang berandal mengenai pipi sang pemuda pecinta es krim tersebut, dan melukai pipinya, walaupun hanya sedikit.

"Hoo… kau hebat juga" Kata Kaito.

"Heh! Tentu saja! Aku ini mantan juara Kendo nasional 2004 tahu!" Kata berandal tersebut

"Hoo, kalau begitu, bersiaplah, karena..." Kaito mengeluarkan senyum iblis nya lalu mengangkat senjatanya tinggi-tinggi "Temponya, akan ku percepat sedikit!"

Setelah Kaito berkata begitu, dia mulai mengayunkan rambu lalu lintasnya dengan brutal dan lebih cepat dari biasanya

"AYO! Inilah, Level 2!"-Kaito

"Ugh.." Sang berandal berhasil menepis serangan Kaito dengan Wakizashinya, tapi, masih ada beberapa yang mengenai dirinya.

"Hoo… cukup bagus! BAIKLAH! Level 3!"-Kaito

Serangan Kaito bertambah cepat dan bertambah brutal, sang berandal kewalahan untuk menahan serangannya. Pertarungan terus berlanjut, semakin lama, serangan Kaito menjadi semakin cepat dan semakin brutal, sang berandal sudah mendapatkan banyak luka di seluruh bagian tubuhnya. "Ho… hebat juga kau bisa bertahan sampai Level 15, tapi…" Kaito mengangkat rambu lalu lintasnya dalam posisi seperti pemukul base ball "Akan aku akhiri di sini"

Setelah mengatakannya, Kaito mengayunkan rambu lalu lintas nya secara horizontal, dan menghantamkannya ke barandal tersebut, dan membuatnya terbang ke langit. Setelah itu, ia berbalik dan mengahadp ke berandal yang memegang pemukul base ball besi yang ia lupakan sejenak, dan menendangnya kembali ke kotak telefon yang tadi. Saat ia memastikan kalau tidak ada yang bangkit lagi, ia pergi sambil bersiul seakan tidak terjadi apa-apa.


With Lenzo…

Tidak seperti Kaito, Pemuda berambut pirang dengan mata kucing ini hanya melawan 2 orang saja, tapi, itu tetap tidak mudah, karena salah seorang dari mereka membawa gergaji mesin, sementara berandal yang satu lagi membawa 2 buah pisau dapur yang besar. Setelah diam selama beberapa menit, salah satu dari berandal tersebut, yang menggunakan pisau dapur, berkata "Kenapa tidak menyerang kami? terlalu takut untuk menyerang kamikah?"

Lalu, Lenzo berkata "Tidak ada gunanya, mau kau yang menyerang atau aku yang menyerang, hasilnya sama saja, akulah, yang akan menang" Katanya sambil tersenyum.

Setelah dia mengatakan hal tersebut, seorang berandal yang menggunakan gergaji mesin berlari ke arahnya "JANGAN SOMBONG KAU! KAU TIDAK PUNYA SENJATA SAMA SEKALI SEMENTARA KAMI PUNYA GERGAJI MESIN DAN PISAU! MATI KAU!" Berandal tersebut berteriak dan mangangkat gergaji mesinnya dan mengayunkannya, berniat memotong kepala sang pemuda bermata kucing tersebut.

Dengan ekspresi seperti orang yang sedang bosan, pemuda tersebut berkata "Kau belum mengerti ya?" setelah ia mengatakan itu, ia menunduk sedikit menghindar serangan sang berandal "Di dalam pertarungan, jumlah prajurit, atau seberapa hebatnya senjata yang kau miliki, atau seberapa besar lawanbmu bukan masalah, Asalkan… kau mempunyai Keberanian…" Setelah ia berbicara, dan memastikan kalau gergaji mesin sang berandal sudah melewatinya, ia bangkit dan mendorong sang berandal sekuat mungkin dengan tangan kirinya, menyebabkan sang berandal tersebut terjatuh beberapa meter dari tempatnya semula "..Dan punya Kekuatan, hal-hal seperti jumlah, ukuran dan senjata tak akan menjadi masalah yang besar" Lanjutnya. Setelah mengatakan itu, dia pun membuka baju sekolahnya, dan memperlihatkan tubuhnya tanpa pakaian, kecuali celana sekolahnya, dan juga memperlihatkan bekas luka yang membentuk huruf 'X' besar di badannya.

"Bagai mana kalau begini, jika kau bias melukai ku, kau akan ku bebaskan, tapi jika tidak, yah…. Tak ada pilihan lain selain membuat kalian pingsan" Kata Lenzo.

"Grrrhhh…. KAU! JANGAN SOMBONG!" Kata berandal yang membawa pisau dapur, lalu ia berlari dan menebas dada Lenzo dengan sangat kuat, dan membuat dia terpental sejauh 2 meter.

Setelah yakin kalau ia membunuhnya, ia bergegas pergi untuk menolong berandal yang membawa gergaji mesin, tapi sebuah suara menghentikannya "Hanya segitu?" Kata suara tersebut.

Saat ia mendengar suara tersebut, ia berbalik dan melihat… Lenzo, yang bangkit, dan tidak terluka sama sekali. Melihat Lenzo yang tidak terluka, ia menjadi gemetaran, dan merasakan takut yang teramat sangat. "B-ba-bagaimana bisa?! Tadi aku melihatnya sendiri, serangan ku mengenai tubuh mu! Seharusnya, kau sudah mati kalaupun tidak, seharusnya ada bekas luka yang besar di sana! Tapi.. Bagaimana… bagaimana seranganku tidak mempan sama sekali?!"

"Mudah saja, Ki"-Lenzo

"Ki?"-Berandal gak penting

"Ya, Ki, energi yang ada pada tubuh kita, mudahnya, seperti tenaga dalam, dan aku menggunakannya untuk melindungi tubuhku"-Lenzo

"…Huh?"-Udah di bilang gak penting

"Sepertinya kau tidak mengerti ya? Yah, maklum, kau kan orang biasa, baiklah, aku datang"-Lenzo

Dalam sekejap mata, sang pria bermata kucing tersebut sudah berada di depan sang berandal yang membawa 2 buah pisau itu, lalu memukul wajahnya. Belum selesai sampai di situ, ia menggenggam kakinya, lalu membanting sangberandal tersebut ke jalan yang beraspal, dan menginjak kepalanya. Sang pembawa gergaji mesin yang sudah bangkit kembali langsung berlari menuju Lenzo, dan mencoba untuk memotong badannya menjadi dua bagian, tapi tetap masih bisa di hindari olehnya. Setelah beberakali mencoba memotong dia, sang pria bermata kucing tersebut menendang lutut sang berandal, lalu ia mengambil gergaji mesinnya dan membuangnya ke sembarang tempat.

Setelah itu, ia menggenggam kedua tangan sang berandal, dan kakinya ia letakan pada punggung sang berandal. Dengan sekuat tenaga, Lenzo menarik kedua tangan sang berandal tersebut sementara kakinya mendorong tubuhnya kedepan.

"Ucapkan selamat tinggal pada tangan mu"-Lenzo

Setelah ia mengatakan hal tersebut, bunyi tulang yang patah diikuti jeritan penuh kesakitan yang sangat keras terdengar di. Setelah ia mematahkan tulangnya, ia pergi dari tempat itu.

Tapi, baru tiga langkah ia berjalan, sebuah pisau melayang dan menggores pipi kanannya, dan menciptakan sebuah luka kecil di pipi kanannya. Ia berbalik dan menemukan kalau berandal yang membawa pisau tersebut masih bisa berdiri.

"Hoo…. Kau masih bisa berdiri ya?" Katanya sambil berjalan ke arah sang berandal.

"Ugh… SIALAN!" Sang berandal lari da mengayunkan pisaunya, berniat memotong kepalanya, tapi Lenzo menghindari serangannya dan menendang perutnya dengan telapak kaki kanannya, lalu memutar badannya sekaligus menimpa sang berandal dengan kaki kirinya, lalu mengahntam kan wajahnya ke jalan yang beraspal. Lenzo bangkit, dan mengangkat tubuh sang berandal tinggi-tinggi, lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat.

"Huff…. Baiklah, waktunya pergi ke tempat Iinchou" Lenzo pergi dari tempat itu. Baru beberapa langkah, ia berhenti lagi.

"Tapi tunggu dulu…. Dimana Iinchou berada?" Katanya sambil melihat sekeliling, dan menemukan seseorang yang mempunyai rambut yang berwarna pirang di sebelah barat".

"Ah, pasti di situ" Katanya, sambil berjalan kearah barat


With Gakupo…

Sang samurai wannabe kita sedang di kelilingi oleh 2 orang yang memakai Wakizashi, ia menyiapkan Bokken miliknya

"Oi! Rambut ungu! Kenapa kau tidak maju duluan?!" kata salah satu dari mereka

"Sensei selalu bilang, 'jika kau ingin menang, jangan pernah maju duluan', itu katanya"-Gakupo

"Cih, terserah lah, rasakan ini!" Salah satu dari berandal tersebut maju dan mengayunkan Wakizashinya kearah Gakupo, tapi Wakizashi tersebut di tahan oleh Bokken miliknya yang sudah di aliri Ki

"….Lemah" Gakupo mengayunkan Bokken yang telah di aliri Ki miliknya dan memotong tangan sang berandal tersebut. Belum sempat sang berandal itu menjerit, Gakupo menendangnya ke sebuah mobil, lalu melempar sebuah batu berukuran bola tenis ke kepalanya, dan membuat ia pingsan.

Sementara itu, berandal satunya sudah siap menusuk Gakupo dari belakang….. kalau sebuah Bokken tidak menebas kepalanya dan membuat kepalanya terpisah dari tubuhnya.

"Hn, ku kira ini akan menyenangkan, payah" Katanya lalu pergi dari tempat itu.


With Rin…

Rin sedang berdiri tenang sambil memakan jeruk kesukaanya, tiba-tiba salah seorang berandal yang memakai tongkat base ball hendak menghantamkan tongkat base ballnya kearah Rin tapi berhasil di hindari dengan mudah, dan Rin melakukan spin kick, mengirim sang berandal terbang menghantam dinding rumah yang ada di seberang jalan.

"Hum… ayo maju" Kata Rin samba melakukan gerakan 'ayo kemari' dengan jari telunjuknya.

Sang berandalpun menerima tantangan Rind an maju mencoba menusukan pecahan botol kacanya pada perut Rin, tai sebelum botol itu mengenainya, ia menendang tangan sang berandal yang memegang botol kaca tersebut.

"Huh, hanya segitu?" Kata Rin. Ia mengangkat kakinya 180 dearajat ke atas dan berkata: "Selamat tidur"

Setelah mengatakannya, ia menghantamkan tumit kakinya ke wajah sang berandal. Membuatnya K.O. seketika

"Huff, dasar" Rin beranjak pergi dari tempat tersebut, tapi ia berhenti karena mendengar suara langkah kaki. Berpikir kalau itu adalah musuh, ia menendang sebuah tong sampah ke araha suara tersebut berasal.

"EITS! Hah, Iinchou apa yang kau lakukan? Melempar tong sampah ke teman sendiri, untung tadi itu mudah di hindari" Kata orang tersebut dan menampakan dirinya yang ternyata adalah Lenzo.

"Lenzo?"-Rin

"Rin?"-Lenzo

"Maaf aku menyerangmu, kupikir kau adalah salah satu berandal tersebut, dan apa maksudmu memanggilku Iinchou?"-Rin

"Maaf, ku piker kau Iinchou, kau punya rambut pirang sih"-Lenzo

"Kalau kau tidak sadar, kau juga memiliki rambut pirang"-Rin

"Ehehe…"-Lenzo

"Hah… sudahlah, aku pamit dulu, bilang pada Len kalau aku pulang duluan, Jaa" Kata Rin sambil beranjak pergi dari tempat itu dan pulang ke rumahnya.

"Baiklah" Kata Lenzo yang ikut pergi untuk mencari Len


With Len…

Ya, tokoh utama kita sedang berdiri di atas 2 orang berandal yang di kalahkan hanya dalam satu tendangan, dan melihat kearah 2 berandal yang tersisa

"Membosankan"-Len

"Apa kau bilang?!"-Gak peting siapa

"Aku bilang membosankan, kalian terlalu lemah"-Len

Dengan kecepatan yang luar biasa, pria penyuka pisang ini berada di belakang salah satu berandal, dan mematahkan lehernya, dengan kedua tangannya, lalu bergerak ke berandal satunya, dan melakukan Headbutt; menghantamkan kepalanya ke kepala sang berandal, lalu mencengkram kaki sang berandal, dan melemparnya ke sebuah kolam ikan di dekat apartement, atau yang Len sebut 'rumah' miliknya.

"Hah… payah, tidak menarik" Keluh Len.

"Oi, Iinchou, jangan mengeluh begitu dong" Kata sebuah suara, yang di ikuti oleh suara langkah kaki.

"Terserah apa katamu lah, Kaito. Oh iya, mana Lenzo, Gakupo, dan Rin?" Tanya Len keapada pemilik suara tersebut, yaitu pemuda yang bernama Kaito.

"Entah" Kata Kaito.

"Kami di sini Iinchou" Kata dua suara yang berbeda, yang di yakini milik Lenzo dan Gakupo

"Mana Rin?"-Len

"Katanya dia pulang duluan"-Lenzo

"Oh, ya sudah"-Len

"Ngomong-ngomong, mana pemimpinnya? Dari tadi kita tidak melihat batang hidungnya"-Gakupo

"Entah"-Kaito

"Kau bias mengucapkan hal lain selain…'Entah?'"-Len

"Tidak tahu"-Kaito (Insert trollface here)

"…Kau menyebalkan"-Len

"Memang"-Kaito

Saat mereka asyik berbicara, pemimpin dari para berandal tersebut dating sambil membawa sebuah suntikan, yang terdapat cairan berwarna ungu di dalamnya

"Huh, dasar, pasukan payah, kalau begini, harus aku yang bertindak" Katanya sambil menyuntikan cairan tersebut ke dalam dirinya.

Setelah beberapa saat ia menyuntikan cairan tersebut, tubuhnya berubah menjadi besar dan penuh otot, dan badannya menjadi berwarna abu-abu, dan ia juga bertambah tinggi sekitar 12 kaki. Jika itu belum cukup mengerikan, lidahnya menjadi bercabang dan dapat memanjang sepanjang 3 meter

"HUAHAHAHA! SEKARANG KALIAN TIDAK AKAN BISA MELAWAN KU!"

Len, Kaito, Gakupo, dan Lenzo menatapnya, bukan dengan pandangan penuh ketakutan, tapi pandangan penuh keheranan

"Oi, dari mana kau dapat cairan itu?" Tanya Len kepada sang berandal

"HA! ITU TIDAK PENTING! SEKARANG MATILAH KALIAN!" Setelah mengucapkannya, ia melempar sebuah bola api dari tangannya.

Jika kalian terkejut, maka, 4 tokoh utama kita pun sama, mereka terkejut. Tapi bukan karena ia bias melempar bola api dari tangannya, melainkan….

'Dia bias memakai magic?!' Ya, itulah apa yang ada dalam pikiran mereka.

Karena Gakupo yang paling pertama pulih dari shock mereka, ia dapat menghindari bola api tersebut, sambil menyeret Kaito dan Len untuk menghindari bola api tersebut. Namun, jika mereka selamat, beda lagi dengan Lenzo, yang menerima serangan telak dari bola api tersebut.

"HAHAHAHA! RASAKAN ITU! MATI KAU HAHAHAHA!" katanya sambil melemparkan bola api terus menerus.

"Ups, kurasa dia telah embuat sebuah kesalahan"-Kaito

"Ya, kalau lawanya Lenzo, aku lebih memilih melakukan serangan jarak dekat dari pada jarak jauh yang terus menerus"-Len

"Ah, benar juga, kalau serangan jarak jauh terus menerus seperti itu, maka Lenzo akan…"

Belum sempat Gakupo menyelesaikan kalimatnya, sebuah ledakan yang hebat dating dari tempat dimana Lenzo berdiri.

"HAHAHAHA! HANCURLAH KAU HAHAHAHA!" Tawa penuh kepuasan tak henti-hentinya keluar dari mulut pemimpin para berandal yang telah berubah menjadi monster tersebut.

Sayang, tawanya harus berhenti saat ia medengar sebuah suara, suara dari orang yang sudah ia serang dengan bola api secara terus menerus.

"Kau telah membuatku marah, dan asal kau tahu, aku sangat tidak suka dibuat marah" Katanya. Setelah asap yang mengepul dari ledakan tersebut telah hilang dan menampaka Lenzo yang berdiri di tempatnya tanpa terluka-Hal yang menandakan serangan tersebut mengenainya hanyalah bajunya yang mempunyai bekas seperti habis di bakar-dan matanya, yang seperti kucing tampak bersinar di kegelapan.

'A-A-APA?! HARUSNYA SERANGAN KU TADI MENGENAI DIRIMU! MENGAPA KAU TIDAK MATI?!"-Monster

"Mudah saja, karena aku marah"-Lenzo

Beberapa saat kemudian, percikan listrik berwarna merah keluar dari tubuhnya, yang di ikuti oleh sebuah aura berwarna merah ke unguan yang seperti api yang melindungi tubuhnya.

"Dan asal kau tahu…." Tidak sempat sang musuh berkedip, Lenzo sudah ada di depannya dengan tangan kanan yang di aliri api berwarna merah keunguan, dan tangan kiri di aliri petir berwarna merah "..Aku, tidak suka di buat marah"

Sang pemuda bermata kucing tersebut memukul wajah sang monster dengan tangan kanan, lalu memukul dadanya dengan tangan kiri, di ikuti oleh sebuah uppercut dengan tangan kiri, membuatnya terbang beberapa meter dari atas tanah. Belum sempat ia pulih dari uppercut tersebut, Lenzo tiba-tiba sudah berada di depannya, dan melakukan haymaker ke bawah dengan tangan kanannya dan mengirim ia kembali ke tanah.

Saat Lenzo dan sang berandal yang sudah berubah menjadi monster tersebut sudah berada di tanah, Lenzo mencengkram kepalanya dan mengalirkan petir berwrna merah tersebut ke badan sang berandal, sekaligus menyetrum tubuhnya.

"Asal kau tahu, petir merah ini, tegangan maximalnya bisa mencapai lebih dari 900 juta volt, dan sekarang, aku menggunakan tegangan 250 juta volt padamu, jadi sebentar lagi kau akan mati"-Lenzo

"TU-TUNGGU! AAARGGH! A-AKU P-PU-PUNYA SEBUAH AAARRRGGHH! RAHASIA! AAAAARGGH!-Gak penting

"Hm? Apa itu?"-Len

"SE-SEBENARNYA AAARRGGGH! ADA O-ORANG YANG ME- AAARGGH! MENGIRIMKU UNTUK MELAWAN AAARGH! KALIAN!"-Gak penting

"Siapa itu?"-Kaito

"A-AKU TIDAK TAHU ARGH! TA-TA AARGGH! TAPI, AKU TAHU DIA BERASAL DARI MANA!"

"Dari mana?"-Gakupo

"BLACK QUETZALCOATLUS! AAARGHH!"

"Black… Quetzalcoatlus katamu?"-Lenzo

"YA! JA-JADI, TOLONG! AAARGGH! LEPASKAN AKU!"-Gak penting

"….Maaf, matilah" Kata Lenzo, lalu ia menaikan tegangannya menjadi 400 juta volt, dan membunuh sang monster

"Black Quetzalcoatlus ya…."-Len

"Sudah lah, ayo kita masuk ke apartemen-"

"Rumah"-Len

"-Ke 'rumah' mu, kita juga harus menyelesaikan tugas dari Akuma-Sensei kan?" Kaito

"Iya juga, sekarang juga sudah sekitar jam 10 malam"-Len

"Ah, iya, ayo kita masuk Len"-Gakupo

"Hah… baiklah ayo"-Len

Mereka masuk ke rumah, milik Len dengan tenang, tapi satu hal yang ada di pikiran mereka adalah…. 'Ternyata, mereka sudah bergerak, Black Quetzalcoatlus'


TEACHER'S LOUNGE

Di kantor guru, ada 3 orang yang masih belum tidur, dan masih menatap layar monitor sbuah Laptop, ada seorang pemuda berumur 20 tahunan yang berambut pendek bergelombang se leher berwarna merah gelap dan memakai kacamata berlensa tipis, dan matanya yang berwarna merah seperti ruby, sementara di sampingnya, ada seseorang yang mirip dengan pemuda pertama, tapi ia lebih muda 3 tahun dari sang pemuda pertama. Jika pemuda pertama mempunyai rambut warna merah, sebaliknya, jika pemuda pertama mempunyai rambut warna merah, ia punya rambut berwarna jingga, dan ia juga tidak memakai kacamata, di tambah warna matanya yang berbeda satu sama lain, mata kirinya berwarna jingga, sementara mata kanannya berwarna merah seperti darah. Sementara itu, seseorang yang duduk di kursi guru dengan rambut pendek sepundak berwarna pink dan matanya yang berwarna hijau emerald sedang mengutak atik laptopnya.

"Bagaimana Yuu-chan, sudah bisa menemukannya?" Kata pemuda pertama

"Tunggulah sebentar, dan jangan panggil aku Yuu-chan, panggil aku Yuu-Senpai, Yuuma-San, atau Yuuma-Senpai" Kata pemuda yang berambut pink, yang di yakini bernama Yuuma.

"Sudahlah Yuuma-San, Nii-San memang seperti itu, dia bahkan memanggilku dengan sebutan Kyo-Chan" Kata pemuda yang berambut jingga

"Huh.. baiklah, terima kasih, Yamine-San" kata Yuuma sambil tersenyum ke arah pemuda yang berambut jingga

"Tak perlu berterima kasih, dan jangan terlalu formal, aku merasa sudah tua jika kau memanggilku dengan sebutan 'Yamine-San' panggil saja aku Kyoei" Kata pemuda yang di ketahui bernama Kyoei Yamine

"Baiklah, Kyoei-Kun" kata Yuuma sekali lagi sambil tersenyum ke arah Kyoei. "Nah, coba lihat Otouto mu Akuma-Kun, dia lebih sopan dari pada dirimu, kenapa kau tidak menirunya?" kata Yuuma sambil menengok ke arah pemuda berambut merah yang sekarang di ketahui bernama Akuma Yamine

"Hmm…. About, NO. Lagi pula, aku suka melihat wajahmu yang terlihat jengkel, sudah lama sejak 15 tahun yang lalu kau tidak menunjukan emosi"-Akuma

"Diamlah, aku tidak ingin di ingatkan oleh kematian 'Dia'"-Yuuma

"Sssh, bagaimana Yuuma-San, sudah berhasil menemukannya?"-Kyoei

"Ah, ini dia" Kata Yuuma sambil melihat informasi yang tertera di layar laptopnya, yang di ikuti oleh Kyoei dan Akuma

"Huh… ternyata mereka benar-benar bergerak ya?"-Akuma

"Ya, jika mereka ingin membangkitkan dewa mereka, kurasa wajar kalau mereka bergerak sekrang"-Kyoei

"Tapi… tak kusangka, sampai mencuri batu 3 Egyptian God, di tambah bagian-bagian Exodia the Forbiden One…. Dan juga ke tujuh Millenium Items…. Mereka benar-benar membuat sebuah langkah besar, Black Quetzalcoatlus itu…"-Yuuma

"Sudahlah, kita tidur dulu saja, menurut analisa ku, mereka tak akan mengambil ke tujuh item paling penting, maksudku, item ke tujuh saja belum ketemu'-Akuma

"Nii-San benar, lebih baik kita rileks dulu, baru kalau mereka sudah bvertindak lebih jauh, kita juga membuat sebuah langkah'-Kyoei

"Baiklah, mungkin kita bisa tenang, walaupun sementara sih"-Yuuma

Setelah itu, mereka pergi dari ruang guru, menguncinya, lalu pergi ke rumah masing-masing.


TBC

Yak, segitu dulu, ini chapter terpanjang yang pernah ku tulis RnR please ^^