Step ketiga! Yeah Baby!
Ini BL guys, I told you, right?
Keuntungan dan kerugian karena membaca fanfic ini di tanggung oleh pribadi masing-masing
Don't like Don't read
BTS belongs to God, Their Familys, Their Management, and ARMY (and maybe Universe)
.
.
.
.
Hold Me Tight
(VKOOK/TAEKOOK/ Pair Lain Diusahakan)
Jungkook membeku. Ia tidak bisa bergerak ketika mata coklat itu menatapnya dengan pandangan terluka.
Kim Taehyung mengetahuinya. Rahasia baru Jungkook dan ibunya.
"H-Hyung?" Jungkook menelan ludahnya, ia berusaha menyingkirkan rasa kering di tenggorokannya yang menyiksa.
Wajah Nyonya Jeon dan Jungkook langsung memucat. Sedangkan wajah Taehyung memerah. Pemuda itu berkeringat, rambutnya berantakan dan ujung celana jeans serta sepatunya kotor kena noda lumpur. Tak berapa lama, Jin juga datang sambil dengan nafas terengah-engah, dia tidak sekacau Taehyung. Jin mendorong Taehyung yang berdiri di tengah pintu menghalangi jalan.
"Minggir! Aku mau melihat Jungkook! Kook-ie, kau tidak apa-ap- ada apa ini?" mata Jin menangkap kegelisahan Nyonya Jeon. Pengasuhnya itu bergerak lambat, memeluk kepala Jungkook seolah berusaha menyembunyikan Jungkook dari dunia.
"Kim Taehyung! Kau apakan mereka?" teriak Jin. Karakter tsundere-nya keluar.
Sebelumnya, Kim Seokjin mendapat telepon di kampus. Kim Mingyu meneleponnya dan menanyakan kabar Jungkook karena Jungkook tidak masuk sekolah dan tidak bisa dihubungi. Jin yang pada kala itu sedang berada di kantin, makan siang bersama Namjoon dan Taehyung langsung kelabakan. Ia tidak tahu jika Jungkook tidak masuk sekolah. Bodohnya ia karena tidak memastikan keadaan Jungkook tadi pagi. Dan benar saja, Jungkook memang tidak bisa dihubungi.
Taehyung yang berada pada tempat yang sama, langsung merebut telepon genggam Jin dan bertanya kepada Mingyu dengan nada yang tidak sabar. Ia terkesan sedang marah-marah pada orang yang berbicara di telepon dengannya. Tanpa berpikir lama, Taehyung meraih kunci motor Namjoon yang tergeletak di depan Namjoon dan berlari kencang.
"Hei! Aish motorku! Aish jinjja! SIM dan surat kendaraanku baru saja kembali" Namjoon mengusap mukanya, "Tidak lagi, Tae."
Jin juga bergegas mau pergi, ia mengeluarkan beberapa lembar uang tunai dari dalam dompetnya , menaruhnya di meja dan berniat ingin berlari sebelum Namjoon menahan pergelangan tangannya.
"Kau mau kemana, Hyung?"
"Pulang. Aku harus memastikan keadaan Jungkook," kata Jin agak gelisah.
"God!" Namjoon mengingat momen dimana ia menemukan Jungkook pulang sendirian dan berakhir dengan dirinya yang memberi tumpangan pada Jungkook. Ia tahu drama ini. Jeon Jungkook yang dikhawatirkan semua orang kendati sudah menginjak umur 16 tahun, "Apa Hyung tidak terlalu berlebihan? Jungkook itu sudah besar."
"Jika kau hanya berniat menceramahiku, aku tidak punya waktu. Lepaskan aku!" Jin berkeras. Ia menyentak tangan Namjoon.
Namjoon menghela nafas dan bangkit, "Kuantar. Tidak baik menyetir dalam keadaan marah."
Jin sempat terharu dengan kebaikan Namjoon tapi akhirnya ia menyesalinya. Kim Namjoon memang tidak pernah membawa pengaruh baik dalam hidup Jin.
"Bisa tidak kau mengendarai mobil lebih cepat?" Jin frustasi. Baginya Namjoon berkendara seperti seorang pelancong yang sedang safari.
"Tidak bisa, aku tidak punya SIM untuk mobil," Namjoon nyengir.
"Ya! Pabo! Kau bercanda?! Kalau begitu kenapa sok-sokan mau mengantarku? Kau ini-"
"Hyung, jangan berteriak! Mereka bisa mengira aku melakukan pelecehan. Diam, oke? Aku akan menambah kecepatan setelah ini," Namjoon menunjuk lampu hijau, "Aku akan menambahnya 5km/jam. Deal?"
Jin hanya menepuk dahinya
Jadi, akhirnya Taehyung mengendarai motor Namjoon dengan cara yang tidak bisa dipercaya. Ia menerobos lampu lalu lintas dan hampir menyenggol seorang laki-laki paruh baya yang sedang menyeberang. Laki-laki itu mengumpat di tengah jalan dan Taehyung berteriak minta maaf sambil melajukan motornya. Sementara itu, Namjoon mengendarai mobil Jin. Jin berkali-kali memakinya untuk melajukan mobil lebih cepat lagi namun pemuda yang menjadi junior Jin itu sesekali hanya menunjuk lampu merah atau polisi lalu lintas. Namjoon mengabaikan Jin yang duduk tidak tenang dan sesekali memukul pundak Namjoon karena tidak menuruti perkataannya.
Perjalanan yang penuh drama hanya demi menemui Jeon Jungkook.
"Kau apakan mereka?" Jin mendatangi Jungkook dan mengangkat kepala dongsaengnya itu, "Kook-ie, kau baik-baik saja?"
"Jungkook-ie, bisa kau jelaskan maksudmu tadi?" Taehyung mengabaikan Jin, ia ikut melangkah maju untuk menggapai tubuh Jungkook, "Katakan juga pada Jin-hyung yang sebenarnya!"
"Kook, ada apa?" tanya Jin lembut.
Jungkook menyembunyikan wajahnya ke bahu ibunya, persis seperti anak kecil yang ketakutan. Sama seperti dirinya bertahun-tahun yang lalu. Ketika dia takut petir di malam hari ia akan bersandar pada dada ibunya karena hanya ibunya yang bisa ia jadikan tempat bergantung.
"Taehyung-ssi, Tuan muda Jin, tolong jangan paksa Jungkook seperti ini. Biar aku menjelaskan semuanya," Nyonya Jeon menengahi.
Jungkook diam tapi dia mengulurkan hasil scan MRI dan surat keterangan dokter kepada Jin. Jin kebingungan dan Taehyung segera merebut scan MRI dari tangan Jin.
"J-Jungkook punya rahim?" ucap Jin sangat tidak percaya dengan apa yang ia baca.
"Ne," jawab Nyonya Jeon.
"Kenapa kau ingin merahasiakannya?" tanya Taehyung.
Genggaman Jungkook pada jemari ibunya mengerat, ia mengeluarkan suara cicit pelan lalu memandang wajah tampan Kim Taehyung, "Aku malu."
"Kau sama sekali tidak perlu malu, aku sama sekali tidak membencimu karena kau punya rahim," Taehyung mengusap sisi kepala Jungkook, ia menuntun tangan Jungkook untuk mengenggam tangannya, "Ayo kemari! Kemari dan peluk aku, Jungkook-ah. Tidak apa-apa."
Nyonya Jeon melepaskan Jungkook, ia membiarkan Taehyung menuntun Jungkook ke pelukannya sementara Nyonya Jeon berganti mengelus punggung Jin, memberi pengertian agar membiarkan Taehyung memeluk Jungkook.
"Hyung , Salyojuseyo," bisik Jungkook dalam pelukan Taehyung.
"Jangan khawatir, Jungkook-ah. Aku disini," Taehyung mengecup pelipis Jungkook sambil mengusap air matanya sendiri.
.
.
.
.
"K-kau bisa p-punya anak?" Taehyung menyemburkan kuah ramennya ke kaca minimarket, "D-daebak! Maksudku itu ajaib, maksudku itu sulit dipercaya," Taehyung kehilangan kata-katanya, ia menyapu mulutnya dengan lengan kemejanya. Tidak peduli jika sisa kuah itu akan meninggalkan bekas di bajunya.
"Hyung! Kuahnya!" Jungkook buru-buru mengambil beberapa lembar tisu dan membersihkan semburan kuah ramen di kaca.
"Kau tidak bohong kan?!"
"Ani, tapi hanya dengan bantuan operasi. Eomma bilang begitu," sahut Jungkook. Ia meniup mie ramennya yang masih menguarkap uap panas.
Taehyung tiba-tiba mendekatkan tubuhnya pada Jungkook lalu tersenyum aneh.
"Hyung, kau kenapa?"
"Jangan pikirkan aku, lanjutkan saja ceritamu."
Jungkook memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Taehyung setelah Taehyung membisikan kata-kata menenangkan dan memeluk Jungkook selama 20 menit penuh. Saat dimana Jungkook melepas pelukannya dan meminta ditraktir ramen di minimarket, Taehyung langsung mengiyakannya. Jungkook bilang ia akan bercerita jika ditraktir dan Taehyung bersumpah akan membelikan Jungkook satu deret ramen seduh di rak minimarket jika Jungkook mau.
"Dokter bilang mereka bisa mengangkat rahim ini jika aku mau. Mungkin satu tahun lagi," Jungkook menerawang menembus jendela, mengamati daun-daun yang masih tertinggal di dahan pepohonan.
"A-apa? Mengangkat? Menghilangkannya maksudmu?"
"Eung," Jungkook memasukkan sesuap ramen ke mulutnya.
Sementara itu, Taehyung melongo tak percaya. Jujur saja, ia tidak ingin Jungkook mengangkat rahim itu.
"Kau ingin melakukannya?"
"Aku tidak tahu. Eomma dan aku tidak punya cukup uang untuk melakukan operasi," Jungkook tertawa sedih, "Sudahlah, lagipula dokter bilang rahim ini tidak akan membuatku mati, kau tahu, Hyung? Ramen ini ternyata enak sekali! Aku baru mencoba yang rasa ini," Jungkook mengalihkan pembicaraan. Jungkook menusuk-nusuk ramennya dan memperlihatkan kepada Taehyung bahwa kerisauannya telah sirna.
"Hei, j-jika kau ingin menghilangkannya, aku bisa membantumu. Uang bukan masalah utamanya, Jungkooh-ah. Masalahnya adalah apakah kau ingin atau tidak?" Taehyung mematahkan sumpit kayu bekasnya. Ia akan berusaha untuk memprioritaskan kebahagiaan Jungkook.
"Apa aku harus menghilangkannya?" Jungkook menunduk sambil bertanya balik kepada Taehyung.
"Dengarkan aku!" Taehyung merendahkan kepala sebatas kepala Jungkook, ia mengintip wajah Jungkook, cemas kalau Jungkook menangis lagi, "Apapun keputusanmu nantinya, aku tidak akan pernah berhenti menyayangimu. Kau," Taehyung mencolek hidung Jungkook, "tetap Jeon Jungkook. Kelinci kecil Kim Taehyung. Tidak ada yang berubah. Hyung menyayangimu, Jungkook-ah."
Jungkook mendadak cegukan.
Di hari-hari yang sudah lalu seorang teman pernah mengajak Jungkook bermain. Anak itu mengatakan kalau Jungkook tidak punya ayah dan selalu terlihat sendirian, sepertinya tidak punya teman. Kala itu Jungkook hanya bisa menangis lalu melarikan diri namun sekarang ia akan menjawab bahwa ia memiliki Taehyung, Ibunya, Jin dan orang-orang yang berkata menyayangi Jungkook secara tulus. Jungkook punya mereka semua.
"Semuanya, ini Jungkook, Jeon Jungkook," Taehyung mengusak rambut Jungkook lalu berbisik agar Jungkook menyalami teman-temannya tapi Jungkook malah membungkuk dalam seperti memberi penghormatan kepada orang tua,
"Jungkook-ie, ini Yoongi-hyung," Taehyung memberi jeda pada kata-katanya, "dan yang seperti kau tahu, ini sahabatku, Park Jimin."
Tidak ada angin, tidak ada hujan ataupun badai, tidak ada pemberitahuan, tiba-tiba Taehyung membawa Jungkook ke kampusnya. Jungkook sudah menolaknya tapi Taehyung berkeras karena Jungkook masih punya satu hari tersisa dari cuti yang ia ajukan kepada sekolah dan Taehyung tidak ingin membiarkan Jungkook kesepian di rumah.
"Ah, Jungkook-ah. Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Jimin menghentikan kegiatan makannya dan berfokus kepada Jungkook. Ia sudah mengenal Jungkook dari kecil hanya saja tidak sering bermain bersamanya. Sewaktu kecil, Taehyung terlalu pelit untuk membiarkan Jimin bermain dengan Jungkook. Di sisi lain juga ada Mingyu yang terkadang sama posesifnya seperti Taehyung jika menyangkut hal yang mengenai Jungkook.
"Baik, Jimin-ssi," Jungkook tersenyum tipis.
"Tidak-tidak, panggil saja hyung. Kau kan pacarnya Taehyung jadi tidak perlu seformal itu," Jimin memperlihatkan eye smile-nya kepada Jungkook. Ia sengaja menggoda Taehyung dan Jungkook.
"B-bukan. A-aku bukan pacar Tae-hyung," sahut Jungkook cepat. Namja 16 tahun itu gemetar ketika Taehyung menyentuh sikunya lalu mengenggam tangannya. Jungkook tidak tahu arti kedipan mata Taehyung yang diarahkan kepadanya.
"Bukan?"
Di balik punggung Jungkook, Taehyung berusaha mengatakan 'calon pacarku' tanpa suara kepada Jimin.
"Ooooh, bukan?! Syukurlah! Aish, aku tidak bisa membayangkan namja semanis dirimu menjadi pacar Taehyung. Ya ampun, kau manis sekali," Jimin menusuk-nusuk pipi Jungkook dengan jari telunjuknya, Jungkook hanya bisa tersenyum kecil dan menahan semua perlakuan Jimin.
"Hyung, tiba-tiba aku ingin memelihara kelinci," kata Jimin dengan nada imut kepada Min Yoongi.
"Jim, kau itu tidak bisa memelihara hewan," kata Yoongi dengan ekspresi muka yang datar. Pemuda berkulit pucat itu menyendok potongan-potongan daging dari piringnya dan memindahkannya ke piring Jimin, "Makan!"
Jimin membuat suara rengekan yang dibuat-buat lalu bergelayut di lengan Yoongi, "Aku mohon. Belikan. Aku. Kelinci! Ya?"
"Tidak!" Jawab Yoongi cuek.
Taehyung mengernyit. Setahunya, Jimin dan Yoongi tidak sedekat ini. Tidak sampai level dimana Jimin berani merengek kepada Yoongi seperti ini. Taehyung rasa belakangan ini ia terlalu fokus pada Jungkook sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi kepada temannya.
"Kalau begitu bisa aku mengadopsi Jungkook? Dia mirip kelinci. Bisa kan, Hyung?"
Jimin merangkul Jungkook lalu mencubit kedua pipi pemuda itu. Taehyung mencoba untuk menyelamatkan Jungkooknya dari Jimin tapi Jimin sukses menyodok rusuk Taehyung dan memukul kepala sahabatnya itu karena ingin mengambil Jungkook.
"Ah, lucunya! Kenapa kau baru membawa Jungkook ke kampus sekarang, Tae? Hyung, Jungkook lucu ya?" Jimin mengajak Yoongi bicara lagi, "Bisa kita adopsi? Aku mohon!"
Yoongi tahu Jimin tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan apa yang ia mau sehingga pada akhirnya dia mengangguk saat Jimin menanyainya terus menerus perihal Jungkook.
"Yay!" pekik Jimin saat mendapati Yoongi mengangguk.
"Jungkook bukan hewan peliharaan! Mana bisa kau seenaknya ingin mengadopsinya!" protes Taehyung.
Sayangnya, Jimin tidak menggubris Taehyung, Ia terlalu senang dengan keimutan Jungkook dan kebaikan Yoongi.
"Nah, Jungkook-ie, kau mau makan apa?" Jimin terkesiap ketika Jungkook meraba saku bajunya, menghitung uang sakunya diam-diam.
"Apa yang kau lakukan! Kau tinggal pesan saja. Yoongi-hyung yang akan membayarnya," Jimin tersenyum tanpa rasa bersalah pada Yoongi.
"T-Tapi, aku punya uang saku sendiri, Hyung. Ini uang-"
Jimin langsung menyuapkan sepotong besar daging ayam ke mulut Jungkook agar pemuda yang lebih muda darinya itu diam. Sikap Jungkook yang ingin membayar makanannya sendiri itu terlalu cute untuk Jimin.
"Apa dia selalu seimut ini?" bisik Jimin ke telinga Taehyung. Ia masih tidak meninggalkan pandangannya pada Jungkook yang sedang berusaha menelan daging ayam yang Jimin suapkan secara paksa.
"Karena itulah aku menyukainya," Taehyung memperdengarkan tawa khasnya, tawa dengan suaranya yang berat dan senyum kotak khasnya.
"Sainganmu bisa bertambah banyak, Tae. Jungkook lebih indah dari yang kuperkirakan," Jimin menggoda Taehyung.
"Aku tahu. Tapi aku tidak akan kalah dari siapapun juga. Pada akhirnya, Jungkook pasti akan memilihku," bisik Taehyung.
"Apa yang kalian berdua bicarakan?" Yoongi menatap Jimin dan Taehyung dengan matanya kelihatan tinggal segaris.
"Jungkook-iga, dia sangat imut. Kami membicarakan Jungkook," jawab Jimin antusias.
"Ngomong-ngomong, apa kau dan Yoongi-hyung pacaran? Bagaimana bisa?" Taehyung menyeruput minuman pesanannya yang baru saja di antar. Suasana kantin sangat ramai dan Taehyung harus mengeraskan suaranya agar bisa di dengar.
Jimin menganggukkan kepala dengan wajah memerah, "Nanti kuceritakan. Wah, sepertinya makanan anak yang di sana itu enak! Jungkook-ah, kau mau itu? Yoongi-hyung yang akan membelikannya!" Jimin tidak menunggu jawaban Jungkook, ia sudah memasang tampang memelas dan menatap Yoongi dengan mata besar berair.
"Hyung, Jungkook kelaparan. Tolong belikan makanan itu ya, yang seperti itu. Jangan lupa minumnya juga."
Yoongi tidak berkata apa-apa, ia langsung berdiri dan menyentil dahi Jimin lalu ikut berbaur bersama kerumunan orang yang mengantri makanan.
"Tidak bisa dipercaya! Itu benar Yoongi-hyung? Dia menurutimu? Kemana perginya Min Yoongi yang pemarah?" Taehyung menganga. Ia bergantian memandang Jimin dan Jungkook.
"Dia bilang menyukaiku dan akan berusaha menjadi pacar yang baik jika aku menerimanya," Jimin menangkup pipinya sendiri. Pipinya kemerahan entah karena udara dingin atau karena malu.
"Lalu kau sendiri? Kau menyukai Yoongi-hyung?"
"Tentu saja! Kau tahu, this is the most beautiful moment in my life. Bagaimana denganmu sendiri, Taehyungie?"
Taehyung tertawa geli, ia merangkul pundak Jungkook yang dari tadi bersikap canggung, "Selama ada Jungkook, setiap hari terasa spesial."
Taehyung menyentak tubuh Jungkook agar mendekat padanya, tanpa pemberitahuan Taehyung mencium pelipis Jungkook lalu tersenyum lebar. Mata Jungkook melebar. Beberapa mahasiswi memandanginya dengan pandangan shock.
"Berhenti menggombal karena makanan sudah datang," Yoongi datang dengan sebotol cola besar dan seporsi makanan pesanan Jimin.
"Aku mau menyuapi Jungkook!" Jimin memekik keras dan secara agresif mendekati kursi Jungkook.
Jungkook menghela nafas. Ternyata Jimin juga seenaknya sendiri. Sama seperti Taehyung. Dan sayangnya Jungkook menyukai perhatian mereka.
"Aku akan mengantarmu pulang, Jungkook-ie!" kata Taehyung penuh semangat. Ia sudah memarkirkan mobilnya dan berniat mengantar Jungkook dengan jalan kaki.
"Ne, Hyung. Aku mau pulang saja," Jungkook menenteng seplastik besar makanan pemberian Jimin, Yoongi dan Taehyung. Sebenarnya hanya Yoongi dan Taehyung yang membelanjakannya banyak makanan. Tapi Jimin yang memaksa mereka berdua untuk berbelanja dan mampir sebentar di sebuah supermarket.
"Mau kubawakan?" tawar Taehyung. Ia sudah merentangkan kedua tangannya seakan berniat menerima sekarung beras.
Jungkook menggeleng dengan ekspresi wajah cerah. Ia nyaris tersandung pot tanaman Taehyung karena sibuk memegangi plastik makanannya.
Jungkook memandangi jendela rumah Taehyung yang menyala kekuningan. Ia bisa mendengar ibu Taehyung, Nyonya Kim, berteriak memanggil Mingyu untuk makan malam.
"Aku bisa sen-,"
"Kook! Itu kau?" tiba-tiba Mingyu membuka pintu. Pemuda itu muncul hanya dengan celana training hitam, kaos putih polos dan sebuah handuk kecil di kepalanya, "Kukira kau sakit?!"
"Tae-hyung, dia mengajakku-,"
"Ah, begitu rupanya," Mingyu langsung memotong ucapan Jungkook. Ia tahu Jungkook tidak akan bisa menolak ajakan kakaknya. Ia mendadak sedikit cemburu.
"Kau tahu, beberapa hari ini nenek mencarimu. Tolong temui dia ya?" Mingyu mengarahkan atensinya pada Jungkook dan mengabaikan Taehyung. Pemuda itu juga berjalan ke arah Jungkook dan membawakan belanjaan Jungkook, "Ayo masuk! Kebetulan kami juga sedang ada tamu. Nanti sekalian kukenalkan."
"Jungkook ingin pulang, Mingyu-ya," kata Taehyung seakan mencoba mencegah Jungkook untuk masuk.
"Ada apa denganmu? Kau gelisah? Ada orang yang sudah menunggumu di dalam," Mingyu menyeringai tipis untuk selanjutnya tersenyum lembut pada Jungkook dan menggandengnya masuk.
Jungkook berjalan di belakang Mingyu. Di saat ia sudah mencapai pintu, Jungkook berbalik dan mendapati Taehyung sedang membanting pintu mobil. Pemuda berambut coklat itu terkesan agak frustasi karena suatu hal yang Jungkook tidak tahu.
Seperti dugaan Jungkook, Nyonya Kim, Tuan Kim dan nenek Taehyung sedang berada di rumah. Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun mendiang kakek Taehyung dan Jungkook ingin ikut menangis tatkala melihat nenek Taehyung duduk di meja makan sambil memegangi kemeja usang dan semangkuk sup rumput laut.
"Halmeoni," panggil Jungkook.
"Aigo, cucuku yang manis. Kau di sini? Mana Taehyung?"
Jungkook memeluk nenek Taehyung. Wanita itu sudah berubah menjadi wanita dengan rambut putih di keseluruhan kepala. Ada kerut kentara di ujung-ujung matanya.
"Dia masih di luar. Selamat ulang tahun untuk kakek Tae-hyung," bisik Jungkook sembari mencium pipi nenek Taehyung.
"Terima kasih, Jungkook-ie."
"Mingyu-ya, suruh ibumu untuk segera membawa makanannya kemari. Suruh juga gadis itu untuk segera bergabung makan malam," ucap nenek Taehyung lalu kembali membelai pipi Jungkook.
"Gadis?" Jungkook memandang nenek Taehyung mencoba menggali informasi untuk otaknya.
"Teman dekat Taehyung. Namanya Soo young. Kau mengenalnya?"
Jungkook menggeleng. Ia tidak mengenalnya. Tapi mulai sekarang ia akan mengenalnya.
.
.
Park Soo young. 18 tahun. Berkulit putih, berambut merah dengan tubuh langsing yang mampu membuat tiap laki-laki melesungkan dada karena serangan jantung. Sangat cantik. Jungkook tidak bohong.
Yeoja itu tersenyum kepada Jungkook dan Jungkook sama sekali tidak bisa untuk tidak membalas senyuman itu. Namanya Soo young tapi dia juga akan menoleh ketika Taehyung memanggilnya Joy.
Nenek Taehyung bilang Soo young adah teman dekat Taehyung, Nyonya Jeon bilang Soo young adalah teman Taehyung sejak SMA, Tuan Kim tidak bilang apa-apa tapi Mingyu bilang Soo young pernah berpacaran dengan kakaknya, Kim Taehyung. Mingyu memang tidak mengatakannya di depan semua orang. Ia membisikkannya ke telinga Jungkook ketika Taehyung masuk ke ruang makan dan tanpa bisa di tahan Soo young langsung mendatangi Taehyung dan mengucapkan selamat datang.
Mingyu memang menepati janjinya. Ia benar-benar mengenalkan Jeon Jungkook kepada tamu mereka. Park Soo young. Mantan pacar Taehyung. Jungkook seharusnya bisa menduganya, teman dekat berarti pacar atau setidaknya mantan pacar. Seperti kata kebanyakan orang, tidak ada pertemanan murni antara laki-laki dan perempuan.
Pada saat Mingyu menyebut nama Jungkook untuk pertama kalinya di depan Soo young, Jungkook mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan. Jungkook tersenyum dan ia bisa melihat Taehyung menendang sofa.
"Noona, ini Jungkook-ie," kata Mingyu.
"Wah, Jinjja? Jeon Jungkook yang itu? Gwiyeopta!" balas Soo young, "Perkenalkan, aku Soo young. Salam kenal, Jungkook-ssi."
Soo young terkesan luar biasa baik dan ia sempat mengutuk dirinya karena membayangkan mantan pacar Taehyung adalah orang culas yang akan memaki dirinya pada pertemuan pertama. Piciknya Jungkook.
Pada menit-menit selanjutnya, Soo young menceritakan dirinya yang sering mendengar tentang Jungkook dari Mingyu. Dan pada saat itu Jungkook tahu bahwa Taehyung tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya. Pada momen ini jugalah Taehyung berubah menjadi pribadi paling pendiam yang pernah Jungkook temui. Taehyung membisu seperti batu. Dia terkadang hanya menatap Jungkook lalu menunduk.
Jungkook harus bilang apa? Terlalu banyak kejutan hari ini. Sayangnya, kejutan malam ini menuntunnya kepada rasa kecewa. Entah kenapa ia tidak bisa menyukai Soo young. Jungkook risih dengan sikap Soo young yang terlampau perhatian pada Taehyung. Jungkook meremat tangannya sendiri saat melihat Soo young mengikat rambut Taehyung.
Mereka pasangan yang serasi. Semua orang akan berpikir seperti itu. Jungkook juga harus.
Semua orang sibuk mempersiapkan makanan penutup. Taehyung sempat ingin berbicara dengan Jungkook tapi Soo young menariknya ke dapur. Kini tinggal Jungkook dan nenek Taehyung yang ada di ruang makan.
"Halmeoni, aku rasa…aku akan pulang rumah saja. Eomma pasti menunggu. D-Dan Jin-hyung sudah meneleponku terus sejak tadi," kata Jungkook sesaat setelah ia membantu membawa sepanci sup rumput laut ke dapur.
"Ha? Tidak menunggu makanan penutup?" nenek Taehyung menyelipkan rambut ke belakang telinganya, "Padahal kau sudah membantu banyak."
"Tidak apa-apa. Mingyu bilang Halmeoni ingin bertemu denganku jadi aku menyempatkan mampir sebentar. Niatku kesini untuk menemui Halmeoni, aku lega setelah melihat Halmeoni baik-baik saja," sahut Jungkook.
"Aku bilang begitu? Kapan ya?" nenek Taehyung menggaruk pipinya sementara Jungkook tertawa canggung. Ia memahami masalah kepikunan yang mulai menyerang nenek Taehyung.
"Mungkin aku yang lupa. Oh ya, kau mau aku panggilkan mereka? Atau kau mau diantar?"
"J-jangan, biar aku pulang sendiri saja. Lagipula, sedang ada tamu," Jungkook mengusap hidungnya lalu nyengir lebar, "Nah, aku pulang dulu, Nek. Selamat malam."
Jungkook membungkuk hormat. Ia melirik ke arah dapur, mengecek keberadaan seluruh anggota keluarga Kim dan Park Soo young, memastikan agar mereka tidak melihatnya. Jungkook berjalan cepat, ia berlari kencang ketika telah mencapai pintu keluar. Ia bahkan melupakan belanjaannya. Kenapa ia merasa sakit? Kenapa ia tiba-tiba iri seperti ini? Ia membenci dirinya yang bersedih diatas kebahagiaan orang lain.
Sementara itu, Taehyung mendorong dan meninju wajah Mingyu sampai punggungya menabrak dinding. Mereka berada di kamar Taehyung.
"Brengsek, kau sengaja membawa Jungkook masuk-kau-kau mau mempertemukannya dengan Joy?" Taehyung emosi, ia tidak bisa mengendalikan nada bicaranya.
Mingyu bersikap santai, ia mendecih, "Memangnya kenapa? Aku masih berbaik hati dengan mengatakan kalau Soo young Noona itu mantan pacarmu. Kenyataannya, kau dan Soo young tidak pernah putus. Selama ini kau membohongi Jungkook."
Dada Taehyung seperti tertusuk belati.
"Kau tahu bukan begitu kenyataannya! Joy itu-"
Mingyu melambaikan tangannya seperti tidak ingin mendengar penjelasan Taehyung. Adik Kim Taehyung itu menggeleng, "Aku tidak akan berbelit-belit. Jika kau mau menjaga Soo young Noona, tolong lepaskan Jungkook."
"Brengsek!"
"Jangan mengumpat keras-keras, nanti Eomma dengar," Mingyu mengusap pipinya yang kena tinju, "Berhubung Soo young Noona sudah kembali ke Korea, aku tidak akan menutup-nutupi apapun lagi."
"Kau sangat licik, Gyu."
"Aku hanya tidak ingin Jungkook kau bodohi lebih lama, Hyung. Itu saja."
.
.
.
.
.
To be Continued…
.
.
.
.
Chapter yang agak mengecewakan wkwkwk
Maafkan kalo kurang greget. Maklum, masih amatiran. Tolong dimengerti (mata berkaca-kaca)
Ga banyak kata-kata, thanks and sorry aja lah
Gimme your opinion. Oke?
See ya
