Alohhaaa, Minna-saaan...,
Masih bersama Ayra disini B-)
*gaje*
Pertama- tama, maaph-kan atas keterlambatan up-dateee saya, ;(
Semoga chapter ini bisa sepadan dengan lamanya pengupdate'an...
Happy Reading!
Disclaimer:
Sampe bumi kiamat, Bleach akan tetap milik Om Tite Kubo *sembah sujud*
Note:
"..." (dialog biasa)
'...' (dialog isyarat, biasanya dipakai Rukia yang bisu)
Tulisan bercetak miring (ucapan dalam hati)
Malam itu Ichigo resah. Ia tidak bisa tidur sama sekali dan bahkan rasa kantuk itu telah raib seperti berlalunya musim panas. Pikirannya dipenuhi dengan segudang pertanyaan dan hatinya juga terasa janggal.
Kemanapun Ichigo menoleh, selalu ada wajah Rukia disana, kapanpun Ichigo memejamkan mata, yang muncul adalah kilau bening berwarna violet yang menyambutnya, dan bagaimana pun ia berusaha untuk mengenyahkan bayang- bayang Rukia dari kepalanya, selalu saja tak berhasil hingga ia merasa kesal sendiri dan justru digedor oleh sebuah dorongan kuat untuk menemui gadis yang memang ia akui benar- benar berbakat sebagai seorang pencuri itu. Lihat Ichigo yang kini tanpa sadar telah kehilangan sesuatu dari dirinya yang bahkan tidak diketahui kapan dan apa yang telah hilang.
Lelaki yang hanya mengenakan boxer sebagai baju tidur itu membalik tubuhnya untuk yang ke sekian kali dengan gusar. Ia melirik ke arah jam weker yang ada diatas meja, jam 2 pagi, bisiknya, dan dia belum bisa tidur sama sekali.
"Tidur...tidur...tiduuurrr..." suruhnya pada diri sendiri sambil terpejam kuat- kuat dan hasilnya,...
"Aaarghhhhhhhhh!"
Ichigo berteriak frustasi dan bangun dari posisi hibernasi. Ia memegang kepalanya yang terasa berdenyut dan kembali teringat dengan wajah, mata, senyuman, kehalusan kulit Rukia, semuanya...semuanya tentang gadis itu yang membuatnya ingin lebih. Ia ingin menatap mata itu tertuju padanya setiap detik, hanya dia. Ia juga ingin melihat senyum di bibir gadis itu dan memiliki hanya untuk dirinya sendiri. Ia ingin menyentuh kulit wajahnya yang terasa begitu halus seperti bayi, ia ingin mencium aroma lily dari rambutnya setiap hari, ia ingin semuanya, semua yang ada pada Rukia, ingin...
"Siaaaaaalllllllllll...!" geram Ichigo melempar bantal disebelahnya membentur tembok dan teronggok dibawah karena hasrat gilanya. Ia menundukkan kepala dan menopang dengan satu tangan, mencoba menenangkan dirinya yang sedang labil kalau bisa. Ya, kalau saja bisa, keluhnya keruh.
Lelaki itu tidak menyangka ia akan dihantui oleh bayang- bayang seorang gadis seperti ini hingga membuatnya tak tenang. Ia tidak bisa menelan makan malamnya, mengalihkan pikirannya dengan bermain game dan sekarang, tidurpun juga tak bisa. Rukia seolah berjejal disetiap bagian tubuh Ichigo hingga ia terikat begitu kencang dan tak bisa meloloskan diri. Harus bagaimana ia sekarang menghadapi serangan ini? Perasaan aneh yang tidak ia mengerti dan baru dirasakan olehnya sejak pertama kali ia menghirup nafas kehidupan. Apa yang menimpanya ini?
Ichigo menarik nafas perlahan dan dirasakannya oksigen memenuhi rongga dadanya kembali. Mengatur ulang dentuman- dentuman tak bernada dijantungnya dan merenggangkan syarafnya yang sempat menegang.
Ia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah dan menatap langit kamar yang bercorak papan catur. Memandang pergantian warna tiap kotak lalu terhenti pada jajaran putih yang kelima dan terpaku. Pikirannya mengalir, mencerna partikel demi partikel masalah yang terasa memusingkan dan sedang ia coba pecahkan. Lama Ichigo terlarut dalam asumsi dan sanggahan yang terjadi dalam kepalanya, dan hanya satu fakta yang paling tidak bisa ia pungkiri, lelaki berperut six-pack sempurna itu ingin melihat gadis bernama Rukia sekarang. Bagaimana mungkin ia bisa menunggu sampai pagi datang, ia tak sabar. Lalu dimana ia bisa menemui Rukia malam- malam begini? Itu juga tidak mungkin.
Ichigo mengerutkan keningnya saat tak ada jalan keluar yang berhasil ia dapatkan dari otak buntunya selain menanti sinar mentari menerobos tirai dalam kamar dan menandakan kesempatannya untuk bertemu Rukia tiba, seperti pasien yang baru bisa memasuki ruang periksa jika sudah terpanggil.
Ia hanya menunggu, menunggu dengan resah. Menikmati pose tengkurap, terlentang, miring kanan hingga miring kiri, terduduk, berjalan seperti gosokan yang sedang bekerja, bersila di sofa, menatap langit malam, semuanya dilakukan dalam kamar dengan risau. Sekali lagi ia melirik jam weker yang ada di meja belajar dan memutuskan untuk mengguyur kepalanya berlama- lama dengan air dingin agar bisa berpikir jernih. Ia ingin lihat apakah akan ada asap mengebul dari ubun- ubunnya ketika tetes air pada jam 5.30 pagi terjun dari shower dan mengenai titik pusat yang terasa sudah terbakar itu.
Namun apa yang terjadi selanjutnya ternyata berbanding terbalik dengan pemikiran Ichigo. Seluruh anggota tubuhnya bergerak begitu cepat dan bahkan seolah tak mempan dengan rasa dingin yang sesungguhnya bisa membuat orang mati mengigil, kaki Ichigo dengan kokoh sudah melangkah keluar dengan tergesa mendekati lemari, menyabet pakaian seragamnya lalu segera dikenakan dalam hitungan detik. Semua terproses secara kilat.
Tangannya membuka pintu kamar kasar dan berjalan dengan terburu. Menuruni anak tangga tanpa menyapa para maid yang sudah bangun dan sedang menyiapkan sarapan keluarganya seperti biasa, lalu bergegas memutar gagang pintu dan menyeruak keluar, meninggalkan kebingungan diwajah para pelayan rumah yang melihatnya seperti sebuah pertanda kiamat. Ia berlari kecil menuju gerbang sambil mengenakan mantel bulunya yang berwarna dark blue lalu mendekati penjaga keamanan yang sedang minum kopi sambil mengamati CCTV.
"Buka gerbangnya." suruh Ichigo seraya mengancingi ujung tangan mantelnya, membuat penjaga keamanan yang sedang santai langsung tersedak dan menatapnya dengan berlinang.
"Tu...Tuan Ichigo mau ke...?"
"Sudah buka saja." potong Ichigo lagi sambil mengetuk telunjuknya dimeja pos keamanan resah, seolah sedang diburu oleh sekawanan polisi yang mengejarnya sebagai perampok dan harus segera bersembunyi agar tak tertangkap.
"Ta...tapi mobil Anda..."
Penjaga keamanan terbata untuk menyelesaikan pertanyannya karena tangan Ichigo sudah menarik keyboard komputer yang ada diatas meja dan mengetik beberapa angka disana. Setelah memencet tombol enter, terdengar suara berdecit yang menunjukkan gerbang berhasil terbuka dan ia menjengukkan kepala untuk melihat. Berhasil!
"Jangan bilang- bilang ayah tentang ini semua." ancam Ichigo mengacungkan telunjuknya ke wajah penjaga gerbang lalu bergegas keluar dan mulai berlari seperti orang kesetanan. Sementara penjaga gerbang hanya menganga melihat tingkah aneh majikannya yang memilih untuk berlari menerjang dingin ketika ia memiliki mobil untuk dibawa pergi.
"Orang kaya memang sulit dimengerti..."gumam penjaga gerbang itu belum bisa mengalihkan pandangannya dari jalan meski sosok Ichigo sudah hilang dalam gelap.
Dijalan yang begitu sepi, Ichigo bisa mendengar hentakan kakinya yang tengah mengenakan sepatu karet ketika ia sedang berlari. Uap dingin keluar dari mulut dan hidungnya seperti sebuah kereta api yang sedang meluncur sambil mengeluarkan asap hitam karena tubuh Ichigo sedang bekerja dalam proses penghangatan akibat cuaca dingin yang tidak ia pedulikan. Program dikepalanya sedang mengalami kerusakan yang jika diandaikan adalah seperti sebuah komputer yang sedang terserang virus dan membuatnya error. Hal itu yang terjadi pada Ichigo akibat pelumpuhan sistem oleh virus bernama Rukia. Hari ini untuk pertama kalinya ia telah absen dari kewajiban pagi yang belum pernah terlanggar satu kalipun, yaitu menjemput Inoue dan pergi ke sekolah bersama, demi bertemu dengan Rukia. Otaknya telah me-reset segala hal tentang Inoue yang bahkan merupakan prioritas utama. Tak ada hal lain yang ada dibenaknya saat ini kecuali keharusan bertemu dengan Rukia sesegera mungkin dan menghilangkan rasa sesak yang sedang menggigit dadanya dengan keras ini.
"Ah...ah.., Tuan Ichigo?!"
Seorang lelaki berseragam keamanan yang sedang menguap langsung membelalakan matanya saat melihat sosok bermantel biru sedang berdiri di depan pintu gerbang dengan nafas yang mengepul.
"Biarkan aku masuk." pinta Ichigo disela- sela sengalannya. Ia baru merasa kakinya kesemutan karena cuaca dingin yang menyerangnya saat berlari tadi dan sekarang ia harus melompat- lompat ditempat seperti kodok tersiram lem agar bisa berkeringat.
"Cepat buka." suruh Ichigo tak sabar ketika dilihatnya penjaga gerbang tak kunjung beranjak dari tempatnya dan hanya memandangi Ichigo dengan pandangan takjub.
"Ah...i,iya...baik."
Terdengar bunyi besi beradu saat penjaga gerbang membuka pintu dan dia masih terheran- heran mendapati anak pemilik sekolah sudah datang ketika matahari bahkan masih tertidur di istananya.
"Lama sekali." komen Ichigo dengan wajah berkerut dan membuat penjaga gerbang membungkuk meminta maaf.
"Ke...kenapa Tuan Ichigo datang pagi- pagi sekali?" tanya penjaga itu lagi setelah ia mengunci gerbang. Ichigo tak segera menjawab dan membiarkan matanya mengedar ke seluruh bangunan sekolah yang setangahnya masih tertutup hitam. Matanya memperhatikan siluet kemerahan yang kini tengah menggantung dilangit dan ia mendesah, mengeluarkan uap dingin dari mulutnya yang terasa kaku.
"Harus dimulai darimana?" gumam Ichigo pada diri sendiri.
"Eh? Ma...maaf, tuan?"
Ichigo menatap penjaga gerbang yang sedang meliriknya takut- takut dan ia mengibaskan tangannya.
"Tidak usah hiraukan aku." ujarnya melangkah masuk dan meninggalkan penjaga gerbang yang masih mengerjap tak mengerti.
Ichigo berlari memasuki halaman sekolah dan ia terhenti tepat ditengahnya saat kepalanya tanpa sengaja menoleh lukisan yang terpajang di pintu koridor ketika sedang mencari- cari letak kelas Rukia. Disitu, ditempat saat ini ia sedang berdiri, adalah tempat dimana ia melihat sang dalang keanehan pada dirinya untuk pertama kali, tengah terpaku, dan kini Ichigo juga melakukan hal yang sama seperti saat itu, hanya menatap lekat dengan keterkejutannya.
Rukia...?
Kakinya merayap pelan, antara percaya dan tidak, menatap punggung Rukia yang kecil dengan balutan kemeja kotak- kotak dan rambut sebahu miliknya, sedang tenggelam dan tak berkedip menggagumi sepasang kekasih yang terpatri dalam kotak bening. Tangan kecilnya terulur, membelai kaca seolah ia bisa merasakan kekalutan dua sosok cantik didalam bingkai dan Ichigo menghentikan kakinya tepat dibelakang belia berstatus murid pindahan itu.
Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menggerakan jarinya yang begitu menonjol, dan merasakan nafasnya tersumbat saat Rukia menyerbak seperti sebuah asap. Ichigo tak sanggup menggerakan mulutnya saat tersadar kalau ia sedang berkhayal.
Ia melihat bayangan Rukia yang begitu nyata dan tertipu dengan imajinasi sendiri. Ichigo bahkan ingin menertawai dirinya yang sangat menyedihkan ini dan hanya tersenyum kecut. Akan sejauh mana lagi gadis itu masuk dan mengacak- acak dirinya? Bagaimana mungkin ia bisa tercandu dengan perempuan yang baru dua hari lalu ia temui?
Ichigo mendesah sambil menengadahkan wajah. Dahinya bergetar tat kala mencoba mencerna apa yang sedang lelaki itu lakukan saat ini didalam sekolah yang sepi yang bahkan belum tersorot oleh mentari. Dalam kepalanya sedang sibuk bertanya, kenapa ia membiarkan saja gadis yang benar- benar sama sekali bukan tipenya itu membuatnya melakukan hal sampai sejauh ini. Apa seleranya sudah berubah sekarang?
Merasa cukup berat dan tak ingin menambah pusing kepalanya lagi, Ichigo merogoh saku jaket lalu melihat layar ponsel. Jam masih menunjukan pukul 6 pagi kurang dan paling tidak gadis pembuat onar itu akan datang tiga atau empat puluh lima menit lagi. Dengan kata lain dia harus kembali menunggu...sampai Rukia datang. Apa yang akan aku lakukan selama itu? tanyanya berharap ada seseorang yang menemani dan memberi jawaban atas kesendirian yang ia alami.
Ichigo mengangkat kakinya menaiki anak tangga menuju lantai atas, gontai. Ia sudah seperti orang idiot yang datang pagi- pagi ke sekolah hanya untuk menemui seorang perempuan yang bahkan tidak bisa ia jamin ingin bertemu dengannya atau tidak. Apa yang ia harapkan dari kepastian semu yang bisa lenyap tak berbekas kapan saja? Kenapa ia menyulitkan dirinya sendiri dengan menyelam ke sebuah kolam saat ia tahu tak bisa berenang? Lagi- lagi ia tak bisa melakukan apa- apa selain mendesah.
Ichigo mengangkat kepalanya, menatap ruang kesenian dimana ia melihat Rukia tertidur dengan begitu cantik dan merampas pikirannya.
"Disini, ya..." bisik Ichigo pelan memperhatikan koridor yang kini sepi dan memilih untuk duduk di sebuah kursi panjang yang terdapat didepan kelas. Ia melihat papan kecil yang tergantung di ventilasi pintu dan menyandarkan punggungnya.
Ini kelasnya, jadi dia pasti akan lewat sini, batin Ichigo menganalisa. Kepalanya kembali berputar, mengamati sekeliling, dan meskipun ia adalah seorang anak kepala sekolah, tidak menjamin bahwa ia tahu seluk- beluk seluruh bagian sekolah karena pada kenyatannya, ini kali pertama Ichigo duduk di Gedung C. Sorot matanya sedang memperhatikan susunan ubin dilantai, jendela kelas yang tertutup tirai biru, pagar besi yang membentang sepanjang koridor kelas dan menjaga siswa agar tidak terjun bebas saat sedang berjalan ataupun bercengkrama, lalu pintu kelas yang juga berwarna senada dengan dinding kelas, biru muda.
Ichigo adalah murid dari jurusan science dan baru mengambil mata pelajaran kesenian pada semester ini dan kalau tidak salah, pelajaran itu ada di jadwalnya hari ini pada jam ke empat nanti. Jadi sudah dapat dipastikan, matanya terasa asing dengan bangunan yang sedang ditempatinya sekarang.
"Jadi perpustakan dan ruang kesehatan bisa terlihat dari sini."
Sekali lagi Ichigo mengangguk- angguk memperhatikan bangunan yang ada diseberangnya yang mulai menampakkan rona asli. Tubuhnya kembali berotasi dan ia menyilangkan kakinya lalu bersedekap.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu?" gerutunya ditelan sangsi akan apa yang sedang ia lakukan saat ini.
Bumi mulai terlihat terang dan langit biru muncul dengan cerah sambil sesekali menarik awan putih untuk menutupinya yang terlihat malu- malu. Angin pagi begitu semilir, menyapa dedaunan berwarna hijau yang masih basah terkena embun dan menggoyangkan bayangan hitam yang terpantul di tanah pelan. Suara burung berkicau ramai menyambut hangatnya sang raja siang yang mulai terbangun dari peraduan.
Pagi yang indah, setidaknya itulah yang menyambut wajah cemberut Ichigo yang kini sedang menjadi tontonan murid jurusan kesenian yang mulai berdatangan. Mereka lalu lalang untuk sekedar lewat atau sengaja lewat agar dapat melihat wajah tampan anak pemilik sekolahan yang entah terkena badai darimana, tiba- tiba muncul di jurusan mereka dan dengan cueknya duduk seorang diri dikursi koridor, seolah sedang menunggu seseorang. Siswi mana yang tidak berharap untuk mengisi kursi kosong yang ada disebelahnya!
Gadis berkuncir dua yang baru saja lewat didepan Ichigo sudah enam kali berseliweran didepannya sambil bersemu malu dan ini adalah kali ke tujuh ia melintas. Ichigo tidak bisa mengerti kenapa gadis itu melakukan hal yang menurutnya konyol dan sia- sia saja karena pandanganya tak pernah lepas dari dinding koridor yang menurutnya lebih cantik dari apapun saat ini. Daripada ia melihat para siswi yang menatapnya tanpa berkedip dengan wajah berliur dan membuat bulu kuduknya berdiri, lebih baik ia mengubur kedua matanya pada dinding sekolah yang mungkin sudah mimisan jikasaja bisa terlihat.
Ichigo hanya bisa menarik nafas gemas saat gadis berkuncir itu kembali berjalan didepannya dengan wajah memerah dan sungguh, ia benar- benar ingin pergi dari tempat itu sekarang juga.
Kenapa Rukia belum datang juga, sih? keluh Ichigo gregetan. Ia sedang menimbang untuk menyerah menunggu dan pergi ke kelasnya atau tetap duduk diam ditempat dan bertahan menerima ratusan sinar blitz yang ia rasakan begitu menusuk sampai gadis pengacau itu datang. Otaknya mulai bekerja kembali.
Bagaimana kalau hari ini ia tidak masuk? Tiba- tiba Ichigo melebarkan mata dan menarik punggungnya yang tertempel di sandaran kursi, membuat para siswa yang sedang memperhatikan sedikit terkejut. Alisnya sekarang berkerut memikirkan kemungkinan yang baru saja terlintas dikepalanya.
Tidak, tidak...dia pasti masuk, sangkal laki- laki itu lagi menggeleng. Aku yakin dia gadis yang tidak akan pernah sakit, komennya mengangguk sendiri saat mengingat lompatan Rukia dari lantai satu yang berhasil membuatnya terperangah. Gadis setangguh dia tidak akan mungkin bisa sakit.
Ichigo masih memikirkan kemungkinan lain yang menyebabkan Rukia belum terlihat didepannya saat ini ketika ia melihat seorang siswi berambut orange memasuki ruang kelas dan langsung mengingatkannya pada seseorang yang terhapus keberadaannya. Ia lupa memberitahu Inoue kalau tidak bisa menjemput hari ini!
Sial, umpat Ichigo dalam hati dan langsung merogoh kantong jas sekolah mencari ponsel, memencet beberapa tombol dan segera menempelkannya ke telinga sambil berdiri untuk mencari tempat yang sepi agar bisa mendengar suara Inoue. Semoga gadis itu tidak menunggu dan bisa mengakibatkannya terlambat datang ke sekolah pagi ini.
Ichigo sedang menunggu jawaban dari Inoue saat gadis bertubuh mungil dengan rambut hitam sebahu muncul dan berjalan dengan malas sambil menguap digedung D yang ada diseberangnya. Mata Ichigo mengekor kemana gadis itu berjalan dan ia terkejut saat menangkap seorang lelaki berambut biru sedang bersandar pada tembok perpustakaan disamping ruang kesehatan.
"Halo?"
Ichigo tak bisa mencegah pupilnya untuk tak membesar saat melihat lelaki musuh terbesarnya berjalan sambil tersenyum ke arah gadis yang ia tunggu- tunggu, berbincang tentang sesuatu yang sepertinya membuat Rukia kesal jika dilihat dari air mukanya sekarang.
"Kurosaki-kun?"
Pikiran Ichigo sudah tak terfokus lagi pada suara di ponselnya saat melihat tangan Grimmjow menarik lengan Rukia untuk ikut dengannya, dan kemarahan sang Raja terasa mencapai puncak kepala saat melihat wajah sang perdana mentri mendekat ke wajah calon ratu miliknya dan terlihat ingin mencium gadis itu di depan mata. Brengsek!
"Halo...Kurosa...?"
Ichigo menutup flap ponselnya dan bergegas lari. Melewati seorang siswi berambut orange yang sedang berdiri dibalik dinding koridor dengan ponsel yang mendadak terputus dan matanya menangkap lelaki berambut orange tengah berlari tergesa menuju Gedung D.
"Kurosaki-kun...?" Gadis itu menaikan alisnya sambil terus menatap kemana tubuh Ichigo pergi.
Ichigo merasa tubuhnya gemetar dan kalut. Ia ingin segera sampai dan meninju wajah Grimmjow agar menjauh dari gadis yang...ia sukai.
Ya, pemuda tampan itu sudah sadar ia merasakan sesuatu terhadap Rukia dan tidak pada Inoue Ia menyukainya. Ia melihat Rukia sebagai seorang perempuan dan itulah yang membuatnya kalang kabut saat ini. Jantungnya berdegub begitu kencang bukan karena ia sedang berlari dengan sangat memburu, tapi karena ia takut kehilangan sosok itu lagi dan tidak dapat menemukannya. Ia tak sanggup kehilangan lagi.
Ichigo menopang tubuhnya pada kedua tangan yang terpegang di pagar tangga dan langusng terjun melewati deretan anak tangga yang memisahkan lantai satu dan dua tanpa menghiraukan teriakan para siswi yang ketakutan melihat aksinya.
"Kyaaaaaaaaaaa!"
Kaki Ichigo mendarat dengan mulus di depan ruang berita lantai satu dan tanpa mempedulikan mata melotot milik para siswa yang sedang berada di ruang tunggu, ia langsung menghentakan kakinya untuk kembali berlari menuju Gedung D yang terpisah 3 meter darinya sekarang. Ia mencengkram pagar tangga agar memudahkan mengangkat tubuhnya saat menaiki tiga anak tangga sekaligus dalam setiap langkah dan berhenti tepat sebelum Grimmjow berhasil melaksanakan misinya.
"Hah...hah...hah..."
Ia menatap lelaki berambut biru itu dengan ganas dan tak menunggu nafasnya untuk kembali teratur terlebih dulu agar bisa berkata:
"Lepaskan tanganmu."
Chapter 3
When She's Kissed By The Butterfly
"Aku menyukainya."
Sekali lagi Ichigo mengulang pernyataannya seolah benar- benar ingin menegaskan bahwa gadis yang kini tengah digenggamnya erat itu adalah gadis yang telah menaklukan hatinya dan tak boleh ada yang memilikinya selain dia, tak terkecuali juga Grimmjow. Sementara Rukia masih belum mengatupkan mulutnya yang menganga dan lelaki dihadapannya hanya menatap dengan mata membulat.
Ichigo tak melepas pandangannya yang sudah terlihat gelap ke arah Grimmjow yang lebih ingin ia telan bulat- bulat saat ini karena perlakukannya terhadap Rukia yang membuat lelaki berambut orange itu naik darah. Ia sudah berusaha mengabaikan segala kelakuan kekanakan Grimmjow hingga detik ini dan sekarang—ia sudah mencapai batas maskimal. Lelaki mantan anggota basket itu menyeret seseorang yang seharusnya tidak ia libatkan dalam pergelutan mereka berdua.
"Aku tidak akan menyerahkannya padamu." ucap Ichigo yang kali ini berhasil menyadarkan mahluk didepannya. Rukia mengerjapkan matanya bingung dan menatap Grimmjow yang sekarang sudah berhasil menguasai diri. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Rukia dan membuat gadis itu meringis kecil.
"Hah...?" Grimmjow menaikan satu alisnya.
"Kenapa kau sama sekali tidak tahu diri, Ichigo?" tanya Grimmjow tiba- tiba tersenyum penuh kemenangan saat ia melihat sosok berambut panjang sampai dan membelalak kaget tepat dibelakang Sang Raja. Gadis itu tak melanjutkan langkahnya dan memilih untuk berhenti sambil terdiam bisu menatap pemandangan yang tersuguh dihadapannya.
Grimmjow tak bisa menghentikan sorot tajam matanya yang memancarkan ketidaksabaran untuk melihat Ichigo berbalik dan meledakan bom yang ia rakit sendiri. Ia melirik lelaki itu remeh, seolah memberikan tantangan pada sang Raja untuk melihat sebuah kartu yang ia lemparkan ke dalam meja permainan dan menunggunya menjatuhkan diri ke dalam lumpur kekalahan.
Seakan tak mau lari dari arena perang yang sudah terlanjur dimasuki, Ichigo memutar kepalanya perlahan untuk menoleh apa yang sedang terjadi di balik punggungnya dan melihat kartu apa yang telah disiapkan oleh Grimmjow untuk melancarkan serangan. Dan hal pertama yang bisa ia rasakan adalah tamparan keras yaang begitu pias di wajahnya saat menangkap seorang gadis berambut orange masuk ke dalam dunia visual miliknya yang kini tengah menampakkan ekspresi tercengang.
Dalam seketika urat pada leher Ichigo menegang dan hanya bisa mengeratkan giginya kuat- kuat agar tetap bisa bertahan setelah menerima serangan telak dari Grimmjow yang langsung membuat genggaman tangannya pada Rukia merenggang, membuat gadis itu terlintasi tanda tanya dan Grimmjow tersenyum semakin lebar.
"I...Inoue...?"
Ichigo hanya mampu mengeluarkan bisikannya ketika melihat pacarnya, Orihime Inoue, sedang berwajah terpukul dan sarat akan kebingungan.
"Putrimu mencari..." ujar Grimmjow menarik Rukia dan dalam satu kali sentakan keras, tubuh mungilnya sudah berada di pelukan lelaki berambut biru itu dengan wajah terkejut.
"...Anjing Penjaga." cibirnya lagi semakin berada di atas puncak kemenangan.
Inoue menggelengkan kepalanya pelan seolah benar- benar tak bisa menerima dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia menyeret kakinya mundur dengan bibir yang bergetar.
"Inoue..." panggil Ichigo dengan langkah tertahan, mencoba mencegah kepergian gadis yang baru saja ia sakiti.
"Inoue!"
Ichigor berteriak keras tatkala sang gadis membalikan tubuh dan berlari, menutupi wajah menangisnya sambil terisak.
"INOUEEE!"
Ichigo langsung mengangkat kakinya mengejar Inoue dan meninggalkan Rukia yang langsung terlupakan begitu saja, menciptakan letupan- letupan kecil dipelipis gadis itu yang tidak ia mengerti.
Grimmjow terkikik dan membuat Rukia menoleh, memperhatikan lelaki ramen yang sedang dibanjiri rasa senang dengan tubuh berguncang menahan tawa dan menyadarkannya kalau sekarang ia sedang terdekap dalam tubuh kekar lelaki itu.
"Kalau begitu..."
Grimmjow berhenti terkekeh lalu menoleh Rukia seraya mengeratkan tangan yang sedang memeluk pinggul ramping gadis itu, mendekat.
"Sekarang kau milikku?" ujar Grimmjow menatap Rukia dan mengedipkan matanya, menggoda.
Rukia mendorong dada Grimmjow kuat hingga ia bisa melepaskan diri dan langsung menghentikan keceriaan di wajah lelaki blasteran Jepang-Spanyol itu.
'Aku mau ke kelas.' kata Rukia dengan wajah sedikit memerah karena ulah usil Grimmjow. Ia masih memproses satu demi satu kejadian tak terduga yang menimpanya selama ini dan firasatnya ternyata benar. Ia telah kehilangan masa- masa damai di sekolahnya karena ia yakin dua orang alien itu tak akan berhenti mengganggunya sampai hari terakhir ia menjejakkan kaki di Karakura High School nanti. Kenapa juga harus aku?
Grimmjow menatap Rukia sambil mengulum senyum karena melihat rona jingga diwajah perempuan itu yang membuatnya ingin melompat dan berteriak 'Yoooshhh' sekencang- kencangnya agar seluruh dunia tahu kalau ia baru saja berhasil membuat gadis yang disukainya tersipu.
Hatinya baru saja mengomel, memarahi dirinya sendiri ketika sadar ia sedang berfantasi memalukan dan senyum dibibirnya langsung terhapus. Yang mampu ia lakukan selanjutnya hanyalah berdehem pelan dan mendapatkan perhatian Rukia.
"Baiklah. Aku akan menemanimu."
Grimmjow mengangguk dan membiarkan Rukia menampilkan wajah kaget yang kemudian dengan terburu merentangkan tangannya ke depan saat Grimmjow akan mendekat.
'Kau ada kelaskan?'
Grimmjow memutar matanya, berpikir sambil menggumam.
"Baru saja aku batalkan satu detik yang lalu." jawabnya menampilkan senyum simpul dan menggandeng lengan Rukia, diikuti dengan teriakan tak percaya dari siswa yang mengintip dibalik jendela kelas. Dalam sekejap Rukia telah menjadi buronan para siswi sekarang karena telah merampas pangeran milik mereka dan tinggal menunggu kesialan apa lagi yang akan membuntutinya.
Rukia menarik lengannya kasar saat melihat tatapan tajam sekelompok siswi dibalik kelas yang sedang memancarkan aura dendam padanya. Oh, sempurna, dengus Rukia dibakar api kesal karena ia yang menjadi kambing hitam dari permainan yang tidak tahu kenapa menyeretnya untuk turut serta.
'Berhentilah menggangguku.' suruh Rukia gondok dan ingin melempar Grimmjow dengan sepatu karetnya saat lelaki itu hanya berwajah santai dengan keadaan kacau yang telah dibuat.
'Aku bil...'
"Tidak bisa." tolak lelaki itu cepat.
"Aku harus melihatmu setiap hari atau aku bisa gila karenanya." teriak Grimmjow kini ikut terdengar jengkel. Ia juga ingin sekali tidak mengiraukan keberadaan gadis di depannya itu seperti ia memandang yang lainnya. Tapi apa daya, ia tidak bisa. Bahkan hal pertama yang ingin ia lakukan saat menginjakkan kaki di sekolah adalah menemui gadis itu, melihat kedaannya, wajah kesalnya, sorot mata tajamnya yang sanggup melumerkan tubuh Grimmjow dalam kehangatan. Ia tak butuh yang lain selain Rukia! Sungguh...dia bahkan tidak ingin percaya dengan apa yang dirasanya saat ini karena semua yang ada ditubuhnya tak bisa ia kendalikan sendiri.
'Hah?'
Lelaki yang tengah memasukan tangan kanannya ke dalam saku celana itu menekuk lidah dalam mulutnya menahan emosi saat melihat Rukia berekspresi melongo dengan begitu kawakan. Perempuan ini...,umpatnya gusar karena ia baru saja mengutarakan isi hati yang bahkan tak pernah ia lakukan seumur hidupnya hingga detik ini, dan gadis pertama yang seharusnya menangis darah karena mendapatkan jackpot itu justru hanya menampilkan wajah dungu sebagai jawaban.
Grimmjow baru saja membuka mulut untuk bicara ketika Rukia sudah menggerakan tangan dan sukses mengirimkan sebuah pitakan segi empat terhadap lawannya.
'Kau salah minum obat?' ejeknya dan Grimmjow mengeratkan gigi sambil berpikir untuk mengguncang tubuh mungil Rukia hingga semua anggota badannya rontok satu per satu sambil berteriak kalau ia memang benar- benar menyukai gadis tak tahu diri itu. Tapi apa yang dilakukan selanjutnya bahkan membuat Grimjjow terkejut sendiri, karena bukannya merealisasikan apa yang ada dalam bayangannya, ia justru menghela nafas pendek dan memilih untuk tidak memperpanjang perdebatan. Aku perlu pergi ke dokter setelah ini, geramnya merasa ada yang tak beres dengan otaknya.
"Kau harus menemuiku nanti." perintah Grimmjow akhirnya mengalah agar ia bisa terlepas dari keganjilan jiwa saat ini.
Ya, ampun...Rukia benar- benar membuat Grimmjow kehilangan sifat asli secara perlahan. Sekarang dikamusnya sudah ada kata'mengalah' dan ia terapkan tanpa menunggu hitungan detik. Harga dirinya sebagai seorang nomor dua di sekolah benar- benar runtuh jika berhadapan dengan Rukia. Mengurusi gadis itu bahkan lebih sulit daripada menghajar seluruh siswa lelaki di Karakura High School.
Rukia mendengus tak percaya. Apa aku terlihat seperti pelayannya? keluhnya dengan jari yang mengepal.
Gadis itu baru saja akan menunjukan aksi protes sebelum akhirnya Grimmjow mengangkat tangannya gemas dan berkata dengan bahasa isyarat hingga membuat wajah para siswa yang sedang menonton mengernyit.
'Kau yang datang atau aku yang mengganggu kelasmu?' tanyanya dengan mata tak sabar dan ditanggapi dengan mata terkejut miik Rukia. Gadis itu kembali akan mengutarakan keberatan yang lagi- lagi dipotong oleh Grimmjow.
'Aku jamin kau tidak akan punya kelas hari ini.'
Bahu Rukia naik saat ia menarik nafas panjang sambil menatap Grimmjow dengan tajam yang tetap tak bisa menimbulkan efek gentar sedikitpun pada lelaki ramen.
Ayolah, jangan mempersulit ini, pinta Grimmjow menyadari betapa jantungnya berdetak tak karuan menunggu jawaban dari gadis di depannya. Ia telah menghalalkan segala cara agar bisa bersama dengan gadis itu sampai- sampai harus mengancamnya seperti ini. Kalau Rukia menolak permintaan, ah, lebih tepatnya perintah untuk datang menemuinya, ia tak yakin nafasnya akan tetap bertahan setelah ini.
Merasa konyol dengan segala keberatan yang ditunjukkan karena semua usahanya hanya sia- sia, Rukia tiba- tiba mengerutkan kening dan kemudian menggeleng pelan sambil memijat keningnya yang tegang. Apa dia punya pilihan lain untuk melawan lelaki ramen?
Ini adalah hari keduanya disekolah dan kelas lukis yang ia tunggu- tunggu ada dipelajaran ke empat nanti. Ia akan tertinggal kesempatan emas untuk mengikuti kelas itu jika Grimmjow menempel padanya terus seperti lintah yang bertemu inang berbau darah dan membuat semuanya berantakan disana. Baiklah, aku kalah, ujarnya mendesah.
Grimmjow menampilkan senyum tipis saat melihat Rukia berwajah pasrah karena itu artinya ia telah memenangkan perdebatan panjang mereka dan lelaki itu bisa tenang sekarang.
"Aku akan menjemputmu saat makan siang." ucapnya berbalik pergi meninggalkan Rukia yang sedang membolongi punggungnya dengan sinar laser.
Akan kubunuh kau...
"Yoshhh...Selamat pagiii semuanyaaaa!"
Suara gebrakan pintu keras yang terdengar tiba- tiba langsung menyita perhatian para siswa yang tadinya masih sibuk dengan kegiatan masing- masing. Terlebih lagi pintu itu kini sudah ringsek dan berubah bentuk seperti baru saja terlindas tank baja militer milik Angkatan Darat. Semua mahluk di dalam kelas berlabel 'Kelas Lukis' hanya bisa memasang wajah melongo tat kala sensei mereka menampilkan wajah bersalah.
"Aiihhh...rusak lagi, deh..." sesal sang sensei yang mempunyai rambut pirang panjang bergelombang dan dada yang terlihat menyembul dibalik kemeja birunya Ia membalik wajahnya kemudian tersenyum dan semakin membuat para siswa bergidik.
"Aku terlalu bersemangat hari ini." jelasnya yang langsung dijawab dengan 'tidak mungkin' dari batin para siswa.
"Oi, Rangiku, setidaknya kau harus bay...AaakkkHHH!"
Belum selesai Ichigo mengeluarkan keluhannya, sebuah penghapus papan tulis tiba- tiba melayang dan tepat mengenai sudut dahinya hingga ia terjungkal dan membentur tembok dibelakang.
"Kau lupa menambahkan 'Sensei', Ichigo Kurosaki..." ancamnya dengan bibir yang berkedut menanggapi ejekan si murid musuh bebuyutan yang hanya ditanggapi dengan datar oleh para murid lainnya. Bagi mereka, pertengkaran yang terjadi antara Ichigo Kurosaki dengan Rangiku Sensei bukanlah suatu hal yang mencengangkan, karena pada kenyatannya, kedua mahluk yang sering bertengkar layaknya anjing bertemu dengan kucing itu memiliki keakraban yang luar biasa dekat.
Namun hal itu tidak berlaku bagi Rukia yang baru pertama kali menyaksikan kehebohan kelas seni perdananya dan kini mengerjap kagum dengan cara Rangiku Sensei menangani si kepala jeruk. Ia tak terlihat terganggu sama sekali dengan tittle 'Anak Kepala Sekolah' yang menempel pada diri Ichigo dan memperlakukan dia sama rata dengan murid yang lain.
"Baiklah, karena ini adalah hari pertama kalian masuk, jadi aku akan menjelaskan apa yang akan kalian lakukan nanti." ujar sensei yang bertubuh sexy bak model majalah dewasa itu sambil meletakkan buku yang ia bawa ke atas meja lalu berdiri dengan penuh percaya diri menatap isi kelas.
"Seperti yang kalian tahu, ini adalah kelas lukis..." Rangiku Sensei menghentikan penjelasannya saat Ichigo muncul dari balik meja dengan wajah marah dan terasa ingin menerbangkan kursi ke arahnya. Wanita itu justru tersenyum remeh dan nampak menikmati keisengan yang ia rencanakan.
"Hooooo..." suaranya terdengar mendayu tat kala Ichigo akan melakukan aksi balasan.
"Mau kupanggilkan 'dia'..." tantang Rangiku bersedekap yang langsung diikuti dengan rentangan tangan dari Ichigo secepat kilat.
"Maaf, mengganggu kelasmu, Rangiku Sensei." potongnya dengan lancar dan bulu tengkuk yang sudah bangun dari peradaban, membuat Rangiku terkikik melihat kepasrahan murid terkayanya itu karena kartu AS yang ia pegang.
"Jadi..." Rangiku menurunkan tangannya dan kembali melanjutkan penjelasan yang sempat terpotong.
"Kalian akan melukis bertema. Aku akan membagi kalian menjadi kelompok berpasangan, dan lukisan kalian adalah hasil dari penggambaran pasangan kalian."
Rangiku mengambil sebuah kotak yang ia sembunyikan dilaci meja kelas diiringi kegaduhan dari para murid non-kesenian yang tentunya tidak terbiasa dengan tugas berkelompok semacam ini dan membuat asisten Ukitake Sensei tersebut bercakak pinggang.
"Bagi yang keberatan silakan keluar sekarang juga." jelas Rangiku dengan nada yang tegas dan mata yang berkilat.
Dan...dalam sekejap, kelas menjadi hening seketika seperti di area pekuburan dan lagi- lagi Rukia terpesona dengan cara Rangiku menghadapi mahluk- mahluk kalangan elit yang suka berbuat semaunya itu. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang selalu menomorsatukan sikap dan etika. Kesopanan menjadi pakaian sehari- hari Rukia dan keanggunan menjadi aksesoris di tubuhnya meski ia bisa ilmu bela diri, karena itu, ia sedikit merasa risih dengan tingkah laku orang- orang disekelilingnya yang tak mempunyai tata krama terhadap sensei yang seharusnya dihormati.
"Silakan maju satu persatu untuk mengambil nomor. Kalian akan berpasangan dengan siswa yang mengambil nomor yang sama." jelas Rangiku menyodorkan kotak dan menatap seorang siswa dipojok kiri, mengisyaratkannya untuk mulai mengambil undian.
Kelas kembali menjadi gaduh saat murid- murid mencari pasangan mereka dan Rangiku tampak tak keberatan sama sekali karena ia sudah memperkirakan kalau situasi ribut memang akan terjadi. Ia melirik siswa di pojok belakang dengan rambut orange menyala yang kini sudah berdiri lalu berjalan mendekat. Melewati keramaian kelas yang terlihat tidak mempengaruhi wajah dinginnya sedikitpun dan Rangiku harus agak mendongak karena perbedaan tinggi mereka ketika bertanya:
"Kenapa kau mengambil kelas ini?"
Dan Ichigo hanya terdiam menatap lipatan kertas yang ada dalam kotak kaca ditangan senseinya sambil mengaduk- aduk untuk mencari nomor keberuntungan.
"Bukankah kau sudah lama melupakan..."
"Ini."
Perkataan Rangiku terpotong oleh sebuah kertas yang tersodor di depannya dari tangan Ichigo. Ia bisa melihat kesedihan yang sedang ditutupi dengan sorot tajam dibalik kertas dan Rangiku mengatupkan bibirnya.
"Tujuh." ujar Ichigo singkat lalu berbalik sambil memasukan sebelah tangannya ke dalam kantong celana dan berhenti tepat ditengah kelas.
"Nomor 7!" teriaknya keras sambil mengangkat kertas undian dan kelas langsung hening seketika, menatap Sang Raja dengan terbengong sembari bertanya- tanya siapa gadis beruntung atau lelaki sial yang mendapatkan kesempatan itu.
Ichigo menurunkan tangannya ketika lama tak ada jawaban dan pergerakan yang terjadi dengan wajah sedikit kesal karena kemunginan ia baru saja dikerjai oleh gurunya lagi. Lelaki itu baru saja akan meneriaki gurunya ketika tepukan halus mendarat dipundaknya, membuatnya berputar lalu...terkesiap.
Disana, dihadapan Ichigo, sedang berdiri seorang gadis berambut hitam, mungil, bermata bulat ungu, bibir tipis...
Oh, tidak-tidak...pinta Ichigo memelas.
Dan sempurna dengan secarik kertas bertulis angka '7' yang sedang ia perlihatkan padanya sekarang kontan membuat lelaki itu merasa dilema antara ingin membunuh senseinya atau justru berlutut penuh terima kasih. Tiga jam yang lalu, ia membuang kewarasannya dan hampir menjadi salah satu pasien rumah sakit jiwa karena menunggu kedatangan gadis yang ada di depannya saat ini. Dua jam yang lalu, ia hampir terlibat adu jotos dengan Grimmjow karena memperebutkan hati gadis yang ada didepannya saat ini. Dua jam yang lalu pula, ia telah menyakiti dan mengecewakan perasaan pacarnya sendiri gara- gara gadis yang ada dihadapannya saat ini, dan sekarang, ia merasa dinding pemisah yang baru saja ia bangun untuk menghindar kembali runtuh akibat kemunculan gadis yang ada dihadapannya saat ini, RUKIA.
Ia sudah bersusah payah sekuat tenaga untuk mengabaikan keberadaan gadis itu saat memasuki kelas tadi dengan perasaan yang bercampur aduk karena ada dua mahluk yang membuat kepalanya sakit setengah mati tengah berada dalam ruangan yang sama. Tapi lagi- lagi sepertinya takdir berkehendak lain.
"Baiklah semuanya, silakan duduk dengan pasangan kalian." suruh Rangiku dengan suara menggelegar dan berhasil menyadarkan Ichigo yang bisa menangkap sikap canggung pada Rukia. Ia melirik Inoue yang kini sedang membungkuk memohon bantuan pada gadis berambut cepak hitam didepannya, yang Ichigo tahu bernama Tatsuki, sebagai pasangan lukisnya. Rasa bersalah kembali merebak dihatinya tat kala ada rasa senang ketika ia dipasangkan dengan gadis yang disukainya sementara pacarnya sendiri kini mungkin sedang tertawa untuk menutupi kegundahan.
Rukia menggeser kursinya lalu segera duduk, menatap lelaki jeruk yang masih termenung menatap seorang berambut orange di pojok, dan anehnya hal itu membuat perut Rukia terasa mulas.
"Kalian akan diberikan waktu sampai ujian akhir nanti..."
Rangiku berjalan memasuki sela bangku sambil terus melanjutkan penjelasannya dan tangannya sudah menggulung sebuah buku tebal.
" Lalu..."
PLAKH
Sebuah pukulan keras tepat mengenai belakang kepala Ichigo yang sedang terbengong hingga membuat lelaki itu melonjak sambil mengaduh.
"Putrimu akan lari ketakutan kalau kau pelototi seperti itu terus, Ichigo Kurosaki." sindirnya membuat seluruh siswa dalam kelas berteriak gaduh dan gadis yang disebut 'Putri' menunduk dengan rona merah diwajahnya dan lagi- lagi Rukia merasa seseorang sedang melilit organ dalam perutnya. Aneh, bisiknya mencengkram seragam hingga kusut.
Ichigo hanya menghela nafas lalu memilih untuk duduk dengan menyembunyikan gurat malu. Ia berjanji akan mengubur senseinya itu hidup- hidup setelah pulang sekolah.
"Yang aku inginkan adalah pencitraan, karena itu aku memberikan kalian waktu selama tiga bulan untuk mengenal lebih jauh pasangan kelompok kalian yang kemudian dituangkan ke dalam lukisan."
Rukia mengalihkan pandangan saat matanya tanpa sengaja bertemu dengan Ichigo dan ia menyibukkan jemarinya yang kecil untuk menggambar diatas kertas kosong dengan gugup. Sebuah kotak tak beraturan yang ditambah dengan arsiran hitam pensil lukis miliknya.
"Kalian boleh boleh melakukan perbincangan mengenai hobi, hal yang disukai atau apapun itu supaya bisa mengenal lebih jauh pasangan kelompok kalian."
Ichigo menundukkan kepalanya kembali, menatap lembar kanvas kosong yang kini tengah menyeringai dan ia berusaha untuk tidak membuka pintu terlarang dalam benaknya.
"Kalian boleh menggunakan ruang kesenian beserta isinya untuk membantu proses pembuatan lukisan." jelas Rangiku sudah kembali berdiri di depan kelas.
"Jadi, selamat mengerjakan." tutupnya tersenyum, menyemangati para muridnya yang kini memulai aktifitas penjajakan mereka. Semua nampak saling mengobrol, bertanya jawab secara bergantian dan bahkan ada yang sudah bisa tertawa dengan candaan yang diberikan oleh pasangannya, namun tidak pada dua orang di pojok kelas yang masih sama- sama terdiam dan tak saling menatap.
Rukia sedang sibuk menggoreskan pensil hitam pada kanvas sementara Ichigo masih termenung bisu setelah gadis itu mlengos karena bertatapan dengannya. Lelaki itu sedang berupaya keras untuk tidak menegur perempuan didepannya dan membangun kembali benteng pertahanan yang sempat roboh beberapa saat lalu. Namun semua usaha itu kandas bagai kapal yang menabrak karang ditengah laut karena pada kenyatannya, mulut Ichigo sudah membuka dan mengeluarkan suara seraknya, seolah ia bisa mati kalau tak segera bicara.
"Kau baik- baik saja?" tanya Ichigo tak berhenti menatap kosong ke bentangan putih bersih diatas meja.
Rukia yang mendengar suara Ichigo setelah kesunyian mereka sedikit terkejut. Tangannya yang sedari tadi bergoyang terhenti dan tatapan matanya tertuju pada Ichigo yang tidak memandang dirinya sama sekali ketika bertanya lalu gadis itu menarik sebuah kertas kosong, menulis.
'Aku baik-baik saja.'
Ichigo menarik nafas pelan saat ia membaca pesan Rukia dan belum berani untuk menatap wajah itu ketika kembali berbisik:
"Syukurlah."
Lalu hening. Keduanya kembali termakan bisu.
'Pacarmu baik- baik saja?'
Dengan hati- hati Rukia menulis pertanyaan itu dan sedikit ragu untuk menunjukan kertasnya pada Ichigo. Namun rasa penasaran yang entah sejak kapan tumbuh dihatinya, membuat belia itu menggeser kertas dan membaliknya.
"Ya..." Suara Ichigo terdengar sangat pelan. "Dia baik- baik saja." ujarnya kini mengangkat kepala dan menatap Rukia yang memang sedang menunggu untuk ditatap.
Ia sudah menjelaskan kepada Inoue tentang kesalahpahaman, ah, tidak, sebenarnya ia bohong besar ketika berkata kejadian dikoridor itu adalah salah satu bentuk balas dendam pada Grimmjow karena pada kenyataanya dia memang menyukai gadis dihadapannya ini. Ichigo bahkan tidak mengerti kenapa dia bisa lupa akan Inoue ketika mengatakan suka pada Rukia. Ia merasa seperti seorang lelaki brengsek yang ketahuan selingkuh dan berkelit, membuatnya tak nyaman dan ditumbuhi rasa berdosa karena tidak bisa setia pada satu gadis saja.
'Apakah dia marah?'
Ichigo menggeleng pelan. Lalu mulutnya terasa ngilu saat ia berkata:
"Bagaimana denganmu? Bukankah Grimmjow bilang dia menyukaimu?"
Dan Rukia melebarkan matanya hampir menyerupai sebuah bola bulat jika saja tidak segera ia kerjapkan. Ia menekan pena yang sedang terjepit dijarinya kuat, mencoba menghilangkan degub jantungnya yang tiba- tiba dipecut untuk berpacu lebih cepat dan tidak bisa menghindar.
'Dia hanya mempermainkanku.'
Tangan Rukia berusaha untuk membuang gemetar yang ia rasakan saat membalik kertas yang berisi jawaban dari pertanyaan Ichigo. Ia kembali teringat dengan perseteruan dua alien yang terjadi tadi pagi, dimana kedua lelaki yang ia kenal sebagai Ichigo Kurosaki dan Grimmjow Jaegerjaquez telah mengutarakan perasaannya secara berurutan. Dan terakhir kali yang ia dengar adalah...
'Aku tidak akan melepaskannya.' ulang Rukia dalam hati sambil berdebar menatap Ichigo yang masih terpaku dengan jawaban miliknya.
Lelaki itu mendengus lalu menyandarkan punggungnya yang terasa berat. Jadi dia juga menganggap pernyataan sukaku sebagai main- main? tanya Ichigo tiba- tiba terserang dongkol.
Setelah apa yang ia lakukan dengan keseriusan, hanya dihargai sebagai 'main- main' oleh gadis yang bernama Rukia ini. Darimana ia bisa menyimpulkan perebutan ketat antara dia dan Grimmjow hanyalah sebuah kegiatan iseng? Apa matanya sudah rabun hingga ia tak bisa melihat emosi dari keduanya yang sudah ingin saling bunuh gara- gara dia?
Ichigo menggaruk kepalanya dengan wajah suntuk. Dia terlalu berharap banyak pada perempuan yang memiliki pemikiran setara dengan mahluk luar angkasa itu. Bagaimana seorang perempuan tidak peka dengan hal seperti ini? keluh sang keuturunan Kurosaki semakin jengkel.
"Maaf, aku mengatakan hal yang membuatmu susah." ujar Ichigo akhirnya membuka pembicaraan lebih dalam. Wajahnya dipenuhi dengan urat kesal ketika ia menarik nafas panjang yang rasanya sulit sekali didapat. Perasaannya seperti dipermainkan oleh seorang wanita yang bahkan terlihat seperti bocah SMP. Baiklah kalau memang itu maumu.
"Lupakan saja. Lagipula aku sudah punya pacar." lanjutnya lagi dengan ketus dan kini benar- benar membuat Rukia membelalak. Ia mencengkram pena dalam genggamannya dan berusaha untuk tidak menggulingkan meja dan menendang wajah bersungut lelaki jeruk yang terpasang didepannya.
Ia masih berusaha untuk percaya meskipun kata hatinya selalu melarang dan sekarang, gadis bangsawan itu telah mendapatkan jawaban. Dugaannya selama ini benar bahwa dua lelaki alien itu hanya bermain- main saja dan tidak serius terhadapanya. Dia masih toleran karena mereka berdua adalah anak dari orang penting disekolah, tapi bukan berarti, mereka bisa memperlakukan Rukia sesuka hati. Gadis itu memiliki harga diri yang bahkan mungkin lebih tinggi dari mereka berdua karena sejatinya ia adalah seorang bangsawan.
Ah, tidak, tidak. Bukan itu masalahnya. Akar dari perkara ini sebenarnya adalah rasa terbuang yang memukul hati Rukia hingga membiru dan bengkak. Rasa dibohongi yang bermula dari sebuah pengharapan dan berujung palsu hingga membuat gadis itu akhirnya terlempar ke dalam kubangan dusta .
Ah, ya, ampun...bagaimana mungkin Rukia merasa deg-degan dengan sebuah pernyataan murahan seperti itu. Ia bisa mendengar cemoohan sedang berkumandang disekelilingnya dan itu membuatnya terlihat memalukan.
'Aku memang sudah melupakannya.'
Dalam sekejap, tangan Rukia sudah menghasilkan balasan dan membalik kertas kasar.
Kini giliran Ichigo yang tercengang dengan hufur- huruf yang dilihatnya. Ia belum sempat mengeluarkan komentar karena Rukia kembali menarik kertas dan menulis dengan gesit, membuat Ichigo penasaran dengan perkataan gadis itu berikutnya.
'Kalian adalah anak manja dari orang kaya yang hidup tanpa peduli dengan perasaan orang lain. Perasaan bukanlah suatu hal yang boleh dipermainkan.'
Wajah Ichigo terasa panas ketika membaca hujatan Rukia yang tak pernah ia sangka akan meluncur dengan mulusnya dari tangan gadis itu. Ia menarik nafas dalam- dalam, merasa diadili tanpa ada bukti yang mendukung keputusan yang telah dibuat dari hakim kepala. Seorang korban seperti dirinya yang yang tidak tahu- menahu tentang perkara yang menjeratnya harus rela dijebloskan ke dalam jeruji besi dan teronggok disana.
'Aku akan mencari informasi tentangmu dari internet.'
Rukia berdiri dari bangkunya lalu beranjak pergi ke luar kelas, meninggalkan Ichigo yang masih meredam lara. Tanganya terkepal saat ia mengeluarkan nafas pendek.
"Seharusnya'kan aku yang marah." tandasnya miris.
Grimmjow sedang terduduk dengan malas sambil terpaksa mendengarkan Gin Sensei menjelaskan tentang sejarah perang dunia yang sungguh, rasanya ingin ia bakar buku setebal ensklopedia itu dan meminumnya agar tak perlu repot- repot belajar. Mana ada orang yang bisa hafal semua tanggal, tahun dan bulan kejadian bersejarah yang bahkan terjadi jauh sebelum ia direncanakan untuk lahir ke dunia. Siapa orang yang menciptakan sejarah menjadi salah satu pelajaran yang harus dipelajari di sekolah? Grimmjow ingin menebarkan aksi demonstrasinya.
Ia merenggangkan otot pada lehernya dengan cara patah kanan-patah kiri sambil memijat pelipisnya pelan. Lelaki itu ingat kalau ia tidak tidur semalam karena keasyikan bermain video game di rumah Shinji yang selalu berhasil mengalahkannya. Ia juga sedikit bertanya- tanya bagaimana otak si muka datar itu bisa lebih maju dari miliknya?
Lelaki penyuka wine itu masih berusaha untuk menghilangkan rasa kantuk ketika tiba- tiba matanya menangkap seorang siswi berambut hitam sebahu berjalan di gedung D dengan muka kusut. Grimmjow menarik punggungnya yang sedari tadi menempel disandaran kursi dan memperhatikan keluar jendela dengan seksama sambil menaikan satu alis. Tidak, ia sedang tidak salah lihat meskipun dengan kadar ngantuk melebihi dosis yang menimpanya sekarang. Itu benar adalah Rukia, gadis yang berjanji akan makan siang bersama dengannya nanti pada saat istirahat. Lalu kemana dia pergi dengan begitu tergesa?
Apa dia mau kabur dariku? tiba- tiba Grimmjow diliputi rasa khawatir saat ia menemukan pertanyaan yang tertuju untuknya sendiri. Tubuhnya baru saja akan bangkit dan keluar meninggalkan kelas ketika dilihatnya Gin Sensei sedang melihat ke arahnya dengan tersenyum, senyum musang yang sangat dikenal baik oleh Grimmjow hingga membuatnya berpikir dua kali untuk kabur. Ia melirik jam yang tertempel di dinding kelas, masih sepuluh menit lagi sebelum bel istirahat berbunyi dan lelaki itu kembali duduk.
Ia sedang menimbang untuk tetap berada dikelas dan kehilangan Rukia atau pergi sekarang juga dan menanggung apapun resikonya nanti. Ah, tidak, tidak...ia tidak bisa membiarkan Rukia mengingkari janji makan siang mereka, atau...tidak, tidak boleh, ayahnya, Aizen, pasti akan memberi hukuman berat kalau menerima laporan anaknya telah membolos kelas tanpa izin. Jadi, mau bagaimana?
Kakinya bergerak tak sabar untuk menunggu keputusan yang sedang dibuat dan ia tak sanggup untuk menanti lebih lama lagi. Tubuhnya bangkit dan berjalan dengan langkah jengah menuju depan kelas dan melewati senseinya yang masih tersenyum lalu menggeser pintu kasar dan bergegas keluar. Menciptakan sebuah kegaduhan yang hanya ditanggapi dengan senyuman dari Gin Sensei.
Grimmjow berlari menuruni anak tangga gedung B yang masih terlihat lengang dan langsung naik ke gedung D. Mencari sosok bertubuh mungil yang sempat dilihat dari jendela kelasnya dan kini sudah hilang entah kemana. Ia berhenti sambil menjelajahi seluruh sudut yang memungkinkan gadis itu melenyapkan diri.
"Hah...hah...hah..."
Kemana dia pergi....batin Grimmjow.
Ia memutar tubuhnya kesana kemari dengan mata yang gelisah, berusaha untuk menemukan Rukia yang terakhir dilihatnya ada di koridor tempatnya sekarang berdiri. Sekali lagi ia berbalik dan ujung sepatunya terhenti tepat dibelakang garis ubin seperti sebuah mobil yang direm mendadak ketika dari pertigaan koridor, gadis itu muncul sambil merapikan jas abu- abu miliknya, membuat Grimmjow mematung untuk beberapa saat karena terpaku dengan rasa lega yang menahannya untuk bergerak.
Ketika mendongak, Rukia hanya bisa memasang wajah heran tat kala melihat seorang lelaki berambut biru yang kini sudah memakai jas putih milik jurusan sosial, sedang terengah sambil menatap dengan lembut. Tak ada yang bisa gadis itu lakukan selain berdiri ditempat karena sihir dari mata Grimmjow yang sedang melumpuhkan kedua kakinya. Rukia mengerjapkan kelopak mata, pelan, seolah dunia sedang disetting dalam mode lambat.
Dulu ia ditatap oleh mata itu dengan tajam hingga ia merasa begitu ketakutan dan ingin bersembunyi jika bertemu dengannya lagi atau bahkan pindah sekolah. Mata yang kini sedang menatapnya dengan teduh itu—dulu terlihat menyeramkan, tidak seperti ini, dan pertanyaan menetas dalam benak Rukia. Bagaimana bisa lelaki didepannya itu berubah hanya dalam waktu dua hari?
Grimmjow berjalan mendekat dengan tiga langkah besar dan entah kapan tangan lelaki itu terentang, tiba- tiba Rukia sudah tenggelam dalam pelukannya yang membuat sang bangsawan terkejut bukan main.
Rukia bisa mencium aroma mint dari dada bidang Grimmjow yang tengah mendekap erat menyembur di hidungnya dan ketika tangannya ingin mendorong tubuh lelaki ramen untuk menjauh seperti yang pernah ia lakukan, jemarinya justru terhenti ketika meraba lekukan six-packs diperutnya dan membuat Rukia terpaku.
"Kau..." Suara Grimmjow terdengar bergetar.
"Apa kau mau mati, hah?" bisiknya parau dan memeluk Rukia semakin erat, tak peduli dengan keterkejutan gadis kecil itu yang hanya bisa membuka matanya dengan mulut menganga.
Jantung Rukia semakin bernyanyi rap ketika bel istirahat berdering dan siswa mulai berhambur keluar bak semut yang mencium bau gula dan merangkak keluar sarang. Semua kegiatan mereka terhenti saat melihat sosok berjas putih sedang berpelukan di tengah koridor jurusan kesenian yang terlihat tak asing.
"Itu...Grimmjow?" tanya siswa berambut cokelat yang menebak dengan melihat warna rambut biru eksentrik yang tak dimiliki oleh siswa lain.
"Siapa yang sedang dipeluknya?" sahut yang berambut hitam.
Ichigo baru saja keluar sambil menenteng kanvas yang masih kosong karena ditengah pelajaran pasangannya pergi meninggalkan dia entah kemana, ketika matanya menangkap seorang berambut biru sedang memeluk gadis berambut hitam yang sangat familiar. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kelas dan terkesiap. Wajahnya tak menampakkan keterkejutan sama sekali, namun dadanya sudah bergemuruh hebat seolah sedang terjadi badai didalamnya.
"Ada apa, Kurosa..."
Pertanyaan Inoue terputus ketika ia melihat penyebab Ichigo tiba- tiba berhenti di tengah jalan karena sekarang ia juga melakukan hal yang sama. Tubuh Inoue terasa begitu lemas hingga tanpa sadar ia bersandar pada daun pintu dibelakangnya dengan wajah pucat dan nafas yang tercekat.
Grimmjow mengangkat bola mata dan tersenyum saat melihat Ichigo ada dihadapannya dengan tangan yang telah terkepal kuat. Lelaki itu bisa melihat Ichigo sedang berusaha untuk tidak mecengkram kanvas yang ada ditangan kanannya dan melerai apa yang sedang ia lakukan pada Rukia. Dia, Grimmjow Jaegerjaquez, sedang menunggu amukan Ichigo yang selalu terpendam dan kini ia tahu pemindai untuk menyalakannya.
"Ah, sudah bel." Grimmjow melepas pelukan pada Rukia yang masih mematung.
"Aku akan menagih janjimu sekarang." ujar lelaki itu menarik lengan Rukia berjalan melewati Ichigo dan Inoue menuju kafetaria, membiarkan sang Raja berkerut marah karena tak mampu membalas serangan yang datang bertubi ke arahnya dan hanya mampu menggeram.
"Brengsek..."
Rukia mencuci tangannya diwastafel dengan wajah lelah. Ia menutup keran dan terpantul bayangannya sendiri ketika menatap kaca kamar mandi yang kemudian membuatnya menghela nafas. Pikirannya kembali teringat saat Grimmjow yang tiba- tiba muncul dan memeluknya erat ditengah koridor. Ia masih bisa mencium bau mint dari tubuh lelaki itu dan membuat dadanya kembali bergenderang.
Rukia menggeleng keras dan menepuk pipinya supaya tersadar. Mungkin ia kelelahan bekerja hingga membuatnya sakit dan kacau karena merasa berdebar akibat Grimmjow. Ia pasti sedang tidak sadar tadi karena bukannya melayangkan tendangan terbang ke perut lelaki jail itu, Rukia justru menurut saja saat Grimmjow menggandengnya menuju kafetaria.
Apa yang sedang kupikirkan, desah Rukia menunduk memegang kepalanya karena jelas- jelas ia mengetahui keisengan Grimmjow.
Mengingat nama Grimmjow, membuat Rukia tertegun ketika nama Ichigo masuk ke dalam kepalanya dan membawanya kembali pada kenyataan bahwa lelaki sialan itu telah mempermainkan dirinya dan melukai segenap rasa yang ada. Ia salah menyangka bahwa Ichigo adalah orang baik yang menghargai orang lain karena perkatan yang masih tertancap di memori Rukia ia tidak memukul perempuan, yang memberikan suatu tempat terhormat dan menumbuhkan bibit kagum digersangnya hati gadis manis itu. Namun lagi- lagi ia salah menyangka seperti halnya Grimmjow yang ia pikir pandai berkelahi. Lelaki bernama Ichigo itu bahkan telah menggugurkan bunga yang belum sempat berkembang dan sekarang Rukia benar- benar kecewa dan membenci dirinya sendiri yang bisa diracuni perasaan rendah seperti itu.
Kenapa aku bisa tersentuh
Rukia memukul kepalanya pelan karena terlintasi sesuatu yang bodoh. Ia harus segera bangun dari tidur panjang yang telah membuatnya mati suri dan mengalami gangguan otak. Tak akan ia biarkan lagi hatinya dikuasai oleh syair sebuah roman picisan.
Ia baru saja akan meraih gagang pintu ketika tiba- tiba pintu terbuka dari luar dan sesosok bertubuh tegap langsung mnyeruak masuk, menghimpit Rukia diantara dinding dan dia bisa mendengar bunyi 'KLEK' dari pintu yang langsung membuatnya membatu.
Rukia mencium bau maskulin dari hidungnya yang sedang terjepit benda keras dan ia terkejut kalau benda yang tengah beradu dengan indra penciumannya itu adalah sebuah dada bidang seorang cowok.
"Kau benar- benar seorang artis hebat." sindir lelaki yang sedang mengurungnya itu dan ia tahu suara siapa yang sedang bicara padanya.
Rukia mendongak dan membelalak saat ujung hidungnya beradu dengan hidung mancung milik Ichigo yang sudah setengah membungkuk menatap mata violetnya dan itu membuat wajah Rukia memerah seperti tomat rebus dalam hitungan detik. Ia baru saja memikirkan tentang lelaki itu dan sekarang, sosok dalam kepalanya berubah menjadi nyata. Ia belum siap!
"Kau mengujiku?" tanya Ichigo setengah menggeram dan tidak peduli dengan tubuh mungil yang sudah menggeliat ingin segera menyingkir dari tubuhnya dengan dahi yang mengernyit kebingungan.
"Mau menumbalkanku?"
Suara Ichigo terdengar berat dan sarat akan emosi yang tertahan. Membuat Rukia berhenti dari berontaknya sambil merinding dan hanya bisa kembali meringkuk pada mata Ichigo yang sudah memerah. Kepala gadis itu benar- benar kosong dan tidak bisa mencerna arah pembicaraan si lelaki jeruk.
"Kenapa kau melibatkan kami berdua?"
Rukia hanya mampu menjahit mulutnya rapat- rapat saat tatapan tajam lelaki itu melucuti keberanian dalam dirinya hingga habis.
Maksudnya Inoue-san?
Dan ia tak mampu berbuat apa- apa kecuali memejamkan mata kuat- kuat saat kedua tangan Ichigo menggebrak dinding toilet.
"Jawab, Rukia! Jawab!"
Rukia bisa merasakan nafas memburu Ichigo yang menerpa wajahnya karena jarak yang semakin dekat diantara mereka dan itu membuatnya panik. Wajahnya terasa panas sekarang dan dia yakin lelaki jeruk bisa melihat itu hanya dengan sekali lihat. Ia belum pernah merasa setakut ini seumur hidupnya dan yang dia inginkan hanyalah cepat- cepat pergi.
Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah tadi dia bilang Inoue-san tidak marah?Tapi kenapag...
Melihat gadis dihadapannya hanya memalingkan muka dengan mata tertutup erat, membuat Ichigo dilempari rasa sesal, sedih, dan marah, teraduk rata hingga membuat perutnya mual. Ia mengeraskan rahangnya hingga menonjolkan tulang pipi yang tegas dan menjauh satu langkah untuk membiarkan Rukia membuka mata, mengizinkan gadis itu mengerjap bingung dengan segala tingkah aneh yang dilakukannya.
Lelaki pewaris tunggal Karakura High School hanya terdiam dan mengerutkan alis, mengingat kembali pelukan Grimmjow terhadap gadis yang disukainya, tangan yang sangat ia benci yang menggandeng dan membawa kabur gadis itu, semua kejadian menyakitkan yang terjadi didepan mata hingga ia merasa mau mati karenanya. Ichigo tak sanggup melepas Rukia meski ia memiliki Inoue. Ia rela menukar apapun asal Rukia mau bersamanya, asal gadis itu tidak bersanding dengan Grimmjow...apapun itu.
"Kenapa harus dia..."gumamnya lirih seraya menunduk setelah terdiam cukup lama dan menyandarkan tubuhnya pada dinding, pilu. Mengatakan apa yang baru saja keluar dari mulutnya sudah seperti mengiris nadi tangan Ichigo sendiri. Bagaimanapun ia berusaha untuk terima, berhenti berharap dan melupakan semua, tetap saja hatinya tak kuat. Ia tak bisa terima kalau Rukia menyukai Grimmjow, ia tak bisa berhenti berharap dan akan berusaha berkali- kali lipat agar gadis itu memilihnya, dan ia juga tak bisa melupakan gadis itu meski dunia kiamat sekalipun karena ia menginginkan Rukia lebih dari apapun di dunia ini.
Rukia menelan ludah dengan tangan yang gemetar. Rasa sakit yang Ichigo rasakan mengalir dan meresap ke dalam dinding hati gadis itu yang meskipun tak tahu apa alasannya, namun ia ingin memeluk dan menenangkan tubuh lemah dihadapannya. Padahal tadi ia sedang kesal setengah mati pada lelaki jeruk, ingin menggantungnya diatas pohon yang dipenuhi ulat berbulu atau mengirimnya ke antariksa dengan roket NASA. Namun sekarang yang ia rasakan bukan semua itu, melainkan keinginan kuat untuk merengkuh tubuh besar yang bergetar milik Ichigo, karena ia terlihat begitu rapuh.
Ia tidak menyangka akan menjadi batu kerikil yang menyebabkan hubungan antara Inoue-san dan Ichigo tersandung. Ia tiak pernah mengira kalau keberadaannya akan menjadi duri yang menancap pada kaki lelaki itu hingga terseok untuk melangkah dan merobek lembar kebahagiaan dalam hidupnya, sungguh. Ia tidak bermaksud seperti itu.
Andai saja Rukia bisa bicara, ia ingin meminta maaf, tentang apa yang telah membuat lelaki jeruk menderita seperti ini. Andai saja lelaki jeruk bisa mengerti dengan bahasa isyarat miliknya, ia ingin memuji, atas rasa yang ia miliki terhadap gadis itu hingga rela menjadi porak- poranda dan membuatnya iri. Andai saja Ichigo mau mengatakannya, gadis bisu itu ingin mengerti, akan rasa sakit yang juga tertusuk dijantungnya saat ini karena melihat luka dalam diri Ichigo yang begitu lebar. Ia tak mau menyaksikan Ichigo perlahan mati dihadapannya.
Rukia merasa dadanya berjubel. Kebencian terhadap lelaki jeruk kini beralih menjadi sebuah surat gugatan pengakuan diri atas perasaan yang susah payah ia tutupi dan malangnya malah semakin muncul ke permukaan. Hatinya berteriak sakit. Relung jiwa Rukia sedang melolong karena pilu yang tersiram dari Ichigo. Dan tubuhnya yang tidak rela untuk beranjak satu senti saja dari tempatnya berdiri. Ia merasa sesak—seolah seseorang sedang mencekik lehernya dan Rukia begitu kalut, merasa tidak bisa menerima keadaan kacau dari lelaki dihadapannya dan keinginan yang sangat besar untuk menjaganya seperti sesuatu yang berharga.
Oh, tidak...
Dia pasti memang sakit karena telah menginginkan Ichigo. Lelaki yang sudah memiliki pacar itu yang saat ini berteriak marah kearahnya karena sang kekasih salah paham, telah memvonis Rukia sebagai pasien rumah psikoterapi karena kehilangan akal sehat. Ia sudah merasakan sesuatu terlarang sejak insiden di koridor, setiap Ichigo menatap Inoue, atau sedang terdiam memikirkanya, membuat Rukia kehilangan dan merasa cemburu. Sangat aneh, mengingat ia tidak mengenal lelaki dihadapannya sama sekali selain sebuah pengakuan yang telah mengatakan suka padanya. Atau jangan- jangan ada sesuatu telah terjadi tanpa Rukia sadari setelah Ichigo mengutarakan perasaannya saat itu?
Gawat...
Rukia menarik nafas pendek- pendek, resah takut akan menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ia biarkan ada dan harus segera pergi jika tak mau menyesal. Ia tak boleh berlama- lama ada didekat Ichigo sebelum semuanya semakin jelas.
Gadis itu baru saja akan beranjak ketika tangan Ichigo mencekal lengannya cepat dan Rukia merasa hatinya sedang diremas. Ia memejamkan matanya dan berharap semoga apa yang ia takutkan tidak terjadi.
"Kau belum menjawab pertanyanku." desis Ichigo tak mengalihkan mata dari lantai kamar mandi. Ia bisa merasakan tangan Rukia yang menegang dan berusaha untuk lepas.
"Aku mohon..." pinta Ichigo lirih semakin membuat satu per satu tiang penyangga pada dinding hati Rukia runtuh dan gadis itu masih berusaha untuk menutup pintu yang menyimpan jawaban dari semua keanehan pada dirinya yang tak ingin ia ketahui.
"Ru..."
Dan tepat ketika Ichigo akan memanggil namanya, dengan sekuat tenaga Rukia menghempaskan cengkraman tangan Ichigo hingga gadis itu oleng dan menabrak pintu kamar mandi. Menimbulkan gurat sesal yang menutupi kilau sang saphire dan terganti dengan muram. Ia tak boleh mendengar lelaki jeruk memanggil namanya atau ia akan menghancurkan semua.
Aku mohon jangan...Rukia memekik dalam hati dengan mengiba.
Ichigo masih terkejut dan membiarkan tangannya tergantung diudara. Ia merasakan keganjilan pada Rukia yang sangat ketakutan dan seolah sedang lari dari sesuatu, dan hanya satu alasan seorang gadis akan terlihat ingin menjauh namun menampakan wajah yang sedih seperti keadaan Rukia saat ini, itu karena...
Rukia bergerak cepat ke arah pintu untuk kabur dan mengakhiri segala keanehan yang melalap dirinya sedikit demi sediki. Membuang ketidakpahaman yang tak bisa ia artikan secara abstrak dan melarikan diri dari teriakan memekak yang sedang memanggilnya 'orang ketiga' dengan tatapan jijik.
Namun ketika tangannya baru saja akan memegang gagang pintu, tiba- tiba saja sesuatu yang besar mendorongnya dari arah belakang hingga ia terhimpit dan membuatnya tercekat.
"Akan kujelaskan bagian yang tidak kau mengerti, Rukia." bisik Ichigo tepat ditelinganya seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Rukia dan membalik tubuh gadis itu kasar, membuat Rukia membelalak dan harus menahan nafas saat matanya bertemu dengan kilau senja milik Ichigo.
"Aku menyukaimu." ucap Ichigo tak bisa membendung perasaannya lagi dan membuat tubuh Rukia kaku.
"Sangat menyukaimu..." lanjutnya bergetar dan pupil ungu yang sangat dikagumi pangeran berambut orange itu kini membeliak.
"Bahkan tergila- gila padamu."
Ichigo menelan ludah, grogi. Setelah pengakuan suka untuk yang kedua kali, ia hanya bisa menunduk, menarik nafas dalam- dalam dan menunggu jawaban dari gadis yang sedang terkejut didepannya dengan harap- harap cemas. Dadanya sudah menabuh gendang keras yang tak memiliki irama berisik. Ia berharap semoga saja penglihatannya tidak salah kali ini dan Rukia memang benar menyukainya.
Ichigo merasa wajahnya tegang saat terpikir Rukia akan menolaknya dan lebih memilih Grimmjow untuk dijadikan pacar. Hatinya terasa hancur saat sadar Rukia bukanlah gadis tak waras yang akan memilih seorang lelaki yang punya kekasih untuk dijadikan pacar. Jika ia menjadi Rukia pun, Ichigo pasti akan memilih Grimmjow yang belum terikat dengan seseorang untuk dijadikan pendamping. Oh, tidak. Kepalanya terasa berat sekarang.
Merasa cukup lama terdiam dan tidak ada reaksi yang ditunjukkan oleh Rukia, Ichigo memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya hingga bisa saling berpandangan dan lelaki dengan ketampanan diatas rata- rata itu merasa mulutnya kelu untuk dapat berkata lalu akhirnya hanya bisa menatap dengan sendu.
Rukia tak bisa bergerak. Orkestra yang sedari tadi tidak berbunyi kini memainkan instrumen dengan begitu keras hingga gadis itu bisa mendengar suara symbal yang beradu dan terompet yang berkoar seperti acara penyambutan tahun baru. Petasan dan kembang api sedang meledak dalam kepalanya dan meluncur merebak membentuk sebuah bulatan sempurna dengan kilau warna- warni.
Gadis mungil itu tidak salah mendengar tadi dan ia yakin sedang memasang telinga dengan sebaik mungkin. Lelaki yang melumpuhkan fungsi otaknya ini telah mengatakan hal yang paling membuatnya mati berdebar. Beruntung Rukia tidak jatuh pingsan karena ia dipanah dengan telak ke arah jantungnya hingga ia hanya mampu membisu dan bertukar pandang.
Lama. Mereka bersembunyi dibalik keheningan, mengirimkan suatu percikan api yang hanya bisa dimengerti oleh keduanya tanpa alunan kata. Mata yang saling menjerat, hembusan nafas yang mengait, dan debar jantung yang menggelitik, membuktikan ada sesuatu yang terjadi dalam diri mereka.
Hal yang baru disadari oleh Rukia adalah—betapa tampan sosok yang ada dihadapannya saat ini hingga mampu membuatnya terbungkam tanpa daya dan terbalut oleh emosi yang tak bisa ditafsirkan. Garis matanya yang tajam, alis kecoklatan, hidung panjangnya yang semakin menambah nilai plus pada wajah Ichigo hingga ingin Rukia awetkan sebagai patung hias dalam kamarnya. Ia ingin percaya kali ini. Bahwa Ichigo telah membawanya ke sebuah taman penuh hamparan bunga disebuah padang rumput hijau yang dikelilingi simfoni surga.
Rukia semakin terbius dengan cara lelaki itu menatap dirinya yang begitu...sesuatu. Dia bisa merasakan tatapan ingin dan memuja dari Ichigo yang entah bagaimana membuat gadis itu merasa kepalanya melayang dan kesadaran dalam dirinya perlahan menghilang. Ah, tidak—dia kalah. Sang Kurosaki telah berhasil membelenggu jiwa sang ratu ke dalam pandoranya.
Rukia Kuchiki, merasa tubuhnya mengalami kebekuan dan seperti terjerat oleh karisma kuat dari seorang pemikat wanita, Ichigo Kurosaki, yang kini sudah membungkuk dan menatapnya dengan lekat, membiarkan saja tangannya terkulai lemas dan tak berontak. Seolah pasrah, gadis itu hanya mampu diam tanpa kata saat wajah Ichigo berangsur mendekat.
Jantung Rukia sudah melonjak ke tenggorokan saat hidung mereka bersentuhan dan Ichigo meyakinkan dirinya untuk tak mengindahkan teriakan kencang dalam kepalanya yang menyuruh untuk berhenti. Ia menurunkan wajahnya lagi secara perlahan, mencari bibir mungil Rukia yang terkatup begitu rapat dan mencoba memotong jarak diantara mereka. Lelaki itu memiringkan kepala sedikit dan ia bisa merasakan ketegangan dibibir Rukia saat bibirnya mendarat disana. Ichigo menunggu, menunggu Rukia untuk mendorong dengan kasar dan segera meninggalkannya karena perbuatan lancang yang ia lakukan sekarang, membencinya seumur hidup dan menghanguskan segala kesempatan untuk mendapatkan gadis itu ke minus 0%, namun hal itu tak kunjung tiba. Apakah itu artinya dia menerima?
Ichigo mengecup bibir Rukia hati- hati dan terus mengantisipasi sebuah tamparan ataupun pukulan yang akan melayang dan mengenainya, tapi juga tak terjadi.
Akhirnya ia hanya bisa menarik wajahnya dan menatap Rukia yang masih tak bernafas dan menatap kosong. Menyusuri wajah kaku gadis dihadapannya yang ia yakin ini adalah ciuman pertama milik gadis itu yang ia rampas begitu saja. Rasa sesal dan senang berkecamuk dalam diri Ichigo, membuatnya terhimpit pada rasa bersalah ataukah gembira.
"Rukia..." panggilnya pelan dan Ichigo merasa lega ketika gadis itu kembali bernafas dan menatapnya.
Ichigo ingin berhenti sampai disitu saja dan tidak menyentuhnya lebih dari ini, membiarkan predikat 'lelaki brengsek' tak menempel pada dirinya meski Rukia mungkin sudah menyebut dalam hati karena ciuman paksa yang baru saja terjadi, namun saat melihat wajah bersemu Rukia yang begitu menggoda, menciptakan dobrakan hasrat dalam dirinya yang begitu kuat hingga tak bisa membuat pikiran dan tubuhnya sejalan. Ia ingin merasakan gadis yang disukainya lagi dan lagi.
"Pejamkan matamu." bisik Ichigo berat diiringi dengan pergolakan hebat yang saling bertentangan dalam hatinya. Disudut kepalanya sedang terpikir tentang Inoue yang akan ia khianati karena perbuatan brengseknya ini, tapi ia juga tak bisa menahan gelora panas yang sudah membakar seluruh tubuhnya untuk segera mencicipi gadis yang amat disukainya. Dan akal sehatnya sudah melayang entah kemana saat melihat Rukia memejamkan mata sesuai instruksinya dan ia menjadi gila.
Grimmjow sedang duduk sambil bersedekap menatap piring yang berisi makanan utuh di depannya dengan wajah datar. Jikasaja bisa terlihat, mungkin kini sudah ada awan kelabu lengkap dengan kilat yang sedang menyambar heboh diatas kepalanya. Ia sedang menunggu sang empunya piring yang beberapa menit lalu berpamitan untuk pergi ke toilet, namun hingga detik ini dia belum kembali juga. Apakah toilet di Karakura High Scool sekarang sudah berpindah ke California? batin Grimmjow mulai digerayangi rasa tak sabar.
Ia mendecak sebal karena lagi- lagi harus mencari seseorang yang hobi meninggalkannya padahal ia sudah mengatakan akan membunuhnya kalau berani pergi lagi dari Grimmjow, tapi gadis itu memang benar- benar spesies langka karena bisa kebal terhadap ancamannya yang pasti akan dituruti oleh orang lain tanpa ba-bi-bu.
Lelaki itu mendorong kursi gusar dan bergegas keluar kafetaria menuju toilet siswi. Ia berjalan terburu sambil berpikir hukuman apa yang akan diberikan terhadap Rukia jika sudah ketemu nanti dan langkahnya terhenti saat melihat gadis berambut orange tengah berdiri di koridor dan menatapnya dengan wajah terkejut.
Grimmjow mematung sejenak, mengerutkan mulutnya dan akhirnya menghela nafas pendek, lalu membalas dengan tatapan dingin dan seperti tampak tak peduli, ia kembali melanjutkan perjalanannnya hingga gadis itu akhirnya memanggil ketika Grimmjow lewat begitu saja.
"Grimmijow-kun..."
Kaki Grimmjow tertahan dan ia berhenti meski tak menoleh. Menunggu gadis yang telah mengkhianatinya itu—dulu, untuk kembali bicara.
"Apakah...apakah berita itu benar...?" tanya Inoue dengan suara bergetar. Grimmjow hanya terdiam, membiarkan perkataan yang ada dalam benaknya menjadi sebuah kenyataan dan keluar dari mulut siswi yang ada dibelakangnya.
"...Apakah...kau berpacaran dengan gadis itu...?"
Lelaki itu menarik nafas dengan berat, menyembunyikan sesak yang melanda kemudian akan kembali melangkah.
"Grimmjow-kun!"
Lagi- lagi Inoue memanggil Grimmjow dan membuat lelaki itu menahan kepergiannya.
"Aku..."
Inoue membalikan tubuhnya perlahan dengan ragu, menatap punggung Grimmjow yang terlihat putih karena balutan jas jurusan sosial yang dikenakan dan mengepalkan tangannya.
"Aku menyukaimu." ujar Inoue dengan mata yang berkaca.
Seolah semua yang dilakukan Inoue seperti sudah terencana di kepala Grimmjow, ia sama sekali tidak menampilkan ekspresi apapun saat gadis itu mengutarakan perasaannya dan malah memasukan kedua tangannya ke saku celana santai dan kembali melangkah.
"Grimmjow-kun." panggil Inoue dengan wajah terluka, namun lelaki yang ada didepannya tetap tak bergeming.
"Aku menyukaimu." ulangnya sekali lagi terdengar putus asa dan tetap tak menimbulkan efek berarti pada Grimmjow.
"Tidak ada yang mencintaimu lebih dari aku di dunia ini!" teriaknya terengah dengan air mata berderai dan berhasil menyetop langkah Grimmjow.
Lelaki itu mengeratkan giginya kuat seolah gadis dibelakangnya baru saja melemparkan sebilah tombak runcing yang kini menancap tepat dijantungnya. Ia berbalik, melawan segenap nyeri yang tengah membungkus tubuhnya hingga ia hanya bisa bergerak dengan jeda, menatap dengan wajah sendu sosok yang telah merobek keping hidup miliknya lalu mendengus.
"Dan tidak ada yang membencimu lebih dari aku di dunia ini." ucap Grimmjow getir menahan rasa sakit yang mulai berontak keluar.
Maaph, kalo chapter 3 semakin ngga jelas (-,-")
Dan masa lalu Ichigo, Rukia, Orihime dan Grimmjow belum sempet diceritakan,
*masuk lemari*
Dan maaph hingga detik ini belum bisa menampilkan rated M-nya,
*masuk ke dalem panci*
Maaph-kan saya yang seperti ini Minna-san (_ _")
Need u'r review, please...
Thank u for reading, :D
Eigar Alinafiah : bukan malu Eigar-san, tapi Rukia memang sedang dalam usaha mandiri untuk membuktikan kalau dia memang pantas menyandang nama 'Kuchiki'. :D, begitulah...Rukia adalah gadis yang tangguh ! (^-^)d
Ngga koq, justru Inoe cemburuan sama Grimmjow (dichapter uda saya tampilkan, Inoue menyukai Grimmjow). Akan sya ceritakan di chapter berikutnya, tentang Ichigo, Inoue dan Grimmjow.
Hanna Hoshiko : (,) akan sya tunggu review selanjutnya, Hanna-san.
Hahahaaa...tunggu review sya pada cerita Anda...
*asah suriken*
But, thank u so much for reviewing my mistake, *bungkuk dalem- dalem*
Rini desu : Rini-san, sudah terupdate ! Happy reading! :D
Azura Kuchiki : Maaphkan sya Azura-san, belum bisa menampilkan masa lalu Ichigo dengan Grimmjow di chaper ini...*sujud gamabunta*
Hhahaha...tng, Ichiruki ttp akan berjalan dlm fancfic ini, :D
Yups, Rukia shock karena kecelakaan itu,
Isshin dan Aizen tahu, alasan kenapa mereka ngga membeberkan jati diri Rukia akan muncul di chapter selanjutnya,
Terima kasih review-nya Azura-san...
: apakah nama Zhegaa-san ada hubungannya dengan Ashiya dalam komik 'For u The blossom...(apa gitu, sya lupa _ _)
Hahahak...akan sya buat di fanfic yang lain, sya juga ngarep Grimmjow tidak akan tersakiti dalam fic ini...hikshikshiks,
*peluk Grimmjow*
Kiki RyuEunTeuk : Sudaaaaaaaaah! :D
Naruzhea Aichi : Sudah sya update Naruzhea-san...enjoy reading!
Anggreni : Waah...maaphkan sya, karena dari awal fic ini bergenre M, jadi memang sya rencanakan untuk rated M. Kalau Anggreni-san berkenan, bisa skip chapter yang nanti ada adegan M-nya.
Trima kasih, akan sya usahakan menampilkan adegan sedih lebih banyak. :D
Darries : Kyaaaaa! Sya juga mau...! *ikutan dilempar sendal*
Harus iri, harus iri, harus iri...*karena author juga iri sma rukia*
*PLOKH*
Anita : yaaa Anita-san...Ruki disni bisu karena trauma...:)
Hikaroo cherryn : Yosshh ! Sya sudah nton The Heirs ! *lari keliling RT pke obor*
Iyahhh...sya juga suka! Konfliknya cukup berat, :D
Dan sya suka bgtttt Young Do...hohohoooo,
*jatuh cinta pada pandangan pertama*
Yeups! Hiduppppp!
*bong*
Berrychan : Sudah sya update Berrychan...senjoy reading, :D
UL : UL-san...arigatouuuuuu gozaimasuuu!
Iyahh...ini fic pertama sya, jadi msih gaje dan mungkin ide cerita pasaran. Begitu lah...sya akan berusaha lebih baik lagi..
Trimaksih banyak...*bungkuk pake dalem*
Bleachaholic Yuuka-chan : Yosh, sya berusaha untuk menampilkan chapter yg pnjang...
Sya pikir akan kepanjangan, tapi trima kasih, ternyata tak ada yang keberatan tiap chapter sya buat panjang,...
Arigatou-ne Yuuka-chan...
Uzumaki Ruchigo : Mauuuuuuu ! Bole tambah sama grimmjow juga?
*tonjok Rukia sama Inoue*
