.::::::::I Am The Soldier::::::::.
••
•
Naruto dan segala unsur yang mungkin akan muncul di fict ini BUKAN MILIK SAYA, melainkan milik pembuat mereka.
••
•
M {Tidak ada Lemon (atau mungkin)}
••
•
O. Naruto X ...
•••
••
•
Air mata terlihat mengalir dari sudut mata seorang pria berambut putih dengan empat bintang di masing-masing pundaknya tatkala ia memandangi sebuah foto bergambar seorang bayi berambut putih dengan sebuah tanda petir di kening kanannya.
Sedih selalu melanda hatinya tatkala melihat foto itu. Foto yang sebenarnya merupakan foto dari anak laki-laki nya. Anaknya yang telah lama hilang tanpa meninggalkan jejak apapun.
~brakh!~
Pintu ruangannya tiba-tiba saja di buka secara paksa dengan sangat kasarnya dan menimbulkan bunyi yang mampu membuat pria tersebut tersentak kaget.
"Jenderal, aku memiliki sebuah kabar baik untuk anda." Ujar pelaku pendobrakan pintu itu yang merupakan seorang pria berambut hitam keatas, memakai jas hitam dengan aksesoris militer disana-sini dan 3 bintang di masing-masing pundaknya.
"Apa itu, Hiruzen?"
"Dia. Kami telah berhasil menemukannya." Ujar Letnan Jenderal bernama Hiruzen itu.
Jenderal itu terlihat melebarkan kedua matanya. "Siapa yang kau maksud?" Tanyanya memastikan apakah yang saat ini sedang hinggap dikepalanya adalah benar.
"Dia. Putra anda." Balas Hiruzen.
Jenderal itu'pun seketika berdiri dari tempat duduknya. "Apa? Lalu, dimana dia sekarang?" Tanyanya dengan nada menuntut.
"Dia ada disini, maksudku di Konoha dan saat ini dia tergabung di kesatuan Kompi Easy. Berikut adalah data dirinya." Ujar Hiruzen sambil memberikan beberapa lembar kertas yang berisi data diri dari orang yang dia maksud.
Jenderal itu'pun segera mengambilnya dan membacanya. Dilihatnya sebuah gambar 'dirinya' yang terpasang di bagian paling atas kertas itu. Air mata'pun kembali melewati pipi Jenderal itu.
"Namikaze Naruto? Apakah kau telah memastikannya, Hiruzen?"
"Saya telah memastikannya dengan menyocokkan DNA nya dengan DNA anda dan hasilnya positif. Berikut adalah hasil tes DNA nya." Hiruzen kembali memberikan selembar kertas kepada Jenderal itu.
Sang Jenderal'pun kembali menerimanya. "Panggil dia, Hiruzen!"
"Sebelumnya saya minta maaf, Jenderal, Saya tidak bisa melakukannya sebab ia sedang menjalankan misi."
"Begitu ya. Kalau begitu, kirimkan bantuan! Aku tidak ingin di kenapa-napa?"
"Dimengerti, Jenderal." Hiruzen'pun segera melakukan apa yang di perintahkan oleh atasannya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
••••
••••
••••
|2 jam lalu|
"Hari ini intel kita melaporkan bahwa disebuah tempat terbengkalai dipinggiran Tokyo akan ada sebuah transaksi yang dilakukan oleh sebuah kelompok teroris." Ujar seorang pria paruh baya berpangkat Kolonel kepada seorang pemuda berpangkat Letnan Dua berambut putih di depannya.
"Memang transaksi apa yang akan mereka lakukan, Kolonel?" Tanya Letnan bernama Naruto itu dengan serius.
"Transaksi narkoba, tepatnya sekitar 380 ton narkoba akan mereka tukarkan dengan senjata dan uang untuk membiayai kelompok mereka." Ujar Kolonel itu sambil menyerahkan beberapa lembar foto dari tempat yang ia maksud. "Dalam misi kali ini kau akan memimpin pasukanmu untuk menghentikan transaksi itu. Narkoba dan senjata harus dimusnahkan!"
"Dimengerti Kolonel." Ujar Naruto dan memberikan sebuah penghormatan kepada Kolonel itu dan berjalan keluar dari ruangnya.
"Jadi, misi apa yang diberikan, pak?" Tanya seorang pria berpangkat sersan yang sedari tadi menunggu Naruto atau yang bisa disebut atasannya di depan ruangan Kolonel.
"Membatalkan sebuah kelompok teroris yang akan melakukan transaksi narkoba di pinggiran Tokyo. Sersan, persiapkan semua sniper dan pengintai yang dimiliki Kompi Easy!" Ujar Naruto dan memerintahkan bawahannya untuk mempersiapkan sebuah pasukan yang akan terjun ke medan pertempuran.
"Siap pak."
••••
••••
"Apa sudah semua?" Ujar Naruto yang saat ini berada di sebuah lapangan dan didepannya terdapat 16 orang yang berbaris.
"Sudah pak." Balas kapten.
"Baiklah semuanya, misi kali ini adalah membatalkan sebuah kelompok teroris yang akan melakukan transaksi narkoba. Bawalah Sniper andalan kalian dengan amunisi sebanyak-banyaknya dan juga pistol otomatis, dalam waktu 15 menit!" Naruto memberikan intruksi kepada bawahannya untuk mempersiapkan keperluan mereka dalam waktu 15 menit.
Sama seperti anak buahnya, Naruto'pun saat ini juga tengah mempersiapkan kebutuhannya. Mulai dari menggunakan rompi anti peluru sampai mengecek kondisi senjata yang akan di bawanya, yaitu sniper CheyTac Intervention 408 berwarna hitam.
"Waktu habis. Mari berangkat!" Ujar lantang Naruto dan langsung menaiki sebuah kendaraan lapis baja panzer untuk menuju lokasi diikuti oleh semua bawahannya.
20 menit kemudian, pasukan tentara itu'pun akhirnya sampai di tempat tujuan mereka. Naruto'pun segera memberikan instruksi kepada ke sepuluh anak buahnya dan setelah itu, mereka semua'pun segera menuju pos mereka masing-masing.
Tak lama kemudian, tiba-tiba saja sebuah panzer berhenti di dekat Naruto dan mengeluarkan seorang pria berambut merah bata tanpa alis dengan lingkaran hitam panda.
"Pleton kedua? Apa yang membawa kalian kemari?" Tanya Naruto.
"Kami dikirim oleh Kolonel Jiraiya untuk membantumu, Second Liuteunant Naruto, dan juga, bisa kau jelaskan apa yang harus kita hentikan?" Ujar pria berpangkat Letnan dua itu.
"Begitu ya. Baiklah, seperti yang telah kalian ketahui, tempat ini akan digunakan untuk melakukan transaksi 380 ton heroin untuk membiayai teroriseme dan tugas kita untuk membatalkannya. Pada hari ini pukul 10.00, kelompok yang kita buru akan menukarkan heroin dengan senjata di tempat ini. Timku yang semuanya sniper di tugaskan untuk membatalkannya dan mereka sudah di posisi sekarang." Jelas Naruto pada Gaara dan pasukannya.
"Kita akan berada di sini untuk katakan "halo" dan menghabisi mereka semua! Masuk dan keluar dalam 30 menit! Ini adalah operasi perkotaan, dan aku tidak perlu mangingatkan kalian, tingkat korban 88%. Jangan bersiluet dan perhatikan sudut kalian! Hindari sudut yang mematikan! Narkoba dan senjatanya harus di musnahkan di tempat! Ini bukan misi pemulihan, jadi jangan meninggalkan jejak apapun! Ada pertanyaan?" Ujar Naruto kepada prajurit Kompi D itu.
"Baiklah. Untuk selanjutnya, pemimpin kalian Second Liuteunant Gaara yang akan mengurusnya." Naruto dan pengintainya lalu pergi meninggalkan Kompi D menuju posnya yang berada di luar gedung yang tepatnya berada didalam semak-semak dan berjarak sekitar sekitar 800 meter dari tengah lapangan yang akan di gunakan sebagai tempat transaksi narkoba oleh teroris.
"Baiklah, untuk para penyerbu. Posisi kalian ada di dalam gedung itu bersamaku." Ujar Gaara memberikan instruksi kepada bawahannya.
"Sniper, kalian bertiga ke gedung kanan! Konfirmasikan lokasi kalian!" Perintah Gaara kepada tiga orang Sniper bawahannya.
"Siap pak." Balas seluruh bawahannya dan segera menuju ke gedung yang dimaksud Gaara.
••••
••••
|Beberapa menit kemudian|
"Letnan, kami telah diposisi. Posisi kami, Lantai empat jendela ketiga dari kiri."
"Lantai tiga jendela ke 2 dari kanan."
"Lantai Lima jendela keempat dari kiri."
"Baiklah." Setelah mendapatkan posisi dari para snipernya, Gaara'pun langsung memberitahukan koordinat mereka kepada pasukan penyerbunya dan Naruto agar tidak menembak pasukannya di posisi yang telah diberitahunya.
Naruto'pun menyetujuinya dan segera memberitahukan pasukannya.
••••
••••
Akhirnya setelah 20 menit menunggu, datanglah 10 kendaraan yang terdiri dari 5 mobil bak terbuka dengan senjata mesin AK di atasnya dan 5 truk memasuki area sasaran tembak.
"Semuanya bersiap!" Ujar Naruto dan Gaara kepada para bawahannya.
"Siap pak."
~zzhhhrrrgggg!~
Namun sepertinya mereka harus ketahuan terlebih dahulu karena ada sebuah suara bising yang berasal dari alat komunikasi salah satu prajurit Kompi D.
"Sial! Kita ketahuan." Rutuk seorang prajurit Kompi D yang alat komunikasinya rusak.
"TEMBAK!" Teriak salah satu teroris yang mengetahui.
~dor! dor! dor!~
"Tembak mereka semua! Tembak mereka sekarang!" Perintah orang yang bertanggung jawab di pasukan penyerbu yaitu Letnan mereka sendiri. Seluruh prajurit Kompi D'pun segera menuruti nya dan baku tembak'pun terjadi.
Pasukan Naruto juga tak ingin ketinggalan, mereka juga mulai menembaki para teroris.
~dor! dor! dor!~
Baku tembak akhirnya dimulai.
"Sepertinya sudah dimulai." Ujar Naruto.
"Gerakan, arah pukul 01:00." Ujar pengintai Naruto.
Naruto mulai membidik musuhnya melalui scoope snipernya.
"Ukur jangkauannya untukku!" Ujar Naruto.
"803 meter." Jawab pengintai itu.
"Angin?"
"Nilai seperempat, putar dua
klik ke arah kanan."
"Sudutnya?"
"Menurun 5 derajat,
tanpa penyesuaian."
Sebuah seringai tercipta di bibir Naruto. "Good Bye." ~dorr! klek! ting!~ Timah panas itu melesat keluar dari moncong sniper Naruto dengan cepatnya menuju dua orang teroris di samping truk pemegang sniper.
~crash! crash!~
Peluru Naruto'pun langsung menembus tubuh keduanya karena mereka berada disatu garis lurus.
"Jarak 787 meter arah pukul 02.00. Angin, satu-setengah. Sudut, menurun 3 derajat tanpa penyesuaian."
~dor! klek! ting!~
Kembali, Naruto menembakan pelurunya kearah salah satu teroris dan berhasil mengenai kepala nya. Head Shoot!
••••
••••
Baku tembak terus berlangsung dan telah memakan waktu selama 3 menit. Kelompok teroris setiap menitnya berkurang drastis karena pasukan sniper di tempat itu sangat banyak.
"SAJI! SAJI!" Panggil salah satu teroris kepada temannya yang membawa RPG. "LEDAKKAN MEREKA SAJI! LEDAKKAN MEREA SEMUA!" Teroris bernama Saji itu'pun langsung melakukan apa yang dikatakan temannya dan mengarahkan RPG nya ketempat persembunyian pasukan Gaara.
Gaara selaku pemimpin pasukan penyerbu yang mengetahui rencana teroris itu segera memberitahu bawahannya untuk pergi. "RPG! SEMUA SEGERA TINGGALKAN TEMPAT INI!" Dan mereka'pun segera keluar meninggalkan tempat itu.
~Whuss! Duarrr!~
Sedetik setelah mereka meninggalkan tempat itu, RPG itu menghantam dan meledak di ruangan yang telah kosong itu.
Pengintai Naruto yang melihat itu'pun segera memberi tahu posisi teroris yang membawa RPG pada Naruto. "Jarak 845 meter, arah pukul 09.00. Angin, nilai satu. Sudut naik 3 drajat tanpa penyesuaian."
~Dor! Klek! Ting!~
Tembakan itu tepat mengenai perut teroris yang diketahui bernama Saji. Saji yang tertembak akhirnya oleng dan jatuh. Akan tetapi sebelum jatuh, tanpa sengaja ia menekan pelatuk RPG yang telah ia isi kembali dan akhirnya peluru RPG itu melesat kearah truk yang berisi narkoba dan 2 orang yang pengguna machine gun diatas kepala truk.
~whuss! duarrr!~
Meledak dan terbakar.
"Tangki gas arah 11.00. Angin, nilai setengah. Naikkan 2 drajat." Ujar pengintai itu.
~Dor! Klek! Ting! Duarr!~
Tangki gas karatan itu seketika meledak dan menghasilakan kobaran api yang melahap semua teroris di sekitarnya.
••••
••••
Gaara dan pasukan penyerbunya yang sebelumnya telah keluar dari ruangan, segera menembaki teroris dari dekat.
Kelompok teroris yang hanya tersisa beberapa orang saja akhirnya dapat ditembak mati oleh pasukan Gaara yang langsung menghujani mereka dengan peluru setelah keluar ruangan.
Tak butuh waktu lama, bagi pasukan Naruto dan Gaara untuk melawan sisa teroris yang hanya beberapa orang saja. dalam waktu kurang dari 2 menit mereka telah mampu menghentikan/membunuh semua teroris.
"SECTOR CLEAR!"
••••
••••
••••
~drab! drab! drab!~
Seorang pria berambut putih terlihat berjalan mengelilingi tempat yang beberapa jam lalu menjadi medan pertempuran. "Bagaimana? Apa sudah siap?" Tanya Naruto pada bawahannya yang tengah memasang peledak C4 pada truk-truk teroris yang berisi Narkoba dan senjata ilegal.
"Siap. Kapan saja anda ingin meledakkannya." Balas bawahannya.
"Langsung saja kau musnahkan, pastikan jangan ada yang tersisa."
"Siap, pak."
Naruto'pun lalu pergi meninggalkan bawahannya itu entah kemana.
"White one, White one, masuk!" Ujar sebuah suara yang berasal dari sebuah alat komunikasi yang dibawa Naruto.
"White one disini, ganti."
"Bagaimana dengan misimu?"
"Sukses, tanpa korban, dan sekarang kami tengah melakukan pemusnahan paket."
"Baiklah. Jika urusanmu disana telah selesai, cepat kembali ke pangkalan karena Jenderal ingin menemuimu. Currahee Out."
"Hmm... Jenderal? Menemuiku? Apa yang dia inginkan dariku?" Gumam Naruto bingung karena tak biasanya ada orang yang ingin menunggunya, apalagi orang ini adalah seorang Jenderal, penguasa tertinggi militer.
~duarrr!~
Sebuah suara ledakan besar berhasil menyadarkannya dari lamunannya. Dilihatnya kobaran api yang membumbung tinggi membakar ratusan ton narkoba dan ratusan pucuk senjata api.
|Satu jam kemudian|
Setelah memastikan bahwa semua paket telah musnah tak tersisa, kedua pasukan berbeda pleton tetapi dalam satu kompi yang sama itu'pun segera kembali kepangkalan.
••••
••••
~tok! tok! tok!~
Naruto mengetuk pintu dari sebuah ruangan yang diketahui adalah ruangan dari Sang Jenderal.
"Masuk!" Jawab seorang pria dari dalam ruangan itu.
Naruto'pun segera memasukinya dan dilihatnya seorang pria paruh baya berambut putih yang tengah mengerjakan beberapa dokumen dengan serius.
"Selamat sore, Jenderal. Kudengar anda tengah menunggu saya?" Ujar Naruto dengan sangat formal.
Jenderal itu'pun seketika menghentikan pekerjaannya dan membuang penanya ke sembarang tempat. Ia'pun berdiri dari kursi hangatnya dan dengan perlahan berjalan mendekati Naruto.
Ia raba-raba wajah Naruto dengan kedua tangan kasarnya.
"Eemm... Apa ada yang salah dengan wajah saya, Jenderal?" Karena di perlakukan seperti itu, tak ayal Naruto'pun menjadi gugup.
~sreeet!~
Tanpa aba-aba apapun, tiba-tiba saja tangan Jenderal itu menarik secara paksa sebuah plaster yang terpasang membujur di kening Naruto memperlihatkan sebuah tanda berbentuk petir.
Dan juga, hal itu'pun berhasil membuat Naruto mengeluarkan geraman menahan perih.
~grep!~
Pria berpangkat Jenderal itu'pun tanpa aba-aba lagi langsung memeluk tubuh Naruto dengan erat.
"Jen-Jenderal? Ke-kenapa an-anda me-memelukku?" Tanya Naruto terbata-bata karena kaget bercampur gugup.
Pria itu'pun lalu melepaskan pelukkannya dapat terlihat di sana, kedua matanya yang terdapat air terjun deras, ia'pun segera mengusap air mata itu dengan lengan jas hitam nya. "Karena, karena kau adalah putraku."
"A-apa mak-maksud anda?" Tanya Naruto bingung.
"Kau adalah putraku. Putraku yang 22 tahun lalu hilang karena di culik."
"Emm...Sepertinya anda salah orang."
"Tidak. Kau adalah putraku. Kalau kau tidak percaya, lihat ini." Jenderal itu'pun memberikan selembar kertas yang merupakan kertas hasil tes DNA kepada Naruto.
"Itu buktinya. DNA mu 99,99% cocok dengan ku, dan juga ini." Jenderal itu memberikan sebuah foto beserta figuranya kepada Naruto.
"Ini?"
"Itu adalah fotomu saat kau masih berumur 3 hari. Mirip denganmu bukan? Dan juga, apa mungkin ada orang lain yang memiliki tanda lahir seperti itu."
Air mata perlahan-lahan merangkak menuruni pipi Naruto. Dia menangis! Menangis bahagia. "Tunggu! Kalau kau memang ayahku, kenapa kau tidak pernah mencariku selama ini?"
"Kau salah Naruto, kami semua telah mencarimu selama ini. Hampir seluruh prajurit selama satu tahun penuh kuturunkan untuk mencarimu Naruto, namun hasilnya nihil, kami juga meminta bantuan kepada satuan kepolisian, tapi kau tak pernah kami temukan. Kami telah membuat pengumuman diberbagai media namun, tak ada yang pernah melihatmu, tak ada orang yang pernah melihat ciri-ciri yang sama sepertimu saat ini, padahal dengan rambut putih dan tanda lahir itu, kau pasti akan sangat mudah untuk ditemukan."
Mendengar penuturan yang di keluarkan oleh Sang Jenderal, secara refleks ia'pun memeluk Jenderal itu yang baru ia ketahui adalah Ayahnya dengan eratnya.
Sang Jenderal'pun membalas pelukkan anaknya tak kalah eratnya.
Aksi peluk memeluk itu'pun berlangsung cukup lama.
"Sekarang kau harus pulang bersamaku, Ootsutsuki Naruto!"
|•••••••••|
|••••••••|
|•••••••|
|••••••|
|•••••|
|••••|
|•••|
|••|
|•|
.:::::::To Be Continued:::::::.
A / N :
Pertama, Maaf bila masih pendek.
Kedua, bagaimana menurut reader sekalian tentang Chap ini? Apakah lebih bagus dari The Soldier AS50 atau lebih buruk?
Ketiga, adakah diantara kalian yang tahu film apa yang di pakai di chap ini?
Keempat, Sekian dan Terima Kasih.
