Fuh.. akahirnya ke update… oke ini chap 3…

HOPE YOU LIKE IT…^^

Warning: Typo, abal, gaje, OOC, OC, Genre Gado-gado.

Disclimer: om Kishi… ayo donk, kawinin NARUHINA….* Kalau ga, gw bantei lu…*taboked*

'MIKIR'

"NGOMONG"

"Kalimat (BOLT) dalam FLASHBACK"


OUR DREAMS

CHAPTER 3

SHINO...?


"Hinata..."

.

...

.

"Sebenarnya aku..."

.

...

.

"Maafkan aku Hinata..."

.

...

.

"Karena aku sudah..."

...



"Nona..."

"Eh...?" Hinata tersadar dari lamunannya ketika suatu suara nan lembut menyapa indra pendengarannya.

"Anda tidak apa-apa nona?" wanita yang ternyata seorang pelayan itu tersenyum ke arah Hinata.

"Ah... Iya...," Hinata balik tersenyum, "Saya tidak apa-apa"

"Baguslah... Kalau begitu ini pesanan anda" si pelayan meletakan seporsi ramen ke meja di hadapan Hinata.

"Terima kasih..."

Pelayan itu tersenyum kemudian beranjak pergi.

Sekarang ini adalah hari ke enam team 8 yang dipimpin Kakashi sedang dalam misi penangkapan sebuah kelompok ninja bandit yang juga merupakan buronan desa Iwagakure. Kakashi memerintahkan anggota team 8 untuk mencari informasi lebih karena informasi yang terkumpul masih belum cukup. Akhirnya anggota team berpencar menelusuri kota kecil yang menurut informasi adalah tempat persembunyian mereka, dan di sinilah Hinata sekarang, di dalam salah satu rumah makan kota kecil ini-tidak menutup kemungkinan disini juga bisa mendapatkan informasi-.

Target mereka sendiri bukan shinobi sembarangan, missing nin Iwagakure itu sangat ahli dalam menyembunyikan keberadaan mereka. Team 8 bahkan harus berhati-hati agar tindakan mereka tak tercium oleh kelompok Shinobi tersebut. Ceroboh sedikit saja bisa mempersulit misi, bahkan menggagalkan misi.

Karena itulah, pakaian yang Hinata kenakan sekarang hampir sama dengan orang biasa, Pakaian sederhana dan tidak mencolok. Tidak ada jaket ungu berlengan putih yang biasa ia pakai. Pelindung kepala, apa lagi. Tak ketinggalan, wireless juga Hinata gunakan agar dapat berhubungan dengan yang lainnya.

Lama Hinata duduk diantara keramaian pengunjung yang lain. Ia dengan jelas mendengar perkataan dari orang-orang yang ada di sana, mungkin ada informasi yang bisa ia dapat. Tapi waktu terus berjalan, Hinata tak mendapatkan apa pun. Rata-rata orang yang berbincang disana cuma membahas tentang kegiatan masing-masing. Bosan menunggu, rasa lapar mulai menyerang Hinata. Diapun teringat dengan pesanan yang tadi ia pesan.

Tetapi, dia terdiam saat melihat hidangan di depannya...

Ramen

Kenapa lagi-lagi tanpa sadar ia memesan makanan favorit Naruto itu.

Naruto...

Mengingat nama itu, nafsu makan Hinata hilang seketika. Pikirannya kini benar-benar membuat ia lupa akan ramen yang mulai mendingin itu. Pikirannya telah penuh oleh ingatan kejadian di hari itu, ingatan yang akhir-akhir ini sulit dia hilangkan. Ingatan tentang hari di mana Naruto bicara padanya setelah pengakuan cintanya.

Dalam sekejap, rasa sesak tak nyaman menyergap Hinata. Sumpit yang bahkan belum sempat ia pisahkan itu pun kini telah ia remas kuat, berharap itu dapat mengurangi rasa tak menyenangkan di hatinya.

Ingatan itu, selalu saja memunculkan bayangan menyakitkan di bagi Hinata.

"Naruto-kun... Kenapa...?"

Kalimat itu terdengar lirih, seperti mengandung sesuatu yang membuat sang gadis merasa lemah.

Dia takut...

Dia takut kecewa...

Apa setelah lebih dari sepuluh tahun mencintainya, akhirnya harus seperti ini?

Kress...

Suara berdesis pelan itu mengembalikan Hinata ke dunia nyata. Awalnya Hinata agak terkejut, tapi sesaat kemudian ia sadar kalau suara itu berasal dari wireless-nya. Hinata menyapu matanya yang tanpa sadar ternyata telah basah, kemudian menghela nafas pelan sambil memejamkan matanya, berharap itu dapat mengurangi rasa sesak yang ia rasakan.

"Hinata" suara dari sisi lain yang Hinata kenal sebagai Kiba.

"Ya... Ada apa, Kiba-kun?" jawab Hinata balik bertanya. Hinata berusaha agar suaranya terdengar senormal mungkin. Hinata tidak ingin Kiba menyadari kelainan pada nada bicaranya.

"Kakashi-sensei bilang, informasinya sudah cukup. Dan dia meminta kita untuk kembali kepenginapan untuk membahas langkah kita selanjutnya"

"Baiklah..." jawab Hinata, "Aku akan kembali sekarang..."

Hinata beranjak setelah membayar pesanannya. Meninggalkan ramen yang telah dingin itu, tanpa menyentuhnya sedikitpun.

.

.

.

Penginapan sepi tanpa seorang pun ada di sana adalah hal yang Hinata temukan ketika ia sampai. Sepertinya ia yang pertama sampai. Jarak rumah makan yang tadi memang tak terlalu jauh dari penginapan ini, pasti yang terdekat di banding Kakashi dan anggota team 8 lainnya.

Tidak mau bosan menunggu, Hinata memutuskan untuh membersihkan dirinya. Itu akan membantu menyegarkan dirinya, atau melupakan hal itu... Setidaknya untuk sementara.

Dua puluh menit, Hinata selesai mandi. Seperti yang ia pikirkan tadi, kini Hinata jadi lebih segar dan perasaannya jadi lebih nyaman. Tepat ketika Hinata selesai berganti pakaian, ia mendengar teman-temannya tiba. Niat Hinata untuk menyambut kedatangan mereka terurungkan oleh kalimat yang Hinata tahu diucapkan oleh Kakashi.

"Jadi Endo-sama sudah tewas?"

"Iya..." jawab Kiba, "Kami yakin itu beliau, baunya tak salah lagi".

"Jadi begitu," suara kalem itu menyiratkan mengandung penyesalan, "sayang sekali, padahal Endo-sama adalah salah satu calon Hokage"

Perkataan terakhir Kakashi sukses membuat rasa ingin tahu Hinata kembali bangkit, sama ketika ia menguping pembicaraan ayahnya dulu. Bermodal celah kecil di dinding kayu kamar, Hinata bisa melihat Kakashi, Shino, Kiba dan Akamaru kini telah duduk membentuk lingkaran kecil.

"Lalu, apa identitas pelakunya sudah di ketahui" Shino yang juga ada bersama mereka ikut bertanya.

'Pelaku...? Apa maksudnya ada pembunuhan' tanya Hinata pada dirinya sendiri.

"Entahlah... Penciuman kami terganggu akibat bau darah yang terlalu mendominasi, sulit mengenali bau yang lain" jawab kiba.

"Lalu bagaimana dengan penyelidikan Anbu?" tanya Shino pada Kakashi.

"Menurut mereka, kemungkinan besar pelakunya mengincar calon-calon Hokage"

'Calon Hokage, diincar?'

Perasaan Khawatir tiba-tiba saja menghampiri Hinata. Bagaimanapun, meski masih sangat muda 'dia' juga salah satu kandidat kuat calon Hokage.

"Apa ada informasi, kemungkinan target selanjutnya?"

"Tidak ada..." kata Kakashi, "Tapi kau tenang saja Shino, penjagaan bagi calon Hakage juga sudah ditingkatkan"

Hinata bisa menangkap ketidaknyamanan pada Shino, entah apa yang membuatnya begitu. Tapi Hinata tahu, apapun itu pasti bukan hal sembarangan. Dan satu kalimat dari Kiba menjawab pertanyaan Hinata tentang hal itu.

"Tenang saja Shino, ayahmu pasti akan baik-baik saja"

'Jadi ayahnya Shino...'

Hinata mungkin belum terlalu mengerti, tapi yang jelas malam ini dia kembali tak akan bisa tidur tenang.

"Baiklah, cukup tentang ini. Sekarang mana Hinata? Bukankah kita harus membicarakan tindakan selanjutnya untuk misi kita?"

Kata-kata Kakashi langsung menyadarkan Hinata untuk melakukan sesuatu agar tak ketahuan menguping, lagi.

.

.

.

BOM...!

Dentuman keras terjadi untuk kesekian kalinya. Asap tebal mengudara bagaikan gumpalan kapas coklat keabu-abuan. Pepohonan tumbang disana-sini, membuat burung-burung yang selamat beterbangan menyelelamatkan diri.

BOM...!

Ledakan kembali terjadi tak lama setelah ledakan sebelumnya. Menambah jumlah kepulan asap yang keluar diantara hijaunya hutan.

Sementara itu didalam hutan yang merupakan arena pertempuran, kini telah porak-poranda. Terlihat banyak lubang-lubang bekas ledakan dengan ukuran yang berfariasi. Pohon-pohon kini telah tinggal bongkahan kayu yang hangus terbakar. Di antara bongkahan kayu itu, nampak sekelompok Shinobi yang terdiri atas tiga orang dan satu anjing ninja tengah bersembunyi.

"Sial! Malah kita yang terdesak" kata salah seorang dari mereka. Disamping orang itu, seekor anjing tengah meringkuk terluka.

"Tenanglah, pasti ada cara" si pria bermasker merespon. Mata kirinya telah diperlihatkan, menampakan bola mata semerah darah dengan tiga titik hitam didalamnya.

"Bagaiman, Hinata?" tanya pria bermasker itu pada satu-satunya Kunoichi diantara mereka.

"Aku sudah mengetahui posisi mereka, dan juga posisi ranjau yang mereka pasang" jawabnya. Otot-otot mata sang kunoichi Hyuuga itu kini telah membesar, membuat sebuah lingkaran elips tipis di pupilnya samar-samar terlihat.

"Lalu bagaimana?" tanya si pengguna Sharingan.

"Penempatan posisi yang mereka lakukan, selalu menjauhi ranjau ledakan" jelas gadis itu lagi pada sang jounin, Kakashi.

"Mereka tipe petarung jarak jauh" kata Kakashi.

"Bagus!" seru pemuda inuzuka, Kiba. "Kalau kita menyerang mereka dari jarak dekat, ini akan mudah"

"Masalahnya terlalu banyak ranjau, ruang gerak kita jadi terbatas" Kakashi menjelaskan, "Terinjak sedikit saja, bisa memicu ledakan" lanjut Kakashi.

"Anu... Tadi aku sempat terinjak salah satu ranjau tapi tidak bereaksi" kata Hinata. Kakashi terlihat berfikir.

"Mereka memicu ledakan dari jarak jauh" satu orang lagi merespon dengan suara datar. Si pengguna serangga itu masih tampak tenang meski dalam keadaan terdesak seperti sekarang.

"Tapi apa tujuan mereka Shino? Bukankah akan lebih berbahaya kalau ranjaunya bereaksi ketika mendapat tekanan?" tanya kiba.

"Itu artinya, mereka menunggu kita memasuki ruang lingkup ledakan, bukan menggiring kita" jawab Shino.

"Mungkin, tapi..." Kakashi diam sejenak, "Mungkin juga dengan posisi ranjau yang telah diatur sedemikian rupa, mereka menggiring kita ke suatu titik tertentu"

"Titik tertentu...?" tanya Kiba, tapi tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan jawabannya sendiri.

"Mungkinkah...?"

"Ya..." Kakashi serius.

"Mereka mengiring kita ke ranjau terbesar!"

Kiba dan Hinata tidak bisa tidak terkejut mendengar jawaban Kakashi. Sedangkan Akamaru telah merapatkan kepalanya ketanah, meletakan dagunya diantara dua kaki depannya karena ketakutan.

"Ledakan pamungkas ya...?" Shino masih nampak tenang.

"Hinata!" seru Kakashi.

"Ba... Baik!" meski tanpa diberitahu, Hinata mengerti apa yang diperintahkan Kakashi padanya. "Byakugan!"

Seketika itu juga Hinata memusatkan chakra pada matanya, melakukan penglihatan dari angkasa untuk mengetahui dimana ranjau pamungkas terpasang. Dan Hinata terbelalak ketika menemukan apa yang ia cari.

"Ka... Kakashi-sensei"

"Ada apa Hinata?"

Gadis Hyuuga itu tampak gemetar, sepertinya hal yang tak mereka inginkan kini telah terjadi.

"Kita berada tepat di tengah-tengah ranjau"

.

.

.

Sementara itu, di antara rimbunnya pepohonan, bersembunyi tiga Shinobi yang merupakan target dari team 8. Ketiganya berada di tempat yang berbeda dan jarak yang berjauhan. Jika dilihat dari atas, akan terlihat bahwa titik-titik persembunyian mereka membentuk sebuah segitiga raksasa yang mengurung team 8 tepat di tengahnya.

Pemimpin mereka melakukan beberapa gerakan dengan jari-jarinya, membentuk sebuah segel yang merupakan pengirim sinyal kepada kedua kaki tangannya melalui telepati. Hanya perlu beberapa detik agar tanda itu dapat diterima kedua anak buahnya. Dan kini mereka telah siap dengan teknik pamungkas mereka.

.

.

.

"PERGI DARI SINI" teriak Kakashi, dia tau kalau tak akan berhasil menggunakan Mangekyo Sharingan jika mereka berada tepat di tengah ranjau. Waktunya terlalu sempit, Mangekyo Sharingan takan sempat.

"Cih! sudah terlambat!" pemimpin Ninja bandit menyeringai. Kemudian melakukan segel yang juga di ikuti 2 orang lainnya secara bersamaan.

Saat itu juga, tiga buah cahaya lurus memanjang muncul dari tiga titik di mana Ninja bandit tadi berada. Cahaya itu membentuk garis lurus yang menyatu dengan titik cahaya lainnya, menciptakan sebuah segitiga raksasa keemasan. Dan saat semua titik menyatu, cahaya silau tiba-tiba muncul dalam sekejap. Dan...

DUARR!

Ledakan yang jauh lebih besar tercipta, menimbulkan kepulan asap tebal dalam jumlah besar layaknya sebuah jamur raksasa. Sang pemimpin bandit tersenyum, menyangka kemenangan mutlak telah mereka dapatkan. Sampai suatu pergerakan menggoyahkan keyakinan mereka.

Perlahan, asap yang sudah semakin berkurang itu bergerak dan berkumpul ketengah, layaknya sebuah pusaran. Kemudian secara tiba-tiba, asap dan debu yang telah berkumpul tadi menyebar, terpecah ke segala arah. Chakra biru tipis samar-samar masih terlihat berputar. Namun itu tak menghalangi pandangan pada empat sosok yang merupakan target dari ledakan barusan.

Salah satu diantara mereka tengah berputar cepat namun semakin melambat. Semakin pelan, maka semakin jelas pula tokoh yang tengah berputar itu. Rambutnya melambai sesuai pergerakan kakinya, kedua tangannya ia rentangkan membuat gerakan lembut namun sangat mematikan itu terlihat sangat anggun.
Gerakannya akhirnya terhenti, menyisakan debu tipis yang masih berputar mengelilinginya. Wajah manis itu tampak kelelahan, nafasnya juga agak terengah-engah. Sepertinya hal yang baru saja ia lakukan tadi sangat menguras tenaganya. Sedangkan empat rekan seteamnya memandang kagum pada gadis Hyuuga itu.

"Kau hebat, Hinata" seru Kiba yang juga diikuti gongongan girang Akamaru di sampingnya. Hinata berbalik kemudian tersenyum merona meski wajahnya telah basah oleh keringat. Shino mengangguk padanya.

'Menahan efek ledakan dengan Kaiten, tak kusangka dia mampu melakukannya' pikir Kakashi tak kalah kagum.

"Kau tak apa-apa, Hinata?" tanya sang Jounin. Hinata menjawab dengan sebuah anggukan pelan.

"Bagus, sekali lagi tolong ya, Hinata"

.

.

.

"Apa-apa'an mereka?" kata salah seorang bandit kesal. Dia tak menyangka, rencana kombinasi mereka digagalkan oleh gadis tadi dikira yang paling lemah.

"...?" si bandit tiba-tiba merasakan ada yang merayap menaiki kakinya cepat. Memastikan, dia menunduk dan alangkah terkejutnya dia ketika menemukan setengah dari tubuhnya telah ditutupi oleh ribuan serangga.

"A... Apa ini?"

Terlambat, serangga-serangga itu telah mengurungnya dalam kegelapan.

"ARGKK"

"Cih!" bandit lainnya mendengus, mengetahui rekannya tertangkap.

"Dasar tidak berguna!"

"Kau juga!" suara itu mengalihkan perhatian sang Bandit, seseorang dengan seekor anjing bersamanya, tengah mengudara bersiap menerjangnya.

"KAU TAKAN BISA LARI DARI PENCIUMANKU...!"

"GATSHUGA...!"

BRUAAK...!

"Gawat, tak kusangka mereka akan membalik keadaan" Bandit terakhir yang merupakan Pemimpin dari dua bandit sebelumnya mulai panik. Bagaimanapun juga, sulit melakukan perlawanan sendiri.

"Kalau begini..." merasa tak ada harapan, dia berniat melarikan diri.

"Mau lari...?"

Baru saja dia membalikan tubuhnya, Kakashi telah menghadangnya lengkap dengan kilatan biru di tangan kanannya.

.

.

.

Ketiga bandit itu kini telah terikat kuat dengan satu ikatan melingkar yang mengikat mereka bertiga sekaligus. Mereka semua menundukan kepala mereka masing-masing, merutuki diri kenapa rencana mereka sampai gagal.

Di sekitar mereka berdiri Kakashi bersama team 8. Semua tampak senang karena misi telah selesai. Terutama Hinata, apa yang dia lakukan tadi adalah awal dari keberhasilan misi ini. Seluruh team 8 juga Kakashi memberinya banyak pujian atas penyelematan yang dia lakukan.

'Setidaknya, aku bisa sedikit berguna' pikir Hinata.

Sedikit...?

Kau bencanda, Hinata? Sekarang ini, kaulah pahlawannya.

"Bagaimana bisa kalian melakukan counter secepat itu?"

"Gadis inilah kuncinya" kata Kakashi sambil memegang bahu Hinata.

Benarkan? Kakashi saja berpikiran sama.

"Berkat kemampuan Byakugan-nya, kami bisa tahu posisi kalian. Kami juga tidak perlu khawatir ranjaunya akan meledak selama kalian tidak mengatifkannya" jelas Kakashi.

"Tapi bagaimana kalian tiba-tiba melakukan serangan sementara kami lihat kalian tidak pernah bergerak dari posisi kalian" tanya salah satu bandit.

Kakashi mendekati ketiga bandit yang terikat itu. Tangan kirinya memegangi bagian pelindung kepala yang menutupi satu matanya itu.

"Soal itu..." kata Kakashi setelah berhadapan dengan ketiga bandit itu. Bandi-bandit itu menengadah memperhatikan Kakashi. Dan saat berikutnya, mata mereka melebar, pupil mereka pun telah berubah warna. Akhirnya ketiganya cuma bisa tertunduk lemas.

"Hanya sedikit Genjutshu" kata Kakashi datar. Rupanya pria bermasker ini telah membuka penutup mata kirinya. Dengan kata lain, Kakashi telah mengaktifkan Sharingannya.

"Apa tidak apa-apa, Kakashi-sensei?" tanya Hinata. Seperti biasa dia memang selalu kasihan melihat orang yang sudah tak berdaya, meski itu musuh sekalipun.

"Tak apa-apa, jaga-jaga saja" kata Kakashi masih menatap ketiga bandit tersebut, "Kalian tau kan bagaimana sulitnya menemukan mereka? Kalau mereka melarikan diri, bisa susah nanti"

"Benar juga sih" Kiba setuju, "Apa lagi untuk menemukan mereka, kita perlu waktu satu minggu. Aku benar-benar tidak menyangka" lanjutnya.

"Apa boleh buat, bahkan Anbu saja kesulitan menemukan persembunyian mereka" kata remaja berkacamata itu masih dengan ekspresi datar.

Misi team 8 adalah menangkap para ninja bandit tadi. Perlu waktu seminggu bagi mereka untuk mencari informasi dan menemukan tempat persembunyian tiga bandit itu. Dari kemampuan bertarung mereka, bisa di simpulkan kalau bandit-bandit itu mantan jounin dari desa kampung halaman salah satu anggota Akatsuki, Deidara.

"Baiklah..." Kakashi menutup kembali Sharingan-nya, kemudian berbalik.

"Anbu akan datang dan membawa mereka ke Konoha untuk proses lebih lanjut"

"Dengan ini, aku nyatakan misi team 8, selesai!"

.

.

.

"Maafkan aku Hinata..."

"Karena aku sudah..."

"Hinata...?"

"Eh..." suara itu membuyarkan lamunan Hinata, peristiwa yang hampir sama seperti ketika ia berda di rumah makan kemaren. Hanya saja kali ini yang empunya suara adalah Shino.

"Kau tidak apa-apa, Hinata?" tanya Shino datar. Meski sebenarnya nada datar itu tetap mengandung kekhawatiran.

Mereka berdua sedang dalam perjalan ke penginapan, mereka baru saja makan malam di salah satu kedai di kota kecil itu. Karena misi cukup menguras tenaga, Kakashi memutuskan untuk kembali keesokan harinya setelah selesai misi.

Hinata dan Shino berjalan berjalan beriringan. Sementara Kakashi agak jauh di depan mereka, sedang membicarakan sesuatu dengan Kiba-juga Akamaru di sampingnya-.

Kembali ke Shino dan Hinata. Shino masih menatap Hinata, mengharapkan sebuah kejujuran dari mulut gadis Hyuuga itu.

"Mm..." Hinata mengangguk, "Aku tidak apa-apa kok, Shino-kun"

Hinata tersenyum, setidaknya itulah yang coba ia lakukan. Tetapi yang ada di sampingnya sekarang adalah Shino. Seseorang yang jarang menunjukan ekspresinya, tetapi sangat ahli membaca ekspresi orang lain.

"Kau tau kalau kau tak bisa membohongiku kan, Hinata" meski Shino tidak menampakan emosinya, Hinata bisa tahu kalau rekan seteamnya yang juga sahabat baiknya itu kini menatapnya serius. Hinata bisa merasakan perubahan sikap Shino yang tiba-tiba itu.

'Kau tidak bisa tidak menjawab pertanyaanku, Hinata' mungkin itulah yang ingin Shino sampaikan pada Hinata, dan gadis itu sepertinya juga mengerti itu.

"Ti... Tidak ada apa-apa kok, a..aku baik-baik saja" Hinata coba mengelak. Tapi ber acting di depan Shino bukanlah pilihan tepat.

"Sudah kubilang kau tidak bisa membohongi ku, Hinata" entah kenapa kali ini nada bicara Shino agak lain, mau tak mau ini membuat Hinata makin terpojok.

"Apa yang kau pikirkan Hinata?" tanya Shino sekali lagi.

"A...ku aku tidak apa-apa Shino-kun?" suara Hinata agak bergetar, namun masih mencoba menyembunyikannya dari Shino. Sepertinya Hinata belum siap bila harus membicarakan tentang hal yang sedang ia pikirkan.

"A... Aku..."

"Berhinti menyembunyikannya dariku Hinata," Hinata tersentak, Nada bicara Shino berubah. Dan saat Hinata mendongak, dia dipaksa tercengang atas apa yang dilihatnya. Sesuatu yang belum pernah Hinata lihat sebelumnya.

"Aku menghawatirkanmu..."

Shino, memperlihatkan emosinya.

"Shi... Shino-kun...?"

TBC…


.

.

.

Sebelumnya saya minta maaf karena telat update. Jadwal ulangan saya benar2 full (besok bahkan saya harus try out pula), sabtu kemaren baru selesai ulangan jadi baru bisa sekarang. Jadi sekali lagi saya mohon maaf.

Saya sangat-sanagat berterima kasih kepada kalian yang sudah mau membaca fict saya, Yang review juga…

Pokoke thanks berat…^^

Balesan buat yang ga login…

aguz vidiz namikaze: makasih friends…

Ind: hehe.. gomen ya, review lagi^^

Uzumaki Panda: hei juga..^^ ni lanjutannya, review lagi ea..

Shaniechan: hehe, gomen ya.. ni dah di update..

Dani no Baka kuler lugin: thanks bro… ni dah di update…^^

titania jellal: 3 ^^

yang login silahkan cek inbox masing2…^^ saya bales lewat sana…

OKE… UDAH DULU.. MW DUKUNG INDONESIA LAWAN FHILIPINE NIH…

MOHON REVIE LAGI…^^