DATE SURVIVAL

-Date or Die-

Game 3: DART!

"Clasp!" anak panah yang dilemparkan Ginji tepat mengenai boneka monyet di samping boneka tere panda yang mengingatkan Ban pada Shindo si Master of Beast. Ban hanya tersenyum pahit melihat Ginji yang dikelilingi gadis-gadis cantik berkostum kelinci sexi yang mengikutinya sejak atraksi menembak. Seperti peribahasa kucing kuno, yang imut dan menggemaskan adalah yang berkuasa (by MeWTh).

"Wah~ Gin-chan hebat sekali…" para gadis memuji Ginji yang tak pernah meleset dari 30 kali kesempatan. Ginji hanya tertawa dengan polosnya. Bagaimana dengan Ban? Dia jadi makhluk terlupakan, mirip penjaga gerbaang di kuil Shinto. Mungkin mukanya akan tetap seperti setan cemberut selamanya kalau saja tidak melihat seorang/ sesuatu datang melewatinya.

"SHAAAT! CLAPP!!"

Sebuah pisau melayang, melintas di depan wajah Ban, melewati bahu Ginji, dan menancap pada boneka tere panda yang berada tepat di seberang ginji yang sudah berubah jadi Tere Ginji. Para gadis terpana pada sosok yang baru saj melempar pisau itu. Lalu tanpa diminta memberikan jalan padanya dengan iringan mata yang berubah jadi hati. Membuktikan satu lagi peribahasa kucing kuno. Tapi yang imut selalu ditindas sama yang cool keren dan sadis, (BY: MeWTh).

"Selamat siang Midou Ban,,, Amano Ginji-chan." Sapa Akabane ramah tanpa lupa menekankan keramahan pada nama Ginji. "Ah, nona… apa yang itu sekarang jadi milikku?" Tanya Akabane pada nons penjaga stand sambil menujuk kea rah tere panda yang memakai rambut pirang dan kepalanya nyaris copot karena robek oleh pisau yang di lempar Akabane. Tare panda yang similar banget dengan Tere Ginji. Membuat empati Ginji, merasa kalau suatu saat dirinya akan bernasib sama dengan boneka tere Ginji itu.

"Heee… Kau kencan dengan maniak ini ya?" ejek Ban pada Himiko yang muncul tak lama setelah Akabane mengambil tere pandanya. Ginji yang menyusut mundur perlhana, tanpa melihat ke arah Akabane sama sekali dan beringut bersembunyi pada Ban.

"Seenaknya! Kami dapat info kalau targetnya ada di sini tahu!" jelas Himiko setengah berteriak. "Kau sendiri?" Himiko memandang kesal kea rah gadis-gadis berkostum kelinci seksi yang baru saja beranjak pergi. Mengejar cewek seksi lagi ya? Begitulah kira-kira arti pandangan Himiko yang menuduh pada Ban.

"Sama dengan kalian. Kami juga dengar target ada di sini." Jawab Ban sembari menyingkirkan tere Ginji mode ketakutan yang nemplok di kepalanya seperti kutu. "Ya… sambil main-main sedikit sih…"

Himiko tersenyum. "Cukup menyenangkan ya… kita bisa bekerja sama untuk pekerjaan kali ini" Himiko mengakuinya dalam hati, dia sangat senang bekerja bersama Ban.

Mata Ginji terbelalak saat mendengar perkataan Himiko. ":Tung-Tunggu dulu Ban-chan…" Mata Ginji berkaca-kaca layaknya balita tanpa dosa yang tak tahu apa-apa. Dia melihat bergantian pada Ginji dan Himiko. "Apa maksudnya kerja sama?"

Ban & Himiko dalam satu kesatuan nada dan suara menjawab. "Karena klien dan targetnya sama."

Tere Ginji kehilangan warna, putih pucat. Lalu dengan suara engsel pintu karatan, lehernya yang kaku bergerak . Ginji menoleh kea rah Akabane dan mendapatkan senyum maut dari sang penjagal. Maut dalam arti sebenarnya.

"Mohon bantuannya ya… Amano-san ".

Aku akan mati, Ban-chan.

Continued…

a/n: Poor Gin-chan. Sepintas lalu ini seperti double date, dengan adanya akabane mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai double dead (?).

Next: The true date, new character.

Game 4: Korsel

Ps: Mew langsung posting 2 Chapter untuk memperingati hari ulang tahun Nee-chan.

HAPPY B-DAY NEE-CHAN!!