One Night Stand [REMAKE]

Story belong to Chantiqe

GS for uke

KAISOO~

.

.

.

.

6 bulan kemudian

Jongin mencoba bangkit dari ranjang, dunia berputar di kepalanya. Hidupnya memang tidak pernah lepas dari alkohol, untungnya ia bukan alkoholic. Jongin menyingkirkan kaki perempuan-perempuan yang menimpanya. Mereka tidak bercinta, entah mengapa Jongin tidak bisa bercinta dengan Jessica. Jongin takut dirinya sudah tumpul sebagai laki-laki. Tapi jika memikirkan Kyungsoo, gairahnya melesat bagai peluru. Setelah pertemuan mereka yang tidak menyenangkan terakhir kalinya, Jongin berkali-kali mencoba mencari Kyungsoo tapi nihil, akhirnya ia memutuskan untuk melupakan Kyungsoo. Tapi sepertinya sangat sulit. Bayangan Kyungsoo selalu membuntutinya kemanapun.

"Jongin…" Lenguhan Jessica membuyarkan lamunannya. Gadis itu bangkit dan mulai menggesek-gesekkan tubuh telanjangnya pada punggung Jongin.

"Bagaimana kalo kita mencoba lagi sayang, kemarin kau terlalu mabuk untuk bercinta…" Rayuan selembut sutra berusaha menghipnotis Jongin. Jongin melumat bibir Jessica, mencoba menyenangkan gadis itu. Tapi bayangan Kyungsoo muncul tanpa bersalah di otaknya. Jongin tersentak, menarik diri dari Jessica.

"Maaf Jessica, aku tidak bisa. Jongdae sudah menungguku di lobi." Jongin bangkit menuju kamar mandi, tidak memperdulikan protes yang keluar dari mulut wanita yang sudah ia kencani selama sebulan ini.

Ketika keluar dari kamar mandi, Jessica belum juga berpakaian. Ia duduk dan memandang Jongin dengan wajah penyihir. Lagi-lagi Jongin mengacuhkannya. Ia memakai celana panjang, kemeja dan jas layaknya tidak ada orang lain selain dirinya di kamar.

"Aku sudah memesan kamar ini untuk waktu yang tidak ditentukan. Tapi jika kau merasa bosan, kau boleh pergi sesukamu sayang." Jongin mengecup bibir Jessica kemudian melangkah pergi. Berjanji dalam hati akan mengirimi Jessica hadiah mewah untuk menghilangkan rasa kecewanya.

.

.

.

Di lobi hotel Jongdae sudah menunggunya. Jongin memberikan sedikit isyarat dan mereka berdua akhirnya duduk di café hotel ditemani segelas kopi dan sandwich.

"Ini berkas-berkas yang harus kau pelajari." Jongdae melemparkan setumpuk dokumen di hadapannya. Jongin sudah mempelajari draftnya, yang ia lakukan hanya menandatanganinya.

"Kau membuat teman kencanmu kecewa lagi?" Tanya Jongdae. Jongin menggedikkan bahu. "Apa kau brubah jadi homo?"

"Tutup mulutmu Jongdae, aku masih normal. Dan akan terus begitu!"

"Jadi cerita padaku, jangan katakan karena masalah keluarga. Satu-satunya yang menjadi masalah keluargamu hanya sifat keturunan kalian yang keras kepala."

"Aku tidak akan mengucapkan itu. Aku baru mengatakan, sudah 6 bulan ini aku tidak bercinta dengan perempuan dan itu membuat emosiku labil." Jongin meneguk kopinya. Jongdae tersedak oleh kopinya.

"Apa?" Jongdae membelalak. "Kau mempunyai kelainan?"

"Entahlah." Jawaban yang benar-benar jauh dari pertanyaan. Mungkin kelainan karena Kyungsoo, Kyungsoo Syndrome. Tanpa mengucapkan apapun Jongin pergi setelah membubuhkan tanda tangan pada dokumen yang diberikan Jongdae padanya. Samar-samar mendengar gelak tawa dari Jongdae.

Suasana hiruk pikuk di Century membuat Kyungsoo pusing. Siwon sang milyuner dunia akan berkunjung secara terbuka. Semuanya harus disiapkan sebaik mungkin. Kyungsoo harus menyiapkan tulisan-tulisan yang sudah akan segera terbit, temannya Irene sibuk dengan laporan Century selama dua tahun terakhir. Kyungsoo sudah mencari nama itu di google, dan yang keluar adalah wajah pria tua yang dingin. Yang kini sepertinya sudah menunggu di ruang meeting, Kyungsoo tidak terlalu yakin. Untungnya ia bukan salah satu pejabat Century jadi dia tidak perlu menemui pria itu. Jonghyun beberapa kali keluar masuk ruangannya dengan peluh bercucuran.

"Dia pria gila! Aku benar-benar ingin membunuhnya!" Keluh Jonghyun. Jonghyun yang selalu terlihat riang dan optimis, sekarang terlihat berantakan. Kyungsoo sempat menyukai Jonghyun saat pertama kali memasuki Century. Jonghyun pria tampan denga kulit putih bersih dengan usia pertengahan 30. Tapi melihat tunangan Jonghyun yang hampir mirip dengan Sehun. Kyungsoo menelan kembali ketertarikannya.

"Dia pemiliknya, dia berhak membuat para karyawan depresi karena dengan itu ia menjadi kaya raya seperti sekarang."

"Bukan tuan Siwon yang membuatku jengkel tapi asistennya!" Jonghyun menutup wajah dengan kedua tangannya dan bersandar pada sofa.

"Aku bukan hanya pemimpin redaksi, tapi juga redaktur pelaksana, bisa kau bayangkan itu! Kita benar-benar kekurangan tenaga dan si brengsek Dongsuk sama sekali tidak peduli!"

Kyungsoo tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membantu, mengajukan diri sebagai redaktur pelaksana? Kemampuannya belum setinggi itu. Menjadi staff editor saja sudah membuatnya pusing. Tapi akhirnya Kyungsoo membuat dirinya berguna untuk Jonghyun walaupun sedikit.

"Kau mau kopi? Aku akan membelikannya di depan."

"Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan tanpamu Kyung… aku benar-benar memerlukan segelas kopi panas."

"Sepuluh menit lagi."

Kyungsoo mengenakan jaketnya dan berjalan menyebrangi gedung Century menuju coffe shop.

"Kyung kau mau sesuatu?" Tanya penjaga coffe shop seperti biasa, remaja kuliahan yang kerja part time dan lumayan kenal dengan Kyungsoo karena Kyungsoo merupakan pelanggan yang sering berkunjung.

"Mocca latte dan capucino. Capucino untuk Jonghyun." Kyungsoo menekankan.

"Okay… capucino less sugar dan mocca latte special untukmu." Sementara pegawai itu menyiapkan minuman untuknya, Kyungsoo menunggu dengan sabar. Samar-samar ia mencium parfume Jongin, wangi parfume yang tidak pernah bisa ia lupakan. Sudah enam bulan lamanya sejak terakhir kali ia bertemu dengan Jongin. Enam bulan tersiksa dengan bayangan Jongin yang selalu menari-nari di kepalanya. Enam bulan penuh hasrat mendamba Jongin di ranjangnya. Enam bulan penuh kerinduan pada Jongin.

"Kyung…" Pegawai caffe menggerakkan tangannya di depan wajah Kyungsoo yang mematung.

"Oh! Sorry." Kyungsoo mengambil dua gelas kopi dan memberikan beberapa lembar uang. Kyungsoo membalikkan tubuhnya. Sosok Jongin menghalangi langkahnya. Mengenakan stelan jas resmi yang membuatnya terlihat gagah, berkelas dan berkuasa. Kyungsoo menempelkan gelas kopi pada wajahnya. Panas! Ini bukan mimpi. Jongin seperti ada dan tiada. Seperti fatamorgana disiang hari. Jika memang ia sungguhan bukankah seharusnya ia berbicara. Tapi Jongin berdiri seperti patung yang dipahat sempurna dengan ketampanan dewa Yunani.

"Kyungsoo…" Dia bicara! Suaranya masih sama. Suara berat pria, merdu bagai iblis yang merayu. Kyungsoo menahan nafas, kemudian menghembuskan dengan berat.

"Jongin."

"Apa… apa… yang kau lakukan di sini." Jongin seperti melihat hantu disiang hari, dan bukan itu yang Kyungsoo harapkan.

"Membeli kopi." Kyungsoo mengacungkan kopinya.

"Aku tahu ini coffe shop. Maksudku apa yang kau lakukan di daerah ini, kau tinggal dekat sini?"

"Kantorku di depan, dan sepertinya aku juga harus menanyakan pertanyaan yang sama dengamu."

Jongin menoleh dan menatap gedung kecil milik century. "Kau bekerja di century?"

"Yah begitulah. Sekarang aku harus pergi, atasanku menunggu kopi ini." Kyungsoo kabur secepat mungkin, takut pingsan di depan Jongin. Jongin karena dilanda keterkejutan juga hanya bisa mematung dan menatap punggung Kyungsoo yang kemudian menghilaang di balik gedung Century.

Pertemuan pertama setelah enam bulan. Tubuh Kyungsoo masih bergetar, untungnya Jonghyun tidak memperhatikannya. Jonghyun masih saja sibuk menggerutu tentang atasannya yang baru. Berkali-kali Kyungsoo melirik ke jendela, mengintip apakah Jongin masih berada di coffe shop. Satu lagi yang ia sesalkan, penampilannya sangat jauh dari kata layak. Rambut singa berantakan, kemeja longgar yang membuat tubuhnya terlihat dua kali lebih besar, diperparah jeans kumal yang sudah memudar. Kyungsoo merasa sangat buruk dan Jongin laksana dewa sangat tampan dan mempesona. Mungkinkah Jongin menyesal becinta dengannya. Walaupun Jongin terlihat terkejut, tapi pria itu sama sekali tidak berusaha mengajaknya bicara atau mengejarnya. Lagipula apa yang ia harapkan bukankah ia hanya seorang wanita jalang. Mengingat itu hati Kyungsoo seolah diremas. Emosi sesaat yang berakibat fatal.

"Kyungsoo sayang… penahkah kau mendengar? Orang-orang yang sering melamun akan meninggal lebih cepat." Suara Jonghyun mengalun di telinga, seakan-akan suara itu jauh. Tapi wajah Jonghyun yang dekat mengagetkan Kyungsoo.

"Maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu."

"Apakah aku ada di dalamnya?"

"Tentu saja! Aku memikirkan bagaimana membantumu untuk menyenangkan atasan kita yang baru." Kebohongan yang tersusun rapi tapi sangat terlihat.

"Jangan menjilatku Kyung. Sekarang selesaikan pekerjaanmu, lusa majalah harus siap dicetak!" Perintahnya. Secepat kilat Kyungsoo keluar dan menyiksa diri, tenggelam oleh ratusan huruf dan kata-kata. Sampai akhirnya waktu memperbolehkan Kyungsoo untuk pulang. Kyungsoo tidak benar-benar pulang. Ia menerima pesan dari Baekhyun untuk bertemu di bar. Bar yang sudah menjadi kewajiban mereka bertemu setiap kamis malam.

"Aku sudah memesan soda dan kentang panggang untukmu." Ucap Baekhyun begitu melihat bayangan Kyungsoo. Baekhyun tengah sibuk mempercantik dirinya dan mengoleskan lipstick berwarna merah sensual. Seperti biasa Baekhyun terlihat sangat cantik.

"Aku masih tidak percaya kau memakai pakaian kumal seperti itu dan heloo…!" Baekhyun mengibaskan tangannya. "Apa yang terjadi dengan make over."

"Make up membuat wajahku berat." Kyungsoo menggigit kentangnya dengan penuh perasaan. Diet yang ia jalani benar-benar menyiksa.

"Tapi setidaknya kau bisa memakai semua pakaian yang aku belikan untukmu."

"Yang kau belikan dengan uangku, tapi sayang semua pakaian itu ukuran M." Kyungsoo mendengus kesal, tidak ada satupun yang muat dengan dadanya.

"Tentu saja ukuran M, untuk 'motivasi'.."

"Aku tidak akan bisa mengecilkan dadaku Baek kecuali aku operasi."

"Aku tidak mempermasalahkan dadamu yang besar, tapi sayap yang ada di punggungmu!"

Kyungsoo tidak bisa menjawab, lemak pada punggungnya menambah lingkar dadanya. Kyungsoo meringis.

"Maaf Kyung. Aku bukan dengan sengaja membelikanmu ukuran M, aku melihat tubuhmu tidak terlalu besar aku hanya bercanda, berikan padaku aku akan menukarnya."

"Kau bisa mengambilnya di apartemenku." Sahutnya singkat kemudian meneguk sodanya. Baekhyun mengoceh sendiri, bentuk tubuh, make up, aksesoris dan bla… bla… bla…

"Lalu apa yang terjadi dengan wajah dan lamunanmu itu?" Kyungsoo tersentak, sudah beberpa orang memergokinya melamun. Dan Baekhyun adalah pencari informasi yang ulung, karena memang pekerjaannya adalah pembawa berita yang sering mewawancarai tokoh-tokoh terkenal.

"Aku melihat Jongin…" ucapnya tertunduk, bahkan jantungnya berdetak hanya mengucapkan namanya.

"Jongin? Jongin siapa? Apakah aku pernah mewawancarainya?"

"Tidak lucu Baek!"

"Kalian bercinta lagi?"

"Kecilkan suaramu! Aku hanya kebetulan bertemu di coffe shop, hanya itu."

"Lalu apa yang terjadi?"

"Tidak ada, hanya saja aku cukup shock. Aku bertemu dengannya dalam keadaan yang tidak indah." Sekarang Kyungsoo bisa merasakan perasaan Krystal yang selalu bertemu Youngjae dalam keadaan yang tidak… tidak… keren.

"Itu salahmu!"

"Aku sedang tidak ingin disalahkan!"

"Baiklah aku akan diam. Tapi dia benar-benar tampan dan tubuhnya sangat seksi. Aku berani melakukan apapun untuk bisa melakukan seks dengannya." Mata Baekhyun menerawang dan senyum nakal terlihat di wajahnya.

"Kalau kau menginginkannya silahkan dekati dia. Aku tidak keberatan. Tapi jujur aku tidak tahu nomer teleponnya ataupun rumahnya." Tapi mengapa seperti ada bangunan runtuh menimpa dadaku jika aku membayangkannya.

"Tidak masalah. Aku hanya perlu tahu nama keluarganya dan aku akan melacaknya."

"Terserah padamu." Sahut Kyungsoo sakit hati.

"Kyung kau tahu apa yang disebut takdir dan jodoh?" Tanya Baekhyun kemudian. Matanya mengarah pada sudut bar.

"Katakan saja apa maksudmu."

"Apakah pria yang duduk di sudut adalah Jongin, atau hanya ilusiku saja." Kyungsoo mengikuti pandangan Baekhyun dan benar saja. Pria itu tengah bicara dengan pria yang tidak kalah tampan. Jongin terlihat santai dengan jeans dan kemeja. Entah apa yang mereka bicarakan, Jongin sesekali tersenyum dan tertawa. Senyuman yang menggetarkan hati dan taktala pandangan mereka bertemu, jantung Kyungsoo berhenti berdetak. Mereka saling berpandangan. Tapi kemudian Jongin bangkit dan menghampiri mereka.

"Kyungsoo…" Ucapnya. "Kejutan melihatmu di sini…" Tanpa dipersilahkan, Jongin mengambil tempat di depan mereka.

"Aku juga tidak menyangka melihatmu di sini." Sahut Kyungsoo. Baekhyun menendang-nendang kaki di bawah meja. "Kenalkan temanku Baekhyun."

Jongin melirik perempuan yang berada di sebelah Kyungsoo. Mereka berdua bagaikan langit dengan bumi. Kyungsoo dengan penampilannya yang polos dan Baekhyun bagai singa betina yang akan menangkap mangsa. Tatapan Jongin pada sahabatnya ditanggapi berbeda oleh kepala Kyungsoo. Kyungsoo merasa aura Baekhyun lagi-lagi menghempaskannya. Bahkan Jongin takjub melihat Baekhyun.

"Jongin." Jongin mengulurkan tangannya.

"Baekhyun." Baekhyun mulai menunjukkan pesonanya. Sebentar lagi Jongin akan tunduk di bawah kaki Baekhyun, Kyungsoo berani bertaruh satu bulan gajinya.

"Sepertinya aku pernah melihatmu." Obrolan basa basi yang pasti akan diucapkan pria ketika melihat Baekhyun.

"Aku pembawa kau pernah menonton program yang kubawakan." Ucap Baekhyun dengan gerakan menggoda.

"Aku rasa…" Jongin mengangguk-angguk. "Jadi Kyungsoo bersahabat dengan seorang selebritis." Ada nada kagum dalam kata-kata Jongin dan disinilah Kyungsoo akan menjadi asbak yang selalu menerima abu dan terkoyak-koyak oleh api rokok.

"Oh kau terlalu memuji Jong, acaraku hanyalah acara debat berita. Aku hanya seorang pembawa berita." Mereka berbincang-bincang seolah Kyungsoo tidak ada di antara mereka. Kyungsoo hanya tidak tahu, Jongin sedang menyusun kata-kata untuk memulai pembicaraan. Tidak tahu saat ini Jongin nyeri menahan gairahnya yang besar.

"Pembawa berita yang sangat pintar. Aku sering melihat bintang tamu bingung menjawab pertanyaan-pertanyaamu." Jongin hanya menatap Baekhyun, ia takut tidak bisa mengendalikan diri jika menatap wajah cantik Kyungsoo.

"Hanya dua kemungkinan Jong, aku memang pintar atau mereka yang terlalu bodoh." Timpal Baekhyun dan mereka berdua tertawa. Kyungsoo benar-benar merasa seperti kambing bodoh. Dan ia tidak mau lebih terlihat bodoh lagi.

"Baekhyun… Jongin…" Seperti ada batu besar mengganjal tenggorokannya, Kyungsoo berusaha berbicara seriang mungkin. "Aku sepertinya harus pergi…"

Jongin mengernyit tidak suka, dan Baekhyun berteriak yes di matanya.

"Tapi kenapa Kyung? Bukankah ini kamis malam?" Tanya Baekhyun penuh sandiwara penyesalan.

"Sehun menunggu di apartemenku." Sahut Kyungsoo.

"Oh baiklah… sampaikan salamku pada Sehun." Ucap Baekhyun, Kyungsoo mengangguk dan berbalik pergi. Tidak mau menatap Jongin lebih lama. Tidak mengetahui rahang Jongin mengeras dan matanya yang berubah menakutkan ketika mendengar nama Sehun.

Kyungsoo berjalan dalam hujan, sungguh dramatis. Bahkan hujan turun disaat ia tidak membawa mobil jeleknya. Kyungsoo merasa seperti Rachel* yang membiarkan Darcy mengambil Dex darinya. Berjalan ditengah hujan dan Dex tidak mengejarnya. Lagipula mengapa Dex harus mengejarnya, bukankah Rachel disini hanya seorang wanita murahan sedangkan Darcy adalah perempuan dengan kecantikan aprodite dan pekerjaan yang membanggakan.

TBC

.

.

*film "Something Borrow".

.

.

.

.

Thanks for reading and comment. Maaf tidak ku sebut satu persatu^^

Tapi aku baca semua dan terimakasih karena kritiknya membangun.

Untuk cerita asli bisa baca di www. Wattpad user /Chantiqe (spasi dihapus)

See you next chapter~