My Nerdy Girl

Author: Grace Jung a.k.a Jung Eun Hye

Main Cast:

Kim Jaejoong

Jung Yunho

Support Cast:

Cho Kyuhyun

Lee (Kim) Taemin

Genre: Romance, fluff, school life

Warning: Genderswitch! Adaptasi dari manga 'My Nerdy Girl' karya AIKAWA SAKI

DON'T LIKE? DON'T READ THEN!

LIKE? ENJOY READING^^

.

.

.

Yeoja itu mengenakan sebuah celana beserta jaket training. Tudung jaket yang menutupi kepalanya ditambah posisinya yang membelakangi Yunho membuat Yunho tidak bisa melihat dengan jelas wajah yeoja itu.

Siapa sih dia? Lho, bukannya itu si kutu buku? batinnya begitu dia berhasil menangkap wajah yeoja itu dari samping. Tampak yeoja yang ternyata adalah rivalnya itu tengah menyerahkan sebuah koran pada seorang nenek tua yang masih memakai piyama dilengkapi kardigan.

Sedang apa dia di sini pagi-pagi begini?

.

.

CHAPTER 3

.

.

Pagi ini benar-benar cerah, secerah hati Kim Jaejoong yang tak berhenti tersenyum sedari tadi. Dia sangat lega gelangnya sudah kembali. Sekarang dia tidak perlu lagi berurusan dengan Jung Yunho dan bisa menjalani kehidupannya di sekolah dengan tenang.

Dengan riang dia mulai mengerjakan soal-soal yang ditinggalkan Cho sonsaengnim. Sungguh rajin mengingat bel istirahat baru saja berbunyi.

"Oi, yeoja kutu buku."

Jaejoong tersentak. Dia mendongak dan mendapati sosok yang paling tidak ingin ditemuinya sudah menyamankan diri pada kursi di depan mejanya. Wajah Jaejoong langsung berubah 180°.

...Dia lagi...

Jaejoong memalingkan wajahnya sambil memasang tampang tidak mengenakan, seolah enggan menatap Yunho. "Aku sudah melakukan yang kau minta. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, kan?" ucapnya dingin. Mau apa lagi, sih?! Jangan bikin aku repot, dong!

Yunho langsung keki melihat tingkah Jaejoong dan perkataanya yang tidak bersahabat itu. Sialan! Yeoja ini benar-benar menyebalkan.

Yunho memutuskan untuk mengabaikan sikap Jaejoong. Dia menyandarkan dagu pada tangannya dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Dia tiba-tiba teringat maksudnya mendatangi Jaejoong.

"Tadi pagi kau mengantarkan sesuatu, kan."

Deg. Jantung Jaejoong seakan mau copot mendengar sebuah pernyataan simpel namun mematikan untuknya. Mungkinkah..? Dengan cepat Jaejoong menggeleng-gelengkan kepalanya panik.

"Ka.. kau salah orang! Aku ada di rumah, kok! Ahahaha.. iya aku di rumah!" sangkal Jaejoong sambil tertawa hambar sementara keringat dingin mulai keluar di pelipisnya. Bagaimana bisa Yunho tahu?!

"Aku yakin itu kau," ujar Yunho kekeuh. Wajahnya tampak serius seakan memikirkan sesuatu. "Benda yang kau antar pagi-pagi tadi... hmm... koran kan? Kau jadi loper koran? Tapi kenapa-"

Grep!

Wussshhh

Dengan cepat Jaejoong menarik tangan Yunho dan membawanya keluar kelas. Sepanjang perjalanan Jaejoong terus merutuk. Selesai satu masalah, datang yang lain lagi. Kenapa Yunho mesti melihatnya, sih?!

Mereka berhenti di sudut halaman sekolah yang sepi. Tanpa pikir panjang Jaejoong langsung membungkuk pada Yunho. Biarlah harga dirinya hilang, yang jelas dia harus selamat kali ini. "Kumohon, jangan beritahu sekolah kalau aku jadi loper koran," pintanya.

"Hah?" Yunho tampak bingung. Dia mengurut-urut pergelangan tangannya yang sakit karena ditarik paksa Jaejoong. "Wae?"

Jaejoong mendongak, menatap Yunho dengan mata besarnya yang tersembunyi di balik kacamata tebal. "Karena murid beasiswa dilarang kerja paruh waktu. Kalau sampai sekolah tahu aku bekerja paruh waktu, beasiswaku bisa dicabut. Sedang aku tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah."

"Orang tuamu?"

Jaejoong menunduk. "Ayahku dokter, tapi karena cuma melakukan pekerjaan sukarela dia tidak punya penghasilan. Ibuku sudah tidak ada. Aku harus masuk universitas yang bagus lalu menjadi dokter agar aku bisa membesarkan adik-adikku. Kalau sampai beasiswaku dicabut, aku akan kesulitan."

Wajah Yunho perlahan melembut.

Kenapa...

"Kumohon," Jaejoong membungkuk semakin dalam, matanya terpejam erat. "Kumohon, jangan bilang siapa-siapa!"

Kenapa aku mengatakan hal seperti ini padanya?

"Tidak usah cemas. Aku tidak akan bilang pada siapapun, kok."

Jaejoong membuka matanya, terbelalak kaget. Bukan jawaban ini yang dia perkirakan. Perlahan dia menegakkan tubuhnya, menatap Yunho tak percaya.

Yunho memalingkan wajahnya. Kedua tangannya menyilang di depan dada. "Lagipula, itu bukan sesuatu yang pantas disebarkan pada orang lain kan," ujarnya menambahkan. Dia masih sedikit terkejut dengan pengakuan Jaejoong. Ternyata hidupnya berat juga...

Jaejoong terdiam, terpana dengan Yunho. Dia pikir Yunho akan mengejeknya dan menyebarkannya pada orang-orang...

Diluar dugaan... Dia bisa mengerti..

"Nah," Yunho sekarang menatap Jaejoong dengan tatapan mata yang tak bisa diartikan. Entahlah, tapi tiba-tiba Jaejoong merasakan firasat buruk. "Karena aku mau menjaga rahasiamu, sebagai gantinya bantu aku dekati Youngwoong, oke!"

Mwo?!

"Kita harus take and give, kan?" ucapnya santai.

Jaejoong menggeram kesal dalam hati. Dia tarik kata-katanya tadi! Yunho sama sekali belum menyerah soal Youngwoong. Orang yang hanya melihat wajah memang bukan orang baik. Dia harus hati-hati agar tidak ketahuan atau dia akan dimanfaatkan lagi seperti sekarang.

Kau memang menyebalkan, Jung.

.

.

Berada di sekolah jadi melelahkan bagi Jaejoong. Sungguh. Beberapa hari terakhir ini Yunho terus menerus membututinya dan tanpa henti memberondonginya pertanyaan seputar Youngwoong, Youngwoong, dan Youngwoong. Membuat Jaejoong harus cepat-cepat kabur begitu bel istirahat dan bel pulang berbunyi.

Seperti sekarang ini, Jaejoong berjalan di koridor sekolah sambil menggendong tas di punggungnya, bersiap untuk pulang. Beruntung tadi di kelas Yunho dicegat oleh teman-temannya sesama anggota klub basket, membuat namja itu tidak bisa mengikutinya. Fufufu~

"Eh, Kim Jaejoong? Kebetulan sekali. Kemarilah!"

Langkah Jaejoong terhenti ketika dari arah depan Cho Kyuhyun, guru Matematika, memanggil namanya. Perasaannya mendadak tak enak. Dengan ragu Jaejoong menghampirinya lalu mengikuti langkah namja muda itu menuju ruang arsip.

"Aku ingin kau menyusunnya per bagian," perintah Kyuhyun sambil menunjukkan dua tumpukan kertas tebal di mejanya. Jaejoong melotot.

"Eeh.. menyusun semua ini sendirian? Ta-tapi, aku ada urusan..." Jaejoong meremas roknya gugup.

"Kau murid beasiswa yang mendapat keringanan biaya, kan. Masa membantu begini saja tidak bisa?" tanya Kyuhyun dengan aura intimidasi. Jaejoong menelan ludahnya. Aura evil gurunya yang satu ini benar-benar terasa.

"Nah, kalau sudah selesai bawa ke ruang guru ya!" Kyuhyun menepuk pundak Jaejoong lalu berlalu pergi.

"Ta-tapi.. sonsaengnim..." Terlambat. Kyuhyun sudah menghilang dari pandangan. Jaejoong mendesah lalu menatap lemas tumpukan kertas di hadapannya.

Butuh waktu setengah jam lebih untuk menyusun semua kertas itu walau dengan kecepatan kilat. Kini Jaejoong dengan susah payah mengangkat tumpukan kertas yang menjulang tinggi sampai ke dadanya itu sambil menuruni tangga. Tak lupa dengan terus merutuk.

"Dasar guru bodoh! Untuk pekerjaan yang memakan waktu selama ini setidaknya panggil satu orang lagi, dong! Huh! Mana berat lagi."

Karena cafe pamannya libur, hari ini Jaejoong akan bekerja di pabrik yang bersedia mempekerjakannya. Tapi gara-gara Cho sonsaengnim dan kertas-kertasnya itu sekarang dia jadi terancam terlambat. Hah~ lagi-lagi Jaejoong mendesah.

Kalau ngebut naik sepeda mungkin bisa sampai tepat waktu, pikirnya. Peraturan di tempat itu sangat ketat. Kalau terlambat dia akan langsung dipecat. Hiii~ Jaejoong bergidig ngeri membayangkan itu. Dia mempercepat langkahnya, tapi...

Brukk

Oh, mungkin ini bukan hari baiknya. Di dua anak tangga terakhir kakinya salah melangkah, membuat dirinya sekarang jatuh terjerembab. Dan itu cukup untuk menarik perhatian siswa yang berada di sekitar situ. Walau nampaknya tak ada satupun yang berniat menolong.

"Aduhh~"

Jaejoong berusaha bangun dari jatuhnya. Dia terduduk. Matanya menatap horror kertas-kertas yang berserakan di depannya. Semuanya berantakan. Payah, kalau memungut ini semua sendirian dia pasti terlambat. Ya Tuhan... Jaejoong menunduk sambil meremas roknya. Ingin sekali rasanya dia menangis.

Kenapa... Selalu saja ada masalah...

"Dasar ceroboh."

Jaejoong terkesiap. Dia mendongak dan mendapati Yunho tengah berjongkok di depannya sambil memandangi kertas-kertasnya yang berserakan.

"Aah.. berantakan semuanya nih," komentarnya lalu mulai memunguti kertas-kertas itu satu persatu.

Jaejoong menatapnya tanpa berkedip.

Yunho...

Tapi sesaat kemudian Jaejoong tersadar. Dengan cepat dia memunguti kertas-kertasnya sambil mencoba menghentikan Yunho. "Kau tidak perlu memungutnya! Aku bisa sendiri, kok."

"Hah?" Yunho menatapnya malas. "Sudah bagus aku mau membantumu, tahu!"

"Uh.." Jaejoong memegang erat kertas-kertas di tangannya. Menyebalkan.. Dia tidak mau menunjukkan kelemahannya pada namja di depannya ini lagi. Secepat kilat dia merebut kertasnya dari tangan Yunho.

"Sudah kubilang tidak usah!"

Nyut~

Jaejoong berdiri tapi sedetik kemudian dia meringis. Kakinya terasa sakit. Yunho yang melihat itu hanya mendengus. "Haah.. kau ini.." Yunho berdiri lalu menurunkan suaranya. "Hari ini kau harus kerja, kan? Kalau kau kerjakan sendiri pasti akan terlambat!"

Jaejoong menggigit bibirnya, sedikit gentar dengan ucapan Yunho. Tak mau kalah, Jaejoong malah memalingkan wajahnya. "Akan kuusahakan tidak terlambat! Dengan kemampuanku sendiri!"

Yunho menatapnya tak percaya. Yeoja ini... tidak ada manis-manisnya sama sekali!

Jaejoong berjongkok lalu kembali memunguti kertasnya satu-persatu. Dengan tampang tak enak Yunho mulai menggulung kedua lengan kemejanya. Kata-kata Jaejoong beberapa hari yang lalu kembali terngiang di telinganya.

"...murid beasiswa dilarang kerja paruh waktu."

Dasar, batin Yunho. Dia tidak habis pikir dengan yeoja di depannya ini. "Hei! Kau..." Yunho kembali berjongkok dan menatap tajam Jaejoong. Jaejoong mengacuhkannya. "Ya! Jangan keras kepala! Bergantunglah sedikit pada orang lain, bodoh!"

Gerakan tangan Jaejoong berhenti. Agak shock dengan kata-kata yang diserukan Yunho. Dia balik menatap Yunho diam, tak tahu harus mengatakan apa.

"Terus, berikan kunci sepedamu."

"Wae?" sebuah kata akhirnya keluar dari mulut Jaejoong.

"Apa kau mau mengayuh sepeda sampai tempat kerja dengan kaki seperti itu?"

"Yunho..."

.

.

...Sesuatu yang luar biasa telah terjadi. Apa artinya ini?

"Kau.. Kenapa mau mengantarku?" Jaejoong menyuarakan pikirannya. Sekarang dia tengah duduk di boncengan sepedanya sendiri sementara di depannya duduk Yunho yang mengayun sepedanya. Kedua tangan Jaejoong berpegangan pada seragam Yunho.

"Em, aku tertarik pada orang miskin. Lagipula mulai sekarang aku akan banyak minta bantuanmu," jawab Yunho santai.

Begitu rupanya -_-

"Tapi yang penting kau harus hati-hati supaya tidak cedera. Tubuhmu itu modal kan," nasehat Yunho.

Jaejoong terdiam.

"Istirahatkan kakimu sampai kita tiba di tempat kerjamu."

Sekarang Jaejoong mulai melirik namja yang berada di depannya itu. Lagi-lagi dia dibuat terpana oleh kata-kata Yunho. Jadi itu alasan sesungguhnya Yunho mengantarnya? Jaejoong menunduk. Tanpa sadar wajahnya menghangat.

Sementara di depan tampak Yunho yang tengah memikirkan sesuatu. Kalau Jaejoong bekerja terus seperti ini, kapan belajarnya?

Hah! Tiba-tiba Yunho tersadar. Wajahnya berubah horror. Berarti Jaejoong memang lebih pintar darinya, dong?! Menyebalkan! Sepanjang perjalanan dia terus membatin, aku lebih hebat darinya! Lebih hebat! Lebih hebat! Lebih hebat!

"Kutu buku, ternyata kau berat juga." ceplosnya tanpa dosa.

"MWO?!" Jaejoong shock. "Kurang ajar bicara seperti itu pada yeoja!"

"Hah?! Aku sudah berbaik hati membantumu seperti ini malah dibilang kurang ajar? Dasar!" geram Yunho tidak terima sambil menoleh ke belakang.

"Kau sendiri yang mau, kan. Aku tidak minta kok." balas Jaejoong angkuh.

"Cih! Kau ini memang tidak ada manis-manisnya!" Yunho kembali menghadap ke depan dengan kesal. Bisa-bisanya dia berpikir Jaejoong hebat bahkan sampai simpati padanya! Percuma dia mencoba berbaik hati pada yeoja itu.

"Aaah! Yeoja memang harusnya seperti Youngwoong!" ujar Yunho mulai menerawang. Sementara itu di belakangnya, Jaejoong hanya menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

Yunho-ah, apa kau tahu? Yeoja bernama Youngwoong yang begitu ingin kau temui itu... akulah orangnya, lho.

.

.

Dua hari berlalu sejak insiden jatuh di tangga yang berakhir dengan Yunho mengantar Jaejoong ke pabrik tempatnya bekerja. Dan sekarang tampaknya kejadian itu terulang kembali. Terbukti dengan mereka berdua yang kini tengah berboncengan sambil berdebat.

"Sampai sini saja."

"Tidak bisa!"

"Kubilang sampai di sini saja!"

"Tidak, tidak bisa!"

"Uh!"

Jaejoong benar-benar kesal sekarang. "Kau benar-benar mau mengantarku sampai rumah?" tanyanya menyerah. Yunho meliriknya sekilas.

"Aku tidak mau mengakuinya, tapi memang benar aku yang melempar bola itu," jujurnya. "Kau masih pusing. Kalau kau pingsan di suatu tempat, aku bisa kena masalah. Lagipula dokter UKS menyuruhku mengantarmu."

Haah... Jaejoong menyentuh kepalanya yang agak pusing. Kejadian saat jam mata pelajaran olahraga tadi kembali terngiang di otaknya. Dimana dia yang tengah mengantuk terkena lemparan bola voli hingga pingsan. Dan saat terbangun dia sudah berada di UKS bersama Jung Yunho.

"Padahal kau yang salah karena bengong di tengah pelajaran. Tapi malah aku yang disalahkan!" sungut Yunho tak terima.

"Salahmu tidak bisa mengendalikan bola!" sahut Jaejoong cuek.

"Mwo?!" Yunho menatapnya kesal sementara Jaejoong hanya buang muka sambil bersenandung tak peduli. Yunho menggertakkan giginya lalu kembali menghadap depan. Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan sebuah gedung apartemen tua yang kecil dan tampak tak terawat, menandakan dengan jelas bahwa itu adalah kompleks orang miskin.

"Kita sampai." Jaejoong segera turun dari sepedanya. "Parkirkan saja sepedanya di sebelah kanan gedung," tambahnya lalu mulai melangkah.

"Waah! Tempat tinggalmu keren juga."

Jaejoong menoleh ke belakang dan kaget mendapati Yunho yang dengan wajah polosnya tengah berjalan mengikutinya. "Eh, kau mau ikut sampai mana?"

Yunho menatapnya datar. "Kalau sudah jauh-jauh datang ke sini, tentu saja aku mau lihat bagian dalam rumahmu dong," ucap namja itu seenaknya. Jaejoong yang mendengarnya hanya menggerutu sebal. Dasar tuan muda!

Mereka berdua menaiki tangga menuju lantai dua gedung dan berhenti di depan sebuah pintu kayu bernomorkan 06.

"Aku pulang," ucap Jaejoong seraya membuka pintu.

"Eonni, selamat datang..." seorang yeoja cilik berusia sekitar 10 tahun menyambut Jaejoong. Terlihat keningnya yang tiba-tiba berkerut. "Lho, eonni tidak kerja?" tanyanya bingung.

"Tadi aku pingsan waktu pelajaran olahraga, jadi hari ini aku mau istrirahat dulu," jelas Jaejoong sambil membuka sepatunya. Yeoja cilik itu tampak kaget.

"Eh?! Pingsan?!"

Jaejoong hanya mengangguk. Pandangan yeoja cilik itu kemudian tertumbuk pada sosok Yunho yang sedari tadi berdiri di belakang Jaejoong. Mata musangnya tampak sibuk mengobservasi isi apartemen sederhana itu.

"Orang ini siapa?"

Yunho yang merasa dirinya disebut hanya memasang tampang babo. Sepertinya dia baru sadar ada orang lain selain dirinya dan Jaejoong.

"Oh, orang ini yang menimpukku dengan bola," jawab Jaejoong enteng membuat Yunho yang sudah sadar sikon mendeathglarenya.

"Itu gara-gara kau berdiri bengong di lapangan, tahu!" serunya sewot. Jaejoong mengabaikannya.

"Dia mengantarku pulang karena disuruh dokter UKS," Jaejoong menjelaskan pada yeoja cilik di depannya yang tampak clueless. Matanya terasa berat. Jaejoong berpegangan tangan pada dinding.

"Ooh.."

Aku..

"Eonni, tadi ada edaran..."

Jaejoog tidak bisa menangkap kata-kata selanjutnya. Pandangannya semakin lama semakin blur.

Tidak kuat.. Begitu sampai di rumah, rasa kantukku langsung...

Brukk

Jaejoong terkulai lemas. Untung saja Yunho yang berada di belakangnya segera menangkapnya sebelum Jaejoong mencium lantai. "Oi! Kalau mau tidur di kasur, dong!"

"Eonni suduh tidur," sahut yeoja cilik itu polos.

"Apa?!"

Yunho membalikkan tubuh Jaejoong dan ternyata benar yeoja berkacamata itu sudah terlelap. Yunho menatapnya tak percaya. Yeoja ini sungguh ajaib.

"Aish, kau ini! Sampai kapan mau merepotkanku, sih?" Mau tak mau Yunho menggendong tubuh Jaejoong di punggungnya. Dia lalu menatap yeoja cilik di depannya. "Oi, bocah! Kakakmu mau ditidurkan di mana, nih?"

Yeoja cilik itu mempoutkan bibirnya. "Namaku Taemin. Kamarnya di sini." Taemin lalu menuntun Yunho menuju kamar Jaejoong. Sementara di punggung Yunho, tampak Jaejoong yang menggeliat nyaman.

Hm? Punggung yang besar.. Hangat..

Merasa sedikit pergerakan, Yunho menolehkan wajahnya ke belakang, menatap wajah lain yang terlihat begitu damai.

Aku bisa mendengar dia menggumamkan sesuatu. Waktu itu, juga hari ini.. ada yang aneh. Aku jadi tidak membenci saat aku bersama dengannya. Kenapa ya..?

.

.

.

To be continue...

Sepertinya udah ada yg mulai peduli nih... *lirik-lirik*

Haha.. ne chingu, gimana dengan chap ini? Ada beberapa yg menduga yunpa akan menjadikan fakta 'jae si loper koran' sebagai kunci untuk mengancam jaema supaya ngebantu dia ndeketin youngwoong. Well, memang tidak sepenuhnya ngancam sih, tapi bisa dibilang tebakan chingu benar :D

Soal ending... Karena ini ff adaptasi, cerita secara keseluruhan akan sama persis dengan manganya..

Dan kalo ga salah ada yg nanyain seputar nama youngwoong ya? Youngwoong tu setahuku adalah bahasa korea dari Hero. Jadi Hero Jaejoong sama dengan Youngwoong Jaejoong, begitu chingu^^ (kalo ga salah sih, hehe ;p)

Oke deh, semoga chap ini berkenan. Gomawo para readers dan reviewers atas kesediaannya untuk membaca dan memberikan komentar :)

review lagi, please?