Broh! Ngebut nih..

Chanyeolnya juga jadi uke..

.

Selamat membaca dan semoga suka

.

Yixing langsung menelan ludahnya sendiri dengan terperangah. Oh! Sial! Ayahnya memang gila. Otot doang yang digedein, otaknya enggak.

"Kalian melakukannya dimana?!" Ulang Yixing dengan ekspresi berlebihan.

Yixing dan Chanyeol tengah duduk bersila di ranjang Yixing. Kadang akan ada anak yang bertanya bagaimana orang tuanya bisa bertemu, termasuk Yixing. Tapi yang ini serasa ada yang janggal.

"Di atap rumah sakit." Jawab Chanyeol.

"Malam-malam?" Yixing terperangah. "Gak dingin?"

"Mana kepikiran," keluh Chanyeol sambil menoyor kepala Yixing.

Dan si Yixing ini malah guling-guling di kasur sambil mengerang frustasi. Mungkin dia kaget ternyata ayahnya memang bejat. Chanyeol jaga hanya menatap Yixing yang berguling-guling sambil memangku dagunya dengan telapak tangan kanannya. Harusnya kan Chanyeol yang guling-guling karena mengingat peristiwa tak menyenangkan.

"Aneh ya?" Tanya Chanyeol yang mulai pusing dengan aksi guling-guling Yixing.

"Iya, aneh.." gumam Yixing yang akhirnya menghentikan aksi tidak petingnya. Yixing masih tiduran sambil mendongak karena posisi Chanyeol ada di dekat kepalanya. "Ayahku sudah memperkosamu dan kau malah jatuh cinta pada ayahku."

"Hah! Jangankan kau! Aku saja masih bingung." Sambung Chanyeol dengan suara berat andalannya.

Namun obrolan mereka terputus karena seseorang yang terus mengedor kamar Yixing dengan brutal. Sengaja Yixing kunci kamarnya supaya tidak ada seseorang yang masuk dengan seenaknya. Terutama pria tak bermoral macam salah satu penghuni rumah. Sang Ayah.

"Yixing! Kalian ngapain?!" Serunya dengan nada murka masih sambil menggedor pintu dengan pola kacau. "Chanyeol punya ayah!"

Yixing meringis mendengarnya sedangkan Chanyeol malah menjambak rambut dengan nada frustasi. Tuhan~ ayahnya memang memalukan.

.

.

Kita panggil saja dia Tuan Zhang atau Zhang. Si Zhang alias ayahnya Yixing itu memang bekerja sebagai pembuat obat. Dia tentu bekerja di salah satu perusahaan farmasi dan hal itu yang membuatnya kenal dengan beberapa dokter. Kalau Yixing nyentrik salahkan saja ayahnya itu. Dulu si tuan Zhang ini suka sekali minum-minum beer kadang sampai mabuk di atap rumah sakit.

Saat Zhang tengah meminum beernya yang entah keberapa. Seorang pria dengan rambut sedikit ikal tampak berdiri ditempat yang sedikit ekstrim. Di dorong dikit pasti langsung jatuh. Tapi tinggi rumah sakit ini tidak seberapa, paling hanya patah tulang. Ide iseng itu datang. Si tuan Zhang yang sedikit mabuk itu malah mendorong tubuh pria yang masih memakai seragam.

Oh! Tuan Zhang tidak setega itu hingga menjatuhkannya, tangannya yang lain melingkar di perut siswa itu untuk menariknya menjauh dari tepi atap. Siswa itu tidak menjerit tapi sontak meremas tangan yang memeluk perutnya dengan tangan bergetar. Wajahnya bahkan berubah pias seolah darah kabur dari kepalanya.

"Masih mau bunuh diri?" Tanya pria setengah mabuk itu dengen berbisik. Masih dengan tangan merengkuh tubuh Chanyeol dari belakang. Sekilas tadi ia bisa melihat name tage yang tersemat diseragamnya. Park Chanyeol. Karena Chanyeol masih saja diam. Akhirnya pria itu menjambak rambut Chanyeol hingga Chanyeol mendongak dan si Zhang ini malah menggigit pelan leher Chanyeol dengan kesal. "Kau mau lari dari apa?"

Yixing menganga mendengar cerita Chanyeol. Selama hidupnya ia tidak pernah di pukul bahkan dijambak atau digigit oleh ayahnya. Memang ayahnya itu keturunan vampir, pake gigit-gigit segala pula. Kalau dijewer pernah.

"Iya, tapi kan dulu kau yang menghajar ayahmu sendiri."

Yixing langsung cengengesan dan kembali mendapatkan toyoran di kepalanya.

Seingat Chanyeol. Itu merupakan ingatan tergila dalam hidupnya. Ia diperkosa atau tepatnya disodomi oleh seorang pria mabuk. Parahnya pria itu tidak puas hanya di atas atap rumah sakit. Pria itu menyeret tubuhnya untuk mengikuti pria mabuk yang bisa menipulasi diri agar tidak terlihat mabuk ke sebuah motel dekat rumah sakit. Tamparan pukulan dan cambukan. Itu memang menyakitkan. Tapi memang Chanyeol yang memohon untuk dihukum.

"Rasa bersalah itu menumpuk menjadi satu," gumam Chanyeol sambil menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku sadar jika aku yang meminta seorang pria yang tengah mabuk untuk memukulku," Chanyeol mengerti Yixing tidak akan mengerti dengan maksudnya. "Tapi setelah peristiwa itu terjadi ayahmu selalu mengejarku."

"Untuk apa?"

"Untuk meminta maaf," kali ini ayahnya yang menjawab dari balik pintu. Kamarnya memang tidak kedap suara dan rupanya si ayahnya itu memilih diam untuk menguping. "Kau tahu Yixing, sejak dulu aku merasa aku lahir untuk menyukai pria juga."

"Bagaimana dengan ibu?" Jujur Yixing sedikit sakit hati mendengarnya. Meski ayah dan ibunya selalu bertengkar tapi kan ia lahir karena mereka sempat melakukan hal macam berpelukan berciuman dan apalah itu..

"Dia wanita yang aku sayangi." Ucap ayahnya dengan pelan. "Sama seperti aku yang menyayangimu."

Yixing sontak membulatkan mata dan mulutnya. Ayahnya itu kasar dan mendengar kata-kata macam itu malah membuatnya hampir meledakkan tawanya. Soalnya Yixing beneran merinding saat mendengar kata 'sayang' keluar dari mulut ayahnya sendiri. Tapi Yixing yang terkikik malah membuat Chanyeol tertawa. Sebenarnya tertawa pelan tapi suaranya terlalu ngebas.

"Chanyeol kau tertawa?" Tanya si Zhang itu dengan nada lumayan kelam. "Mau dihukum?"

Chanyeol langsung membulatkan matanya tidak terima, tapi Chanyeol tidak berani protes. Dan tawa Yixing pecah saat Chanyeol dengan kesal memarahi Yixing tanpa suara.

Chanyeol seperti dikirimkan seorang penyelamat meski dengan cara yang mengesankan. Mengesankan untuk membuat Chanyeol menghajar balik ayah Yixing.

"Kau tahu, saat itu aku masih berpacaran dengan Yifan," bisik Chanyeol dengan hati-hati agar tidak terdengar oleh si pria yang tengah menguping dan tentu saja Yixing membulatkan matanya dengan terkejut. "Karena itu juga aku meninggalkannya."

Juga.. ya~ juga.. karena alasannya tidak sesederhana itu.

Ibunya pengidap kanker darah. Anaknya seorang gay. Dan suaminya merupakan pria yang keras dan selalu mematuhi norma masyarakat. Tahu anaknya seorang gay, yang disalahkan adalah ibunya yang malang. Sampai akhirnya mereka bercerai. Beruntung Chanyeol memiliki Yifan. Tapi bukan berarti Yifan tahu segala hal tentang dirinya. Titik nadir dari segala masalahnya adalah saat ibunya dilarikan ke rumah sakit. Ayahnya tentu membantu pengobatan ibu. Tapi hal itu juga yang membuatnya seperti orang gila yang dungu. Ia tidak becus mengurus ibunya sendiri.

Dan saat dia ingin menyerah, Chanyeol langsung diberi hukuman dengan diperkosa oleh pria mabuk. Tapi mungkin juga ia hanya dikirimi penyelamat dengan cara berbeda. Karena lambat laun ia malah menyukai pria pemabuk itu.

"Tapi bagaimana bisa kau menyukai ayahku?" Tanya yixing dengan heran.

"Rahasia." ucap Chanyeol dengan kalem.

Ya.. gimana menjelaskannya, ketertarikan mereka berawal dari sex, pertemuan mereka selalu berhubungan dengan sex. Bahkan si Zhang itu melamarnya setelah melakukan sex. Apa mereka bersama karena sex? Chanyeol rasa tidak sesederhana dan sekacau itu.

"Tapi aku percaya dengan hukum karma." Ucap Chanyeol tiba-tiba.

"Maksudnya?"

"Apa yang dia lakukan padaku akan terjadi juga padanya."

.

.

Tahu tidak istilah ucapan orang tua adalah do'a. Chanyeol itu menikah dengan ayahnya. Jadi sederhananya Chanyeol itu sudah jelas menjadi orang tua Yixing. Dan istilah karma bisa saja diterima oleh keturunan pelakunya hingga turunan ke tujuh. Keturunan si Zhang itu kan Yixing.

Intinya Yixing sedang dalam situasi dimana karma itu tengah menghampirinya. Ia terjebak di dalam ruang terkunci bersama pria mabuk, bedanya ini Yifan bukan pria yang memiliki anak. Biang keladinya Chen. Si pria berwajah menyebalkan itu mengajak Yifan untuk minum di kedai terdekat mumpung besok libur. Karena ia melihat Yifan begitu sangat mendung. Dan saat Yifan mabuk berat, Chen malah menyerahkan ketua timnya itu pada Yixing. Dengan alasan kalau Yixing tahu alamat apartemen Yifan plus menggunakan mobil sedangkan dia motor. Brengsek kan?

Yifan gila! Karena seperti video gay yang tidak sengaja Yixing lihat. Yifan merusak kemeja milik Yixing dengan cara brutal. Yixing telanjang dada, untung bukan telanjang bulat. Yang telanjang bulat malah Yifan. Maaf saja meski orang tuanya gay. Yixing bukan gay dia masih suka buah dada dan vagina bukan penis.

Yifan memenjarakan tubuhnya dengan cara primitif. Yixing hanya bisa bersandar ditembok dan terjebak diantara kedua tangan Yifan. Parahnya Yifan sekarang tengah melumat bibirnya. Dan agar Yixing mau membuka mulutnya. Yifan dengan kasar menjambak rambut Yixing.

Ini masih belum seberapa.

Yixing mulai panik meski kagum dengan tehnik ciuman Yifan yang membuatnya sesak nafas. Tapi ini bukan saatnya untuk terkagum-kagum. Karena tangan dingin Yifan sudah menelusuri dadanya dengan lembut. Sebelum tangan laknat itu hinggap dibalik celananya. Yixing dengan sekuat tenaga memberikan tendangan lutut tepat di perut Yifan.

Sontak Yifan rubuh dengan suara memgerang kesakitan.

"Mana kuncinya?!" Erang Yixing saat menemukan kunci kamar Yifan yang terkunci.

Bosnya itu gila. Masa sempat-sempatnya membuang kunci kamarnya sendiri ke sembarangan arah. Yixing sibuk mencari kunci. Yixing mengabrak abrik laci Yifan berharap ada kunci cadangan. Sedangkan Yifan..

..jelas, Yifan sibuk menerkam Yixing. Dan berhasil. Yifan langsung menengkurapkan dan menindih tubuh Yixing diatas lantai yang dingin. Yixing meronta tapi Yifan dengan mudahnya menarik celana hitam milik Yixing.

Erangan, desahan, jeritan, umpatan dan kemarahan. Bercampur baur. Meninggalkan Yifan yang tertidur lelap dan Yixing yang babak belur. Meski sempat melakukannya di lantai. Mereka juga melakukannya di kasur. Ini hal yang pertama kali Yixing rasakan. Jadi saat penis Yifan menancap di pantatnya. Tenaganya terkuras habis hanya untuk berteriak dan menahan rasa sakit.

"Bajingan sialan!" Keluh Yixing dengan nada kesal dan pasrah. Matanya sampai berair saking sakitnya.

Rasa lelahnya lebih besar dibandingkan rasa sakit. Hingga akhirnya Yixing bisa jatuh tertidur.

Ini mimpi terburuk semasa hidupnya. Ia terus diperlihatkan bagaimana ibu kandungnya mati tertembak tanpa penutup mata. Pemerintah saat itu benar-benar gila hingga menanamkan ingatan mengerikan itu pada Yixing. Tidak kalah buruknya adalah kematian seorang wanita yang ia anggap sebagai ibunya sendiri, setelah wanita itu meminta maaf karena menjadi ibu yang buruk. Dan kacaunya ia juga diperlihatkan dalam mimpinya saat ia melihat Chanyeol mengulum penis ayahnya, hingga ia memuntahkan semua isi perutnya. Tapi yang mengerikan, saat semua mimpinya terus berulang adalah posisi kedua ibunya dan Chanyeol digantikan olehnya. Ia tidak mengulum penis ayahnya tapi..

"Yixing.." panggil Yifan dengan panik.

Yixing sontak membuka matanya dengan nafas terengah. Rasanya perutnya kembali melilit, ingin muntah. Yifan buru-buru mengambil tempat sampah. Meski Yixing sudah menotori lantainya, Yifan masih harus menaruh tepat sampah itu agar Yixing tidak lebih jauh mengitori lantai.

Yifan menawarkan air mineral. Tapi perut Yixing tidak mau menerima apa pun. Baru seteguk, Yixing kembali memuntahkannya. Yifan tahu karena muntahan Yixing berwarana bening meski berlendir.

Yixing mengeluh kesakitan. Melihatnya membuat Yifan langsung memggenggam kedua tangan Yixing yang padahal terciprat muntahan.

"Aku akan bertanggung jawab." Ucap Yifan dengan mantap.

Tapi Yixing malah menatap Yifan dengan dahi berkerut.

"Aku tidak hamil, Fan."

.
.

Yixing sudah membersihkan dirinya meski hanya dengan seember air hangat yang dicampur herbal entah apa dan lap basah. Setidaknya aroma herbal menghapus aroma sperma yang melekat di tubuhnya. Dan sekarang ia duduk di ruang tengah dengan pakaian Yifan yang sedikit kebesaran. Sedangak Yifan tengah membereskan kekacauan semalam.

Yixing tidak sadar jika sedari tadi ia memejamkan matanya. Hingga aroma masakan menghampiri hidungnya dan kembali membuatnya ingin muntah dalam seketika. Ternyata Yifan tengah menyendokkannya semangkuk bubur.

"Kau harus makan," keluh Yifan dengan frustasi saat Yixing terus-terusan menjauhkan mulutnya dari sendok. "Tidak baik membiarkan perutmu kosong." Ucap Yifan sambil menaruh punggung tangan kirinya pada dahi Yixing.

Yixing benar-benar demam dengan wajahnya yang pucat. Yifan jelas tahu alasannya kenapa Yixing bisa demam seperti ini. Jelas karena apa yang ia lakukan kemarin malam pada anak buahnya sendiri.

"Nanti juga akan dimuntahkan lagi." Jawab Yixing yang membuat Yifan ingin menyerah saja.

Tapi suara seseorang yang membanting pintu membuat keduanya terlonjak kaget. Pelakunya Luhan. Dan Yixing mengeluh pelan saat Luhan yang terlihat beruraian air mata kini menatapnya dengan tajam. Yifan juga sama saja, kini Yifan menatap Luhan dengan tidak kalah dinginnya.

Yixing diam dan hanya mendengar pertengkatan hebat dari keduanya. Luhan yang awalnya ingin meminta maaf langsung memaki habis-habisan Yifan dengan tuduhan selingkuh. Yifan lebih kacau lagi, memaki Luhan yang sudah selingkuh dengan sahabatnya sendiri yang bernama Jongin. Makian dan cercaan terus berlanjut hingga Yixing merasa kepalanya begitu sakit.

Dan rasanya Yixing tengah diingatkan. Ia kembali teringat saat ayah dan ibunya sesekali bertengkar karena uang. Pertengkaran kedua orang tuanya malah semakin sering terjadi denga topik yang berbeda saat ayahnya naik jabatan dan ibunya bergabung dengan partai politik.

Parahnya kedua orang tuanya sampai memiliki kesepakatan saat ibu selesai menduduki jabatannya sebagai anggota eksekutif pemerintahan, ayah akan menggugat cerai ibu. Sayang bahkan sebelum jabatannya diselesaikan ibunya sudah dihukum mati karena kasus korupsi.

"Kau! Pergi dari apartemen kekasihku!" Cerca Luhan sambil menarik lengan Yixing.

Yixing hanya bisa mengikuti Luhan hingga Yifan menarik tangannya yang satu lagi. Tubuhnya kini malah dijadikan rebutan, persis seperti ayah dan ibunya dulu. Yixing sudah tidak kuat, hingga tubuhnya jatuh terduduk diantara keduanya. Meski tangannya masih digenggam oleh Luhan maupun Yifan. Rasanya? Benar-benar sakit seolah tubuhnya akan terlepas dan tercecar begitu saja.

"Dia demam Luhan!" Sergah Yifan yang langsung melepaskan tarikannya. Yifan lupa kalau Yixing sakit.

Tapi Luhan masih saja menarik dan memaksa Yixing untuk berdiri. Hingga Yifan dengan kasar mendorong tubuh Luhan hingga terjungkal. Yifan sontak mengusap poni Yixing dan menemukan keringat dingin menyerang Yixing. Dengan nafas terengah dan tubuh menggigil.

Tapi saat Yifan akan membantu Yixing berdiri. Seseorang mendorong tubuh Yifan untuk menjauh darinya. Yixing pikir Luhan yang menerjang tubuh Yifan. Terjadi pertarungan sengit disana. Tidak bukan pertarungan, Yifan hanya diam pasrah dihajar habis-habisan. Dan pria itu juga bukan Luhan. Karena Luhan yang asli sedang berusaha dengan susah payah untuk menghentikan pria yang menghajar kekasihnya. Meski sesekali mendapatkan pukulan juga.

Yixing berusaha dengan susah payah melihat wajah pria yang tengah menghajar Yifan dari sela-sela rambutnya yang basah. Dan saat pria itu berbalik, Yixing malah tertawa pelan. Yixing selalu takjub dengan pria satu ini.

"Chanyeol.." panggil Yixing.

Iya, itu Chanyeol. Pasti Chanyeol datang kemari dengan hanya mengandalkan firasat. Dan Yixing hanya bisa tertawa pelan dengan keakuratan firasat Chanyeol. Terutama kalau firasat itu menyangkut dengan Yixing.

Chanyeol benar-benar marah dengan nafas tersenggal. Chanyeol mungkin mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menghajar Yifan hingga puas. Chanyeol juga rasanya ingin menghajar Yixing yang sudah membuatnya khawatir. Tapi Yixing yang tampak pucat itu malah tertawa dengan seenaknya. Sontak saja, Chanyeol menoyor kepala Yixing dengan kesal.

"Ayo pulang!"

.

.

.

TBC

.

.

Hahahaha

Makin parah saja kawan

Buat ayahnya Yixing, karena banyak pendapat.

Jadi terserah kalian aja lah mau ngebayangin ayahnya Yixing macam apa..

Sayah sih malah jadi ke Siwon Suju bahahaha

Itu gara-gara reviewannya.. sumpah.. mana Siwon juga rada gesrek orangnya..