Halo cemuanyaa :D author yg paling gaje dan kece balik lagii :D *plak*
Kali ini amelchan mau publish chapter 3 dari My Love Is Only You, nih ;;) hmm… Amelchan mau basa-basi dulu deh *plakplaked!*
*datangdenganbabakbelur* Iya deeh Amelchan nggak basa-basi T^T (takut dipukulin lagi u,u)
Oke, kita langsung saja yaa? :)) cekidottt :D
...
My Love only You
~Kamichama Karin~
© Koge Donbo
...
Aku sedang berada ditengah-tengah Mal, tepatnya didepan toko aksesoris. Dan, sekarang aku bingung. Ya bingung! Kalian tahu kenapa?
Haaah… dasar Miyon! Ada-ada saja dia memberi syarat! Tapi… apa memang aku harus melakukannya? Tapi… aku… aku…
AAAGH! Kepalaku pusing! Aku harus apa?! Apa aku bisa?!
Dan kenapa aku terus mengingat kata-kata Miyon tadi?!
FLASHBACK
"Tapi ada syarat buatmu, Kazune." kata Miyon.
"HAH?! SYARAT APA SIH?! KENAPA PAKE SYARAT SEGALA!" protesku.
"Eits… tenang dulu! Mudah kok syaratnya."
"Haah… oke! Apa syaratnya? Tapi ingat! Jangan yang aneh-aneh!"
"Hihihi, tenang saja! Aku cuma mau memintamu menembak Karin di ulang tahunnya nanti, kok!"
"Ah itu mudah-HAH APA?!" Kataku kaget. Mataku membulat seketika. Dia tidak sedang dirasuki setan, kan?
"TEMBAK KARIN SAAT ULANG TAHUNNYA"?! Apa aku bisa?!
MIYON!
"Kenapa? Keberatan ya? Tidak jadi aku kasih tahu deh." kata Miyon dengan senyum jahil diwajahnya. Anak ini!
"M-Miyon...! Kan sudah kubilang! Syaratnya jangan yang aneh-aneh!" protesku. Sangat protes!
"Lah, itu bukan yang aneh-aneh kok! Kalau kau cuma mau kasih kado pada Karin, kapan nembaknya? Ketika umurmu 20 tahun? KELAMAAN! Karin pasti sudah dijodohkan." kata Miyon.
"J-jadi… Aku harus nembak dia? B-begitu…?" kataku ragu-ragu.
Miyon mengangguk mantap.
"Deal?" kata Miyon seraya mengulurkan tangannya.
Aku menatapnya tak percaya. Jadi aku harus menembak Karin? HARUS? SANGAT HARUS?
"Tidak akan kukasih tau loh." ucapnya dengan seringaian. Dasar kejam!
"Haaah… IYA IYA! DEAL!" kataku akhirnya.
"Yes! Hahaha…" Miyon tertawa puas.
"Sudahlah! Jangan berisik! Cepat kasih tahu aku Karin maunya apa!" kataku. Kelamaan!
"Iya iya! Karin mau pita warna merah yang ada di toko aksesoris di Mal!" kata Miyon.
"Hah? Pita?" kataku kaget. Masa' Karin mau pita?!
"Hu-uh. Kamu pasti tidak menyadarinya, ya? Karin suka dandan juga lho. Dia pintar sekali soal dandan. Bahkan, aksesorisnya lengkap. Tapi, dia suka sekali dengan yang namanya pita. Kau melihat pergelangan tangannya tidak? Karin selalu memakai pita ditangannya." jelas Miyon.
Aku melongo. Masih tidak percaya!
"J-jadi…? Kenapa dia ingin sekali pita merah itu…?" tanyaku.
"Karin suka pita itu. Apalagi, dia suka warna merah. Dia selalu pingin beli pita itu, tapi setiap dia datang ketoko selalu stoknya habis." kata Miyon.
Aku mengangguk-ngangguk. Ternyata, Karin sudah berusaha membeli pita itu.
"Jadi, kuharap kamu tidak kehabisan juga! Kalau kehabisan, yaa~ kamu gagal dong, kasih yang terbaik buat dia!" kata Miyon.
Aku kaget. Benar juga! Aku harus berebut pita itu! Dengan… Dengan… Dengan gadis-gadis?!
"A-AKU HARUS BEREBUT PITA ITU DENGAN PARA PEREMPUAN?!" seruku.
"Iya dong!" kata Miyon enteng.
"K-kau gila, Miyon…" kataku, tidak percaya. (perasaan daritadi Kazune nggak nerima kenyataan yang ada)
"Hah, gila? Masih mending ya aku mau memberi tahumu!" kata Miyon.
"Haah… Iya, iya! Nanti sore aku ke toko aksesoris di Mal itu!" ucapku ketus. Agak kesal.
Miyon hanya tertawa kecil melihatku.
END OF FLASHBACK
Sekarang aku harus apa?! Segera kedalam toko aksesoris didepanku ini dan mencari pita itu?! Bagaimana kalau habis?!
Hah! Kenapa aku begini sih! Kalau habis, aku benar-benar tidak bisa memberi yang terbaik untuk Karin!
Ehm! Baiklah! Aku akan berjuang demi pita yang diinginkan Karin itu!
...
"KYAA! KYAA! Yang ini lucu ya!"
"Yang ini juga lho! Kyaa!"
"EEEH! Lihat lihat! Ada cowok keren masuk sini!"
"Eh, tumben-tumben ada cowok kesini?!"
"Kyaa, tampan sekali ya?!"
"Iya! Eh, pasti dia mau beli kado buat pacarnya!"
"Eeh, benar juga sih ya?!"
"Kalau tidak, kenapa dia masuk kesini coba?"
Ketiga cewek itu masih berkomentar tentangku.
Yah. Inilah resikonya masuk toko cewek! Semua orang bisik-bisik tentangku-yang notabenenya adalah laki-laki. Yang inilah, yang itulah.
Aah, tapi aku harus beli kado untuk Karin. Ya, HARUS!
Tapi, mana pramuniaga-nya ya? Ah, itu dia!
Aku langsung menemui pramuniaga yang tertangkap oleh manik mataku dan menanyakan dimana tempat pita itu.
Ssetelah berbincang-bincang sebentar dengan pramuniaga itu, akhirnya aku tahu dimana tempatnya. Terima kasih, wahai Pramuniaga! (Apa ini-_-)
...
Akhirnya aku sampai ditempat pita-pita. Hmm… mana ya pita merah itu?
Aku melihat-lihat sekeliling dan-ah! Itu dia!
Aku senang sekali ketika melihat pita berwarna merah dengan berlian imitasi ditengahnya. Untung saja masih ada.
Dan... kuakui pita itu memang cantik sekali. Pantas saja Karin menginginkannya. Aku jadi mengerti perasaan perempuan.
Akupun mengambil pita merah itu satu.
Eh, tiba-tiba aku teringat Himeka. Dia juga senang mengoleksi pita, kan? Ah, aku belikan dia juga lah!
Aku lalu mengambil satu pita lagi.
Senyumku mulai mengembang. Karin pasti senang!
Aku mulai meraih kantong saku celanaku. Tapi…
...
T-tidak… TIDAK! DOMPETKU! DOMPETKU HILANG?!
Aku merogoh-rogoh sakuku dan melihatinya dengan lebih teliti. Tidak ada! Benar-benar tidak ada!
GAWAT. aku tidak bisa membeli 2 pita ini! B-bagaimana ini?! Aku… aku harus apa?! Karin besok ulang tahun! Dompetku pun hilang!
"Hah? Kakak? Ngapain disini?"
Suara seseorang mengagetkanku. Aku menoleh, dan aku kaget ketika melihat siapa itu.
...
T-B-C
(NAH NAH! Ada yg mau bilang sakit TBC?1 Sini gue tendang sampe Arab Saudi! *plak*)
...
Hai, hai! gimana? Udah baca? Alhamdulillah ya, kalo udah baca =) Amelchan senang sekaleee XD
Apakah cerita ini bagus? Pastinya dong ya xP *plaked*
Sekali lagi makasih yaaa yang udah review! =))
Okee, yg penasaran, tunggu chapter selanjutnya, ya! =)
Review Amelchan tunggu :))
