Sampai Rivaille bisa senyum dengan bebas dan narsis, Shingeki no Kyojin tetap milik Isayama Hajime-sensei. Saya tak bermaksud menyiksa maupun menistakan karakter di sini, kok.
Waning : OOC, typo, penggunaan bahasa yang kurang baik dan benar, (maybe) shou-ai, garing, setting diantara AU dan Canon (?), dan kelainan lainnya yang diluar kepala. / Saya saranin baca chapter ini jangan sambil makan /
Chapter 3 : Antara Eren, Rivaille dan Permintaan Maaf
*Setting di ruang makan anggota Scouting Legion. Siang hari.*
Ruangan luas yang berisikan tiga buah meja kayu besar dan beberapa buah kursi itu terlihat suram. Di dalamnya terdapat dua orang lelaki yang menggunakan seragam (?) yang sama. Yang membedakan keduanya adalah tinggi badan dan warna rambut mereka. Yah, tanpa diberi tahu lagi mereka adalah dua tokoh utama dalam fic ini, Eren Jaeger dan Rivaille.
Entah kenapa suasana di ruangan itu sangat―pengap. Mulai dari tegang, kelam, suram, dan hal-hal berbau negative lainnya.
"Kopral.. mohon maafkan saya! Sungguh! Saya sama sekali tidak bermaksud―" lelaki yang lebih tinggi itu menggenggam tangan lelaki yang lebih pendek.
Namun yang didapat adalah tepisan tangan yang kasar.
Eren tersentak.
"Berisik. Menyingkir dari depan pintu bocah, aku muak di sini!" iris raven Rivaille menatap tajam iris deep blue Eren.
Yang lebih muda menggelengkan kepalanya kuat.
"Tidak mau! Kalau Kopral bicara begitu berarti Kopral marah pada saya!" ujar Eren. Ia masih menghalangi pintu satu-satunya di ruangan itu.
"Aku tidak mau memakai cara kasar, Eren. Aku tidak marah, aku hanya muak!" balas Rivaille.
"Bohong! Menurut saya marah dan muak lebih parah arti muak! Lagipula.. kenapa saya yang harus disalahkan?!" suara Eren meninggi.
"Karena memang kau yang melakukannya!"
"Salahkan Hanji-san yang menjadi biang masalah ini! Pokoknya saya takkan membiarkan anda kemana-mana dulu hingga anda memaafkan saya!" mata pemuda berumur 15 tahun itu mulai berkaca-kaca.
Rivaille menghela nafas panjang. Sekarang ia pusing kalau sosok dihadapannya ini menangis seperti anak kecil yang mengemis maaf kepada ibunya setelah merusak barang. Tapi ia juga kesal karena berani-beraninya Eren melakukan itu di dekatnya. Amit-amit Rivaille malas mengingat kejadian sekitar 10 menit yang lalu.
Oke. Ia mulai tidak tahan karena ada sesuatu yang amat mengganggunya.
"Demi Yupi, Eren. Yang melakukan adalah kau, bukan Hanji meskipun ia penyebabnya. Salah sendiri kau tak bisa menahannya? Memangnya tidak bisa di tempat lain, hah? Menjijikan. Jadi biarkan aku keluar dari tempat ini! Menyingkir!" perintah Rivaille dengan nada yang lebih tinggi.
"Tuh, kan! Kopral sampai bawa-bawa Yupi-san (?)! Berarti Kopral benar-benar marah dengan saya!" rengek Eren sambil menunjuk-nunjuk tidak sopan.
Ingin rasanya Rivaille melakukan tendangan 'Fabulous'-nya lagi. Tapi masih mengingat kalau Eren sedang seperti ini sedikit berbahaya, ia terpaksa mengurungkan niat―sama sekali tidak―baiknya untuk menendang bocah itu.
Kalau dibilang marah―sebenarnya tidak. Ia hanya kesal Eren bisa berbuat hal kurang ajar―menurutnya seperti itu. Tapi kalau tidak marah―rasanya kurang afdol (?)
Biasa. Gengsi.
"Dengar Eren.. aku―diantara marah dan―tidak marah denganmu. Aku juga tak bisa menyalahkan Hanji seutuhnya. Oke, aku akan menerima permintaan maafmu. TAPI!" Rivaille menatap tajam si bocah.
GLEK.
Eren menelan ludahnya sendiri.
"―BISAKAH KAU MEMBIARKANKU KELUAR DARI RUANGAN INI, EREN JAEGER? SUNGGUH, SAMPAI SAAT INI AROMA (?) KENTUT-MU MASIH BERKELIARAN (?) DI SEKITAR INDERA PENCIUMANKU, TAHU? CEPAT MENYINGKIR AKU MUAK!" teriak Rivaille dengan OOC-nya.
"Tapi Kopral! Itu salah Hanji-san yang tadi member saya meat pie dengan ramuan ajaibnya!" kilah Eren.
"SIAPA SURUH KAU MEMAKANNYA, SH*T BR*T?!"
"Itu juga salah Kopral yang menyuruh saya membersihkan halaman HQ dengan tangan kosong! Saya sangat kelaparan jadi tanpa ba-bi-bu saya makan! Anda tidak tahu, sih, penderitaan saya yang keluar-masuk kamar mandi tidak ada hentinya!" Eren masih berusaha menghalangi pintu.
"JADI KAU MAU HUKUMANMU DITAMBAH, HAH?! MEMANGNYA KAU PIKIR AKU 'PELAMPIASAN' RASA SAKIT (PERUT)-MU ITU?!"
"Bukan.. sih. Tapi Kopral mau maafin saya atau tidak?" tanya Eren.
"PIKIR SENDIRI!"
Eren mati kutu.
Kuah lokal membasahi wajah tampan nan unyu pemuda itu dengan tidak elitnya. Dengan berat hati ia menyingkir dari hadapan pintu ruangan dan membiarkan Rivaille berlari keluar dengan kecepatan ekstrim menuju kamar mandi terdekat.
Yap. Penyebab masalah ini tidak lain adalah ramuan ajaib Hanji yang membuat perut Eren bereaksi dan tidak sengaja 'membuang gas alam'-nya saat semua orang di ruang makan sudah keluar, namun Rivaille yang terlambat masuk secara tidak langsung tersiksa dengan reaksi itu. Dan.. terjadilah keributan antara sejoli stress ini.
.
.
.
[To Be Continue]
A/N : Hee.. emangnya chapter 2 kependekan, ya? Saya nggak nyadar, lho (maklum pas ngetik matanya udah merem-melek). Kira-kira chapter ini masih pendek nggak? kalo kurang panjang, nanti saya usahain lagi ^^ saya sudah mengingatkan pas baca chapter ini kalau bisa jangan sambil makan, lho~
Satu lagi, kenapa update-nya cepet? karena lagi libur ^^ (persetan dengan segala PR di jurusan IPS) jadi kalo nanti update-nya lama berarti saya lagi sekolah
Makasih banyak untuk : Android5Family, Ferishia09, Kim Victoria, Rose Breznska dan readers-tachi ^^
