Suzuru Seiyo Iya, di cerita ini Fran bakal gender bender. soalnya penulis sendiri agak bingung kalo harus menjadikan cerita ini murni BL's story, penulis mengusahakan agar ceritanya ada unsur actionnya karena penulis sadar diluar sana jarang banget ada cerita unsur action :D wah, usulnya boleh juga tuh hehe, walopun penulis kurang suka incest ^_^; terima kasih juga atas rekomennya, cerita yg kamu suggest yaa :) Ileyra wow, reviewnya panjang yaa, dan penulis seneng banget ada review sepanjang ini.. makasih banget loh :') untuk masalah rambut Alaude, penulis ngikutin dari beberapa cerita dr KHR fic bahasa inggris buatan orang luar, dan kebanyakan mendeskripsikannya sebagai 'blonde-white' dan agak sedikit diubah jadi ke perakan [abis kedengerannya agak aneh ya pake kata mayonaise, hehe] huhuh, iya nih. saking banyaknya typo penulis juga baru sadar pas re-read ternyata banyak typo di kalimat yg diucapin Tsuna. seharusnya dia ga bisa ngucapin R sama sekali, hehe. harap dimaklumi. psst~ jangan jangan isi kotak dari mukuro itu cincin kawin. LOL. Raikyoku3173 haha, sejujurnya penulis juga pembaca pengembara loh. sering asal baca fanfic orang tapi ga ngingetin judulnya dan saking banyaknya jd lupa hehe, iya dong. semakin penuh misteri semakin seru kan? hehe. tapi tenang, misteri akan terpecahkan satu per satu kok :) kotak? hehe, kata mukuro "Kufufu, isi kotak itu hanya aku dan Tsuna yang tahu" Ciocarlie update sudah tiba nih, hehe. wah mungkin kalo aku sempet aku bakal baca fic G27mu, maklum penulis lagi sibuk ngurus ini-itu-disini-disana-disitu jadi belum sempet baca2 fic G27 lagi :( Mukuro? hmm, kenapa ya? mungkin karena dia mencoba manjat pager dan nggak sengaja kena pager. hehe. ide yang bagus, kalo gitu tunggu kemunculan Ugetsu sama G yaa :) Hibari Hime hehe gpp kok, penulis seneng kalo dapet review yang panjang2 malah; karena bisa jadi penyemangat kalo lagi nerusin ceritanya :) Wah, sebenernya penulis kurang begitu suka Incest, tapi... tunggu lanjutan ceritanya aja yaa :D

Hello again, Reader.

Wow, thanks a lot for the review You guys submitted on the 2nd chapter. it made me happy, its also encourage me a lot.

I wish i could get at least 5 reviews for each chapter :)

anyway, I want you to read the Announcement i typed on the last part [the one at the bottom of this chapter, under the translation part] and join the quiz, You'll get prizes of course :D

And for those who've been questioning me wether Fran is genbend or not, YES. i made him a girl in this chapter. and some other character may ended up become a girl also.

the next chapter will be focus on Cozart's story i guess, and please keep supporting me :D

Disclaimer : Oh yeah! i own KHR, What? no? why? Oh yeah, that you mentioned it, i don't have enough mpney to buy the licensed ^_^;


Chapter 2: Bacio Della Buonanotte

A kiss is a lovely trick designed by nature to stop speech when words become superfluous.
-Ingrid Bergman-

o0o

"Gokudera! Yamamoto! Ayo, kita bisa terlambat" seorang wanita berteriak dari kejauhan, memanggil seorang bocah dengan rambut abu-abu dan seorang lainnya yang berambut hitam. Keduanya menoleh kearah wanita itu lalu mengangguk pelan dan kembali menatap Tsuna yang berdiri dengan wajah resah dihadapan mereka.

Kesedihan masih menyelimuti wajah mungil Tsuna, bulatan hitam seperti panda terukir pada kedua bolamatanya.

Ketiganya terdiam. Sunyi.

"Sampai jumpa lagi, Gokudela, Yamamoto" Tsuna tersenyum dan berusaha mencairkan suasana sedih dan tegang yang menerpa ketiganya dan menghamburkan pelukannya kearah Gokudera dan Yamamoto. Keduanya saling berpandangan sesaat lalu membalas pelukan mereka.

"Sampai jumpa, Tenth"

"Semoga kita bisa bertemu lagi, Tsuna"

Tsuna mengangguk pelan lalu melepaskan pelukannya.

"SAYONALA GOKUDELA! YAMAMOTO!" Tsuna berteriak saat melihat punggung Gokudera dan Yamamoto semakin menjauh dan perlahan hilang. Airmata muncul dari sudut-sudut matanya.

"Kita pulang sekarang?" Giannini bertanya dari kejauhan, dijawab oleh anggukan kepala Tsuna. Dan mereka berdua berjalan menuju tempat parkir mobil.

"Giannini, kenapa Dino-nii tidak bisa mengantalku?" Tsuna kecil bertanya sambil memasang sabuk pengaman untuk anak-anak yang dibuat oleh Giannini. Ia menatap Giannini yang sedang menyalakan mesin mobil. "Dino-san ada janji dengan temannya, karena itu beliau memintaku, si penemu jenius ini, untuk mengantar anda, Tsuna-san"

"Temannya? Apa itu Hibari-san? Pria dengan tongkat aneh dan bulung kecil dikepalanya?" Tsuna menunjuk kearah kepalanya, seolah-olah memperagakan bagaimana perilaku burung kecil yang dibicarakannya. Giannini terlihat berpikir sesaat. "Saya kurang tahu pasti, tapi seingat saya salah satu temannya adalah polisi yang sering berkeliaran di Namimori"

Tsuna mengangguk pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela, menatap jalanan yang dipenuhi kendaraan bermotor yang berlalu menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, menguap dengan cukup keras dan perlahan matanya tertutup hingga akhirnya ia tertidur lelap di kursinya.

o0o

"Che! Kubilang kembalikan remote TVnya, Gadis kodok!"

"Senpai, kalau kau tak mau melepaskannya aku akan melepasnya, dan kau akan jatuh"

"Ushishi, pangeran seperti diriku ini tak mungkin-UWAAH!"

"Bel-kun! Fran-kun! Bisa kalian kecilkan suara televisinya? Aku sedang menerima telpon"

Bel dan Fran secara bersamaan menoleh kearah Nana, wanita itu tengah menempelkan gagang telpon di telinganya dan berdiri dihadapan sebuah dinding tinggi. Fran dan Bel mengangguk pelan lalu mengecilkan suara televisinya.

Bel akhirnya memilih duduk diatas sebuah sofa panjang dan meluruskan kakinya hingga menutupi bagian bantalan sofa dengan tubuhnya, sedangkan Fran memilih untuk duduk dilantai, tepat disebelah sofa berada dengan kepala bersandar pada lengan Bel.

"Sepertinya Namimori kedatangan tamu penting lagi" Bel bergumam saat menatap layar televisi dengan gambar seorang wanita tengah membacakan berita dan sebuah tulisan headline berwarna merah besar. Fran mengangguk pelan menatap pergantian gambar di layar televisi yang semula menunjukan seorang wanita, kini menampilkan gambar sebuah pesawat besar berwarna putih dengan lambang S besar pada badan belakang pesawat dan seorang pria berambut merah dengan setelan kemeja hitam mewah tengah menuruni tangga yang menempel pada pintu pesawat.

"Dan sepertinya nama orang itu tak asing di telingaku-"

"Hmm?" Bel hanya diam, menatap lekat-lekat layar televisi. "Kau benar, sepertinya aku pernah mendengar namanya" Bel bergumam pelan, meletakan jari telunjuk pada dagunya dan menggosokannya layaknya pose seorang detektif. "Ah!"

Bel merebahkan badannya di atas sofa, kepalanya tersandar pada satu lengannya, dan lengan lainnya sibuk memilin rambut hijau emerald Fran. "Mungkin dia salah satu pesuruhku, pangeran sepertiku punya banyak pesuruh, bukan?"

"Tapi pesuruhmu memakai baju yang jauh lebih bagus, Baka-senpai"

"Kau..."

"Ini gawat!"

Bel dan Fran kembali menoleh, menatap Nana yang berjalan kearah mereka berdua dengan wajah khawatir.

"Dino belum bisa pulang hingga nanti malam, Giannini dan Tsuna juga belum kembali"

"Ini tumben sekali, si Kuda Pirang itu tidak bersama bocah Tu-" Bel bergumam pelan.

"Lalu, Kenapa Giannini belum kembali?" Fran memotong pembicaraan Bel, dan ebrhasil mendapatkan sebuah pukulan di badannya dengan bantal. Nana menghela nafas, "Entahlah, aku mencoba menghubungi Giannini tapi ponselnya tidak aktif"

"Bagaimana jika minta tolong orang itu saja?"

"Eh?"

o0o

"Giannini! Giannini kau dimana?"

Tsuna mengusap sudut matanya yang mulai meneteskan bulir airmata, mencoba mencari keberadaan Giannini yang tak bisa ditemukannya sejak tadi.

Sekitar 15 menit yang lalu, Tsuna terbangun dari tidurnya dan menemukan dirinya berada, masih diatas jok mobil seperti saat sebelum ia tidur. Ia menatap ke sekelilingnya dan hanya bisa menemukan barisan mobil panjang dan Giannini yang menguap berkali-kali.

"Giannini, aku mau ke toilet..."

Adalah kata pertama yang diucapkan Tsuna saat ia terbangun. Dan setelah mengetahui bahwa mereka, Giannini dan Tsuna, tak akan sampai di rumah sebelum makan malam karena macet, Giannini memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di pemberhentian terdekat dan mengantarkan Tsuna ke toilet.

Dan kini Tsuna terjebak ditengah keramaian orang-orang yang menghindari kemacetan jalan, sendirian, tersesat.

Tsuna menunduk, mengepalkan tangannya pada ujung bajunya dan berjalan sambil menunduk.

Mama... Dino-nii...

"Checi faiqui? " sebuah suara terdengar dari belakang Tsuna. Tsuna menghentikan langkahnya lalu mendongak mencoba mengenali suaranya. Perlahan, ia memutar badannya, menatap seorang pria dengan rambut merah berdiri dengan memegangi lututnya, untuk menyetarakan tinggi badannya dengan Tsuna..

Tsuna termanggu. Ia menatap pria tinggi dihadapannya dari atas lalu kebawah dan terus berulang.

"Kamu siapa?"

"Giapponese? Mi spiace" Pria berambut merah itu berdehem sesekali lalu tersenyum kearah Tsuna, "Maaf, Aku tidak tahu kau adalah orang Jepang. Namaku Cozart, namamu?" ia mengulurkan tangannya ke arah Tsuna. Tsuna menatap tangan pria itu, lalu menatap mata pria itu dengan takut.

"Tenang, aku tidak akan berbuat nakal padamu. Apa yang kau lakukan disini?"

Tsuna menatapnya ragu, "Aku... Telsesat" dan airmata mulai membasahi wajah Tsuna, bocah kecil itu berjongkok lalu membenamkan kepalanya pada dua lututnys.

"nonti preoccupare, Jangan khawatir, aku akan membantumu mencari orang tuamu"

Tsuna menggeleng pelan. Ia mengangkat kepalanya, menatap pria yang mengaku bernama Cozart itu dengan tatapan sedih. "Aku kesini bersama Giannini, dia yang membantu Mama dirumah". Tsuna terisak. "Tapi aku tersesat..."

Lelaki bernama Cozart itu mengulurkan tangannya lalu tersenyum, senyum yang sangat hangat dan membuat hati Tsuna menjadi lebih tenang. "Ayo, kutemani mencari Giannini"

Tsuna menatap telapak tangan pria itu, ia terdiam ragu. Setelah beberapa saat menatap ke arah tangan pria itu lalu Tsuna mengangguk dan menyambut uluran tangan pria berambut merah itu.

"Siapa namamu?"

Pria bernama Cozart itu bertanya saat Tsuna menyambut uluran tangannya dan mereka mulai berjalan menyusuri pertokoan. Tsuna mendongakan kepalanya menatap dagu pria yang jauh lebih tinggi darinya, "Tsuna, Tsunayoshi Sawada"

"Eh?" Langkah Cozart terhenti begitu mendengar nama bocah kecil yang digandengnya. Matanya menatap Tsuna seolah tak percaya. "Sa-Sawada? Apa kau ada hubungannya dengan Sawada family, pemegang saham terbesar di Asia itu?"

Tsuna memiringkan kepalanya, "Maksud paman orang-orang yang seling masuk TV dengan baju hitam itu?"

"TV? Hmm, Ya mereka, kau tahu mereka? Apa salah satu di antara mereka adalah orang tuamu?"

Tsuna menggeleng pelan.

"Aku tidak punya olang tua, Mama Nana bilang aku seolang pendeta kuil membelikanku nama itu" Tsuna mengubah arah pandangannya, menatap lurus ke depan saat ia melihat sosok Giannini yang sedang sibuk mencari-cari sesuatu. "Ah! Itu Giannini!"

Cozart mendongakan kepalanya, pandangannya tertuju pada seorang pria gemuk yang sedang terlihat sangat panik, ia terlihat sedang berlalu-lalang layaknya mesin setrika. Cozart mengangguk sebentar lalu berjalan ke arah pria bernama Giannini. "TSUNA-SAN!"

Giannini berlari ke arah Tsuna dan memeluk bocah kecil itu dengan sangat erat. Tsuna pun membalas pelukan Giannini dan menangis dalam pelukan pria gemuk itu. Cozart tersenyum melihat pemandangan yang ada dihadapannya.

Benar juga, dia sudah lama pergi meninggalkan dunia ini...

"Terima kasih banyak"

"No Problem. Syukurlah kau bertemu dengan Giannini, Tsuna" Cozart berjongkok dihadapan Tsuna lalu mengusap kepala bocah berambut coklat dihadapannya. Tsuna tersenyum senang, lalu memeluk Cozart dengan erat. "Telima kasih, Paman" dan Cozart membalas pelukan Tsuna.

Setelah melepas pelukannya, Cozart berdiri dan melambaikan tangannya pada Tsuna. Dan berjalan menjauh.

"SAMPAI JUMPA PAMAN, KOZATO"

Cozart tersenyum mendengar teriakan nyaring dari kejauhan. Ia mendongakan kepalanya menatap langit sore yang berwarna oranye dan pantulan sinar matahari pada sisi awan.

Anak itu mengingatkanku padamu, Tsuna.

"Signor Cozart, Abbiamocercatopervoi"

Cozart kembali menatap ke depan,lalu tersenyum pada sekumpulan pria berjas abu-abu dan kacamata hitam yang berdiri membungkuk dihadapannya. Cozart mengangkat tangannya dan pria berjas abu-abu kembali menndongakan badan mereka. "Mi Dispiace, Sono andato a fare una passeggiata e guardò fuori qualche negozio"

Para pria berjas abu-abu itu mengangguk dan mulai melangkah mundur, memberikan ruang bagi Cozart untuk berjalan ditengah-tengah dan memimpin mereka berjalan didepan menuju limousine hitam yang diparkir di tepi jalan.

"Grazie" Ucap Cozart pelan saat salah seorang dari pria berjas abu-abu membuka pintu dan mempersilahkan Cozart masuk.

"..." Pria itu mengangguk pelan saat mendengar permintaan dari Cozart lalu menutup pintu limousine.

Ingatkan aku untuk mengunjungi Vongola Orphanage begitu rapat selesai.

o0o

Tsuna menguap lebar. Matanya kembali terlihat menutup karena rasa kantuk yang menyerangnya. Melihat hal ini Giannini segera mengecilkan volume suara radio mobil yang sedang mengalun.

"Tsuna-san, jika anda mengantuk tidur saja. Kita masih harus menjemput Dino-san baru setelah itu kita bisa pulang" Ucap Giannini sambil memutar roda kemudinya ke arah kanan. Tsuna mendongak ke arah Giannini, "Ke tempat Dino-nii?"

Giannini mengangguk. "Tadi Dino-san menelponku, katanya mobilnya kehabisan bensin dan memintaku untuk menjemputnya"

Tak ada respon dari Tsuna. Dan suasana menjadi hening.

"Tsuna-san?"

Hening.

"Tsuna-san, apa anda sudah tidur?"

Giannini menoleh ke arah Tsuna dan terkikik pelan saat melihat Tsuna sudah terlelap tidur sambil memeluk erat sabuk pengaman yang melintang dibadannya.

o0o

Dino merentangkan tangannya ke atas dan menguap lebar.

"Herbivore"

Dino mendelik begitu mendengar sebuah komentar dingin dengan nada datar dari balik punggungnya. Ia memutar badannya dan berdiri tegak dihadapan seorang pria berambut hitam. Pria itu menatap wajah Dino yang terlihat cemberut mendengar komentar singkat pria dengan kemeja putih dihadapannya.

"Kau masih memanggilku Herbivore?" Dino bertanya dengan alis terangkat. "Kupikir kau sudah mengakuinya kalau aku ini tidak sama dengan Herbivore lainnya, Kyoya"

Hibari Kyoya, teman sekelas Dino di sekolah dan merupakan kekasih Dino. Ia adalah keponakan dari ketua dewan keamanan Namimori, Alaude. Hal ini membuatnya dengan mudah menduduki peringkat atas orang-orang yang ditakuti di Namimori.

Hibari menyandarkan tubuhnya di sebuah pohon, pandangannya menyapu bersih langit malam diatas kepalanya.

"Tak kusangka Ramalan Shittopi menjadi nyata" Gumam Dino yang menunduk menatap ujung sepatunya. Ia melirik ke arah Hibari dan melihat sebersit gerakan dari bibir Hibari, Herbivore.

"Bahkan seorang pemilik perusahaan besar seperti Shimon mau jauh-jauh mengunjungi Namimori" Dino melanjutkan gumamannya.

Di dalam kepala Dino, ia masih terus memikirkan berita yang baru saja dilihatnya melalui stasiun televisi tentang kedatangan seorang pengusaha besar Cozart Shimon ke Namimori untuk menyelesaikan bisnis kecilnya dengan beberapa pengusaha besar di Namimori.

"Tapi aku masih belum mengerti, kenapa kedatangan pemilik Shimon Inc. Itu bisa membuat Alaude-san panik" Dino menatap ke langit malam diatas kepalanya lalu menghela nafas.

"Tidakkah kau dengar bahwa kedatangan pemilik Shimon bisa memancing beberapa perusahaan asing yang tak akan segan menghancurkan Namimori demi mendapatkan ijin kerjasama dengan Shimon Inc.?"

Dino mengangguk pelan. "Itu benar, tapi bukankah kedatangannya dirahasiakan? Bahkan berita kedatangannya hanya disiarkan di stasiun televisi lokal"

"Herbivore sepertimu tak akan pernah tahu rasa panik akan kehilangan sesuatu" Ucap Hibari dingin dan mulai melangkah menuju pintu gerbang saat tiba-tiba Dino menarik lengannya dan memojokannya ke pohon.

Hibari meringis saat merasakan badannya terhempas ke permukaan pohon, namun ia adalah Hibari, rasa sakit akibat hempasan tak akan melumpuhkannya. "Herbi-" Desis Hibari pelan, namun terhenti saat tangan Dino mengangkat dagunya, membuatnya menatap Wajah Dino yang memantulkan sinar bulan. "Apa yang kau-"

Sekali lagi ucapan Hibari terpotong oleh aksi Dino. Pria berambut pirang itu menempelkan bibirnya pada bibir Hibari, membuat Hibari terkejut akibat 'serangan' tiba-tiba Dino. Hibari mencoba memberontak dengan mendorong tubuh Dino, namun terhenti saat Dino menangkap salah satu tangannya dan menekannya ke permukaan pohon.

"mmhm"

Hibari membuka matanya lebar-lebar saat menyadari sebuah desahan baru saja meluncur dari mulutnya. Dengan satu tangan yang masih bebas dari cengkraman Dino, ia mendorong Dino hingga jatuh ke tanah.

Dino hanya tertawa pelan melihat aksi Hibari. Dengan ujung jari telunjuknya ia membersihkan sisa liur yang mengalir di dagunya. "Kau terus-terusan menolaknya tapi aku tahu kau menginginkannya, Kyo"

Setelah berdiri dan membersihkan celananya dari debu tanah, Dino menatap Hibari lekat-lekat. Pandangan mata yang seolah berkata bahwa Dino tak ingin kehilangan orang yang dicintainya, dan itu adalah Hibari.

"Dino-san!"

Dino menoleh saat melihat sosok Giannini dari kejauhan tengah melambaikan tangannya, dengan satu anggukan kepala Dino berjalan ke arah Giannini. "Kyoya"

Hibari hanya diam mendengar namanya dipanggil oleh pria yang lebih tinggi daripada dirinya. Pria itu menoleh, tersenyum ke arah Hibari.

"Jika aku kehilanganmu, mungkin saat itulah aku akan merasa panik"

Hibari hanya diam menatap Dino melambaikan tangannya dan berjalan menjauh menuju gerbang hingga akhirnya bayangan Dino menghilang dari pandangannya.

"Ayahmu pasti kecewa jika tahu hal ini, Kyoya"

Hibari menoleh, mendapati sosok Alaude berdiri diambang pintu dan terlihat lengkap dengan mantel hitamnya. Pria berambut perak itu bersandar pada sisi pintu dan borgol kebanggaannya berputar di jari telunjuknya. "Siete sotto arresto, Hibari Kyoya"

Hibari hanya tersenyum mendengar ucapan pamannya dan tiba-tiba saja Tonfa kebanggaannya telah tertanam erat dalam genggamannya. Hibari mengambil pose kuda-kuda, bersiap untuk menyerang. "Zettaini Kamikorosu" desisnya pelan.

"Kyoya, Alaude! Simpan mainan kalian dan cepat bantu aku menyiapkan makan malam!"

Sebuah suara terdengar dari dalam ruangan, suara itu milik Fon, kakak Alaude yang emrupakan ayah kandung Hibari. Keduanya mendesis bersamaan dan menyimpan 'mainan' mereka dan berjalan masuk ke dalam rumah.

o0o


Translation:

Bacio Della Buonanotte : Goodnight Kiss

Sayonara : Good bye

Checi faiqui : What are you doing here?

Giapponese? Mi spiace : Japannese? Sorry... [Cozart was being curious about Tsuna but he didn't know that Tsuna's native was Japannese]

nonti preoccupare : Don't worry

Signor Cozart, Abbiamocercatopervoi : Mr. Cozart, We've been looking for you

Mi Dispiace, Sono andato a fare una passeggiata e guardò fuori qualche negozio : I'm Sorry, I went for a walk and looked out some stores

Grazie : Terima Kasih

Siete sotto arresto : You're under arrest

AAAW~ It's D18 scene! and they're kissing *faint* !

Well, My biggest thanks goes to the reviewer who suggested me some G27 fics. thanks and yeah, I haven't read them all because i've been very busy lately.

anyway, I've got one question for you guys [reply as a review and yeah, anonymous review are welcomed also]

What do you expect from the D18 pairing in this story?

[you want them to be a cute lover, or you want them to break up or maybe something else]

any kind of possibilities are welcomed and i have some special prizes for those who come up with the WILDEST idea :D

Constructive reviews are welcomed :) [the writter loves a looooong review, so give her some and you may read the next chapter asap. LOL]