Disclaimer: Bleach milik Tite Kubo. Kami hanya pinjam tokohnya saja.
Rate: 15+ (T)
Cerita kolaborasi dengan mbak erikyonkichi.
Tsugi Au Toki Wa
Chapter 3: Shinpai
Soshite, koi no license… You have a chance, you got a way.
Temaram cahaya jingga lilin yang berpendar di hadapan menjadi pemberi suasana bagi dua insan yang sedang memadu kasih di tempat ini. Semburat lemahnya juga turut memberi warna pada bayangan dua orang di kaca besar, yang sedari tadi hanya berupa siluet-siluet kelam belaka. Namun cahayanya sama sekali tak mencoba untuk bersaing dengan sinaran redup lampu jingga di atas sana, tetapi keduanya justru turut berpadu, menghasilkan suatu harmoni sinar yang menyejukkan sukma. Di luar sana, cahaya kota tatkala malam memang menusuk dengan garangnya, tapi kegarangan itu bahkan membuat suasana di dalam tempat ini makin syahdu, lantaran paduan cahaya itu membuat sungai yang mengalir di luar sana memancarkan kilauannya. Kegarangan yang berubah menjadi keanggunan permainan berkas-berkas sinar. Anggun nan memikat.
Rukia menatap sekelilingnya penuh minat. Gadis bergaun hitam kelam itu nampak sangat terpesona dan menikmati apa yang ada di sekitarnya. Ia tersenyum, dan menatap pria di hadapannya penuh kasih. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya, lehernya yang belum sembuh dari keterkejutan seolah mengunci sejuta pujian yang telah ia persiapkan. Hanya senyuman yang bisa dia ekspresikan. Tak terperi betapa bahagia rasa hatinya ketika kekasihnya mengajaknya makan malam. Dengan suasana Prancis seperti saat ini. Sungguh tak terduga. Dia pikir, kekasihnya ini akhir-akhir ini hanya sibuk dengan tesisnya, dan pasti sudah lupa akan hal-hal seperti ini. Hal-hal yang membuat taman bunga mekar di hatinya.
Ia menyendok potongan terakhir daging yang ada di piring dan memasukkannya ke mulut. Nikmat sekali, seolah santapan itu melumer ketika berada dalam rengkuhan gigi dan lidahnya. Kembali, ia hanya bisa tersenyum lebar. Bahagia rasanya. Dan untuk kesekian kalinya malam ini, ia menekuni mata kelabu kekasihnya, mata yang biasanya dingin tapi malam ini sudah berhasil menenggelamkannya. Oh, Ashido. Dia memang bukan tipe pria berangasan, bukan pula tipe puitis, tapi romantisme ini sudah lebih dari cukup. Pria ini tahu betul bagaimana menyenangkan hati wanita. Dengan restoran yang dipesan hanya demi mereka berdua. Dengan hidangan yang disajikan dengan penuh cinta. Rukia menelengkan kepalanya, menatap keluar jendela, dan ia mendapati aliran sungai dengan kilauan cahaya di atas arusnya yang hitam pekat. Seolah-olah mereka berdua ada di Paris, menyantap makanan di tepi Sungai Seine yang kelam namun penuh dengan cinta yang mengalir, padahal liburan di negeri Napoleon itu baru saja mereka selesaikan beberapa bulan berselang.
Dalam keheningan, Rukia menghela napasnya. Ah, andai saja ayahnya ditugaskan sebagai diplomat di negeri Marie Antoinette yang tersohor itu, tentu dirinya bisa merasakan aroma cinta menguar dari setiap senti tanah negara itu, setiap saat, setiap hari, bersama kekasihnya ini.
"Kau suka makananmu?"
Suara berat Ashido mengembalikannya pada kenyataan. Berat tapi lembut. Tegas namun menenteramkan. Rukia menatapnya sayang, kemudian tersenyum. "Tentu, Ashido," jawabnya pelan.
Tiba-tiba telinga Rukia menangkap sesuatu; dentingan piano yang dimainkan di sudut sana membentuk melodi harmonis yang sepertinya tak asing baginya. "Rachmaninov?" tanyanya tidak percaya. Dinikmatinya alunan piano itu beberapa saat, kemudian ia kembali tenggelam dalam telaga kelabu milik kekasihnya. "Sudah lama aku tidak mendengar ini. Ternyata kau masih ingat, ya," sambungnya, masih dengan senyuman yang sama.
Kali ini, Ashido tersenyum. Senyum yang sudah berhasil membetot hati wanita di hadapannya. "Tentu saja, Rukia. Bagaimana mungkin aku lupa lagu ini?" katanya penuh kasih. Ia mengangkat tangannya pada seorang pelayan bersetelan hitam lengkap yang berada di sudut gelap ruangan. Seakan mengerti, pelayan itu segera menghilang ke belakang sana. Pria itu kembali beberapa saat kemudian dengan membawa dua piring porselin yang berkilau tertimpa cahaya lampu dan lilin yang masih setia berpendar di hadapan mereka.
Rukia meneguk anggurnya. Kecut-kecut enak. Anggur merah memang tak terlalu disenanginya, tapi Ashido seolah sudah tahu anggur jenis bagaimana yang bisa ia minum. Padahal Rukia tak pernah memberitahunya. Ya Tuhan, seolah-olah pria ini diciptakan untuk mengerti dirinya. Bahkan dengan bonus perlakuan seistimewa ini. Akhirnya ia tak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar, dan ia berkata, "Seingatku ini bukan ulang tahunku, dan juga bukan ulang tahunmu."
Ashido mengabaikan pelayan yang meletakkan piring makanan penutup di depan mereka. "Memang bukan."
"Jadi apa sebenarnya yang kita rayakan malam ini?"
Lagi-lagi Rukia hanya bisa melihat senyum Ashido yang teduh, tapi penuh misteri. "Mengapa tak kau nikmati dulu makanan penutupmu?" balasnya lembut.
Rukia mengerutkan dahinya, kemudian menunduk. Matanya sedikit terbuka ketika menyadari makanan penutupnya. "Crème Brullee?"
Kekasihnya mengangguk. Kilatan sinar lilin membuat mata kelabunya semakin menenggelamkan Rukia dan seluruh perasaannya. "Itu makanan penutup favoritmu, kan?"
Rukia mengangguk pelan. "Ya… memang… tapi aku mengharapkan sesuatu yang lebih dari ini, kau tahu," sahutnya, sedikit menyesal. "Aku sudah menunggu jemputanmu sekian lama tadi, dan aku menantikan sesuatu yang lain dari ini, hal lain yang lebih spesial—bukan sekadar… Crème Brullee," pada akhirnya Rukia benar-benar menyesal. Tapi toh disendoknya juga makanan itu, diiringi helaan napas yang sudah sedari tadi ditahannya. Aku memang menunggu sesuatu yang sia-sia, batinnya. Yah, walaupun begitu,Crème Brullee bukan hidangan yang buruk, sisi lain batinnya protes.
Tapi senyuman penuh arti yang sejak tadi tersungging di bibir Ashido belum menunjukkan tanda-tanda kepudaran. Ia seolah paham kalau kekasihnya akan protes. Dan itulah yang disenanginya dari Rukia—sifatnya yang lugas tanpa menyembunyikan suatu apa. "Tapi ini bukan sekadar Crème Brullee," katanya dengan penekanan, mengulang ucapan Rukia. "Cobalah dulu, dan akan kau rasakan bedanya," sambungnya.
Rukia menaikkan bola matanya, melirik sang kekasih yang ekspresinya tidak berubah sejak tadi. "Baiklah," katanya sambil tersenyum, "kita lihat apa rencanamu." Dan ia menyuapi mulutnya dengan custard putih bertabur gula kristal yang, jujur, terlihat menggoda. Campuran telur dan susu itu pun langsung meleleh di mulutnya, membuatnya memejamkan mata. "Y-yah… ini enak," pujinya tulus.
"Makanlah lagi," gumam Ashido lirih. Rukia meliriknya, lagi-lagi ia mendapatkan senyuman yang sama. Entah apa yang direncanakan pria ini, dan karena Ashido berhasil membuatnya penasaran, Rukia menyendok hidangan itu kembali. Sayang, ketika ia berusaha menyendok gumpalan custard itu untuk kedua kalinya, campuran susu di atas piringnya keburu meleleh dan menyingkap sebuah benda berkilau yang langsung membuat Rukia tertegun.
Sebuah cincin yang bermakotahkan permata.
Kilauannya langsung membuat senyum di bibir Rukia sirna. Ia menatap kekasihnya kaget. "Ashido?" pekiknya heran. Untuk beberapa saat, ia tak bisa berkata-kata. Lehernya kembali tercekat. Matanya menatap kelamnya mata Ashido, ekspresi wajahnya yang penuh arti, dan kilauan cincin di piringnya bergantian. Otaknya mulai kacau sedikit-sedikit. Bahkan diaa sampai tak sadar, tangannya sudah berada dalam genggaman pria bersurai merah marun itu.
"Rukia," ucap Ashido dalam, dan itu membuat Rukia tertegun sekaligus merinding. Ada keseriusan yang menguat dalam suaranya.
Tatapan Rukia beralih lagi pada pria yang kini berstatus pacarnya.
"Maukah kau menikah denganku?"
Denting piano di sudut sana seolah mencapai klimaksnya, sebelum kembali membuai dengan alunan nada menenangkan. Tapi Rukia sama sekali tak peduli soal itu, pria di hadapannya jauh lebih penting. Perasaan di hatinya berkecamuk. Mukanya serasa panas lantaran darah sudah menyembur ke mana-mana. Ke mukanya. Ke lehernya. Ke telinganya. Ke bibirnya juga, menjadikan mulutnya terkatup semakin rapat.
Tapi untung saja kekuatan yang dimilikinya akhirnya cukup untuk berkata-kata. "A-Ashido… ini… aku tak percaya." Mendadak matanya terasa berat. Oh, apakah ritual lamaran selalu dihiasi dengan tangis bahagia seperti ini? Dipaksakannya dirinya untuk membuka kuncian kata yang sudah ada di pangkal lidah, "I-ini… tidak terlalu cepatkah?" Lekas-lekas ia menahan dirinya sebelum berkata lebih ngawur lagi.
Ashido tertawa pendek. "Aku tidak berkata akan menikahimu besok, kan?" tanyanya retoris. Ia menarik napasnya sekali. "Aku ingin bertunangan dulu," putusnya mantap. "Ini tidak terlalu cepat kok, Rukia."
Rasa-rasanya udara di sekeliling Rukia semakin menipis. "Tapi kau jangan bercanda, Ashido Kano," suaranya mendadak meninggi. "Aku tak suka kalau… kalau ternyata kau berbohong." Sebutir air mata akhirnya lolos dari bulu matanya yang lentik. Air mata sialan, umpat Rukia dalam hati. Berjuta emosi dalam hatinya seolah mendesak untuk keluar saat ini juga, dan itu menjadikannya sedikit pening.
Ashido mengusap pipi Rukia yang gemetar, kemudian memajukan tubuhnya untuk mengecup pipi mulus Rukia sekali. "Aku serius, Rukia Kuchiki," bisiknya mesra. Ia kembali ke tempat duduknya. "Aku akan lulus tahun ini, dan aku tak mau ada laki-laki lain mendekatimu. Kau milikku, dan akan selalu begitu. Aku ingin seluruh dunia tahu kalau kita bertunangan, dan kalau kau akan menjadi istriku. Untuk selamanya." Sorot mata Ashido mendadak berubah tajam, seolah-olah di luar sana memang ada ancaman terhadap kekasihnya ini.
Tanpa disadarinya, Rukia mendengus. "Jadi kau melamarku hanya untuk mengikatku? Demi Tuhan," sepertinya ia mulai marah, "apa ini bukan nafsu posesifmu semata? Apa kau sebenarnya takut kalau mainan kecilmu ini akan direbut oleh anak kecil lain, hah?" desisnya kesal. Ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ashido, namun pria itu malah menahannya. Dia memang jauh lebih kuat.
Ashido mengembuskan napasnya. "Tak bolehkah aku menunjukkan cintaku pada kekasihku sendiri? Kita sudah setahun bersama, Rukia, dan bagiku itu sudah lebih dari cukup. Sekarang aku ingin membuktikan padamu, pada dunia, dan pada diriku sendiri, kalau aku mencintaimu," katanya. Ditatapnya mata Rukia dalam-dalam, dan keningnya berkerut sedikit. Entah mengapa, ia merasa ada ketidakyakinan dalam sorot violet itu…
"Aku tahu," bantah Rukia. "Aku juga mencintaimu, dan kau tahu itu. Tapi semua ini," ia memandang berkeliling lagi, "semua ini menurutku terlalu terburu-buru, Ashido. Bahkan untuk bertunangan. Aku bingung. Semua terlalu cepat. Bagimu memang mudah mengatakannya, tapi bagiku, aku harus mempersiapkan diriku untuk berkomitmen, dan itu tidak mudah," jelasnya lirih. Dia mencoba tenang, meski dengan mengatakan itu sejujurnya Rukia sedikit menyangkal kata hatinya sendiri. Sebenarnya ada secercah kekosongan dalam hatinya, hanya saja ia tak tega mengatakan hal itu pada Ashido. Itu sama saja dengan membuktikan bahwa Ashido bukanlah pria yang tercipta untuknya.
"Jadi kau tak mau menikah denganku, begitu?"
Ada luka dalam suara itu.
"Tentu tidak!" Rukia cepat-cepat menyangkal. "Aku tak berkata begitu, Ashido. Aku tak akan berkata begitu. Tapi… aku butuh waktu. Keputusan untuk menikah bukan hanya milikmu saja, tapi aku harus turut andil di dalamnya. Dan untuk mengambil keputusan itu… tak bisa hanya dalam waktu satu menit," sesalnya. Ia menatap mata Ashido yang kini memancarkan ketegangan. "Maafkan aku, Ashido," tunduknya. Matanya menatap cincin itu penuh rasa bersalah.
Pria itu mengelus lembut jemari kekasihnya. "Baiklah, kalau itu maumu. Mungkin semua ini terlalu cepat bagimu. Tapi aku tak mau menunggu terlalu lama, Rukia," tegasnya. "Seperti katamu, keputusan untuk menikah memang bukan milikmu saja… tapi aku juga ada di dalamnya. Kumohon, pikirkanlah aku juga." Ia memegang tangan Rukia erat-erat, dan menatap dalam mata violet itu, seolah menusuk.
"Tentu saja, Ashido," Rukia mencoba meyakinkan kekasihnya, "tentu saja."
Beberapa saat setelahnya tertelan dalam kelamnya keheningan malam yang perlahan tapi pasti mulai merangkak larut. Rukia merasa tak selera lagi menyantap hidangan penutup di hadapannya, dan Ashido juga tak menunjukkan tanda-tanda akan menyentuhCrème Brullee-nya. Suasana seolah membeku, menjadikan udara menggantung di antara mereka. Tak ada yang berbicara. Bahkan untuk beberapa detik, Rukia seolah merasa sangat bersalah, meskipun yang akan ia lakukan hanyalahmencoba menikmati telaga kelabu milik Ashido yang sudah bisa dipastikan akan menjadi miliknya seorang…
Tapi Ashido bukanlah tipe pria tanpa segudang rencana. Dengan hati-hati, ia menyendok cincin di piring makan kekasihnya, kemudian membersihkannya di dalam serbet, penuh kehati-hatian. Setelah itu ia bangkit, berlutut di hadapan kekasihnya, menjadikan mata Rukia kembali terbelalak karena Ashido mengangkat tangan Rukia, dan menyematkan cincin permata itu di jari manisnya.
Rukia mencoba berbicara. "Ashido…"
Kekasihnya itu seolah mencegahnya untuk berkata-kata. "Mungkin kau belum bisa menjawab lamaranku, Rukia. Tapi kumohon, terimalah cincin ini sebagai hadiah dariku," pintanya seraya lagi-lagi mengebor mata Rukia dengan tatapannya yang menajam.
Untuk kesekian kalinya malam ini, Rukia merasa susah bernapas. Lututnya menggeletar tanpa sebab yang jelas. Dan klimaksnya, air mata untuk kesekian kalinya meloloskan diri dari pertahanannya di dalam mata Rukia. Ia memang benar-benar kehabisan kata kalau menghadapi pria satu ini. Dipeluknya Ashido penuh kasih. "Terima kasih, Ashido… terima kasih," gumamnya lirih. Dalam hati, ia sedikit merutuk pada dirinya sendiri. Ia sudah punya Ashido… apa lagi yang ia butuhkan?
Ashido mengeratkan pelukannya. Didekapnya erat gadisnya itu. Kemudian ia berbisik lirih,
"Kau gadisku. Milikku."
xxXxx
Urahara melahap Magnum Gold ketiganya sambil berusaha menahan tawa. Bagaimana tidak, ia sedang menyaksikan pemandangan yang sangat seru. Di tengah bunyi gelegak saus yang sedang dimasak, dan bunyi aduan pisau dengan talenan, ia melihat Ichigo sedang menangis sambil tetap mengiris. Sebenarnya pria bersurai jingga itu sedang mengiris bawang bombay, tapi melihat mata Ichigo yang memerah dan berair sekaligus mendengarnya sesekali menyedot ingus benar-benar pengalaman yang pantas disebarluaskan pada seluruh Seireitei.
"Kau tahu," kata Kapten Divisi Sebelas itu sambil menjilat stik es krimnya, "kalau saja semua gadis Seireitei ada di sini, melihat Kurosaki-taichou yang gagah dan bertubuh kekar menangis gara-gara mengiris bawang, ditambah lagi mengenakan celemek merah muda bermotif kelinci, aku yakin rahang mereka akan terlepas," sindirnya sambil terkekeh. Sebenarnya tadi ia tak berminat melihat Ichigo memasak, tapi isakan kecil Ichigo yang lolos ke telinganya sejuta kali lebih menarik dari drama Korea yang diputar di televisi.
Ichigo hanya menyedot lendir yang keluar dari hidungnya sebelum mendecih. "Oh ya? Mereka justru akan makin terpesona," cetusnya yakin. "Survei membuktikan, pria yang mampu melakukan pekerjaan rumah tangga jauh lebih disukai wanita ketimbang pria yang tak bisa apa-apa." Intonasinya seolah-olah sedang menyindir Kisuke.
Tapi pria yang kini tak mengenakan topi hijau-putihnya itu hanya tertawa. Ia mengalihkan pembicaraan. "Jadi, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Rukia?" tanyanya santai.
Hati Ichigo langsung mencelos. Mendadak tangannya berhenti mengiris bawang. Matanya menukik, menatap pisau dan talenan, seolah meminta dukungan, sayang hasilnya nihil. "Aku tak tahu," desahnya lirih, meskipun telinga Urahara yang tajam masih bisa menangkapnya.
Ada sedikit penyesalan dalam suara itu.
"Maksudmu?"
Mengembuskan napasnya berat, Ichigo mengumpulkan hasil irisan bawang yang membuat pedih matanya sejak tadi, kemudian memutar keran air, bersiap mencuci tangan. "Kupikir Rukia sudah sangat mencintai kekasihnya yang sekarang," desahnya menerawang sambil membasuh kemudian wajan diletakkannya di atas kompor, disertai sedikit minyak, dan hampir-hampir tanpa sadar, ia membuang irisan bawang ke dalamnya.
"Ke-mu-di-an?" pancing Urahara.
"Aku… sudah tak punya kesempatan untuk ada dalam hatinya lagi, Kisuke," sesalnya dalam. Kekecewaan memang tercetak jelas dalam setiap kata yang terucap darinya, Urahara sadar itu. "Takdir memang sudah memutus benang merah kami sejak terlahir kembali," tutup si pria jingga pahit. Ia memegang pinggiran meja, menatap air yang masih terus mengalir.
Kisuke bersiul. "Baiklah. Kalau begitu kasus ditutup. Aku bisa tidur nyenyak di divisiku, kau bisa pulang ke London, mencari wanita berdada besar dan berambut pirang yang tentu tak menolak kau tiduri, sementara Rukia berbahagia dengan suaminya, menikmati hidupnya sebagai manusia biasa, dan melahirkan anak-anak bermata violet, persis dirinya," sahutnya sambil membuka kulkas, tanpa sekali pun menatap pria bersurai jingga yang kini balas memandangnya getir.
Ichigo merinding. Ketakutan akan Rukia yang membentuk keluarga bersama laki-laki lain mendadak menjalari setiap sel tubuhnya, dan rasanya tidak nyaman. Hatinya serasa dirajam setiap kali membayangkan Rukia bersenda gurau bersama anak-anak yang lahir bukan dari benihnya. Tapi tetap saja, tak ada kata yang lolos dari bibirnya untuk mengenyahkan penglihatan semu seperti itu.
Urahara berbicara lagi, "Aku memang tak tahu bagaimana rasa sakitnya dihukum dan menjadi manusia, Kurosaki. Tapi yang kutahu adalah, takdir tengah menantangmu. Terserah padamu, mau menjawab tantangannya apa tidak," katanya santai sambil menggigit apel. Puas membuat Ichigo ketar-ketir, ia melangkahkan kakinya menuju sofa di depan televisi. Sebentar lagi drama favoritnya akan diputar, dan persetan dengan pria galau dan plin-plan yang kini membiarkan tumisan bawangnya gosong itu.
xxXxx
Kejutan kedua bagi Rukia rupanya telah menantinya di rumah. Setelah acara lamaran dadakan Ashido yang betul-betul membuatnya tak mampu berucap sepatah kata pun pada pria merah marun itu lantaran terlalu kikuk sepanjang perjalanan tadi, tiba-tiba ia mendapati ruang kerja ayahnya yang biasanya gelap telah bermandikan cahaya. Itu artinya Byakuya Kuchiki sudah pulang.
Tersenyum sumringah, Rukia langsung berlari di halaman rumahnya sesaat setelah mobil Ashido berbelok di tikungan. Setelah melepas cincin yang ia nilai hanya akan membuat ayahnya banyak bertanya (dan menyelipkannya di dalam tas tangan), Rukia mengempaskan tas tangannya ke sofa, berlari menyusuri tangga, dan tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke ruang kerja Byakuya, plus memeluknya dari belakang, membuat ayahnya terkejut.
"Ayah, Ayah, Ayah," katanya senang sambil mencium pipi ayahnya. "Akhirnya Ayah pulang."
Byakuya mencoba menghilangkan keterkejutan yang tadi melanda wajahnya. "Umurmu sudah 24, tapi lagakmu masih seperti bocah empat tahun, Rukia," katanya dingin. Seperti biasa, Byakuya tak terlalu menunjukkan banyak ekspresi. Meskipun ia amat rindu dan terlalu senang bertemu putri semata wayangnya ini, tetap saja senyuman seolah enggan singgah di bibir tipisnya.
Rukia duduk di pangkuan ayahnya. "Aku memang putri kecil Ayah. Selamanya," sahutnya merajuk. Senyuman lebar tersungging di bibirnya, kontras sekali apabila dibandingkan dengan wajah sang ayah yang membeku.
"Kalau kakekmu melihatnya, ia pasti akan menertawakan Ayah, dan mengatakan kalau kaulah satu-satunya Kuchiki paling tak beretika yang ia kenal." Byakuya mengembuskan napasnya resah.
Rukia mengerang. Topik kebangsawanan itu lagi. Akan sangat membosankan kalau ayahnya mulai mengungkit-ungkit soal etika, silsilah keluarga, dan kehormatan terlahir sebagai seorang Kuchiki. Seolah-olah darah mereka benar-benar berwarna biru dan mengandung partikel emas! "Jangan membahas hal-hal seperti itu bisa kan, Yah?" Gadis beriris violet itu berdiri dan menentang pandangan dingin ayahnya. "Mungkin kita tak usah terlahir sebagai keluarga Kuchiki kalau Ayah terus-terus mempermasalahkan etikaku!" keluhnya kesal sambil mengangkat tangan.
"Rukia," ingat ayahnya tegas. Dalam hatinya, ia merasa ia belum cukup mendidik Rukia agar menjadi wanita yang bermartabat. Dia belum menjadi seorang Kuchiki yang seutuhnya. Bukan wanita berpikiran bebas seperti ini yang diinginkan keluarga Kuchiki. Wanita Kuchiki harus elegan, anggun, dan tak membantah perkataan pria.
Cengiran terpampang di wajah putrinya. "Maaf. Aku memang tak suka dengan etika keluarga Kuchiki, tapi aku bersyukur bisa menjadi anak seorang Byakuya Kuchiki yang tampan ini," pujinya.
Sebenarnya Byakuya sudah mau tersenyum, tapi yang berhasil keluar dari wajahnya cuma tatapan penuh makna dan kasih sayang. Selebihnya hanya kebekuan yang terpancar dari urat-urat mukanya yang kaku.
"Tapi… malam ini bukan jadwalnya Ayah pulang, kan?" Tiba-tiba Rukia bertanya. "Semestinya Ayah kan pulang dua minggu lagi? Dan kenapa Ayah tak memberikanku kabar dulu sebelum pulang?" tuntutnya tiba-tiba.
Ayahnya berdiri dan mengunci pandangannya pada mata ungu putrinya. "Ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan denganmu."
"Hal penting?" Rukia keheranan.
Byakuya hanya mengangguk. "Ya, hal penting. Tapi besok saja kita bicarakan, sepertinya malam ini kau terlalu lelah. Ayah juga mau istirahat," katanya sambil beranjak dari tempatnya duduk, keluar ruangan, meninggalkan putrinya sendirian.
Rukia masih merasa heran, tapi ia tak menahan kepergian ayahnya. Ia memang belum paham akan apa yang ingin dibicarakan ayahnya, tapi malam ini ia memang benar-benar pusing sampai tak bisa berpikir. Dan ia tak yakin bisa mengikuti pembicaraan ayahnya dalam keadaan pikiran yang sedemikian. Salah-salah ia bisa membuat ayahnya tambah marah kalau terkantuk-kantuk ketika mendengar perkataannya.
Tapi satu hal yang ia harapkan… semoga saja ini tidak menyangkut lamaran Ashido.
xxXxx
Matahari belum lagi selesai menyapa pagi ketika Rukia berlari menyusuri taman depan rumahnya, tersengal-sengal. Benar-benar cara yang buruk untuk menyambut pagi yang mulai merekah indah di ufuk sana. Dan dia tak suka memulai hari dengan keterburu-buruan seperti ini. Betapa tidak, di tengah tidur nyenyaknya dia harus dibangunkan oleh telepon seorang pria yang mengatasnamakan dirinya tamu kampus. Hanya karena dirinya tak tega dengan sang profesor yang sudah memintanyalah, ia tega berdingin-dingin, berpaparan embun yang membekukan pipinya untuk menjumpai tamu sialan itu.
Rukia memperlambat langkahnya ketika gerbang rumahnya sudah cukup jauh. Tapi mengapa juga dia harus tergesa-gesa seperti ini? Apakah semata-mata karena Profesor Ukitake telah memintanya dengan amat sangat untuk menemani pria ini, sampai setengah mengancam? Atau justru karena ia memang khawatir ketika mendengar si pria mengatakan bahwa kalau Rukia tak datang, ia akan mengelilingi Tokyo sendirian? Semestinya dia bergeming saja tadi! Kalau toh akhirnya pria jingga itu tersasar di kota besar ini, itu urusannya! Untuk apa Rukia turut pusing? Mereka baru berkenalan selama beberapa hari!
Namun, kendati Rukia ingin acuh, hatinya entah kenapa keder untuk alasan yang tak jelas. Sebenarnya tak ada yang perlu ditakutkan, laki-laki itu bisa berbahasa Jepang lebih baik dari separuh orang yang lahir di negara ini, jadi kalau ia tersesat pun tak masalah, tapi kalau dia dibiarkan sendirian… Rukia merasa tak tenang.
Rukia mendengus, tapi kakinya tetap melangkah. Tak tenang karena seorang laki-laki. Pria yang baru saja dikenalnya dengan cara tak lazim. Lucu sekali. Orang itu… bagaimana ya menjelaskannya? Rukia sendiri bingung. Lelaki itu menyebalkan. Sikapnya bebas. Kadang beringas. Ganas pun boleh jadi. Tapi di balik semua maskulinitas itu, Rukia seperti bisa merasakan kelembutan. Seperti sutra. Dan itu terpancar dari matanya. Mata yang lembut dan penuh misteri. Entah mengapa, ia merasa sudah kenal betul akan laki-laki itu. Luar dalam.
Dan satu hal yang harus ia akui meskipun sangat terpaksa adalah sebetulnya Rukia terlalu menikmati setiap detik kebersamaan mereka di dojo kendo kemarin. Hanya saja dia tak mau mengakuinya. Itu jelas. Bisa gawat kalau ada yang tahu bahwa dirinya hampir terlena ketika bersama seorang Ichigo Kurosaki. Oh, kali ini dia menyebutkan namanya. Apa yang dia pikirkan. Rukia kan sudah punya Ashido… dan itu lebih dari cukup.
Setidaknya untuk saat ini.
Rukia menjumpai pemuda itu di gerbang taman. Badannya yang tinggi dan berotot tertutupi kaus, jaket, dan celana jins yang warnanya telah memudar, tapi tetap pantas dipakainya. Ia mengentak-entakkan kakinya yang bersepatu kets, tanda bahwa pria ini sudah tak sabar menunggu. Topi bisbol yang menyembulkan anak rambut jingganya entah sudah berapa kali dilepas-pasang, dan kini posisinya telah miring.
"Lama sekali!" gerutunya ketika Rukia sudah ada dalam jarak pendengaran yang cukup jelas.
Rukia memutar bola matanya sebelum mendengus. "Seharusnya kau bersyukur aku mau datang. Pagi-pagi buta seperti ini aku semestinya masih bergelung di bawah selimut hangatku," cibirnya.
Si pria malah tersenyum. "Terlalu banyak tidur tak bagus untuk kulitmu, Nona. Lebih baik kau berjalan-jalan, membakar lemak."
Kening Rukia berkerut, tak percaya. "Membakar lemak?" desisnya. "Mungkin… untukmu, ya. Tapi bagiku tidak. Aku butuh tidur nyenyak agar tubuhku bertambah tinggi, tahu. Kau mana mungkin mengerti…" keluhnya sambil menatap tubuh bak tiang listrik bagi dirinya, "kau sudah tinggi. Terlalu tinggi bagiku."
Ichigo tertawa. "Itu karena aku memanfaatkan masa pertumbuhanku dengan sebaik-baiknya," katanya. Pandangan matanya terhadap Rukia berubah, separuh meremehkan. "Tapi kalau dirimu… terima kenyataan sajalah. Masa pertumbuhanmu sudah jauh berlalu, jadi kalau tinggi badanmu cuma segini… ya itu takdirmu," ocehnya mengejek.
Rukia tak menimpali, tapi tatapannya yang tajam menusuk telaga cokelat di mata Ichigo berhasil membuat pria itu tak mampu berkata-kata. Akhirnya ia mengembuskan napasnya kesal seraya berujar, "Hari ini kau mau ke mana? Aku tak punya banyak waktu menghadapi tamu menyebalkan sepertimu."
"Hari ini kita akan berkencan!" sahut Ichigo mantap.
"Apa?" Rukia memekik keras. "Aku tak salah dengar?" ujarnya ketus. "Kau bilang mau meneliti lagi hari ini!"
Ichigo menggeleng, senyumannya yang bagi Rukia semakin lama semakin indah itu belum juga memudar. "Aku memang mau meneliti," sahutnya ringan. "Meneliti budaya pop anak muda Tokyo zaman sekarang. Jadi mungkin kita bisa ke Shinjuku, Roppongi, Harajuku, Akihabara, atau ke mana sajalah, yang penting aku bisa melihat anak muda Tokyo berinteraksi dalam kehidupan sosialnya. Dan karena seharian ini kita akan berkeliling," suaranya tiba-tiba membesar, "tak ada salahnya kalau aku menganggap ini adalah sebuah kencan. Bukan begitu?" godanya.
Rukia tersenyum menyeramkan, kemudian langsung mengangkat tangannya seraya menjauh sedikit. "Woh, itu menurutmu! Karena kau salah besar. Aku tidak akan pernah dan tidak akan pernah menganggapmu sebagai teman kencanku!" seru Rukia bersikeras.
"Hah, terserah kau suka atau tidak," kata Ichigo dengan kesabaran yang mulai menipis, "tapi hari ini kau adalah teman kencanku!" serunya santai sambil menarik lengan Rukia.
"Hei, Kurosaki, lepas! Kita mau ke mana?" teriak si gadis sambil terus meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sang pemuda jingga. Tentu saja usahanya nihil karena Ichigo sepuluh kali lebih kuat dibanding dirinya. "Jangan macam-macam kau, ya! Lancang sekali!" gerutunya kesal.
Lawan bicaranya tak menjawab, ia terus saja menarik lengan gadis yang sudah diincarnya ini semakin dekat dalam dekapannya, membuat Rukia yang sudah lelah meronta terpaksa mengikuti langkah-langkah besar milik sang pemuda yang harus diimbanginya dengan kecepatan berjalan dua kali di atas biasanya.
Oh, tapi andai saja Rukia tahu, jantung Ichigo sudah berada di leher, saking deg-degannya…
xxXxx
"Hm…," Ichigo menggumam sambil menyedot jus jeruk yang tersaji di mukanya. "Kurasa akhir-akhir ini budaya pop Jepang telah menjadi alat hegemoni budaya di seluruh dunia," katanya sambil mengamati remaja yang berlalu lalang dari sebuah restoran cepat saji di bilangan Harajuku.
"Memang demikian," balas Rukia tak jelas karena mulutnya masih penuh dengan hamburger. Ia menelan makanannya dibantu dorongan seteguk air soda. "Belakangan ini pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan menaruh perhatian khusus terhadap budaya pop seperti ini. Mungkin mereka ingin menjadikan J-Pop dan J-Rock sebagai diplomasi terhalus dengan negara-negara luar, dan kupikir itu cukup efektif," terawangnya. Sembari sebelah tangan memegang makanan, tangannya yang satu lagi dijadikan topangan dagu. Pandangannya pun melayang pada remaja-remaja berkostum unik yang tak lelah berkeliling setengah distrik ini. Sampai-sampai ia tak menyadari Ichigo mengangguk, menyetujui perkataannya.
"Setelah ini kita mau ke mana lagi?" Kali ini Rukia bertanya sedikit lemas. Sudah hampir delapan jam mereka berkeliling Tokyo, bahkan mereka baru makan siang sekarang. Pria bersurai jingga sialan ini dengan kejamnya menolak keinginan Rukia untuk rehat sejenak dua jam yang lalu, dengan alasan cuaca sedang sangat cerah untuk berkencan. Ketika Rukia sudah merengek dan hampir ngambek pun, Ichigo tak mau menuruti permintaannya.
Kencan. Mengingat kata itu, Rukia mendengus lagi. Ia sudah tak ingat lagi berapa kali memarahi dan mengingatkan pria ini bahwa mereka tidak sedang berkencan. Tapi Ichigo sepertinya tak mengindahkan perkataannya, malah ia berjalan saja terus. Membuat Rukia semakin meradang. Mana sudi dia dikatakan berkencan dengan pria ini? Tugasnya sekarang hanya menjadi penunjuk jalan, tidak kurang juga tidak lebih.
"Bagaimana kalau kita ke taman bermain?" Tiba-tiba Ichigo malah membuat lawan bicaranya terlonjak dengan keputusannya yang seenaknya.
Rukia menatap pria ini dengan mata yang dibesar-besarkan. "Di sana kau mau meneliti apa? Bianglala? Karosel?" tanyanya sarkastik. "Atau kau mau meneliti budaya badut? Sanalah, teliti sendiri. Aku mau pulang saja," sambungnya ketus. Ia meletakkan burgernya yang tinggal setengah. Tiba-tiba ia tak selera lagi untuk menghabiskannya.
"Lho, kenapa pulang?" Ichigo malah menyeringai. "Tugasmu sudah selesai, kok. Aku sudah selesai meneliti. Sebagai ucapan terima kasih, aku mau mengajakmu bermain."
Rukia mengangkat dan mengibas-ngibaskan tangannya. "Tidak, tidak, terima kasih banyak, tapi aku tak mau. Aku melakukan semua ini demi Profesor Ukitake, kau tak perlu melakukan apa pun untukku," katanya cepat-cepat. Lebih cepat dia menyingkir dari sini, lebih baik. Ia tak mau ada seseorang memergokinya di taman bermain dan memberitahukan segalanya pada Ashido. Bisa berabe semuanya.
Sayang seringaian di bibir Ichigo belum juga sirna. "Begitu ya?" sahutnya, pura-pura menyesal. "Padahal di taman bermain sedang ada Chappy Festival, lho," matanya menatap Rukia seolah-olah sayu. "Kau yakin tak mau melihatnya?"
Mata Rukia terbelalak lebar. Ia tak sadar menelan ludahnya sendiri.
"C-Chappy?"
Ichigo mengangguk sambil mengerutkan dagunya penuh simpati. Tapi dalam hati, ia bersorak kegirangan. Rukia memang belum berubah… baik lima ratus tahun lalu, maupun sekarang.
xxXxx
Byakuya Kuchiki menatap tajam pria bersetelan lengkap yang kini bersimpuh tak jauh darinya dalam sebuah ruangan berlantai tatami. Matanya menembus pria yang ada di depannya itu, seolah menelanjangi, mencari kecacatan yang mungkin ada, baik yang kasat mata maupun yang tidak. Jarang-jarang ia menatap orang lain seperti ini, tapi kalau ini menyangkut putrinya yang bernama Rukia Kuchiki, mungkin ia akan mampu mengeluarkan pedang dari dalam biji matanya yang senantiasa memancarkan kebekuan. Bagaimana tidak, telinganya baru saja mendengar sesuatu yang mengejutkan dari bibir pemuda ini, kendatipun ekspresi mukanya masih setenang telaga mahadalam.
Ashido Kano baru saja melamar Rukia Kuchiki.
Udara seolah menggantung di antara mereka. Matahari dengan sinarnya yang terik kentara sekali mencoba mengintip, dan angin yang menggetarkan bunyi-bunyian bambu di lorong luar sana seolah berusaha menyampaikan pesan pada seisi persada. Selama beberapa detik, hanya desahan napas saja yang berhasil ditangkap telinga tajam Ashido. Ia berusaha untuk tidak bergerak dalam posisinya, untuk membuktikan pada pemimpin keluarga Kuchiki ini bahwa hatinya sudah kepalang mantap untuk memboyong anak gadisnya.
Dan akhirnya Byakuya berujar, "Kau yakin dengan keputusanmu, Ashido-kun?"
Suaranya masih setenang aliran air di sungai kecil itu.
Ashido mengangguk, matanya menatap Byakuya, menguncinya dalam sebuah bentrokan. "Tentu, Paman," katanya mantap. "Saya yakin, Rukia tercipta untuk saya. Dia adalah satu-satunya wanita yang saya butuhkan dalam hidup, setelah mendiang Mama."
Byakuya meletakkan gunting di sebelah pot bonsai yang sedang ia urus, hampir-hampir tanpa suara. Pakaian tradisional Jepangnya yang berkilau seolah menambah kewibawaanya sebagai seorang aristokrat dengan etiket zaman feodal yang sangat kental. Ia tahu, pemuda di depannya ini sedang tegang, meski Ashido menyembunyikan ketakutannya dengan cukup baik. Byakuya merasa bangga akan dirinya sendiri. Auranya sebagai pemimpin keluarga memang harus seperti ini. Harus membuat lawan bicaranya kebingungan merajut kata dan bimbang dalam mengatur ekspresi.
"Tapi kau harus tahu, Rukia adalah gadis yang bebas dan mandiri, meskipun ia bisa tampak sangat manja."
"Ya, saya mengerti, Paman."
"Dan meskipun dia mengaku akan menyelesaikan masalahnya sendiri, kadang-kadang dia menangis sendirian di kamar kecil untuk meluapkan kekesalannya."
"Saya tahu, Paman."
Byakuya mengangguk sarat arti. "Satu lagi, jangan pernah percaya kalau Rukia bilang dirinya bisa memasak."
Untuk kali ini, suasana seolah melumer dengan sendirinya. Sambil tersenyum, Ashido mengangguk. Sinyal positif sudah didapatnya dari seorang Byakuya Kuchiki. Dan pikirannya menerawang pada sepuluh bulan silam, saat Rukia mengunjunginya di Pittsburgh ketika ia mencari bahan untuk tesisnya. Ia memakan masakan yang Rukia buat… dan rasanya lebih mengerikan dari racun. Perutnya sakit selama tiga hari tiga malam, dan ia tak bisa melupakan diare hebat yang menjotos perutnya tanpa ampun.
Sejak saat itu ia bersumpah tidak akan lagi memakan masakan dari tangan Rukia Kuchiki, kecuali dia mau mati muda.
Lagi-lagi Byakuya mengangguk. "Karena pekerjaanku, Rukia tak mungkin kuawasi setiap detik. Dan karena pekerjaanku juga, Rukia terancam setiap saat. Tepati janjimu sebagai penerus keluarga Kano, Ashido. Jaga Rukia, dan jangan sekali pun kau membuatnya menangis. Keluarga Kano tak pernah mengecewakanku." Suara Byakuya sekilas terdengar seperti sebuah ancaman, alih-alih peringatan calon mertua.
Kali ini Ashido yang mengunci tatapan mereka berdua. "Saya berjanji, Paman," katanya mantap dan lugas, karena ia tak mau ada sedikit pun keraguan ditangkap oleh indra seorang Byakuya Kuchiki. Hari ini ia datang untuk menaklukkan singa ini… dan sepertinya usahanya berhasil.
xxXxx
"Chappy… CHAPPY!" pekik Rukia tak percaya, sebelum berlari melintasi gerbang bermotif kelinci-di-mana-mana dengan mengabaikan seruan dari pemuda yang mengajaknya kemari. Bagaimana mungkin ia peduli akan hal lain, kalau telinganya sudah terfokus pada lagu pembuka anime kelinci yang digemarinya sejak kecil itu? Bahkan kini tangan dan kakinya sudah bergerak mengikuti tarian kelinci yang diperagakan di sebuah layar superbesar di dekat panggung. Panggungnya sendiri sudah ramai, tapi bukan ramai dengan gadis seumuran Rukia… melainkan ramai dengan anak-anak TK yang bersorak riuh rendah.
Ichigo cuma bisa berlari menyusul gadis itu sambil sesekali menggelengkan kepalanya. Menggunakan kelinci sebagai alat bantu memang sangat berguna. Gadis ini entah mengapa mempunyai keterikatan dengan binatang bertelinga panjang itu. Bahkan ketika dulu mereka masih di Seireitei, Rukia selalu tergelak kalau Ichigo bertingkah seperti seekor kelinci yang berloncatan di atas Bukit Rukongai. Semestinya ia tak heran kalau melihat Rukia yang ini juga tergila-gila dengan kelinci… aih, ia rasanya kangen sekali melihat Rukia yang matanya berbinar-binar menyaksikan sesuatu yang sangat disukainya.
Puas mengikuti gerakan kelinci-kelinci putih dan cokelat, Rukia tertarik dengan parade kelinci di jalan utama. Matanya berkilat-kilat, tangannya bahkan setengah terjulur seolah-olah gemas dengan kelinci-kelinci yang berderet-deret, berjalan dengan penuh kelucuan. Mungkin dia mau mencubit pipi kelinci itu satu per satu. Tapi mata ungunya tiba-tiba terpaku pada kumpulan boneka kelinci di stan pojok sana. Menembus parade kelinci bertopi, Rukia mendekati boneka kelinci yang berjajar rapi di etalase. Ichigo mengikutinya, seolah-olah mencegah agar gadis ini tidak menghilang. Tapi ia sempat tertinggal—jalannya begitu cepat!
"Wah, Chappy in Paris! Ini yang edisi terbatas, kan?" serunya pada si penjaga stan.
Wanita bermuka teduh yang duduk di balik meja tersenyum simpul. "Tepat sekali," jawabnya ramah. "Edisi terbatas yang hanya diproduksi lima puluh buah. Itu yang terakhir, lho," katanya penuh misteri, membuat Rukia yang menatapnya takjub semakin antusias. Seluruh organ tubuhnya seolah berbisik: ini harus jadi miliknya!
"Aku mau beli! Berapa harganya?"
Wanita itu menggeleng sedih. "Ini tidak dijual, Nona."
Rukia terbelalak. "Tidak dijual?" tanyanya tak percaya. "Lalu bagaimana boneka itu bisa jadi milikku?"
Seulas senyum terkembang di bibir si wanita. "Mudah sekali." Strategi penjualannya mulai dilancarkan. "Nona cukup mengikuti lomba menari lagu OVA Chappy in Paris, kalau Nona berhasil jadi juara pertama maka boneka ini jadi milik Nona," katanya meyakinkan.
Rukia mengangguk-angguk. "Baiklah, aku ikut!" serunya bersemangat. "Di mana aku bisa mendaftar?"
"Nona bisa mendaftar di sini," jawab seorang pria yang baru bergabung. "Tapi…" ia menatap Rukia bingung, "pasangan Nona mana?"
Kali ini Rukia yang mengerutkan keningnya. "P-pasangan? Pasangan? Aku butuh pasangan?"
"Tentu saja!" imbuh si pria cepat. "Chappy in Paris kan film Chappy tentang cinta! Jadi Nona membutuhkan pasangan! Kalau Nona tak memilikinya… sayang sekali, Nona tak bisa ikut perlombaan ini. Jadi Nona tak mungkin bisa membawa boneka ini pulang…" katanya penuh penyesalan. Matanya yang bulat seolah ikut sedih kalau Rukia tak bisa ikut lomba.
Sontak senyum yang ada di bibir Rukia menghilang. Ditatapnya boneka kelinci yang sedang memeluk replika Menara Eiffel itu sedih. "Aku mau ikut lomba itu dengan siapa…" keluhnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tapi sedetik kemudian ia sadar kalau dirinya tidak sendiri. Ia membalikkan badannya, dan mendapati rekannya sedang berjalan ke arahnya. "Ah, Kurosaki! Ichigo Kurosaki!" pekiknya sambil melambai-lambaikan tangan. "Tidakkah kau sadar kalau dirimu itu begitu tampan?"
Ichigo masih terengah-engah, tidak terlalu jelas mendengar apa yang dikatakan Rukia. Namun ia sadar ada kata-kata yang janggal diucapkannya tadi. "Apa?" lenguhnya heran. Ia membungkuk dan memegang lututnya, kelelahan berlari.
Penuh semangat, Rukia mengangguk. "Kau itu ganteng sekali, tahu," pujinya dengan mata berbinar. "Lebih ganteng lagi kalau kau mau menolongku." Ia menatap Ichigo dan penjaga stan bergantian. Ekor matanya tak lepas-lepas dari boneka yang sudah diincarnya sejak tadi. Ia harus merayu Ichigo agar menjadi pasangannya. Rayuannya harus tuntas, bernas, dan berhasil. Ichigo harus mau jadi pasangannya dalam lomba menari Chappy!
Ichigo beringsut ke samping. "Apa maksudnya ini? Menolong apanya?" Ia mulai curiga. Kalau sudah begini, gadis ini pasti ada maunya, dan ini berkaitan dengan boneka-boneka kelinci yang berderet rapi di atas pajangan. Ditatapnya mata Rukia yang kini sudah menusuknya dengan permohonan yang amat sangat. "Apa maumu sebenarnya, Rukia Kuchiki?" tanyanya.
Tiba-tiba dia membayangkan dirinya dan Rukia berciuman. Sangat tidak mungkin untuk saat ini, kan.
"Sini, sini," balas Rukia manja, meminta telinga Ichigo agar mendekat. Dia membisikkan sesuatu ke telinga si pria jingga.
Sesuatu yang membuat Ichigo terlonjak kaget. "Apa? Tidak, tidak!" Wajahnya memancarkan ketakutan. "Aku? Menari seperti orang sakit jiwa? Jangan harap! Kau gila! Tidak, aku tidak mau melakukannya!" tolaknya tegas. Yang benar saja, batinnya meringis. Disuruh mencium Rukia sih dia tidak menolak, tapi kalau harus menari di hadapan umum seperti ini… mau ditaruh di mana mukanya? Belum lagi kalau Urahara tiba-tiba muncul dan melihat semuanya… bisa jadi bulan-bulanan, dia.
Tapi Rukia nampaknya belum menunjukkan tanda-tanda menyerah. "Oh, kumohon, Ichigo," pintanya. "Itu boneka edisi terbatas, cuma diproduksi lima puluh buah di seluruh dunia. Kemarin saat di Paris aku sudah kehabisan, dan tinggal itu satu-satunya, masa kau tak mau menolongku? Katanya kau ingin mengucapkan terima kasih karena aku sudah mengajakmu jalan-jalan? Itu," tunjuknya, "boneka itu ucapan terima kasih yang sempurna, Ichigo! Kumohon, ya? Ya? Ya?" rajuknya.
Ya Tuhan, Ichigo mendadak merasa ingin mencubit-cubit pipi wanita yang ada di depannya ini! Dia begitu… menggemaskan! Tapi harga dirinya sebagai seorang laki-laki harus menang! "Tidak!" Ichigo tetap bersikeras. "Cari saja temanmu yang lain! Tapi jangan aku! Kau pikir aku ini apa? Penari parodi?" sungutnya. Ia mengembuskan napasnya, berusaha agar darahnya tidak terlalu menyembur. Akan sangat salah kalau mukanya memerah melihat Rukia yang begitu… lucu.
"Ichi… lombanya dimulai setengah jam lagi. Kalau aku tak berpasangan denganmu, aku harus pasangan dengan siapa? Kumohon…" Rukia memasang wajah yang sangat memelas. Demi boneka itu, apa pun akan ia lakukan, tetapnya dalam hati. Termasuk memanggil Ichigo dengan panggilan baru, Ichi. Dia masih berpikir apakah akan menambahkan embel-embel 'sayang' pada panggilan baru itu.
Sayang Ichigo bersikukuh dengan keputusannya. "Tetap tidak."
Tekukan di muka Rukia semakin diperdalam. Bibirnya memberengut. Tidak akan dia biarkan boneka itu lolos dari tangannya! Ichigo akan menari bersamanya, atau tidak sama sekali! "Kumohon, Ichi sayang…" pintanya, nada suaranya benar-benar memelas. Kedua tangannya terkatup di depan dada. "Sekali ini saja, ya? Setelah ini aku tak akan minta apa-apa darimu…"
Mungkin kalau Ichigo tak berusaha agar semburan darahnya tidak keluar lewat mulut, kepalanya sudah meledak saking panasnya. Bagaimana mungkin dirinyatidak jantungan kalau Rukia memanggilnya 'Sayang'? Dia akan menyerah, dia pasti menyerah, dia harus menyerah! Tapi demi menjaga gengsi, sambil mengembuskan napasnya setengah mendengus, ia menggeram marah. "Baiklah, kau menang!"
Detik itu juga mendung tertiup angin kencang di muka Rukia, menggantinya dengan senyum yang lebih cerah dari matahari yang mulai terkantuk-kantuk di barat sana. Sepertinya sang matahari sudah terlalu bosan mengarungi dunia hari ini, dan ingin segera terlelap dalam peraduannya yang pasti sangat memekik kegirangan. "Terima kasih, Ichigo! Terima kasih banyak!" teriaknya sambil berlari ke meja pendaftaran.
xxXxx
"Aw, sakit, Ichigo!" Rukia mengaduh sambil mengangkat kakinya sebelah. "Kau menginjak kakiku lagi!"
Bukan cuma Rukia yang mulai kehabisan kesabaran. Tapi pasangannya juga. Dientakkan kakinya kuat-kuat ke lantai kayu di belakang panggung. "Jangan salahkan aku! Aku kan sudah bilang dari tadi kalau aku sama sekali tidak bisa menari! Salah sendiri kau mengajak orang buta tarian sepertiku!" gerutunya kesal. Ia menjauh dari belakang panggung agar para kru tak curiga dengan pertengkaran kecil mereka.
Rukia memutar bola matanya. "Ayolah, gerakannya kan mudah!" serunya. "Letakkan tanganmu di pinggang, geser lima langkah ke kanan, lalu tiga langkah ke kiri!" jelasnya sambil memeragakan gerakan awal untuk tarian Chappy in Paris. "Kemudian berputar, langkah menyerong, dan tepukkan tanganmu! Tinggal diulang-ulang dalam arah dan urutan yang berbeda! Anak TK saja bisa melakukannya, masa kau yang sudah universitas ini tidak bisa?" tantangnya.
"Berbicara memang mudah!" Ichigo semakin kesal. "Dan kau perlu tahu, aku bukan bocah tiga tahun yang gemar menghabiskan waktuku menyaksikan sekumpulan banci berpakaian kelinci sambil melenggak-lenggok seperti orang sakit jiwa." Kelihatan betul dia frustrasi. Sudah seperempat jam mereka berlatih tarian yang sama, tapi pria ini tak menunjukkan perkembangan apa-apa. Berkali-kali Ichigo mencoba mengikuti tarian dan irama lagu yang diputar Rukia dari telepon genggamnya, tapi berkali-kali juga dia gagal. Malah dia jadi kelihatan seperti boneka kayu yang digerakkan dengan tali. Kaku sekali.
"Lombanya sebentar lagi, dan aku tak mau tahu, pokoknya kau harus hapal semua gerakannya!" bentak Rukia galak. Ia mematikan musik telepon genggamnya, kemudian duduk di dekat rumpun bunga.
Pria yang bersamanya mendengus jengkel. "Oh, kekanak-kanakkan sekali kau! Demi sebuah boneka murah saja kau sampai tega melakukan semua hal menjengkelkan ini! Pakai acara menyeretku, pula! Kau pikir aku ini apa? Banci tampil? Atau pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri?"sahutnya ketus.
"Ya, aku memang kekanak-kanakkan!" sergah Rukia secepat kilat. "Umurku memang masih tiga tahun, aku memang bocah, dan kegemaranku adalah melihat banci-banci berkostum kelinci tampil melenggak-lenggok bersama anak TK seperti orang sakit jiwa! Puas? Dan kalau kau memang benar-benar tidak mau dan tidak ikhlas menolongku, pergi saja sana! Pulang ke negaramu dan jangan kembali!" teriaknya emosi. Napasnya sedikit banyak tersengal-sengal. Dia cuma ingin Ichigo menolongnya mendapatkan boneka itu, tapi kenapa harga diri pemuda brengsek ini tinggi sekali?
Ledakan emosi Rukia agaknya membuat ego Ichigo terkatup rapat. "Maafkan aku," sesal Ichigo pada akhirnya. Didekatinya wanita yang sedang mengembuskan napas kesalnya itu, dan dia melihat mata Rukia berkaca-kaca. "Aku tak bermaksud membentakmu seperti tadi." Ia duduk di samping Rukia dan mengulurkan tangannya. "Kita mulai lagi dari awal, ya?" pintanya. "Aku tak akan cerewet lagi, aku janji."
Rukia sebenarnya masih cukup marah untuk ngambek, tapi keinginannya membuat Ichigo kesal harus dikesampingkan. Demi boneka Chappy in Paris. Akhirnya dia mengangguk, menghapus air matanya, menyambut uluran tangan Ichigo, dan kembali memperlihatkan gerakan-gerakan yang harus Ichigo hapal. Sang pemuda mengikutinya dengan susah payah, meski demikian, gerakannya cukup lucu.
Setidaknya masalah baru Ichigo adalah bahwa dia tidak bisa membedakan kanan dan kiri kalau pikirannya terlalu terfokus tentang bagaimana tampangnya saat bergoyang.
xxXxx
"Dan inilah dia… Pasangan nomor urut empat!"
Ichigo menelan ludahnya, dan rasanya seperti sebongkah tawas. Entah mengapa, tangannya mendingin. Ia yakin mukanya pasti sudah seputih mayat. Rukia menariknya ke atas panggung tanpa ampun. Yang benar saja, batinnya ketika melihat penonton yang membludak. Beberapa remaja yang ada di sana mengacungkan kamera ke arah mereka. Ingin rasanya ia berteriak agar gadis-gadis bau kencur itu tidak memfoto apa-apa, tapi mulutnya menolak diajak bekerja sama. Coba bayangkan, ia harus menarikan tarian kelinci gila itu di depan ribuan orang seperti ini? Kalau bukan Rukia yang meminta, ia bahkan tak akan mau menginjakkan kaki di tempat ini! Mendadak dia menyesal sudah membawa Rukia kemari, dan penyesalan itu tak cukup dibayar hanya dengan panggilan 'Ichi Sayang' yang hanya diucapkan sekali!
Bahkan intro lagu pembukanya dimulai tanpa seizinnya! Tapi pada awalnya, semua masih mudah. Ia hanya perlu bertepuk tangan. Ia mengikuti apa saja yang Rukia lakukan. Suara si penyanyi wanita mulai terdengar, membawakan lagu pembuka bertempo cepat berjudul Koi no License (Lisensi Cinta). Ichigo mengingat-ingat gerakan yang tadi diajarkan teman menarinya. Ia mulai tak peduli dengan Rukia, asal gerakan mereka sama. Letakkan tangan di pinggang, lima langkah ke kanan, tiga langkah ke kiri… hei, sepertinya dia berhasil.
"Kanan, Ichigo." Dia tidak mendengar Rukia berdesis.
Lagu mulai mencapai bagian refrein. Dan Ichigo bingung bagaimana gerakan yang harus ditarikannya… terlebih penyanyi itu terdengar dua kali lebih cepat. Akhirnya diciptakannya saja gerakan-gerakannya sendiri. Dia mendengar bunyi gitar elektrik, maka dia akan memeragakan seseorang yang memainkan gitar listrik. Dia menyadari ada suara dentuman drum, maka dia akan melompat seperti kelinci kesetanan. Beberapa gadis SMP di pojok sana memekik kegirangan melihat pemuda ganteng ini bertingkah demikian. Tapi terserah. Untuk kali ini Ichigo memutuskan urat malunya.
Akhirnya lagu berakhir. Satu setengah menit terlama dalam hidup Ichigo usailah sudah. Entah segila apa tarian kelincinya barusan, dia tidak ambil pusing. Tapi tepuk tangan riuh rendah memekakkan telinganya, jadi ia berkesimpulan tariannya tidak terlalu mengecewakan penonton. Ia menatap Rukia sambil mengangkat bahu, dan lawan menarinya cuma tersenyum.
Pikir Rukia, Ichigo memang sudah melakukan banyak kesalahan, sangat banyak, malah, tapi ia sudah berusaha sekuat tenaga.
Dan ia tersentuh juga melihat keteguhan hati pemuda ini.
xxXxx
Ichigo mengiringi Rukia berjalan tanpa suara. Ia masih belum mau berkata-kata dengan gadis itu. Mungkin Rukia masih merasa kecewa karena pasangan nomor empat tidak menjadi juara satu. Jangankan juara satu, mereka juga tidak jadi juara dua atau juara tiga atau penghargaan khusus dari dewan juri. Ia masih bisa melihat wajah Rukia yang tertekuk karena kecewa. Tak enak rasanya kalau ia tiba-tiba menepuk bahu gadis itu dan menghiburnya, karena kegagalan mereka seratus persen akibat seorang Ichigo Kurosaki.
"Rukia," panggil Ichigo tiba-tiba. Dilemparkannya sebuah boneka kelinci berseragam pelaut pada gadis itu. Refleks, Rukia menangkapnya dengan sebelah tangan. Ia sedikit terkejut melihat Ichigo tiba-tiba melemparkan boneka.
"Ah? Ini…" Mata Rukia pada awalnya sedikit berbinar, tapi sinar itu setengah meredup ketika menyadari boneka kelinci itu bukanlah Chappy in Paris. Hanya boneka Chappy berseragam pelaut yang banyak dijual di toko mainan. Kini boneka itu menatapnya seolah-olah kelinci itu hadiah hiburan bagi mereka berdua.
Ichigo mendekati gadis yang berjalan bersamanya, menjajarinya dalam langkah-langkah lebar. "Itu memang bukan boneka edisi terbatas yang kauinginkan," katanya pelan. "Tapi terimalah, sebagai permohonan maafku karena membuatmu gagal mendapatkan boneka Paris itu." Ichigo menundukkan kepalanya sedikit, malu menentang mata violet Rukia.
Gadis itu cuma tersenyum sambil tertawa pendek. "Kau ini," katanya sambil menatap si boneka. Matanya kembali beralih pada pemuda di sampingnya. "Kita itu satu tim, kalau kita gagal, itu kesalahan kita berdua," katanya sambil tersenyum. "Terima kasih ya, Ichigo. Kau tahu, melihat mukamu yang murung begitu membuatku tak berselera lagi dengan boneka Chappy in Paris," tutupnya sambil berlalu dari hadapan Ichigo.
Pemuda itu tak berkata apa-apa, ia hanya melangkah lebih cepat, mengikuti Rukia sambil tersenyum simpul.
Yah, kencannya hari ini tidak berakhir buruk, kan?
xxXxx
Rukia tak tahu kenapa, tapi setiap kali dia menatap mata bulat boneka kelinci pelaut yang tadi diberikan Ichigo, hatinya seolah berbunga-bunga, dan sangat penuh dengan perasaan sampai mau meluap. Senyuman bahagia juga tak lepas-lepas dari bibirnya kalau dia ingat betapa konyolnya pria berambut jingga itu ketika menarikan kelinci yang bermain gitar listrik. Entah dari mana Ichigo mendapat ilham bertingkah seperti itu.
Dan boneka kelinci pelaut ini… terasa begitu istimewa. Lain rasanya. Bahkan dibandingkan dengan semua mainan kelinci putih-cokelat yang dimilikinya sejak berusia lima tahun, boneka ini rasanya berbeda. Seperti ada banyak perasaan dalam kolam hitam dalam yang membentuk mata si kelinci. Perasaan yang tak Rukia ketahui, tapi menyamankan. Sangat membuatnya setengah melayang. Boneka ini memang tidak mahal, ia punya banyak mainan Chappy yang harganya sepuluh kali lebih tinggi dari kelinci pelaut ini, tapi wajah Ichigo saat memberikannya seolah membuat mainan ini jauh lebih berharga dari boneka apapun yang ia punya.
Ia memasuki rumah dengan wajah yang masih sumringah. Didekapnya boneka kelinci itu erat-erat. Rumah sepi. Oh, untung saja ayahnya pergi entah ke mana. Lampu ruang depan juga belum dinyalakan. Rukia membuka pintu ruang depannya hati-hati…
Sayang, begitu ia masuk, ruangan langsung bermandikan cahaya. Ayahnya sudah berdiri di dekat sakelar, menatapnya tajam. Dalam sekejap, senyum di bibir Rukia musnah dengan sendirinya. Matanya terbelalak, terkejut memandang ayahnya, kendatipun air muka Byakuya sama sekali tak menunjukkan riak-riak, lebih-lebih yang terkecil sekalipun.
"A-Ayah…" ia bergumam lirih. Cepat-cepat ia menyembunyikan boneka kelinci itu di belakang tubuhnya. Semoga saja ayahnya tidak melihat.
"Baru pulang? Seharian ini memangnya kau ke mana saja?"
Rukia tertegun, tak mampu menjawab apa-apa. Sebenarnya ayahnya bisa saja tahu ke mana dirinya seharian ini, apa yang ia lakukan, dan yang lebih penting lagi, bersama siapa, tapi kalau Byakuya Kuchiki sudah bertanya pada anak gadisnya, maka ia mengharapkan kejujuran.
Bingung, Rukia menelan ludahnya. Pahit rasanya."Aku… tadi mengerjakan tugas kuliah bersama teman," gagap Rukia. Semoga saja ayahnya tak menanyainya lebih jauh. Semoga saja ayahnya tak bertanya dia pergi dengan siapa. Semoga saja ayahnya tak mengorek informasi tentang Ichigo Kurosaki…
Mata Byakuya berusaha bertemu pandang dengan anak gadisnya, tapi Rukia masih saja menunduk dalam, menolak untuk bersitatap. Sang ayah akhirnya mengembuskan napasnya. Apa yang anaknya lakukan bisa ia ketahui nanti. Itu masalah mudah. "Kau masih ingat, kan, kalau ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan denganmu?" Suaranya masih memancarkan kebekuan yang biasa. Kekakuan yang semestinya.
Mendadak atmosfer ruangan ikut-ikutan menggosok lengannya. "T-tentu saja aku ingat. Memangnya apa yang ingin Ayah bicarakan?" tanyanya hati-hati. Jangan tentang Ichigo, batinnya. Jangan sampai ayahnya mengatakan kalau ia sudah memata-matai Rukia dan tahu akan hubungannya dengan Ichigo, termasuk mereka yang latihan kendo bersama kemarin…
"Ini tentang hubunganmu dengan Ashido. Dia melamarmu."
Rukia tersentak. Mukanya terangkat, menatap ayahnya sangat tak percaya dengan apa yang baru saja dicerna otaknya. Memang bukan tentang Ichigo, tapi ini justru lebih mengkhawatirkan dari itu. Ashido… melamarnya? Pasti dia sudah datang ke sini dan meminta ayahnya menyerahkannya pada pria itu.
Rukia mencoba untuk menata suaranya. "Dan… apa jawaban Ayah?" tanyanya hati-hati.
Jawaban yang keluar dari celah bibir sang ayah justru membuatnya merasa ditimpuk seton batu bata.
"Ayah setuju."
Mata Rukia terbelalak. Hatinya mencelos, seperti ditusuk panah. Dia tak sadar boneka kelinci yang sedari tadi dipegangnya terjatuh, meskipun tanpa suara. "A-Ayah…" gumamnya lirih. Setitik buliran bening muncul di sudut matanya. "Kenapa Ayah begini? Kenapa ayah begini lancang?" Suaranya gemetar. "Kenapa Ayah tidak meminta pertimbanganku? Yang menikah itu aku, bukan Ayah!" serunya gusar.
Tatapan Byakuya malah semakin tajam mengebor pertahanan perasaan putrinya. Dia mengerutkan dahinya heran, seolah tak tahu apa-apa. Semua informasi harus berasal dari bibir Rukia sendiri. "Lho? Bukankah dia sudah meminta pertimbanganmu? Dia sudah melamarmu, kan?" Pertanyaan yang paling tak ingin didengar Rukia. Dengan nada pura-pura-tidak-tahu yang sangat dibencinya. Ayolah, ayahnya sebenarnya sudah tahu persis apa yang terjadi! "Lalu mengapa kau belum menjawab? Dia sudah meminta pertimbanganmu, kan?" tanya ayahnya lagi, sambil menahan napas.
Dalam hati, Rukia menggeram. Ashido Kano, awas kau. Dia pasti sudah menceritakan segalanya pada ayahnya. Dasar pria kekanak-kanakkan! Seperti anak kecil! Tak bisa mengambil keputusan sendiri! Tak bisa menahan diri untuk menunggu dan tidak mengadu!
"Aku… masih perlu waktu untuk menjawabnya," sahut Rukia tak yakin. Dia sendiri bingung kenapa nada bicaranya begitu menggantung seperti ini.
"Memangnya kau tak mencintai Ashido?"
Pertanyaan yang membuat Rukia menggenggam erat tangannya. Dia merasa tak siap menjawab pertanyaan ini, tapi Byakuya Kuchiki tak mengenal kata 'tidak siap' dalam kamusnya! Apa dia cinta Ashido? Entah mengapa… dia bimbang. Tapi kenapa harus bimbang? Ashido adalah pria tersempurna yang ada dalam hidupnya saat ini. Dia maskulin. Dia romantis, dan dia tidak bodoh. Namun, Rukia tiba-tiba bingung sendiri… apakah pria tersempurna dalam hidupnya adalah pria yang paling tepat untuk menjadi suaminya?
Rukia mencoba untuk mengangkat mukanya. "Bukannya aku tak mencintainya, Ayah." Suaranya masih saja terdengar gundah. "Tapi aku butuh waktu untuk menjawab lamarannya…"
Byakuya mendengus pelan. Ditatapnya mata Rukia dalam-dalam. Dijumpainya kebingungan dan kebimbangan di mata itu. Sesuatu yang tidak semestinya. "Kau tahu bagaimana ayahmu ini, Rukia," katanya tenang. "Aku tak akan dengan mudahnya menerima seorang pria untuk dekat dengan anakku. Apalagi untuk menjadi suamimu. Suamimu harus orang yang terbaik; yang mampu menjagamu saat aku tak ada. Dan saat aku pertama kali bertemu Ashido, aku juga tak yakin. Dia cuma seorang Kano, jauh lebih rendah dari keluarga kita, meskipun Kano adalah kepercayaan keluarga kita," remehnya.
Rukia tidak berniat menimpali perkataan ayahnya. Semua pembahasan tentang feodalitas dan keningratan yang dimilikinya benar-benar membuatnya muak, tapi ia berusaha mengesampingkan semua itu. Yang ada di otaknya sekarang hanyalah kenyataan bahwa ayahnya sudah setuju—dan itu membuat Rukia ketakutan. Meskipun dia ketakutan, apakah ayahnya mau mendengar perasaannya itu? Dia sangsi.
Sang ayah meneruskan pembicaraan. "Tapi selama setahun ini, dia sudah membuktikan bahwa dirinya pantas bersanding dengan kita, keluarga Kuchiki. Dia… lelaki yang tepat untukmu. Kau tak tahu kan, kalau ayahmu ini sangat mengkhawatirkanmu setiap kali dia bertugas di luar negeri. Pekerjaanku sangat riskan; kau juga sudah merasakan bagaimana menjadi anak seorang diplomat paling berpengaruh di Jepang." Tiba-tiba suaranya berubah pahit. "Dan aku tak mau kau bernasib sama dengan ibumu, Rukia."
Napas Rukia tertahan. Ayahnya rupanya masih belum lupa dengan kejadian sebelas tahun lalu itu, padahal dia mengira ayahnya hanya robot besi tak berperasaan. Rupanya Ayah masih ingat dengan Ibu, batinnya. Ibu yang meninggal akibat serangan bom mobil di depan kantor kedutaan di Myanmar. Ibu yang meninggal saat melindunginya…. Rukia menggigit bibirnya resah. Otaknya mulai dipenuhi pikiran-pikiran lagi. Dan kali ini mulai ditambah bayangan kalau Ashido menjadi suaminya.
"Setidaknya, jika Ashido ada di sampingmu sebagai suami, Ayah akan lebih tenang. Dia laki-laki yang tepat untukmu, dan Ayah tahu itu."
Byakuya berlalu dari hadapan anaknya, meninggalkan Rukia dalam kebimbangan yang amat sangat. Gadis itu kini tak mampu berkata apa pun.
.
.
to be continued.
2012.10.28 11.05 pm.
Note:
Ini... panjang. Sebenarnya saya hanya mengetik saja sebagaimana biasa, tapi tiba-tiba sewaktu saya kopi ke DocMan jumlah katanya sudah nembus delapan ribu. What the hell... dan saya selalu saja merasa bahwa dalam tulisan ini ada yang kurang, dan belum memuaskan saya. Entah apa, saya juga nggak tahu. Jujur, perasaan ada-sesuatu-yang-kurang-dengan-tulisan-saya sudah menghantui sejak saya buat draft bab 9 cerita yang satunya (untung saja draft cerita itu sudah selesai). Tapi setiap saya cari penyebabnya... saya selalu nggak ketemu. Sisanya saya cuma bisa menghela napas sambil bergumam, "Nggak tahu lagi deh. At least I've done my best." ._.
Jadi... saya minta komentar dan kritiknya untuk tulisan saya. Tolong bantu saya mencari tahu apa yang kurang. Please. Mungkin saya nggak bisa kasih apa-apa selain tulisan dan ucapan terima kasih, baik buat yang review, yang nggak review, yang follow ini cerita, sampai yang ngejadiin cerita ini favorit di akunnya. Makasih banyak, ya, buat dukungannya. Hehehe. Semoga dengan semua dukungan itu saya bisa menemukan apa yang kurang (or is this just me), dan menghasilkan suatu karya yang... lebih baik lagi.
Sama satu lagi deh, sebelum balas review anonim dua bab. Dulu saya bilang cerita ini 3-part tanpatsu, kan? Dengan bab ini saya membatalkannya... Setelah memengaruhi pemilik plot cerita (Mbak Eri), akhirnya dia mau juga memperpanjang cerita ini. Hahaha. Tapi katanya cerita ini pun berakhirnya sekitar lima atau enam bab, jadi tetap saja nggak bisa jadi renzoku.
Satu lagi, ya, satu lagi, hampir lupa. Sekalian buat disclaimer juga, hehehe. Lagu Koi no License yang di atas itu beneran ada, potongan liriknya ada di awal, dinyanyiin sama Takahashi Youko (Zankoku na Tenshi no TE-ZE), ada di albumnya yang berjudul Sore wa Toki ni Anata wo Hagemashi, Toki ni Sasae to Naru Mono. Semuanya milik si penyanyi dan King Records, atau Geneon Entertainment Jepang.
Finally, last but not least, thanks for reading this chapter. See you at chapter four (yang sampai sekarang saya belum tahu plotnya kayak gimana, hehehe).
Balas Review Anonim (jangan disingkat):
can-can: okee... akan berusaha dijadikan panjang, kalau jumlah dan kedalaman adegannya mendukung. makasih banyak udah review dan menjadi penggemar pertama cerita ini!
rukippe: wuaduh, buat bahasa dan ketikannya kamu terlalu memuji, ah. tapi buat plotnya sih emang nomor wahid, kan yang buatnya cerpenis yang karyanya udah masuk situs kepenulisan hehe. makasih banyak udah review! buat jempolnya juga salam, bilang makasih!
guest: iya, rasanya ada yang kurang dari FBI IR kalo nggak ada mbak erikyonkichi. masih inget kan dengan fic 'The Pretenders'-nya? itu kan belum tamat. kita doain ya, semoga saja fic itu dilanjutin dalam waktu dekat. makasih banyak udah review!
Nyia: wah, ada dua reviewmu yang belum saya bales, ya, hehehe. Minta maaf sekali ._. seminggu sekali? hm... sepertinya saya sudah melanggar omongan saya sendiri nih gegara sakit kemarin. maaf banget, ya. tapi ini bab tiganya, semoga memuaskan. makasih banyak udah review!
Nesa: haai. begitu, kah? baiklah, akan saya perbaiki di bab selanjutnya (atau di cerita selanjutnya). makasih banyak buat saran sekaligus reviewnya!
