"Tidak! Jangan lakukan itu pada Bolt, Bolt! Tidaaak!" sebuah jeritan Sarada itu bagaikan menggema diseluruh penjuru desa Konoha.
.
.
.
Nightmare
Chapter 3
"Tidaaaak!"
"Ng..? Kau kenapa Sarada-chan?"
Sebuah suara menyadarkan gadis Uchiha itu dan perlahan-lahan membuka kedua matanya. Pandangannya gelap, namun agak semu karena sedikit mendapatkan cahaya dari cahaya bulan malam itu.
Klik!
Akhirnya Sarada dapat terbantu melihat dengan cahaya lampu tersebut, gadis bermata Onyx itu mengerjitkan matanya. Karena dia baru menyadari bahwa dia bukan di depan gerbang besar Konoha, melainkan di sebuah kamar tidur. Sarada mengedarkan pandangannya, terlihatlah seorang lelaki berambut pirang yang masih mengucek matanya, namun masih setia menunggu jawaban gadis itu.
"Bolt..! Baka! Shannaaro!"
Sarada menghamburkan pelukannya kepada lelaki yang berada disisi sebelah kanannya, lelaki itu hanya terkejut lalu membelai lembut surai hitam milik gadis itu.
"Apa kau bermimpi buruk?" Tanya lelaki beriris Ocean tersebut.
Sarada hanya mengangguk pelan di pelukan lelaki yang panggil dengan sebutan 'Bolt' olehnya. Kemudian Sarada menghela nafas panjang dan melepaskan pelukannya dari Bolt.
"Kau bermimpi buruk tentang aku kah, Sarada-chan?"
"Hn! Aku bermimpi kau di bunuh oleh Nanadaime karena.."
"Hng..? Tou-san, Kaa-san kenapa?"
Masuklah seorang gadis kecil bersurai merah muda mengenakan piyama berlatar bunga Sakura yang sedang mekar. Gadis itu masih mengosok-gosok matanya dan menghampiri Bolt.
"Sa-sa-tora?!" seru Sarada terkejut melihat gadis kecil itu.
"To-tou-san, Kaa-san kenapa?" Tanya gadis itu ketakutan melihat sikap Sarada seperti tadi dan berlari mendekati Bolt.
"Tenanglah, Satora. Kaa-san hanya bermimpi buruk saja" sahut Bolt membelai lembut surai merah muda itu.
"Sou desu ka? Tapi, kenapa Kaa-san melihatku seperti itu, Tou-san?"
"Hmm, kalau itu..?"
Bolt menatap wajah Sarada yang masih gelisah melihat gadis bernama 'Satora' itu. Bolt seakan meminta jawaban dari sikapnya itu.
"Kaa-san, sudah larut malam gini, kenapa masih rebut?"
Datang lagi seorang lelaki muda berambut raven dengan Onyx-nya yang masih semu karena tak terlihat jelas. Tiga garis horizontal menghiasi pipi kanan dan pipi kiri lelaki muda itu.
"Ryuu Nii-chan, Kaa-san bermimpi buruk!"
Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!
Gadis kecil itu menghampiri lelaki muda itu dengan terburu-buru. Melihat itu, lelaki yang disebut dengan 'Ryuu' itu, melebarkan matanya agar dapat melihat dengan jelas setelah bangun dari mimpi indahnya.
"Mimpi buruk? Kalau begitu, biarkan Tou-san yang menenangkan Kaa-san, Imoto" ajak Ryuu menghantarkan Satora menghampiri pintu.
"Hn! Baiklah, Ryuu Nii-chan. Oyasumi, Kaa-san, Tou-san!" seru Satora melambai-lambaikan tangannya kemudian hilang dibalik pintu.
Bolt tak menjawab, hanya membalas lambaian tangan itu dengan senyuman di wajahnya. Sarada masih tak begitu mengerti dengan semua ini, kenapa dia dipanggil dengan sebutan 'Kaa-san' oleh kedua anak itu.
"Ini pasti karena demammu tadi"
"Hee?"
Sarada terkejut mendengar penuturan lelaki yang disampingnya itu yang menyentuh keningnya.
"Demam?"
"Ya, kau tak ingat? Kau sempat pingsan dan kepalamu terbentur saat bekerja di dapur bersama Satora"
Sarada masih tak begitu ingat, namun penjelasan lelaki itu masih tak dapat dicernanya dengan baik. Sebenarnya apa yang terjadi, itulah yang terpintas difikiran gadis Uchiha itu.
"Dua anak kecil tadi, itu siapa Bolt?"
"Anak kita"
'Anak? Anak yaa? Hmm.. apa?! Sejak kapan aku menikah dengan si pirang ini? Sebenarnya apa yang terjadi?' gumam Sarada dalam bathinnya.
"Bahkan kau tak ingat dengan mereka? Kau benar-benar geger otak karena benturan itu ya" canda Bolt dengan menyengir ria.
Pinch!
Sebuah cubitan kuat mendarat di lengan kekar milik Bolt yang sudah meringis kesakitan akibat cubitan Sarada tersebut.
"Itai! Jangan marah, aku kan berkata jujur"
"Tapi, wajahmu seperti ingin mengerjaiku Bolt!"
"Aku tak mengerjaimu, sayang. Percayalah padaku, mereka anak kita. Jika kau tak percaya tanyalah pada Sasuke-sama dan Sakura Baa-san besok"
"Baiklah, besok kita mengunjungi mereka"
"Ya sudah, ayo kita tidur lagi"
"Kita? Tidak mau! Kau tidur disana, aku tak mau satu ranjang denganmu"
Bam!
Bolt jatuh dari tempat tidur karena terkena tendangan Sarada.
"Hee? Tapi aku suamimu, Sarada. Memang suami istri tidur di satu ranjang"
"Aku gak akan percaya sebelum Tou-san dan Kaa-san yang bicara padaku"
"Hee? Ya sudah, aku tidur di sofa"
Bolt mengacak-acak rambutnya dan berbaring di sebuah sofa panjang di tepi dinding kamar. Tanpa memperdulikan 'istrinya', Bolt langsung tertidur pulas tanpa bantal dan selimut.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya
"Hng? Ohayo, Sarada" sapa Bolt masih terkantuk-kantuk.
"Hn, Ohayo, Bolt!" sahut Sarada masih asik dengan mimpinya.
"Hee, Sarada-chan! Kenapa kau tidur disini? Bukankah tadi malam kau tidur di kasur"
Bolt baru menyadari bahwa 'istrinya' itu sudah berada di sisi sofa yang ditempatinya untuk tidur malam itu. Sarada terbangun dengan seruan 'suaminya' itu, dan mengangkatkan kepalanya yang masih bersandar di tepi sofa.
"Ah, itu. Aku tak tega melihatmu tidur kedinginan disofa tanpa selimut dan bantal"
"Tapi, kau tak perlu tidur disini juga kan?"
Sarada hanya menatap mata Ocean bolt tanpa arti, dengan kedua pipinya yang sudah merona disentuh oleh tangan besar Bolt. Bolt menatap aneh gadis bersurai hitam yang tengah ia pandangi.
"Tuh kan, badanmu panas lagi. Argh! Untuk hari ini, kita tak usah ke rumah Sasuke-sam dulu. Kau istirahatlah dulu ditempat tidur" kata Bolt kemudian mengangkat badan mungil milik Sarada menuju tempat tidur.
"Kyaa! Turunkan aku! Aku tak mau, pokoknya hari ini ke rumah Tou-san!"
Sarada menjerit tepat di telinga Bolt, sehingga Bolt menurunkan 'istrinya' tersebut. Sarada berlari menuju kamar mandi yang di buat berada di dalam kamar. Sedangkan Bolt hanya menghela nafas panjang melihat tingkah Sarada. Kemudian merapikan kasur yang tampak kusut karena tak dibereskan oleh Sarada.
"Bolt?"
"Hn?"
"Aku sudah mandi"
"Jadi?"
Sarada menurunkan alisnya seakan ia sedang jengkel dengan sikap lelaki berambut pirang yang tengah ia pandangi dengan sinis. Berharap si pirang itu mengerti dengan isyaratnya, namun lelaki itu tak kunjung mengerti juga.
"Aku mau pakai baju, baka! Keluar dari kamar!"
"Ah, iya. Gomen, gomen-nasai!"
Dengan tergesa-gesa, Bolt berlari keluar kamar menuju ruang keluarga.
"Tou-san, Doushite?" Tanya Satora menghampiri Bolt.
"Ah, bukan apa-apa. Kalian sudah mandi? Kita mau ke rumah kakek Sasuke hari ini" sahut Bolt kemudian duduk di sebelah Ryuu yang asik membaca sebuah buku.
"Kenapa tak ke rumah kakek Naruto, Tou-san?" Tanya Ryuu meletakkan bukunya ke atas meja di hadapan.
"Hn, iya Tou-san. Sudah lama kita tak mengunjungi kakek Naruto!" tambah Satora.
"Kaa-san merindukan kakek dan nenek Uchiha, jadi cepatlah kalian bersiap-siap. Sebentar lagi kita berangkat"
"Ha'i!"
Dua bersaudara itu berlari menuju kamar mereka masing-masing dan menukar pakaian rumah mereka yang sesuai untuk berkunjung ke rumah kediaman Uchiha. Sedangkan Bolt menghampiri kamarnya, memastikan apakah Sarada sudah siap atau belum.
"Sarada-chan? Sudah belum, aku juga mau mandi. Anak-anak juga sudah bersiap-siap!" seru Bolt dibalik pintu.
Cklek!
"Mandilah, aku tunggu di luar. Dan jangan lama!" sahut Sarada membuka pintu kamar dan berjalan pintu masuk.
"Kaa-san! Apa kita juga akan pergi ke rumah Kakek Naruto?" seru Satora menghampiri Sarada.
"Imoto, kau jangan mengejutkan Kaa-san seperti itu" seru Ryuu berjalan di belakang Satora.
"Hee, gomen-nesai!"
.
.
.
Tok! Tok! Tok!
"Kakek Sasuke! Nenek Sakura! Satora, Ryuu Nii-chan, Tou-san dan Kaa-san datang berkunjung" seru Satora dengan semangat.
"Okaeri, Satora-chan! Kau tumbuh semakin cantik saja rupanya" sambut wanita tua bersurai merah muda.
"Ka-ka-kaa-san?" tanpa sadar tubuh Sarada menghamburkan pelukannya kepada wanita tua itu.
"Ada apa, Sarada? Sarada kenapa Bolt?" Tanya wanita tua itu kepada Bolt.
Bolt menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah yang sangat aneh, seakan-akan dia malu ingin mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.
"Sarada bermimpi buruk lagi, Sakura-san" sahut Bolt.
"Ah, pantas saja. Ayo, masuklah. Ryuu dan Satora bermainlah dengan Sasura, dia bersama kakek sekarang" ajak Sakura sembari menuntut mereka masuk ke kediaman Uchiha.
"Sasura Nee-chan? Main yuk?" seru Satora menghampiri wanita muda dengan surai merah muda dan emerald hijau yang indah setiap memandangnya.
"Imoto, itu Sasura Baa-san bukan Nee-chan" ralat Ryuu.
"Eeh? Tapi dia kan hanya berbeda tiga tahun dengan Ryuu Nii-chan, jadi harus dipanggil dengan Nee-chan" balas Satora.
"Sasura Baa-san itu saudara Kaa-san, bukan saudara kita Imoto. Mengertilah" sambung Ryuu.
Sasura hanya tertawa riang melihat kedua keponakannya bertengkar tentang dirinya. Ya memang, Sasura adalah adik perempuan Sarada yang lahir saat setahun setelah kepulangan Sarada dari latihannya. Maka dari itu, Sasura tampak jauh lebih muda dari pada Sarada.
"Perempuan itu siapa Kaa-san?" Tanya Sarada.
"Itu adikmu, kau bermimpi buruk tentang apa Sarada?" Tanya Sakura kembali.
"Ah, itu. Tentang kami yang telah pulang dari latihan selama 2 tahun, kenapa Kaa-san?" sahut Sarada.
"Wah, lama sekali. Itu sekitar 16 tahun yang lalu bukan? Saat Sasura masih dikandungan" ujar Bolt.
"Me-memang apa yang terjadi?" Tanya Sarada mulai panik.
"Sarada, tenanglah. Sebenarnya kau punya penyakit aneh saat kau sudah menikah dengan Bolt, sebenarnya sejak kau lahir. Namun semakin parah sejak kau menikah" sahut Sakura.
"Penyakit?"
"Ya, jika kau bermimpi buruk. Ingatanmu akan kembali pada hari yang sama di dalam mimpimu"
"Jadi ini sudah pernah terjadi?"
"Ya, aku pun baru mengetahui penyakitmu saat di pagi hari setelah malam pertama kita" sahut Bolt.
Blush! Plak!
"Hentai!" seru Sarada.
"Itai!" Bolt meringis kesakitan karena kepalanya sukses menerima pukulan dari istrinya tersebut.
Sakura hanya tertawa melihat tingkah putri sulung dan menantunya, seperti masa-masa mereka pacaran dulu saja.
"Itu benar, Sarada. Kau bahkan mengusir Bolt, karena kalian satu ranjang dengan tak memakai pakaian apapun. Kau menyangka Bolt sudah memperkosamu" jelas Sakura dengan menahan sedikit tawanya.
"Benarkah? Aku bahkan tak ingat itu"
"Ya, kau bahkan bermimpi buruk tentang aku yang akan menikahi Chouchou saat kita akan menikah. Kau bilang aku akan membatalkan pernikahan kita karena aku lebih mencintainya daripada dirimu" tambah Bolt.
"Itu mengerikan sekali, lalu bagaimana agar ingatanku kembali Kaa-san?"
"Tenanglah, percaya pada Bolt. Esok hari kau akan ingat semua atas bantuan Bolt" anjur Sakura.
Sarada mengerjitkan matanya lalu memandang sekilas wajah Bolt yang berharap Sarada menerima pendapat wanita tua itu.
"Kaa-san, yakin?"
"Percayalah Sarada, beristirahat dan pulanglah dengan Bolt sekarang. Biar Satora dan Ryuu tinggal bersama kami" anjur wanita tua itu lagi dan berjalan menghampiri suaminya, meninggalkan Sarada dan Bolt berduaan saja.
"Doushite, Sakura?" Tanya lelaki tua dengan poni rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Bukan apa-apa, Satora, Ryuu, kalian menginap di rumah nenek ya?"
"Hee? Tapi, Tou-san sudah berjanji akan singgah ke rumah Kakek Naruto!" gerutu Satora.
"Tenanglah, Satora-chan. Besok kita mampir ke sana bersamaku dan Ryuu" sahut Sasura.
"Sou desu ka? Sasura Nee-chan?"
"Hn, Sou desu"
"Imoto, sudah berapa kali aku katakan.."
"Tak mengapa Ryuu, biarkan saja. Aku juga senang di panggil Nee-chan, soalnya aku tak punya adik"
"Hn, baiklah Sasura Baa-san"
.
.
.
.
"Bagaimana? Kau mau menginap di sini saja, atau pulang bersamaku kerumah?" Tanya Bolt meminta kepastian.
"Sudah berapa banyak?"
"Apa yang sudah berapa banyak, Sarada?"
"Sudah berapa banyak aku bermimpi buruk dan melupakan kenangan kita?"
Bolt tak langsung menjawab, ia mencoba menghitung-hitung berapa kali Sarada bermimpi buruk sehingga banyak melupakan kenangan di hidupnya bersama Bolt.
"Termasuk sekarang, sudah 4 kali" jawab Bolt.
"Kapan saja?"
"Hmm.." Bolt berfikir kembali dan mengingat tiap-tiap Sarada melupakannya. "Saat malam pertama kita, kau mengusirku dengan paksa.."
Blush!
Rona wajah Sarada berubah menjadi merah padam membayangi dirinya mengusir Bolt karena tak mengingat apapun tentang pernikahan mereka.
"Saat Ryuu berusia 5 tahun, kau hampir membunuhku karena menyangka aku akan membunuh Ryuu, lalu.."
Wajah ibu dari dua orang anak itu berubah menjadi gelisah saat membayangkan, bagaimana ia ingin membunuh suaminya itu dalam amarah yang tak terkendalikan.
"Saat kau mengandung Satora, kau mengira aku menghamilimu tanpa akan menikahimu dengan segera, yang terakhir ya ini, lebih banyak yang kau lupakan" sambung Bolt.
"Ah, jadi mimpi itu kebalikan dari kenyataan yang sebenarnya?" Tanya Sarada masih menundukkan kepalanya.
"Iya, kau tau bagaimana rasanya hampir dibunuh, di pukul, diusir oleh istri sendiri? Hm?!"
Bolt mengankat kepala Sarada dan mata Onyx dan Ocean itu pun bertatapan dengan tajam, cukup lama Sarada tak dapat berkata-kata. Karena ingatannya masih berpatokan saat Sarada masih berumur sekitar 16 tahun, sehingga Sarada masih belum terbiasa dengan sikap-sikap lembut suaminya itu padanya.
"Ba-bantu aku"
"Hm?"
"Bantu aku mengingat semuanya, dan menebus kesalahanku hari ini"
"Kau yakin?" Tanya Bolt dengan senyuman manis namun mempunyai makna terselubung yang membuat Sarada sedikit merinding melihat senyuman itu.
"Ya-yakin, aku yakin, kyaa! Apa yang mau kau lakukan Bolt?"
Tiba-tiba saja Sarada diangkat dan digendong oleh Bolt ala pengantin baru dan membawanya keluar dari kediaman Uchiha itu menuju kediaman mereka.
"Membawamu pulang dan membuatmu harus menebus semua kesalahanmu hari ini"
"A-apa maksudmu?"
"Hihihi.."
"Apa maksud senyumanmu itu, Bolt? Jelaskan padaku sekarang!"
"Nanti kau juga tau" sahut Bolt kemudian membuka pintu rumah mereka lalu berjalan menghampiri kamar tidur milik mereka.
"Kyaaa! Awas ya, kau Bolt!"
"Hahahaha.."
Yeay! Happy ending dengan cerita yang cukup gak jelas, XD Hahaha.. Gomen! Tapi, tak apalah yang penting Happy Endinglah, gak kayak judulnya. MENYERAMKAN! Dan gomen, pakai pen name FFn-ku, maklum! Aku sangat menyukai nama itu, jadi diwaktu yang terdesak aku gunain aja XD #Dasar-_- *plak
Arigato sudah berkunjung dan membaca fic ku kali ini, jangan lupa tinggalkan review kalian ya, minna ;) #sokimutlu! *ditendang
