"Bagiku, ini adalah pernikahan sandiwara yang tak pernah ku inginkan dalan hidupku."
.
Bagiku, ini adalah pernikahan istimewa dan (akan) sekali dalam hidupku."
.
"Lahirlah ke dunia dengan selamat Nak,"
"dan percayalah, walau kau tercipta bukan atas dasar cinta, tapi bagaimanapun juga kau adalah harta terindah bagi Ibu… dan Ayahmu juga mungkin."
.
Desclaimer: Masashi Kishimoto.
Pairing: Sakura-Sasuke.
Genre: Drama – Hurt/Comfort.
Warning:, etc. Alur Flash, Typo's, Nyinetron (?), Pasaran, OOC, dll
Enjoy..
.
Chapter 2
.
-I Hate You/I Love You-
.
Seusai acara pernikahan di gelar mereka diminta untuk tinggal di Mansion Uchiha sementara waktu sebelum akhirnya pindah ke Apartment yang sudah di siapkan Sasuke.
Pernikahan mereka diadakan meriah dan mewah sampai hampir tengah malam, bahkan ketika mereka tiba di Mansion Uchiha pun beberapa tamu yang tak bisa hadir di Resepsi berdatangan kesana.
Kediaman Uchiha masih ramai ketika Sakura dengan tak enak hati harus pamit untuk beristirahat dikarenakan keletihan, yah semenjak hamil Sakura memang gampang letih.
"Sasuke, antar isterimu ke kamar." Mikoto berkata lembut pada si bungsu.
"Hn."
"Tidak perlu bu, aku bisa sendiri." Sakura segera menolak halus ketika dilihatnya Sasuke berdiri.
Terbersit rasa kecewa dalam diri Sasuke ketika mendengar penolakan Sakura, tak ingin memperpanjang ia lebih memilih untuk kembali duduk.
.
.
Sasuke terkaget saat memasuki kamar ketika mendapati Sakura masih belum memejamkan mata dan memilih untuk duduk di meja rias kamar mereka.
Dengan canggung Sasuke melangkah lebih dalam dan menutup pintu kamar.
"Kenapa belum tidur?" tanya Sasuke dengan suara yang diusahakan datar, jantungnya berdetak melihat sang isteri begitu cantik dengan gaun Pinknya, walau ia tahu mereka tak mungkin bisa menikmati malam pertama seperti yang biasa dilakukan pengantin pada umumnya mengingat pernikahan ini hanyalah sandiwara, setidaknya itulah yang dibilang Sakura.
"Kau tidur di kasurmu dan aku akan tidur di sofa itu." ujar Sakura dingin sambil menunjuk sebuah sofa besar yang berada di sisi kiri ruangan, kamar itu memang sangat luas jadi tak mengherankan terdapat sofa disana.
Sekilas Sasuke membelalakan matanya, hatinya mencelos, itu berarti Sakura menolak untuk tidur seranjang bersamanya.
"Kalau kau tak ingin tidur bersama…denganku, baiklah." Sasuke masih dalam posisi berdiri menatap Sakura yang sama sekali tak mau menatapnya, "tapi biar aku yang tidur di sofa." setelah mengatakan itu Sasuke pun beranjak dari tempatnya menuju lemari pakaian dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tess.
Sakura tersentak saat menyadari bahwa setetes mutiara bening jatuh dari Emeraldnya, ia sungguh tak tahu mengapa ia tiba-tiba menangis, ia hanya bisa merasakan bahwa hatinya sangat perih mengetahui kenyataan hidup yang harus dilaluinya sekarang.
Menikah dengan seseorang yang sukses menyakitinya, yang sukses ia benci karena apa yang sudah pria itu lakukan di masa lalu.
Ia tak pernah berani membayangkan bagaimana harinya dapat dilalui dengan pria tersebut kelak.
Ia menunduk menatap perutnya yang masih rata.
Yah, yang sekarang ia pikirkan hanya satu, calon buah hatinya bersama pria tersebut.
"Lahirlah ke dunia dengan selamat Nak," ucap Sakura sambil tersenyum, tangannya dengan lembut mengelus perutnya sendiri, "dan percayalah, walau kau tercipta bukan atas dasar cinta, tapi bagaimanapun juga kau adalah harta terindah bagi Ibu… dan Ayahmu juga mungkin."
.
Sasuke terbangun dari tidurnya ketika telinganya sedikit terusik oleh suara yang baginya terdengar aneh dari arah kamar mandi.
Ia menggeliat dan mengucek matanya sejenak sebelum akhirnya beranjak duduk di sofa, kepalanya menoleh pada sebuah kasur King Size yang berada disebelah kanannya.
Kosong.
Ia kembali menolehkan kepalanya sekeliling, matanya tertumbuk pada jam dinding yang menunjukkan pukul enam pagi.
Suara keran air terdengar dari kamar mandi, didorong rasa penasaran Sasuke melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang pintunya terbuka itu.
Ia mendapati Sakura sedang menunduk menghadap Wastafel, mukanya sedikit pucat.
Yah, yang ia tahu wanita hamil memang suka mengalami Morning Sickness.
Merasa prihatin Sasuke memijit tengkuk Sakura pelan, Sakura tersentak kaget dan mendongak menatap tajam Sasuke.
"Apa yang kau lakukan!" tanyanya ketus.
Melihat tak ada jawaban apapun dari mulut Sasuke, Sakura kembali bicara, "Jangan sen-".
Perkataannya terpotong ketika dirasa perutnya kembali mual, Sasuke yang melihat itu langsung menundukkan Sakura ke Wastafel.
Merasa pijitan lembut sang suaminya pada tengkuknya nyaman ia pun membiarkannya.
.
Sakura baru saja selesai mandi dan berganti baju, kini ia sedang mematut dirinya di depan cermin meja riasnya.
Sasuke masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi segelas teh hangat dan meletakkannya di meja rias.
"Apa ini?" tanya Sakura sambil menatap Sasuke.
"Minumlah." jawab Sasuke singkat dan berlalu ke kamar mandi untuk membasuh dirinya.
Sakura menatap teh tersebut dengan pandangan yang sulit diartikan.
.
Sasuke keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar, waktu menunjukan pukul setengah delapan pagi, dengan bergegas ia menuju lemari pakaian untuk sarapan bersama keluarganya.
Ia melewati meja rias sang isteri, hatinya tercubit ketika mendapati teh tersebut masih utuh tak tersentuh.
Ia menghela nafas, mencoba mengabaikan rasa sakit pada dadanya ia berjalan menuju lemarinya dan berganti pakaian.
Dibawah sana seluruh keluarganya sudah berkumpul, hatinya terasa makin tercubit ketika mendapati Sakura sedang asyik menikmati secangkir teh buatan Ibu tercinta.
"Pagi." sapanya datar.
"Pagi." jawab semua keluarganya tak terkecuali Sakura.
Dilihatnya Sakura yang sedang memandangnya dengan tatapan ketus dan melanjutkan minum tehnya.
Dan acara sarapanpun dimulai dengan tenang.
.
Mikoto menghela nafas kecewa, namun sedetik kemudian ia langsung tersenyum mengerti pada sang menantu.
Seluruh keluarga sekarang sedang berada diruang tamu untuk mengobrol.
Itachi dan Fugaku hanya tersenyum sambil memperhatikan kedua wanita tersebut mengobrol begitu pula dengan Sasuke.
Sakura baru saja menolak tawaran Mertuanya untuk berbulan madu keluar Kota atau keluar Negeri, padahal semua fasilitas akan ditanggung oleh sang Ibu Mertua, tapi Sakura tetap menolaknya dengan alasan ia ingin menghabiskan waktu bersama keluarga suaminya sebelum mereka pindah ke Apartment minggu depan dan untunglah Mikoto mengerti.
"Setidaknya Ibu bisa lebih banyak waktu bercengkrama denganmu dan calon cucu Ibu ini." ujar Mikoto sambil mengelus perut Sakura yang masih rata.
Sakura tertawa kecil, sejujurnya meskipun ia sangat membenci Sasuke bukan berarti ia tak menyukai berada dilingkungan keluarga Uchiha, ia sangat mencintai keluarga suaminya, sangat mencintai mereka dengan segala kehangatan yang mereka hadirkan untuknya, sebagai anggota baru keluarga Uchiha.
.
Seminggu kemudian
Sasuke dan Sakura sudah bersiap di depan rumah ditemani oleh seluruh anggota keluarga dan beberapa pelayan rumah, mereka hari ini akan pindah ke Apartment Sasuke.
Sasuke dan Itachi terlihat sedang memasukkan koper pakaian ke dalam mobil.
"Hati-hati, kalau ada apa-apa jangan lupa untuk menghubungi kami." Fugaku mengelus kepala Sakura lembut.
"Iya Ayah." jawab Sakura tersenyum, matanya beralih pada Mikoto yang memasang raut sedih.
Dipeluknya sang Menantu dengan lembut, "Berhati-hatilah Nak, dan jangan lupa pesan Ibu untuk menjaga kehamilanmu dengan baik." ucapnya parau.
"Iya Bu aku pasti mengingatnya, dan terima kasih untuk permen jahenya." Sakura membalas pelukan sang Ibu, yah selain menasihatinya tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh wanita hamil sang Ibu juga membekalinya dengan setoples permen jahe, untuk mengurangi rasa mual katanya.
"Kami akan sering-sering mampir kemari." lanjut Sakura kemudian.
Sasuke dan Itachi menghampiri mereka.
Sasuke memeluk sang Ayah dan Ibu untuk pamit.
"Jagalah isterimu dengan baik." nasehat Ayahnya pada si bungsu yang di jawab dengan anggukan mantap.
"Baik-baiklah disana." Itachi memeluk Sakura lembut.
"Terima kasih, Ka."
Setelah pamit dengan semua keluarga juga beberapa pelayan rumah, Sasuke dan Sakura masuk kedalam mobil.
Perlahan sedan mewah tersebut pun melaju meninggalkan kediaman Uchiha.
Dan dengan begitu, dimulailah kehidupan mereka yang sesungguhnya sebagai suami isteri.
.
.
.
TBC.
.
Maaf kalau misalkan aku lama ya updatenya, alurnya kecepetan, ceritanya datar, ga seru dan udah gitu pendek pula..#digetok readers.
Yang jelas aku makasih banget sm semua yang udah baca dan review.
Maaf aku ga belum bisa bales satu-satu karena modem lagi lemot, jadi kalau tulisannya panjang lama banget publishnya, itu juga alasanku kenapa chapter ini pendek, tapi chapter depan insyaAllah aku akan bales review kalian. Pokoknya yang jelas aku bener-bener makasih bgt buat semua yang udah review, saran, dukungan dan yang lainnya.
Maaf juga ya kalau aku belum menceritakan kisah mereka pas tinggal berdua, padahal aku udah janji kemarin.. (#nangis) soalnya pas aku pikir2 lagi, kecepetan kalo tahu2 mereka udah tinggal serumah aja, jadi yah beginilah…hehehe #ditabok.
Chapter depan baru dimulai kehidupan mereka berdua sebagai suami isteri.
Ditunggu ya.. #senyam senyum gaje.
Oh iya untuk Sh6 makasih ya sarannya, aku pikirin dulu ya..^^
Akhir kata aku ucapkan makasih sebanyak-banyaknya.
Aku hanya manusia biasa yang tak sempurna, jadi fic ku juga jauh dari kata sempurna.
THANKS 4:
Aya-chan, Karin Shawol, Cherrysakusasu, Momijy-kun, Guest (1), Guest (2), Mizuhashi Riku, Kuromi no Sora, Sh6, Ladychibby, Kyukyu, SasuSakuLV, Nana Mizuki, Kahoko, , Mikyo, Yoo-chan, Naomi, Kau-Tau-Siapa, Raicchy, Ayy1090, Nina317Elf, Fiyui-chan, Me, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Hoshino Kumiko, Ucucubi, Sslove'yumiki, Kithara Blue Beauty, Yoruichi Shihouin Kuchiki, Momo Kuro, Chisa Hanakawa, Yanchan, , Sichi, Momo Haruyuki, Kece Badai, Koukei Yumisuki, Anka-chan, Tsurugi De Lelouch, Misty, Luv u, Jiyeon, Alint2709, Pha Chan, Miyank, Kyukyunlove, Skyzhe Kenzou, dan para silent readers sekalian.
Terakhir, jangan lupa..
R
E
V
I
E
W
–29-8-2012–
