IN THE NAME OF LOVE
A SasuSaku Fanfiction
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Keduanya sama-sama berada dalam sisi tergelap kehidupannya. Memutuskan untuk menghadapinya bersama, mampukah mereka melaluinya?
.
.
.
.
.
Chapter 3
Menghindar. Gadis itu―wanita itu―menghindarinya.
Sudah satu minggu sejak Sasuke tahu keadaan Sakura dan sekarang gadis itu mengindarinya. Entah ini hanya perasaannya atau memang benar. Tapi, tidak ada lagi senyum, sapaan bahkan tatapan Sakura.
Sasuke berusaha tidak terganggu dengan hal itu. Ia berusaha mengabaikan Sakura yang tidak lagi menganggunya. Sejak awal, memang itu yang diinginkannya. Kenyataannya, ini sulit. Sasuke tidak mengerti bagaimana cara mengusir Sakura dari pikirannya. Gadis itu selalu hadir di sana belakangan ini. Terlebih setelah Sasuke tahu Sakura hamil.
Hamil.
Tangannya terkepal. Pria mana yang menghamili Sakura dan meninggalkannya? Gadis itu pintar, tapi kenapa ia membiarkan semua ini terjadi? Apa yang ada di pikirannya saat memutuskan untuk membesarkan anak itu nantinya seorang diri?
Cih!
"Nah, kau mau ikut tidak?"
Pertanyaan Naruto tidak digubris sama sekali. Sasuke masih menatap Sakura yang sedang memasukan buku-bukunya ke dalam tas. Biasanya gadi itu akan menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang. Untuk melihatnya. Seperti tempo hari, saat Sakura memergokinya sedang tertawa kecil karena sikap Naruto.
Tapi, kali ini gadis itu langsung keluar ruangan.
"Oi, teme. Melamun lagi? Belakangan ini, kau semakin menyedihkan saja."
Naruto meninju pelan lengan Sasuke, membuat pria itu menoleh. Ya, lagi-lagi melamun. Lagi-lagi menatap Sakura.
"Apa?"
Naruto mendengus sebal, "Mau ikut tidak? Aku mengajakmu makan ramen hari ini."
"Oh, itu. Aku tidak bisa. Aku harus bekerja di minimarket Kakashi."
"Benarkah? Kau menerima tawaran Paman itu?" tanya Naruto kaget, "Lalu, sejak kapan kau bekerja di sana?"
Sasuke mengangguk, "Sudah satu minggu. Aku tidak bisa merepotkanmu lagi, dobe. Kau sudah banyak membantu."
"Ya, ya. Kita ini 'kan sahabat. Kau sudah kuanggap seperti saudaraku, teme. Jadi, tidak perlu merasa sungkan padaku." Naruto tersenyum lebar. Senyum khas miliknya. "Yosh! Karena kau tidak ikut aku terpaksa pergi sendiri. Padahal, aku sedang banyak uang lho, Sa-su-ke."
Sasuke memukul kepala Naruto hingga pria itu meringis, "Dasar bodoh."
"Ittai! Oi, teme, kau ini memang tidak tahu terima kasih. Aku ingin mentraktirmu, aku tahu kau kelaparan dan tidak punya uang." Ujar Naruto bersungut-sungut sambil memegangi kepalanya.
Sasuke menarik kerah kaus Naruto, lalu berbisik, "Kalau kau tahu aku kelaparan dan tidak punya uang, sebaiknya kau berhati-hati. Jangan sampai aku membunuh dan memakan dagingmu."
Naruto bergidik mendengar suara dan tatapan tajam Sasuke, "Sa-Sasuke, kau―"
"Aku bercanda, bodoh. Lagipula, siapa yang mau memakan dagingmu? Rasanya pasti menjijikan."
"SASUKE!"
"Terima kasih, silahkan datang kembali."
Kakashi tersenyum kecil melihat Sasuke yang berusaha ramah kepada pembeli. Meski pun suaranya masih terdengar datar dan raut wajahnya masih tampak kaku, setidaknya pria itu tidak melakukan sesuatu yang merugikan.
Bahkan pernah ada sekelompok siswi SMU yang berusaha membuat Sasuke tertawa atau sekedar tersenyum, tapi mereka gagal. Karena―sialnya―aksi jahil mereka sudah diketahui oleh Sasuke. Pria dengan kulit putih bersih itu hanya mendengus mengetahui dirinya dijadikan bahan taruhan.
Dasar, gadis-gadis bodoh.
"Kulihat, kau sudah mulai terbiasa." Ujar Kakashi sambil menghampiri Sasuke, "Pekerjaanmu menyenangkan?"
"Definisikan menyenangkan." Jawab Sasuke tanpa menengok pada Kakashi yang sedang berdiri di sebelahnya.
"Bisa jadi diri sendiri?"
Sasuke tertawa sinis, "Aku bukan orang yang suka tersenyum, Kakashi."
"Aku hanya memberimu pilihan, siapa tahu kau ingin berubah." Ujar Kakashi disertai tawa, tentu tawa yang berbeda dengan Sasuke. "Jadi, bagaimana dengan Sakura?"
Sasuke berusaha tidak bereaksi berlebihan mendengar pertanyaan Kakashi, "Apa maksudmu?"
"Gadis itu pingsan minggu lalu. Apa dia baik-baik saja?" Sasuke hanya mengangguk. Kakashi tidak menyadari jika Sasuke―entah kenapa―tidak terlalu menyukai pembicaraan ini. "Kudengar dari Rin, dia berada di kampus yang sama denganmu. Jadi, apa kalian berteman?"
"Kami saling kenal."
"Begitukah? Kukira kalian dekat, kau terlihat panik saat dia pingsan."
Sasuke tahu Kakashi bermaksud menggodanya. Sasuke bisa melihat itu dari nada dan raut wajah yang ditunjukan pria itu. Tapi, sungguh Sasuke sangat tidak ingin membicarakan Sakura saat ini.
Ia kesal.
Atau mencoba terbiasa dengan Sakura yang mengabaikannya.
Tunggu, dia bilang aku terlihat panik? Benarkah?
"Ternyata, kau bisa peduli pada seseorang. Kau bisa khawatir dan panik juga." Lanjut Kakashi.
"Aku manusia, Kakashi." Sahut Sasuke.
Kakashi tertawa lagi, "Kalau begitu, bersikaplah seperti manusia. Aku memang tidak tahu apa pun tentangmu. Tapi, berhentilah membentengi hati dan dirimu dari apa pun yang kau takutkan, dari apa pun yang menurutmu berbahaya. Terimalah." Ujarnya sambil menepuk bahu Sasuke.
Sasuke mendengus, "Jika kau bisa menghindari rasa sakit, untuk apa merasakannya?"
"Jika tidak pernah merasa sakit, kau tidak akan bisa menghargai dirimu sendiri."
"Aku pernah merasakan sakit." Jawab Sasuke cepat. Ia mulai tersulut.
"Dan apakah masih terasa sakit?" tanya Kakashi. Sasuke hanya diam, tapi matamya masih menatap tajam. "Temukan obatnya dan obati. Jangan biarkan dirimu terkurung dan membusuk bersama sakit itu."
Sasuke menghela nafas kasar setelah Kakashi tersenyum sebelum keluar minimarket. Ia mengusap wajahnya. Bukannya mengurung diri, tapi Sasuke tahu ia pantas mendapatkan ini setelah semua yang terjadi. Setelah apa yang dilakukannya. Ia menganggap ini sebagai hukuman.
Terasingkan. Terabaikan. Terlupakan.
Apakah ada obat untuknya? Apakah sakit ini bisa hilang? Apakah dirinya bisa bebas dari bayang-bayang itu?
Ya, ini masih terasa sakit.
Minggu berikutnya. Sasuke masih berkutat dengan pikirannya. Bukan, bukan tentang bayangan itu. Ini tentang Sakura. Gadis itu semakin sering hadir di pikirannya. Hal itu membuat Sasuke kesal. Sangat.
Pernah suatu ketika, Sakura berdiri di depan lift dan Sasuke baru pulang dari pekerjaannya. Kejadiannya sama seperti saat Sasuke mabuk, keduanya bertemu dan bertatapan tapi tidak ada sapaan. Sakura hanya tersenyum seadanya. Gadis itu bahkan terkesan buru-buru masuk ke dalam lift.
Sasuke tahu butuh waktu untuk Sakura terbiasa dengan keadaan ini―seseorang mengetahui kehamilannya. Tapi, tidak ada alasan untuk mengabaikannya. Bahkan jika Sasuke memberitahukan hal ini pada orang lain, tidak akan ada yang percaya padanya.
Kau yang memintanya untuk jangan mengganggumu terlalu sering, ingat?
"Berengsek."
Sasuke merapikan bukunya lalu beranjak keluar dari perpustakaan. Ia memutuskan untuk fokus pada ujian akhir. Ia bahkan meminta izin pada Kakashi untuk tidak masuk kerja demi mengulang materi yang belum dipahaminya.
Wow.
Hari sudah mulai sore, warna langit mulai berubah oranye. Sasuke berjalan dengan santai sambil memandangi suasana kampus di sore hari yang jarang ia lihat, karena memang Sasuke tidak pernah berlama-lama di sini.
"Jadi, bagaimana denganmu, Sakura?"
Sebuah suara mengusik Sasuke, membuatnya menghentikan langkah. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat seorang pria. Tinggi, tubuhnya kurus, dan alisnya tebal. Sasuke kenal pria itu. Lee.
Tunggu, apa tadi Lee menyebut nama Sakura?
Mata hitam Sasuke menyipit melihat Sakura berdiri di depan Lee. Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan Sasuke.
"Aku tahu ini pasti sangat mendadak bagimu. Tapi, aku sungguh-sungguh menyukaimu, Sakura. Sejak pertama kali melihatmu, aku langsung jatuh hati. Aku mungkin tidak setampan Gaara atau Sai, juga tidak secerdas Shikamaru. Walaupun begitu, aku punya ketulusan." Ujar Lee mantap.
Sasuke mendengus mendengar ucapan Lee. Pria yang maniak dengan warna hijau itu? Sasuke tidak kaget mengetahui Lee menyukai Sakura, mengingat itu sudah menjadi rahasia umum. Lagipula, Sakura tidak mungkin menyukai pria aneh itu.
"Kau memang baik, Lee. Kau pintar dan selalu bersemangat. Kau juga selalu tersenyum dan tidak pernah menyerah. Aku... suka." Jawab Sakura.
Sakura?! Oh, ayolah, yang benar saja.
Lee tampak tersenyum lebar mendengar ucapan Sakura. Ia hendak meraih tangan Sakura, tapi dengan cepat Sakura menghindar.
"Tapi, Lee, saat ini aku sedang tidak tertarik memiliki hubungan dengan siapa pun. Aku suka padamu, tapi bukan suka seperti yang kau maksud." Lanjut Sakura.
Haha. Mungkin lain kali, bocah hijau.
Lee mengangguk, "Baik, aku mengerti. Kau mungkin ingin fokus pada ujian akhir dan kehadiranku hanya akan menganggumu, tapi tidak apa. Aku tidak akan menyerah, Sakura. Berikutnya, kau pasti akan berkata iya." Ujar Lee semangat.
Sakura berusaha tertawa, "Maaf, ya?"
Lee mengangguk lagi, kemudian membungkuk sebelum meninggalkan Sakura. Sasuke menyeringai melihat Lee yang berusaha kuat. Pria itu pasti akan menangis semalaman mengetahui dirinya baru saja ditolak oleh gadis yang sangat disukainya.
"Uchiha?"
Seringai di wajah Sasuke menghilang saat Lee melihatnya. Sasuke baru sadar sejak tadi ia diam sambil melihat Lee yang menyatakan cinta pada Sakura. Untuk apa ia disana? Dan untuk apa seringai itu?
"Ap-apa kau melihatnya?" tanya Lee canggung yang sudah berdiri di depan Sasuke.
"Melihat apa?" jawab Sasuke. Ia memang pandai memakai topeng. Raut dan suara datarnya sudah kembali terpasang.
"Jadi, kau tidak melihatnya? Baguslah."
Lee langsung pergi begitu saja, menyisakan Sasuke dan Sakura. Sakura masih berdiri di tempatnya, begitu pula Sasuke. Keduanya hanya saling menatap. Sasuke mulai berpikir, mungkin sudah saatnya mengakhiri ini. Mungkin sudah saatnya mereka bicara.
"Kau―"
"Aku duluan. Permisi, Uchiha-san."
Sakura melangkah cepat. Ia tidak menengok lagi dan berjalan dengan terburu-buru. Sasuke tersenyum miring dan menggelengkan kepala.
Baik. Sudah cukup.
Sasuke tidak peduli lagi. Ia memantapkan hatinya kalau memang ini yang seharusnya terjadi. Untuk apa susah payah berusaha bicara dengan Sakura? Untuk apa merasa kesal? Untuk apa peduli pada Sakura?
Ya. Untuk apa?
Sasuke menyempatkan diri membeli beberapa bahan makanan sebelum pulang ke apartemennya. Bahan makanan seperti telur, mie instan, ikan kaleng dan keripik kentang. Bahan makanan atau lebih pantas disebut, 'sesuatu yang bisa dimakan.'
Sasuke melirik jam tangannya, belum terlalu malam. Ia memutuskan berjalan memutar. Sasuke terus melangkah menyusuri jalan-jalan di sekitar lingkungannya. Ia ingin menghabiskan waktu. Untuk saat ini, ia belum ingin kembali.
Meski sudah meyakinkan diri sendiri, tapi toh nyatanya Sasuke masih saja kesal karena Sakura mengabaikannya. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Sesuatu yang sangat diinginkan Sasuke di awal, justru membuatnya resah di akhir.
Tidak terasa sudah lewat satu jam Sasuke berjalan, ia merasa sudah waktunya untuk pulang. Sasuke sudah berjalan agak jauh, ia mengambil jalan pintas dengan melewati sebuah gang kecil yang agak gelap dan sepi untuk sampai apartemennya lebih cepat.
Sasuke meneguk beer kalengnya hingga habis kemudian meremasnya sebelum hendak membuangnya ke tempat sampah, namun―
"Kumohon, lepaskan aku."
Walaupun suara remasan kalengnya begitu keras, Sasuke tahu suara itu. Ia kenal.
"Biar kami mengantarmu, ini sudah malam. Tidak baik seorang gadis berjalan sendirian."
Suara lainnya, kali ini pria. Tidak hanya itu, sepertinya lebih dari satu. Sasuke bisa menebaknya karena ada suara tawa yang mengiringi ucapan pria tadi.
"Tidak. Jangan."
"Ayolah, Sayang. Kami tidak jahat."
"Tolong, biarkan aku pergi."
"Kau ini keras kepala sekali! Dasar―"
Sasuke melempar kaleng beer miliknya yang belum ia buang tadi ke arah kumpulan orang itu. Sasuke mendengus. Tiga orang pria melawan satu orang gadis. Benar-benar pecundang.
"Berengsek! Siapa kau?!"
Sasuke melangkah dengan santai lalu meletakan kantung belanjanya sebelum menatap ketiga pria itu bergantian. Matanya tajam dan raut wajahnya begitu menyeramkan. Aura Sasuke terasa sangat dingin.
Gadis itu terbelalak, "Uchiha-san?"
"Kalian, apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Sasuke mengabaikan gadis itu. Tangannya terkepal melihat sang gadis yang dipojokan di dinding, sementara satu orang pria menyentuh―sedikit mencekik―lehernya dan pria lainnya memegangi kedua tangan gadis itu.
"Bersenang-senang, eh?" lanjutnya.
Satu orang pria berambut putih yang menyentuh leher sang gadis, menghampiri Sasuke. Ia tampak percaya diri dan tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang runcing. Ia berhenti tepat di depan wajah Sasuke, menantang tatapan tajam onxy hitam itu dengan senyum lebar yang konyol. Ia lalu berbisik.
"Kau mau bergabung?"
Berengsek!
BUGH!
BUGH!
Sasuke menghantam keras perut pria itu dengan lututnya. Belum merasa cukup, Sasuke meninju wajah pria itu kemudian menghempasnya ke dinding.
"Uchiha-san!"
Merasa temannya kalah, dua orang pria lainnya kemudian ikut menyerang Sasuke. Tapi, dengan sigap Sasuke menghalau tinju dan tendangan dari dua pria tersebut. Sasuke berkali-kali secara bergantian memukuli mereka semua.
"Jangan pernah..." Sasuke memukul pria berambut merah dengan tubuh kurus itu di belakang kepala, tangan satunya menangkap tinju dari pria lainnya dengan kulit agak gelap. "...menyentuh sesuatu..." Setelah menangkapnya, Sasuke menarik pria itu lalu menendangnya dengan keras. "...yang bukan milikmu!"
BUGH!
BUGH!
BUGH!
Sasuke menormalkan nafasnya usai menghajar tiga orang pria sekaligus. Ia kalap. Ia dikuasai emosi. Anehnya, ia tidak merasa bersalah.
"Te-terima kasih, Uchiha-san."
Sasuke menoleh, menatap mata hijau yang terlihat takut itu. "Kau. Apa kau punya kemampuan membuat orang jadi kesal?"
"Apa?"
Sasuke menarik nafas, "Jangan membuatku khawatir dengan mengabaikanku!" teriaknya.
Keduanya sadar degup jantung mereka seketika menjadi lebih cepat. Keduanya sadar pipi mereka menghangat. Keduanya sadar mereka mulai saling peduli. Tapi, keduanya hanya diam.
Dan hanya terdengar suara angin malam yang berhembus.
Sakura menyajikan semangkuk sup dan dua ikan goreng di meja. Ia menata makanan sambil sesekali melirik pria yang saat ini duduk dengan tenang di ruang tengahnya. Sakura menyendok nasi yang baru saja matang ke dalam mangkuk kecil lalu meletakannya di depan pria itu.
Sakura masih diam saat ia mulai menyuap nasi ke dalam mulut. Keadaan begitu hening. Ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
"Ini enak." Ucap Sasuke tepat saat Sakura membuka mulutnya untuk bersuara.
Sakura tersenyum meski Sasuke tidak menatapnya, "Terima kasih."
"Hn."
Lagi. Keheningan keduanya kembali hadir. Seseorang harus mulai bicara atau ruangan ini akan mengalahkan kesunyian pemakaman sekali pun.
Sakura yang paling merasa bodoh. Ia nyaris menggigit lidahnya sendiri saat menawarkan Sasuke makan malam. Ia merasa perlu berterima kasih atas pertolongan Sasuke tadi dan lagi ia melihat isi kantung yang dibawa pria itu.
Itu makanan ringan. Terlalu ringan untuk pria seperti Sasuke yang berdada bidang serta memiliki lengan berotot sedang. Sakura menggeleng-gelengkan kepala menyadari arah pandangannya.
"Aku..." Sasuke diam sejenak kemudian mengangkat kepalanya untuk menatap Sakura, "...sudah lama rasanya tidak makan malam."
Sakura kembali tersenyum, "Kalau begitu makanlah yang banyak, tapi maaf malam ini hanya ini yang aku punya."
"Tidak apa. Bagiku ini lebih dari cukup."
Sakura memang nyaris menggigit lidahnya saat menawari Sasuke makan malam, tapi itu belum seberapa. Ia bahkan nyaris tidak bisa menutup mulutnya saat pria itu mengangguk pelan menerima tawarannya.
Sakura masih ingat betul, Sasuke menolak udang goreng dan sushi miliknya waktu itu. Sasuke bahkan membanting pintu kamarnya. Mereka sempat bertengkar kecil di kampus karena Sakura lagi-lagi menawarinya makanan itu.
Malam ini. Semuanya berbeda. Pukul sebelas malam, itu terlalu terlambat untuk sebuah makan malam. Tapi, Sasuke maupun Sakura tetap menikmati makanan mereka.
"Uchiha-san, maaf." Ujar Sakura.
Sasuke diam tidak menanggapi. Ia masih menyuap nasi dan juga ikan goreng. Jantungnya berdetak cepat mendengar ucapan itu.
"Untuk apa?" Tanya Sasuke, berusaha terlihat tidak peduli.
"Aku tidak seharusnya melibatkanmu dalam masalahku."
"Masalah apa?"
Sasuke terus menyuap, tidak membiarkan mulutnya kosong. Sebenarnya itu cara menutupi kegugupannya membicarakan hal ini. Sakura sendiri hanya mengulum bibir.
"Aku... pokoknya, maafkan aku."
Sakura membungkuk. Sasuke mengambil serbet di sebelah piring makannya lalu mengusap mulutnya. Ia menghembuskan nafas.
"Aku yang egois." Ujarnya.
Sakura mengangkat kepalanya. Sasuke menunjukan raut wajah yang sulit diartikan. Apakah ia menyesal, khawatir, kesal. Sakura sendiri tidak bisa yakin.
"Maksudku, wajar kau menjauhiku. Kau terlalu sempurna untuk membuat kesalahan. Ini pasti menjadi beban untukmu. Terlebih aku adalah orang selain kau yang tahu soal ini. Sebenarnya, kau tidak melibatkanku." Sasuke menatap mata Sakura, "Aku yang ingin terlibat."
Kali ini tidak ada kepura-puraan dalam sikap Sasuke. Mata dan suaranya mewakili perasaannya dengan sempurna. Kalimat implisit Sasuke membuat Sakura terpaku. Runtuh sudah kesan anti-sosial dan ketidakpedulian yang selama ini melekat erat pada pria itu.
"Apa maksudmu?" Tanya Sakura memastikan.
"Biar aku membantu merawat dan menjaganya." Jawab Sasuke.
Air mata Sakura menggenang. Ia miris, senang, terharu, entahlah. Sakura telah melakukan kesalahan, fatal. Lalu, masih ada seseorang yang peduli? Bahkan ketika dia yang seharusnya bertanggung jawab, pergi darinya.
"Kita sedang membicarakan seorang bayi, Uchiha-san." Ujar Sakura.
Sasuke mengangguk, "Aku tahu, justru karena itu aku ingin membantumu."
"Terima kasih, tapi ini hanya akan membebanimu. Lagipula, ini seharusnya menjadi tanggunganku dan aku mampu melakukannya." Sakura tersenyum.
"Kau masih harus kuliah dan juga bekerja. Sementara, perutmu akan membesar seiring waktu. Kau bersikeras ingin bayi itu lahir. Menurutmu, apakah kau mampu melakukannya? Seorang diri tanpa bantuan siapa pun." Tanya Sasuke.
Sakura diam sejenak memikirkan ucapan Sasuke. Iya, dia benar. Memang akan sulit, belum lagi Sakura juga harus pindah dari apartemen ini saat perutnya mulai besar. Ia harus menjauh sejauh mungkin dari kehidupan di sini. Untuk beberapa bulan, Sakura pun tidak bisa pulang ke Kumamoto.
Tapi, apakah dengan melibatkan Sasuke semuanya akan lebih baik?
"Sejauh apa kau ingin terlibat?"
Sasuke menatap mata hijau Sakura. Gadis itu menatapnya lekat-lekat. Sasuke sudah berusaha untuk mengabaikan keadaan Sakura, tapi nyatanya sulit dan ia tidak mau berusaha terlalu jauh. Sasuke akan mengikuti keinginan hatinya.
Akan kujadikan ini sebagai penebus dosaku.
"Sejauh kau membutuhkanku. Aku akan membantumu membayar biaya persalinan. Aku akan membelikanmu susu juga makanan bergizi lainnya, wanita hamil butuh banyak nutrisi. Saat ia semakin besar, kita akan pergi dari kota ini. Kau bisa mengatakan pada semua orang atau hanya padanya, kalau aku adalah ayahnya." Jelas Sasuke.
Nafas Sakura tercekat. Air matanya menetes. Ia menutup mulut dengan punggung tangannya. Sakura terlalu bahagia mendengar kepedulian Sasuke. Ya, saat ini ia memang butuh dukungan secara moril dan Sakura tidak pernah menyangka justru Sasuke yang ada saat ia jatuh.
"Kau bodoh, kau tahu itu?" Tanya Sakura sambil menyeka air matanya yang masih terus menetes, "Untuk apa melibatkan diri dalam sesuatu yang bukan urusanmu? Bukankah kau anti-sosial? Kau itu manusia batu yang tidak punya hati."
Sasuke mendengus mendengar Sakura, "Kukira hanya kau yang tidak berpikir seperti itu."
"Apa?"
"Kau yang selalu mengejarku, kau yang selalu berusaha bicara padaku, kau juga yang memilih tinggal di depan kamarku."
"Aku tidak tahu kau tinggal di sini!" Sela Sakura.
"Ya, tapi yang lainnya benar, 'kan?" Sasuke mengangkat bahu. Pipi Sakura yang memerah saat ia menangis membuatnya terlihat menggemaskan.
Tidak, tunggu. Apa?
Sakura mengangguk, "Sebenarnya, aku iri padamu. Itu sebabnya aku selalu mendekatimu. Aku ingin jadi sepertimu."
"Apa bagusnya jadi sepertiku? Selalu gagal dan ditinggalkan." Ujar Sasuke disertai senyuman miris.
"Tidak, kau tidak seburuk itu. Aku ingin jadi sepertimu yang bebas, yang cuek, yang tidak disukai banyak orang." Kata Sakura membuat Sasuke mengernyit.
"Jadi, menurutmu itu tidak buruk?"
Dia memang gadis yang aneh.
"Terkadang menjadi buruk juga diperlukan. Aku tidak perlu dibebani dengan segala 'kesempurnaanku.' Aku lelah menjadi baik. Coba pikirkan apa yang akan orang lain katakan saat tahu kondisiku?"
Sasuke diam melihat kesedihan di raut wajah juga suara Sakura. Selama ini, ia berpikir menjadi orang yang selalu gagal adalah sesuatu yang buruk. Tapi, melakukan kesalahan besar saat kau selalu dibanggakan?
Mana yang lebih parah?
"Mereka hanya orang-orang yang pintar menghakimi. Kau tidak perlu takut dengan itu." Ujar Sasuke.
Sakura mengangguk pelan sambil tersenyum. Sasuke membalas Sakura dengan senyuman canggung. Sudah lama rasanya ia tidak menunjukan senyum atau tawa pada orang lain selain Naruto.
"Ah, tapi bukan berarti kita berkencan. Aku hanya ingin membantumu. Jadi, kau jangan berpikir terlalu jauh. Ingat, aku masih tidak menyukaimu."
Senyum Sakura berubah, semakin lebar. Ia merasa geli melihat Sasuke yang kembali ketus setelah terlihat peduli. Sakura yakin, Sasuke adalah pria baik. Hanya saja ia tidak tahu cara menjadi baik. Kali ini, pria itu mencoba.
"Ya, aku tahu itu."
"Bagus. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman diantara kita."
Sakura mengangguk dan Sasuke meraih gelas di atas meja lalu meminumnya, "Ano, boleh aku bertanya, Uchiha-san?" Sasuke mengangguk. Masih menenggak air dalam gelas, "Kenapa kau ingin membantuku?"
Sasuke berhenti minum. Ia meletakan kembali gelas di tempat semula. Sakura menatapnya penasaran. Akan terasa tidak adil jika hanya dirinya yang tahu kondisi Sakura sementara gadis itu tidak tahu apa pun tentangnya.
Tapi, haruskah Sakura tahu? Sudah siapkah Sasuke dengan ini?
Diam beberapa saat, Sasuke akhirnya memutuskan untuk bicara. Ini kesempatan terakhirnya untuk memperbaiki masa lalunya. Ia ingin Sakura tahu betapa berharganya hal ini untuknya. Sasuke ingin lepas dari bayang-bayang yang selalu mengejarnya.
"Karena... aku pernah kehilangan seorang anak, Sakura."
Is your head spinning?
Is your heart racing?
Is there fire in your veins?
Are your bones burning?
Is your skin yearning?
'Cause you're driving me insane
(Martin Garrix feat. Usher – Don't Look Down)
TBC
.
.
.
Yatta~ Aku berhasil menyelesaikan chapter 3 \(^^)/ Yuhuuu! Gimana pendapat kalian?
Terima kasih untuk semua review yang masuk di fict ini atau fict aku lainnya. Tapi, kalau bisa tolong pakai bahasa yang lebih sopan ya? Mengkritik juga ada aturannya, lho ;)
Last, aku berencana akan aktif juga di wattpad, jadiiii sokode aimashou ^^ Bagi yang punya akun wattpad, boleh kasih tau aku atau search 'Ninjapan' yaa :D
Jaa~
