Summary : Hanya kumpulan oneshoot tentang Yixing x everyone atau everyone x Yixing, dengan berbagai macam genre dan setting cerita / EXO FF / GS / DLDR / RnR? *bow*

Genre : Campur aduk (?)

Rate : T

Cast : Zhang Yixing and Byun Baekhyun (GS)

Warning : GS, OOC, typo(s), badfic, DLDR

Disclaimer : Semua chara di fanfic ini bukan milik saya. Mereka milik Tuhan, keluarganya, dan diri mereka sendiri. Tapi fanfic absurd ini murni milik saya :D

Happy Reading ~

"Pulanglah, Baek. Orangtuamu pasti menunggumu." Yixing mendesah pelan. Dia melepaskan tangan Baekhyun yang menggamit lengannya. Tapi gadis itu malah bangkit dan mengikutinya ke kamar.

"Oppa, kau mengusirku?" Tanya Baekhyun sambil memeluk Yixing dari belakang. Yixing yang baru saja akan membuka pintu kamarnya, berhenti melangkah. Tangan Baekhyun begitu erat melingkari perutnya. Bahkan dia bisa merasakan dada Baekhyun yang hangat menempel di punggungnya. Yixing berbalik dan meraih dagu gadis itu, memintanya mendongak.

"Baek, kau tentu tau aku ingin lebih lama bersamamu. Tapi kita tidak bisa, Baek. Aku tidak bisa begitu egois menahanmu disini. Ibumu berulang kali meneleponmu, memintamu pulang. Jadi, pulanglah. Jangan buat mereka khawatir."

Baekhyun menggeleng pelan. Setitik airmata perlahan turun dari mata sipitnya, jatuh membasahi pipinya. Dia menggigit bibir dan mencengkeram erat ujung kaos yang Yixing kenakan.

"Aku tidak mau pulang, Oppa. Aku ingin disini bersamamu. Kumohon, jangan memintaku pergi. Jangan menyuruhku meninggalkanmu. Aku tidak bisa, Oppa."

"Tapi Baek..."

Baekhyun menggeleng dan menutup telinganya rapat-rapat. Tidak mau mendengarkan apa yang ingin Yixing katakan. "Kumohon, Oppa. Malam ini saja. Sebelum aku harus merelakan hidupku terjebak dalam drama yang dirancang oleh orangtuaku. Aku mohon, Oppa. Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu, menikmati saat-saat terakhirku menjadi kekasihmu. Karena mulai besok, aku tidak bisa lagi menemuimu." Desah Baekhyun lirih.

Yixing mengerang tertahan. Rasa sakit itu kembali menerpanya. Perkataan Baekhyun seolah menamparnya dengan keras, mengingatkannya pada sebuah kenyataan yang menyakitkan. Kenyataan bahwa dua hari lagi, gadis itu akan menjadi milik orang lain.

Yixing meraih kepala Baekhyun dan menenggelamkannya di dadanya. Melepaskan Baekhyun sama seperti menusukkan ribuan belati ke jantungnya. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Yixing cukup tau diri untuk tidak begitu egois mempertahankan Baekhyun di sisinya. Siapa dirinya? Hanya seorang pria perantauan sederhana yang tidak punya apa-apa. Sangat berbanding terbalik dengan Baekhyun yang berasal dari keluarga terpandang. Gadis yang telah menjadi kekasihnya selama tiga tahun itu adalah putri tunggal salah seorang pengusaha sukses di Korea Selatan. Dan orangtua Baekhyun bukanlah orang bodoh yang akan berdiam diri melihat sang putri menjalin hubungan dengan pria seperti Yixing. Karena itu, mereka menjodohkan Baekhyun dengan putra kolega bisnis mereka. Ketika pertama kali melihat seperti apa pria yang akan menjadi pendamping hidup kekasihnya, Yixing tau, dia sudah kalah. Sangat telak. Pria itu sangat sempurna, nyaris tanpa cacat. Dia memiliki semua yang diinginkan para pria.

Isakan pelan Baekhyun membuat dada Yixing terasa semakin nyeri. Dia memundurkan wajahnya sejenak, meraih wajah Baekhyun dan menangkup kedua pipinya.

"Jangan menangis, sayang. Kau tidak boleh terlihat jelek di hari pernikahanmu." Kata Yixing sambil mengecup lembut kelopak mata Baekhyun yang dibanjiri airmata.

"Apa peduliku? Bukan Oppa yang bersanding denganku di altar, aku tidak peduli kalaupun aku terlihat jelek."

"..."

"Oppa." Panggil Baekhyun pelan. Disentuhnya wajah Yixing yang terdiam. Sorot matanya yang biasanya bersinar teduh itu kini terlihat suram. Meski tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir namja itu, tapi Baekhyun tau, hati Yixing sama sakitnya dengan hatinya sendiri. Bahkan mungkin jauh lebih sakit. Terlebih ketika Yixing menjawab panggilannya dengan suara bergetar.

"Ya, sayang?"

"Maukah kau memilikiku malam ini?"

Yixing mengerjab. Mungkin dia salah dengar. "Apa?"

"Miliki aku malam ini, Oppa. Aku ingin melakukannya denganmu. Selagi aku masih menjadi Byun Baekhyun yang kau kenal. Karena mulai besok, Byun Baekhyun yang kau kenal itu akan mati."

"Baek..." Yixing kehilangan kata-kata.

"Aku mencintaimu, Oppa. Hanya mencintaimu. Aku tidak rela kesucianku direnggut oleh pria yang sama sekali tidak kucintai. Apa Oppa rela pria lain yang mendapatkannya?"

Yixing menggeleng. Tidak, dia tidak sanggup membayangkan ada pria lain yang menyentuh kekasihnya. Memeluknya, membelainya, menciumnya, bahkan sampai bercinta dengannya. Tidak, Yixing sama sekali tidak rela. Tapi Yixing sadar, dia tidak boleh egois. Karenanya, dengan segenap kendali dirinya yang tersisa, Yixing menjawab tegas.

"Jaga tubuhmu untuk suamimu, Baek. Kalau kau tidak bisa mencintainya, setidaknya, hargai dia. Berikan padanya apa yang menjadi haknya. Itulah tugas seorang istri."

Tapi Baekhyun seolah menulikan telinganya atas perkataan Yixing. Tanpa aba-aba, Baekhyun berjinjit lalu menyambar bibir Yixing dan melumatnya. Tangannya perlahan merayap ke dada bidang Yixing, membelai dan meremas ringan, membuat tubuh Yixing menegang.

Shit! Yixing mengumpat dalam hati. Perlakuan Baekhyun membuat suhu tubuhnya meningkat. Selama tiga tahun berpacaran, baru malam ini Yixing melihat Baekhyun seagresif itu.

"Miliki aku, Oppa. Ijinkan aku membuktikan cintaku padamu. Malam ini saja, sebelum aku benar-benar kehilangan dirimu. Kumohon, Oppa. Aku benar-benar menginginkannya." Baekhyun berbisik parau.

Yixing menatap Baekhyun yang memandangnya dengan sorot mata sayu. "Kau yakin?" Tanyanya dengan suara tak kalah parau. Masih belum terlambat jika Baekhyun ragu dan ingin mengakhirinya.

Baekhyun mengangguk. "Aku sangat yakin, Oppa." Jawabnya mantap. Yixing sama sekali tak mendengar ada keraguan dalam suara lirih kekasihnya.

Mengikuti naluri, Yixing perlahan menunduk dan melumat pelan bibir merah kekasihnya. Tangan kirinya refleks menarik pinggang Baekhyun dan tangan kanannya menekan tengkuk Baekhyun, membuat ciuman mereka semakin dalam. Baekhyun mendesah pelan dan meremas rambut Yixing. Dia membuka mata sejenak dan menatap Yixing dengan tatapan memohon.

Yixing tidak ingat bagaimana mereka bisa sampai ke dalam kamar, tapi kini dia menemukan dirinya tengah berbaring di atas kasurnya sementara Baekhyun terlelap dalam dekapannya. Mereka baru saja melewati malam yang luar biasa. Yixing tidak tau harus merasa bersalah atau bahagia ketika Baekhyun menatapnya dan berkata lirih, tak lama ketika mereka bersama-sama mencapai puncak.

"Terima kasih, Oppa. Selamanya aku akan mengingat malam ini. Terima kasih banyak. Kau sudah membuatku menjadi wanita paling bahagia di dunia."

Yixing membelai rambut Baekhyun yang masih terlelap nyaman di dadanya. Meski berat, tapi Yixing harus melakukannya. Dia menggoyang pelan tubuh Baekhyun, berharap kekasihnya itu terbangun.

"Sudah hampir pagi, Baek. Ayo, kuantar pulang."

Baekhyun menggeliat tak nyaman dan membuka mata perlahan. Dia tidak menolak ketika Yixing membantunya mengenakan kembali pakaiannya.

"Kenapa?" Tanya Yixing. Tangannya yang sedang bergerak merapikan kancing minidress Baekhyun terhenti sejenak ketika menyadari Baekhyun tengah menatapnya intens.

"Kau tau, Oppa? Aku ingin hari ini tak pernah berakhir. Bisakah waktu berhenti? Agar aku tetap di sisimu selamanya?"

Yixing mendesah berat. "Kau tau itu tidak mungkin, Baek. Waktu kita sudah hampir habis."

Baekhyun kembali terisak. Bahkan ketika Yixing menurunkannya tepat di depan gerbang rumahnya, isakan Baekhyun masih terdengar.

Yixing tersenyum tulus. Diusapnya airmata yang membanjiri pipi putih kekasihnya. "Percayalah padaku, setelah ini semuanya akan baik-baik saja."

Baekhyun berjinjit dan memeluk Yixing dengan erat. Terlampau erat sampai Yixing nyaris tidak bisa bernafas. "Aku mencintaimu, Oppa." Bisiknya getir.

"Aku tau." Jawab Yixing sambil melepaskan pelukan Baekhyun dan mundur perlahan. "Masuklah, Baek. Disini dingin sekali. Aku akan pulang setelah kau masuk."

Dengan berat hati, Baekhyun berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Ketika pintu gerbangnya tertutup dan sosok Yixing perlahan menghilang dari pandangannya, seketika itu juga Baekhyun merasa dirinya mati perlahan-lahan.

"Selamat tinggal, Baek. Kau harus bahagia." Gumam Yixing lirih, tepat ketika pintu rumah Baekhyun tertutup di depannya. Membiarkan airmatanya menetes perlahan, Yixing berbalik dan melangkah pergi.

**oo**

Setelah memasukkan semua barangnya ke koper, Yixing merebahkan dirinya ke sofa. Dia melirik jam dinding dan tersenyum getir. Pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Kekasihnya -tidak- mantan kekasihnya itu kini sudah resmi menjadi milik orang lain. Dan Yixing akui dirinya memang seorang pengecut yang tidak punya keberanian untuk mempertahankan gadis yang dicintainya. Keadaan mungkin akan berbeda seandainya dia adalah seorang pria yang mapan. Sejak awal, orangtua Baekhyun menentang keras hubungan mereka. Baekhyun saja yang terlalu bebal dan tidak menghiraukan protesan orangtuanya. Entah sudah berapa kali Yixing datang berkunjung menemui orangtua Baekhyun demi meyakinkan mereka dan berjanji dia akan membahagiakan Baekhyun, tapi orangtua Baekhyun tetap pada pendiriannya. Mereka adalah orang paling keras dan arogan yang pernah Yixing kenal. Akhirnya Yixing tau, darimana Baekhyun mendapatkan sifat keras kepalanya itu.

Mendesah berat dan berpikir tidak ada gunanya dia menyesali nasib, Yixing bangkit berdiri da melangkah ke kamar. Tubuhnya terasa penat dan lelah. Baru saja dia akan membuka pintu kamarnya ketika bel pintunya berbunyi nyaring. Dengan malas, Yixing menyeret langkahnya ke pintu. Dengan sedikit kasar, ditariknya daun pintu itu dan seketika matanya membulat ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintunya. Byun Baekhyun, gadis yang masih teramat dicintainya tapi terpaksa dilepaskannya itu berdiri tegak di hadapannya, masih mengenakan gaun pengantinnya yang putih bersih. Rambut dan makeupnya terlihat sedikit berantakan. Meski nafasnya terlihat ngos-ngosan, tapi Baekhyun tersenyum lebar ke arahnya. Yixing berkedip. Dia pasti sedang berhalusinasi.

"Hai, Oppa. Kau punya minum, kan? Aku haus sekali. Kenapa flatmu ini tidak ada liftnya? Menaiki tangga dengan gaun seperti ini sangat melelahkan, kau tau?" Baekhyun melangkah ke dalam, tidak peduli pada Yixing yang masih mematung di depan pintu.

"Oppa? Kenapa masih berdiri disana?" tanya Baekhyun heran. Ah, lega sekali rasanya setelah membasahi tenggorokannya yang kering.

"Ba...Baekhyun?" Yixing tergagap. Bagaimana bisa Baekhyun ada disini?

"Ya, ini aku." Kata Baekhyun ringan kemudian berjalan menuju kamar Yixing.

Baekhyun sedang membuka lemari Yixing dan mengobrak-abrik isinya ketika sang empunya kamar menyusul masuk.

"Apa yang kau lakukan?"

"Mencari baju." Jawab Baekhyun singkat. Lalu tanpa basa-basi, Baekhyun melepas gaunnya dan mengenakan kaos Yixing yang panjangnya mencapai lututnya.

Baekhyun mendudukan dirinya di atas kasur Yixing. Seolah-olah mengerti apa yang tengah dipikirkan kekasihnya, Baekhyun berujar, "Setelah Oppa mengantarku pulang malam itu, aku banyak berpikir. Lalu aku sadar, tidak ada seorangpun yang berhak mengatur hidupku, termasuk orangtuaku. Aku tau persis apa dan siapa yang membuatku bahagia. Setelah melalui pergulatan batin yang begitu hebat, akhirnya aku memantapkan hatiku. Melarikan diri dari neraka itu, meninggalkan semuanya, melupakan seluruh dunia dan berlari ke arahmu. Kau adalah pusat dari seluruh kehidupanku, satu-satunya sumber kebahagiaanku, dan satu-satunya hal yang kuinginkan dalam hidupku."

Yixing melangkah perlahan menghampiri Baekhyun. "Baek, seharusnya kau tak boleh melakukan ini. Orangtuamu pasti sangat kecewa."

Baekhyun menggigit bibir. "Orangtuaku tidak pernah benar-benar menyayangiku. Kalau mereka menyayangiku, mereka akan membebaskan aku memilih apa yang aku inginkan. Mereka akan memikirkan bagaimana perasaanku, bukannya memaksaku melakukan hal yang tidak aku sukai."

"Tapi..."

"Oppa, kau mencintaiku kan?" Sela Baekhyun cepat. Dia mendongak dan menatap Yixing dengan tajam, menuntut jawaban.

Yixing menghela nafas panjang. "Sangat, Baek. Kau tau pasti itu."

"Kalau begitu, bisakah kali ini Oppa bersikap egois dan hanya memikirkan diri Oppa sendiri? Jangan pikirkan orang lain. Jangan pedulikan apa kata orang lain. Dengarkan kata hati Oppa. Terkadang, seseorang harus menjadi egois untuk bisa meraih impiannya."

Yixing termenung. Baekhyun benar. Bolehkah dia egois? Bolehkah dia melupakan seluruh dunia dan meraih apa yang paling ingin diraihnya? Jika Baekhyun bisa dengan gagah berani meninggalkan segalanya, kenapa dia tidak? Apa yang ditakutinya? Impiannya kini ada di hadapannya, impiannya sendiri yang datang menemuinya. Yixing hanya perlu mempertahankannya.

"Baek, besok aku akan pindah ke Ilsan. Aku mendapat tawaran kerja disana. Maukah kau ikut bersamaku?"

Baekhyun tersenyum cerah. Dia bangkit berdiri dan memeluk leher Yixing dengan erat. "Tentu saja. Ayo kita bersiap-siap. Kita mulai semuanya dari awal dan kita hadapi dunia ini bersama-sama."

"Kau yakin kau tidak akan menyesal, Baek?"

Baekhyun menggeleng tegas. Dikecupnya ringan bibir Yixing. "Asalkan bersamamu, aku tidak akan pernah menyesal, Oppa."

Yixing mengusap pipi Baekhyun dan membelainya dengan lembut. "Terima kasih, Baek. Terima kasih karena telah memilihku."

Baekhyun mengeratkan pelukannya di leher Yixing dan terkekeh riang ketika sang kekasih membawanya berputar-putar. Sama sekali tidak mempedulikan keadaan di luar sana yang mendadak ribut. Heboh membicarakan tentang putri keluarga Byun yang melarikan diri dari pernikahannya. Ya, mereka sama sekali tidak peduli.

END.

Ada yang ngerasa familiar dengan adegan di atas?

Yup, itu emang saya ambil dari scene terakhir film Spiderman 2, dimana waktu itu Mary Jane kabur dari pernikahannya dan berlari menemui Peter Parker. Ada yang gak liat filmnya? Ya sudahlah, jangan terlalu dipikirkan kalo belum pernah liat #plak. Entah kenapa adegan sederhana itu membuat hati meleleh seketika #curcol.

Udah ah, gak perlu diterusin. Ntar saya malah ngelantur ngalor ngidul.

Saya yakin ini pasti banyak yang protes kenapa NCnya dicut, mwehehehe ~

Mian ya, bukannya apa-apa, cuma saya kok agak gimana gitu kalo buat NC tapi yang NCan bukan couple sah (?). Saya jadi ngerasa bersalah gitu ama couple aslinya. Ngerti kan maksudnya?

Baca NC crack pairing sih sering, cuma kalo bikin sendiri kok gak tega gitu #gaplok.

Thanks to : evilkyung, Tabifangirl, toeloes, L. O. V. E LUV, steffany. elfxoticsbaby, zhangs, Xiao yueliang, guest, dan segenap reader, favorite, dan follower sekalian.

Buat steffany. elfxoticsbaby yang req baeklay. Bisa menuhin pairnya (laybaek gak papa ya?), tapi gak bisa menuhin temanya, gak papa ya? Karena waktu chingu ajuin (?) req, ini chap udah setengah jadi. Maaf juga kalo misal mengecewakan *bow*

Buat yang req taolay, sabar ya. Semua akan indah pada waktunya (?). Semua bakal dapat giliran kok xD

Jeongmal gomawo yeorobun :*

Wanna to review again? /wink/