Yunjae fanfiction

The Rocker That Hold Me

Remake from novel TerryAnne Browning

Genre : Romance, Drama

Desclaimer : THE GOD, THEMSELVES, THEY PARENT'S, CASSIE, SM Ent and Story by TerryAnne Browning

Warning : GS!Jae, EYD Kurang Baku, Typos, DLDR, OOC

Rate : M

Chapter 2

Malam ini adalah konser terakhir. Aku sudah tidak sabar untuk mengakhirinya. Aku merasa sangat sakit dan hari ini aku telah menjadi jalang terbesar dengan perubahan suasana hati yang hamper mendekati pengidap kepribadian ganda. Setelah melihat semua gejalanya aku yakin bahwa aku mempunyai kanker otak. Hal itu hanya menambahkan kecemasanku yang bergolak.

Para priaku semua keluar di panggung dengan lampu-lampu yang memantul dan berkedip seirama dengan hentakan musik. Penonton masih menggila. Saat pembukaan konser Yunho berjanji pada mereka satu lagu baru yang dia kerjakan. Salah satu janjinya adalah lagu itu ada di dalam album mereka selanjutnya. Itu mengejutkanku setengah mati dan para priaku yang lain, tentu saja. Aku yakin bahwa jika Song Nam ada disini dia akan mendapatkan serangan jantung...Tetapi aku tidak masalah jika hal itu terjadi.

Aku berdiri dari jarak yang aman di atas panggung, menyiksa diri dengan melihat para gadis melemparkan celana dan bra mereka ke arah Yunho. Dia menangani semua itu seperti biasanya, dengan senyuman dan melihat dengan tatapan menggoda ke penonton. Aku hanya ingin malam ini cepat berakhir!

Seseorang menabrak bahunya kepadaku dan aku berbalik untuk memeloti orang tersebut, bersiap untuk menggigit kepala mereka dan memasukkannya ke dalam tenggorokannya sendiri. Kemudian aku melihat siapa orang itu aku memutar mataku.

"Hei. Apa yang kau lakukan disini?"

Hyun Joong mengangkat bahunya yang ramping. Aku perhatikan dia punya tato baru, di bagian dalam tangan kirinya. Aku hamper tersedak ketika aku melihat apa yang tertulis. Boa.

"Jadi kalian berdua telah resmi?" Aku menganggukan kepalaku ke pergelangan tangannya dan dia mengangkat bahu.

"Masih berusaha." Dia memberitahuku. Dia tahu aku bukan penggemar berat Kwon Boa. Benar-benar membenci pelacur itu. Nona sok alim. Dia juga sangat tidak menyukaiku. Junsu bilang itu karena kami sangat mirip. Aku berfikir itu karena pelacur tersebut telah tidur dengan Yunho saat kami sedang tur di Australia dan kemudian dengan bangga dia memberitahuku tentang hal itu.

Tentu saja itu sudah lebih dari setahun yang lalu dan dia sudah bersama Hyunjoong sekarang. Setidaknya mereka putus dan sambung lagi.

"Aku kebetulan berada di daerah sini." Hyunjoong akhirnya menjawab pertanyaanku di awal.

"Sebenarnya aku merasa bosan sekali di Korea dan berfikir aku ingin melihat kekacauan macam apa yang aku bisa lakukan bersama dengan teman-teman tololmu."

"Dengan segala cara, masuklah ke dalam semua masalah sesuai dengan hasrat hati kecilmu. Tetapi kami memiliki jadwal tiket pesawat penerbangan pertama di pagi hari. Membuat aku terlambat untuk liburanku dan mereka akan menggores isi perutmu dari trotoar."

Tangannya memeluk pinggangku dan aku bersandar kepadanya.

"Ah, ayolah cantik. Kau tahu kau ingin menyebabkan beberapa masalah denganku." Dia menggosok hidungnya dengan hidungku membuatku terkikik.

"Kau menyukaiku. Akui saja."

Aku mendengus.

"Aku membencimu." Tetapi aku harus mengakui bahwa walaupun perasaanku untuk Yunho, Kim Hyunjoong bisa membuatku terengah-engah. Jadi aku membiarkan Hyunjoong menciumku. Dia beraroma mint dan sedikit kopi. Bibirku tergelitik dan aku membuka mulutku sedikit untuk membiarkannya mencicipi rasaku. Aku tidak bisa jujur mengatakan bahwa aku tidak terpengaruh, tapi aku tidak terburu-buru untuk mendapatkan dia telanjang. Ketika dia melangkah mundur sedikit aku mendesah.

"Okey, jadi aku tidak kebal." Tetapi aku meragukan setiap wanita dengan libido yang masih bekerja juga akan kebal.

Dia terkekeh dan melepaskanku.

"Tur bersamamu akan menjadi sangat menyenangkan."

Aku meringis. "Apakah jalang troll itu juga ikut?"

"Kemungkinan besar. Tergantung pada bagaimana keadaan dia dengan keluarganya. Ahra mengalami masa yang sulit sekarang."

Hatiku sedikit miris memikirkan sepupu Boa, Ahra.

Perempuan itu telah melalui banyak hal selama setahun atau lebih. Dia telah mengalami kecelakaan mobil yang hamper menghancurkannya. Tetapi dia sangat kuat. Dia berjuang untuk bisa berjalan kembali. Kemudian melewati cobaan yang sangat besar dengan pacarnya, yang mana tabloid-tabloid menggila karena Lee Minhyun dan masa lalunya hubungannya dengan istri adiknya.

"Bagaimana dia?" tanyaku, karena sementara aku membenci Boa, aku bisa akrab dengan Ahra saat aku bertemu dengannya beberapa kali.

"Dia hamil."

Mengatakan bahwa aku terkejut adalah sebuah pernyataan meremehkan. Setelah kecelakaan dokter mengatakan bahwa Ahra tidak akan pernah memiliki bayi.

"Bagaimana itu mungkin terjadi?"

Hyunjoong mengangkat bahu. "Aku tidak benar-benar Boa mengatakan bahwa mereka melakukan USG dan sepertinya mereka hanya mengambil sebagian dari bisa membayangkan betapa bahagia dan tertekannya gadis itu. Dokternya menyuruhnya istirahat total karena dia mulai sedikit pendarahan pekan lalu. Boa tidak ingin meninggalkannya. "

"Sampaikan salamku padanya. Aku sangat senang untuknya." Di atas panggung kerumunan penonton di bawah hening dan aku berpaling untuk menemukan Yunho sedang duduk di atas bangku. Yoochun menarik satu kursi juga dan mengeluarkan gitar akustiknya.

"Oke. Seperti yang dijanjikan lagu ini aku telah bekerja keras untuk lagu ini selama beberapa minggu. Semoga kalian menyukainya."

Apakah hanya perasaanku atau dia terlihat sedikit gugup? Meskipun pikiran itu gila. Yunho telah menyanyikan lagunya sendiri sejak album kedua DBSK saat dia telah menulis setiap lagu dan mendapatkan platinum dalam waktu kurang dari seminggu. Perusahan rekaman telah memberikannya kekuasaan penuh saat itu. Tidak ada alasan baginya untuk gugup tentang lagu-lagunya

DBSK tidak dikenal karena lagu-lagu cintanya. Bukan mengatakan bahwa beberapa hits mereka bukan tentang cinta, tetapi biasanya lagu-lagu tersebut lebih tentang seks daripada cinta sejati. Jadi kau tidak bisa mengerti bagaimana terkejutnya aku saat Yunho mulai bernyanyi.

Aku pikir hatiku akan hancur. Yunho menulis lagunya dari pengalaman. Ada banyak masa kecilnya di dalam lagunya. Masa kecil dia, para priaku, dan juga aku. Musiknya selalu dekat dengan kami semua. Kegelapan, penderitaan, obat-obatan dan bahkan pemukulan. Tetapi saat Yunho bernyanyi tentang bagaimana hatinya telah dingin untuk waktu yang lama, tetapi sekarang ada sebuah bara membakar disana menangkap api, membawa dia kembali ke kehidupan aku pikir aku akan mati.

Yunho sedang jatuh cinta? Aku tidak berpikir aku bisa mengatasinya.

Tidak. Tidak, aku tahu bahwa aku tidak bisa mengatasinya. Yunho bisa berbuat apa saja yang dia inginkan. Yunho bisa melakukan semua kencan satu malam, seks tanpa bermakna dengan siapapun. Aku bisa menghadapi itu...Okey, jadi aku berusaha dengan sekuat tenaga menahan diri untuk mencoba berurusan dengan itu.

Tetapi jika Yunho sedang jatuh cinta itu akan menghancurkanku. Aku tidak dapat menghadapi dia dengan seseorang pelacur sepanjang waktu. Dan mengetahi bahwa hatinya milik pelacur itu?

Aku limbung. Lengan Hyunjoong mengelilingi tubuhku, menahanku.

"Pelan-pelan,sayang."

Rasa pahit meningkat di belakang tenggorokanku. Memutar tubuh, aku berlari. Aku tahu aku tidak akan bisa sampai ke kamar mandi, jadi dengan aku putus asa mencari tempat sampah. Untungnya ada salah satunya yang dekat atau aku harus membersihkan tubuhku lagi. Aku mengosongkan perutku, lagipula isinya tidak banyak. Untungnya rambutku di ikat ekor kuda.

Sebuah tangan hangat mengusap punggungku menenangkan. Air mata mengalir di pipiku. Sampai sekarang aku berpikir bahwa aku sedang sekarat. Sekarang...Sekarang aku berharap aku akan sekarat!

"Ya Tuhan!" Gumam Hyunjoong.

"Kau baik-baik saja, sayang?"

"Aku hanya ingin berbaring." Bisikku.

" Aku tidak merasa baik akhir-akhir ini."

"Ayo." Dia mendesak." Aku akan membawamu kembali ke hotelmu."

Dunia berputar. Begitu mobil berhenti di depan hotel tempat kami menginap aku tahu aku dalam masalah. Masalah besar. Aku membanting pintu dan muntah sampai aku pikir perutku akan keluar dari mulutku. Tubuhku mandi keringat dan aku tidak tahu apakah aku bisa berjalan tanpa tertelungkup.

Hyunjoong bergumam rangkaian kutukan kotor dan meneriakkan sesuatu ke penjaga pintu yang sedang menahan pintu terbuka untukku. Aku butuh waktu satu detik untuk menyadari bahwa pria malang itu mendorongku kembali ke mobil sewaan Hyunjoong dan menutup pintunya. Aku hampir tidak punya energi untuk membuka mataku ketika aku melihat si rocker meninju sesuatu pada GPS dan kemudian dia segera bergerak cepat.

Ban berdecit saat ia masuk ke lalu lintas. Bunyi klakson yang marah di belakang kami, tapi aku tidak melihat ke belakang. Pada kecepatan kami aku yakin bahwa dia akan dihentikan ke tepi oleh polisi, tetapi dia tetap saja menabrak lampu tanda bahaya dan melewati peliut peringatan polisi saat berkelok-kelok masuk dan keluar dari lalu lintas.

"Tunggu, Jae." Gumamnya.

Aku tidak dapat menjawab. Dunia terasa kabur sekarang. Pada saat dia membanting rem untuk berhenti di depan UGD aku hampir tidak bisa berfungsi. Aku merasa dia mengangkatku keluar dari mobil, tahu bahwa dia praktis berlari dengan aku dalam pelukannya. Aku merasa dadanya bergemuruh ketika dia berteriak, tetapi tidak bisa cukup fokus untuk memahami apa yang dia katakan.

Rasa dingin tempat tidur dipunggungku cukup membangkitkanku untuk membuka mataku untuk sesaat. Aku melihat lampu terang, bau antiseptik.

"Dehidrasi berat." Suara seorang pria mengatakan.

"Sudah berapa lama muntah-muntah?"

"Tidak tahu." Hyunjoong terdengar stress.

"Tunggu disini." Suara itu memerintahkan. Aku merasa diriku mengambang, berasumsi itu adalah tim medis mendorong tempat tidur untuk menjauh. Jarum disuntikkan ke lenganku, tetapi aku tidak mempunyai energi sangat banyak untuk merintih.

"Jaejoong?"

Suara itu memanggilku dengan nada memerintah.

"Kami memberimu cairan."

Ada jarum lain di lenganku.

"Hanya mengambil sedikit darah, sayang." Suara seorang perempuan kali ini. lembut dan ramah. Aku tidak pernah berhubungan dengan wanita lain yang sangat baik padaku. Aku yakin bahwa jika aku memiliki cadangan air aku akan menangis.

Pria dengan suara berwibawa meletakkan tangannya di pergelangan tanganku. Dia memegang disana beberapa menit lamanya. Tak berapa lama kemudian cairan yang mereka pompakan ke aku mulai menghidupkanku kembali. Perlahan-lahan aku mengerjapkan membuka mataku.

"Aku benci dokter." Bisikku.

Dokter, seorang pria berwajah tampan dengan rambut hitam pendek dan mata coklat yang besar menyeringai ke arahku.

"Sayang sekali. Aku sebenarnya seorang pria yang lumayan."

Meskipun begitu mengerikan perasaanku saat ini, aku merasakan senyuman menggoda di bibirku.

"Aku memegang kata-katamu itu."

Dokter melepaskan tanganku.

"Kau sangat sakit, wanita muda. Berapa lama kau telah muntah-muntah?"

Pikiranku masih berkabut, tetapi aku mencoba untuk menentukan berapa lama itu terjadi.

"Sebulan, aku fikir."

Mata dokter itu melebar.

"Apakah kau pernah menemui seorang dokter sebelumnya?" Aku menggelengkan kepala dan melihat dia menggelengkan kepalanya yang lucu dengan putus asa.

"Tidak heran kau begitu dehidrasi. Apakah kau bisa makan sama sekali? "

"Tidak terlalu."

"Bagaimana dengan minuman? Air, Gatorade?" Aku menggelengkan kepalaku lagi. Dia menghela nafas.

"Kau benar-benar benci dokter, ya? Jika kau sesakit ini dan menolak untuk mencari bantuan. Ini adalah hal yang sangat bagus pacarmu membawamu masuk saat dia menyadarinya. Terlambat sedikit saja dan kau bisa meninggal karena dehidrasi."

"Pacar?" Siapa pacarku? Apakah dokter ini gila? Jika para priaku tahu bahwa aku mempunyai pacar mereka akan mengamuk. Seorang pria harus memiliki lebih banyak keberanian daripada otak jika dia berfikir ada anggota dari DBSK yang akan membiarkan mereka dekat denganku. Kadang kau akan berfikir jika aku berumur enam belas dan bukan dua puluh satu dengan cara perlakukan mereka jika ada pria lain yang memandangku dua kali.

"Pria tampan dengan tato." Dia mengangguk di atas kepalanya dan aku melihat Hyunjoong berdiri di pintu, mencoba untuk mengintip. Teleponnya ada di telinganya dan dia mengerutkan dahinya. Sebuah senyum lagi menggoda mulutku.

"Hyunjoong, bukan pacarku. Para priaku akan mematahkan kakinya jika mereka berfikir dia pacarku."

"Para priamu?" dokter memiringkan alisnya.

"Jangan dipikirkan." Gumamku. Sangat sulit untuk menjelaskan tentang para priaku dan aku tidak mempunyai energi bahkan untuk mencoba menjelaskannya. Mataku terasa berat.

"Cepatlah dan buat aku lebih baik jadi aku bisa kembali ke hotel. Aku ingin pergi tidur."

Kau tidak akan kemana-mana setidaknya sampai besok, Jae. Kami harus melakukan beberapa tes, memasukkan lebih banyak lagi cairan ke dalam tubuhmu –dan mungkin sangat banyak- kau akan bisa pulang di pagi hari. Sampai saat itu biarkan aku mengambil darahmu lagi dan menemukan sebuah kamar untukmu."

Kepalaku tersentak. "Tetapi aku sudah pesan pesawat untuk membawaku ke Pulau Jeju di pagi hari. Aku akan pergi berlibur."

Sekali lagi dengan alis terangkat terkutuk itu. "Kelihatannya kau akan sangat terlambat untuk berlibur, sayang. Sekarang santailah. Monitor jantungmu akan gila." Saat itulah aku merasakan bantalan lengket menempel ke dadaku dan menyadari suara bip bip yang konstan berbunyi.

Hyunjoong masuk kembali ke dalam ruangan.

"Aku tidak mendapat jawaban dari siapapun dari telepon sialan mereka." Dia menggeram.

"Konser sialan itu harusnya sudah selesai."

Aku tertawa kecut. "Kau seorang bintang rock Hyunjoong. Apa hal pertama yang ingin kau lakukan ketika kau turun panggung, mabuk dalam egomu sendiri?" Ekspresi di wajahnya menjelaskan padaku itu adalah jawabannya.

"Jangan khawatirkan itu. Mereka akan kembali ke hotel dan menikmati malam gila mereka. Ketika mereka bangun di siang hari dan bertanya-tanya mengapa aku tidak datang untuk menyeret pantat mereka dari tempat tidur, mereka akan datang mencariku."

Matanya menggelap karena marah. "Jadi kau hanya menjadi yang kedua?"

Aku mengangkat bahuku. "Setelah konser, biasanya." Itu tidak menggangguku... terlalu. Tapi aku tidak akan mengeluh. Aku tahu bahwa mereka mencintaiku. Aku melirik ke dokter.

"Bagaimana hasil pemeriksaan tes tersebut?"

Dokter melirik ke Hyunjoong. "Apakah dia selalu ingin menang sendiri?"

Hyunjoong mendengus.

"Jika anda tahu orang-orang yang harus dia urus setiap hari Anda akan mengerti bahwa Anda mendapatkan versi yang baik dari tukang perintah."

Dokter sangat lama!

Dengan cairan yang terus bergerak masuk ke sistem tubuhku, aku mulai merasa lebih baik daripada yang telah aku rasakan dalam waktu yang lama. Tapi perutku masih terasa bergulung. Aku ingin tahu apa yang membuat dokter begitu lama, dan khawatir bahwa hal ini adalah sesuatu yang melampaui imajinasi terliarku tentang apa yang salah denganku.

Hyunjoong masih mencoba untuk menelepon para priaku. Tapi sejauh ini belum mampu menjangkau salah satu dari mereka. Seorang perawat telah mengatakan kepadanya bahwa dia harus pergi ke luar untuk menggunakan ponsel, dan aku belum melihat dia lagi lebih dari sepuluh menit. Pantatku mati rasa sejak duduk terus selama satu jam tanpa bergerak dan meskipun aku sangat ingin tidur, aku tidak bisa membawa diriku cukup santai untuk melakukannya.

Pintu ke ruang pemeriksaanku dibuka dan masuklah dokter. Ada seorang teknisi di belakangnya mendorong sebuah mesin besar dan aku bertanya-tanya apa sih yang akan mereka lakukan padaku. Melihat ketakutan di mataku dokter dengan cepat menjelaskan.

"Tidak apa-apa. Ini hanya mesin untuk melakukan USG."

"Mengapa aku membutuhkan USG? Bukankah itu bagi wanita hamil?"

Dokter mengangguk.

"Sebagian besar, ya. Tapi ini juga digunakan untuk hal-hal lain. Namun, setelah mendapatkan hasil pemeriksaan darah kami telah menemukan alasan untuk penyakit Anda dan dibutuhkan sedikit eksplorasi."

Darahku tampaknya membeku di pembuluh darahku. Dia tahu apa yang salah denganku. Aku takut jawabannya tapi perlu tahu.

"Jadi apa yang terjadi? Apa yang salah denganku?"

Dia mengangkat bahu.

"Tidak ada yang tidak akan jelas dengan sendirinya sampai pada waktunya." Dia tersenyum.

"Tampaknya bahwa Anda sedang hamil."

Aku yakin bahwa aku berhalusinasi. Dia tidak bisa hanya mengatakan bahwa aku hamil. Tidak tidak TIDAK! Aku menggeleng panik.

"Hal itu tidak bisa terjadi. Periksa lagi. Tes-tes tersebut salah."

Dokter mengerutkan dahi melihat reaksiku tapi dia berbicara dengan suara menenangkan.

"Mari kita lakukan USG. Dengan begitu kita dapat menentukan apakah hasil pemeriksaan darah yang salah. Dan jika itu tidak salah kita bisa memberikanmu waktu kelahirannya."

Monitor jantung yang melekat pada dadaku mengamuk. Jantungku berlomba dengan rasa ngeri, ketakutan, khawatir. Ini seharusnya salah. harus. Tolonglah, biarkan ini salah. Karena jika itu tidak salah hidupku dengan para priaku akan hancur. Mereka tidak akan pernah percaya padaku lagi.

"Oke." Suaraku keluar dengan goyah, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa tentang ini.

Tekhnisi bergerak ke sisi kanan tempat tidur dan tersenyum ke arahku sementara dokter meredupkan lampu.

"Kapan periode terakhirmu, sayang?" Tanya dia lembut.

Dia cantik, mungkin di usia akhir tiga puluhannya. Ada sebuah cincin berbatu besar di jari manisnya dan sedikit benjolan kecil dibalik seragam perawat mengatakan bahwa dia juga hamil.

Aku mencoba mengingat kapan periode terakhirku. Aku bukan perempuan yang paling teratur. Dan aku tidak benar-benar peduli untuk mengingatnya. Hidupku begitu sibuk sehingga ketika haidku muncul aku hanya mengangkat bahu dan melanjutkan hidupku. Jika tidak itu bukan masalah besar. Akhirnya aku menyerah.

"Aku tidak pernah teratur." Kataku jujur.

"Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku mengalaminya."

Dia mengangguk.

"Tidak apa-apa."

Dia mengetik sesuatu ke dalam mesin besar itu dan kemudian dia menarik bajuku dan menarik celana jins dan celana dalamku turun sedikit. Dia menuangkan gel di perutku yang secara mengejutkan terasa hangat. Lalu ia menekan sebuah tongkat ke perut bawahku dan aku meringis kesakitan. Aku merasa kembung dan tidak nyaman saat ia menggerakkan tongkat itu.

Aku menatapnya dari dekat, mengalihkan pandanganku dari apa yang dia lakukan pada tubuhku kepada apa yang dia lakukan di layar. Dokter mengawasinya lewat bahunya, mengangguk.

"Oke." Kata teknisi dengan senyum kecil.

"Kita bisa melihat detak jantung. Lengan, kaki. Tulang belakang terlihat baik"

Dia memutar sebuah nob dan suara berderap memenuhi ruangan.

"Detak jantung yang kuat…bagaimana menurut Anda dokter?"

"Sepertinya dia berumur tepat delapan belas minggu...Bisakah Anda memberitahu jenis kelaminnya?"

Aku berhenti mendengarkan mereka sejenak. Tatapanku terperangkap di layar. Garis besar dari makhluk kecil itu menatapku. Sebuah tangan melambai, kaki menendang. Napasku terperangkap dalam dadaku dan aku tidak bisa bernapas. Di suatu tempat jauh di dalam dadaku hatiku meleleh dan aku jatuh jungkir balik pada cinta dengan makhluk di layar.

"Well..." Dokter dan teknisi terkekeh.

Kepalaku tersentak ke arah mereka.

"Apa?" Bisikku.

"Bayi Anda ingin memastikan bahwa Anda tahu persis apa jenis kelaminnya." Dokter menyenyuh layar dan saya melihat bahwa dua kaki yang terbuka lebar.

"Selamat. Anda memiliki seorang anak perempuan."

Air mata membakar mataku dan aku berkedip cepat untuk menahannya.

"Seorang anak perempuan." Aku menarik napas.

Si Teknisi mengambil beberapa gambar lagi, kemudian mencetak selembar dan menyerahkannya kepadaku.

"Untuk buku bayi Anda. Gambar pertama bayimu." Dia tersenyum dan meninggalkan ruangan tanpa mesinnya.

"Yah Anda memang hamil, Jae." Dokter, yang aku yakini telah mengatakan kepadaku namanya, tapi aku telah lupa untuk mengingatnya, memberiku tatapan bertanya.

"Delapan belas minggu dan tiga hari dari pengukuran. Itu menunjukkan tanggal kelahirannya pada tanggal enam November." Dia menuliskan sesuatu di iPad dia di tangannya.

"Apakah dia baik-baik saja?" Aku tidak bisa tidak berpikir tentang bagaimana sakitnya aku selama satu bulan terakhir.

"Apakah aku menyakitinya?"

Dia cepat meyakinkanku.

"Tidak. Cairan ketubannya sempurna, sehingga dehidrasimu tidak mempengaruhi si bayi. Ini mungkin saja alasan kenapa kau begitu sakit. Segala sesuatu yang kau mampu makan akan langsung masuk kepadanya. Detak jantungnya bagus, dia bergerak...kau tidak merasakannya?"

Tanganku menyentuh perutku lebih rendah. Ada makhluk hidup kecil dalam diriku. Sebuah air mata lolos dan turun ke pipiku.

"Tidak" bisikku.

"Apakah itu normal?"

Dokter mengangkat bahu.

"Setiap wanita berbeda. Beberapa tidak merasakan bayinya hingga memasuki bulan kelima. Kehamilan kedua kalinya biasanya ibu merasakan lebih cepat. Anda tampaknya sesuai jadwal...Jadi bagaimana perasaanmu secara emosional tentang bayi. Reaksimu ketika Saya katakan tentang hasil pemeriksaan darah tidak benar-benar..."

Aku menggeleng.

"Aku takut. Masih ketakutan aku tidak tahu apakah ini mimpi buruk atau tidak. Tapi melihat dia..." Aku mencengkeram foto USG di dadaku.

"Itu mengubah segalanya."

"Itu secara normal terjadi." Dia menarik kursi dan duduk di sampingku.

"Oke. Jadi kita telah menetapkan bahwa ini adalah kejutan, tapi sekarang bahwa kau telah melihatnya kau...bahagia?"

Aku mendengus.

"Aku tidak senang tentang hal ini, dokter. Tapi..."

Aku menarik napas dalam-dalam.

"Tapi bukannya aku tak bahagia tentang hal itu. Jika itu masuk akal."

"Masuk akal." Dia mengetuk sesuatu ke iPad.

"Mengapa ini seperti kejutan, Jae? Kamu tidak punya pacar?"

"Ini adalah kejutan karena aku telah melakukan hubungan seks total hanya sekali dalam hidupku." Jawabku jujur.

"Dan orang itu...Dia bahkan tidak ingat hal itu terjadi. Ketika aku mengatakan kepadanya bahwa aku hamil." Aku menutup mataku.

"Dia akan menjadi gila."

"Apakah dia masih menjadi bagian dari kehidupanmu?"

"Dia bagian dari segalanya bagiku." Aku memandang dinding seberang.

"Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan."

Dokter membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, aku tidak tahu apa itu karena tiba-tiba pintu pemeriksaan itu terdorong terbuka dan menyerbu kedalam keempat priaku. Sebelum aku bahkan bisa meresapi kabar kehamilanku, Changmin telah berada di sampingku dan Junsu membuat dokter menyingkir keluar dari jalannya untuk sampai kepadaku.

"Joongie." Changmin menjalankan tangannya di atas rambutku, melihat tanganku yang terinfus dan monitor jantung. Dia pucat, gemetar, dan ada air mata di mata besar coklatnya.

"Apakah kau baik-baik saja? Katakan padaku kau baik-baik saja, Jae."

"Kami datang segera setelah kami mendengar." Junsu menggenggam tanganku.

"Aku minta maaf kami tidak tiba di sini lebih cepat."

"Apa yang salah dengan dia?" Yunho berdiri di kaki tempat tidur, perhatiannya pada dokter yang menatap mereka berempat dengan mulut menganga terbuka.

"Apakah dia akan baik-baik saja?"

Dokter akhirnya menjatuhkan tatapannya dan mengangkat alis dalam penyelidikan. Aku menggeleng, tidak siap untuk memberitahu salah satu dari mereka apa yang salah denganku, apalagi salah satu dari mereka akan segera dipanggil ayah. Pria itu berdehem.

"Dia datang menderita dehidrasi parah. Kami tidak tahu persis apa yang sedang terjadi, tapi kami akan tetap mengawasinya semalaman untuk observasi."

Changmin mengalihkan pandangannya pada dokter dan aku merasa kasihan padanya. Changmin, dengan tubuh tinggi, tato dan ototyang bersarang di tubuhnya sangat menakutkan.

"Kau tidak tahu apa yang salah dengan dia?" Dokter menggelengkan kepalanya.

"Pergi bawa pantatmu dan lakukanlah beberapa tes sialan."

"Minnie." Aku menangkap tangannya dan mengaitkan jari-jari kami bersama-sama.

"Tenang. Dokter melakukan semua yang ia bisa. Dan aku sudah merasa jauh lebih baik."

Api di matanya redup ketika ia berbalik kembali kepadaku.

"Aku hanya ingin tahu apa yang salah." Katanya kepadaku dalam nada yang lebih lembut daripada apa yang telah digunakannya kepada dokter.

"Kami menyiapkan tempat tidurnya sekarang dan dia akan segera dipindahkan. Saya menyarankan agar Anda sekalian pergi beristirahat dan Anda dapat melihat wanita muda ini pertama di pagi hari. Sekarang dia membutuhkan istirahat."

Empat pasang mata berpaling untuk memelototi dokter yang malang.

"Kami tidak akan pergi." Mereka semua mengatakan hal yang sama.

"Jaejoongie adalah milik kami. Kami tinggal dengan dia."

Yoochun memberitahunya.

Dokter pergi, kesal dan menggerutu pelan. Tapi aku merasa dihargai. Terutama ketika Junsu dan Changmin dengan lembut meremasku diantara kedua tubuh mereka dalam pelukan.

"Aku sangat takut." Changmin berbisik di rambutku.

"Ya Tuhan, Jae! Kamu seharusnya mengunjungi dokter sebelum sekarang."

Aku mencengkeram erat padanya.

"Tidak apa-apa. Aku baik-baik sekarang."

"Ini bukan tidak apa-apa!"

Kepalaku terangkat mendengar nada berapi-api Yunho. Dia biasanya seorang yang tenang. Salah satu yang tetap tenang ketika tiga lainnya sudah siap untuk merobek suatu hal menjadi terpisah. Tapi saat aku melihat ia mendorong kursi dokter begitu keras hingga meluncur sepanjang ruangan dan jatuh ke samping ketika menabrak dinding. Jari-jarinya menyapu rambut cokelat tebalnya dan menarik ujung seperti orang gila.

"Hyunjoong bilang kau tidak sadar ketika ia pertama kali kau di sini! Jaejoong tidak sadarkan diri! Apakah kau tidak mengerti seberapa serius ini? Tidakkah menyelinap dalam perhatianmu bahwa orang terbunuh karena dehidrasi!" Dia berpaling dari kami dan benar-benar meninju dinding.

Hatiku sedikit hancur karena kemarahannya. Selama beberapa menit kami semua diam, sementara Yunho bersandar di dinding yang baru saja ditinjunya, terengah-engah. Yoochun mencoba untuk tetap tenang, dengan pelan menjalankan jari-jarinya melalui ujung rambutku, menggosok punggungku. Changmin hanya berdiri di sana, memegang tanganku. Junsu mondar-mandir, seperti biasa saat dia tertekan.

"Yun..." aku membisikkan namanya, tak mampu menjangkau jarak diantara kami sekarang. Aku tidak bisa pergi kepadanya, selang infus dan monitor jantung telah menjebakku di tempat tidur. Tapi aku butuh dia untuk memelukku lebih daripada orang lain.

Dia mengembuskan napas panjang dan berbalik menghadapku. Tangannya menggosok pipinya, menyatakan padaku bahwa ia telah menangis. Saat itulah aku melihat darah di buku-buku jarinya. Jarinya tergores.

"Yun." Aku menjauh dari Changmin dan Junsu dan membuka kedua tanganku untuk dia, diam-diam memintanya untuk datang kepadaku.

Yoochun menyingkir dari jalan Yunho saat dia menyeberang kepadaku. Dia duduk di tepi tempat tidur dan aku membungkuskan diriku di sekeliling tubuhnya. Lenganku melilit lehernya dan dia menarik kepalanya ke dadaku.

"Aku baik-baik saja." Bisikku ke telinganya dan ia gemetar.

"Aku di sini."

Lengan yang kuat mengencang di sekitarku hampir menyakitkan.

"Maafkan aku Joongie. Aku sangat menyesal "Aku tidak mengatakan apa-apa, hanya menggoyang tubuhnya sementara dia menangis.

Cahaya temaram di saring melalui jendela dengan tirai plastik. Aku mengerang pada gangguan untuk tidurku dan berbalik memunggungi jendela, tak ada yang aku inginkan selain tidur kembali. Rasa sakit dilenganku karena aku bergerak membuatku membuka mata lagi. Aku tidak bisa menggerakkan lengan ku karena selang IV (infus) ku tidak akan mengizinkannya. Peristiwa malam sebelumnya datang kembali ke dalam pikiran berkabut tidurku dan tanpa berpikir tanganku menutupi perut bawahku. Bayi perempuanku berada di sana.

Dengkuran dalam di sekitar ruangan membuatku mengangkat kepala. Staf keperawatan telah di buat jengkel dan senang oleh penjagaku ketika aku dimasukkan ke dalam kamar pribadi malam sebelumnya. Beberapa dari mereka adalah fans DBSK dan yang lainnya hanya kagum karna ada roker di gedung yang sama dengan mereka.

Kursi dibawakan tanpa harus meminta, bersama dengan bantal dan selimut. Sekarang para pria ku tersebar di seluruh ruang tidur seperti orang mati. Dengan senyum bahagia di bibir aku meraih tangan yang berbaring paling dekat denganku sendiri di tempat tidur. Changmin benar-benar tersentak ketika aku menyentuhnya.

"Joongie?"

"Aku masih disini." Aku meyakinkannya.

Dia menggosokkan tangan pada wajahnya. "Aku butuh kopi."

"Kita berdua membutuhkannya." Yunho bergumam dari kursinya berjalan ke sisi kananku. Dia menggeliatkan lehernya ke kiri dan kanan, berusaha untuk memelemaskannya.

"Aku akan pergi mencari opi untuk kita."

Dia berdiri dan mendaratkan sebuah ciuman di kening ku.

"Butuh sesuatu, baby girl?"

"Sesuatu yang dingin dan rasa jeruk?" mulutku terasa lengket.

"Kau mendapatkanya." Dia berjanji dan menciumku lagi.

Aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya sampai dia tak terlihat. Changmin menggelengkan kepalanya.

"Bodoh." Dia bergumam sambil bernapas.

"Diam, Min." Terkutuk dia karena melihat semuanya!

"Hanya mengungkapkan kebenaran, Jae." Dia berdiri, mengeretakan leher dan punggungnya sampai ia mampu bergerak dengan mudah.

"Wow, kau terlihat lebih baik. Aku belum melihat warna di pipimu selama seminggu ini."

Junsu dan Yoochun sudah bangun ketika Yunho kembali dengan kopi dan minuman dingin untukku. Rasa lemon soda jeruk itu seperti surga untuk indra pengecapku dan aku meneguk setengahnya sebelum berhenti dan bersendawa. Para priaku menertawakanku karena aku bisa bersendawa lebih baik dari mereka semua.

Seorang perawat dengan rambut abu-abu pendek masuk tanpa mengetuk. Sebuah papan klip di satu tangan dan sebuah mesin kecil di tarik bersama dibelakangnya dengan tangan yang lain. Dia menggelengkan kepalanya kepada para priaku, dan memutar jalannya melalui mereka untuk sampai padaku.

"Kau keliahatannya sudah boleh pulang, Nona Kim."

Aku mendesah lega. "Terima kasih Tuhan."

"Biarkan aku memeriksa tekanan darah dan suhu tubuhmu, sayang."

Dia meletakkan sebuah manset pada lengan ku yang tanpa IV (infus) dan termometer di bawah lidahku. Sambil menunggu untuk mencatat tanda-tanda vital dia melirik kesekelilingnya.

"Kalian tak apa-apa melihat darah?"

"Ya, ma'am." Changmin meyakinkan perempuan itu.

"Tapi memangnya apa yang akan anda lakukan?"

"Saya harus mengambil selang infus di lengan Nona Kim. Jika Anda tidak bisa melihat darah maka saya sarankan Anda keluar sampai dia selesai dibalut."

Aku memandang cepat pada Junsu.

"Mungkin kau harus pergi untuk mendapatkan kopi lagi." usulku.

Dia tidak harus di suruh dua kali. Pria itu bisa melihat darahnya sendiri sepanjang hari, kecuali darah orang lain dan dia cenderung takut.

Perawat itu tertawa sambil menarik manset dari lengan ku, menulis beberapa hal di papan klip dan kemudian meraih lenganku yang berinfus. Benda itu dibalut dengan baik dan ketat dan aku tidak bisa menahan rengekkan selama perawat menarik perban lepas. Kemudian ia menggerakkan pelan-pelan jarum dari lenganku dan menambalku dengan perban kecil.

"Baiklah sayang, ini ada petunjuk dokter. Ikuti dengan dokter pribadimu minggu depan. Kembalilah jika kau merasa pusing lagi, tidak bisa menahan muntah, atau demammu parah."

Dia merobek lembaran atas kertas dan menyerahkannya bersama dengan sepotong kertas kecil.

"Dan resep untuk vitamin. Saranku minum itu sebelum tidur karna vitamin itu cenderung mengacaukan perut."

"Vitamin?" Changmin mengerutkan dahi. "Hanya itu? Hanya vitamin?"

"Tidak banyak yang bisa kita berikan padanya." Perawat itu mengatakan padanya sambil berputar ke arahnya.

"Kenapa tidak?" Yoochun menuntut, berdiri di sebelah pemain drum.

"Dia sangat menderita!"

"Guys…"

Perawat itu hanya tertawa dan aku mengerang, tahu hal ini akan jadi masalah besar.

"Seorang bayi tidak benar-benar memenuhi syarat sebagai penyakit yang serius, sayang."

"Apa…" Changmin.

"…Itu…" Yoochun.

"SIALAN!" Yunho.

"Jaejoong!?" Changmin lagi. Dia sudah disampingku seketika.

"Hal sialan apa yang dia bicarakan, seorang bayi?" Matanya terbakar dengan kemarahan bingung.

Aku menghela napas dan menyibak rambut dari wajahku, mengetahui bahwa aku harus menghadapi ini. Aku ingin mengatakannya secara perlahan pada mereka. Tapi, terima kasih pada perawat itu, aku harus melakukannya sekarang. Aku belum siap untuk ini! Aku belum siap untuk mengatakan apapun pada mereka.

Tentu saja mereka ingin tahu semuanya.

"Aku hamil."

Akhirnya aku memberitahukan padanya dan melihat mata gelapnya melebar. Hidungnya mengembang dan aku teringat pada banteng yang mengamuk. Hebat! Aku membelalak pada perawat itu. Wanita itu bergumam permisi dan pergi keluar. Ya, kemudian mudah untuk menentukan siapa orang yang paling tidak aku sukai di dunia ini.

"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?" Yoochun menuntut.

Walaupun situasi sangat serius aku benar-benar tertawa padanya.

"Maksudmu kau tidak tahu caranya, Yoochun?"

Dia memberikan tatapan yang meremukkan padaku dan aku kehilangan senyumanku.

"Jangan coba melucu, Jae. Kau tahu apa yang sebenarnya kumaksud."

"Tentang apa semua teriakan-teriakan itu?" Junsu menuntut, berjalan kembali kedalam ruangan.

"Jaejoong hamil." Changmin membentak.

"Bagaimana mungkin?" dia menuntut, melihat kearahku dengan terkejut. Ya, kau bisa mengatakan siapa saudara biologis di band ini.

"Siapa?"

Mataku memusatkan perhatian pada Yunho dan pertanyaan yang diucapkanya dengan pelan

"Apa?"

Mata dinginnya itu yang selalu bisa melihat kedalam relung jiwaku sekarang terbakar.

"Siapa, Jae? Siapa ayahnya?"

Dan dia memandang lurus pada Changmin. "Atau apakah aku sudah tahu."

"Apa?" Aku tak percaya bahwa dia berpik itu Changmin…

"Apa maksudmu, Yun!" Changmin marah pada temannya.

"Kau pikir aku akan..? Apa kau sudah gila? Dia mungkin seksi, tapi aku tak pernah menyentuhnya! Dia seperti saudara bagiku."

"Aku tak percaya padamu." Suara Yunho sedingin es dan aku tahu saat itu juga bahwa ia lebih dari marah. Yunho hanya akan sangat dingin ketika ia benar-benar marah. Aku tidak yakin bagaimana atau bahkan kenapa dia sangat marah. Para pria lainnya marah, pasti. Tapi tidak seperti Yunho.

"Aku melihat cara kau menatapnya. Aku lihat bagaimana dia selalu menempel padamu."

"Yun…" Aku hancur ketika dia menatap kembali padaku. Untuk sesaat aku tak mampu bernapas selama aku mendapatkan kegusaran di mata indahnya. Dia tak pernah melihat ku seperti itu sebelumnya.

"Yun, bukan Changmin ayahnya."

"Lalu siapa, Jae?" Dia melintasi ruangan dengan sangat cepat. Dia menyandarkan tangannya di tempat tidur kedua sisiku dan mendorong wajahnya sangat dekat bahkan aku bisa merasakan kopi di napasnya.

"Siapa yang menyentuh mu?!"

Aku tak bisa berkata-kata. Tak bisa membentuk kata-kata yang dia inginkan untuk aku katakan. Bagaimana bisa aku mengatakan padanya ketika dia berpikiran seperti itu? Kenapa dia menuduh seperti itu? Laki-laki ini yang telah menyaksikan seluruh kehidupanku, yang telah menyanyikan lagu tidurku, yang telah mencintaiku seperti saudara, dan memperlakukanku seolah aku ini istimewa... Dia terlihat seperti benci padaku sekarang dan aku tak mengerti itu.

Yoochun mendorongnya kembali.

"Hentikan, Yun. Tak bisakah kau melihat bahwa dia takut padamu sekarang?"

"Cukup katakan siapa!"

"Kenapa?" Aku berteriak. "Kenapa kau sangat ingin tahu?"

"Supaya aku bisa membunuhnya!" Dia berteriak.

Air mataku mengalir. "Ada apa denganmu, Yun? Kenapa kau bersikap seperti ini?"

"Hyunjoong? Dia mendekatimu beberapa bulan yang lalu. Apakah dia? Aku melihatnya malam kemarin dan tangannya selalu menyentuh mu."

Dia berjuang membebaskan dirinya dari Yoochun dan aku takut jika Yoochun tak mampu menahannya dia akan memukulku.

"Apakah dia!?"

"Bukan!"

"Siapa!"

Changmin memposisikan dirinya antara aku dan Yunho, tapi dia memutar kearahku dan menggenggam tanganku.

"Katakan padanya, Jae. Katakan padanya supaya dia bisa tenang."

"Aku…" Aku menggeleng. Jika aku katakan yang sebenarnya maka aku harus mengatakan tentang itu juga. Aku tak bisa bersembunyi lagi. Aku akan sangat malu.

"Seseorang dalam ruangan ini?" Yunho bertanya. "Benar?"

"Ya." Aku berbisik dan kepala Changmin tersentak seolah-olah aku menamparnya. Matanya bertemu dengan mataku dan aku tahu bahwa dia tahu jadi aku mengalihkan pandangan ke tempat tidur.

Yuno mendengar ku. Seperti dia memiliki pendengaran supersonic karna aku bahkan tak mendengar suaraku sendiri.

"Siapa, Jae? Katakan padaku siapa."

Apakah suaranya benar-benar pecah?

Aku menelan dengan kuat dan mengerjapkan air mataku, tapi itu tak mampu untuk mencegahnya.

"Yunho…"

"SIAPA!"

"KAU!"

Mian untuk typonya.. hehe

Kemaren no edit sih.. saya cuapek banget..

Mudah-mudahan sekarang ga ada typo lagi..

Terimakasih yang udah like dan mendukung ff ini.. lebih terimakasih buat yang udah tinggalin tanda di ff sebelumnya.

Gomawo #DeepBow