Chapter sebelumnya;

"ARGGHHH!" penjaga sekolah itu berteriak kesakitan saat kuku-kuku sosok pucat itu menembus kulit wajahnya. "T-TOLONG HENTIKAN! A-AKU TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN KASUS INI. T-TOLONG HENTIKAN KUMOHON, AKHH!"

Sosok itu semakin memperdalam tancapan kukunya. Ekspresinya datar, tidak peduli dengan alasan yang diberikan oleh penjaga sekolah itu.

"K-KUMOHON. LEPASKAN AKU! LEPASKAN AKU, [ XXXXXXXXX ]!"

SLASH!

"AKH! SAKIT!"

SHERRRRR.

JLEB!

"A-AKKH! HHHHH….KKKKK….KHHHH…."

BRUK.

Sosok pucat itu menarik kulit wajah penjaga sekolah, membuat isi wajahnya terlihat semua. Sangat mengerikan. Ditambah darah yang memuncrat saat kulit wajahnya ditarik paksa. Tidak hanya itu, sosok pucat itu menusuk dada penjaga sekolah dengan tangannya sendiri, mengambil jantung yang berdenyut sangat cepat di dalam sana. Setelah jantung itu berhasil di dapatnya, sosok pucat itu melemparkan jantung itu pada sosok pucat lainnya yang tengah memakan tulang-tulang dari korban sebelumnya.

Sosok pucat lainnya ( sosok itu memiliki rambut panjang menutupi sebelah matanya, mulut robek dari telinga kanan ke telinga kiri, serta bagian perutnya hanya terlihat isi perut ) dengan cepat menyambar jantung yang dilemparkan sosok pucat yang membunuh penjaga sekolah. Setelah itu, sosok pucat itu pergi meninggalkan toilet dan membiarkan sosok pucat lainnya di dalam sana.


Menyebalkan. Aku tidak suka diganggu.

©Characters; Masashi Kishimoto
©Story; coldheather

Keesokan paginya. Sekolah menengah atas Tokyo kembali dipenuhi oleh puluhan polisi dan beberapa ambulans. Naruto yang baru datang melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru sekolah, mencari teman-temannya.

'Ada apa ini? Apa terjadi pembunuhan lagi?' batin Naruto dalam hati.

Naruto memasukki lobi sekolah. Sangat ramai disana. Isak tangis, jeritan histeris, wajah-wajah pucat mewarnai keramaian itu. Naruto masih melemparkan pandangannya untuk mencari teman-temannya, sembari berjalan mengikuti arah pandang murid-murid di sekolahnya itu.

Pandangan para murid membawanya menuju lantai lima. Naruto berdiri di ujung tangga. Dia menatap ke arah toilet perempuan, dimana banyak polisi berkumpul memberikan garis kuning mereka. Tak jauh dari lokasi kejadian, Naruto melihat salah satu polisi sedang berbincang dengan rekan satu klubnya, Temari. Mereka berdua tampak serius. Temari terlihat seperti mengelak sesuatu.

'Kenapa polisi itu bertanya pada Temari senpai, ya?' pikir Naruto bingung. 'Memangnya siapa yang meninggal?'

"Tidak mungkin! Aku masih punya pesannya!" pekik seorang gadis histeris.

Naruto yang mendengar suara yang tak asing baginya itu menoleh ke arah sumber suara. 'Matsuri!' seru Naruto dalam hati.

Naruto berjalan mendekati Matsuri yang juga sedang berbincang dengan 2 orang polisi.

"Kami menemukan kartu pelajarnya. Dan gadis itu memang dia." ucap polisi itu meyakinkan Matsuri.

Matsuri menggeleng cepat. "Senpai sudah pulang! Tidak mungkin dia yang dibunuh! Bisa saja gadis itu meminjam kartu pelajar senpai dan lupa mengembalikannya?!" Matsuri tetap protes.

"Itu tidak masuk akal, nona. Lagipula, untuk apa seseorang meminjam kartu pelajar orang lain?"

"Tsk!" Matsuri mengerang. Air matanya semakin deras. Dia mengeluarkan ponselnya lalu mencari foto yang bisa dia gunakan untuk menepis polisi-polisi itu. "Ini. Lihatlah! Senpai bilang dia sudah pulang lengkap dengan fotonya, kh! I-itu berarti Karin senpai tidak mati! Bukan dia yang dibunuh!" pekik Matsuri, mengerang tidak terima.

'Karin?!' Naruto terkejut. Langkah kakinya pun terhenti. 'Karin dibunuh?' Naruto mengedipkan matanya beberapa kali. 'Tapi, kenapa?'

Kedua polisi itu mengamati foto yang ditunjukkan Matsuri. Sekilas tampak normal. Tapi lama-kelamaan, foto itu semakin mengerikan. Terlebih…

"Taichou! Kami menemukan petunjuk!" seru salah satu polisi itu sambil berlari ke arah ketua polisi. Ponsel Matsuri masih dibawanya.

"Kami menemukan kepalanya!"

DEG!

'K-k-k-k-kepala?!' Naruto menatap 2 polisi yang tengah berlari itu dengan tatapan horor. Dia tidak habis pikir. Pembunuh Karin memisahkan tubuhnya dengan kepalanya lalu mengambil kepalanya untuk diletakkan di tempat lain? Gila! Siapa pun yang melakukan ini benar-benar gila! Benar-benar bukan seorang manusia!

Hawa dingin yang secara tiba-tiba membuat Naruto bergidik. Dia mengusap tengkuknya, lalu menoleh ke belakang, mendapati Sasuke berdiri di pojokan dengan wajah datar tanpa ekspresi. Seketika tatapan mereka bertemu, dan Naruto pun memilih untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.


Keadaan sekolah lebih buruk dari hari sebelumnya. Sekolah menjadi lebih hening. Tidak ada yang bersuara. Mereka terlalu takut untuk bersuara, bahkan untuk berduka pun mereka takut. 2 Hari berturut-turut mereka kehilangan teman mereka. Dan selama 2 hari berturut-turut juga mereka harus menerima fakta jika sekolah mereka tidak aman lagi. Entah itu kasus bunuh diri, maupun pembunuhan.

Shikamaru menyilangkan tangannya. Kedua matanya terpejam. Nafasnya teratur, meski sebenarnya dia juga takut. Kiba menarik-narik rambutnya sendiri. Sakura memegang dahinya. Dia tampak stres. Shino hanya diam tak bersuara. Sedangkan Naruto, dia menidurkan kepalanya di atas tangannya.

"Belum selesai kita berduka karena Neji, sekarang kita berduka karena Karin." ucap Shikamaru, berusaha mencairkan suasana. "Kalau kasusnya seperti ini, apa masih bisa disebut bunuh diri?" sindirnya.

"Shikamaru, ini bukan saatnya untuk membicarakan itu." sanggah Naruto masih dalam posisinya.

"Aku tahu." ucap Shikamaru cepat. "Aku hanya belum bisa menerima semuanya ini."

"Tidak ada yang bisa menerimanya." Sakura ikut angkat suara. Kedua matanya sembab. "Neji mungkin saja bunuh diri. Tapi Karin tidak. Manusia macam apa yang bunuh diri dengan memenggal kepalanya sendiri?"

"Aku menyesal berdebat dengannya. Dia benar. Ada pembunuh keji di sekolah ini. Dan pembunuh itu membunuh Karin untuk membuktikan kalau apa yang dikatakan Karin memang benar." Kiba menyesal.

"Kalian tahu apa yang lebih menyeramkan daripada kematian Karin?" tanya Shino dengan nada serius, mendapat tatapan sedih bercampur kesal dari teman-temannya. "Fakta bahwa foto Karin yang ditunjukkan Matsuri kemarin adalah foto kepala Karin yang telah dipenggal oleh pembunuhnya. Dengan kata lain, Karin sudah mati saat foto itu dikirimkan."

Semua semakin bergidik ngeri. Mereka seharusnya menyadari itu. Senyuman yang dipaksakan di foto Karin, serta alasan foto itu dikirimkan. Seharusnya mereka sadar jika foto itu aneh. Tapi tidak bisa menyalahkan mereka juga. Foto itu diambil dengan posisi Karin yang berbaring dengan selimut yang mencapai lehernya, membuat tak seorang pun berpikir jika foto Karin di foto itu hanyalah kepalanya saja.

"Selain itu, tidak hanya Karin yang dibunuh. Paman penjaga sekolah juga." ucap Shikamaru lagi, mendapat tatapan kaget dari teman-temannya.

"A-apa?! Paman Kashiwagi juga?!" Naruto yang beralih dari posisinya memekik kaget.

Shikamaru hanya mengangguk mengiyakan.

"Tapi, aku tidak mendengar kabar itu."

"Para gadis itu menemukan mayatnya terlebih dahulu sebelum mayat Karin. Bahkan mereka tidak tahu jika ada mayat lainnya di dalam sana karena sudah takut duluan saat melihat mayat paman Kashiwagi." jelas Shikamaru.

"Dua mayat dalam satu hari? Tuhan! Pembunuh ini benar-benar maniak!" seru Sakura ketakutan. "Mulai besok aku tidak akan masuk. Aku akan diam di rumah untuk mencari aman!"

"Aku masih ragu." ucap Shikamaru.

"Ragu kenapa?" tanya Naruto.

"Aku ragu kalau ini adalah ulah manusia. Karena kudengar jantung paman Kashiwagi keluar dari rongga dadanya. Dan lubang di dadanya itu seperti ditembus oleh tangan kosong. Tidak masuk akal kalau seorang manusia bisa melakukan itu."

Glek.

"Ini.. Semakin mengerikan." Sakura meringis ngeri.

Shikamaru menatap Sakura datar sebelum melanjutkan informasinya. "Tidak hanya itu saja. Ada bekas gigitan pada tulang-tulang Karin dan juga jantung. Entah itu jantung milik Karin atau milik paman Kashiwagi. Lalu, wajah paman Kashiwagi.." Shikamaru menghentikan ucapannya. "Ugh, aku tidak mau melanjutkannya. Mengingatnya saja sudah membuatku ingin muntah."

"Jadi kau ingin bilang kalau pelakunya adalah hantu?" Naruto menaikkan nada suaranya.

"Aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak percaya hantu." jawab Shikamaru. "Tapi apa yang terjadi pada mereka berdua benar-benar tidak masuk akal."

"Tidak mungkin." Kiba menggeleng pelan. "Kau benar. Ini semua tidak masuk akal." dia meringis. "Aku takut kalau kita akan menjadi targetnya."

Sret.

Suara bangku belakang yang digeser. Sasuke meninggalkan bangkunya. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Dia melewati kumpulan 5 murid itu tanpa mengatakan satu patah kata pun. Kelima murid itu menatap Sasuke dengan tatapan tak mengerti. Mereka berlima sepakat jika hari itu Sasuke terlihat aneh. Sasuke memang terkenal sebagai laki-laki yang tidak banyak bicara dan cuek. Tapi saat ini, meski Sasuke tidak banyak bicara dan cuek seperti biasanya, entah kenapa mereka berlima merasa ada yang aneh. Ada yang berubah dari Sasuke. Seperti, dia menjadi lebih dingin. Sedangkah sehari sebelumnya dia masih sama seperti biasanya. Apa ini ada hubungannya dengan Neji? Apa Sasuke berubah setelah berkabung di hari sebelumnya?

"Sasuke, kau mau kema-"

Berpapasan dengan Sasuke, gadis berambut indigo itu memasukki kelas. Mereka berdua hanya saling melewati. Tidak ada sapaan saat mereka berjumpa. Terlihat sangat dingin.

"Hinata!" seru Kiba.

"Hinata kau kembali!" seru Sakura, merasa sedikit senang.

Hinata tersenyum kecil. Dia tampak sedikit ketakutan. Hinata melangkah menuju bangkunya yang berada 2 bangku dari bangku Sakura. Tidak hanya Sasuke, Hinata juga terlihat aneh. Dia lebih pendiam dari biasanya. Dan kulitnya, astaga! Pucat sekali!

"Hinata kau tidak apa-apa? Apa kau sudah benar-benar baikan?" tanya Sakura khawatir.

"Ah, ano.. Aku tidak apa-apa." jawab Hinata sambil menggeleng kecil. Dia memaksakan sebuah senyuman.

"Kalau kau masih belum baikan, kenapa memaksakan dirimu untuk masuk?" tanya Kiba perhatian.

"Aku tidak bisa lama-lama beristirahat. Aku takut ketinggalan pelajaran." jawab Hinata.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kemarin tidak ada pelajaran." ucap Shino. "Kenapa? Karena para guru sedang sibuk."

"Ah!" Hinata berdecak kaget. "T-tidak ada guru? Seharian?" kedua pupil amethystnya membulat.

Sakura menggeleng pelan. "Tidak ada, Hinata. Lagipula meskipun ada, kau tetap tidak perlu khawatir akan ketinggalan pelajaran. Kau bisa meminjam catatanku."

"Ah, umm.. Terimakasih, Sakura-chan." ucap Hinata, masih tersipu malu.

Sementara itu, Naruto mengamati Hinata dengan intens. Dia penasaran dengan keanehan pada gadis indigo itu. Apa Sasuke melakukan sesuatu padanya? Lalu, apa yang membuat Hinata datang ke sekolah meski kondisinya masih belum baik? Apa Sasuke yang memaksanya?

"Hey Naruto, Kiba, Shino." panggil Shikamaru setengah berbisik.

"Apa?" sahut Kiba.

"Aku pikir Hinata menyembunyikan sesuatu." ucap Shikamaru menyelidik. Sesekali dia melirik Hinata yang masih berbincang dengan Sakura.

"Kupikir juga begitu." sahut Kiba mengiyakan.

"Bukankah kemarin Sasuke berkabung?" tanya Shino mengingat-ingat pertemuan mereka dengan Sasuke.

"Hm." Shikamaru mengiyakan. "Apa kalian pikir ini ada hubungannya dengan Sasuke?"

"Kupikir begitu." jawab Kiba sambil mengangguk. "Tapi kita lupakan hal ini. Fokuslah pada kasus ini!"

"Ya. Kau benar." ucap Shikamaru sembari berpikir. Tiba-tiba saja dia teringat akan senpainya, Temari, yang sempat diintrogasi oleh polisi. Mungkin saja dia bisa mencari jawabannya dari gadis pirang berkuncir 4 itu.


Ruang 3 – A.

Shikamaru menunggu dengan sabar. Seorang gadis pirang berkuncir 4 keluar dari dalam ruangan. "Ada apa?" tanyanya dingin pada Shikamaru.

"Ada yang ingin kubicarakan." ucap Shikamaru.

"Kalau kau ingin membicarakan tentang Karin, lebih baik enyahlah dari hadapanku!" sentak Temari ketus. Dia sangat sensitif hari ini. Pastinya karena diintrogasi oleh polisi dan teman-teman di kelasnya menghindarinya. Menghindarinya untuk dengan alasan yang tidak masuk akal.

Shikamaru terkejut saat Temari menyentaknya. Dia bicara baik-baik tapi gadis pirang itu malah menyentaknya. Merepotkan.

"Aku peduli pada Karin." ucap Shikamaru, tak habis akal. "Aku ingin tahu kenapa dia dibunuh." tambahnya. "Dan di sekolah ini hanya kau yang mengetahuinya."

"Maksudmu, aku tahu kenapa dia dibunuh?" Temari memberikan tatapan mematikannya pada Shikamaru.

"Bukan, bukan. Bukan itu. Hahh, bagaimana menjelaskannya, ya? Merepotkan sekali." Shikamaru kembali berpikir.

Sementara Temari, dia tampak sedikit gelisah. Dia melirik ke belakangnya, memastikan jika orang itu tidak mengikutinya. Melihat kegelisahan Temari, Shikamaru mengambil inisiatif.

"Mau bicara di tempat yang sepi?" tawar Shikamaru.

"Huh? Apa maksudmu? Apa yang ingin kau lakukan?!" tanya Temari ketus.

"Hey, hey! Bukan itu yang kumaksud!" tepis Shikamaru.

"Lalu?"

"Aku hanya ingin kita berbicara berdua saja agar tidak ada murid lain yang mendengar." jelas Shikamaru.

Temari tampak berpikir. Lalu dia mengangguk setuju. "Baiklah. Atap sekolah." ucapnya sekalian memberikan tempat yang dituju.

Shikamaru mengangguk setuju. Kemudian mereka berdua berjalan menuju atap sekolah, dengan Temari yang sesekali melirik ke belakang, sadar jika dia ternyata diikuti.

"Sekarang, ceritakan." suruh Shikamaru setelah mereka berdua berada di atap sekolah.

Temari menyilangkan kedua tangannya. "Kenapa kau sangat ingin tahu?" tanya Temari ketus.

"Karena dia teman kami. Kami ingin tahu apa yang terjadi pada kalian berdua." jawab Shikamaru tenang.

"Bukan masalah yang besar." Temari masih ketus.

"Lalu, apa masalah kalian?"

"Sudah kubilang bukan masalah besar! Kenapa kau ini terus bertanya, huh?!"

"Hhhh.." Shikamaru menghela nafas. "Aku hanya ingin tahu siapa yang membunuh Karin."

"Kau sama saja dengan para polisi itu. Apa kau juga akan ikut menuduhku?" nada suara Temari meninggi. Dia tampak kesal.

"Apa? Tentu tidak!" tepis Shikamaru. "Aku yakin kau tidak membunuh Karin. Dan aku yakin kau salah paham dengan para polisi itu."

"Tidak." Temari menghela nafas panjang. Meski wajahnya masih ketus, tapi Shikamaru tahu kalau gadis di depannya itu sebenarnya menahan sedih. "Polisi itu menuduhku. Aku sudah memberitahu mereka semua yang kutahu tapi mereka masih meminta lebih. Mereka mencurigaiku dan sekarang setiap pergerakkanku selalu diawasi."

"Diawasi?" Shikamaru mengerutkan dahi. "Oleh siapa?"

"Semuanya."

"Huh? Maksudmu, semua orang mengawasimu sampai karena mereka pikir kau adalah pembunuhnya?"

Temari hanya mengangguk.

"Dan mereka mengawasimu sampai mereka mendapatkan bukti kalau kau adalah pembunuhnya?"

Temari kembali mengangguk.

Shikamaru menggigit bibirnya. Dia tidak percaya jika para polisi sampai mencurigai Temari sampai sejauh ini.

"Dan kau bisa saja dicurigai juga." ucap Temari dingin.

"Hmmm." Shikamaru berpikir. "Selama kau dan aku tetap bersikap seperti biasa, kita tidak akan dicurigai." ucap Shikamaru pada Temari, mencoba menenangkan keadaan.

"Aku mengerti." ucap Temari.

"Jadi, apa yang kau tahu?" Shikamaru mengulang pertanyaannya. "Beritahu aku seperti apa yang kau beritahu pada para polisi itu." pintanya.

"Hhh.. Kau ini memang keras kepala, ya." Temari menghela panjang. "Seminggu yang lalu aku bertengkar dengan Karin. Aku tidak memasukkannya ke tim inti untuk tampil di festival budaya 2 minggu lagi karena aku ingin kouhai-kouhai kami yang tampil. Tapi Karin tidak terima lalu kami bertengkar. Dan aku akhirnya mencoret namanya dari daftar anggota."

Shikamaru mendengarkan cerita Temari dengan seksama. "Lalu?"

"Lalu dia mulai mengirimkan pesan-pesan ancaman. Tapi aku tidak mempedulikannya." lanjut Temari.

"Pesan-pesan ancaman? Boleh kulihat?"

Temari menatap Shikamaru dengan tatapan ragu. Ragu apakah dia bisa mempercayai Shikamaru atau tidak. Tapi dia memilih untuk percaya. Temari mengeluarkan ponselnya, membuka pesan-pesan aneh itu lalu menunjukkannya pada Shikamaru. Shikamaru mengambil ponsel Temari lalu membacanya.

[ Mati kau jalang! Aku akan mengacaukan festival budaya nanti. ]

[ MATI. ]

[ MATI. ]

[ JALANG MENJIJIKKAN. ]

Shikamaru meringis ngeri saat membaca pesan-pesan itu. Dia tahu banyak orang yang tidak suka pada Karin. Mulut Karin tidak bisa dijaga dan dia terlalu kasar. Tapi Shikamaru tidak pernah menyangka Karin berani memanggil senpainya dengan kata 'jalang' hanya karena sakit hati. Sungguh kekanakkan.

[ AKU AKAN MEMPERMALUKANMU SENPAI. AKU AKAN MEMBUATMU KEHILANGAN HARGA DIRI! ]

[ AKU MENEMUKAN FOTO TAK SENONOHMU SENPAI. ]

[ LIHAT. KAU TERLIHAT SEPERTI JALANG LIAR YANG HAUS BELAIAN LAKI-LAKI. BAGAIMANA? BAGUS, KAN? ]

Glek.

Shikamaru menelan ludah. Karin mengirim foto Temari yang tak senonoh. Di foto itu tampak Temari yang telanjang dengan 3 laki-laki paruh baya yang melakukan hubungan intim padanya. Melihat ekspresi Shikamaru, Temari segera mengambil ponselnya dari tangan murid berambut nanas itu.

"Dia mengeditnya." ucap Temari. Dia tampak malu sekaligus marah.

Shikamaru menatap Temari, mencoba mengontrol dirinya. "Aku tahu." ucapnya.

"Kau tidak melapor?" tanya Shikamaru.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Tidak ada gunanya. Hanya akan membuatku semakin malu."

Shikamaru kembali menghela nafas panjang. "Ya, kau benar."

"Pesan-pesan inilah yang membuat para polisi itu mencurigaiku. Karena aku tidak melapor, mereka mengira aku sengaja memendamnya sebagai alasan untuk membunuh Karin. Tapi aku berani bersumpah demi apa pun, aku tidak membunuhnya!" Temari mengerang. Dia tampak ingin menangis, tapi dia terlalu kuat untuk meneteskan air mata.

"Kenapa kau menunjukkannya?" tanya Shikamaru.

Temari menggeleng. "Mereka memaksaku untuk memperlihatkan isi pesanku. Saat aku menolak, mereka merampas ponselku."

"Hhhh.. Merepotkan sekali." hela Shikamaru.

Suara ponsel tanda pesan masuk berbunyi. Temari segera membacanya. "Aku harus kembali. Sampai nanti." ucap Temari. Setelah itu dia pergi meninggalkan Shikamaru sendirian di atap.


Hinata sedang berada di perpustakaan bersama Sakura. Mereka berdua sedang membaca novel remaja yang tengah populer. Saat Sakura pergi mencari novel-novel yang lain, seseorang meletakkan sebuah kertas yang sudah diremas-remas membentuk bola di meja Hinata. Dia memanfaatkan suasana perpustakaan yang sedang sepi untuk memberikan kertas itu.

Hinata mendongak menatap murid yang memberikannya kertas itu, lalu membacanya saat orang itu meninggalkan perpustakaan. Hinata membuka remasan kertas itu pelan-pelan sambil mengamati keadaan sekitar, agar tidak ada murid yang curiga.

Selesaikan permainanmu. Kau tidak mau ada orang lain lagi yang mati tak masuk akal lagi, 'kan?

Hinata bergidik ngeri. Dia mengedipkan kedua manik amethystnya. Dia tidak percaya jika murid itu tahu apa yang dia lakukan. Dia kembali meremas kertas itu. Tapi sebelum Hinata meremas kertas itu dengan sempurna, kedua amethystnya menangkap tulisan lanjutan. Dia kembali membuka remasan itu untuk membacanya.

Cukup 1 pembunuh di sekolah ini.

TBC.

[ Author's note;

Untuk beberapa hari mungkin author akan update cepat. Mumpung ide masih mengalir. Oh ya. Karena fanfic ini genrenya Horor – Drama jadi kedepannya fanfic ini fokusnya bukan ke 'siapa-yang-membunuh' tapi lebih ke 'kenapa-dia-membunuh'. Identitas pembunuhnya juga akan author ungkap 1 atau 2 chapter depan lagi. Stay updated ya guys. Jangan lupa read dan review. Terimakasih buat yang sudah review di chapter-chapter sebelumnya.

Btw, ada yang baca kalimat pendek diatas tulisan copyright? Itu isi hati salah satu karakter lho. -abaikan-]